Rabu, 21 April 2021

Sampahku Tanggungjawabku : Bijak Bajik Kelola Sampah Dimulai dari Diri Sendiri

Jam menunjukkan pukul 09.15. Truk-truk pengangkut sampah berwarna hijau silih berganti mengantarkan sampah-sampah menuju TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Degayu yang berlokasi tak jauh dari pantai Slamaran, Kota Pekalongan. Ekskavator, mesin pengeruk sampah berwarna kuning teronggok di hamparan gunungan sampah. 

 Sebuah Ekskavator di antara gunungan sampah di TPA. Dokumentasi pribadi

Pak Slamet merupakan satu dari puluhan orang yang berburu rejeki dengan mengais sampah di TPA seluas 5,8 hektare ini. Selepas azan subuh berkumandang, Pak Slamet bergegas ke masjid yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Selepas salat, Pak Slamet menikmati sarapan pagi yang dibuat istrinya. Di pagi buta sebelum anak-anak berangkat sekolah, pak Slamet sudah mengayuh sepeda tuanya, memungut botol-botol plastik, kardus bekas, atau apapun barang yang ditemukan di jalanan yang nantinya bisa ditukar dengan uang. Sesampainya di TPA, Pak Slamet menyiapkan karung berukuran besar untuk memilah botol-botol Plastik yang sekiranya masih bagus untuk nantinya dijual.

Sampah plastik dan kaleng di TPA Degayu. Dokumentasi pribadi
Mereka yang mengais rejeki dari sampah di TPA Degayu. Dokumentasi pribadi

Bekerja sebagai pemungut sampah seperti pak Slamet bukannya tanpa risiko. Paparan bau yang tak sedap, risiko terkena serpihan kaca dan benda tajam lainnya, riskan terpapar diare, gangguan gastrointestinal, terpeleset gunungan sampah, dan risiko-risiko yang lain. 

Tahun 2021, kondisi volume sampah di TPA Degayu sudah dalam kondisi overload, mengkhawatirkan. Dengan tinggi gunungan sampah telah mencapai 20 meter sudah selayaknya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat. Permasalahan yang kerapkali muncul sebuah TPA adalah polusi udara yang mengganggu pemukiman warga, gas metana yang terbakar di antara tumpukan sampah, dan pencemaran leachate (air hasil dekomposisi sampah yang bisa meresap dan mencemari tanah).

“Tahun 2015, pernah terjadi kebakaran di TPA Degayu. Itu api sudah dipadamkan sama beberapa damkar hingga menjelang jam 12 malam, subuh-subuh apinya keluar lagi.” Tutur pak Slamet kepada saya. Pemicu kebakaran adalah gas metana dari gunungan sampah yang ada. Akibat kebakaran tersebut, asap pekat serta bau yang tidak sedap dari sampah terbawa hingga ke pemukiman warga. Beberapa warga yang bekerja di tambak-tambak udang merasakan sesak napas dan mata pedih akibat asap plus bau yang tak mengenakkan ini.

Kepulan asap akibat gas metana di TPA Degayu tahun 2015.
Dokumentasi ANTARA Foto/Pradita Utama
Meskipun bukan tragedi besar, peristiwa kebakaran akibat gas metana yang membakar sebagian lahan di TPA Degayu jangan dianggap sebagai hal yang sepele. Tragedi ledakan gas metana terdahsyat di negeri ini pernah terjadi di Leuwigajah, Cimahi (Jawa Barat) pada 21 Februari 2005. Ledakan tersebut diiringi longsornya gunungan sampah TPA Leuwigajah yang meluluhlantakkan dua pemukiman warga (Kampung Cilimus dan Pojok). Efek yang ditimbulkan begitu mengerikan, karena insiden mendadak tersebut 157 jiwa melayang. 

Masyarakat Indonesia tentunya berduka. Demi mengenang peristiwa pahit tersebut (supaya menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang) tanggal 21 Februari ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional). Gerakan bijak kelola sampah mulai digaungkan. Meskipun belumlah masif dan menyeluruh, sedikit demi sedikit masyarakat tergerak hati untuk peduli dan bertanggungjawab atas sampah yang ditimbulkannya

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) jumlah sampah skala nasional mencapai 67,8 juta ton pada tahun 2020, hingga tahun 2050 diperkirakan jumlahnya akan bertambah lebih dari dua kali lipat. Perlu pengelolaan tingkat lanjut, inovasi teknologi, dan sejumlah investasi supaya tata kelola sampah menjadi lebih baik dan tidak menjadi momok yang mengerikan di kemudian hari. Selain itu, kita perlu mengadopsi konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan sampah organik dan anorganik, menciptakan nilai ekonomis melalui proses reduce, reuse, recycle

Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Konsumsi sampah plastik per kapita mencapai 20 kilogram per tahun. Di level industri, penggunaan plastik untuk kemasan menyentuh angka 65 persen terhadap konsumi plastik skala nasional. Berdasarkan hal tersebut, sejumlah industri mulai menyadari dampak sampah yang ditimbulkan atas aktivitas bisnisnya. Semakin ke sini masyarakat semakin cerdas. Konsumen semakin teredukasi mengenai bagaimana kepedulian brand perusahaan terhadap pengelolaan sampahnya.

Seminggu lalu, sebuah iklan muncul di beranda twitter saya, sebuah brand di bidang Foods & Beverages terkemuka mengkampanyekan mengurangi penggunaan sepertiga virgin plastik hingga 2025. Kemarin, seorang kawan blogger menghadiri RUPS (rapat Umum Pemegang Saham) dan mendapatkan suvenir cantik berupa tas dari bahan daur ulang botol plastik, ini unik! 

Saat pandemi, sampah rumah tangga dan limbah medis angkanya mengalami kenaikan sebesar 36%. Merujuk pada statistik dari KLHK, setidaknya 66,8% rumah tangga domestik masih melakukan aktivitas membakar sampahnya, alih-alih mendaur ulang. Hanya 1,2% yang memiliki kesadaran akan Reuse, Reduce, Recycle. Tak perlu menunggu disentil bencana sehingga kesadaran akan pengelolaan sampah bertumbuh. Yuk mulai dari diri sendiri, bijak dan bajik dalam kelola sampah. Sebab sampahku adalah tanggungjawabku.

Bijak bajik kelola sampah yang sudah kuterapkan.

1. Saya memanfaatkan eco/tote bag alih-alih tas kresek/plastik saat berbelanja. Tas kresek memiliki sifat destruktif terhadap lingkungan dan sukar diurai mikroorganisme yang ada di tanah.
Belanja sayuran menggunakan tote bag. Dokumentasi pribadi
Koleksi sebagian tote bag saya. Dokumentasi pribadi
2. Sisa sayuran, daun kering/basah, dan sampah organik lainnya saya ubah menjadi pupuk kompos.
Proses komposting sampah organik. Dokumentasi pribadi
3. Memanfaatkan botol bekas kemasan minuman untuk pot tanaman. Adapun pupuknya diambil dari pupuk kompos di atas.
Botol bekas jadi pot tanaman. Dokumentasi pribadi
Botol bekas jadi pot tanaman. Dokumentasi pribadi
4. Menggunakan masker kain saat keluar rumah demi mengurangi limbah masker medis.
Dokumentasi pribadi
5. Tidak membuang sampah sembarangan saat traveling. Saya menyediakan kantung khusus di ransel sebagai wadah sampah. Tak elok rasanya tempat wisata yang cantik berceceran sampah. 
Saat saya berwisata ke hutan. Sampahku tanggungjawabku. Dokumentasi pribadi.
6. Mengirim botol bekas kemasan ke Waste4Change untuk didaur ulang. Waste4Change merupakan perusahaan Waste Management Indonesia yang memiliki misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA. Selain mengelola sampah perusahaan, Waste4Change juga melayani sampah individu dalam Personal Waste Management
Botol Kemasan untuk Waste4Change. Dokumentasi pribadi
Mengirim paket berisi botol minuman kemasan (bekas) ke Waste4Change sangatlah mudah. Demikian cara sederhana saya bertanggung jawab terhadap sampah, bijak bajik kelola sampah dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai berhenti di sini. Yuk bagikan juga ceritamu mengelola sampah pribadi di berbagai platform yang kamu miliki.

Selasa, 20 April 2021

Memperingati Hari Bumi: Cinta Hutan, Cinta juga Produk Lokal Hasil Hutan

Sebagai sebuah ekosistem, hutan memiliki beragam fungsi. Hutan berperan penting dalam menjaga siklus keseimbangan air/udara, sumber keanekaragaman hayati, sekaligus sumber pangan dan papan. Keanekaragaman hayati gen, spesies, dan pada ekosistem hutan satu dengan hutan lain tidaklah sama dan masing-masing memiliki ciri khas. Vegetasi hutan di bumi Kalimantan tentu berbeda dengan yang ada di Jawa. Di Kalimantan, kamu bisa menemui buah-buahan hutan seperti buah rambai, buah kapul, keledang, durian merah, dan sebagainya. Tentu nama tersebut sangatlah asing, barangkali kamu juga belum pernah mencobanya. Adapun di Jawa, khususnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, kamu bisa menjumpai buah carica atau pepaya gunung sebagai oleh-oleh. Di Papua dan kawasan Indonesia Timur, kamu bisa mencicipi buah matoa (Pometia pinnata) yang memiliki rasa dan aroma yang khas.

Keanekaragaman hayati pada hutan turut berkontribusi pada sistem pertanian tradisional dan ketahanan pangan di suatu kawasan. Berawal mengambil langsung dari hutan, spesies-spesies hewan dan tumbuhan yang mulanya liar, kemudian didomestifikasi, dikembangkan di sistem pertanian lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sebagian spesies yang lain tetap dibiarkan tumbuh di hutan, menjadi bagian yang menyatu dengan alam. 

Deforestasi menjadi momok menakutkan yang mengancam kita semua, baik secara langsung maupun tak langsung. Cepat atau lambat. Tentunya masyarakat sekitar daerah yang mengalami deforestasi pasti bisa merasakan dampaknya. Deforestasi bisa dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja, intinya hutan ditebang secara serampangan, diambil kayunya, dibakar untuk mengubah lahan hutan menjadi nonhutan (misal menjadi kawasan bisnis, pemukiman, lahan sawit). Faktor terbesar yang berpengaruh terhadap laju deforestasi antara lain konversi lahan, illegal logging, kebakaran hutan, serta penggunaan kayu bakar (sumber : WWF). Menurut WALHI, organisasi independen nonprofit yang peduli terhadap isu lingkungan, menyatakan bahwa deforestasi menjadi ancaman serius bagi hutan Indonesia. Penyumbang terbesar deforestasi ini adalah konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang. 

Masih terngiang jelas kala kebakaran hutan dan kabut asap melanda Sebagian Sumatera dan Kalimantan di tahun 2019 silam. Semua terkena dampaknya. Dana yang ditelan sebagai upaya untuk memadamkan asap/api pastinya tidak sedikit. Pasokan pangan semakin menipis, adapun distribusi logistik menjadi sulit. Banyak penerbangan menuju Sumatera dan Kalimantan atau sebaliknya yang dibatalkan dan ditunda. Tak terhitung seberapa besar keanekaragaman hayati hutan yang hilang akibat kebakaran tersebut. Kerugian tidak bersifat hanya material tetapi juga nonmaterial. Tubuh menjadi rentan terhadap penyakit, kondisi kestabilan psikologis menjadi terganggu.

Semua geram. Tentu saja. Namun demikian, sangat diperlukan tindakan preventif untuk mencegah hal tersebut terulang kembali di masa depan. Paling tidak terdapat langkah-langkah meminimalisasi deforestasi, semisal penghijauan atau aksi tanam sekian ribu batang pohon untuk sekian hektar tanah. Sebab hutan memiliki fungsi holistik, sebagai ketahanan pangan, sumber papan, obat-obatan, energi, keseimbangan siklus air dan udara. Jika satu keseimbangan terganggu, terganggu pula mekanisme kehidupan lainnya. Intinya, kita jaga hutan, hutan pulalah yang akan menjaga kita. 

Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April besok organisasi yang memiliki concern terhadap lingkungan hidup yakni WALHI, Hutan Itu Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network mengadakan virtual event "Eco Blogger Squad Earth Day Gathering" dengan tajuk "Hutan Indonesia Sebagai Salah Satu Solusi Perubahan Iklim." 

Kenapa sih Arinta beberapa kali bikin artikel yang mengulas tentang hutan dan lingkungan hidup? Ini semua bermula ketika saya pertama kali menjejak bumi Kalimantan pada tahun 2019. Seharusnya keberangkatan saya dan tim dijadwalkan sekitar bulan Agustus kalau enggak September. Namun karena terjadi karhutla yang berlarut-larut, kedatangan saya ke Borneo tertunda hingga  bulan Desember. Cukup lama kan? Itu semua belum cukup. Selain perihal penundaan keberangkatan, hati saya terperangah bercampur sedih ketika menyaksikan hamparan hutan pada titik-titik tertentu menghitam jika dilihat dari jendela pesawat.  Kemudian terbersit hati saya untuk menuliskan mengenai hutan. Kita perlu menjaga hutan sebab nantinya hutan jualah yang akan menjaga kita.
Kebakaran hutan di Kalimantan Tengah dilihat dari udara. Dokumentasi: Antara Foto
Dalam Eco Blogger Earth Day Gathering tersebut narasumber dari Walhi, yuyun Harmono menuturkan pentingnya menjaga hutan demi kelangsungan tidak hanya generasi hari ini, tetapi juga generasi yang akan datang. Komunitas adat yang dekat dengan hutan yang paling terdampak secara langsung jika terjadi kerusakan hutan. Bagaimana tidak, komunitas adat mengandalkan hidup dari alam. Komunitas adat sangatlah tergantung pada hasil hutan dan sekitarnya. Salah satunya Komunitas Adat Seberuang. Komunitas ini berada di Dusun Silit, sebuah dusun yang berada di pedalaman Sintang, Kalimantan Barat. Hebatnya masyarakat adat Seberuang ini sudah mandiri atas ruang hidup dan energi.  Sudah lama tinggal di hutan menjadikan komunitas adat Seberuang memanfaatkan hasil hutan secara lestari. 

Kita perlu belajar kemandirian energi dari warga adat Seberuang, sebab komunitas ini menjadikan pembangkit listrik tenaga mikrohidro untuk menerangi dusunnya. Saat ini Komunitas adat Seberuang sedang berjuang untuk mendapatkan pengakuan hutan adat. Kita doakan semoga perjuangan ini segera berbuah manis. 

Masih menurut Yuyun Harmono, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2009 hingga 2019), hidrometeorologi menjadi penyebab banyaknya bencana yang ada di Indonesia. Secara garis besar hidrometerologi merupakan bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim. Perubahan iklim bukan mitos gaes. Bukan isapan jempol. Perubahan iklim itu nyata adanya. Bencana hidrometeorologi menyebabkan banjir, puting beliung, angin bahorok, El Nino, La Nina, dan masih banyak lagi. Tahun 2021, setelah banjir bandang melanda Kalimantan Selatan, Siklon Seroja hampir menenggelamkan sebuah desa di Kupang, Nusa Tenggara Timur. 
Cara mendekatkan dan memperkenalkan hutan kepada khalayak luas di era digital bisa dilakukan melalui cerita, melalui bertutur. Sesekali jalan-jalanlah ke hutan. Ceritakan betapa asyik dan serunya menjelajah hutan-hutan yang ada di Indonesia. Traveling ke gunung dan pantai sudah begitu mainstraim. Sesekali main-mainlah ke hutan. kemudian bagikan pengalaman tersebut melalui thread di twitter, postingan di blog, instagram story, podcast, dan sebagainya. 

Utas saya mengenai pengalaman berkunjung ke Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah memiliki impresi 73.858 view secara keseluruhan, dengan tampilan media lebih dari 12.000 view. Saya kira angka ini sangatlah kecil jika dibandingkan trit viral lainnya. Namun demikian, saya sangat puas atas utas yang saya buat.
Saya mencintai hutan dengan cara sederhana, yakni dengan membagikan narasi perjalanan saya menjelajah hutan supaya orang lain terinspirasi untuk senantiasa menjaga hutan dan alam Indonesia. Tunjukkan kita bisa berwisata dengan cara yang baik, beretika, serta bertanggungjawab. Sebenarnya ada banyak cara mencintai hutan, jalan-jalan dan berbagi kisah salah satunya. Selain itu kita bisa berkampanye mengenai hutan, berdonasi untuk kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas lingkungan hidup, adopsi pohon dan bibit tanaman hutan, terakhir membeli produk lokal bukan kayu masyarakat setempat. 

Cinta hutan, cinta juga produk lokal hasil hutan. Di artikel saya sebelumnya yang berjudul Lestarikan Cantikmu dengan Kopi Rempah Kalimantan Tengah, saya memperkenalkan komoditas lokal hasil hutan bukan kayu berupa kopi dan rempah yang diolah menadi minuman kesehatan dan tentunya bernilai komersil. Dengan membeli produk lokal berarti kita turut berkontribusi dan menciptakan pundi-pundi rejeki untuk petani dan juga wirausahawan yang menciptakan produk tersebut.
Selain itu saya merekomendasikan 2 produk lokal hasil hutan bukan kayu sebagai berikut. Su.Re Cofffe dan Sago Sapapua. Dua produk yang saya sebutkan ini menurut saya menarik karena turut berkontribusi pada isu perubahan iklim, kelestarian lingkungan, dan isu sosial (fair trade).

Pertama, Sago Pancake Mix SAPAPUA. Pati sagu ini diambil dari pohon sagu yang tumbuh alami di lahan gambut dan tentunya bebas pestisida, so bisa dipastikan sagu ini ramah lingkungan ya. Sagu ini diproduksi di Sorong Selatan, Papua Barat. 

Produksi sagu ini memberdayakan masyarakat setempat. Austindo Nusantara Jaya (ANJ) Tbk selaku perusahaan yang memproduksi sagu tersebut berkomitmen meningkatkan inovasi sekaligus upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Komitmen lain yang dilakukan Austindo Nusantara Jaya di antaranya: konservasi gambut serta tidak melakukan pengembangan baru di kawasan gambut pada kedalaman berapapun, mengurangi emisi gas rumah kaca, tidak melakukan pembakaran lahan, mengurangi polusi, melakukan proteksi dan konservasi kawasan hutan primer, dan mengurangi penggunaan pestisida.

Adanya fair trade, menjadikan industri yang menghasilkan suatu komoditas memberikan standar keamanan, keselamatan, kesejahteraan (sistem pengupahan) yang baik lagi adil bagi pekerjanya. Ini yang sudah dilakukan Austindo Nusantara Jaya. Tidak ada pekerja anak dan pekerja paksa di PT Austindo Nusantara Jaya. Perusahaan ini juga memerhatikan isu kesetaraan gender sehingga para pekerja perempuan diberi kesempatan yang sama dalam hal peningkatan taraf ekonomi. Para pekerja juga mendapatkan pemberian upah, bonus yang wajar, aserta promosi jabatan yang tidak bias gender. Keselamatan dan keamanan kerja (K3) dilakukan sesuai prosedur sehingga meminimalisasi angka kecelakaan kerja.
Kedua, Su.Re Coffe. Kopi ini diproduksi di Bali, kamu bisa mendapatkan kopi ini di Jalan Dalem Gede No 25 Mengwi, Badung, Bali. Seperti halnya Sagu Sapapua, Su.Re Coffee juga mendukung pengurangan efek gas rumah kaca, mendukung perubahan iklim, dan pemberdayaan petani lokal. Setiap kita membeli produk Su.Re Coffee, 15% digunakan untuk biogas dan sekolah lapangan iklim. 
Balik lagi ke topik Eco Blogger Earth Gathering. Gita Syaharani dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari menyentil isu pembangunan rendah karbon sebagai langkah yang ditempuh pemerintah yang tertuang dalam rencana pembangunan nasional (pergeseran paradigma menuju ekonomi hijau). Pembangunan rendah karbon nantinya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, sekaligus kelestarian lingkungan. Penerapannya program ini bagaimana? Beberapa di antaranya dengan melakukan transisi energi, dari bahan bakar fosil menuju alternatif energi baru dan terbarukan, reforestasi lahan seluas 1 juta hektare hingga 2024, meningkatkan produktivitas lahan, investasi hijau, konservasi, dan menyetop penerbitan izin usaha di kawasan lahan gambut serta area hutan. 

Tulisan ini tentu jauh dari kata sempurna. Namun demikian, saya berharap melalui tulisan ini bisa memantik kesadaran kita untuk mencintai hutan Indonesia dan melestarikannya demi bumi tercinta. Hutan merupakan semesta kecil yang memberikan ruh kehidupan. Sudah selayaknya kita berterima kasih dengan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Selamat hari Bumi!

Jumat, 16 April 2021

Investasi Jangka Panjang untuk Kulitmu dan Lestarikan Cantikmu melalui Kosmetika dan Skincare yang Aman, Sehat, Lagi Sustainable

Tahun 2019 silam, seorang selebgram mempromosikan skincare abal-abal di stories instagramnya. Skincare abal-abal tersebut tentunya tidak mendapatkan izin edar dari BPOM serta belum diketahui secara pasti seberapa berbahaya kandungan bahan-bahan kimiawi yang ada dalam produk tersebut. Harganya tergolong murah. Promosi dan testimoni meyakinkan dengan harga produk yang murah membuat konsumen yang tidak kritis menjadi mudah tergiur. Belum lagi jika konsumen tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai kandungan kimiawi yang berbahaya buat kulit. Konsumen yang tidak kritis dan cerdas gampang banget kena jebakan betmen. Harga murah, membuat glowing dalam waktu singkat, banyak testimoni, dan sebagainya. Ketahuilah ladies, it's a trap! Jangan sampai obsesi kulit glowing membuat kita sebagai konsumen terjebak pada skema penjualan kosmetik palsu atau abal-abal. 

