Kamis, 21 Januari 2021

#BangkitBersamaSahabat : Kolaborasi dan Sinergi Adira Finance Via Festival Pasar Rakyat Guna Memberdayakan Sektor Mikro di Era Digital

Bule mencicipi jamu yang disajikan di salah satu stan di dekat Pasar Beringharjo. Dokumentasi pribadi

“What is this?” Salah satu dari dua turis asal Eropa menanyakan apa nama minuman yang dipamerkan di salah satu stan festival kuliner yang berlokasi di Malioboro, Yogyakarta.

“This is jamu, Sir, our local beverage. Please try this.” Kata sang penjual seraya menyodorkan tester jamu. 

“Hmmm… the taste is very delicious. I want to buy this. How much it cost?” Ujar sang bule.

“It is free, Sir. Bring these bottles for you and your partner.” Balas sang penjual jamu. Sang penjual juga bertutur bagaimana cara meracik jamu tersebut dengan rempah-rempah yang ada hingga menjadi minuman herbal nan menyehatkan. Setelah puas bertanya-tanya, sepasang bule tersebut meninggalkan keramaian seraya mengucapkan terima kasih atas 2 botol jamu gratisnya. 

Semakin siang pengunjung memadati area Pasar Beringharjo yang terletak di Malioboro tempat festival berlangsung. Festival tersebut memperkenalkan jamu dan kuliner lokal kepada wisatawan yang berkunjung di kawasan Malioboro. Jejamuan dan aneka kuliner yang  ditawarkan di festival ini ada yang gratis, ada pula yang berbayar. Festival tersebut diadakan menjelang akhir tahun 2019, sebelum pandemi Covid19 merebak.

Di stan lain saya menemui Biyung Yayuk. Biyung Yayuk bercerita kepada saya bahwa beliau memproduksi jamu secara harian. Biyung Yayuk menjelaskan bahwa sekarang ini beliau mempromosikan jamunya via kanal digital dan media sosial seperti instagram. Biyung Yayuk menambahkan bahwa sinergi dengan berbagai pihak turut membantu memperkenalkan bisnisnya ini kepada khalayak luas.

Di era pandemi seperti sekarang ini, banyak bisnis tradisional dan UMKM telak terpukul. Menaati protokol kesehatan, orang-orang lebih memilih membeli sesuatu secara daring. Mau tidak mau bisnis tradisional dan UMKM harus bergerak dan berbenah, terutama dengan strategi marketingnya. Digital itu kenyataan, beralih ke platform digital tentu menjadi sebuah keniscayaan. Sinergi atau kolaborasi dengan berbagai pihak merupakan kunci sektor mikro untuk terus bertahan, berdaya, dan berkembang di era serbadigital.

Memahami pentingnya ekosistem dalam memperkuat sektor mikro baik secara daring meupun luring, Adira Finance yang merupakan perusahaan pembiayaan kendaraan, elektronik, dan kredit multiguna menghadirkan Festival Pasar Rakyat (FPR) 2020 dengan tajuk “Bangkit Bersama Sahabat.” Adira Finance menganggap entitas bisnis tradisional dan UMKM adalah sahabat. Sebagai sahabat, Adira Finance mengajak sektor mikro untuk terus bertumbuh, berdaya, sekaligus berkembang di era digital. Festival Pasar Rakyat Adira Finance ini mendorong ruang publik yang kreatif. Adira Finance meyakini bahwasanya pasar rakyat menjadi etalase kekayaan sebuah daerah, serta kamus hidup kuliner Indonesia, sehingga memberikan karakter pada sebuah kota, dan menjadi destinasi wisata yang unik. Kita bisa lihat serunya Festival Pasar Rakyat (FPR) Adira Finance chapter Yogyakarta di Pasar Beringharjo, Kranggan, Prawirotaman, Karang Waru, dan Pasar Demangan. 
Tagar #BangkitBersamaSahabat terus digemakan. Ada misi besar yang diemban Adira Finance yakni bagaimana meningkatkan literasi digital sekaligus mengedukasi pedagang mengenai pentingnya menjaga kesehatan melalui penerapan protokol kesehatan di lingkungan pasar. Bagi-bagi masker gratis pun sudah dijalankan. Total 50 ribu masker di 30 pasar yang tersebar di 6 kota besar : Jakarta, Tangerang Selatan, Cirebon, Yogyakarta, Aceh, dan Makassar. Dengan pedagang memakai masker, membuat pengunjung merasa aman berbelanja.
FPR. Dokumentasi Adira Finance
Meskipun keseharian berkelindan di Pasar, melalui Festival Pasar Rakyat ini Adira Finance mengajak para pedagang untuk berdaptasi dengan teknologi dan memanfaatkan platform digital guna meningkatkan volume penjualan, memperluas jangkauan pembeli dan bertahan di era pandemi. 

