Senin, 30 Agustus 2021

Produktif dari Rumah, Buat Dunia Jadi Lebih Baik bersama Campaign #ForChange

Seekor monyet bergenus Macaca dengan perut bergelambir asyik mengunyah keripik kentang dalam kantong plastik. Tentu saja si monyet merasa belum cukup kenyang (baca: belum puas). Dia kemudian menghampir pengunjung terdekat, dengan gestur memelas berharap diberi satu dua potong roti atau makanan lainnya. Dengan tubuh yang begitu tambun, gerakannya cukup lamban, nyaris tak lincah jika dibandingkan monyet sejenis seusianya. Orang-orang di distrik Bang Khun Thian (Bangkok, Thailand) menamainya sebagai Uncle Fatty atau Paman Gembul. 

Paman Gembul mengalami obesitas yang sangat parah. Berat badannya 29 kg, adapun ukuran Macaca Bangkok berada di kisaran 8 hingga 14 kg (tergantung usia dan jenis kelamin). Paman Gembul sangat rakus terhadap makanan, dia menyukai segala jenis junk food, minuman kemasan, dan pisang yang ditawarkan masyarakat lokal atau wisatawan asing yang kebetulan lewat. Sebelum tubuhnya seekstrim itu, Paman Gembul didapati kerap mencuri makanan pengunjung jika dia sangat kelaparan. Tahun 2017, sekelompok aktivis lingkungan hidup Bangkok berusaha menyelamatkan Paman Gembul dari bahaya kegemukan ekstrim. 

Monyet dan pisang. Pernah saya mendapat pertanyaan begini dari wali kelas sewaktu SD, “makanan monyet apa anak-anak?,” sekelas serempak menjawab “pisang.” Tahukah kalian sebenarnya pisang tidak baik buat monyet. Kalori pada pisang cukup tinggi bisa menyebabkan obesitas pada monyet. Di habitat aslinya monyet tidak hanya makan buah hutan, tetapi juga umbi, rerumputan, dan serangga.

Tahun 2019 saya berkunjung ke Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, seorang teman mewanti-wanti saya agar jangan memberi makan sembarangan monyet liar di habitat aslinya, sebab mereka sudah punya makanan alaminya sendiri.

Buah hutan yang menjadi makanan alami kera ekor panjang dan orangutan di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi.
“Jika monyet diberikan makanan yang bukan makanan alamiah mereka, nanti bisa membuat monyet sakit.” Hal senada juga dituturkan Nur Herjayanti, ketua Macaca Rangers, sebuah komunitas berbasis riset dan konservasi monyet endemik Sulawesi (Macaca hecki dan Macaca tonkeana).

Tim Macaca Rangers melakukan riset persepsi masyakarat sekaligus pemetaan daerah rawan konflik Macaca hecki dan Macaca tonkeana di sekitar kawasan hutan lindung dan Cagar Alam Pangi Binangga. Hasil riset menunjukkan bahwasanya 78,57% masyarakat tidak mengetahui pakan alami monyet dan 59,62% tidak tahu kalau di kawasan tersebut terdapat monyet endemik yang terancam punah. Masih sedikitnya pengetahuan masyarakat lokal terhadap keberadaan monyet endemik Sulawesi membuat Macaca Rangers melakukan edukasi di sekolah, sosialisasi di acara Car Free Day, aksi bagi-bagi flayer ke pengguna jalan, dan Webinar Macaca Talks bertajuk “Larangan Memberi Makan Monyet: Perspektif Dokter Hewan.” Semua ini dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian monyet endemik di  Sulawesi Tengah.

Jika memberi makan monyet, permasalahan seperti apa sih yang dihadapi masyarakat setempat? Ada beberapa peristiwa yang sudah terjadi di sana seperti pencurian barang, monyet merusak hasil kebun, monyet memasuki pemukiman penduduk, dan sebagainya. Dengan memberi makan monyet maka monyet lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami perubahan perilaku. Monyet yang jinak karena sering berinteraksi dengan manusia rentan menjadi satwa yang diperjualbelikan, padahal statusnya sendiri terancam punah.

Dikutip dari Macaca Rangers, Indonesia memiliki spesies monyet Macaca terbanyak di Asia (11 jenis), 7 di antaranya merupakan monyet endemik Sulawesi. Adapun Macaca hecki dan Macaca tonkeana memiliki habitat di kawasan hutan di Sulawesi Tengah.

