Jumat, 27 November 2020

Hutan Tidak Bicara, Tapi Hutan Punya Banyak Cerita : Jika Saya Menjadi Menteri Keuangan, Green Economy Saya Terapkan untuk Perlindungan Hutan Indonesia

Ada Cerita dari Hutan : Edisi Menyusuri Taman Nasional Sebangau

Waktu menunjukkan pukul 13.02 WIB. Saya melirik sekilas ponsel saya, lalu segera memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Mode pesawat diaktifkan, otomatis tak ada notifikasi apapun di layar ponsel. Saya hanya ingin memastikan sudah berapa lama saya berada di atas udara. Delapan belas menit lagi, pesawat Singa Merah berjenis Boeing 737-800 berkapasitas maksimal 189 penumpang ini akan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Beberapa kursi di dekat sayap pesawat banyak yang kosong, demikian pula dekat pintu keluar bagian belakang. Penerbangan dari Cengkareng menuju ibukota Kalimantan Tengah ini tak membawa full penumpang. 

Saya sedikit mual, desing mesin pesawat membuat telinga saya berkedut-kedut tak karuan. Pening di kepala semakin menjadi-jadi. Rasanya otak saya ingin meledak. Sepertinya saya mabuk udara. Padahal sehari sebelumnya, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Cengkareng saya baik-baik saja. Saya memutuskan menuju toilet. Lemas. Sekeluarnya dari toilet, saya merebahkan diri di kursi kosong yang letaknya dekat pintu keluar bagian belakang. Saya menenangkan diri barang sebentar. Dari jendela gumpalan awan tebal serupa bola-bola kapas berwarna putih segera tergantikan oleh awan kelabu. Mendung. Nampaknya rinai hujan akan menyambut kedatangan kami di Palangkaraya. Dari bawah hanya nampak lautan sejauh mata menatap. 

Beberapa menit kemudian, sebuah daratan hijau mulai nampak. Sebentar lagi saya akan mendarat di Borneo. Pesawat menukik tajam. Dari kaca jendela, saya menyaksikan hamparan pohon sawit serta kawasan hutan yang sangat luas sejauh mata memandang. Namun, semakin dekat menuju bandara, saya menyaksikan pemandangan yang menggiriskan hati. Sisa-sisa kebakaran hutan dan lahan nampak menghitam dari udara. Saya tidak bisa memastikan berapa hektar lahan yang terbakar di area sejauh ekor mata saya mengamati. Pastinya sangat luas. Sebab titik-titik hitam itu menyebar di beberapa area. 

Bekas kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya dilihat dari udara, Dokumentasi pribadi
Berkat menulis artikel dengan tema konservasi, hutan, dan keanekaragaman hayati, saya berkesempatan bertandang ke Kalimantan Tengah. Kedatangan saya ke Kalimantan Tengah tidaklah sendiri. Saya bersama Salza dan Apri bertujuan mengunjungi Taman Nasional Sebangau, sebuah kawasan konservasi dan hutan tropis yang dilindungi yang membentang sepanjang 542.141 hektare, rumah bagi lebih dari 6.000 orangutan. Di samping itu ada Kak Eka perwakilan dari Dirjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mendampingi kami bertiga. Ini adalah kali pertama saja menjejak tanah Borneo, menuju belantara hutan gambut. Saya, Salza, dan Apri sangatlah beruntung dapat kesempatan mengunjungi kawasan hijau ini. 

Kalimantan Tengah merupakan propinsi terbesar di Pulau Kalimantan, luas wilayahnya mencapai 15,4 juta hektare. Sebagian besar wilayahnya adalah hutan yang sangat luas dan lebat (12,6 juta hektare). Tanahnya bergambut dan berawa. Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut terluas setelah Papua, yakni sekitar 2,7 juta hektare.

Setibanya di Tjilik Riwut, kami disambut oleh suara merdu alat musik lokal berupa Suling Balawung dan kecapi. Tjilik Riwut merupakan bandara seluas 29.124 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.200 orang. Tjilik Riwut sendiri sebenarnya merupakan nama mantan Gubernur Kalimantan Tengah yang kemudian diabadikan menjadi sebuah bandara. 

Berkat dedikasi, kepiawaian, dan jiwa kepemimpinannya membangun Kalimantan Tengah, masyarakat adat Dayak di sana memberikan apresiasi dan penghormatan yang tinggi kepada Tjilik Riwut. Tjilik Riwut berasal dari Suku Dayak Ngaju dan dikenal juga sebagai Orang Hutan. Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di belantara hutan, Tjilik Riwut sangatlah bangga terhadap hal tersebut. Karena menguasai belantara hutan di Kalimantan dengan baik, memudahkan Tjilik Riwut berdiplomasi dan menyatukan 142 suku dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih dan 2 tumenggung sehingga mampu memimpin pertempuran melawan tirani dan penjajahan Belanda-Jepang di era kemerdekaan Indonesia. Tjilik Riwut juga didaulat sebagai komandan pasukan terjun payung pertama di Indonesia dan memimpin operasi militer menembus blokade Belanda di belantara hutan Kalimantan kala itu (17 Oktober 1947). Tjilik Riwut meninggal pada tahun 1987 Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin. Jasad beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangkaraya. Sebagai bentuk penghormatan, nama beliau disematkan sebagai nama bandara terbesar di Kalimantan Tengah.