Tahun 2020, seorang dokter dermathologi mengungkap 5 krim wajah yang berbahaya di kanal youtubenya. Produk-produk yang disebutkan tersebut ada yang mengandung hidroquinon, mercury, tidak memiliki izin edar BPOM, bahkan ada tidak dicantumkan tanggal kedaluwarsanya. Nah loh! Produk kecantikan bukan dilihat dari murah atau mahalnya, tetapi seperti apa ingredient atau komponen utama penyusun produk tersebut. Krim yang mengandung merkuri dan hidroquinon tidak diperbolehkan karena bisa merusak lapisan epidermis kulit. Efeknya adalah kulit menjadi iritasi, ruam-ruam, mudah gatal, rentan infeksi jamur, dan yang paling fatal kanker kulit.

So Scary! Bayangkan jika kulit kita jadi iritasi dan timbul ruam ketika memakai produk mengandung merkuri. Anyway, seberapa bahayanya merkuri ini? Dalam sebuah publikasi berjudul Investigation of Mercury Content in Cosmetic Products by Using Direct Mercury Analyzer yang ditulis oleh Ali A. Dahab, disebutkan bahwa Merkuri merupakan logam beracun dan dapat menyebabkan efek kesehatan yang serius termasuk kerusakan ginjal, depresi kecemasan dan neuropati perifer. Menurut jurnal yang diterbitkan WHO, kandungan merkuri pada krim pencerah kulit dapat menyebabkan ruam, kerusakan sel/jaringan kulit, serta kulit menjadi mudah terinfeksi bakteri dan jamur. 

Menjadi cantik dan memiliki kulit wajah mulus serta glowing tentunya menjadi impian banyak perempuan. Bahkan tidak hanya kaum hawa, sekarang para pria pun juga menjadi konsumen di industri ini. Jenis kulit dan warna kulit tiap orang pun berbeda. Ada jenis kulit berminyak, kering, sensitif, normal, dan kominasi. Warna kulit pun beragam dari putih, kuning langsat, sawo matang, hingga gelap. Namun, narasi-narasi iklan yang kebanyakan kita dengar dan lihat adalah perempuan cantik itu berkulit putih. Maka tak heran banyak perempuan berlomba-lomba untuk berkulit putih, meskipun tone warna kulit yang dimiliknya cenderung cokelat atau sawo matang, khas perempuan Asia Tenggara.

Saya jadi teringat seorang teman, sebut saya Mira (nama samaran). Mira ini sebenarnya manis. Banyak yang menyukainya lantaran sikapnya yang supel dan periang. Namun Mira ternyata memiliki insecurity terkait warna kulit wajahnya yang menurut dia cokelat gelap. Mulailah Mira berburu aneka produk perawatan kecantikan hingga kosmetika untuk membuat kulitnya lebih glowing. Sayangnya saat itu di tahun 2013 edukasi mengenai kecantikan dan bahaya skincare/kosmetika abal-abal tidak seperti sekarang ini. Berawal dari tawaran temannya, Mira tergiur dengan krim wajah yang ditawarkan temannya. Konon katanya krim tersebut mampu membuat kulitnya lebih glowing dalam waktu satu bulan. Alamak! Setelah dikonsumsi selama 2 minggu muncul bintik-bintik merah. Mira terkena iritasi dan kulitnya terasa gatal. Karena takut kenapa-napa akhirnya Mira memeriksakan kulitnya ke dokter umum di puskesmas. Oleh dokter di puskesmas Mira diminta berkonsultasi ke dokter spesialis kulit. Oleh dokter spesialis kulit Mira diberikan obat dan krim untuk menyembuhkan gatal-gatal di kulit mukanya dan tahukah gaes, uang yang digelontorkan Mira untuk berobat berkali-kali lipat lebih mahal daripada krim pemutih yang dia beli. Mira kapok. Semenjak itu Mira lebih berhati-hati ketika membeli produk kecantikan. Bukan kulit putih yang dibutuhkan, tetapi Mira lebih butuh kulit sehat dan bersih. Cantik itu bukan hasil instan, yang serbainstan tentu diragukan.

Tahukah kamu gaes, dalam kurun waktu 4 tahun (2016 hingga 2019), jumlah produk kecantikan (kosmetik) ilegal yang diamankan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BOM) sudah mencapai 249 miliar. Pada tahun 2018, angkanya naik signifikan menjadi 112 miliar rupiah. Adapun di tahun 2016 dan 2017, total produk kecantikan ilegal yang berhasil diamankan tercatat 78 miliar rupiah. 

Untuk sebuah produk kecantikan agar tercatat di BPOM harus memenuhi 4 jenis persyaratan terkait keamanan, kebermanfaatan, mutu, dan penandaan. Informasi pada label kemasan dan bahan-bahan juga dicantumkan secara lengkap dan tidak menyesatkan. Adapun persyaratan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1176/MENKES/VIII/2010 tentang notifikasi kosmetika. Selain itu ada juga Peraturan BPOM RI Tahun 2010 Tentang Kriteria dan Tatacara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Maka dari itu dalam satu kemasan skincare atau kosmetika wajib mencantumkan nama produk, kegunaan, cara penggunaan, komposisi, nama produsen, nomor batch (kode produksi), tanggal daluwarsa, serta nomor notifikasi. Masih menurut BPOM, produk abal-abal  yang laris di marketplace yakni krim pemutih dan obat pelangsing badan. 

Memutihkan kulit dalam waktu cepat secara instan sangatlah mustahil, oleh karena itu penggunaan bahan-bahan kimiawi berbahaya dan logam berat digunakan untuk meluruhkan lapisan kulit paling luar (epidermis) oleh para produsen gelap. Alih-alih membuat kulit glowing, produk kecantikan ilegal dan abal-abal ini bisa membuat kulit kita menjadi rusak. 

4 Langkah cerdas dalam sebelum membeli  produk kecantikan termasuk kosmetika, yuk cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa). Setidaknya cek KLIK merupakan panduan kita agar tidak terjebak pada krim-krim abal-abal/ilegal. Produk berikut sebenarnya belum masuk kategori ramah lingkungan karena masih berbahan plastik. Saya menggunakannya sebagai contoh karena produk tersebut sudah memiliki izin edar dari BPOM. Sebagai konsumen cerdas kita bisa menyortir limbah plastik kemasan produk agar bisa didaur ulang dengan cara mengirimnya ke bank sampah atau perusahaan berbasis waste management (ini salah satu cara mengurangi sampah plastik menuju zero waste). Produk kecantikan yang sudah memiliki izin edar dan tersertifikasi BPOM dinilai lebih aman dibandingkan produk abal-abal yang berkeliaran bebas di pasaran. 
Saya pikir, kita harus membenahi pola pikir kita tentang makna cantik. Sedari kecil kita dijejali makna cantik dengan definisi-definisi seperti berkulit putih. Media periklanan dan marketing di berbagai lini media mendefinisikan cantik sedemikian rupa. Maka jangan heran, jika ada perempuan merasa kurang nyaman dengan kulit gelap atau sawo matangnya dan ingin mengubahnya menjadi putih dengan berbagai cara, mulai dari mengonsumsi krim pemutih/pencerah hingga operasi plastik. Nah, di sinilah peran kita dalam hal meredefinisikan makna cantik. Cantik tidak identik dengan kulit putih ya, yang terpenting adalah bagaimana menjaga kulit agar tetap sehat, bersih, nan terawat.

Memilih produk kecantikan yang tepat, aman, dan menyehatkan merupakan investasi jangka panjang untuk kulit kita. Saya juga mendapat knowledge baru setelah mengikuti Blogger Gathering #LestarikanCantikmu yang diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan yang menghadirkan 3 narasumber kece. Mereka adalah Danang Wisnu Wardhana (Skincare Content Creator), Christine pan (Segara Naturals), dan Gita Syaharani (Kepala Sekretariat LTKL). Tidak hanya produk kecantikan yang aman dan sehat saja gaes, tetapi juga berkelanjutan, ramah lingkungan, dan ramah sosial (sustainable beauty). 
Definisi sustainable (berkelanjutan) di sini yakni mendukung visi ekonomi lestari atau ekonomi berkelanjutan. Indonesia kaya akan komoditas yang mendukung ekonomi lestari, komoditas yang saya maksud diantaranya kopi, teh, rempah, minyak tengkawang, dan masih banyak lagi. Konsep ekonomi lestari/berkelanjutan menjadi salah satu inovasi bagi daerah guna menciptakan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat setempat serta iklim investasi yang berkualitas. Nah, aneka komoditas yang saya sebutkan tadi bisa lho diolah menjadi produk-produk industri kecantikan, kopi misalnya bisa dijadikan bahan body scrub.

"Aku itu memakai skincare harus dengan tenang, dengan damai, dan dengan bahagia. Kalau bahan-bahan yang aku akai udah bikin aku senang, menggunakan bahan-bahan yang baik, dan prosesnya baik, bekerjasama dengan petani lokal, itu bagi aku kayak jadi nilai tambah. Produk-produk tersebut bebas dari bahan-bahan negatif, bahan-bahan yang berbahaya, atau apa otomatis hasilnya di kulit kita lebih oke daripada memakai produk dengan bahan-bahan yang tidak sesuai dengan standar kesehatan." Papar Danang Wisnu dalam online gathering tersebut.

Danang Wisnu menjelaskan kalau dirinya sudah merasa bahagia dan cocok dengan bahan-bahan suatu produk kecantikan, maka hasilnya akan berdampak signifikan di kulit. Untuk bahan yang aman atau tidak, cara mengeceknya bisa dilihat dari apakah produk tersebut sudah tersertifikasi dan mengantongi izin edar dari BPOM. Untuk lebih mudahnya bisa cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa).

Produk kecantikan yang sudah lolos BPOM insya allah sebenarnya sudah aman, ungkas Danang. Sekarang ini sudah banyak yang aware mengenai produk perawatan kecantikan yang ramah lingkungan dibandingkan satu dekade silam. Sustainable beauty bahkan menjadi tren lho. Saat ini sudah banyak produsen lokal yang berinovasi menciptakan produk go green. 

Gita Syaharani, Kepala Sekretariat LTKL mengungkapkan berdasarkan data hasil riset LTKL serta mitra di 3 negara (Korea Selatan, Jepang, dan China) menilai bahwa orang-orang rentang usia 18 hingga 30 tahun sudah mulai sadar tentang polusi. Mereka juga mempertimbangkan bahan-bahan utama suatu produk kecantikan. Oleh karena itu, di Asia proses pengemasan produk hingga sampai kepada konsumen menjadi hal krusial. Berikut hasil olahriset LTKL mengenai pertimbangan konsumen ketika memilih suatu kecantikan. Tuh kan indikator "bahan dalam produk" memiliki persentase paling tinggi (91,5%), diikuti harga (75,7%), dan kualitas produk tersebut (73,9%).
Sustainable product itu seperti apa sih? Gita Syaharani menuturkan bahwasanya suatu produk dikatakan ramah sosial dan lingkungan jika memenuhi Natura Standardization. Setidaknya ada 3 kriteria dalam Sandar Natura, ketiganya mencangkup: menjaga fungsi alam tanpa bencana, petani/pekebun sejahtera, terakhir terkait bagaimana penanganan limbah produksi dan energi.

Salah satu produsen produk kecantikan yang pabriknya terletak di Cikarang sudah mulai aware terhadap isu lingkungan. Agar limbah yang dihasilkan tidak menjadi bencana di kemudian hari, pabrik tersebut mengolah limbahnya sedemikian rupa sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar. Limbah lumpur yang dihasilkan diolah kembali menjadi bahan yang langsung bisa dimanfaatkan yakni dengan mengubahnya menjadi bahan siap pakai yang kemudian dikirim ke pabrik semen sebagai bahan bakar. Untuk mengurangi sampah agar tidak menumpuk di tanah, pabrik tersebut mengubah sampah dengan cara kompos dan recycle. Demikian pula kardus bekas, limbah kardus yang mencapai 30-50 ton dalam satu bulan bisa digunakan berkali-kali karena kardus tersebut berjenis returnable packaging box. Dengan hal itu perusahaan dapat menekan meningkatnya limbah kardus. 

Gita Syaharani menambahkan ada 6 cara agar kita memahami dan mendukung produk-produk sustainable beauty. Keenamnya bisa dilihat pada infografis berikut.
Saya beruntung menjadi salah satu orang yang mencoba 2 produk Segara Naturals. Segara Naturals, produk kecantikan satu ini memiliki concern terhadap organic dan natural skincare. Christine Pan, pendiri Segara Naturals memiliki keresahan yang cukup besar mengenai sampah-sampah yang bertebaran di laut dan darat. Dalam kurun waktu 2014 hingga 2015, kantor tempat Christine bekerja mengirimnya ke luar jawa seperti Papua dan Lombok. Mau di manapun Christine melakukan aktivitas traveling pasti menjumpai namanya sampah, dari botol shampoo hingga sendal jepit. Christine mengakui dulu suka membawa sabun atau shampo botolan ketika bertraveling, tetapi kadang kemasannya tidak rapat sehingga mudah tumpah. Dari situ Christine berpikir mmembuat produk kecantikan yang ramah lingkungan juga berbahan-bahan alami (mengutamakan komoditas lokal Indonesia). Produk Segara Natural termasuk palm oil free ya gaes, Segara Naturals menggunakan minyak nonsawit seperti minyak tengkawang, minyak kelapa, dan lain sebagainya.
Dua produk Segara Naturals: Solid Deodorant dan Travel Soap. Dokumentasi pribadi
Christine mengakui awalnya kesulitan ketika membuat produk yang free palm oil. Pernah suatu ketika mencari petani minyak tengkawang, keterbatasan bahan baku menjadi kendala. Hingga suatu ketika Christine mendapatkan pemasok minyak tengkawang yang dirasa cocok, dia segera kontak orang tersebut untuk diajak bekerjasama. 

Christine mengakui bahwa produknya belum sepenuhnya zero waste. Segara Naturals masih menggunakan kemasan berbahan aluminum (kaleng). Meskipun demikian, produk Segara Naturals ketika sudah habis bisa dipesan kembali, kalengnya jangan dibuang karena bisa digunakan kembali (di-refill) untuk produk sejenis. Menariknya, Christine berupaya agar produk Segara Naturals selain organik, alami, dan berbahan baku lokal, juga day to day operasional meminimalisasi penggunaan sampah plastik. Misalkan Christine memastikan karyawan yang bekerja di Segara Naturals menggunakan sedotan nonplastik. 

Saat ini produk-produk Segara Natural sedang dalam proses untuk mendapatkan sertifikasi dari BPOM. Semoga disegerakan ya Kak Christine mendapatkan sertifikasi tersebut!

Mari kita dukung produk-produk kecantikan lokal yang pro sustainability. Memilih produk yang berbahan natural, organik, lagi aman adalah bentuk investasi jangka panjang untuk kulit sehat kita. Lestarikan cantikmu melalui skincare dan kosmetika yang ramah lingkungan dan sosial. Bagikan ceritamu supaya banyak orang semakin tahu. Yuks!

Minggu, 14 Maret 2021

15 Jam Terbaik Segari.Id : Menjaga Kualitas dan Kesegaran Sayur dan Buah dari Petani hingga ke Rumah


Kamu pernah mengalami episode saat kang sayur yang biasa lewat depan rumah atau kosan menghilang tiada kabar? Ditunggu-tunggu kok gak ada suara manggil-manggil. "Mbak Arinta, ini ada sayur sop dan sayur asem, ada juga ikan pindang dan jamur tiram." Biasanya sih gitu, manggil-manggil dari luar kosan sambil ketok-ketok pintu. Tapi ini ditunggu-tunggu berhari-hari lho kang sayurnya gak nongol-nongol. Apa kabarnya kang sayur? Kamu pernah mau belanja bawang dan kentang ke minimarket dekat rumah, eh ternyata stok habis? Kamu pernah mau beli lauk ke warung seberang jalan ternyata tutup, penjualnya bilang, seminggu ini gak jualan dulu ya, Dek. Saya pernah mengalami masa-masa sulit mencari sayur dan buah ke kang sayur. usut punya usut kang sayurnya lagi mantu dan sibuk ngurus persiapan nikah anaknya. Akhirnya saya gak belanja sayur-mayur selama hampir satu minggu. Saya juga pernah mendapati stok produk tertentu yang ingin saya beli di minimarket dekat rumah ternyata sedang kosong, padahal list belanjaan udah well prepared, terpaksa deh saya muter ke pasar. Saya pernah lagi laper-lapernya nih, Aa Burjo gang sebelah gak buka-buka, semburan abu Kelud membuat warung burjo langganan saya terpaksa menutup warung sampai kondisi memungkinkan untuk jualan lagi. Saya pernah merasakan warung yang menjual aneka lauk dekat kosan tutup karena pandemi. "anak-anak (mahasiswa) banyak yang pulang ke kampung, Dek. Warung ibuk sepi. Sementara tutup dulu ya," kata si ibu warung. Huft. Pokoknya gak enak banget pas kita ingin masak sayur apa atau beli lauk matengan, eh gak bisa dengan berbagai alasan. Lapar iya. Kesal juga. Campur aduklah.

Kalau kasusnya udah kayak gitu anak kosan seperti saya bisa apa? Huft, *Menangis di pojokan.* Mungkin bukan hanya anak kosan, tetapi ibu rumah tangga, pekerja kantoran, para perantau dari luar kota juga merasakan hal yang sama. Solusinya cuma satu, nyetok mie instan sebanyak-banyaknya. Ya, tapi, ada tapinya sih. Kebanyakan makan mie instan kan juga gak baik baik buat kesehatan, tul gak? 

Sehari makan 3 mie instan dikali 5 hari misalnya. Suwer bosan dan gak enak banget gaes! Pengalaman ini saya rasakan dua kali. Pertama pas abu vulkanik Gunung Kelud menyiram Yogyakarta. Saya benar-benar kesulitan mencari bahan segar (sayur, buah, ikan, daging) serta lauk-pauk yang sudah matang. Bagaimana tidak lha wong pandangan sepanjang mata menatap seperti berkabut. Kabut abu ya dan gak baik buat kesehatan. Semua orang mengenakan masker jika ingin bepergian. Gara-gara abu Kelud ini, 136 penerbangan dari Bandara Adisucipto dibatalkan hingga batas waktu yang telah ditentukan. Sekolah dan kampus juga diliburkan, para pelajar belajar di rumah. Banyak warung makan dan kedai sayur/buah tak jualan. Perantauan kayak saya ini nih yang ketimpa apes. Pengen nyetok sayur dan buah tapi sadar diri gak punya kulkas. Mie instan menjadi solusi alternatif pemadam kelaparan. Hiks.

Kali kedua saya mengalami kesulitan mencari bahan-bahan segar adalah di tahun 2020 kemaren. Bahkan ada beberapa komoditas seperti cabai dan bawang putih yang harganya naik beberapa kali lipat dari harga biasanya. Udah gitu stoknya terbatas pula. Ibu warung dekat kosan tempat saya biasa saya ngutang membeli lauk dan sayur matang juga gak jualan. Kedai sayur yang jaraknya 700 meter dari kosan juga tutup. Kang sayur gak lewat-lewat. Lagi-lagi solusinya ya nyetok mie instan.

Eh, ternyata kesulitan kayak gini gak hanya dialami saya saja lho. Kenalan saya, Sheylla yang bekerja di suatu instansi di Jakarta juga terkena dampaknya. Sheylla seorang pekerja kantoran sekaligus ibu rumah tangga. Selama diterapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan WFH (Work From Home), Sheylla harus memutar otak gimana caranya bisa memasak dan menyediakan bahan-bahan segar buat keluarganya. Sheylla bercerita ke saya kalau dia pernah kehabisan stok bahan makanan segar di supermarket langganan tempat dia belanja. Semua sudah diborong habis orang lain. Ikan, daging, sayur, dan buah ludes. Demikian pula mie instan dan makanan kemasan stoknya semakin menipis. Sheylla akhirnya memutuskan belanja makanan kemasan yang tersisa di supermarket tersebut. Mana antrian di kasir panjang mengular pula.

Adi, teman sekampus saya yang kini bekerja di Semarang juga mengalami nasib yang sama. Semenjak bekerja dari rumah, Adi membiasakan diri untuk beradaptasi dengan segala hal, termasuk dalam aktivitas berbelanja dan memasak. "Demi menghemat pengeluaran, Rin," gitu katanya. Bisanya di kantor Adi tak perlu repot mencari makan, karena menu makanan disediakan oleh katering kantor. Pun jika bosan Adi bisa keluar mencari tempat makan yang lokasinya dekat dengan kantor. Semenjak kantornya membuat kebijakan bekerja dari rumah demi menghindari penularan virus Covid-19, Adi tak lagi mendapat jatah snack dan makan siang dari kantor. Adi menjadi anak kosan lagi, keseharian di depan laptop mulu, keluar kalau sudah lapar. "Tapi Rin, kadang beli makanan susah di masa pandemi kayak gini. Beli ayam geprek, cabe lagi mahal, eh harga ayam gepreknya naik ternyata." Kenang Adi. Inginnya sih nyiapin food preparation for a week gitu biar praktis dan hemat. Sayangnya tempat tinggal Adi gak ada kedai sayur. Setiap weekend Adi meluangkan waktu berbelanja ke pasar atau supermarket buat stok makanan selama seminggu. "Aku kalau makan greprekan terus ya bangkrut, Rin. Kasian juga perutku hahaha."

Saya sendiri? Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terkena dampak abu vulkanik Kelud dan awal pandemi Covid-19 sehingga terjadi kelangkaan aneka bahan makanan segar, saya menyetok mie instan dan makanan kemasan lain yang tentunya lebih tahan lama. Nyetok sayur, buah, daging, bumbu-bumbu untuk beberapa hari seperti yang dilakukan Adi dan Sheylla ya jelas gak mungkin. Saya gak punya kulkas. Sayur, buah, daging, dan bumbu-bumbu memiliki jangka waktu hingga kesegarannya kian menyusut. Maka, dari itu untuk menjaga kondisi selalu fresh, dibutuhkan lemari pendingin. Apalagi bahan-bahan tersebut tidak dikonsumsi hari itu juga, kesegarannya jelas kian berkurang.

Semenjak pandemi Covid-19 ide-ide kreatif bermunculan. Petani dan pedagang menjual kebutuhan sayur dan buah segar secara daring ke konsumennya. Jemput bola, gitu istilah mereka. Selain menyediakan bahan segar yang bisa diambil langsung di tempat, petani dan pedagang beralih ke kanal digital. 

Adaptasi kebiasaan baru, pandemi covid-19 mengubah banyak aspek kehidupan. Pandemi membuat kita lebih banyak beraktivitas di dalam rumah demi menghindari penularan virus covid-19. Perubahan perilaku ini bisa dilihat dari kebiasaan berbelanja. Transaksi pembelian makanan siap dikonsumi dan aneka bahan segar dilakukan secara digital. Kesehatan menjadi isu utama. Orang-orang menyadari arti pentingnya menjaga kesehatan dan cenderung membeli sayur dan buah yang kaya akan nutrisi supaya daya tahan tubuh tetap terjaga. 

Hasil survei sosial demografi dampak covid-19 tahun 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statitsik (BPS) menunjukkan 9 dari 10 responden memilih berbelanja secara digital daripada ke supermarket atau traditional market. Selain itu, belanja kebutuhan sayur dan buah secara digital mengalami peningkatan sebesar 20% selama pandemi. Nah, dari 10 jenis bahan makanan dalam infografis Lokadata berikut ini, yang mengalami lonjakan adalah sayuran segar, permintaannya meningkat 20 kali lipat dibandingkan masa-masa sebelum pandemi.

Dari 20.000 unit sayuran segar yang terjual di lapak digital sebelum pandemi, meningkat permintaannya menjadi 400.000 unit di saat pandemi berlangsung. Penjualan bahan makanan sehat nan segar seperti sayuran secara daring mengalahkan konsumsi akan camilan instan dan aneka produk bergula seperti biskuit dan kue-kue kering. Data lengkapnya bisa dilihat pada infografis di atas.

Ngomongin soal sayur dan buah segar nih, kita bisa banget lho beli secara daring di SEGARI.ID. Wah apa lagi tuh. Segari.id merupakan platform marketplace yang menjual aneka buah dan sayur yang tentunya dijamin kesegarannya. Bagi kamu yang berdomisili di kawasan Jakarta, Tangerang Selatan dan Tangerang kota, bisa banget belanja kebutuhanmu di segari.id. Kesegaran dijamin 15 jam dari petani hingga ke rumah kamu. Asik gak tuh! Kamu gak perlu keluar rumah, tinggal tap-tap smartphone, beres deh. Hemat waktu dan tenaga gak tuh!

Oh ya, seluruh produk di Segari dijamin kualitas dan kesegarannya baik diambil dari sumbernya langsung (petani) hingga proses pengepakan. Pastinya grade A lho!

Jaminan 15 jam kesegaran dari petani hingga ke rumah bukan kaleng-kaleng. Jika kamu beli sayur dan buah di Segari, ternyata ada sayur yang keliatan layu dan kamu bisa banget lho menghubungi CS Segari di 08170192000 untuk menukarnya dengan produk sejenis dengan kesegaran yang lebih baik. 

Caranya gimana Arinta? Lakukan 3 langkah berikut ya. Pertama, Kamu foto produk tersebut. Kemudian bukti foto dikirimkan via whatsapp ke nomor 08170192000. Tunggu beberapa saat, nantinya pihak Segari akan menggantikan produk tersebut. Pun jikalau ternyata produk tersebut habis persediaannya, Segari akan menggantinya dengan voucher belanja sesuai harga barang yang kelak bisa kita gunakan untuk pembelian di kemudian hari. 

Dari petani, proses penyortiran, pengepakan, hingga pengiriman barang dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan. Segari memastikan para pekerja yang terlibat di dalamnya selalu mengenakan masker, mencuci cuci tangan, dan jaga jarak aman saat bertemu dengan mitra, pelanggan, dan sebagainya. Tempat penyimpanan pun dijaga supaya sirkulasinya bekerja baik. 

Dengan belanja di Segari, kita bisa membantu menambah pundi-pundi rejeki untuk para petani dan jasa kurir yang mengantarkan produk sayur dan buah segar hingga sampai ke rumah. Rejeki itu mengalir kepada petani seperti Mang Ade Lukmana misalnya. Bersama Segari, Mang Ade berkomitmen menjaga kesegaran produksi sayurannya hingga tiba di tangan konsumen. 

"Hai teman Segar, perkenalkan saya Ade Lukmana. Saya dulu sempat jatuh ke dunia hitam. Saya dulunya pecandu. Alhamdulilah, setelah saya banyak belajar di pusat rehabilitasi narkoba, saya menjadi personal addiction selama 8 tahun. Hingga tahun 2013 saya memutuskan menjadi petani. Akhirnya di tahun 2020, Tuhan memberikan jalan untuk pemasaran kita. Saya dikenalkan sama Segari untuk pemsaran online. Alhamdulilah hasil-hasil pertanian di saya dan mitra-mitra saya terserap dengan harga yang lebih layak." Cerita Mang Ade kepada tim Segari.

Mang Ade lahir dari orangtua yang memang bekerja sebagai petani. Sehari-hari orangtua Mang Ade bekerja di ladang. Memori masa silam ini yang membuat Mang Ade memutuskan bertani. Mang Ade menuturkan bahwa awal-awal menjadi petani kondisinya sangat terpuruk. Saat itu di tahun 2013, Mang Ade menjadi petani baru dan kondisi ini dimanfaatkan oleh tengkulak dan karyawannya sendiri. Hal ini disebabkan karena pengetahuan Mang Ade mengenai bidang pertanian masihlah dangkal. Mang Ade saat itu juga kurang memahami pemasaran. Melalui Segari, besar harapan Mang Ade untuk meluaskan produksi dan pemasaran hasil-hasil pertaniannya agar dikenal dan dikonsumi masyarakat luas. 

Segari menjadikan para petani sebagai mitra. Segari memastikan kualitas panen dari petani hingga ke tempat penyimpanan. Segari berkomitmen menjaga kesegaran sayur dan buah dari panen hingga ke rumah.

Jika kamu cek media sosial Segari (Misal instagram @segari.id), kamu bakalan tahu informasi terbaru mengenai apa saja yang ditawarkan marketplace sayur online ini. Termasuk juga promo atau diskon menarik di setiap periodenya. 

Apakah yang dijual di Segari cuma sayur dan buah segar, Arinta? Ya enggak dong. Segari menjual aneka kebutuhan makanan gak hanya sayur dan buah, tetapi juga daging, ikan, jamur, tahu, tempe, bumu, rempah, dan masih banyak lagi. Ngomongin soal daging, kok jadi pengen masak daging. Eittttttts tunggu dulu, selama 2 hari hingga tanggal 16 Maret, Segari memberikan diskon 25% untuk Daging shortplate dan daging sukiyaki. Gak hanya daging, diskon 25% tersebut juga termasuk untuk pembelian aneka topokki instan, ramyeon, selada hijau keriting, aneka ubi, dan masih banyak lagi. Para emak senang banget pastinya kalau ngomongin perdiskonan hahaha. Makanya pantengin semua media sosial Segari. Cus mampir ke instagram @segari.id!

Dengan belanja sayur, buah, daging, dan apapun itu di Segari minimal Rp 50.000, saya dapat free ongkir, Buibu. Mayan buat yang belanja harian dalam jumlah banyak, yey siapa tahu kan ngadain acara gitu. Mumpung free ongkir nih, belanja kebutuhan buat seminggu (food preparation for e week) juga pastinya lebih hemat. Kamu yang jualan makanan bisa banget nih beli kebutuhan sayur, daging, dan bumbu di Segari. Memanfaatkan masa free ongkir hehehe.

Sebelum saya berbelanja di Segari, saya tanya-tanya dong sama CS dan juga admin instagram, apakah jika saya memesan sayur dan dikirim kota Tangerang bisa? Awalnya setahu saya Segari melayani Jakarta dan Tangerang Selatan. Kata admin instagram Segari @segari.id, bisa kok dikirim ke Kota Tangerang. Fyuhhhhhhh lega. Saya cukup cerewet kalau soal belanja-belanja, saya bertanya tentang diskon, tentang apakah pemesanan produk pada weekend masih bisa dilayani, tentang garansi, dan masih banyak lagi. Setelah puas dengan jawaban-jawaban, akhirnya saya melakukan pemesanan pada Sabtu, 27 Februari 2021. Sayur pesanan saya akan diantar pada hari Minggu, 28 Februari 2021.

Segari melayani pemesanan setiap harinya. Layanan operasional berlaku dari pagi hingga pukul 5 sore. Adapun waktu pengantaran pesanan berlaku mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB (pagi hari). Jika saya pesan sayur hari ini sebelum pukul 5 sore, maka sayur akan diantarkan keesokan paginya. Jika saya memesan daging lebih dari jam 5 sore, maka daging pesanan saya akan diantar lusa. Usahakan jika ingin melakukan pemesanan untuk besok pagi jangan lebih dari jam 5 sore atau barang pesanan akan diantarkan lusa. Pemesanan dilakukan jauh-jauh hari, tidak bisa mendadak untuk beberapa jam ke depan. 

Saya melakukan pemesanan atas nama Arinta Setia Sari dengan order ID 445164357 yang kemudian terkonfirmasi di CS Segari di nomor 08170192000. 
Pengalaman Saya belanja sayur di segari.id

Saya pesan sayur pada hari sabtu, minggu pagi udah diantar dong sama kang kurir, nama beliau Pak Ikrom. Pak Ikrom ternyata asli Tangerang.

"Assalamulaikum, ini pesanan dari Segarinya buat Mbak Arinta." Kata Pak Ikrom.

"Makasih banyak ya Pak." Jawab saya. 
Pak Ikrom, Kurir Segari.id. Dokumentasi pribadi
Aneka bahan makanan termasuk sayur yang saya beli di Segari.id,

1. Bawang Merah Brebes Segari 250 gram (harga Rp 5.000)
2. Bawang Putih Segari 250 gram (Harga Rp 5.000)
3. Cabai Rawit Merah 2 x 250 gram (harga Rp 59.000)
4. Daun bawang 150 gram (harga Rp 5.000)
5. Jamur Enoki 100 gram (harga Rp 10.000)
6. Kentang Lembang Siomay 1 kilogram (harga Rp 15.000)

Cabai lagi mahal Buibu, makanya saya beli 500 gram saja. Saya beli kentang cukup 1 kg, rencananya saya akan bikin sop dan perkedel kentang. 
Paketan sayuran saya sudah sampai. Hasek! Dokumentasi pribadi
Cabai rawit Segari, merah merona nan segar. Dokumentasi pribadi
Hapeku kentang, memorinya sudah penuh. Apakah untuk belanja di Segari harus donlot aplikasi? Tak perlu donlot aplikasi buat berbelanja di Segari. Kamu bisa mengakses laman Segari ketika aja segari.id di mesin pencari. Segari berdiri di bawah naungan PT. Sayur Segar Untuk Semua. Saya sendiri tahu mengenai Segari dari suatu grup yang saya ikuti. Salah satu moderator grup tersebut merekomendasikan berbelanja sayur segar di Segari. Cus saya kepo dong. Tapi sebelum itu, saya stalking dulu instagram Segari.

Ceritain dong bagaimana pengalaman Arinta berbelanja di Segari.id?

Awalnya saya pikir untuk berbelanja di Segari saya kudu donlot aplikasi. Alamak, aplikasi saya dah full, Mak. Kasian juga yang punya hape kentang kalau cuma mau belanja sayur online kudu donlot aplikasi segala. Nah, karena platform ini berbasis web, maka kita bisa memesan via smarphone atau laptop. Saya berselancar si Segari.Id via smartphone. Habisnya lebih simpel, praktis, dan enak. Web Segari tampilannya kayak aplikasi, udah user friendly gitu, manteman.

Eh, kadang kamu kalau login aplikasi suka pakai email gitu gak sih? Belanja di Segari tidak memerlukan login email. Cukup dirimu terhubung melalui nomor whatsapp dan web Segari. Segala perpesanan produk di Web Segari secara otomatis akan tersambung dengan nomor yang kamu daftarkan. Kamu bisa mengecek histori perpesanan melalui nomor tersebut. Cukup nomor whatsapp aja, tak perlu email, apalagi mengingat-ingat password hehehe.

Menurut saya ketika berbelanja di Segari, customer service-nya tanggap ketika saya menanyakan sesuatu. Saya pesan hari ini, sayur dan segala bahan buat memasak sudah diantarkan keseesokan harinya. Kondisi produk yang saya pesan segar dan masih bagus. Kentangnya sudah dibersihkan, tidak seperti kentang yang biasa saya beli di pasar, masih kotor dan terdapat serpihan tanah. Cabainya merah merona, aih jadi gak sabar bikin sambal. Bawang putih dan bawang merah dalam kondisi fresh. Demikian pula daun bawang dan jamur enoki. Gak ada satu pun produk rusak atau membusuk. Saya tak memiliki komplain. Sesuailah ya dengan komitmen Segari untuk menjaga kesegaran dan kualitas sayur serta buah dari petani (panen) hingga ke rumah.
Saya sempat cek harga rata-rata cabai rawit di DKI Jakarta yakni Rp 127.872/kg. Di Segari kita bisa berbelanja seperempat cabai dengan harga Rp 29.500, artinya satu kilo cabai rawit di Segari seharga Rp 118.000, lebih murah dari harga rata-rata cabai rawit DKI Jakarta. Adapun selisihnya yaitu Rp 9.872. Saya kasih contoh  perbandingan harga cabai rawit karena cabai rawit sendiri kini sedang melonjak harganya. Karena saya pecinta sambal, saya beli 500 gram cabai rawit buat stok seminggu. Saya gak bisa makan tanpa sambal, manteman!

Dari belanja sayur segar di Segari, saya akhirnya bisa masak sayur sop dan perkedel kentang. Tak lupa sambal pedasnya. By the way, kamu suka sambal atau makan makanan yang pedas-pedas gak?
Sayur sop, perkedel kentang, dan sambal bikinan saya. Dokumentasi pribadi
Empat tab menu yang ada di website Segari :

1. Tab menu "produk." Tab menu produk menampilkan semua produk Segari.id, mulai dari buah, sayuran, daging, makanan siap saji, hingga makanan pokok. Disitu juga tertera harga dan ukuran (misal Rp 7.000 untuk 250 gram/pack).

2. Tab menu "keranjang." Menu ini berisi data informasi pembeli (nama lengkap, nomor whatsapp, dan alamat pengiriman. Juga waktu pengantaran (07.00-10.00 WIB). Terakhir total harga dan produk-produk yang siap dicheck out dari keranjang belanja.

3. Tab menu "pesanan." Fungsinya untuk melacak histori perpesanan produk. Nanti kamu akan dimintai kode pin keamanan.

4. Tab menu "Bantuan." Berisi daftar pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ) dan juga nomor customer service di 0817-0192-000.

Nah untuk langkah-langkah pemesan produk-produk Segari yang diinginkan bisa dilihat pada infografis yang saya buat berikut ini,
Nah, metode pembayaran di Segari bisa dilakukan dengan 6 cara yakni bayar tunai (COD), transfer bank BCA, Gopay, OVO, Shoppee Pay, Credit Card. Kalau ada voucher promo silakan ditambahkan. Saya pilih metode pembayaran menggunakan transfer bank BCA. Setelah dibayar, lalukan konfirmasi pembayaran (misal dengan menyertakan struk/screenshoot bukti pembayaran) ke nomor 0817-0192-000 (customer service Segari) agar pesanan segara diproses untuk diantarkan keesokan harinya.

Untuk mengetahui dan melacak histori perpesanan, caranya gampang banget. Pada tab menu "Pesanan" masukkan nomor whatsapp kamu, nantinya kamu akan mendapat 6 angka kode pin keamanan. Langkah terakhir tinggal verifikasi aja deh. 
Saya punya beberapa masukan buat Segari :

1. Cakupan area layanannya diperluas, tidak hanya Jakarta dan Tangerang saja. Kalau bisa daerah-daerah lain seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan sebagainya. Saya beberapa kali menengok kolom komentar netizen yang mempertanyakan apakah Segari sudah ada di daerahnya.

2. Saya pernah punya pengalaman kesulitan mencari bahan makan segar (sayur dan buah terutama) saat semburan abu vulkanik Kelud di Yogyakarta. Warung-warung, kedai sayur, dan kang sayur gak jualan. Saya berharap jika wilayah yang dijangkau Segari terkena bencana, Segari masih bisa melakukan pengantaran sayur, buah dan segala produk yang dipesan pelanggan ke area terdampak bencana. Beberapa kawasan di DKI Jakarta juga rawan banjir, nah di sinilah dibutuhkan kesigapan dari tim Segari, termasuk kurir yang akan melakukan pengantaran barang. 

3. Menambah jumlah customer service jika jumlah pelanggan sudah puluhan ribu. Customer Service Segari sudah bagus, saya berharap lebih fast respon lagi ke depannya. Terima kasih sudah bersabar atas kecerewetan saya sebagai customer hehehe. 

Sampai jumpa di lain kesempatan. Belanja sayur dan buah berkualitas, Segari aja yuk. Kesegarannya dijamin 15 jam dari panen ke rumah.

Sabtu, 06 Maret 2021

#LestarikanCantikmu melalui Kopi Rempah Kalimantan Tengah : Potensi Komoditas Lokal untuk Kecantikan dan Kesehatan

Di Era Kekinian, Penting Memahami Produk Kecantikan dan Kesehatan Berkelanjutan lagi Ramah Sosial dan Lingkungan (Sustainable Beauty & Wellness)

Ribuan kilometer dari tempat saya berdiri, ribuan anak bekerja secara ilegal dengan bayang-bayang kematian mengintai di setiap detik mereka lengah. Ribuan anak tersebut berisiko tinggi mati lemas, tertimpa reruntuhan ketika terjadi longsor, dan terpapar penyakit pernapasan kronis akibat menghirup udara tambang yang sangat toksik. Ribuan anak tersebut bekerja tanpa jaminan keselamatan kerja yang memadai (K3) dengan upah sangat minim yang tidak setara dengan risiko yang dihadapi. Ya, anak-anak yang saya maksud bekerja di tambang mineral mika yang menjadi salah satu komponen atau bahan-bahan utama industri kecantikan dunia. Tambang-tambang mika tersebut membentang di sepanjang kawasan Jharkhand (India). Dibutuhkan waktu 25 jam 40 menit untuk terbang dari Bandara Achmad Yani ke Bandara Internasional Birsa Munda menuju Jharkhand, sebuah tempat di mana pekerja anak mulai rentang usia 8 tahun hingga 16 tahun bekerja di tambang-tambang mika ilegal.

Memulung mika memiliki risiko kematian yang tinggi, terlebih bagi anak-anak. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Hak Anak India (NCPCR) menyebutkan bahwa 4.545 anak di Jharkhand dan distrik tetangga tidak bersekolah karena cengkeraman kemiskinan, akibatnya anak-anak tersebut menjadi pekerja di sektor mika. Terre Des Hommes, organisasi hak anak internasional melaporkan pada tahun 2018 ada lebih dari 22.000 pekerja anak yang bergelut menggali dan memungut bongkahan-bongkahan mineral mika yang nantinya diolah menjadi bahan baku industri kecantikan. Investigasi Thomas Reuters Foundations (2016) mendapatkan fakta bahwasanya pekerja anak yang bekerja secara ilegal di sektor mika disembunyikan dan ditutup-tutupi keberadaannya oleh industri kecantikan sehingga secara kontinyu mampu menyuplai bahan baku meski nyawa menjadi taruhannya. Informasi ini sengaja disembunyikan agar tidak tercium oleh media, organisasi lingkungan hidup, aktivis hak anak, serta masyarakat global.

Mika merupakan sekelompok mineral silikat yang memberikan kesan mengkilap, berkilau, dan glowing jika diaplikasikan pada permukaan kulit manusia. Maka tak heran, 90% industri kecantikan dan kosmetika dunia menggunakan mineral mika ini sebagai bahan baku utama. India merupakan negara terbesar penyumbang mineral mika secara global diikuti China, Amerika Serikat, dan Eropa. Negara bagian Jharkhand memiliki simpanan mika terbesar di India. Sayangnya, kekayaan berupa mineral mika tersebut menjadi komoditas yang tidak ramah sosial, apalagi lingkungan. 

Hingga hari ini, kemiskinan, buta aksara, dan kesehatan yang buruk menjadi masalah pelik di kawasan Jharkhand. Ribuan pekerja anak yang bekerja di tambang-tambang ilegal menjadi cermin betapa buruknya perlindungan terhadap hak-hak anak di sana. Fenomena dan masalah sosial ini isunya masih terabaikan, meski media global menyorot tajam. Kritikan pedas dilontarkan media kepada sejumlah merek dan jenama (brand) kosmetika ternama dunia yang memasok bahan baku mineral mika dari India dengan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. 

Saat tekanan internasional menukik tajam pada perusahaan kosmetika dan perusahaan lain yang memasok mika dari Jharkhand, The Responsible Mica Initiative (RMI) yang bermarkas di Paris turun tangan.  Mulai tahun 2017, RMI melakukan berbagai inisiatif untuk pemulihan lingkungan kawasan, penghapusan kondisi kerja yang tidak dapat diterima dan terlalu berisiko, serta penghapusan pekerja anak di sektor penambangan mika. 