Kabar baiknya, kita bisa lho berkontribusi dalam pelestarian monyet endemik Sulawesi ini melalui donasi tanpa keluar uang sepeserpun. Cukup di rumah saja, tetap produktif, dan buat dunia jadi lebih baik. Hah! Bagaimana caranya? Gampang banget! Kita tinggal unduh aplikasi Campaign #ForChange di Google Play atau App Store, ikuti berbagai aksi serta challenge menarik. Melalui kampanye #AyoSelamatkanMacaca di aplikasi tersebut, Macaca Rangers ingin menggugah kesadaran dan kepedulian user yang sebagian besar merupakan milenial dan generasi Z mengenai monyet endemik (Macaca hecki dan Macaca tonkeana), aset daerah Sulawesi Tengah. 

Terdapat 4 aksi yang bisa kalian ikuti dalam Kampanye #AyoSelamatkanMacaca. Setelah menyelesaikan tantangan, kita akan mendapatkan donasi sebesar Rp20.000 dari sponsor yang akan diserahkan kepada Macaca Rangers. Saya tentunya sudah menyelesaikan tantangan ini. Kampanye tersebut berhasil meraih 419 pendukung, 1781 aksi, serta donasi sebesar Rp6.440.000.

Rencananya donasi tersebut akan digunakan untuk biaya operasional kampanye, biaya advokasi, kegiatan edukasi konservasi pada pengguna jalan trans Palu-Parigi, serta pembuatan papan bertuliskan stop memberi makan dan memelihara monyet endemik Sulawesi.
Tantangan #AyoSelamatkanMacaca berhasil saya selesaikan. Dokumentasi  pribadi
Saya pikir aplikasi Campaign #ForChange sangat seru untuk dicoba. Social action platform satu ini mengajak kita sebagai changemakers untuk produktif dari rumah, membentuk kebiasaan baik secara berkelanjutan, terukur, dan berdampak melalui serangkaian aksi dan tantangan. Berdonasi tanpa perlu keluar uang. Pilihan isu sosial pun beragam, mulai dari pendidikan, lingkungan, kesetaraan, hingga kesehatan. Aplikasi ini juga didesain mirip media sosial di mana kita bisa terkoneksi satu sama lain melalui fitur heart, comment, dan chat. Saya sendiri sudah menyelesaikan 23 challenge, 132 aksi, dan mengumpulkan donasi hingga Rp585.000. 

Achievement unlocked! Tahun lalu, Campaign #ForChange berhasil meraih penghargaan kategori Best App for Good dari Google Play Award 2020. Hingga Juli 2021 tercatat lebih dari 278 ribu aksi yang sudah dilakukan, 325 organizer terlibat, dan total dana yang telah disalurkan mencapai lebih dari 1,31 miliar rupiah.

Tampilan aplikasi Campaign #ForChange. Dokumentasi pribadi

Di masa terdampak pandemi Covid-19, kita bisa menjadi bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan. Kita pernah mengalami fase di mana masyarakat kesulitan memperoleh masker, tabung oksigen, vaksin, dan sebagainya. Kita ingin membantu orang lain, tapi dana yang ada sangat terbatas dan hanya cukup untuk diri sendiri. Saya bersyukur menemukan aplikasi Campaign #ForChange sehingga saya bisa tetap produktif di rumah sekaligus berkontribusi bagi sesama, ringankan beban saudara.

Saya ikut 2 challenge “Pulihkan Indonesia dengan #SeruDiRumah bareng Character Matters Indonesia (CMI) dan AMSA.” Setelah menyelesaikan 7 aksi selama 7 hari, saya mendapat konversi uang masing-masing Rp50.000 dari sponsor untuk 2 challenge tersebut. Donasi akan disalurkan kepada para korban terdampak Covid-19. Maka pada hari itu, berbekal aplikasi Campaign #ForChange saya berhasil mendonasikan Rp100.000 tanpa keluar uang dari kantong pribadi.
Dari rumah, kita bisa berkontribusi melestarikan monyet endemik di Sulawesi. Dari rumah, kita bisa membantu mereka yang terdampak Covid-19. Produktif dari rumah, buat dunia lebih baik bersama Campaign #ForChange, kenapa tidak? Yuk bisa yuk!

Sumber Referensi
1. Langka, Kera Bernama Uncle Fatty Ini Alami Berat Badan Berlebih, www.blog.reservasi.com. 
2. Monyet Obesitas Gara-gara Sering Diberi Makan Junk Food, www.antvklik.com. 
3. Inilah Primata Endemik Sulawesi dengan Jambul di Kepala, www.mongabai.co.id. 
4. Dilarang Kasih Makan Monyet Endemik Sulteng, Mengapa?, www.liputan6.com. 
5. Menjaga Kelestarian Monyet, Komunitas Macaca Turun Sosialisasi dan Bagi-bagi Flayer, www.kompas-sulawesi.id. 
6. Media sosial dan website Campaign #ForChange, www.campaign.com. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar