Rabu, 01 September 2021

Ngeblog dari Rumah: Tetap Beraktivitas Seru dan Produktif Meski Pandemi Sekalipun

Ngeblog dari Kampus (2018): Tetap Have Fun Sembari Mengerjakan Skripsi 

Saya terhitung ngeblog sejak duduk di bangku kuliah (tahun 2015). Blog saya awalnya berisi curhatan patah hati dan fallin in love with people we cant have anak kuliah dan lika-likunya. Tentu saja blog saya waktu itu belum masuk kategori Top Level Domain (TLD) alias masih web 2.0. Saya kadang geli membayangkan blog saya waktu itu karena masih bawa template bawaan dari Blogger (Blogspot) dan terdapat widget lumba-lumba berkelap-kelip yang melayang-layang mengikuti ke manapun pergerakan kursor. Kalau dipikir agak alay juga ya.

Seiring berjalannya waktu saya bergabung ke beberapa komunitas blogger, mulai dari Komunitas Blogger Jogja (KBJ), Komunitas Emak Blogger (KEB), Blogger Perempuan (BP), Warung Blogger, Blogger Crony, hingga Eco Blogger Squad (EBS). Tulisan di blog saya yang awalnya hanya berupa curhat galau enggak jelas, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit saya mulai berbenah. Saya mencoba menulis beragam tema seperti traveling, review film, review buku, mengulas aplikasi/gawai, dan sebagainya. Saya mengikuti berbagai kompetisi blog. Hingga pada tahun 2018 saya memonetisasi tidak hanya blog, tetapi juga media sosial saya. Kebetulan tahun 2018 saya juga sedang mengerjakan skripsi. Jadi saya ngeblog buat have fun plus mengumpulkan pundi-pundi rejeki, sekaligus nyekripsi.

Menjadi blogger cukup menyenangkan bagi saya. Saya mendapat privilege sebagai digital content creator, misal bisa menginap bahkan menikmati makanan hotel secara cuma-cuma, berkesempatan meliput event lokal/nasional dan dibayar, dapat goodie bag dari beragam sponsor, diundang ke acara soft/grand launching suatu produk, traveling gratis, dan masih banyak lagi.

Di kampus, sembari merampungkan bab demi bab skripsi, saya sekaligus mengerjakan job menulis, kadang ikut campaign suatu produk/acara. Kalau tidak ngeblog, mungkin saya hanya akan menjadi mahasiswa rata-rata pada umumnya. Dari menulis saya punya pendapatan untuk membiayai wisuda saya (mulai dari make up dan membeli segala printilan wisuda). Saya tidak meminta sepeser pun dari orangtua.

Tahun 2018 adalah tahun hectic-nya saya dengan tugas akhir. Meskipun demikian saya masih berkesempatan mengikuti acara-acara keren seperti Asian Games 2018 (campaign), Asian Para Games 2018 (campaign), dan menghadiri beberapa festival budaya lokal, salah satunya "Wayang Jogja Night Carnival." 

Wayang Jogja Night Carnival 2018. Dokumentasi pribadi.
Liputan Asian Para Games 2018. Dokumentasi pribadi
Ngeblog dari Kafe hingga Coworking Space (2019): Blogging Mempertemukan Saya dengan Pak Menteri

Setahun berlalu. Kini saya sudah tak menyandang status mahasiswa lagi. Saya sudah tak bisa mengakses fasilitas gratis dari kampus, wifi misalnya. Namun demikian, saya merasa lebih leluasa untuk terus produktif menulis. Kadang saya mendapat barter tulisan dengan produk dari sponsor atau satu artikel dihargai setara dengan uang beasiswa saya selama sebulan. Selain itu saya lebih banyak berkesempatan mengikuti berbagai kompetisi. Bisa traveling atau dapat gadget gratis dari menulis, kenapa tidak?

Untuk meningkatkan mood selama menulis, saya sering berpindah-pindah lokasi ketika ngeblog. Mood boster banget menemukan venue yang menenangkan jiwa dengan alunan musik lembut ditambah wifi yang ngebut. Maka dari itu kafe dan coworking space menjadi pilihan. Kafe yang biasa saya kunjungi ya yang lokasinya tak jauh dari kampus. Sedangkan coworking space favorit saya jatuh pada Jogja Digital Valley (JDV) kalau tidak ya Loop Station Yogyakarta. 

Jogja Digital Valley, tempatnya cozy banget, wifinya lumayan kenceng, ada kafenya, dan yang terpenting akses masuknya gratis bagi para member. Asyiklah pokoknya buat nongkrong para digital enthusiast kayak animator, game asset creator, software developer, blogger, dan sejenisnya. Setiap bulan Jogja Digital Valley selalu ngadain event-event terkait teknologi dan digital. Saya kerasan banget di sini dari pagi hingga sore, banyak cowok kece soalnya, uhuk.

Ketika saya sedang scrolling instagram, ekor mata saya melirik event "Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) 2019." Kementerian Pariwisata (sekarang Kemenparekraf) mengadakan apresiasi buat jurnalis media (radio, televisi, cetak, elektronik) dan juga blogger untuk membuat video/artikel dengan tema "Milennial Tourism" dan "Destinasi Wisata Superprioritas."

Saya pun tertarik berpartisipasi. Then, saya membuat tulisan mengenai dalang milenial dan Wayang Ukur pada pagelaran "Jogja Cross Culture 2019." Singkat cerita, artikel saya terpilih menjadi salah satu juara dan saya berkesempatan untuk hadir pada penganugerahan APWI 2019 bertempat di Gedung Kementerian Pariwisata di Jakarta. Saya bertemu dan berbincang dengan orang-orang keren di sana sekaligus berfoto dengan Menteri Pariwisata, Pak Arief Yahya. At the time i was very proud of myself
Saya dan Menteri Pariwisata 2019. Dokumentasi pribadi
Anugerah Pewarta Wisata Indonesia 2019. Dokumentasi pribadi
Ngeblog dari Rumah (2020 dan 2021): Tetap Beraktivitas Seru dan Produktif Meski Pandemi Sekalipun

Saya masih ingat di awal 2020 ketika coronavirus dianggap sebagai lelucon, bahkan muncul banyak jokes yang menganggap bahwa virus ini tidaklah berbahaya, hanya seperti virus influensa biasa. Nyatanya, virus ini berdampak sangat luas, dari epidemi menjadi pandemi global. Virus ini membuat pebisnis konvensional mengubah haluan dan strategi bisnisnya ke ranah digital. Tak sedikit pebisnis tersebut melakukan pivoting (misal dari usaha bakso yang tadinya dijual di kedai bakso berubah menjadi bakso frozen kemasan yang pengantarannya via kurir aplikasi atau industri komestik yang memperluas lini bisnisnya di bidang produksi hand sanitizer selama musim pandemi). Di bidang pendidikan, anak sekolah dan kuliah yang semula belajar secara tatap muka di kelas kemudian melaksanakan model Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), melakukan virtual meeting via video conference. Pekerja kantoran juga demikian, sebagian besar dari mereka menjalani Work From Home (WFH).

Semuanya tanpa terkecuali wajib melaksanakan protokol kesehatan demi menghindari meluasnya penyebaran virus Covid-19. Muncul istilah-istilah baru seperti new normal, PSBB, PPKM, donor plasma konvalesen, tes PCR, dan masih banyak lagi. Intinya kita semua kudu beradapatasi dengan segala kebiasaan baru. Seorang pengguna twitter pernah berkomentar bahwasanya selama pademi ayahnya yang seorang guru dan gagap terhadap teknologi mau tidak mau harus terbuka terhadap teknologi, mengajar via Zoom dan Google Classroom, membuat video pembelajaran di Youtube, dan sebagainya. 

Saya pun awalnya agak syok dengan pandemi ini. Saya yang terbiasa jalan-jalan dan berburu tempat kuliner baru akhirnya lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Cukup sulit dalam kondisi seperti saat ini untuk melakukan kegiatan traveling. Untuk melakukan traveling pun orang akan berpikir ribuan kali. Mending uangnya ditabung atau ditahan sementara untuk membeli kebutuhan penting yang mahamendesak. Selain destinasi wisata banyak yang tutup, prosedur dan penerapan protokol kesehatan di bandara, stasiun, dan ruang publik lainnya sangatlah ketat. Saya yang biasanya ngeblog di luar seperti kampus, kafe, coworking space, dan sebagainya, ujung-ujungnya lebih memilih ngeblog di rumah.

Hikmah yang saya petik selama pandemi ini yakni bahwa kesehatan sangatlah mahal harganya, sebisa mungkin jagalah kesehatan diri sendiri supaya meminimilisasi risiko penularan penyakit kepada orang lain. Yang kedua, tabungan dan dana darurat perlu dipersiapkan sedini mungkin guna menghadapi gejolak dan risiko ketidakpastian. Makanya edukasi mengenai perencanaan finansial sangat penting menurut saya. Orang kerapkali menyepelekan hal ini.

