Jumat, 27 November 2020

Hutan Tidak Bicara, Tapi Hutan Punya Banyak Cerita : Jika Saya Menjadi Menteri Keuangan, Green Economy Saya Terapkan untuk Perlindungan Hutan Indonesia

Ada Cerita dari Hutan : Edisi Menyusuri Taman Nasional Sebangau

Waktu menunjukkan pukul 13.02 WIB. Saya melirik sekilas ponsel saya, lalu segera memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Mode pesawat diaktifkan, otomatis tak ada notifikasi apapun di layar ponsel. Saya hanya ingin memastikan sudah berapa lama saya berada di atas udara. Delapan belas menit lagi, pesawat Singa Merah berjenis Boeing 737-800 berkapasitas maksimal 189 penumpang ini akan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Beberapa kursi di dekat sayap pesawat banyak yang kosong, demikian pula dekat pintu keluar bagian belakang. Penerbangan dari Cengkareng menuju ibukota Kalimantan Tengah ini tak membawa full penumpang. 

Saya sedikit mual, desing mesin pesawat membuat telinga saya berkedut-kedut tak karuan. Pening di kepala semakin menjadi-jadi. Rasanya otak saya ingin meledak. Sepertinya saya mabuk udara. Padahal sehari sebelumnya, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Cengkareng saya baik-baik saja. Saya memutuskan menuju toilet. Lemas. Sekeluarnya dari toilet, saya merebahkan diri di kursi kosong yang letaknya dekat pintu keluar bagian belakang. Saya menenangkan diri barang sebentar. Dari jendela gumpalan awan tebal serupa bola-bola kapas berwarna putih segera tergantikan oleh awan kelabu. Mendung. Nampaknya rinai hujan akan menyambut kedatangan kami di Palangkaraya. Dari bawah hanya nampak lautan sejauh mata menatap. 

Beberapa menit kemudian, sebuah daratan hijau mulai nampak. Sebentar lagi saya akan mendarat di Borneo. Pesawat menukik tajam. Dari kaca jendela, saya menyaksikan hamparan pohon sawit serta kawasan hutan yang sangat luas sejauh mata memandang. Namun, semakin dekat menuju bandara, saya menyaksikan pemandangan yang menggiriskan hati. Sisa-sisa kebakaran hutan dan lahan nampak menghitam dari udara. Saya tidak bisa memastikan berapa hektar lahan yang terbakar di area sejauh ekor mata saya mengamati. Pastinya sangat luas. Sebab titik-titik hitam itu menyebar di beberapa area. 

Bekas kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya dilihat dari udara, Dokumentasi pribadi
Berkat menulis artikel dengan tema konservasi, hutan, dan keanekaragaman hayati, saya berkesempatan bertandang ke Kalimantan Tengah. Kedatangan saya ke Kalimantan Tengah tidaklah sendiri. Saya bersama Salza dan Apri bertujuan mengunjungi Taman Nasional Sebangau, sebuah kawasan konservasi dan hutan tropis yang dilindungi yang membentang sepanjang 542.141 hektare, rumah bagi lebih dari 6.000 orangutan. Di samping itu ada Kak Eka perwakilan dari Dirjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mendampingi kami bertiga. Ini adalah kali pertama saja menjejak tanah Borneo, menuju belantara hutan gambut. Saya, Salza, dan Apri sangatlah beruntung dapat kesempatan mengunjungi kawasan hijau ini. 

Kalimantan Tengah merupakan propinsi terbesar di Pulau Kalimantan, luas wilayahnya mencapai 15,4 juta hektare. Sebagian besar wilayahnya adalah hutan yang sangat luas dan lebat (12,6 juta hektare). Tanahnya bergambut dan berawa. Kalimantan Tengah memiliki lahan gambut terluas setelah Papua, yakni sekitar 2,7 juta hektare.

Setibanya di Tjilik Riwut, kami disambut oleh suara merdu alat musik lokal berupa Suling Balawung dan kecapi. Tjilik Riwut merupakan bandara seluas 29.124 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.200 orang. Tjilik Riwut sendiri sebenarnya merupakan nama mantan Gubernur Kalimantan Tengah yang kemudian diabadikan menjadi sebuah bandara. 

Berkat dedikasi, kepiawaian, dan jiwa kepemimpinannya membangun Kalimantan Tengah, masyarakat adat Dayak di sana memberikan apresiasi dan penghormatan yang tinggi kepada Tjilik Riwut. Tjilik Riwut berasal dari Suku Dayak Ngaju dan dikenal juga sebagai Orang Hutan. Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di belantara hutan, Tjilik Riwut sangatlah bangga terhadap hal tersebut. Karena menguasai belantara hutan di Kalimantan dengan baik, memudahkan Tjilik Riwut berdiplomasi dan menyatukan 142 suku dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih dan 2 tumenggung sehingga mampu memimpin pertempuran melawan tirani dan penjajahan Belanda-Jepang di era kemerdekaan Indonesia. Tjilik Riwut juga didaulat sebagai komandan pasukan terjun payung pertama di Indonesia dan memimpin operasi militer menembus blokade Belanda di belantara hutan Kalimantan kala itu (17 Oktober 1947). Tjilik Riwut meninggal pada tahun 1987 Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin. Jasad beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangkaraya. Sebagai bentuk penghormatan, nama beliau disematkan sebagai nama bandara terbesar di Kalimantan Tengah.

Seandainya Tjilik Riwut masih hidup hingga saat ini, apakah beliau tidak terluka hatinya mengetahui hearth of Borneo berupa hutan di Kalimantan Tengah terbabat oleh kobaran api dan keegoisan manusia?

Mbak Arinta, karena kondisi di Palangkaraya sedang tidak bagus. Keberangkatan ini kami tunda dulu. Mohon bersabar ya. Kami pun menunggu informasi terbaru dari tim lapangan yang ditempatkan di sana. Mengenai teknis keberangkatan, nanti akan saya kabari lagi jika ada informasi lebih lanjut. Sebuah text messaging dari perwakilan KLHK masuk di whatsapp saya. Memberikan kabar terkini mengenai keadaan di ibukota Kalimantan Tengah.

Seharusnya, kami berangkat ke Kalimantan Tengah pada Bulan Agustus 2019, tetapi karena terjadi insiden karhutla, keberangkatan kami ditunda lebih dari 3 bulan. Kota Palangkaraya berselimut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut. Bahkan sekolah pun diliburkan berdasarkan Surat Instruksi Gubernur Kalteng tertanggal 13 September 2019. Dikutip dari Mongabay pada 15 September 2019, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di sana terpantau sangat membahayakan (tembus 20 kali lipat dari batas normal) dan berdampak serius pada kesehatan. Data dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada 16 September 2019 mencatat terdapat 2.637 orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kualitas udara yang sangat buruk tersebut. Hingga 19 September 2019, jumlah titik panas mencapai angka 1.996. Untuk mengatasi krisis tersebut, berbagai upaya pun dilakukan seperti melakukan pengeboman air dari udara melalui 7 helikopter (29 juta liter air digunakan) dan melibatkan lebih dari sepuluh ribu personil, termasuk para relawan. Selain itu juga dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Karhutla sepanjang 2019 membabat habis 857.756 hektare luas lahan. Terparah dalam kurun 3 tahun terakhir, dengan rincian 630.451 hektare lahan mineral dan 227.304 hektare lahan gambut (Sumber : KLHK).

Karhutla di Kalteng terjadi hampir sepanjang tahun. Bahkan di era pandemi seperti sekarang ini, masih saja terjadi karhutla, meski mengalami penurunan kejadian/intensitas jika dibandingkan tahun 2019. Berikut saya lampirkan data terkini mengenai infografik akumulasi karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah dari Januari hingga tanggal 28 Juli 2020. 
Mendung menggelayut di Tjilik Riwut. Benar saja, rintik hujan mulai turun membasahi Bumi Tambun Bungai. Waktu menunjukkan sudah hampir jam 13.40 dan perut saya sudah mulai keroncongan. Saya memastikan tas bawaan saya masih utuh dan perlengkapan seperti kamera dan ponsel masih lengkap. Kami menunggu kedatangan seseorang yang akan mengantarkan kami ke lokasi tujuan. Tak selang berapa lama, seorang anak muda datang menghampiri kami. Saya perkirakan usianya tak jauh dari kami. Dengan mengenakan kaus warna hitam dan celana jeans, anak muda ini tersenyum ramah seraya memperkenalkan diri. 

"Saya Raya, pemandu kalian. Sudah menunggu lama ya? Bentar lagi hujan. Yuk kita segera berangkat." Ujar Raya seraya membantu mengangkat barang bawaan kami di bagasi mobil. "Nanti di perjalanan kita mampir di warung makan dan Indomaret. Belilah apa yang sekiranya kalian butuhkan, sebab nanti di tengah hutan tak ada apa-apa lagi."

Saya berpikir apakah saya perlu membeli camilan? Saya suka kelaparan kalau malam. Lagi pula mana sempat saya beli-beli jajan dan menyempilkannya di tas yang sudah penuh. Oh ya, saya juga belum punya lotion antinyamuk, minyak kayu putih, dan herba jahe buat menghangatkan tubuh. 

Perjalanan via jalur darat menuju Pelabuhan Kerang Pekahi menempuh waktu kurang lebih 3 jam. Dari dermaga Kerang Pekahi, kami dijemput menggunakan perahu menyusuri Sungai Katingan. Sungai Katingan terletak di Kabupaten Katingan dan merupakan sungai terpanjang di Kalimantan Tengah. Panjangnya kurang lebih 650 km. Perjalanan via jalur sungai menuju Punggualas menempuh waktu sekitar 1 jam. Kemudian dilanjut trekking di tengah hutan sejauh 1 kilometer (sekitar 30 menit). Mulai masuk ke dalam hutan, kami berperahu lagi menyusuri Kali Punggualas menuju sebuah guest house yang berada di tengah hutan (sekitar 1 jam). 
Memasuki kawasan hutan Taman Nasional Sebangau, menyusuri Sungai Katingan. Dokumentasi pribadi
Memasuki kawasan hutan Taman Nasional Sebangau, menyusuri Sungai Katingan. Dokumentasi pribadi
Kami tiba di guest house lebih dari jam 9 malam. Fisik kami sangatlah lelah. Setelah makan malam, kami mandi dan beristirahat. Suasana cukup temaram. Pasokan listrik sangatlah terbatas. Aliran listrik berasal dari genset dan panel surya. Demi menghemat listrik kami memutuskan mematikan lampu. Tak jauh dari guest house terdengar aneka bunyi binatang malam. Berisik. Bisa jadi serangga atau kera ekor panjang. Entahlah.

                                                                             ***
Keesokan paginya, saya, Salza, Apri dan Kak Eka bersiap trekking menyusuri hutan. Kami ditemani Pak Pradiko dan Raya. Kawasan Punggualas menjadi salah satu destinasi utama di Taman Nasional Sebangau. Selain trekking menyusuri hutan, terdapat wisata minat khusus berbasis riset. Objek riset yang diamati salah satunya yakni Orangutan Borneo (Pongo pigmaeus). Cukup sulit menemui orangutan, sebab orangutan sangatlah pemalu dan berusaha menjauhi manusia. Mengamat mereka pun kudu hati-hati karena orangutan di sini sangatlah liar. Ini adalah habitat aslinya, bukan pusat penangkaran yang mana orangutan jauh lebih jinak karena sering berinteraksi dengan manusia.
Menyusuri Kali Punggualas. Dokumentasi pribadi
Trekking menjelajah hutan. Dokumentasi pribadi
Sarang orangutan yang sudah ditinggalkan. Dokumentasi pribadi
Pak Pradiko menjelaskan jenis-jenis tanaman hutan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dokumentasi pribadi
Beruntung, meski karhutla melahap sebagian besar lahan di Kalimantan Tengah, kawasan Taman Nasional Sebangau selamat dari lalapan si jago merah. Sungai Katingan yang membelah wilayah ini menjadi pembatas sekaligus pelindung sehingga api tidak sampai menjalar kemari. Masyarakat sekitar hutan yang merupakan Orang Dayak Tumbang cepat tanggap berbagi informasi mengenai karhutla. Sewaktu-waktu karhutla menyerang, masyarakat akan gotong-royong, bahu-membahu membantu memadamkan api. 

"Dulu sebelum hutan ini menjadi taman nasional, kami mengambil apa saja yang dihasilkan hutan. Kami berburu hewan-hewan dan mengambil makanan langsung dari hutan. Setelah wilayah ini menjadi kawasan konservasi, kami tidak boleh sembarangan memburu hewan. Apalagi menebang pohon sembarangan. Biasanya yang melakukan pembalakan dan pencurian kayu bukanlah orang asli sini" Urai Pak Pradiko.

"Orang Dayak itu tak sembarangan menebang pohon. Menebang satu pohon harus ada ritualnya. Kami harus meminta izin dulu dari roh leluhur, kalau tak mendapatkan izin ya kami tak jadi menebang. Kami sangat menjaga hutan ini untuk generasi selanjutnya." Penjelasan tambahan dari Pak Pradiko. Betapa rumitnya urusan menebang pohon bagi masyarakat adat Dayak.

Masyarakat Adat Dayak sangat melindungi dan menghormati hutan. Hutan dianggap sebagai ibu semesta. Hal tersebut bisa ditilik dari spirit Batang Garing dengan simbol pohon yang menjadi filosofi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah. Batang Garing jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti pohon kehidupan. Filosofi Batang Garing bisa dimaknai sebagai konsep keseimbangan. Keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan semesta. Kehancuran, pohon dan hutan berarti kehancuran semesta. Kesadaran dan kearifan lokal inilah yang membuat masyarakat adat Dayak sangat berhati-hati ketika mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.

Jika sakit, orang Dayak biasa mengambil obat-obatan dari hutan. Salah satu contoh tanaman obat yang Pak Pradiko jelaskan adalah Bajakah (Spatholobus littoralis). Bajakah sangat terkenal di seantero Kalimantan Tengah. Jika kamu berkunjung ke Kalimantan Tengah, tanya deh orang lokal mengenai Bajakah, mereka pasti tahu mengenai manfaat dari tanaman ini. Bajakah tumbuh liar (merambat) di hutan dan sudah lama digunakan dalam pengobatan tradisional masyarakat adat Dayak. Bajakah biasanya digunakan untuk mengobati sakit perut, liver, dan menghentikan luka pendarahan. Dari uji Laboratorium Kimia Bahan Alam LIPI, tanaman bajakah mengandung senyawa antioksidan aktif yang melimpah sehingga mampu menjadi penawar radikal bebas, juga antiinflamasi (mengurangi nyeri akibat peradangan). 

Hutan sudah menjadi supermarket alami bagi masyarakat adat Dayak. Di Supermarket ini mereka bisa mengambil langsung dari alam berbagai jenis tanaman obat, tanaman pangan (misal umbi-umbian, pakis, dan buah hutan), juga ikan-ikan. Di Sungai Katingan misalnya, sebagian masyarakat Dayak Tumbang bekerja sebagai nelayan dengan menjual ikan-ikan kali seperti baung, tapah, toman, patin, dan gurami.

Jika hutan ini rusak, bagaimana nasib Pak Pradiko dan kawan-kawan? 