Digitalisasi di pasar diberikan melalui program edukasi, pelatihan dan pendampingan, contohnya webinar “Ayo Berdagang Secara Online” Kan enak ya kalau serbadaring, pembeli tak perlu jauh-jauh datang ke pasar. Melalui platform digital pembeli bisa memesan aneka kebutuhan langsung via aplikasi chat, media sosial, ataupun website. Pembeli tenang, pedagang senang. 
FPR. Dokumentasi Adira Finance
Digitalisasi bisnis mampu menjangkau hingga lintas daerah, lintas benua lho. Siapa sangka nantinya produk kreatif  dari Festival Pasar Rakyat diminati orang asing.

"I'm interested in this leather puppet souvenirs, would you sent those souvenirs to Australia next month?"

“The herbal drink which you call as jamu tastes good, would you send it to Germany?”

 Siapa tahu kan?

Jumat, 15 Januari 2021

Ngomongin Hutan dan Perubahan Iklim Via I Love Indonesia Blogger Gathering

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan mengikuti I Love Indonesia Blogger Gathering, sebuah webinar sekaligus diskusi mengenai hutan, lingkungan, dan perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Golongan Hutan bersinergi dengan Blogger Perempuan. 

Bagi yang belum tahu, Blogger Perempuan merupakan komunitas blogging sekaligus digital platform yang memberdayakan narablog atau digital content creator perempuan melalui penulisan konten daring. Komunitas ini berdiri sejak 2015 dan menjadi komunitas blogger terbesar di  Indonesia. Aihhhh, tahun 2015 saya masih berjuang menyelesaikan studi dan tahun 2015 pula saya pertama kali belajar blogging. Jadi usia Blogger Perempuan sudah menjejak 5 tahun lebih. 

Adapun Golongan Hutan Golongan hutan merupakan gerakan yang diinisiasi dan dibesarkan oleh organisasi masyarakat sipil dan komunitas sejak Januari 2019. Organisasi masyarakat sipil dan komunitas tersebut adalah Kemitraan/Partnership, Yayasan Madani Berkelanjutan, Yayasan Econusa, Yayasan Auriga, Greenpeace Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Change.org, Yayasan Koaksi, Jaringan Pantau Gambut, Kaoem Telapak, Mongabay, Hutan Itu Indonesia, Katadata, Samdhana, AMAN, HuMA, LTKL dan lain-lain. 

Golongan Hutan hadir untuk mengajak pemuda pemudi Indonesia agar ikut bangga terhadap hutan dan segala potensinya. Golongan hutan berfokus untuk membesarkan isu lingkungan hidup, termasuk hutan di Indonesia. Golongan Hutan hadir untuk menyebarkan semangat dalam menjaga sumber daya alam agar dapat dinikmati oleh anak cucu bangsa.

Nah gathering kali ini menghadirkan pembicara kece yang akan ngomongin perihal hutan, perlindungan hutan, lingkungan hidup, dan tentunya perubahan iklim. Siapakah mereka? Narasumber pertama yakni Edo Rakhman sebagai koordinator Golongan Hutan. Narasumber kedua yakni Syaharani mahasiswi pegiat aksi Jeda Untuk Iklim. Narasumber terakhir yakni Anindya Kusuma puteri, aktris sekaligus influencer di bidang sport & tourism.

Acara ini dibuka dengan games yang sangat fun pastinya. Kemudian dilanjut dengan paparan Bang Edo dari Koalisi Golongan Hutan mengenai bagaimana peran kepemimpinan anak muda untuk masa depan yang lebih, terutama jika dikaitkan dengan topik perlindungan hutan dan perubahan iklim. Bang Edo menyentil aksi anak muda agar diberikan ruang yang lebih besar dalam hal pengambilan kebijakan dan keputusan, pengelolaan sumber daya alam, bagaimana menjaga lingkungan dan sebagainya. 

"Ada 3 hasil survei yang ingin saya berikan. Pertama, Jejak Pendapat : Harapan dan Persepsi Anak Muda dan Pilkada, berikutnya Laporan Survei Krisis Iklim di Mata Anak Muda, terakhir Kejahatan Kororasi dan Ekosida. Dalam survei tersebut usia potensial 17-30 tahun sebanyak 82%. Dari hasil survei yang didominasi anak muda tersebut, ternyata mereka memiliki kepedulian di seputar isu ekonomi, kesejahteraan, infrastruktur, penegakan hukum, dan sebagainya. Di survei kedua, 89 anak muda sangat khawatir pada dampak-dampak krisis iklim yang terjadi ada hari ini. Teman-teman astinya tahu bagaimana krisis iklim berpengaruh pada kehidupan di Indonesia. Curah hujan sudah tidak menentu, musim kemarau sudah tidak jelas, bencana banjir, longsor, dan seterusnya. Ini semua damak dari perubahan iklim sehingga kita semua berada pada krisis iklim. Nah, anak-anak muda ini peduli pada kondisi ini dan saya kira ini sebuah tanda yang harus diperhatikan oleh para pengambil kebijakan bahwa jangan mengabaikan suara-suara anak muda pada hari ini."

Anak muda hari ini jangan dianggap apatis, mereka harus didengarkan. Ketika berbicara mengenai pemimpin alangkah baiknya suara anak-anak muda ini diakomodir. Anak muda bisa melakukan aksi dan kampanye kepedulian terkait lingkungan hidup. 

"Kampanye Golongan Hutan kenapa selalu bersentuhan dengan hutan, selalu bersentuhan dengan bagaimana melindungi lingkungan, dan yang paling penting adalah bagaimana mengkampanyekan agar anak-anak muda mengetahui bahwa mereka berhak atas lingkungan yaag sehat dan lebih baik. Saya kira itu pengantar dari saya." Demikian Bang Edo menambahkan. 

Ya, bukan hanya anak-anak muda, kita semua berhak untuk mendapakan lingkungan hidu yang sehat lagi baik. Saya sedih dengan apa yang terjadi pada hari ini, hari di mana artikel ini ditulis. Bencana banjir melanda Kalimantan Selatan. Saya cukup kaget, pasalnya jarang banget terjadi banjir di Kalimantan bukan? Dan banjir kali ini cakupan wilayahnya cukup luas. Deforestasi yang berlangsung bertahun-tahun, memakan ratusan ribu hektare lahan dan hutan di Kalimantan Selatan, tak memungkiri apa yang terjadi pada hari ini. Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk Kalimantan Selatan...

Bagaimana tanggapan Anindya Kusuma Puteri mengenai hutan dan lingkungan hidup? Bagaimana kontribusi Anindya dalam menyebarkan keindahan dan potensi alam Indonesia? Anin sendiri pernah masuk 15 besar Miss Universe 2015. Mulai dari kurun waktu itu pula, Anin, sapaan akrab Anindya mulai mengkampanyekan keindahan alam Indonesia kepada teman-temannya yang berasal dari berbagai negara.

"Kalau dari aku sendiri, aku mengenal hutan dari jaman SMA ya, lagi suka diajak jalan-jalan. Juga ada komunitas pecinta alam, sering diajakin teman-teman. Aku mulai naik gunung yang easy buat beginner. Tapi dari situlah aku belajar tentang mengeksplor alam dan juga hutan. Banyak ilmu yang aku dapat dari alam itu sendiri karena namanya berada di tengah hutan kita survival. Makan dan minum bawa seadanya." Anin menjelaskan bagaimana dia mencoba bertahan dengan terbatasnya persediaan yang dia bawa, semisal air minumnya tinggal sedikit. Anin berusaha mencari cara untuk mendapatkan air bersih dari sumber-sumber air yang ada. 

"Pertama kali minum sumber air bersih di gunung, wow! Rasanya amazing banget." Anin antusias sekali ketika pertama kali meminum air langsung dari sumber mata air. Anin menambahkan bahwasanya dia pernah kesal saat pendakian di Gunung Rinjani. Ada beberapa sot di Gunung Rinjani di mana para pendaki membuang sampah sembarangan dan hal tersebut membuat Anin berang.

"Saat traveling, baik traveling yang proper atau adventure, bertualang di tengah hutan, aku belajar memahami bahwa masyarakat kita di Indonesia perlu diedukasi mengenai kebersihan lingkungan. Alasan kenapa aku suka traveling adalah dari situ aku bisa menyaksikan secara langsung masalah apa yang terjadi di lingkungan kita seperti apa. Ketika kita tahu apa yang sebenarnya terjadi di lungkungan kita, kita bisa bersuara langsung  network yang aku punya."

Demikian sedikit materi dari Anindya terkait hutan dan isu lingkungan hidup. Sekarang kita beranjak ke pembicara selanjutnya yakni Syaharani. Syaharani merupakan mahasiswi hukum Universitas Indonesia yang juga fokus pada isu dan aksi-aksi terkait perubahan iklim. Jabatan yang diegang Syaharani saat ini adalah Steering Committee Jeda Untuk Iklim serta Coordinator of Direct Action, Extinction Rebellion Indonesia. 

"Jadi secara singkat perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan perubahan musim/cuaca adalah 3 hal yang berbeda. Aku masih menemukan orang yang menyamakan penipisan lapisan ozon dan perubahan iklim. Perubahan iklim itu apa sih? Perubahan iklim adalah perubahan iklim kita yang terjadi dalam skala waktu yang tidak sebentar dan dia menyebabkan perubahan komposisi atmosfer gitu. Di atmosfer kita ada lapisan yang berisi gas yang secara alamiah memantulkan kembali sinar matahari yang sampai di bumi, namanya gas rumah kaca. Fungsinya memerangkap sinar matahari yang terpantul tadi sehingga menjaga suhu bumi tetap hangat dan bisa ditinggali oleh manusia. Kalau suhu bumi kita terlalu dingin, tentunya kita tidak bisa tinggal di bumi. Sayangnya setelah manusia mengeksploitasi bumi bahkan merusaknya, terjadi peningkatan gas rumah kaca. Jumlahnya gak normal dan dia malah memerangkap panas sehingga suhu bumi meningkat. " Demikian penjelasan singkat Anin mengenai perubahan iklim dan efek gas rumah kaca. Suhu rata-rata bumi pun meningkat.

Demikian ulasan singkat mengenai hutan dan perubahan iklim. Adapun lebih lengkapnya kamu bisa saksikan di video berdurasi 2 jam dari channel Golongan Hutan berikut ini. 

Jumat, 08 Januari 2021

Menghidupkan Dongeng dan Menghadirkan Bacaan Berkualitas untuk Anak Lewat Aplikasi Let's Read

Saya sedang asyik scrolling twitter, seketika mutual twit saya @adriandanarw membuat twit yang cukup menggelitik dan membuat saya berpikir beberapa jenak. Bunyi twitnya berikut saya kutip, "beberapa buku bagus yang saya baca, halaman paling depannya mengucapkan terima kasih kepada ibu yang membawa sang penulis ke perpustakaan sewaktu kecil. Sungguh beruntung mereka yang terlahir dari orang tua dan di negara yang memfasilitasi perpustakaan bagus untuk generasi mudanya." Barangkali Mas Adrian sedang membuka-buka buku dan pada halaman depan buku tersebut tertuang ucapan terima kasih sang penulis kepada ibunya. Saya sangat sepakat dengan kalimat kedua, betapa beruntung anak-anak yang terlahir dari rahim orang tua yang menghadirkan bacaan berkualitas pemantik imajinasi dan critical thinking. Sungguh beruntung anak-anak yang terlahir di negara yang memfasilitasi perpustakaan dengan buku-buku bagus yang melimpah untuk generasi penerus bangsa.

Seketika saya teringat diri ketika masih bocil. Saya berasal dari keluarga sederhana. Pada masa kanak-kanak, buku menjadi hal yang sangat mahal bagi keluarga saya. Namun, ayah saya mengusahakan membeli buku cerita anak bergambar dan majalah anak bekas yang harganya tentu jauh lebih murah dari versi barunya. Dari buku cerita anak bergambar dan majalah tersebut saya jadi suka menggambar dan menulis. Meskipun gambar dan tulisan saya untuk anak kelas 1 SD ya gak bagus-bagus amat. Masa kecil saya sangat bahagia berkat dongeng-dongeng yang ada pada majalah atau buku cerita anak bergambar. Pernah suatu ketika saya menulis surat pembaca dan mengirimnya ke suatu majalah anak, eh tulisan saya ternyata tembus di majalah tersebut. Sebagai apresiasi saya mendapat buku diary yang sangat lucu. 

Bagi bocah seperti saya, hal tersebut menjadi salah satu kenangan paling membahagiakan. Selain menulis, kreativitas saya di bidang menggambar juga ikut terasah. Saya ingat betul ketika kelas 3 SD saya ditunjuk sekolah untuk mengikuti kompetisi melukis tingkat kabupaten. Saya memang suka mencoret-coret halaman buku tulis. Buku tulis saya penuh dengan gambar-gambar. Gambar apa saja, bisa puteri duyung, pohon-pohon, orang, dan sebagainya. Tadaaaaa, ternyata wali kelas saya menyadari kalau saya memiliki bakat menggambar. Saya ikut seleksi lomba menggambar tingkat kecamatan dan menjadi juara 1. Saya kemudian mewakili kecamatan di tingkat kabupaten. Yaaaaa… meski di tingkat kabupaten tak menggondol trofi juara, saya tetap bangga. Masa kecil saya bahagia berkat buku-buku cerita bergambar dan majalah-majalah anak. Dari 2 hal tersebut, saya memiliki kemampuan menulis dan menggambar yang lumayanlah hehehe.

Ayah saya juga jago mendongeng. Dongeng masa kecil yang saya masih ingat hingga kini adalah cerita tukang kayu dan kapak tuanya. Pernah dengar cerita ini sebelumnya? Baiklah izinkan saya bercerita sedikit.
Ada seorang tukang kayu tua yang tinggal di gubuk yang reot bersama anak-anaknya. Mereka adalah keluarga paling miskin di antara keluarga-keluarga lain di desa itu. Biasanya, pada pagi buta si tukang kayu pergi ke hutan untuk berburu kayu dan menjualnya ke pasar. Namun naas, di suatu pagi si tukang kayu teledor ketika memotong tumpukan kayu. Alhasil kapaknya jatuh ke sungai. 

Si tukang kayu kalut tentunya. Ia bersusah payah mencari kapaknya hingga menyelam ke dasar sungai yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu. Namun hasilnya sia-sia. Kapak tuanya tak jua ditemukan. Tiba-tiba ada yang menyembul dari permukaan sungai. Si tukang kayu kaget tentunya.

“Hei, Pak Tua. Apa yang sedang kaucari di sungai sebenarnya.” Kata seseorang yang ternyata adalah jelmaan dewa. 

“Saya sedang mencari kapak saya yang hanyut ke sungai ini.” Jawab si tukang kayu dengan wajah sendu. Kapak tua harta paling berharga yang membantunya bekerja kini telah lenyap.

“Apakah ini kapakmu, Pak Tua?” Kata dewa penunggu sungai tersebut.

“Bukan. Kapak saya bukan terbuat dari perunggu.” Ujar si tukang kayu.

“Apakah ini kapakmu, Wahai Pak Tua?”

“Bukan…bukan. Kapak saya tidak mungkin terbuat dari perak.” Sekali lagi jawab si tukang kayu.

“Hmmm…bisa jadi ini kapakmu, Pak Tua?”

“Bukan. Bukan, Kisanak. Kapak saya adalah kapak tua yang sudah aus. Bukan kapak yang terbuat dari emas.” Kata si tukang kayu.

“Bisa jadi ini kapak yang Kaucari, Pak Tua.” 

Betapa senangnya hati si tukang kayu manakala menemukan kapak tuanya. Berkat kejujuran hati si tukang kayu, dewa penunggu sungai tersebut menghadiahkan kapak emas dan kapak perak miliknya untuk diberikan kepada si tukang kayu. 

“Ambillah ini, Pak Tua. Juallah jika diperlukan.” Kata dewa penunggu sungai sembari menyerahkan kapak emas dan perak untuk si tukang kayu. Beberapa saat kemudian, dewa penunggu sungai lenyap. Meninggalkan rasa kaget si tukang kayu. 

Beberapa hari kemudian, si tukang kayu menjual 2 kapak pemberian dewa penunggu sungai. Si tukang kayu menjadi orang terkaya di desa tersebut. Tak lupa si tukang kayu berbagi rejekinya kepada sesama. Setelah menjadi kaya raya, hati si tukang kayu masihlah mulia. Tamat.
Well, bisa dipetik hikmat cerita di atas? Dongeng memantik imajinasi. Dongeng menginspirasi. Lewat dongeng anak-anak bisa belajar tentang kebajikan. 

Memperoleh pendidikan dan pengasuhan yang baik merupakan hak anak. Demikian pula ketika mendapatkan sumber bacaan, dongeng, atau konten yang berkualitas. 

Beda dulu. Beda pula sekarang. Meskipun buku-buku dan majalah anak masih tetaplah ada. Di jaman now seperti sekarang ini kita bisa memperoleh konten berkualitas secara digital. Melalui aplikasi tentunya. Salah satu aplikasi yang saya gunakan karena berisi bacaan-bacaan anak berkualitas ya Let’s Read.

Apa itu Let’s Read? Aplikasi Let’s Read dirancang untuk menumbuhkan minat membaca anak. Let’s Read menyediakan aneka bahan bacaan berkualitas dari berbagai negara. Judul cerita beragam, terdapat pula beraneka warna bahasa seperti Bahasa Indonesia, Thailand, Bali, Sunda, Jawa, India, Melayu, dan masih banyak lagi. Ibaratnya, Let’s Read merupakan perpustakaan digitalnya anak-anak. Seru gak tuh?
Tampilan aplikasi Let's Read. Dokumentasi Pribadi
Dongeng/Cerita. Mencari Pulau Naga. Dokumentasi Pribadi
Halaman Pertama "Mencari Pulau Naga. Dokumentasi pribadi
Jika kamu tertarik dan penasaran dengan Let’s Read, kamu bisa mengunduhnya aplikasi Let’s Read di Play Store. Hal pertama yang dilakukan setelah mengunduh Let’s Read adalah setting bahasa. Bahan bacaan atau dongeng dalam bahasa yang kita inginkan akan muncul setelah kita pilih menu bahasa. Misal ketika kita memilih Bahasa Jawa, maka bahan bacaan yang muncul tentunya berbahasa Jawa. Untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat pada infografis yang sudah saya buat berikut ini.
Aplikasi Let’s Read sangat mudah dipelajari anak-anak. Kita tentunya berharap bisa memberikan bahan bacaan berkualitas untuk anak-anak kita. Siapa tahu kelak ketika dewasa dan sang anak berprofesi sebagai penulis, dalam halaman persembahan dia menulis, “Terucap terima kasih yang sangat besar untuk Ayah dan Ibuku yang telah memberikan bacaan berkualitas dan sumber informasi melimpah ketika aku masih kecil. Aku menjadi aku yang saat ini berkat kontribusi ayah dan ibuku.” Hiks, jadi terharu. Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ayah telah memberikan bacaan berkualitas dan dongeng pengantar tidur ketika saya masih bocil.

Mari menghidupkan dongeng dan menghadirkan bacaan berkualitas untuk anak lewat aplikasi Let's Read!

Senin, 04 Januari 2021

Sekelumit Proses Pembuatan Film Animasi dan Hal-hal yang Perlu Kamu Tahu

Dua hari lalu lagi selow dan gabut, saya buka youtube dan dapat rekomendasi short animation movie, "Spring." Film animasi garapan Blender Animation Studio ini berdurasi 7 menitan, tapi jangan kira proses kreatifnya sesingkat hasil akhirnya.

Tidak Nona Esmeralda. 

Proses pembuatan film animasi nyatanya sangat kompleks, rumit, dan membutuhkan banyak tim kreatif yang memiliki spesialisasi di bidangnya masing-masing. Misal nih ya dalam film animasi Spring, ada bagian khusus untuk modelling and shading, sound design, lighting, rigging, character design, animating, dan lain sebagainya. Karena Spring tergolong film animasi pendek, maka keterlibatan tim kreatif di dalamnya tak begitu banyak. Bandingkan film animasi berdurasi lebih dari satu jam garapan Disney atau Pixar.

Film animasi pendek tanpa dialog ini berkisah tentang gadis gembala dan anjingnya yang masuk ke tengah hutan dan bertemu roh kuno yang menjaga siklus kehidupan, sebuah film tentang alam lebih tepatnya sih. Roh-roh hutan tersebut bentuknya mirip serangga dan berkaki empat (kakinya menyerupai pohon-pohon raksasa). Film Spring disutradarai oleh Andy Goralczyk yang terinspirasi pada masa kecilnya di pegunungan Jerman. 

Spring sendiri diproduksi oleh Studio Blender Institute di Amsterdam, Belanda. Coba tebak berapa waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi film berdurasi 7 menitan ini gaes? Ternyata 12 bulan lho. Sungguh waktu yang tidak singkat untuk sebuah film berdurasi singkat. Untuk keseluruhan produksinya tim Spring menggunakan pengembangan perangkat lunak Blender versi 2.8. Film dan semua aset yang dibutuhkan untuk membuatnya telah dirilis sebagai creative commons di Blender Cloud, kamu bisa klik di https://cloud.blender.org/ (maaf gak kasih link hidup). Gambar berikut merupakan salah satu contoh aset yang tersedia di Blender Cloud.
Ingat kata blender pasti yang muncul di kepala adalah alat elektronik yang biasanya digunakan untuk bikin jus buah hahaha. Namun, Blender yang satu ini merupakan software animasi 3D yang bersifat open source dan tentunya gratis. Bisa diunduh siapa saja. Keuntungan menggunakan Blender yakni animator, artist, content creator, game maker, atau siapapun bisa menggunakan software tanpa biaya ini, baik untuk kepentingan komersil maupun nonkomersil. Karena sifatnya yang open source, source code Blender tersedia untuk siapa pun orang di seluruh dunia yang bisa membaca, mengubah, dan memodifikasi kode-kodenya. Asalkan tidak melanggar General Public License dari Blender itu sendiri.

Software animasi 3D ini diciptakan oleh Blender Foundation, sebuah perusahaan publik milik Belanda. Blender dibuat untuk mendukung dan memfasilitasi proyek-proyek animasi atau apapun yang berlatar 3 dimensi. Blender ini perangkat lunak multiplatform ya, jadi bisa dipakai di Mac, Windows, atau Linux. Selain membuat animasi, perangkat lunak satu ini juga bisa dimanfaatkan untuk membuat game berikut asetnya, salah satu fitur luar biasa dari Blender ya Blender Game Engine (BGE).

Ngomongin soal Blender, jadi ingat pengalaman saya ketika menginjak semester 5, tepatnya di tahun ketiga kuliah. 

"Arinta, kamu punya kenalan anak animasi gak? Tanya Prasna pada saya suatu ketika di Student Center lantai 3, dekat basecamp UKM Rekayasa Teknologi.

"Kenapa e Pras?" 

"Ini divisi aku mau ngadain workshop animasi, tapi ternyata tarif narasumbernya terlalu mahal." Lalu Prasna menyebut seorang animator profesional yang sudah punya nama. Yah wajar sih mahal, apalagi udah profesional. Bikin animasi gak gampang cuy. Belajarnya juga gak sebulan dua bulan. 

"Rin, klo kamu ada kenalan kasih tau aku ya. Channelmu kan banyak tuh, Rin." (((channelmu kan banyak tuh, Rin))). Gak segitunya ya Pak Prasna. Prasna yang bertanggungjawab untuk acara ini. Dia jadi ketua pelaksana.

Tetiba saya jadi teringat seorang kenalan yang juga seorang animator. Dia punya studio animasi dan tim kecil. Masih muda, masih kuliah. Usianya gak jauh-jauhlah sama saya dan Prasna. Portfolionya juga bagus. Namanya Fandhi Nugroho Lutfi. Dia anak politeknik Seni Rupa Yogyakarta. Di facebooknya tertulis dia mengambil jurusan game technology. Kebetulan pada saat itu Fandhi dan timnya baru saja memenangkan kompetisi short animation movie di ajang Increfest (Industry Creative Festival) yang diadakan salah satu kementerian.

Jadi bisalah ya kalau Fandhi saya kontak buat jadi pembicara nanti. 

Awalnya saya gak kenal Fandhi. Fandhi ini temannya temanku, Faisal. Faisal juga seorang animator. Fandhi mendirikan studio animasi di Semarang, namanya Graftmotion Studio (kayaknya sekarang Graftmotion udah bubar dan Fandhi bikin studio baru lagi). Fandhi dan Faisal satu tim di Graftmotion. Fandhi pernah jadi narasumber untuk suatu acara yang diadakan Jogjanimation Komunitasnya Joedo Hanitianto. Anak animasi Jogja biasanya familiar dengan Pak Joedo. Fandhi pun direkomendasikan temanku, Faisal.

"Mas Fandhi aja, public seakingnya bagus." Kata Faisal kepada saya ketika mengonfirmasi hal ini. Sebenarnya saya ingin mengundang Faisal untuk menjadi pembicara, sebab karya-karya Faisal juga bagus dan patut diperhitungkan. Namun, Faisal menyatakan tidak bisa pada waktu itu. Maka, Faisal merekomendasikan si Fandhi. Faisal sendiri satu angkatan kelulusan SMA dengan saya. Saat itu, Faisal tinggal di Semarang dan ambil D1 bidang DKV. Sekarang Faisal sudah menikah dan tinggal di Bandung.

Berikut saya kasih animasi garapan Faisal, Fandhi dan tim Graftmotion yang pernah dikompetisikan di ajang Incresfest 2013 dan kemudian menang. Ini channel youtubenya Faisal, khusus berbagai tips, tutorial, karya-karya animasi 3D. Perangkat lunak yang digunakan tentu saja Blender ya.

Di tahun 2020, Tujuh tahun kemudian, karya Faisal sudah semengerikan (baca : sekeren) ini! Faisal ini fans berat transformer. Gak heran sebagian karyanya terinpsirasi dari Transformer dan mengandung elemen robotika.


Kembali ke laptop.

Akhirnya saya bilang ke Prasna, "Pras, aku punya kenalan anak animasi Jogja yang punya portofolio bagus. Kalau mau nanti aku kasih kontaknya." 

Menemukan solusi, Prasna senang sekali. 

Sebenarnya workshop animasi ini diadakan oleh divisi IT UKM Rekayasa Teknologi (organisasi kemahasiswaan bidang rekayasa dan inovasi teknologi) khusus untuk anak-anak divisi IT saja. Gratis tentunya. 

"Aku kasih kontaknya dengan syarat, aku boleh ikut workshopmu, Pras." Saya rasa ini barter yang adil. Saya juga tertarik belajar animasi. Saya yang nondivisi IT (saya dari divisi Teknologi Tepat Guna/TTG) pengen ikutan juga dongs. Kapan lagi anak akuntansi seperti saya bisa ikutan workshop animasi kayak gini hehehe.

Prasna pun menyetujui. Saya bisa ikut workshop ini dengan syarat, saya menjadi bagian dari panitia. Wow! Senang sekali. Prasna kemudian menunjuk saya menjadi humas. Tugas saya adalah mengontak narasumber, deal harga, dan juga memastikan dia bisa hadir pas event berlangsung. Selain workshop animasi, Prasna pun mengajak saya meramaikan event "IT Meet Up" yang diselenggarakan oleh divisi IT. Secara singkat, IT Meet Up merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh divisi IT UKM Rekayasa Teknologi yang mempertemukan praktisi bidang IT dan mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Yogyakarta. Bukan hanya anak IT, siapapun boleh kok berpartisipasi. Adapun workshop animasi merupakan bagian dari serangkaian acara IT Meet Up.

Singkat cerita, sampailah pada hari H, hari di mana workshop animasi tersebut berlangsung. Software yang digunakan untuk workshop ini Blender ya karena Fandhi adalah pengguna Blender. Peserta workshop diminta membuat bentuk-bentuk seperti bola, kotak, dan sebagainya sesuai instruksi yang diberikan Fandhi. Bentuk-bentuk semacam ini adalah model dasar sebelum membuat desain karakter 3D yang rumit. Ini baru desain karakter saja ya, belum proses yang lain seperti modelling, rigging, shading, compositing, animating, dan sebagainya.

Berikut saya beri penjelasan singkat mengenai hal-hal yang perlu kamu tahu dalam membuat animasi berikut istilah-istilahnya,

1. Modelling. Membuat objek 3 dimensi (misal manusia, hewan, tumbuhan, mobil, rumah, robot, dan sebagainya). Pada tahap modelling, objek apapun yang akan dibentuk dibuat detail, sesuai ukuran, dan skala biar nampak realistis dan proporsional.

2. Texturing. Pada tahap ini, bagian permukaan objek 3D diberi tekstur dan material sehingga terkesan lebih hidup dan real, termasuk pula pantulan cahaya, jenis warna, dan sebagainya. Tekstur permukaannya bagaimana? Apakah kasar, halus, bopeng, berserat dan sebagainya. Texturing objek berbentuk batu bata berwarna merah terkena tetesan air hujan tentunya berbeda dengan batu koral berwarna-warni yang mengkilap jika tertimpa sinar matahari, bukan? 

3. Rigging. Bagi pemula, bagian ini cukup complicated, apalagi untuk objek yang rumit, misal monster kaki seribu. Tapi untuk animator profesional, rigging adalah proses yang mudah. Rigging (penulangan) merupakan proses pemberian tulang pada objek 3 dimensi. Untuk lebih jelasnya saya beri contoh tutorial rigging yang saya ambil dari channel youtube CG Geek. 

4. Lain-lain. Ada tahap lain-lain yang perlu kamu tahu seperti lighting (pencahayaan), compositing (mengkombinasikan beberapa footage yang berbeda hingga nampak sebagai satu kesatuan), animating (menggerakkan objek), hingga rendering. Rendering merupakan tahap akhir dari proses keseluruhan menjadi satu berkas adegan. 

Nah itu aja dulu. Materi yang diajarkan Fandhi merupakan basic knowledge sebelum membuat sebuah gambar bergerak/animasi. Saya tidak mendalami bidang ini terlalu dalam karena ini bukan bidang saya, saya cukup penasaran untuk mengetahui bagaimana proses kreatif di balik sebuah animasi. Itu saja. Bagi kamu yang tertarik mengembangkan skill di bidang ini ada baiknya konsisten dalam mempelajari hal tersebut, bisa melalui tutorial-tutoral di internet atau belajar langsung dari ahlinya.

Untuk workshop animasi ini saya kudu berterima kasih kepada kawan saya Prasna dan Fandhi. Saya bisa simpulkan bahwa membuat animasi yang menjadi bakal film ataupun game ternyata gak mudah. 

Bicara soal animasi, khususnya film animasi pastinya gak bakalan habis. Saya ingat pertama kali saya nonton film animasi adalah film The Lion King klasik. Masih bocil saya tentunya dan nontonnya bareng orang tua. Duh so sweet sekali kala itu. Malah The Lion King (2019) saya belum sempat nonton. 

Banyak sekali film animasi yang tentunya memiliki moral value yang bagus dan bisa dijadikan teladan (film keluarga). Fim-film animasi favorit saya ya kebanyakan dari Pixar dan Disney. Sampai detik ini saya masih jatuh cinta pada Cars, Coco, Inside Out, Up, Wall-E, Finding Nemo, Big Hero 6, Monster inc, dan masih banyak lagi.

Pembuatan film animasi memang sangat kompleks. Bahkan risetnya bisa berbulan-bulan lamanya dan pembuatannya bisa memakan waktu lebih dari satu tahun. Bujetnya juga gak main-main cuy! Melibatkan tidak hanya profesional kreatif (tim teknis) tetapi juga orang-orang yang memiliki spesialisasi di bidang lain. Film Inside Out misalnya. 
Dalam proses pembuatan Inside Out tentunya melibatkan peran ahli psikologi. Sang sutradara, Pete Docter, menginginkan Inside Out memiliki unsur psikologi yang kuat, yang menjelaskan bahwa manusia memiliki emosi-emosi yang mendasar di dalam dirinya. Inside Out menampilkan sosok bocil bernama Riley dengan karakter-karakter emosi yang selalu membersamainya (gembira, sedih, marah, jijik, dan takut). 

Saya kutip dari temankita.com, "riset yang mereka lakukan membawa Inside Out ke dalam petualangan Paul Ekman, yang terkenal karena berhasil mengidentifikasi emosi-emosi universal manusia dari raut wajah. Hasil penelitian yang ditulisnya dalam buku Emotion in Human Face: Guidelines for Research and an Integration of Findings menunjukkan bahwa terdapat enam emosi dasar yang dimiliki manusia, yakni kelima karakter Inside Out, ditambah emosi terkejut (surprise). Karena sang sutradara merasa bahwa emosi terkejut mirip dengan rasa takut, akhirnya diputuskanlah bahwa lima emosi sajalah yang akan bermain sebagai pemeran utama dalam ‘menggerakkan’ sikap dan perilaku Riley."

Sedikit ulasan mengenai Inside Out. Semoga nanti saya bisa mereview film Inside Out di artikel saya yang lain.

Sekali lagi, produksi animasi ternyata cukup kompleks bukan? Yang saya ulas di artikel ini adalah tahapannya. Belum lagi risetnya, produksinya, bujetingnya, pemasarannya dan lain sebagainya. Kamu perlu tahu bahwa film animasi yang berdurasi singkat nyatanya tidaklah sesingkat proses pembuatannya. Ada kerja-kerja keras dan kerja cerdas di balik semua itu. Ada sekelumit proses yang mendasarinya.