Tidak di India, bahkan negara manapun di dunia, termasuk Indonesia, pekerja anak menjadi masalah yang patut diperhatikan. Apalagi untuk pekerjaan yang terbilang tidak mudah dan memiliki risiko kematian tinggi seperti di lingkungan pertambangan. International Labour Organization (ILO) mendefinisikan child labour sebagai pekerjaan yang merampas hak anak-anak dari masa kecil, potensi dan martabat, serta berbahaya bagi fisik dan mental anak-anak. Karena bekerja di sektor yang berisiko tinggi seperti di pertambangan, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bahkan kecacatan/kehilangan anggota tubuh hingga kematian.
Bagaimana dengan isu pekerja anak di Indonesia? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pekerja anak mengalami peningkatan dalam kurun 3 tahun (2017-2019) dari 1,2 juta pekerja anak di tahun 2017 menjadi 1,6 juta pekerja anak di tahun 2019. Kemiskinan dan rendahnya pendidikan orangtua menjadi faktor-faktor yang memicu seorang anak memilih bekerja, alih-alih bersekolah. Pada usia berapa seorang anak diperbolehkan untuk bekerja? Menurut Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun. Pasal 68 UU No. 13 tahun 2003 menyebutkan bahwa pengusaha (pemberi kerja) dilarang mempekerjakan anak yang berumur di bawah 18 tahun. Berarti menurut peraturan perundangan, 18 tahun adalah usia minimum yang diperbolehkan untuk bekerja. Bekerja di sektor yang berisiko serta membahayakan jiwa dan raga tentunya dilarang oleh negara. 

Pekerja anak di bawah usia 18 tahun yang menjadi buruh di perkebunan sawit menjadi noktah di industri yang menyumbang devisa cukup besar bagi negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini. Dikutip dari The Coversation, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar dan terpenting di dunia dengan proyeksi 51,44 juta ton di tahun 2019. Namun, angka ini tidak diikuti oleh kesejahteraan petani kelapa sawit di Indonesia. Petani tidak sejahtera, anak-anak tak bersekolah dan memilih menjadi pekerja.

Anak-anak dipekerjakan sebagai pemungut brondol (biji dari tandan sawit) hingga pembantu perkebunan. Tugas mereka adalah memetik kelapa sawit, mengumpulkan brondol, dan beberapa membantu pengangkutan (sumber : The Conversation). 

Investigasi Associated Press (AP) menemukan bahwa anak-anak yang menjadi buruh kelapa sawit bekerja dengan jumlah jam kerja yang tinggi, risiko yang besar, dan kehilangan masa bersekolah. Ima, gadis berusia 10 tahun menjadi salah satu potret kecil pekerja anak di perkebunan kelapa sawit yang nantinya sawit-sawit tersebut diolah menjadi bahan baku untuk aneka industri. Terkadang Ima bekerja hingga 12 jam per hari, bersendal jepit, tanpa sarung tangan. Duri-duri tajam dari buah sawit kerapkali melukai bocah perempuan itu. Belum lagi risiko hewan seperti kalajengking yang bersembunyi di balik tandan, ular di balik semak, serta pupuk/pestisida kimiawi berbahaya. 

Sawit sang primadona, selain memiliki social issue, keberadaannya memiliki dampak bagi lingkungan. Alih hutan hutan dan lahan menjadi perkebunan sawit juga memicu konflik sosial dan lingkungan di masyarakat. Meski tak dapat dinafikan eksitensi sawit sangatlah dibutuhkan untuk berbagai industri. Sawit menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar dan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Namun demikian, potret kemiskinan dan ketimpangan ekonomi masih menjadi momok, membayangi provinsi yang kaya akan sawit. Dilematis memang.

Madani berkelanjutan memaparkan 4 dari 10 provinsi yang kaya akan sawit memiliki persentase penduduk miskin lebih tinggi dari rata-rata nasional Indonesia (7,38%). Adapun 7 dari 10 provinsi yang kaya akan sawit memiliki rata-rata konsumsi pangan lebih rendah dari rata-rata nasional. 
Anak-anak di bawah umur yang bekerja di perkebunan sawit patut mendapat perhatian kita semua. Seharusnya bukan anak-anak! Melainkan orang dewasa, minimal berusia 18 tahun seperti dalam peraturan perundangan yang boleh bekerja di ladang sawit. Pun, jikalau orangtua bekerja di sektor sawit, kesejahteraan mereka sebagai petani/pekerja juga harus diutamakan. Kendala ekonomi membuat anak-anak putus sekolah dan berganti haluan menjadi pekerja. Jika petani/pekerja sejahtera, besar harapan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Tata kelola yang baik pada industri sawit untuk para pekerjanya menjadi PR yang perlu dituntaskan.

Tulisan ini mengajak pembaca agar menjadi konsumen cerdas dan memiliki kesadaran memahami suatu produk yang akan dikonsumsi, apalagi terkait produk kesehatan dan kecantikan. Perhatikan label dan komposisi bahan-bahan yang akan digunakan sebelum dibeli merupakan salah satu ciri konsumen cerdas. Tulisan ini mencoba memberikan perspektif dibalik keinginan-keinginan untuk tampil cantik, terdapat anak-anak yang bekerja dengan penuh risiko mengumpulkan mineral mika dari perut bumi yang menjadi salah satu komoditas utama industri kecantikan. Mereka bertaruh nyawa. Saya pribadi berusaha menghindari produk-produk kecantikan yang dikeluarkan jenama kontroversial yang mempekerjakan anak di bawah umur di industri tambang mika ilegal di India. Kamu bisa cari sendiri nama-nama tersebut di google.

Selanjutnya, tulisan ini memberikan informasi kepada pembaca bahwasanya Indonesia memiliki komoditas unggulan berkelanjutan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah sosial untuk industri kecantikan dan kesehatan. Maka dari itu di paragraf-paragraf awal, tulisan ini tak hanya menyoroti aspek sosial, tetapi juga lingkungan.  Di era kekinian, saya tekankan sekali lagi, penting banget lho kita memahami produk kecantikan dan kesehatan yang berkelanjutan, lagi ramah sosial dan lingkungan. Istilahnya sustainable beauty and wellness. Fair trade, kita berharap industri yang menghasilkan suatu komoditas memberikan standar keamanan, keselamatan, kesejahteraan (sistem pengupahan) yang baik lagi adil bagi pekerjanya.

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengatakan konservasi, restorasi, dan pembangunan berkelanjutan tidak akan terjadi tanpa adanya peningkatan ekonomi. Pemilihan komoditas yang memiliki nilai jual lebih serta memberikan perlindungan bagi lingkungan sekitar adalah jawaban yang masuk akal. Semakin banyak komoditas yang memiliki kualitas unggul dan mampu selaras dengan pelestarian lingkungan, maka hal tersebut akan sejalan dengan Visi Ekonomi Lestari. Apa itu Visi Ekonomi Lestari. Mari kita simak video berikut.
Kopi dan rempah merupakan contoh komoditas hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai manfaat dan komersil bagi masyarakat. Bicara kopi dan rempah nih, saya mau bercerita tentang anak muda yang memiliki mimpi untuk memberdayakan masyarakat di desanya sebagai desa penghasil kopi tumbuk rempah. Dari desa untuk dunia, anak muda ini berharap kearifan ekonomi dan komoditas lokal yang dikreasikannya mampu menciptakan kebermanfaatan dan pundi-pundi rejeki bagi masyarakat di desanya dan juga orang lain. Kalau dipikir-pikir, benar juga anak muda itu, sudah selayaknya desa menjadi sentra ekonomi, produk atau komoditas yang dihasilkan mampu dikenal khalayak luas, dan memiliki keunikan.

#LestarikanCantikmu melalui Kopi Rempah Kalimantan Tengah : Potensi Komoditas Lokal untuk Kecantikan dan Kesehatan

Anak muda itu bernama Raya Sadianor. Saya bertemu dengan anak muda ini menjelang awal tahun 2020 di bandara Kalimantan Tengah. Kedatangan saya ke Kalimantan Tengah tak lain adalah menikmati wisata alam Taman Nasional Sebangau. Saya juga berkesempatan mengunjungi Desa Karuing yang terletak di Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan. Di Desa Karuing ini terdapat tempat pengolahan kopi rempah yang masih tradisional. Pengolahannya pun masih ditumbuk dengan lesung. Proses penyangraiannya masih mengggunakan kayu bakar. 
Memasuki Desa Karuing di Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
Sekitar 500 meter dari tempat kami menginap atau 10-20 menit berjalan kaki, di ujung Desa Karuing, kita akan berjumpa dengan tempat pengolahan kopi tersebut. Di sana kamu akan jumpai ibu-ibu dan bapak-bapak yang melakukan aktivitas seperti menumbuk dan menyangrai biji kopi. Gak salah lho, aktivitas ini dilakukan di tengah hutan.
Proses pembuatan kopi tumbuk rempah di Desa Karuing, sebuah desa di rimba
Kalimantan Tengah. Dokumentasi Raya Sadianor
"Kopi yang kami pakai adalah jenis kopi liberika. Kopi ini merupakan kopi khas hutan gambut. Tidak seperti kopi robusta atau atau arabika yang membutuhkan pengelolaan intensif. Kopi liberika mampu tumbuh di lingkungan yang tidak biasa, seperti lahan gambut. Makanya kopi ini lebih sering disebut kopi gambut." Raya menjelaskan.

"Untuk menghadirkan cita rasa kopi yang unik, kami menciptakan kopi tumbuk dengan tambahan rempah-rempah yang diambil dari hutan dan pekarangan sekitar. Kopi rempah ini menjadi minuman favorit masyarakat Dayak Katingan. Selain liberika, bahan campuran rempah-rempah berupa adas manis, kayu manis, ketumbar, kelapa, dan beras."
Kopi tumbuk rempah khas Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi.
Kopi tumbuk rempah khas Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
"Perpaduan kopi dan rempah memiliki cita rasa khas yang unik dan tidak dimiliki oleh orang lain. Indukuh Coffee adalah nama kopi kami. Kopi ini merupakan resep leluhur yang diwariskan turun-temurun dari tahun 1957 hingga sekarang. Kami berupaya mempertahankan cita rasa rempah ini."

Kenapa kopi rempah? Raya bertutur kepada saya bahwasanya resep kopi rempah tersebut mampu menjaga stamina dan daya tahan tubuh ketika beraktivitas di pekarangan dan hutan. Apalagi di musim pandemi seperti sekarang ini. Daya tahan tubuh  atau imunitas tetaplah perlu dijaga. Dalam bahasa Dayak, Indu artinya Ibu dan Kuh artinya aku. Kopi Indukuh berarti kopi ibuku.

Bahan-bahan pembuatan kopi rempah ini diambil dari pekarangan, hutan, dan juga pasar. Jika kekurangan suplai kopi, Raya akan memasok liberika dari Kabupaten Pulang Pisau. Dalam satu hari, produksi kopi tumbuk rempah bisa mencapai 10 kg hingga 25 kg. Indukuh Coffe sudah memiliki izin usaha P-IRT sehingga produknya sudah layak dipasarkan keluar dari desa. 