"Ini namanya Kanal Plembang. Dulu di tempat ini kayu-kayu hutan ditebang dan dialirkan melalui kanal ini." Papar Pak Pradiko sambil menunjuk bekas kanal yang sudah mengering dan di masa lalu digunakan sebagai jalur pengiriman kayu-kayu ilegal. Setelah Taman Nasional Sebangau diresmikan, aktivitas illegal logging tersebut tentu saja berakhir. 
kanal Plembang dan sisa-sisa kayu dari aktivitas illegal logging. Dokumentasi pribadi
Hutan rumah bagi segala mahkluk, termasuk orangutan. Orangutan masuk sebagai status satwa dilindungi yang terancam kepunahannya. Orangutan tidak boleh diperdagangkan.  Populasi orangutan di Kalimantan Tengah terancam menurun akibat aktivitas perburuan liar, perusakan habitat, kebakaran hutan, dan pembalakan kayu. Saya sangat ingin menyaksikan orangutan secara langsung, tapi sayang sepanjang kami melakukan trekking, tak seekor orangutan pun menampakkan diri. Untuk mengobati rasa penasaran, Pak Pradiko menunjukkan buah hutan yang menjadi makanan orangutan.
Buah hutan yang menjadi makanan orangutan. Dokumentasi pribadi
Buah hutan yang menjadi makanan orangutan. Dokumentasi pribadi
Hutan tidak bicara, tapi hutan punya banyak cerita. Hutan menjadi habitat berbagai hewan dan tumbuhan, termasuk spesies yang terancam punah. Hutan menjadi tempat kami menapak dan menulis kisah perjalanan. Hutan menjadi supermarket alami dan menyediakan sumber daya alam melimpah bagi masyarakat sekitar. Hutan sebagai garda terdepan ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati. Hutan mempengaruhi cuaca, mengontrol curah hujan, dan penguapan air. Hutan berkontribusi signifikan pada perubahan iklim. 

Hutan tidak bicara, tapi hutan punya banyak cerita. Cerita kelam mengenai bagaimana manusia mengeksploitasi hutan, membabat habis-habisan, dan membakar ratusan ribu hektare lahan demi cuan yang menguntungkan sekelompok orang. Hutan punya cerita bagaimana api menghanguskan liang-liang ular, sarang-sarang orangutan, rumah-rumah lebah, dan satwa-satwa lainnya. Hutan punya cerita bagaimana perusahaan-perusahaan kelapa sawit dan pertambangan merusak dan menyulap Ratusan ribu hektare lahan pepohonan menjadi perkebunan dan kawasan pabrik-pabrik pengolahan. Itu terjadi tidak hanya di Kalimantan Tengah, tetapi juga di Papua. Hutan menjadi saksi bisu bagaimana Suku Malind, Suku Mandobo, dan Suku Auyu di Boven Digoel (Papua) terancam kehilangan tempat bernaung dan mencari sumber penghidupan akibat pembukaan lahan sawit. 

Jika Saya Menjadi Menteri Keuangan, Green Economy Saya Terapkan untuk Perlindungan Hutan Indonesia
 
Di kelas etika bisnis dan akuntansi pengantar, 2 dosen saya menjelaskan konsep green economy, akuntansi berbasis lingkungan (green accounting), dan sustanaibility report. Isu kerusakan lingkungan, global warming, dan perubahan iklim menjadi topik yang sangat seksi untuk dibahas di kelas akuntansi sekalipun. Akuntansi tak melulu berbicara mengenai pencatatan, pengungkapan, pelaporan atas posisi keuangan (financial statement) dan aktivitas bisnis suatu perusahaan. Namun bisa saja mengungkap dampak-dampak dari suatu aktivitas bisnis. Mau bagaimanapun entitas bisnis wajib bertanggungjawab atas pencemaran lingkungan akibat dari aktivitas operasional yang dijalankan. Contoh paling gampang bisa dilihat bagaimana industri-industri skala mikro maupun makro membuang limbahnya ke sungai begitu saja tanpa pengolahan lebih lanjut.  Hal ini tentunya sudah menyalahi praktik bisnis yang beretika. Tahun 2018, Sungai Citarum menghitam dan berbau akibat sejumlah pabrik membuang limbah industrinya langsung ke aliran Sungai Citarum. Pencemaran limbah pabrik ini membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Apalagi jika limbah yang dibuang bersifat korosif, mengandung material kimia yang berbahaya, beracun, dan lain sejenisnya. 

Praktik yang menyalahi etika bisnis lainnya bisa dilihat pada bagaimana suatu perusahan membuka lahan dengan cara membakar lahan/hutan secara serampangan, tak memiliki izin AMDAL tapi tetap ngeyel beroperasi, dan bisnis yang menyalahi beberapa ketentuan prosedural terkait lingkungan hidup. 

Bercermin dari kasus-kasus yang relate dengan masalah lingkungan hidup, dibuatlah Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 yang isinya menyatakan bahwa perseroan terbatas yang bergerak dalam usaha atau kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam, wajib melaksanakan tanggungjawab sosial dan lingkungan berikut melampirkan laporan tahunan yang memuat informasi kinerja dan pelaksanaan tanggungjawab sosial dan lingkungan tersebut. Untuk mendukung hal itu, pada tahun 2012 pemerintah mengeluarkan Perpu No. 47 mengenai pelaksanaan tanggungjawab sosial dan lingkungan pada perusahaan jenis perseroan terbatas. Otoritas Jasa Keuangan sebagai lembaga independen yang mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan dalam sektor jasa keuangan membuat POJK Nomor 51/POJK.03/2017 berupa penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik. Meskipun korporasi-korporasi belum sepenuhnya menerapkan pelaporan berkelanjutan (sustanaibility report), adanya regulasi ini mengindikasikan Indonesia mulai sadar akan pentingnya green economy pada aktivitas bisnis.

Korporasi dan industri pada umumnya hanya mengerjakan annual/financial report, tapi tidak dengan laporan berkelanjutan. Alasannya laporan berkelanjutan sifatnya sukarela dan tidak wajib, artinya tidak membuat ya tidak apa-apa. Hanya industri yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam saja yang sudah menerapkan pelaporan jenis ini (misal perusahaan manufaktur yang berhubungan dengan pengolahan mineral). 

Jadi, jika ada yang belum paham apa itu laporan berkelanjutan, laporan jenis ini merupakan laporan yang dipublikasikan pada periode tertentu yang mengukur kinerja perusahaan pada 3 aktivitas utama : ekonomi, lingkungan, dan sosial. Adanya laporan berkelanjutan membuat publik tahu bagaimana permasalahan, risiko, dan dampak dari kegiatan ekonomi yang diciptakan perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat. 

Menjadi pemimpin dan pembuat keputusan tidaklah mudah. Pasti banyak tantangannya. Apalagi pembuat kebijakan atau regulasi. Namun, bukan berarti harus mundur dan menyerah. Pemimpin tidak harus presiden, tidak juga gubernur, apalagi walikota, pemimpin perusahaan, dan sejenisnya. Jika ada yang bertanya, "Arinta, seandainya kamu kelak menjadi pemimpin di masa depan, kamu ingin menjadi apa? Bagaimana cara kamu untuk melindungi hutan Indonesia?" Saya jawab, saya akan menjadi Menteri Keuangan. Saya memiliki cerita tentang hutan Indonesia nun jauh di Kalimantan Tengah. Tidak hanya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang turut berkontribusi untuk hutan Indonesia, Kementerian keuangan pun bisa terlibat pada upaya-upaya melindungi hutan dengan cara-cara yang lain. Jika Tjilik Riwut memimpin di lapangan, Menteri Keuangan memimpin di balik layar. 

Menteri Keuangan memimpin di bidang regulasi terkait anggaran negara dan ekonomi nasional. Menteri keuangan tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai penyusunan APBN, kebijakan fiskal, dan stabilitas keuangan negara (makroprudensial), tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia. Seandainya saya mendapat kesempatan menjadi Menteri Keuangan Indonesia, saya ingin menerapkan green economy berikut regulasinya untuk perlindungan hutan yang lebih baik dan wujud komitmen terhadap isu perubahan iklim. Berikut regulasi yang akan saya buat :

1. Laporan berkelanjutan menjadi wajib bagi semua entitas bisnis atau korporasi baik skala mikro maupun makro. Bagi perusahaan yang memiliki aktivitas terkait dengan pengelolaan sumber daya alam (misal perkebunan kelapa sawit), tetapi tidak membuat laporan ini, maka akan dikenakan sanksi tegas/pinalti, baik secara material dan nonmaterial. Namun, perusahaan yang memiliki performa baik dan berdampak positif pada masyarakat dalam skala luas, maka akan mendapatkan insentif berupa potongan pajak dari pemerintah. Perusahaan yang melakukan aktivitas operasional dengan membabat dan merusak hutan secara ilegal akan mendapat sanksi hingga pencabutan izin usaha jika pelanggarannya berat dan terbukti di pengadilan.

2. Menerapkan Green Tax Indonesia. Pajak hijau bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa negara seperti Australia, Belgia, Kanada, Inggris, Jepang, dan Korea sudah mengaplikasikan pajak jenis ini. Dalam laporan bertajuk The KPMG Green Tax Index, An Exploration of Green Tax Incentives and Penalties, menyebutkan bahwa negara-negara yang telah memberlakukan pajak hijau ini mempengaruhi aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan efisiensi energi, karbon dan perubahan iklim, green innovation, energi terbarukan, kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan, efisiensi penggunaan air, efisiensi sampah dan bahan mentah, terakhir pengendalian polusi/limbah dan perlindungan ekosistem. Misal perusahaan yang tidak ramah terhadap pengelolaan limbah akan dikenakan jenis pajak ini. Sehingga mau tidak mau perusahaan membuat inovasi agar limbah produksinya terfilter dengan baik lagi aman sebelum dibuang, serta tidak mencemari lingkungan. Diharapkan penerapan pajak hijau pada industri manufaktur berat dan berbasis SDA mampu meminimalisasi laju deforestasi di Indonesia. Green Tax bisa menjadi solusi mendanai proyek-proyek green infrastructure seperti ruang terbuka hijau di tengah kota, juga riset bahan bakar ramah lingkungan/energi terbarukan, mitigasi bencana karhutla di Kalimantan Tengah, penananaman kembali hutan-hutan yang gundul, dan lain sebagainya.