Seandainya Tjilik Riwut masih hidup hingga saat ini, apakah beliau tidak terluka hatinya mengetahui hearth of Borneo berupa hutan di Kalimantan Tengah terbabat oleh kobaran api dan keegoisan manusia?

Mbak Arinta, karena kondisi di Palangkaraya sedang tidak bagus. Keberangkatan ini kami tunda dulu. Mohon bersabar ya. Kami pun menunggu informasi terbaru dari tim lapangan yang ditempatkan di sana. Mengenai teknis keberangkatan, nanti akan saya kabari lagi jika ada informasi lebih lanjut. Sebuah text messaging dari perwakilan KLHK masuk di whatsapp saya. Memberikan kabar terkini mengenai keadaan di ibukota Kalimantan Tengah.

Seharusnya, kami berangkat ke Kalimantan Tengah pada Bulan Agustus 2019, tetapi karena terjadi insiden karhutla, keberangkatan kami ditunda lebih dari 3 bulan. Kota Palangkaraya berselimut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut. Bahkan sekolah pun diliburkan berdasarkan Surat Instruksi Gubernur Kalteng tertanggal 13 September 2019. Dikutip dari Mongabay pada 15 September 2019, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di sana terpantau sangat membahayakan (tembus 20 kali lipat dari batas normal) dan berdampak serius pada kesehatan. Data dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada 16 September 2019 mencatat terdapat 2.637 orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kualitas udara yang sangat buruk tersebut. Hingga 19 September 2019, jumlah titik panas mencapai angka 1.996. Untuk mengatasi krisis tersebut, berbagai upaya pun dilakukan seperti melakukan pengeboman air dari udara melalui 7 helikopter (29 juta liter air digunakan) dan melibatkan lebih dari sepuluh ribu personil, termasuk para relawan. Selain itu juga dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Karhutla sepanjang 2019 membabat habis 857.756 hektare luas lahan. Terparah dalam kurun 3 tahun terakhir, dengan rincian 630.451 hektare lahan mineral dan 227.304 hektare lahan gambut (Sumber : KLHK).

Karhutla di Kalteng terjadi hampir sepanjang tahun. Bahkan di era pandemi seperti sekarang ini, masih saja terjadi karhutla, meski mengalami penurunan kejadian/intensitas jika dibandingkan tahun 2019. Berikut saya lampirkan data terkini mengenai infografik akumulasi karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah dari Januari hingga tanggal 28 Juli 2020. 
Mendung menggelayut di Tjilik Riwut. Benar saja, rintik hujan mulai turun membasahi Bumi Tambun Bungai. Waktu menunjukkan sudah hampir jam 13.40 dan perut saya sudah mulai keroncongan. Saya memastikan tas bawaan saya masih utuh dan perlengkapan seperti kamera dan ponsel masih lengkap. Kami menunggu kedatangan seseorang yang akan mengantarkan kami ke lokasi tujuan. Tak selang berapa lama, seorang anak muda datang menghampiri kami. Saya perkirakan usianya tak jauh dari kami. Dengan mengenakan kaus warna hitam dan celana jeans, anak muda ini tersenyum ramah seraya memperkenalkan diri. 

"Saya Raya, pemandu kalian. Sudah menunggu lama ya? Bentar lagi hujan. Yuk kita segera berangkat." Ujar Raya seraya membantu mengangkat barang bawaan kami di bagasi mobil. "Nanti di perjalanan kita mampir di warung makan dan Indomaret. Belilah apa yang sekiranya kalian butuhkan, sebab nanti di tengah hutan tak ada apa-apa lagi."

Saya berpikir apakah saya perlu membeli camilan? Saya suka kelaparan kalau malam. Lagi pula mana sempat saya beli-beli jajan dan menyempilkannya di tas yang sudah penuh. Oh ya, saya juga belum punya lotion antinyamuk, minyak kayu putih, dan herba jahe buat menghangatkan tubuh. 

Perjalanan via jalur darat menuju Pelabuhan Kerang Pekahi menempuh waktu kurang lebih 3 jam. Dari dermaga Kerang Pekahi, kami dijemput menggunakan perahu menyusuri Sungai Katingan. Sungai Katingan terletak di Kabupaten Katingan dan merupakan sungai terpanjang di Kalimantan Tengah. Panjangnya kurang lebih 650 km. Perjalanan via jalur sungai menuju Punggualas menempuh waktu sekitar 1 jam. Kemudian dilanjut trekking di tengah hutan sejauh 1 kilometer (sekitar 30 menit). Mulai masuk ke dalam hutan, kami berperahu lagi menyusuri Kali Punggualas menuju sebuah guest house yang berada di tengah hutan (sekitar 1 jam). 
Memasuki kawasan hutan Taman Nasional Sebangau, menyusuri Sungai Katingan. Dokumentasi pribadi
Memasuki kawasan hutan Taman Nasional Sebangau, menyusuri Sungai Katingan. Dokumentasi pribadi
Kami tiba di guest house lebih dari jam 9 malam. Fisik kami sangatlah lelah. Setelah makan malam, kami mandi dan beristirahat. Suasana cukup temaram. Pasokan listrik sangatlah terbatas. Aliran listrik berasal dari genset dan panel surya. Demi menghemat listrik kami memutuskan mematikan lampu. Tak jauh dari guest house terdengar aneka bunyi binatang malam. Berisik. Bisa jadi serangga atau kera ekor panjang. Entahlah.

                                                                             ***
Keesokan paginya, saya, Salza, Apri dan Kak Eka bersiap trekking menyusuri hutan. Kami ditemani Pak Pradiko dan Raya. Kawasan Punggualas menjadi salah satu destinasi utama di Taman Nasional Sebangau. Selain trekking menyusuri hutan, terdapat wisata minat khusus berbasis riset. Objek riset yang diamati salah satunya yakni Orangutan Borneo (Pongo pigmaeus). Cukup sulit menemui orangutan, sebab orangutan sangatlah pemalu dan berusaha menjauhi manusia. Mengamat mereka pun kudu hati-hati karena orangutan di sini sangatlah liar. Ini adalah habitat aslinya, bukan pusat penangkaran yang mana orangutan jauh lebih jinak karena sering berinteraksi dengan manusia.
Menyusuri Kali Punggualas. Dokumentasi pribadi
Trekking menjelajah hutan. Dokumentasi pribadi
Sarang orangutan yang sudah ditinggalkan. Dokumentasi pribadi
Pak Pradiko menjelaskan jenis-jenis tanaman hutan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dokumentasi pribadi
Beruntung, meski karhutla melahap sebagian besar lahan di Kalimantan Tengah, kawasan Taman Nasional Sebangau selamat dari lalapan si jago merah. Sungai Katingan yang membelah wilayah ini menjadi pembatas sekaligus pelindung sehingga api tidak sampai menjalar kemari. Masyarakat sekitar hutan yang merupakan Orang Dayak Tumbang cepat tanggap berbagi informasi mengenai karhutla. Sewaktu-waktu karhutla menyerang, masyarakat akan gotong-royong, bahu-membahu membantu memadamkan api. 

"Dulu sebelum hutan ini menjadi taman nasional, kami mengambil apa saja yang dihasilkan hutan. Kami berburu hewan-hewan dan mengambil makanan langsung dari hutan. Setelah wilayah ini menjadi kawasan konservasi, kami tidak boleh sembarangan memburu hewan. Apalagi menebang pohon sembarangan. Biasanya yang melakukan pembalakan dan pencurian kayu bukanlah orang asli sini" Urai Pak Pradiko.

"Orang Dayak itu tak sembarangan menebang pohon. Menebang satu pohon harus ada ritualnya. Kami harus meminta izin dulu dari roh leluhur, kalau tak mendapatkan izin ya kami tak jadi menebang. Kami sangat menjaga hutan ini untuk generasi selanjutnya." Penjelasan tambahan dari Pak Pradiko. Betapa rumitnya urusan menebang pohon bagi masyarakat adat Dayak.

Masyarakat Adat Dayak sangat melindungi dan menghormati hutan. Hutan dianggap sebagai ibu semesta. Hal tersebut bisa ditilik dari spirit Batang Garing dengan simbol pohon yang menjadi filosofi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah. Batang Garing jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti pohon kehidupan. Filosofi Batang Garing bisa dimaknai sebagai konsep keseimbangan. Keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan semesta. Kehancuran, pohon dan hutan berarti kehancuran semesta. Kesadaran dan kearifan lokal inilah yang membuat masyarakat adat Dayak sangat berhati-hati ketika mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.