Meski saya tidak bisa kemana-mana selama pandemi, saya bisa (((seolah-olah))) menikmati perjalanan ke suatu destinasi wisata melalui virtual tour. Melalui virtual tour nantinya seorang tour guide akan memandu jalannya wisata dan memberi informasi kepada peserta virtual tour via Zoom atau sejenisnya. Asyiknya virtual tour adalah kita bisa duduk-duduk atau sambil rebahan sembari menikmati suatu view yang tampil di layar gawai. Bagi saya ikut virtual tour adalah cara saya untuk tetap beraktivitas seru selama pandemi dan menghindari kejenuhan. 
Salah satu virtual tour yang saya ikuti adalah "Menelusuri Pulau Penyengat Taman Para Cendekia." Sedikit saya jelaskan mengenai ini, Pulau Penyengat merupakan pulau kecil pulau kecil yang jaraknya 2 km dari Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Untuk sampai ke pulau tersebut, dari dermaga di Tanjungpinang, kita akan diantar menggunakan perahu Pompom. Pulau tersebut setidaknya memiliki 45 objek cagar budaya dan destinasi menarik seperti mesjid telur, istana, kantor, benteng pertahanan, dan sumur air tawar. Di abad ke-19, Pulau penyengat tersohor berkat literasi dan kesustraan Melayu. Di pulau ini lahirlah tokoh cendekia yang bernama Raja Ali Haji, sastrawan pencipta Gurindam 12. Gurindam 12 merupakan puisi Melayu yang bertuahkan beragam nasihat tentang kehidupan. Gurindam 12 selain populer, juga berperan penting dan menjadi cikal bakal perkembangan Bahasa Indonesia. Pada tahun 2018, pulau Penyengat ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya.

Selain beraktivitas seru, kita juga kudu produktif dong meski di rumah saja. Selain ikut virtual tour, saya meningkatkan kualitas diri dengan mengikuti beberapa webinar, online class, sesi diskusi (FGD), dan sejenisnya. Saya mengambil studi S1 di bidang akuntansi, tetapi saya juga terbuka mempelajari hal-hal baru di bidang blogging, kepenulisan, digital marketing, literasi digital, dan sebagai.

Masih berkaitan dengan literasi digital, mulai Agustus hingga Desember 2021 saya mendaftar di kelas "Mata Kuliah Kecerdasan Digital" yang diselenggarakan oleh CFDS (Center For Digital Society) UGM. Seperti kuliah pada umumnya, nanti akan ada presensi secara digital. Selama satu semester saya akan mempelajari apa itu digital mindset, design thinking, dasar coding, basic level untuk HTML, CSS, dan SQL. Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia blogging, saya yakin pengetahuan level dasar ini akan berguna pada waktunya nanti. 
Untuk peluncuran mata kuliah kecerdasan digital, CFDS mengundang narasumber Iqbal Ramadhan. Pada sesi ini saya mendapat insight mengenai kesadaran beretika di dunia daring (digital ethics) dan bagaimana cara meningkatkan produktivitas dan keahlian dalam menggunakan teknologi digital (digital skill).

Manteman yang beraktivitas seru dan produktif dari rumah sudah mendapatkan vaksinasi atau belum? Saya sendiri sudah mendapat vaksin dosis pertama. Semoga teman-teman yang belum segera dapat jatah buat vaksinasi ya. Dari data Kementerian Kesehatan per 31 Agustus menunjukkan bahwa program vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah menembus 100 juta suntikan. Kita tak perlu takut atau ragu untuk vaksin Covid-19, demi kesehatan dan imunitas yang lebih baik. 

Kabar baiknya, kalian yang tinggal di Yogyakarta dan yang belum dapat vaksinasi bisa mengikuti Program Vaksinasi Gratis dari Shopee. Vaksinasi ini tidak dipungut biaya. Vaksinasi ini berlokasi di Sleman City Hall mulai tanggal 6 hingga 17 September 2021 (Senin-Jumat). Vaksin yang digunakan adalah Sinovac dosis pertama. Cara daftarnya:

1. Buka aplikasi Shoppee
2. cari "Pulsa, Tagihan, & Hiburan." kemudian klik "Lihat "Lainnya."
3. Scroll hingga mentok ke bawah. Nanti ketemu menu bertuliskan Layanan. Klik "Vaksin COVID-19."
4. Nanti kalian masuk ke Reservasi Vaksin. Pilih lokasi vaksinasi (misal Sleman, DIY).
5. Baca dulu  Terms & Conditions ya manteman.
6. Centang pada bagian bawah bertuliskan bahwa kalian setuju pada syarat dan ketentuan yang berlaku. klik Konfirmasi
7. Untuk diperhatikan, baca baik-baik dan penuhi syarat dan ketentuan sebelum reservasi. Klik "Buat Reservasi." 
Manteman. kita tetap bisa ngeblog di rumah, beraktivitas seru, dan produktif meski di rumah saja. Jangan lupa jaga kesehatan fisik dan mental. Demi menghindari penularan virus Covid-19, segera vaksinasi ya ke Faskes terdekat atau bisa daftar ke Program Vaksinasi Gratis dari Shopee. Meskipun sudah divaksin, tetap patuhi prokes (cuci tangan, pakai masker, jaga jarak) dan hindari kerumunan. Kencengin sabuk pengaman, sebab titian kita masih panjang. Tetap seru, produktif, dan sehat selalu!

Senin, 30 Agustus 2021

Produktif dari Rumah, Buat Dunia Jadi Lebih Baik bersama Campaign #ForChange

Seekor monyet bergenus Macaca dengan perut bergelambir asyik mengunyah keripik kentang dalam kantong plastik. Tentu saja si monyet merasa belum cukup kenyang (baca: belum puas). Dia kemudian menghampir pengunjung terdekat, dengan gestur memelas berharap diberi satu dua potong roti atau makanan lainnya. Dengan tubuh yang begitu tambun, gerakannya cukup lamban, nyaris tak lincah jika dibandingkan monyet sejenis seusianya. Orang-orang di distrik Bang Khun Thian (Bangkok, Thailand) menamainya sebagai Uncle Fatty atau Paman Gembul. 

Paman Gembul mengalami obesitas yang sangat parah. Berat badannya 29 kg, adapun ukuran Macaca Bangkok berada di kisaran 8 hingga 14 kg (tergantung usia dan jenis kelamin). Paman Gembul sangat rakus terhadap makanan, dia menyukai segala jenis junk food, minuman kemasan, dan pisang yang ditawarkan masyarakat lokal atau wisatawan asing yang kebetulan lewat. Sebelum tubuhnya seekstrim itu, Paman Gembul didapati kerap mencuri makanan pengunjung jika dia sangat kelaparan. Tahun 2017, sekelompok aktivis lingkungan hidup Bangkok berusaha menyelamatkan Paman Gembul dari bahaya kegemukan ekstrim. 

Monyet dan pisang. Pernah saya mendapat pertanyaan begini dari wali kelas sewaktu SD, “makanan monyet apa anak-anak?,” sekelas serempak menjawab “pisang.” Tahukah kalian sebenarnya pisang tidak baik buat monyet. Kalori pada pisang cukup tinggi bisa menyebabkan obesitas pada monyet. Di habitat aslinya monyet tidak hanya makan buah hutan, tetapi juga umbi, rerumputan, dan serangga.

Tahun 2019 saya berkunjung ke Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, seorang teman mewanti-wanti saya agar jangan memberi makan sembarangan monyet liar di habitat aslinya, sebab mereka sudah punya makanan alaminya sendiri.

Buah hutan yang menjadi makanan alami kera ekor panjang dan orangutan di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi.
“Jika monyet diberikan makanan yang bukan makanan alamiah mereka, nanti bisa membuat monyet sakit.” Hal senada juga dituturkan Nur Herjayanti, ketua Macaca Rangers, sebuah komunitas berbasis riset dan konservasi monyet endemik Sulawesi (Macaca hecki dan Macaca tonkeana).

Tim Macaca Rangers melakukan riset persepsi masyakarat sekaligus pemetaan daerah rawan konflik Macaca hecki dan Macaca tonkeana di sekitar kawasan hutan lindung dan Cagar Alam Pangi Binangga. Hasil riset menunjukkan bahwasanya 78,57% masyarakat tidak mengetahui pakan alami monyet dan 59,62% tidak tahu kalau di kawasan tersebut terdapat monyet endemik yang terancam punah. Masih sedikitnya pengetahuan masyarakat lokal terhadap keberadaan monyet endemik Sulawesi membuat Macaca Rangers melakukan edukasi di sekolah, sosialisasi di acara Car Free Day, aksi bagi-bagi flayer ke pengguna jalan, dan Webinar Macaca Talks bertajuk “Larangan Memberi Makan Monyet: Perspektif Dokter Hewan.” Semua ini dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian monyet endemik di  Sulawesi Tengah.

Jika memberi makan monyet, permasalahan seperti apa sih yang dihadapi masyarakat setempat? Ada beberapa peristiwa yang sudah terjadi di sana seperti pencurian barang, monyet merusak hasil kebun, monyet memasuki pemukiman penduduk, dan sebagainya. Dengan memberi makan monyet maka monyet lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami perubahan perilaku. Monyet yang jinak karena sering berinteraksi dengan manusia rentan menjadi satwa yang diperjualbelikan, padahal statusnya sendiri terancam punah.

Dikutip dari Macaca Rangers, Indonesia memiliki spesies monyet Macaca terbanyak di Asia (11 jenis), 7 di antaranya merupakan monyet endemik Sulawesi. Adapun Macaca hecki dan Macaca tonkeana memiliki habitat di kawasan hutan di Sulawesi Tengah.

Kabar baiknya, kita bisa lho berkontribusi dalam pelestarian monyet endemik Sulawesi ini melalui donasi tanpa keluar uang sepeserpun. Cukup di rumah saja, tetap produktif, dan buat dunia jadi lebih baik. Hah! Bagaimana caranya? Gampang banget! Kita tinggal unduh aplikasi Campaign #ForChange di Google Play atau App Store, ikuti berbagai aksi serta challenge menarik. Melalui kampanye #AyoSelamatkanMacaca di aplikasi tersebut, Macaca Rangers ingin menggugah kesadaran dan kepedulian user yang sebagian besar merupakan milenial dan generasi Z mengenai monyet endemik (Macaca hecki dan Macaca tonkeana), aset daerah Sulawesi Tengah. 

Terdapat 4 aksi yang bisa kalian ikuti dalam Kampanye #AyoSelamatkanMacaca. Setelah menyelesaikan tantangan, kita akan mendapatkan donasi sebesar Rp20.000 dari sponsor yang akan diserahkan kepada Macaca Rangers. Saya tentunya sudah menyelesaikan tantangan ini. Kampanye tersebut berhasil meraih 419 pendukung, 1781 aksi, serta donasi sebesar Rp6.440.000.

Rencananya donasi tersebut akan digunakan untuk biaya operasional kampanye, biaya advokasi, kegiatan edukasi konservasi pada pengguna jalan trans Palu-Parigi, serta pembuatan papan bertuliskan stop memberi makan dan memelihara monyet endemik Sulawesi.
Tantangan #AyoSelamatkanMacaca berhasil saya selesaikan. Dokumentasi  pribadi
Saya pikir aplikasi Campaign #ForChange sangat seru untuk dicoba. Social action platform satu ini mengajak kita sebagai changemakers untuk produktif dari rumah, membentuk kebiasaan baik secara berkelanjutan, terukur, dan berdampak melalui serangkaian aksi dan tantangan. Berdonasi tanpa perlu keluar uang. Pilihan isu sosial pun beragam, mulai dari pendidikan, lingkungan, kesetaraan, hingga kesehatan. Aplikasi ini juga didesain mirip media sosial di mana kita bisa terkoneksi satu sama lain melalui fitur heart, comment, dan chat. Saya sendiri sudah menyelesaikan 23 challenge, 132 aksi, dan mengumpulkan donasi hingga Rp585.000. 

Achievement unlocked! Tahun lalu, Campaign #ForChange berhasil meraih penghargaan kategori Best App for Good dari Google Play Award 2020. Hingga Juli 2021 tercatat lebih dari 278 ribu aksi yang sudah dilakukan, 325 organizer terlibat, dan total dana yang telah disalurkan mencapai lebih dari 1,31 miliar rupiah.

Tampilan aplikasi Campaign #ForChange. Dokumentasi pribadi

Di masa terdampak pandemi Covid-19, kita bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan. Kita pernah mengalami fase di mana masyarakat kesulitan memperoleh masker, tabung oksigen, vaksin, dan sebagainya. Kita ingin membantu orang lain, tapi dana yang ada sangat terbatas dan hanya cukup untuk diri sendiri. Saya bersyukur menemukan aplikasi Campaign #ForChange sehingga saya bisa tetap produktif di rumah sekaligus berkontribusi bagi sesama, ringankan beban saudara.

Saya ikut 2 challenge “Pulihkan Indonesia dengan #SeruDiRumah bareng Character Matters Indonesia (CMI) dan AMSA.” Setelah menyelesaikan 7 aksi selama 7 hari, saya mendapat konversi uang masing-masing Rp50.000 dari sponsor untuk 2 challenge tersebut. Donasi akan disalurkan kepada para korban terdampak Covid-19. Maka pada hari itu, berbekal aplikasi Campaign #ForChange saya berhasil mendonasikan Rp100.000 tanpa keluar uang dari kantong pribadi.
Dari rumah, kita bisa berkontribusi melestarikan monyet endemik di Sulawesi. Dari rumah, kita bisa membantu mereka yang terdampak Covid-19. Produktif dari rumah, buat dunia lebih baik bersama Campaign #ForChange, kenapa tidak? Yuk bisa yuk!

Sumber Referensi
1. Langka, Kera Bernama Uncle Fatty Ini Alami Berat Badan Berlebih, www.blog.reservasi.com. 
2. Monyet Obesitas Gara-gara Sering Diberi Makan Junk Food, www.antvklik.com. 
3. Inilah Primata Endemik Sulawesi dengan Jambul di Kepala, www.mongabai.co.id. 
4. Dilarang Kasih Makan Monyet Endemik Sulteng, Mengapa?, www.liputan6.com. 
5. Menjaga Kelestarian Monyet, Komunitas Macaca Turun Sosialisasi dan Bagi-bagi Flayer, www.kompas-sulawesi.id. 
6. Media sosial dan website Campaign #ForChange, www.campaign.com. 

Minggu, 15 Agustus 2021

Menjaga Lahan Gambut, Menjaga Kekayaan Hayati Indonesia

Hati saya cukup terenyuh menyaksikan.ular piton sepanjang 2.5 meter itu terpanggang hidup-hidup saat terjadi bencana kebakaran hutan di Kalimantan 2019 silam. Bukan hanya ular saja yang tergolong jenis fauna yang kerap kita jumpai, kebakaran tersebut mampu mengancam eksistensi fauna dan flora endemik di Bumi Borneo. 

Perlu kita ketahui bahwasanya Indonesia memiliki luas lahan gambut hingga 20 juta hektare. Lahan gambut merupakan rumah bagi beragam spesies, lahan gambut menjaga kenakekaragaman hayati Indonesia, dan masih banyak lagi. 

Awal Agustus lalu, saya mendapatkan kesempatab untuk mengikuti virtual blogger gathering "Eco Blogger Squad" dengan tema "Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia." Acara tersebut mengundang 2 narasumber yang merupakan praktisi di bidangnya. Narasumber pertama yakni Herlina Agustin atau kerap disapa Bu Tin. Beliau dari Pusat Studi Komunikasi Lingkungan (Fakultas Ilmu Komunikasi) Universitas Padjadjaran. Narasumber kedua, Ola Abbas dari Pantau Gambut. 

Berdasarkan penuturan Bu Tin, Indonesia merupakan 10 besar negara mega biodiversitas, Indonesia merupakan pemasok terbesar produk satwa liar di Asia. Sebesar 12% mamalia, 7,3% amfibi dan retil, serta 17% spesies burung di dunia ada di Indonesia. Namun keberadaan spesies ini terancam kepunahan akibat faktor alam dan manusia. Sehingga Indonesia menghadapi laju kepunahan tercepat kedua di dunia setelah meksiko. Hal-hal yang menjadi ancaman spesies di negara ini tak lain karena penyelundupan. Penyelundupan satwa liar misalnya, Indonesia masuk kategori tertinggi nomor 4. Beberapa waktu yang lalu saya melihat penyelundupan anakan piton yang dimasukkan ke dalam boks berisi piala. Sungguh tak disangka di dalam piala tersebut terdapat ular kecil 3 ekor, satu ekor sudah mati. Mengenaskan sekali. Berita-berita kayak gini duh bikin sedih. 

Bu Tin menambahkan lagi, tingkat penurunan spesies terjadi karena perubahan iklim. Selain pembakaran lahan atau hutan secara disengaja oleh manusia, faktor alam seperti cuaca ekstrim yang sangat panas bisa memicu kebakaran lahan atau hutan. Selain itu juga perburuan besar-besaran tanpa kendali sangatlah berbahaya dan mengancam eksistensi spesies kita. Rekayasa genetika dan spesies invasif pun demikian.

Lha kok sampai rekayasa genetika segala? Lho pernah liat singa dikawinkan dengan harimau? Itu kalau sampai punya keturunan, anaknya biasanya akan menjadi cacat atau malah infertil. Kapan hari saya melihat ikan yang direkayasa secara genetika di mana DNA ikan tersebut dikawinkan dengan DNA ubur-ubur sehingga membuat ikan tersebut bercahaya. Ikan yang pada dasarnya di dalam air atau lautan tidak mengeluarkan cahaya bermaksud menyembunyikan diri dari serangan predator. Keberadaan ikan menjadi "bercahaya" menjadikan ikan tersebut mudah menjadi santapan predator. Gen ubur-ubur yang diinjeksi ke tubuh ikan secara faktual mengancam keberadaan ikan itu sendiri. Ketika seseorang berkomentar, "Ih lucu banget ikannya bisa menyala dalam gelap," saya justru malah kasihan sama ikannya. Ada spesies ikan yang memang dari sononya mengeluarkan cahaya, biasanya ikan jenis ini tinggal di laut dalam. Ikan yang gak bisa mengeluarkan cahaya, tak perlu direkayasa sedemikan rupa supaya menjadi bercahaya. Saya berharap video yang sempat viral beberapa waktu lalu adalah fake.

Nah, balik lagi ke topik lahan gambut. Dari awal ngomongin gambut terus. Gambut itu apa sih? Gambut merupakan tanah yang kaya material organik akibat pembusukan selama beribu-ribu tahun. Untuk membentuk lahan gambut dengan kedalaman 4 meter perlu waktu hingga 2 ribu tahun lamanya. Lahan gambut dikenal sebagai tempat menyimpanan karbon terbesar, setidaknya 53-60 miliar karbon ada di lahan gambut. 

Tahukah kamu bahwasanya lahan gambut purba satu-satunya di dunia ada di Indonesia, letaknya di pedalaman Kalimantan. Saya gak menyangka kedalamannya bisa mencapai 18 meter. Awwww, tubuh saya bisa ambles jika menginjak gambut purba tersebut.

Ola Abbas dari Pantau Gambut menuturkan gambut memiliki peran strategis dan penjaga iklim di Indonesia. Peran penting gambut di antaranya:

1. Gambut mampu mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Ternyata gambut yang terdekomposisi mampu menahan air 2 hingga 6 kali lipat dari berat keringnya. Kebayang kan kalau lahan gambut terbakar. Air di dalamnya berubahnya menjadi api dan ini yang menjadi sulit dipadamkan karena bisa jadi di permukaan api terlihat padam, di kedalaman, baranya masih menyala.

2. Gambut menunjang perekonomian masyarakat setempat. Salah satu komoditas yang dihasilkan dari lahan gambut yakni tas purun yang batangnya diambil rumput purun yang hanya tumbuh di lahan gambut. Tas jenis ini kebanyakan dibuat oleh pengrajin yang tinggal di kawasan tersebut. Tas etnik purun bisa kamu jumpai marketplace. 

3. Gambut menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Beberapa fauna khas yang tinggal di kawasan lahan gambut di antaranya: orangutan, buaya sinyulong, beruang madu, dan harimau Sumatera. Di samping spesies lain yang tidak diketemukan di daerah lain. Lahan gambut perlu dijaga demi menjaga kelestarian biodiversitas baik fauna maupun flora.

4. Lahan gambut menjaga perubahan iklim. Sebagai penyimpan cadangan karbon terbesar, bagaimana jika gambut dirusak, karbon tersebut akan terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca.

Bagaimana caranya supaya lahan gambut tetap terjaga? Salah satunya adalah dengan merestorasi lahan gambut. Restorasi gambut bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan sejahterakan masyarakat. Upaya restorasi gambut dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pembasahan, penanaman ulang, dan merevitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

Kita bisa mengupayakan melalui penyadartahuan kepada khalayak terkait pentingnya lahan gambut rumah bagi beragam spesies. Supaya apa? Supaya suara kita didengar gaungnya ke pemerintah sehingga pemerintah serius dan berkomitmen penuh dalam pengelolaan dan perlindungan lahan gambut. Menjaga gambut, menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Butuh waktu ribuan tahun untuk membentuk gambut, naum hanya sesaat untuk merusaknya (#Peatlandisnotwasteland).

Selasa, 08 Juni 2021

Karhutla dan Dampaknya yang Patut Kita Waspadai

Saya ingat banget di tahun 2015 akibat kabut asap yang berlarut-larut dan membubung tinggi di langit membuat penerbangan Jogja-Palembang tertunda sementara waktu. Hal tersebut membuat Nita, rekan satu organisasi saya terpaksa menunda kepulangannya ke kampung halaman. Nita terlihat sedih, pasalnya sudah setahun dia menunda kepulangan ke Palembang karena fokus menyelesaikan studi. Itu artinya jika tahun 2015 Nita tidak mudik, genap 2 tahun Nita tinggal di Jogja. Jarak pandang menjadi terganggu. Kualitas udara menjadi buruk.

Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2015 menjadi bencana kebakaran terburuk dalam satu dekade (2005 hingga 2015). Kebakaran tersebut membabat sebagian lahan di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Dikutip dari Tempo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengendalian Kebakaran Hutan Sumatera Selatan, hingga 10 November luas lahan yang terbakar mencapai 612.833 hektare. Sebanyak 60% kebakaran terjadi di lahan gambut. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan yang terbakar dengan 120 titik di sepanjang Juni hingga Oktober 2015.

Kebakaran hutan tidak hanya merusak pohon-pohon dan juga ekosistem, tetapi juga menimbulkan penyakit pernapasan dari level ringan hingga akut. Asap yang membubung tinggi menyebabkan para warga tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Selain itu, kepulan asap ini menyebar hingga ke negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura sehingga menyebabkan hubungan diplomatik antarnegara menjadi terganggu.

Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni Kemarin, Auriga dan Yayasan Asri mengadakan Webinar bertajuk "Cegah Karhutla, Cegah Pandemi." Berharap melalui edukasi semacam ini menjadikan kesadaran kita untuk peduli terhadap isu-isu lingkungan hidup, khususnya perlindungan hutan semakin bertambah.
Narasumber pertama yakni Dedy Sukmara selaku Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara. Narasumber kedua seorang dokter yang juga menjabat sebagai Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan Asri) yakni Dr. Alvi Muldani. 

Kemarau panjang (El Nino) digadang-gadang sebagai penyebab kebakaran hutan yang tak berkesudahan. Nyatanya, aktivitas manusia turut berkontribusi pada kebakaran hutan. Kebakaran juga memiliki pola-pola dan jangka waktu yang bisa diamati, tutur Dedy Sukmara. Berikut data yang saya dapatkan berdasarkan webinar tersebut.
Berdasarkan data dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dapat disimpulkan bahawa kebakaran tahun 2015 dan 2019 menjadi yang terburuk sepanjang 5 tahun terakhir ini. Bahkan pada tahun 2019 jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan tahun 2015. Adapun propinsi yang terdampak cukup parah yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua. 

Dapur asap dalam kurun 2001 hingga 2019 sebagian besar titik api berasal dari lahan gambut di Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, hingga Papua.

Menurut Dedy Sukmara, penyebab kebakaran hutan disebabkan oleh faktor alami dan faktor manusia. Faktor alam penyebab kebakaran hutan meliputi kemarau panjang, petir, aktivitas vulkanis, dan sebagainya. Manusia berkontribusi pada bencana karhutla melalui praktek pembukaan lahan dengan membakar, perburuan dan penebangan liar, penggembalaan, konflik lahan, dan aktivitas lainnya.

Kita perlu waspada jika terjadi kebakaran hutan karena karhutla ini memiliki berbagai dampak negatif yang bagi kelangsungan hidup manusia dan juga ekosistem sekitarnya. Berikut dampak dari bencana karhutla:

1. Karhutla merupakan mimpi buruk bagi kita. Karthutla berefek pada penyebaran kabut asap yang mengancam kesehatan manusia. Berbagai penyakit muncul akibat cemaran kabut asap seperti pilek, sakit tenggorokan, bronkitis, radang paru-paru, dan sejenisnya.

2. Akibat karhutla, hewan-hewan liar yang berasal dari hutan yang ternyata sebagai pembawa patogen berbahaya mendatangi pemukiman. Selain hewan pembawa patogen, hewan buas seperti macan dan anjing hutan masuk ke pemukiman warga. Selain itu, fauna dan flora endemik yang terancam musnah semakin mendekati ancaman kepunahan.

3. Vegetasi hutan terancam hilang akibatnya berpengaruh terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.

4. Aktivitas dan produktivitas manusia terhenti sementara. Transportasi lumpuh, jaringan internet terkendala, demikian juga di sektor pendidikan diliburkan sementara waktu.

5. Kerugian Indonesia akibat karhutla di sepanjang 2019 mencapai US$ 5,2 miliar atau setara Rp72,95 triliun.

Alvi Muldani dari Alam Sehat Lestari menjelaskan deforestasi selain menyebabkan karhutla juga membuat penyebaran zoonosis semakin merajalela. Apa itu Zoonosis? Zoonosis merupakan penyakit yang penyebarannya diakibatkan oleh hewan. Terutama hewan pembawa patogen seperti yang sudah saya jelaskan di awal. Zoonosis memicu terjadinya epidemi dan pandemi. Pandemi virus Covid19 diduga asal muasalnya berawal dari kelelawar yang telah terjangkit virus tersebut di daerah Wuhan yang menyebarkannya ke seluruh dunia.
Fragmentasi hutan yang diakibatkan oleh deforestasi dan juga lanskap serupa seperti lahan pertanian dan padang rumput bisa menjadi faktor penyebab zoonosis. Ketika deforestasi terjadi, beberapa spesies menurun. Akan tetapi spesies lainnya mampu beradaptasi sehingga meningkatkan zoonosis. Konservasi hewan liar dapat membuat hewan liar berada di habitatnya sehingga menghentikan penyebaran patogen hingga ke pemukiman penduduk. 

Bumi kita saat ini sedang sakit, karhutla dan dampaknya itu nyata adanya. Kepedulian kita terhadap isu-isu lingkungan serta aksi-aksi untuk pemulihan ekosistem menjadi hal-hal yang seharusnya diupayakan umat manusia dewasa ini. 



Rabu, 21 April 2021

Sampahku Tanggungjawabku : Bijak Bajik Kelola Sampah Dimulai dari Diri Sendiri

Jam menunjukkan pukul 09.15. Truk-truk pengangkut sampah berwarna hijau silih berganti mengantarkan sampah-sampah menuju TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Degayu yang berlokasi tak jauh dari pantai Slamaran, Kota Pekalongan. Ekskavator, mesin pengeruk sampah berwarna kuning teronggok di hamparan gunungan sampah. 

 Sebuah Ekskavator di antara gunungan sampah di TPA. Dokumentasi pribadi

Pak Slamet merupakan satu dari puluhan orang yang berburu rejeki dengan mengais sampah di TPA seluas 5,8 hektare ini. Selepas azan subuh berkumandang, Pak Slamet bergegas ke masjid yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Selepas salat, Pak Slamet menikmati sarapan pagi yang dibuat istrinya. Di pagi buta sebelum anak-anak berangkat sekolah, pak Slamet sudah mengayuh sepeda tuanya, memungut botol-botol plastik, kardus bekas, atau apapun barang yang ditemukan di jalanan yang nantinya bisa ditukar dengan uang. Sesampainya di TPA, Pak Slamet menyiapkan karung berukuran besar untuk memilah botol-botol Plastik yang sekiranya masih bagus untuk nantinya dijual.

Sampah plastik dan kaleng di TPA Degayu. Dokumentasi pribadi
Mereka yang mengais rejeki dari sampah di TPA Degayu. Dokumentasi pribadi

Bekerja sebagai pemungut sampah seperti pak Slamet bukannya tanpa risiko. Paparan bau yang tak sedap, risiko terkena serpihan kaca dan benda tajam lainnya, riskan terpapar diare, gangguan gastrointestinal, terpeleset gunungan sampah, dan risiko-risiko yang lain. 

Tahun 2021, kondisi volume sampah di TPA Degayu sudah dalam kondisi overload, mengkhawatirkan. Dengan tinggi gunungan sampah telah mencapai 20 meter sudah selayaknya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat. Permasalahan yang kerapkali muncul sebuah TPA adalah polusi udara yang mengganggu pemukiman warga, gas metana yang terbakar di antara tumpukan sampah, dan pencemaran leachate (air hasil dekomposisi sampah yang bisa meresap dan mencemari tanah).

“Tahun 2015, pernah terjadi kebakaran di TPA Degayu. Itu api sudah dipadamkan sama beberapa damkar hingga menjelang jam 12 malam, subuh-subuh apinya keluar lagi.” Tutur pak Slamet kepada saya. Pemicu kebakaran adalah gas metana dari gunungan sampah yang ada. Akibat kebakaran tersebut, asap pekat serta bau yang tidak sedap dari sampah terbawa hingga ke pemukiman warga. Beberapa warga yang bekerja di tambak-tambak udang merasakan sesak napas dan mata pedih akibat asap plus bau yang tak mengenakkan ini.

Kepulan asap akibat gas metana di TPA Degayu tahun 2015.
Dokumentasi ANTARA Foto/Pradita Utama
Meskipun bukan tragedi besar, peristiwa kebakaran akibat gas metana yang membakar sebagian lahan di TPA Degayu jangan dianggap sebagai hal yang sepele. Tragedi ledakan gas metana terdahsyat di negeri ini pernah terjadi di Leuwigajah, Cimahi (Jawa Barat) pada 21 Februari 2005. Ledakan tersebut diiringi longsornya gunungan sampah TPA Leuwigajah yang meluluhlantakkan dua pemukiman warga (Kampung Cilimus dan Pojok). Efek yang ditimbulkan begitu mengerikan, karena insiden mendadak tersebut 157 jiwa melayang. 

Masyarakat Indonesia tentunya berduka. Demi mengenang peristiwa pahit tersebut (supaya menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang) tanggal 21 Februari ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional). Gerakan bijak kelola sampah mulai digaungkan. Meskipun belumlah masif dan menyeluruh, sedikit demi sedikit masyarakat tergerak hati untuk peduli dan bertanggungjawab atas sampah yang ditimbulkannya

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) jumlah sampah skala nasional mencapai 67,8 juta ton pada tahun 2020, hingga tahun 2050 diperkirakan jumlahnya akan bertambah lebih dari dua kali lipat. Perlu pengelolaan tingkat lanjut, inovasi teknologi, dan sejumlah investasi supaya tata kelola sampah menjadi lebih baik dan tidak menjadi momok yang mengerikan di kemudian hari. Selain itu, kita perlu mengadopsi konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan sampah organik dan anorganik, menciptakan nilai ekonomis melalui proses reduce, reuse, recycle

Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Konsumsi sampah plastik per kapita mencapai 20 kilogram per tahun. Di level industri, penggunaan plastik untuk kemasan menyentuh angka 65 persen terhadap konsumi plastik skala nasional. Berdasarkan hal tersebut, sejumlah industri mulai menyadari dampak sampah yang ditimbulkan atas aktivitas bisnisnya. Semakin ke sini masyarakat semakin cerdas. Konsumen semakin teredukasi mengenai bagaimana kepedulian brand perusahaan terhadap pengelolaan sampahnya.

Seminggu lalu, sebuah iklan muncul di beranda twitter saya, sebuah brand di bidang Foods & Beverages terkemuka mengkampanyekan mengurangi penggunaan sepertiga virgin plastik hingga 2025. Kemarin, seorang kawan blogger menghadiri RUPS (rapat Umum Pemegang Saham) dan mendapatkan suvenir cantik berupa tas dari bahan daur ulang botol plastik, ini unik! 

Saat pandemi, sampah rumah tangga dan limbah medis angkanya mengalami kenaikan sebesar 36%. Merujuk pada statistik dari KLHK, setidaknya 66,8% rumah tangga domestik masih melakukan aktivitas membakar sampahnya, alih-alih mendaur ulang. Hanya 1,2% yang memiliki kesadaran akan Reuse, Reduce, Recycle. Tak perlu menunggu disentil bencana sehingga kesadaran akan pengelolaan sampah bertumbuh. Yuk mulai dari diri sendiri, bijak dan bajik dalam kelola sampah. Sebab sampahku adalah tanggungjawabku.

Bijak bajik kelola sampah yang sudah kuterapkan.

1. Saya memanfaatkan eco/tote bag alih-alih tas kresek/plastik saat berbelanja. Tas kresek memiliki sifat destruktif terhadap lingkungan dan sukar diurai mikroorganisme yang ada di tanah.
Belanja sayuran menggunakan tote bag. Dokumentasi pribadi
Koleksi sebagian tote bag saya. Dokumentasi pribadi
2. Sisa sayuran, daun kering/basah, dan sampah organik lainnya saya ubah menjadi pupuk kompos.
Proses komposting sampah organik. Dokumentasi pribadi
3. Memanfaatkan botol bekas kemasan minuman untuk pot tanaman. Adapun pupuknya diambil dari pupuk kompos di atas.
Botol bekas jadi pot tanaman. Dokumentasi pribadi
Botol bekas jadi pot tanaman. Dokumentasi pribadi
4. Menggunakan masker kain saat keluar rumah demi mengurangi limbah masker medis.
Dokumentasi pribadi
5. Tidak membuang sampah sembarangan saat traveling. Saya menyediakan kantung khusus di ransel sebagai wadah sampah. Tak elok rasanya tempat wisata yang cantik berceceran sampah. 
Saat saya berwisata ke hutan. Sampahku tanggungjawabku. Dokumentasi pribadi.
6. Mengirim botol bekas kemasan ke Waste4Change untuk didaur ulang. Waste4Change merupakan perusahaan Waste Management Indonesia yang memiliki misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA. Selain mengelola sampah perusahaan, Waste4Change juga melayani sampah individu dalam Personal Waste Management
Botol Kemasan untuk Waste4Change. Dokumentasi pribadi
Mengirim paket berisi botol minuman kemasan (bekas) ke Waste4Change sangatlah mudah. Demikian cara sederhana saya bertanggung jawab terhadap sampah, bijak bajik kelola sampah dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai berhenti di sini. Yuk bagikan juga ceritamu mengelola sampah pribadi di berbagai platform yang kamu miliki.

Selasa, 20 April 2021

Memperingati Hari Bumi: Cinta Hutan, Cinta juga Produk Lokal Hasil Hutan

Sebagai sebuah ekosistem, hutan memiliki beragam fungsi. Hutan berperan penting dalam menjaga siklus keseimbangan air/udara, sumber keanekaragaman hayati, sekaligus sumber pangan dan papan. Keanekaragaman hayati gen, spesies, dan pada ekosistem hutan satu dengan hutan lain tidaklah sama dan masing-masing memiliki ciri khas. Vegetasi hutan di bumi Kalimantan tentu berbeda dengan yang ada di Jawa. Di Kalimantan, kamu bisa menemui buah-buahan hutan seperti buah rambai, buah kapul, keledang, durian merah, dan sebagainya. Tentu nama tersebut sangatlah asing, barangkali kamu juga belum pernah mencobanya. Adapun di Jawa, khususnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, kamu bisa menjumpai buah carica atau pepaya gunung sebagai oleh-oleh. Di Papua dan kawasan Indonesia Timur, kamu bisa mencicipi buah matoa (Pometia pinnata) yang memiliki rasa dan aroma yang khas.

Keanekaragaman hayati pada hutan turut berkontribusi pada sistem pertanian tradisional dan ketahanan pangan di suatu kawasan. Berawal mengambil langsung dari hutan, spesies-spesies hewan dan tumbuhan yang mulanya liar, kemudian didomestifikasi, dikembangkan di sistem pertanian lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sebagian spesies yang lain tetap dibiarkan tumbuh di hutan, menjadi bagian yang menyatu dengan alam. 

Deforestasi menjadi momok menakutkan yang mengancam kita semua, baik secara langsung maupun tak langsung. Cepat atau lambat. Tentunya masyarakat sekitar daerah yang mengalami deforestasi pasti bisa merasakan dampaknya. Deforestasi bisa dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja, intinya hutan ditebang secara serampangan, diambil kayunya, dibakar untuk mengubah lahan hutan menjadi nonhutan (misal menjadi kawasan bisnis, pemukiman, lahan sawit). Faktor terbesar yang berpengaruh terhadap laju deforestasi antara lain konversi lahan, illegal logging, kebakaran hutan, serta penggunaan kayu bakar (sumber : WWF). Menurut WALHI, organisasi independen nonprofit yang peduli terhadap isu lingkungan, menyatakan bahwa deforestasi menjadi ancaman serius bagi hutan Indonesia. Penyumbang terbesar deforestasi ini adalah konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang. 

Masih terngiang jelas kala kebakaran hutan dan kabut asap melanda Sebagian Sumatera dan Kalimantan di tahun 2019 silam. Semua terkena dampaknya. Dana yang ditelan sebagai upaya untuk memadamkan asap/api pastinya tidak sedikit. Pasokan pangan semakin menipis, adapun distribusi logistik menjadi sulit. Banyak penerbangan menuju Sumatera dan Kalimantan atau sebaliknya yang dibatalkan dan ditunda. Tak terhitung seberapa besar keanekaragaman hayati hutan yang hilang akibat kebakaran tersebut. Kerugian tidak bersifat hanya material tetapi juga nonmaterial. Tubuh menjadi rentan terhadap penyakit, kondisi kestabilan psikologis menjadi terganggu.

Semua geram. Tentu saja. Namun demikian, sangat diperlukan tindakan preventif untuk mencegah hal tersebut terulang kembali di masa depan. Paling tidak terdapat langkah-langkah meminimalisasi deforestasi, semisal penghijauan atau aksi tanam sekian ribu batang pohon untuk sekian hektar tanah. Sebab hutan memiliki fungsi holistik, sebagai ketahanan pangan, sumber papan, obat-obatan, energi, keseimbangan siklus air dan udara. Jika satu keseimbangan terganggu, terganggu pula mekanisme kehidupan lainnya. Intinya, kita jaga hutan, hutan pulalah yang akan menjaga kita. 

Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April besok organisasi yang memiliki concern terhadap lingkungan hidup yakni WALHI, Hutan Itu Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network mengadakan virtual event "Eco Blogger Squad Earth Day Gathering" dengan tajuk "Hutan Indonesia Sebagai Salah Satu Solusi Perubahan Iklim." 

Kenapa sih Arinta beberapa kali bikin artikel yang mengulas tentang hutan dan lingkungan hidup? Ini semua bermula ketika saya pertama kali menjejak bumi Kalimantan pada tahun 2019. Seharusnya keberangkatan saya dan tim dijadwalkan sekitar bulan Agustus kalau enggak September. Namun karena terjadi karhutla yang berlarut-larut, kedatangan saya ke Borneo tertunda hingga  bulan Desember. Cukup lama kan? Itu semua belum cukup. Selain perihal penundaan keberangkatan, hati saya terperangah bercampur sedih ketika menyaksikan hamparan hutan pada titik-titik tertentu menghitam jika dilihat dari jendela pesawat.  Kemudian terbersit hati saya untuk menuliskan mengenai hutan. Kita perlu menjaga hutan sebab nantinya hutan jualah yang akan menjaga kita.
Kebakaran hutan di Kalimantan Tengah dilihat dari udara. Dokumentasi: Antara Foto
Dalam Eco Blogger Earth Day Gathering tersebut narasumber dari Walhi, yuyun Harmono menuturkan pentingnya menjaga hutan demi kelangsungan tidak hanya generasi hari ini, tetapi juga generasi yang akan datang. Komunitas adat yang dekat dengan hutan yang paling terdampak secara langsung jika terjadi kerusakan hutan. Bagaimana tidak, komunitas adat mengandalkan hidup dari alam. Komunitas adat sangatlah tergantung pada hasil hutan dan sekitarnya. Salah satunya Komunitas Adat Seberuang. Komunitas ini berada di Dusun Silit, sebuah dusun yang berada di pedalaman Sintang, Kalimantan Barat. Hebatnya masyarakat adat Seberuang ini sudah mandiri atas ruang hidup dan energi.  Sudah lama tinggal di hutan menjadikan komunitas adat Seberuang memanfaatkan hasil hutan secara lestari. 

Kita perlu belajar kemandirian energi dari warga adat Seberuang, sebab komunitas ini menjadikan pembangkit listrik tenaga mikrohidro untuk menerangi dusunnya. Saat ini Komunitas adat Seberuang sedang berjuang untuk mendapatkan pengakuan hutan adat. Kita doakan semoga perjuangan ini segera berbuah manis. 

Masih menurut Yuyun Harmono, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2009 hingga 2019), hidrometeorologi menjadi penyebab banyaknya bencana yang ada di Indonesia. Secara garis besar hidrometerologi merupakan bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim. Perubahan iklim bukan mitos gaes. Bukan isapan jempol. Perubahan iklim itu nyata adanya. Bencana hidrometeorologi menyebabkan banjir, puting beliung, angin bahorok, El Nino, La Nina, dan masih banyak lagi. Tahun 2021, setelah banjir bandang melanda Kalimantan Selatan, Siklon Seroja hampir menenggelamkan sebuah desa di Kupang, Nusa Tenggara Timur. 
Cara mendekatkan dan memperkenalkan hutan kepada khalayak luas di era digital bisa dilakukan melalui cerita, melalui bertutur. Sesekali jalan-jalanlah ke hutan. Ceritakan betapa asyik dan serunya menjelajah hutan-hutan yang ada di Indonesia. Traveling ke gunung dan pantai sudah begitu mainstraim. Sesekali main-mainlah ke hutan. kemudian bagikan pengalaman tersebut melalui thread di twitter, postingan di blog, instagram story, podcast, dan sebagainya. 

Utas saya mengenai pengalaman berkunjung ke Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah memiliki impresi 73.858 view secara keseluruhan, dengan tampilan media lebih dari 12.000 view. Saya kira angka ini sangatlah kecil jika dibandingkan trit viral lainnya. Namun demikian, saya sangat puas atas utas yang saya buat.
Saya mencintai hutan dengan cara sederhana, yakni dengan membagikan narasi perjalanan saya menjelajah hutan supaya orang lain terinspirasi untuk senantiasa menjaga hutan dan alam Indonesia. Tunjukkan kita bisa berwisata dengan cara yang baik, beretika, serta bertanggungjawab. Sebenarnya ada banyak cara mencintai hutan, jalan-jalan dan berbagi kisah salah satunya. Selain itu kita bisa berkampanye mengenai hutan, berdonasi untuk kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas lingkungan hidup, adopsi pohon dan bibit tanaman hutan, terakhir membeli produk lokal bukan kayu masyarakat setempat. 

Cinta hutan, cinta juga produk lokal hasil hutan. Di artikel saya sebelumnya yang berjudul Lestarikan Cantikmu dengan Kopi Rempah Kalimantan Tengah, saya memperkenalkan komoditas lokal hasil hutan bukan kayu berupa kopi dan rempah yang diolah menadi minuman kesehatan dan tentunya bernilai komersil. Dengan membeli produk lokal berarti kita turut berkontribusi dan menciptakan pundi-pundi rejeki untuk petani dan juga wirausahawan yang menciptakan produk tersebut.
Selain itu saya merekomendasikan 2 produk lokal hasil hutan bukan kayu sebagai berikut. Su.Re Cofffe dan Sago Sapapua. Dua produk yang saya sebutkan ini menurut saya menarik karena turut berkontribusi pada isu perubahan iklim, kelestarian lingkungan, dan isu sosial (fair trade).

Pertama, Sago Pancake Mix SAPAPUA. Pati sagu ini diambil dari pohon sagu yang tumbuh alami di lahan gambut dan tentunya bebas pestisida, so bisa dipastikan sagu ini ramah lingkungan ya. Sagu ini diproduksi di Sorong Selatan, Papua Barat. 

Produksi sagu ini memberdayakan masyarakat setempat. Austindo Nusantara Jaya (ANJ) Tbk selaku perusahaan yang memproduksi sagu tersebut berkomitmen meningkatkan inovasi sekaligus upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Komitmen lain yang dilakukan Austindo Nusantara Jaya di antaranya: konservasi gambut serta tidak melakukan pengembangan baru di kawasan gambut pada kedalaman berapapun, mengurangi emisi gas rumah kaca, tidak melakukan pembakaran lahan, mengurangi polusi, melakukan proteksi dan konservasi kawasan hutan primer, dan mengurangi penggunaan pestisida.

Adanya fair trade, menjadikan industri yang menghasilkan suatu komoditas memberikan standar keamanan, keselamatan, kesejahteraan (sistem pengupahan) yang baik lagi adil bagi pekerjanya. Ini yang sudah dilakukan Austindo Nusantara Jaya. Tidak ada pekerja anak dan pekerja paksa di PT Austindo Nusantara Jaya. Perusahaan ini juga memerhatikan isu kesetaraan gender sehingga para pekerja perempuan diberi kesempatan yang sama dalam hal peningkatan taraf ekonomi. Para pekerja juga mendapatkan pemberian upah, bonus yang wajar, aserta promosi jabatan yang tidak bias gender. Keselamatan dan keamanan kerja (K3) dilakukan sesuai prosedur sehingga meminimalisasi angka kecelakaan kerja.
Kedua, Su.Re Coffe. Kopi ini diproduksi di Bali, kamu bisa mendapatkan kopi ini di Jalan Dalem Gede No 25 Mengwi, Badung, Bali. Seperti halnya Sagu Sapapua, Su.Re Coffee juga mendukung pengurangan efek gas rumah kaca, mendukung perubahan iklim, dan pemberdayaan petani lokal. Setiap kita membeli produk Su.Re Coffee, 15% digunakan untuk biogas dan sekolah lapangan iklim. 
Balik lagi ke topik Eco Blogger Earth Gathering. Gita Syaharani dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari menyentil isu pembangunan rendah karbon sebagai langkah yang ditempuh pemerintah yang tertuang dalam rencana pembangunan nasional (pergeseran paradigma menuju ekonomi hijau). Pembangunan rendah karbon nantinya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, sekaligus kelestarian lingkungan. Penerapannya program ini bagaimana? Beberapa di antaranya dengan melakukan transisi energi, dari bahan bakar fosil menuju alternatif energi baru dan terbarukan, reforestasi lahan seluas 1 juta hektare hingga 2024, meningkatkan produktivitas lahan, investasi hijau, konservasi, dan menyetop penerbitan izin usaha di kawasan lahan gambut serta area hutan. 

Tulisan ini tentu jauh dari kata sempurna. Namun demikian, saya berharap melalui tulisan ini bisa memantik kesadaran kita untuk mencintai hutan Indonesia dan melestarikannya demi bumi tercinta. Hutan merupakan semesta kecil yang memberikan ruh kehidupan. Sudah selayaknya kita berterima kasih dengan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Selamat hari Bumi!

Jumat, 16 April 2021

Investasi Jangka Panjang untuk Kulitmu dan Lestarikan Cantikmu melalui Kosmetika dan Skincare yang Aman, Sehat, Lagi Sustainable

Tahun 2019 silam, seorang selebgram mempromosikan skincare abal-abal di stories instagramnya. Skincare abal-abal tersebut tentunya tidak mendapatkan izin edar dari BPOM serta belum diketahui secara pasti seberapa berbahaya kandungan bahan-bahan kimiawi yang ada dalam produk tersebut. Harganya tergolong murah. Promosi dan testimoni meyakinkan dengan harga produk yang murah membuat konsumen yang tidak kritis menjadi mudah tergiur. Belum lagi jika konsumen tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai kandungan kimiawi yang berbahaya buat kulit. Konsumen yang tidak kritis dan cerdas gampang banget kena jebakan betmen. Harga murah, membuat glowing dalam waktu singkat, banyak testimoni, dan sebagainya. Ketahuilah ladies, it's a trap! Jangan sampai obsesi kulit glowing membuat kita sebagai konsumen terjebak pada skema penjualan kosmetik palsu atau abal-abal. 

Tahun 2020, seorang dokter dermathologi mengungkap 5 krim wajah yang berbahaya di kanal youtubenya. Produk-produk yang disebutkan tersebut ada yang mengandung hidroquinon, mercury, tidak memiliki izin edar BPOM, bahkan ada tidak dicantumkan tanggal kedaluwarsanya. Nah loh! Produk kecantikan bukan dilihat dari murah atau mahalnya, tetapi seperti apa ingredient atau komponen utama penyusun produk tersebut. Krim yang mengandung merkuri dan hidroquinon tidak diperbolehkan karena bisa merusak lapisan epidermis kulit. Efeknya adalah kulit menjadi iritasi, ruam-ruam, mudah gatal, rentan infeksi jamur, dan yang paling fatal kanker kulit.

So Scary! Bayangkan jika kulit kita jadi iritasi dan timbul ruam ketika memakai produk mengandung merkuri. Anyway, seberapa bahayanya merkuri ini? Dalam sebuah publikasi berjudul Investigation of Mercury Content in Cosmetic Products by Using Direct Mercury Analyzer yang ditulis oleh Ali A. Dahab, disebutkan bahwa Merkuri merupakan logam beracun dan dapat menyebabkan efek kesehatan yang serius termasuk kerusakan ginjal, depresi kecemasan dan neuropati perifer. Menurut jurnal yang diterbitkan WHO, kandungan merkuri pada krim pencerah kulit dapat menyebabkan ruam, kerusakan sel/jaringan kulit, serta kulit menjadi mudah terinfeksi bakteri dan jamur. 

Menjadi cantik dan memiliki kulit wajah mulus serta glowing tentunya menjadi impian banyak perempuan. Bahkan tidak hanya kaum hawa, sekarang para pria pun juga menjadi konsumen di industri ini. Jenis kulit dan warna kulit tiap orang pun berbeda. Ada jenis kulit berminyak, kering, sensitif, normal, dan kominasi. Warna kulit pun beragam dari putih, kuning langsat, sawo matang, hingga gelap. Namun, narasi-narasi iklan yang kebanyakan kita dengar dan lihat adalah perempuan cantik itu berkulit putih. Maka tak heran banyak perempuan berlomba-lomba untuk berkulit putih, meskipun tone warna kulit yang dimiliknya cenderung cokelat atau sawo matang, khas perempuan Asia Tenggara.

Saya jadi teringat seorang teman, sebut saya Mira (nama samaran). Mira ini sebenarnya manis. Banyak yang menyukainya lantaran sikapnya yang supel dan periang. Namun Mira ternyata memiliki insecurity terkait warna kulit wajahnya yang menurut dia cokelat gelap. Mulailah Mira berburu aneka produk perawatan kecantikan hingga kosmetika untuk membuat kulitnya lebih glowing. Sayangnya saat itu di tahun 2013 edukasi mengenai kecantikan dan bahaya skincare/kosmetika abal-abal tidak seperti sekarang ini. Berawal dari tawaran temannya, Mira tergiur dengan krim wajah yang ditawarkan temannya. Konon katanya krim tersebut mampu membuat kulitnya lebih glowing dalam waktu satu bulan. Alamak! Setelah dikonsumsi selama 2 minggu muncul bintik-bintik merah. Mira terkena iritasi dan kulitnya terasa gatal. Karena takut kenapa-napa akhirnya Mira memeriksakan kulitnya ke dokter umum di puskesmas. Oleh dokter di puskesmas Mira diminta berkonsultasi ke dokter spesialis kulit. Oleh dokter spesialis kulit Mira diberikan obat dan krim untuk menyembuhkan gatal-gatal di kulit mukanya dan tahukah gaes, uang yang digelontorkan Mira untuk berobat berkali-kali lipat lebih mahal daripada krim pemutih yang dia beli. Mira kapok. Semenjak itu Mira lebih berhati-hati ketika membeli produk kecantikan. Bukan kulit putih yang dibutuhkan, tetapi Mira lebih butuh kulit sehat dan bersih. Cantik itu bukan hasil instan, yang serbainstan tentu diragukan.

Tahukah kamu gaes, dalam kurun waktu 4 tahun (2016 hingga 2019), jumlah produk kecantikan (kosmetik) ilegal yang diamankan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BOM) sudah mencapai 249 miliar. Pada tahun 2018, angkanya naik signifikan menjadi 112 miliar rupiah. Adapun di tahun 2016 dan 2017, total produk kecantikan ilegal yang berhasil diamankan tercatat 78 miliar rupiah. 

Untuk sebuah produk kecantikan agar tercatat di BPOM harus memenuhi 4 jenis persyaratan terkait keamanan, kebermanfaatan, mutu, dan penandaan. Informasi pada label kemasan dan bahan-bahan juga dicantumkan secara lengkap dan tidak menyesatkan. Adapun persyaratan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1176/MENKES/VIII/2010 tentang notifikasi kosmetika. Selain itu ada juga Peraturan BPOM RI Tahun 2010 Tentang Kriteria dan Tatacara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Maka dari itu dalam satu kemasan skincare atau kosmetika wajib mencantumkan nama produk, kegunaan, cara penggunaan, komposisi, nama produsen, nomor batch (kode produksi), tanggal daluwarsa, serta nomor notifikasi. Masih menurut BPOM, produk abal-abal  yang laris di marketplace yakni krim pemutih dan obat pelangsing badan. 

Memutihkan kulit dalam waktu cepat secara instan sangatlah mustahil, oleh karena itu penggunaan bahan-bahan kimiawi berbahaya dan logam berat digunakan untuk meluruhkan lapisan kulit paling luar (epidermis) oleh para produsen gelap. Alih-alih membuat kulit glowing, produk kecantikan ilegal dan abal-abal ini bisa membuat kulit kita menjadi rusak. 

4 Langkah cerdas dalam sebelum membeli  produk kecantikan termasuk kosmetika, yuk cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa). Setidaknya cek KLIK merupakan panduan kita agar tidak terjebak pada krim-krim abal-abal/ilegal. Produk berikut sebenarnya belum masuk kategori ramah lingkungan karena masih berbahan plastik. Saya menggunakannya sebagai contoh karena produk tersebut sudah memiliki izin edar dari BPOM. Sebagai konsumen cerdas kita bisa menyortir limbah plastik kemasan produk agar bisa didaur ulang dengan cara mengirimnya ke bank sampah atau perusahaan berbasis waste management (ini salah satu cara mengurangi sampah plastik menuju zero waste). Produk kecantikan yang sudah memiliki izin edar dan tersertifikasi BPOM dinilai lebih aman dibandingkan produk abal-abal yang berkeliaran bebas di pasaran. 
Saya pikir, kita harus membenahi pola pikir kita tentang makna cantik. Sedari kecil kita dijejali makna cantik dengan definisi-definisi seperti berkulit putih. Media periklanan dan marketing di berbagai lini media mendefinisikan cantik sedemikian rupa. Maka jangan heran, jika ada perempuan merasa kurang nyaman dengan kulit gelap atau sawo matangnya dan ingin mengubahnya menjadi putih dengan berbagai cara, mulai dari mengonsumsi krim pemutih/pencerah hingga operasi plastik. Nah, di sinilah peran kita dalam hal meredefinisikan makna cantik. Cantik tidak identik dengan kulit putih ya, yang terpenting adalah bagaimana menjaga kulit agar tetap sehat, bersih, nan terawat.

Memilih produk kecantikan yang tepat, aman, dan menyehatkan merupakan investasi jangka panjang untuk kulit kita. Saya juga mendapat knowledge baru setelah mengikuti Blogger Gathering #LestarikanCantikmu yang diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan yang menghadirkan 3 narasumber kece. Mereka adalah Danang Wisnu Wardhana (Skincare Content Creator), Christine pan (Segara Naturals), dan Gita Syaharani (Kepala Sekretariat LTKL). Tidak hanya produk kecantikan yang aman dan sehat saja gaes, tetapi juga berkelanjutan, ramah lingkungan, dan ramah sosial (sustainable beauty). 
Definisi sustainable (berkelanjutan) di sini yakni mendukung visi ekonomi lestari atau ekonomi berkelanjutan. Indonesia kaya akan komoditas yang mendukung ekonomi lestari, komoditas yang saya maksud diantaranya kopi, teh, rempah, minyak tengkawang, dan masih banyak lagi. Konsep ekonomi lestari/berkelanjutan menjadi salah satu inovasi bagi daerah guna menciptakan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat setempat serta iklim investasi yang berkualitas. Nah, aneka komoditas yang saya sebutkan tadi bisa lho diolah menjadi produk-produk industri kecantikan, kopi misalnya bisa dijadikan bahan body scrub.

"Aku itu memakai skincare harus dengan tenang, dengan damai, dan dengan bahagia. Kalau bahan-bahan yang aku akai udah bikin aku senang, menggunakan bahan-bahan yang baik, dan prosesnya baik, bekerjasama dengan petani lokal, itu bagi aku kayak jadi nilai tambah. Produk-produk tersebut bebas dari bahan-bahan negatif, bahan-bahan yang berbahaya, atau apa otomatis hasilnya di kulit kita lebih oke daripada memakai produk dengan bahan-bahan yang tidak sesuai dengan standar kesehatan." Papar Danang Wisnu dalam online gathering tersebut.

Danang Wisnu menjelaskan kalau dirinya sudah merasa bahagia dan cocok dengan bahan-bahan suatu produk kecantikan, maka hasilnya akan berdampak signifikan di kulit. Untuk bahan yang aman atau tidak, cara mengeceknya bisa dilihat dari apakah produk tersebut sudah tersertifikasi dan mengantongi izin edar dari BPOM. Untuk lebih mudahnya bisa cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa).

Produk kecantikan yang sudah lolos BPOM insya allah sebenarnya sudah aman, ungkas Danang. Sekarang ini sudah banyak yang aware mengenai produk perawatan kecantikan yang ramah lingkungan dibandingkan satu dekade silam. Sustainable beauty bahkan menjadi tren lho. Saat ini sudah banyak produsen lokal yang berinovasi menciptakan produk go green. 

Gita Syaharani, Kepala Sekretariat LTKL mengungkapkan berdasarkan data hasil riset LTKL serta mitra di 3 negara (Korea Selatan, Jepang, dan China) menilai bahwa orang-orang rentang usia 18 hingga 30 tahun sudah mulai sadar tentang polusi. Mereka juga mempertimbangkan bahan-bahan utama suatu produk kecantikan. Oleh karena itu, di Asia proses pengemasan produk hingga sampai kepada konsumen menjadi hal krusial. Berikut hasil olahriset LTKL mengenai pertimbangan konsumen ketika memilih suatu kecantikan. Tuh kan indikator "bahan dalam produk" memiliki persentase paling tinggi (91,5%), diikuti harga (75,7%), dan kualitas produk tersebut (73,9%).
Sustainable product itu seperti apa sih? Gita Syaharani menuturkan bahwasanya suatu produk dikatakan ramah sosial dan lingkungan jika memenuhi Natura Standardization. Setidaknya ada 3 kriteria dalam Sandar Natura, ketiganya mencangkup: menjaga fungsi alam tanpa bencana, petani/pekebun sejahtera, terakhir terkait bagaimana penanganan limbah produksi dan energi.

Salah satu produsen produk kecantikan yang pabriknya terletak di Cikarang sudah mulai aware terhadap isu lingkungan. Agar limbah yang dihasilkan tidak menjadi bencana di kemudian hari, pabrik tersebut mengolah limbahnya sedemikian rupa sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar. Limbah lumpur yang dihasilkan diolah kembali menjadi bahan yang langsung bisa dimanfaatkan yakni dengan mengubahnya menjadi bahan siap pakai yang kemudian dikirim ke pabrik semen sebagai bahan bakar. Untuk mengurangi sampah agar tidak menumpuk di tanah, pabrik tersebut mengubah sampah dengan cara kompos dan recycle. Demikian pula kardus bekas, limbah kardus yang mencapai 30-50 ton dalam satu bulan bisa digunakan berkali-kali karena kardus tersebut berjenis returnable packaging box. Dengan hal itu perusahaan dapat menekan meningkatnya limbah kardus. 

Gita Syaharani menambahkan ada 6 cara agar kita memahami dan mendukung produk-produk sustainable beauty. Keenamnya bisa dilihat pada infografis berikut.
Saya beruntung menjadi salah satu orang yang mencoba 2 produk Segara Naturals. Segara Naturals, produk kecantikan satu ini memiliki concern terhadap organic dan natural skincare. Christine Pan, pendiri Segara Naturals memiliki keresahan yang cukup besar mengenai sampah-sampah yang bertebaran di laut dan darat. Dalam kurun waktu 2014 hingga 2015, kantor tempat Christine bekerja mengirimnya ke luar jawa seperti Papua dan Lombok. Mau di manapun Christine melakukan aktivitas traveling pasti menjumpai namanya sampah, dari botol shampoo hingga sendal jepit. Christine mengakui dulu suka membawa sabun atau shampo botolan ketika bertraveling, tetapi kadang kemasannya tidak rapat sehingga mudah tumpah. Dari situ Christine berpikir mmembuat produk kecantikan yang ramah lingkungan juga berbahan-bahan alami (mengutamakan komoditas lokal Indonesia). Produk Segara Natural termasuk palm oil free ya gaes, Segara Naturals menggunakan minyak nonsawit seperti minyak tengkawang, minyak kelapa, dan lain sebagainya.
Dua produk Segara Naturals: Solid Deodorant dan Travel Soap. Dokumentasi pribadi
Christine mengakui awalnya kesulitan ketika membuat produk yang free palm oil. Pernah suatu ketika mencari petani minyak tengkawang, keterbatasan bahan baku menjadi kendala. Hingga suatu ketika Christine mendapatkan pemasok minyak tengkawang yang dirasa cocok, dia segera kontak orang tersebut untuk diajak bekerjasama. 

Christine mengakui bahwa produknya belum sepenuhnya zero waste. Segara Naturals masih menggunakan kemasan berbahan aluminum (kaleng). Meskipun demikian, produk Segara Naturals ketika sudah habis bisa dipesan kembali, kalengnya jangan dibuang karena bisa digunakan kembali (di-refill) untuk produk sejenis. Menariknya, Christine berupaya agar produk Segara Naturals selain organik, alami, dan berbahan baku lokal, juga day to day operasional meminimalisasi penggunaan sampah plastik. Misalkan Christine memastikan karyawan yang bekerja di Segara Naturals menggunakan sedotan nonplastik. 

Saat ini produk-produk Segara Natural sedang dalam proses untuk mendapatkan sertifikasi dari BPOM. Semoga disegerakan ya Kak Christine mendapatkan sertifikasi tersebut!

Mari kita dukung produk-produk kecantikan lokal yang pro sustainability. Memilih produk yang berbahan natural, organik, lagi aman adalah bentuk investasi jangka panjang untuk kulit sehat kita. Lestarikan cantikmu melalui skincare dan kosmetika yang ramah lingkungan dan sosial. Bagikan ceritamu supaya banyak orang semakin tahu. Yuks!