3. Menerapkan regulasi mengenai kerangka pelaporan keuangan berstandar ESG (Environment, Social, Governance). Empat kantor akuntan publik terbesar di dunia (The Big Four) menginisiasi laporan keuangan berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola. Dengan mengadopsi model standar ini, mendorong pemilik modal berinvestasi di sektor ESG. Jika standar ini digunakan secara luas, diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku dalam berinvestasi. Investor bisa saja akan mempertimbangkan jika menggelontorkan uangnya pada perusahaan-perusahaan yang memiliki dampak negatif pada perusakan hutan dan lingkungan. Bicara investasi, kita bisa mengambil contoh negara Jerman yang telah menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan (green bond) di era pandemi. Tahun 2020 ini, Jerman berada di posisi teratas sebagai negara yang berhasil menghimpun dana investasi dari instrumen surat utang untuk mendanai proyek-proyek berwawasan lingkungan dan mendorong perubahan iklim. Adapun dana yang berhasil dihimpun dari penerbitan obligasi jenis ini yakni mencapai 6,5 juta Euro atau setara 113,5 triliun rupiah (kurs 1 Euro = Rp. 17.465). 

Dari sisi perusahaan, kerangka pelaporan keuangan berstandar ESG menimbulkan pencatatan dan pengungkapan akuntansi atas biaya lingkungan (environmental cost) atau akuntansi hijau. Munculnya environmental cost merupakan konsekuensi perusahaan atas aktivitas bisnisnya yang berdampak pada lingkungan hidup dan masyarakat.

4. Bersama lembaga serta kementerian lain mensosialisasikan literasi lingkungan hidup. Misalkan dengan Kementerian Pendidikan dan KLHK memperkenalkan literasi lingkungan hidup ke dalam kurikulum atau media ajar (buku cetak). Literasi lingkungan hidup memuat informasi bagaimana Peran Generasi Muda dan upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di masa yang akan datang. Selain itu, membuat kebijakan yang mewajibkan menanam 1 pohon bagi setiap peserta didik ketika menempuh tahun ajaran baru. 

5. Selain menggunakan anggaran dari APBN, mencari sumber-sumber pendanaan lain untuk segala hal yang berhubungan dengan aktivitas perlindungan hutan Indonesia, konservasi, dan upaya-upaya yang mendorong perubahan iklim. 

Kita semua adalah pemimpin, terutama pemimpin bagi diri sendiri. Kita mampu kok memimpin diri dalam menjaga kelestarian lingkungan, melindungi hutan, dan mendorong perubahan iklim. Mari kita ambil peran sebagai golongan hutan. Golongan hutan adalah gabungan berbagai organisasi masyaraka bidang lingkungan hidup yang mengajak anak-anak muda Indonesia untuk bangga akan kehebatan hutan kita dan berkontribusi positif menjaga kelestariannya.

Langkah-langkah kecil yang sudah saya lakukan di antaranya :

1. Tidak membuang sampah ketika menjelajah hutan. Perilaku ini kelihatannya sepele dan sederhana, nyatanya sulit dilakukan bagi mereka yang terbiasa membuang sampah sembarangan. Beneran, lihat deh di gunung-gunung, sepanjang trekking, pastilah ada satu dua botol plastik atau kemasan snack yang dilempar begitu saja. Untuk mengantisipasi kebiasaan buruk ini, saya memilih menyiapkan kantung sampah pribadi yang diletakkan di dalam tas. Saya menahan diri supaya tidak berlaku gegabah. Please, buang sampah di hutan itu tidak keren. Karena hutan bukan tempat sampah!
"Hutan Bukan Tempat Sampah" di Punggualas, Taman Nasional Sebangau. Dokumentasi pribadi
2. Membagikan kisah inspiratif mengenai perjalanan menjelajah hutan di media sosial atau blog supaya pembaca digital teredukasi. Sebelum menulis artikel ini, saya sudah membuat utas di twitter yang mengulas perjalanan saya ke Taman Nasional Sebangau. Tulisan tersebut memiliki hampir 8.000 view dan tentunya bertambah setiap bulan. Melalui utas tersebut, saya ingin berbagi kisah mengenai hutan yang tidak berbicara, tetapi punya banyak cerita. Manis getirnya cerita hutan Indonesia, bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda di masa depan. Sejujurnya, kita butuh banyak cerita positif yang kelak bisa disampaikan kepada anak cucu kita. 

Kamu? Apakah punya cerita asyik mengenai hutan? Adakah mimpi-mimpi yang ingin kamu sampaikan seandainya menjadi pemimpin dan mendorong perlindungan hutan? Yuk cerita di kolom komentar.