Jika sakit, orang Dayak biasa mengambil obat-obatan dari hutan. Salah satu contoh tanaman obat yang Pak Pradiko jelaskan adalah Bajakah (Spatholobus littoralis). Bajakah sangat terkenal di seantero Kalimantan Tengah. Jika kamu berkunjung ke Kalimantan Tengah, tanya deh orang lokal mengenai Bajakah, mereka pasti tahu mengenai manfaat dari tanaman ini. Bajakah tumbuh liar (merambat) di hutan dan sudah lama digunakan dalam pengobatan tradisional masyarakat adat Dayak. Bajakah biasanya digunakan untuk mengobati sakit perut, liver, dan menghentikan luka pendarahan. Dari uji Laboratorium Kimia Bahan Alam LIPI, tanaman bajakah mengandung senyawa antioksidan aktif yang melimpah sehingga mampu menjadi penawar radikal bebas, juga antiinflamasi (mengurangi nyeri akibat peradangan). 

Hutan sudah menjadi supermarket alami bagi masyarakat adat Dayak. Di Supermarket ini mereka bisa mengambil langsung dari alam berbagai jenis tanaman obat, tanaman pangan (misal umbi-umbian, pakis, dan buah hutan), juga ikan-ikan. Di Sungai Katingan misalnya, sebagian masyarakat Dayak Tumbang bekerja sebagai nelayan dengan menjual ikan-ikan kali seperti baung, tapah, toman, patin, dan gurami.

Jika hutan ini rusak, bagaimana nasib Pak Pradiko dan kawan-kawan? 

"Ini namanya Kanal Plembang. Dulu di tempat ini kayu-kayu hutan ditebang dan dialirkan melalui kanal ini." Papar Pak Pradiko sambil menunjuk bekas kanal yang sudah mengering dan di masa lalu digunakan sebagai jalur pengiriman kayu-kayu ilegal. Setelah Taman Nasional Sebangau diresmikan, aktivitas illegal logging tersebut tentu saja berakhir. 
kanal Plembang dan sisa-sisa kayu dari aktivitas illegal logging. Dokumentasi pribadi
Hutan rumah bagi segala mahkluk, termasuk orangutan. Orangutan masuk sebagai status satwa dilindungi yang terancam kepunahannya. Orangutan tidak boleh diperdagangkan.  Populasi orangutan di Kalimantan Tengah terancam menurun akibat aktivitas perburuan liar, perusakan habitat, kebakaran hutan, dan pembalakan kayu. Saya sangat ingin menyaksikan orangutan secara langsung, tapi sayang sepanjang kami melakukan trekking, tak seekor orangutan pun menampakkan diri. Untuk mengobati rasa penasaran, Pak Pradiko menunjukkan buah hutan yang menjadi makanan orangutan.
Buah hutan yang menjadi makanan orangutan. Dokumentasi pribadi
Buah hutan yang menjadi makanan orangutan. Dokumentasi pribadi
Hutan tidak bicara, tapi hutan punya banyak cerita. Hutan menjadi habitat berbagai hewan dan tumbuhan, termasuk spesies yang terancam punah. Hutan menjadi tempat kami menapak dan menulis kisah perjalanan. Hutan menjadi supermarket alami dan menyediakan sumber daya alam melimpah bagi masyarakat sekitar. Hutan sebagai garda terdepan ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati. Hutan mempengaruhi cuaca, mengontrol curah hujan, dan penguapan air. Hutan berkontribusi signifikan pada perubahan iklim. 

Hutan tidak bicara, tapi hutan punya banyak cerita. Cerita kelam mengenai bagaimana manusia mengeksploitasi hutan, membabat habis-habisan, dan membakar ratusan ribu hektare lahan demi cuan yang menguntungkan sekelompok orang. Hutan punya cerita bagaimana api menghanguskan liang-liang ular, sarang-sarang orangutan, rumah-rumah lebah, dan satwa-satwa lainnya. Hutan punya cerita bagaimana perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan pertambangan merusak dan menyulap Ratusan ribu hektare lahan pepohonan menjadi perkebunan dan kawasan pabrik-pabrik pengolahan. Itu terjadi tidak hanya di Kalimantan Tengah, tetapi juga di Papua. Hutan menjadi saksi bisu bagaimana Suku Malind, Suku Mandobo, dan Suku Auyu di Boven Digoel (Papua) terancam kehilangan tempat bernaung dan mencari sumber penghidupan akibat pembukaan lahan sawit. 

Jika Saya Menjadi Menteri Keuangan, Green Economy Saya Terapkan untuk Perlindungan Hutan Indonesia
 
Di kelas etika bisnis dan akuntansi pengantar, 2 dosen saya menjelaskan konsep green economy, akuntansi berbasis lingkungan (green accounting), dan sustanaibility report. Isu kerusakan lingkungan, global warming, dan perubahan iklim menjadi topik yang sangat seksi untuk dibahas di kelas akuntansi sekalipun. Akuntansi tak melulu berbicara mengenai pencatatan, pengungkapan, pelaporan atas posisi keuangan (financial statement) dan aktivitas bisnis suatu perusahaan. Namun bisa saja mengungkap dampak-dampak dari suatu aktivitas bisnis. Mau bagaimanapun entitas bisnis wajib bertanggungjawab atas pencemaran lingkungan akibat dari aktivitas operasional yang dijalankan. Contoh paling gampang bisa dilihat bagaimana industri-industri skala mikro maupun makro membuang limbahnya ke sungai begitu saja tanpa pengolahan lebih lanjut.  Hal ini tentunya sudah menyalahi praktik bisnis yang beretika. Tahun 2018, Sungai Citarum menghitam dan berbau akibat sejumlah pabrik membuang limbah industrinya langsung ke aliran Sungai Citarum. Pencemaran limbah pabrik ini membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Apalagi jika limbah yang dibuang bersifat korosif, mengandung material kimia yang berbahaya, beracun, dan lain sejenisnya. 

Praktik yang menyalahi etika bisnis lainnya bisa dilihat pada bagaimana suatu perusahan membuka lahan dengan cara membakar lahan/hutan secara serampangan, tak memiliki izin AMDAL tapi tetap ngeyel beroperasi, dan bisnis yang menyalahi beberapa ketentuan prosedural terkait lingkungan hidup. 

Bercermin dari kasus-kasus yang relate dengan masalah lingkungan hidup, dibuatlah Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 yang isinya menyatakan bahwa perseroan terbatas yang bergerak dalam usaha atau kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan tanggungjawab sosial dan lingkungan berikut melampirkan laporan tahunan yang memuat informasi kinerja dan pelaksanaan tanggungjawab sosial dan lingkungan tersebut. Untuk mendukung hal itu, pada tahun 2012 pemerintah mengeluarkan Perpu No. 47 mengenai pelaksanaan tanggungjawab sosial dan lingkungan pada perusahaan jenis perseroan terbatas. Otoritas Jasa Keuangan sebagai lembaga independen yang mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan dalam sektor jasa keuangan membuat POJK Nomor 51/POJK.03/2017 berupa penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik. Meskipun korporasi-korporasi belum sepenuhnya menerapkan pelaporan berkelanjutan (sustanaibility report), adanya regulasi ini mengindikasikan Indonesia mulai sadar akan pentingnya green economy pada aktivitas bisnis.

Korporasi dan industri pada umumnya hanya mengerjakan annual/financial report, tapi tidak dengan laporan berkelanjutan. Alasannya laporan berkelanjutan sifatnya sukarela dan tidak wajib, artinya tidak membuat ya tidak apa-apa. Hanya industri yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam saja yang sudah menerapkan pelaporan jenis ini (misal perusahaan manufaktur yang berhubungan dengan pengolahan mineral). 

Jadi, jika ada yang belum paham apa itu laporan berkelanjutan, laporan jenis ini merupakan laporan yang dipublikasikan pada periode tertentu yang mengukur kinerja perusahaan pada 3 aktivitas utama : ekonomi, lingkungan, dan sosial. Adanya laporan berkelanjutan membuat publik tahu bagaimana permasalahan, risiko, dan dampak dari kegiatan ekonomi yang diciptakan perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat. 

Menjadi pemimpin dan pembuat keputusan tidaklah mudah. Pasti banyak tantangannya. Apalagi pembuat kebijakan atau regulasi. Namun, bukan berarti harus mundur dan menyerah. Pemimpin tidak harus presiden, tidak juga gubernur, apalagi walikota, pemimpin perusahaan, dan sejenisnya. Jika ada yang bertanya, "Arinta, seandainya kamu kelak menjadi pemimpin di masa depan, kamu ingin menjadi apa? Bagaimana cara kamu untuk melindungi hutan Indonesia?" Saya jawab, saya akan menjadi Menteri Keuangan. Saya memiliki cerita tentang hutan Indonesia nun jauh di Kalimantan Tengah. Tidak hanya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang turut berkontribusi untuk hutan Indonesia, Kementerian keuangan pun bisa terlibat pada upaya-upaya melindungi hutan dengan cara-cara yang lain. Jika Tjilik Riwut memimpin di lapangan, Menteri Keuangan memimpin di balik layar. 

Menteri Keuangan memimpin di bidang regulasi terkait anggaran negara dan ekonomi nasional. Menteri keuangan tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai penyusunan APBN, kebijakan fiskal, dan stabilitas keuangan negara (makroprudensial), tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia. Seandainya saya mendapat kesempatan menjadi Menteri Keuangan Indonesia, saya ingin menerapkan green economy berikut regulasinya untuk perlindungan hutan yang lebih baik dan wujud komitmen terhadap isu perubahan iklim. Berikut regulasi yang akan saya buat :

1. Laporan berkelanjutan menjadi wajib bagi semua entitas bisnis atau korporasi baik skala mikro maupun makro. Bagi perusahaan yang memiliki aktivitas terkait dengan pengelolaan sumber daya alam (misal perkebunan kelapa sawit), tetapi tidak membuat laporan ini, maka akan dikenakan sanksi tegas/pinalti, baik secara material dan nonmaterial. Namun, perusahaan yang memiliki performa baik dan berdampak positif pada masyarakat dalam skala luas, maka akan mendapatkan insentif berupa potongan pajak dari pemerintah. Perusahaan yang melakukan aktivitas operasional dengan membabat dan merusak hutan secara ilegal akan mendapat sanksi hingga pencabutan izin usaha jika pelanggarannya berat dan terbukti di pengadilan.

2. Menerapkan Green Tax Indonesia. Pajak hijau bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa negara seperti Australia, Belgia, Kanada, Inggris, Jepang, dan Korea sudah mengaplikasikan pajak jenis ini. Dalam laporan bertajuk The KPMG Green Tax Index, An Exploration of Green Tax Incentives and Penalties, menyebutkan bahwa negara-negara yang telah memberlakukan pajak hijau ini mempengaruhi aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan efisiensi energi, karbon dan perubahan iklim, green innovation, energi terbarukan, kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan, efisiensi penggunaan air, efisiensi sampah dan bahan mentah, terakhir pengendalian polusi/limbah dan perlindungan ekosistem. Misal perusahaan yang tidak ramah terhadap pengelolaan limbah akan dikenakan jenis pajak ini. Sehingga mau tidak mau perusahaan membuat inovasi agar limbah produksinya terfilter dengan baik lagi aman sebelum dibuang, serta tidak mencemari lingkungan. Diharapkan penerapan pajak hijau pada industri manufaktur berat dan berbasis SDA mampu meminimalisasi laju deforestasi di Indonesia. Green Tax bisa menjadi solusi mendanai proyek-proyek green infrastructure seperti ruang terbuka hijau di tengah kota, juga riset bahan bakar ramah lingkungan/energi terbarukan, mitigasi bencana karhutla di Kalimantan Tengah, penananaman kembali hutan-hutan yang gundul, dan lain sebagainya.

3. Menerapkan regulasi mengenai kerangka pelaporan keuangan berstandar ESG (Environment, Social, Governance). Empat kantor akuntan publik terbesar di dunia (The Big Four) menginisiasi laporan keuangan berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola. Dengan mengadopsi model standar ini, mendorong pemilik modal berinvestasi di sektor ESG. Jika standar ini digunakan secara luas, diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku dalam berinvestasi. Investor bisa saja akan mempertimbangkan jika menggelontorkan uangnya pada perusahaan-perusahaan yang memiliki dampak negatif pada perusakan hutan dan lingkungan. Bicara investasi, kita bisa mengambil contoh negara Jerman yang telah menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan (green bond) di era pandemi. Tahun 2020 ini, Jerman berada di posisi teratas sebagai negara yang berhasil menghimpun dana investasi dari instrumen surat utang untuk mendanai proyek-proyek berwawasan lingkungan dan mendorong perubahan iklim. Adapun dana yang berhasil dihimpun dari penerbitan obligasi jenis ini yakni mencapai 6,5 juta Euro atau setara 113,5 triliun rupiah (kurs 1 Euro = Rp. 17.465). 

Dari sisi perusahaan, kerangka pelaporan keuangan berstandar ESG menimbulkan pencatatan dan pengungkapan akuntansi atas biaya lingkungan (environmental cost) atau akuntansi hijau. Munculnya environmental cost merupakan konsekuensi perusahaan atas aktivitas bisnisnya yang berdampak pada lingkungan hidup dan masyarakat.

4. Bersama lembaga serta kementerian lain mensosialisasikan literasi lingkungan hidup. Misalkan dengan Kementerian Pendidikan dan KLHK memperkenalkan literasi lingkungan hidup ke dalam kurikulum atau media ajar (buku cetak). Literasi lingkungan hidup memuat informasi bagaimana Peran Generasi Muda dan upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di masa yang akan datang. Selain itu, membuat kebijakan yang mewajibkan menanam 1 pohon bagi setiap peserta didik ketika menempuh tahun ajaran baru. 

5. Selain menggunakan anggaran dari APBN, mencari sumber-sumber pendanaan lain untuk segala hal yang berhubungan dengan aktivitas perlindungan hutan Indonesia, konservasi, dan upaya-upaya yang mendorong perubahan iklim. 

Kita semua adalah pemimpin, terutama pemimpin bagi diri sendiri. Kita mampu kok memimpin diri dalam menjaga kelestarian lingkungan, melindungi hutan, dan mendorong perubahan iklim. Mari kita ambil peran sebagai golongan hutan. Golongan hutan adalah gabungan berbagai organisasi masyaraka bidang lingkungan hidup yang mengajak anak-anak muda Indonesia untuk bangga akan kehebatan hutan kita dan berkontribusi positif menjaga kelestariannya.

Langkah-langkah kecil yang sudah saya lakukan di antaranya :

1. Tidak membuang sampah ketika menjelajah hutan. Perilaku ini kelihatannya sepele dan sederhana, nyatanya sulit dilakukan bagi mereka yang terbiasa membuang sampah sembarangan. Beneran, lihat deh di gunung-gunung, sepanjang trekking, pastilah ada satu dua botol plastik atau kemasan snack yang dilempar begitu saja. Untuk mengantisipasi kebiasaan buruk ini, saya memilih menyiapkan kantung sampah pribadi yang diletakkan di dalam tas. Saya menahan diri supaya tidak berlaku gegabah. Please, buang sampah di hutan itu tidak keren. Karena hutan bukan tempat sampah!
"Hutan Bukan Tempat Sampah" di Punggualas, Taman Nasional Sebangau. Dokumentasi pribadi
2. Membagikan kisah inspiratif mengenai perjalanan menjelajah hutan di media sosial atau blog supaya pembaca digital teredukasi. Sebelum menulis artikel ini, saya sudah membuat utas di twitter yang mengulas perjalanan saya ke Taman Nasional Sebangau. Tulisan tersebut memiliki hampir 8.000 view dan tentunya bertambah setiap bulan. Melalui utas tersebut, saya ingin berbagi kisah mengenai hutan yang tidak berbicara, tetapi punya banyak cerita. Manis getirnya cerita hutan Indonesia, bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda di masa depan. Sejujurnya, kita butuh banyak cerita positif yang kelak bisa disampaikan kepada anak cucu kita. 

Kamu? Apakah punya cerita asyik mengenai hutan? Adakah mimpi-mimpi yang ingin kamu sampaikan seandainya menjadi pemimpin dan mendorong perlindungan hutan? Yuk cerita di kolom komentar.

 Sumber referensi :

  • Pengalaman pribadi
  • Website Golongan Hutan di www.golonganhutan.id dan media sosial Golongan Hutan.
  • Begini Caranya Masyarakat Adat di Kalimantan Tengah Mengantisipasi Kebakaran Hutan, mongabai.co.id 
  • Hutan Adalah Supermarket Alam, kompas.id
  • Air Mata untuk Hutan Kalimantan, kompas.id
  • Spirit Batang Garing di antara Deforestasi, kompas.id
  • Hutan Hujan Menyediakan Rumah Bagi Tumbuhan dan Hewan, mongabai.co.id
  • Data-data tentang Kebakaran Hutan di Kalimantan, news.detik.com
  • Menembus Lebatnya Hutan, Petualangan ke Jantung Borneo, travel.detik.com
  • Bandar Udara Tjilik Riwut, wikipedia.org
  • Satu Lagu, Monitoring Orangutan di Taman Nasional Sebangau, ksdae.menhlk.go.id
  • Melestarikan Orangutan Melalui Ekowisata, Usaid Lestari
  • Peraturan OJK, ojk.go.id
  • Undang-undang N0. 40 Tentang Perseroan Terbatas, ojk.go.id
  • Pasar Obligasi Makin Menarik Usai Jerman Terbitkan Green Bond, katadata.co.id
  • Laporan KPMG global

18 komentar:

  1. Sedih lihatnya, rumah orangutan sudah lenyap :(

    BalasHapus
  2. Pas ada kebakaran hutan di Palangkaraya, sekitar tahun 2016, baru kali itu saya melihat kondisi udara yang maaf kata, menjijikkan banget baik dari segi penampakan maupun kualitas. Kuning dan kotor. Padahal, hutan mempunyai banyak manfaat buat masyarakat tapi yaa gitu dehh...uang lebih berkuasa kayaknya mbak.

    BalasHapus
  3. Sedih ya lihatnya, yang dulu Negara kita di sebut Zamrud Katulistiwa tapi sekarang entah apa sebutannya, itu karena orang-orang serakah yg mementingkan pribadi tanpa melihat lingkungan.

    Lihat saja kalau nanti hutan Kalimantan sudah berubah jadi sawit, maka sumber air perlahan akan menghilang dan otomatis bencana akan datang.

    BalasHapus
  4. Kebakaran hutan di Kalimantan tak pernah ada habisnya ya, Mba. Walau ari informasi yang pernah saya dengar titik nyala api tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya. Walau begitu tetap saja, alangkah baiknya jika kebakaran hutan segera teratasi dengan baik.
    Menjaga lingkungan dan hutan tidak hanya tugas KLHK tapi menjadi tugas kita bersama.