"Proses pembuatannya seperti apa? Pertama-tama bahan-bahan yang terdiri dari kopi, adas manis, kayu manis, kelapa, ketumbar, dan beras dipilah, dibersihkan jika ada kotoran yang menempel, kemudian ditimbang. Setelah dibersihkan, bahan-bahan tersebut disangrai menggunakan kayu bakar. Lamanya penyangraian bisa memakan waktu 2 hingga 3 jam. Setelah sangrai selesai, langkah selanjutnya adalah penumbukan menggunakan lesung. Setelah ditumbuk manual, proses berikutnya adalah pengayakan hingga didapat butiran kopi rempah yang halus. Bubuk yang masih kasar akan ditumbuk dan diayak kembali. Langkah terakhir adalah pengemasan." Ujar Raya menjelaskan dengan detail proses pembuatan kopi rempah.

Saya seduh kopi rempah tersebut dengan air panas dan ditambahi sedikit gula. Pertama kali merasakan, taste-nya sungguh unik. Asap mengepul, aroma rempah menguar tajam. Yang paling dominan adalah aroma kayu manis. Karena terdapat kelapa, jadi rasanya sedikit gurih. Baik rasa maupun aroma mirip-mirip kayak jamu. Ini jamu aroma kopi atau kopi aroma jamu. Cukup sulit untuk dijelaskan. Tapi saya suka. Mantap jiwa! Pokoknya cobain sendiri gih!
Enak diminum selagi hangat. Dokumentasi pribadi.
"Saya mempunyai keinginan besar untuk mengangkat produk-produk lokal agar lebih dikenal dunia. Dengan jargon "bara desa akan dunia" artinya "dari desa untuk dunia." Saya ingin banyak orang mengenal komoditas lokal berupa kopi dan rempah dari hutan Kalimantan Tengah. Apalagi kopi dikenal sebagai komoditas yang bermanfaat secara luas di dunia kesehatan dan kecantikan." Papar Raya saat saya bertanya mimpi besarnya terkait kopi dan rempah. 

"Ikeu baupaya memanfaatkan potensi je tege, baik bawak kopi liberika maupun rarampah." jika diterjemahkan kira-kira artinya begini, "kami berupaya memanfaatkan potensi yang ada, baik dari kopi liberikanya sendiri maupun rempah-rempah."

"Saya melihat sebagian yang bekerja ibu-ibu. Produktif sekali ya ibu-ibu di sini." 

Milenial yang kini genap berusia 28 tahun tersebut menjawab, "usaha kopi tumbuk rempah tradisional memberdayakan masyarakat sekitar dalam pengolahannya. Ada ibu-ibu. Ada juga bapak-bapak. Dengan memberdayakan masyarakat sini, besar harapan saya menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi ketergantungan terhadap hutan atau alam."

Raya bertutur bahwa ada sepasang suami-istri yang terlibat dalam proses produksi kopi rempah. Pasutri dimaksud adalah Pak Yanto bersama istrinya. Bekerja di tempat pembuatan kopi memberikan pemasukan bagi pasangan tersebut. Asap dapur masih mengepul, Pak yanto bersama istrinya mampu memenuhi kebutuhan harian dan membiayai sekolah anaknya yang bernama Yayang.

Liberika murni (tanpa campuran rempah) memiliki taste yang sedikit asam, tapi asamnya tidak sekentara dan sekuat arabika, apalagi robusta. Ada sensasi fruity dengan aroma khas seperti pohon nangka. Kabupaten Pulang Pisau menjadi salah satu sentra penghasil kopi liberika di Kalimantan Tengah. Beberapa desa di kabupaten ini masuk dalam kawasan restorasi gambut. 

Lantaran kemampuannya yang sangat adaptif terhadap tanah atau lahan gambut, kopi jenis liberika dapat tumbuh di lahan gambut mana saja tanpa perlu holtikultura intensif. Tidak seperti saudaranya si arabika dan robusta yang perlu perhatian dan perawatan khusus. Liberika bisa tumbuh dengan baik di pekarangan rumah tanpa dipupuk sekalipun. Jenis kopi yang berasal dari Afrika Barat ini pertama kali didatangkan ke nusantara pada tahun 1875. Produktivitas buahnya lebih tinggi daripada kopi robusta. Potensi produksi rata-rata 1,2 kg biji kopi/pohon. 

"Gini Mbak, enggak semua orang butuh kopi, tetapi semua orang butuh sehat, kan? Kopi liberika tumbuk dengan kandungan rempah-rempah hadir sebagai minuman kesehatan yang menemani beraktivitas dan menghilangkan penat." Ujar pemuda yang menjadi mitra kolaborator di acara Festival Orangutan Borneo pada Sustainable Local Product Display November 2020 silam.
Kopi rempah dari bumi Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
Selain mengonsumsi kopi rempah sebagai minuman kesehatan. Saya memanfaatkan kopi rempah tersebut sebagai body scrubbing atau lulur badan. Untuk masker wajah juga bagus kok. Apalagi terdapat kayu manis, adas manis, ketumbar, dan rempah alami lainnya. Kayu manis memiliki kandungan polifenol tinggi yang bermanfaat sebagai antioksidan penangkal radikal bebas. Polifenol juga bekerja untuk melindungi wajah dari sinar UV dan polusi udara. Baunya juga sangat segar bukan? Adapun adas manis bermanfaat melembahkan dan menghaluskan kulit. Kandungan vitamin C pada adas manis membantu mencerahkan kulit wajah. Pernah dengar detoks ketumbar? Bubuk halus ketumbar ditambah garam dan air hangat membuat kulit menjadi lebih segar. 

Di dunia kecantikan, kopi sendiri dikenal sebagai exfoliator yang bagus untuk mengangkat sel kulit mati, membantu proses pengelupasan kulit, daki, dan kotoran berlebih yang menempel di kulit, menyamarkan noda hitam, mengatasi jerawat, mengurangi komedo dan mata panda. Masker kopi bermanfaat untuk menyamarkan garis-garis halus pada wajah (anti-aging). Kandungan kafein dalam kopi membantu mengurangi selulit pada kulit. Kopi mengandung asam  klorogenat yang memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri.
Body scrub dari kopi rempah Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
Skincare lokal yang ramah lingkungan. Dokumentasi pribadi
Kita bisa membuat DIY (Do It Yourself) skincare dengan kopi rempah. Caranya gampang banget. Siapkan 2 sendok makan kopi rempah. Tambahkan air sari mawar atau essential oil (pilih salah satu saja sesuai selera) secukupnya. Aduk bahan-bahan tersebut. Setelah tercampur rata, balurkan ramuan tersebut di tangan atau kaki. Pijat perlahan-lahan dengan lembut. Tunggu hingga 5 menit supaya kopi rempahnya meresap ke dalam kulit. Setelah agak kering, cuci dengan air, gosok permukaan kulit secara merata supaya scrubnya mengangkat lapisan kulit mati dan kotoran. Gunakan scrub kopi rempah 2 hingga 3 kali dalam seminggu untuk hasil maksimal.

Setelah kering kulit saya beraroma seperti jamu pemirsah hahaha. Adanya kayu manis membuat tangan saya yang sudah saya baluri scrub berbau harum seperti kue beraroma kayu manis. 

Setelah kopi rempah dikonsumsi, kan sayang tuh ampasnya jika dibuang begitu saja. Ampas kopi rempah bisa lho dijadikan scrub juga lho. Kopi yang bercampur dengan larutan gula dan air panas menjadikan ampasnya memiliki tekstur yang lebih lembut dan halus. 
Body scrub dari ampas kopi. Dokumentasi pribadi
Scrub dari ampas kopi teksturnya lebih halus dan lembut. Dokumentasi pribadi
Di marketplace saya beberapa kali melihat sugar coffee scrub yang harganya lumayan pricey. Nah, sekarang saya bisa memanfaatkan ampas kopi yang saya miliki sebagai scrub untuk tubuh. Saya merasa aman karena kandungan bahan-bahan natural yang terdapat dalam kopi rempah. 
Body scrub terbuat dari ampas kopi. Dokumentasi Coffe for Body
Di Yogyakarta, dengan menjamurnya kafe-kafe dan kedai kopi, membuat seseorang berpikir kreatif memanfaatkan ampas kopi menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi. Daripada limbah kopi dibuang begitu saja oleh kedai kopi, Sabrina Le Oktafia menyulapnya menjadi aneka produk perawatan dan kecantikan, mulai dari sabun, lulur (scrub), dan body wash dengan merek Coffee for Body. Unik kan?
Balik ke kopi liberika. See, komoditas seperti kopi liberika yang diolah menjadi produk kopi tumbuk rempah bermanfaat tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga kecantikan. Ramah sosial dan lingkungan pula. Sustainable beauty and wellness banget nih! Dengan kata lain kopi yang mampu survive di lahan gambut ini memiliki daya dukung terhadap ekonomi, lingkungan, dan juga masyarakat (komoditas berkelanjutan). Terciptanya lapangan kerja yang akomodatif di sektor komoditas berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi bahkan menghilangkan angka pekerja anak di Indonesia. Terbukanya ide-ide inovatif nan kreatif di sektor ini mampu menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang ujungnya membantu mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar. Masyarakat lebih sejahtera, lingkungan lebih terjaga.

Keunikan produk setiap daerah seperti kopi rempah Indukuh Coffee di Kalimantan Tengah dan Coffee for Body di Yogyakarta selaras dengan Visi Ekonomi Lestari di satu daerah. Satu daerah menciptakan satu atau lebih produk unggulan ramah lingkungan sekaligus komoditas lokal berkelanjutan.

Yuk dukung Visi Ekonomi Lestari. Lestarikan cantikmu mulai dengan cara memilih komoditas berkelanjutan dan produk lokal berkualitas. Lestarikan cantik dan sehatmu mulai hari ini untuk masa depan yang lebih baik. 

Sumber Referensi :
  • Pengalaman pribadi saat berkunjung ke Desa Karuing di Kalimantan Tengah dan wawancara dengan Raya Sadianor, pemilik kopi rempah Indukuh Coffee.
  • Website dan media sosial Madani Berkelanjutan
  • Website dan media sosial Lingkar Temu Kabupaten Lestari
  • Eksploitasi Industri Kecantikan terhadap Mika India melalui Child Labour, www.researchgate.com
  • pembersihan Mika Ilegal di Jharkhand Menghancurkan Kehidupan Wanita dan Anak-anak, www.hitechglitch.com
  • Di Tengah Pesatnya Industri Kelapa Sawit Indonesia, Eksploitasi Buruh Anak Masih Terjadi, www.theconversation.com
  • Pekerja Anak, Noda Hitam dalam Industri Sawit Indonesia dan Malaysia, www.voaindonesia.com
  • Membasuh Ampas Kopi Menjadi Bisnis yang Menyegarkan, www.kontan.com
  • Menyesap Kopi Liberika, www.kbr.com
  • Mengenal dan Bididaya Kopi Liberika, www.putratani.com
  • Sayang Dilewatkan, Ini 5 Manfaat Kopi untuk Kesehatan Kulit, www.kompas.com
  • 6 Manfaat Ketumbar untuk Kecantikan, Cukupi Nutrisinya, www.liputan6.com
  • 6 Manfaat Kayu Manis untuk Kecantikan serta Cara Penggunaannya, www.liputan6.com
  • 10 Manfaat Adas Manis untuk Kecantikan, Wanita Harus Tahu, www.sumbersehat.com