    BalasHapus
  5. Kalimantan punya hutan yang sangat luas ya Mbak... Sungainya juga lebar dan panjang. Saya pernah menyaksikan youtuber menangkap ikan di sungai Kalimantan. Ikannya banyak sekali di bawah air sana. Banyak macamnya pula.

    Begitu pula dengan hutan yang di dalamnya menjadi supermarket masyarakat adat di sana. Sangat prihatin jika terjadi karhutla. Lebih miris jika akibat ulah keserakahan manusia. Hmmm..

    BalasHapus
  6. Sedih banget bacanya, Mbak. Entah kenapa banyak orang nggak punya hati, demi keuntungan pribadi, mesti mengusik hak semua orang dan juga hewan yang mestinya mendapatkan tempat tinggal aman. Kebakaran hutan seperti tak ada habisnya, tapi untuk mengembalikan hutan seperti semula nggak semudah yang dibayangkan. Menjadi sangat istimewa bisa menjelajah langsung dan melihat tempat tinggal orang utan ya, Mbak..keren.

    BalasHapus
  7. salah satu bukunya Tjilik Riwut ini jadi favorit saya ketika menulis tentang perempuan suku Dayak, kebetulan menjadi salah satu referensi untuk thesis saya. duh jadi kangen banget sama Borneo hutannya yang masih asri dan tenang banget. Semoga hutan kita makin terjaga ya mba Arinta

    BalasHapus
  8. aku percaya jika semua orang melakukan hal kecil yang mbak lakukan pasti hal kecil itu jadi hal besar. huhu
    semoga makin banyak yang sadar untuk peduli dengan hutan dan orangutan ya, :(

    BalasHapus
  9. Sedih ya mendengar ada kebakaran hutan ini. Pasti banyak hewan2 jadi kehilangan tempat tinggalnya. Memang harus dijaga kelestarian hutan ini. Btw, buah hutan itu rasanya seperti apa?

    BalasHapus
  10. Aku suka lhoo baca tulisan Mbak Arinta ini. Mengalir dan gak bosenin.
    Beruntung sekali, ya, bisa menjadi salah satu pemenang dalam penulisan artikel tentang hutan dan konservasi alam. Semoga makin banyak generasi muda yg aware dengan masalah lingkungan hidup. Semangattt!!

    BalasHapus
  11. Generasi jaman now sebisa mungkin tidak hanya melek digital tetapi juga melek untuk berbicara soal hutan dalam usaha menjaganya, karena hutan adalah sumber segalanya buat kehidupan

    BalasHapus
  12. Wah pengalaman yang tidak terlupakan entunya mbaka Rin. Sekilas buahnya mirip duku ya mbak. Semoga cita2 mulia mbaka Rin bisa terwujud yaa

    BalasHapus
  13. Beneran masuk hutan mba Rin, melihat semua kekayaan hayati hutan Indonesia. Sedih rumah orang utan yang sudah tersingkir. Banyak buah hutan juga ya

    BalasHapus
  14. Kalo mau liat orang utan dan juga hutan yang masih terjaga maen maen ke tempatku mbk.. di taman nasional tanjung puting, kumai,,kalteng

    BalasHapus
  15. Wah beruntungnya Mbak bisa jadi salah satu pemenang tulisan bertema hutan dan dapat kesempatan mengunjungi langsung hutan tapi yah sedihnya itu ya Mbak sampai saat ini masih sering terjadi kebakaran hutan. Bukan cuma di wilayah Kalimantan dam Sumatera saja, di Papua pun sudah banyak hutan yang hilang akibat oknum2 yang tidak bertanggung jawab. Well semoga mimpi Mbak ini bisa terwujud

    BalasHapus
  16. Ngomongin tentang Bajakah, ini yang pernah viral untuk pengobatan kanker itu kan, Mbak? Ibuku pernah dapat dari teman yang jenguk ibu pas sakit.

    Sedih memang kalau lihat hutan yang bobrok, penghuninya mau di kemanakan? Kasihan.

    Aku sampai berpikir, kenapa nggak dilarang saja sih orang-orang masuk hutan. Seperti ada kisah hutan larangan yang memang gak boleh disentuh sama manusia tuh. Hutannya masih oke sampai sekarang dan manfaat yang merasakan siapa kalau bukan manusia sendiri.

    BalasHapus
  17. Wahhhh ini artikel yang memang ya, emang layak menang sih kak. Perpaduan data dan storynya itu lho, terasa seksi ketika dibaca. Selamat Kak Arinta :D

    BalasHapus
  18. Saya bw saat Kalimantan sedang dilanda Banjir. Ya Allah sedih sekali memang keadaannya seperti itu. Hutan banyak yang dibakar dan penanaman sawit makin masif

    BalasHapus