 Sumber referensi :

  • Pengalaman pribadi
  • Website Golongan Hutan di www.golonganhutan.id dan media sosial Golongan Hutan.
  • Begini Caranya Masyarakat Adat di Kalimantan Tengah Mengantisipasi Kebakaran Hutan, mongabai.co.id 
  • Hutan Adalah Supermarket Alam, kompas.id
  • Air Mata untuk Hutan Kalimantan, kompas.id
  • Spirit Batang Garing di antara Deforestasi, kompas.id
  • Hutan Hujan Menyediakan Rumah Bagi Tumbuhan dan Hewan, mongabai.co.id
  • Data-data tentang Kebakaran Hutan di Kalimantan, news.detik.com
  • Menembus Lebatnya Hutan, Petualangan ke Jantung Borneo, travel.detik.com
  • Bandar Udara Tjilik Riwut, wikipedia.org
  • Satu Lagu, Monitoring Orangutan di Taman Nasional Sebangau, ksdae.menhlk.go.id
  • Melestarikan Orangutan Melalui Ekowisata, Usaid Lestari
  • Peraturan OJK, ojk.go.id
  • Undang-undang N0. 40 Tentang Perseroan Terbatas, ojk.go.id
  • Pasar Obligasi Makin Menarik Usai Jerman Terbitkan Green Bond, katadata.co.id
  • Laporan KPMG global

Sabtu, 14 November 2020

Jika Saya Menjadi Pemimpin Daerah, Ini yang Akan Saya Lakukan Untuk Perubahan Iklim dan Perlindungan Hutan

Sebentar lagi Indonesia akan memasuki babak baru pemilihan kepala daerah secara serentak. Yups, pemilihan kepala daerah secara serentak akan digelar ada bulan Desember 2020 mendatang. Apakah kamu siap berpartisipasi, berkontribusi, atau terlibat di dalamnya? Ya, minimal jangan sampai golput dan apatislah ya. Paling tidak kita kudu mengetahui sepak terjang, visi, misi, kontribusi apa yang ingin diwujudkan oleh calon pemimpin masa depan tersebut. Jangan sampai karena keapatisan kita dalam memilih pemimpin, membuat kandidat dengan reputasi buruk bakal memimpin daerah selama 5 tahun yang akan datang. Bayangkan jika pemimpin daerah yang terpilih merupakan mantan koruptor, demi cuan mampu melakukan manipulasi anggaran, melanggengkan praktik suap, menyulap belantara hutan adat menjadi pabrik-pabrik perkebunan sawit. Membayangkannya saja sudah membuat kita jengah.

Bicara hutan ada relevansinya dengan perubahan iklim. Indonesia memiliki hutan yang sangat luas. Hutan adalah harta paling berguna ketika kita menghadapi perubahan iklim. Pembakaran hutan secara terus menerus dan mengubah fungsi hutan bukan pada peruntukannya (misal menjadi perkebunan kelapa sawit) bisa menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Dampak perubahan iklim bisa kita lihat pada naiknya suhu dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada bulan September 2020 Indonesia berada pada perubahan iklim ekstrem. Melalui pengumpulan data dari 89 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata bulan September 2020 adalah 27,2°C (sumber : Bisnis.Com). 

Kerusakan Hutan di Kalimantan Akibat Ekspansi Sawit. Dokumentasi : Mongabay

Deforestasi melalui pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pembakaran lahan misalnya, terdapat praktik legalisasi sawit dengan mengubah kawasan hutan di Kalimantan Barat tanpa mengikuti prosedur hukum yang legal serta menyalahi izin Hak Guna Lahan (HGU) seluas 127.459 hektar untuk 17 kebun kelapa sawit. Di Papua, Suku Malind dan Mandobo kehilangan tempat bernaung karena hutan puluhan ribu hektar hutan adat dibabat untuk perkebunan kelapa sawit dengan investor sebuah perusahaan asal Korea Selatan. Di Kalimantan Tengah, selama kurun waktu 2015 hingga 2018 luas hutan yang terbakar mencapai 3.403.000 hektar (sumber : greenpeace Indonesia). Tentu saja itu baru sebagian kecil data yang saya tulis. Sekali lagi deforestasi menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Efek dari deforestasi mampu menimbulkan bencana alam seperti kebakaran hutan selama berbulan-bulan, banjir, tanah longsor, peningkatan suhu udara, dan sebagainya. 

Deforestasi hutan untuk industri sawit. (Sumber Greenpeace/Ulet Ifansasti)

Konferensi Perubahan Iklim Global yang di Bonn pada November 2017 silam, menekankan bahwa seluruh negara peserta konferensi (termasuk Indonesia) diminta untuk berkomitmen dalam menghadapi isu ini, termasuk deforestasi yang menjadi ancaman nyata dan berdampak pada perubahan iklim serta kerusakan lingkungan. Indonesia mempunyai komitmen menurunkan emisi sampai 26% dari acuan target di tahun 2020 dan tahun 2030 sampai 29%. Maka dari itu, sangat dinantikan figur pemimpin, tak hanya pemimpin di level pusat, tetapi juga daerah yang pro terhadap isu perubahan iklim. Mau berjuang dan berkomitmen dalam mengentaskan berbagai permasalahan terutama terkait isu lingkungan hidup.

Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya di mana kepemimpinan di beberapa daerah menganggap isu lingkungan, perubahan iklim, dan perlindungan hutan bukan menjadi hal krusial dan prioritas. Ketidaksigapan beberapa kepala daerah tersebut lantas mendapat kritik tajam dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada tahun 2015 sebab penanganan kebakaran hutan berjalan cukup lambat sehingga menghanguskan lahan mencapai 2,6 juta hektare serta merenggut 24 korban jiwa. Bahkan saat kejadian naas tersebut terjadi, salah satu gubernur malah bertandang ke luar negeri dan tentunya demi menghindari kepulan asap kebakaran mengepung wilayahnya.

Menjadi tantangan tersendiri bagi pemimpin daerah yang mana wilayahnya sangat rentan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Di sinilah peran generasi muda, sebagai calon pemimpin kepala daerah untuk membuktikan ide-ide dan gagasan yang berdampak positif terkait isu-isu lingkungan hidup, perubahan iklim dan perlindungan hutan.

Seandainya saya diberi kesempatan menjadi pemimpin daerah, inilah gagasan yang saya lakukan terkait perubahan iklim dan perlindungan hutan. 

Pertama, berkaitan dengan pendidikan. Saya akan membuat kebijakan khusus "Tanam 1 Pohon" kepada setiap peserta didik baru di tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Selama masa orientasi studi, peserta didik tidak hanya diperkenalkan mengenai wawasan kebangsaan, lingkungan, tetapi juga bagaimana mewujudkannya dalam aksi nyata. Menanam 1 pohon keliatannya sederhana dan sepele, bagaimana jika ada puluhan ribu peserta didik baru setiap tahun melakukan aksi ini. Ini menjadi aksi nyata berperang terhadap laju deforestasi dan perubahan iklim. Selain kebijakan "Tanam 1 Pohon" bagi peserta didik baru di setiap jenjang pendidikan, saya akan memberikan "Beasiswa Hijau" kepada putera-puteri daerah yang berprestasi. Beasiswa hijau ini memiliki alur seleksi yang berbeda dengan beasiswa pada umumnya. Peserta yang mendaftar beasiswa hijau akan menjadi duta lingkungan hidup dan diwajibkan mempresentasikan gagasan, produk, upaya-upaya dan aksi nyata terkait hal tersebut. Langkah berikutnya memberikan pelatihan-pelatihan dan seminar kepada guru dan juga siswa mengenai isu-isu perubahan iklim dan perlindungan siswa. 

Kedua, berkaitan dengan bisnis dan ekonomi. Setiap badan usaha berorientasi profit yang berdampak langsung pada lingkungan dan berada di bawah wewenang wilayah saya setiap tahunnya wajib membuat dan melaporkan bukan hanya annual report tetapi juga sustainability report, bagaimana keberadaan perusahaan membawa dampak positif pada lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Selain itu, ada alokasi dana khusus terkait upaya-upaya pelestarian lingkunga,n perubahan iklim, perlindungan hutan, dan mitigasi bencana yang sumbernya berasal dari pendapatan dari pajak dan daerah. Meskipun Omnibus Law memberikan keluasaan dan kemudahan investor dan pengusaha untuk mendirikan badan usaha/entitas bisnis di suatu daerah, tetapi terkait usaha-usaha yang nantinya berdampak pada lingkungan, tentunya proses dan perijinan terkait AMDAL benar-benar diperhatikan betul. Ada sanksi administratif dan perdata yang tegas jika perusahan mengabaikan hal ini. 

Ketiga, berkaitan dengan sektor pariwisata. Mengoptimalkan wisata edukasi berbasis lingkungan. Misal di kawasan mangrove membuat ekowisata mengrove yang tidak hanya memberikan pengalaman menjelajah hutan mangrove tetapi juga nilai-nilai edukasi dan pelestarian lingkungan. Bagi yang membuang sampah sembarangan di tempat wisata akan mendapat denda sebesar Rp 200.000 per sampah yang dibuang sembarangan atau hukuman membersihkan sampah di kawasan itu dengan total berat sampah yang dikumpulkan minimal 20 kg. Ini mirip dengan kasus tilang motor, cuma benda yang ditilang kali ini adalah sampah. Uang hasil tindakan tilang sampah digunakan untuk mendukung program "Tanam 1 Pohon." yang sudah saya jelaskan sebelumnya. 

Keempat, berkaitan dengan legalitas/hukum. Terkait isu perubahan iklim, perlindungan hutan, dan lingkungan, saya akan membuat regulasi terlait hal ini yang menindak tegas para pelanggarnya. Perusahan/perorangan yang nekad melakukan ilegal logging akan mendapat sanksi hukum yang tegas. Demikian perusahaan manufaktur/kelapa sawit yang memberi dampak negatif terhadap lingkungan.

Demikianlah sedikit gagasan saya untuk perubahan iklim, lingkungan, dan perlindungan hutan di Indonesia.

Sabtu, 07 November 2020

Guruinovatif.id : Platform Digital, Inovasi Anak Bangsa untuk Guru Indonesia

Abad 21 yang ditandai dengan kehadiran teknologi digital, berkembang secara masif dan cepat ke seluruh aspek kehidupan termasuk pendidikan. Hal ini akan membuat siswa memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan era sebelumnya, baik itu karateristik siswa, media, metode maupun evaluasi pembelajaran. Oleh sebab itu, guru sebagai seorang profesioanal harus segera beradaptasi di era digital sehingga proses belajar-mengajar dapat dilaksanakan secara optimal. Karena jika guru tidak taktis dalam beradaptasi terhada perkembangan teknologi terkini, kemungkinan besar guru akan tertinggal dalam akses informasi daripada siswa didiknya. Seerti halnya di masa pandemi yang berlangsung di tahun 2020 ini, ternyata masih banyak guru yang gagap terhadap pemanfaatan media digital dan juga internet. Namun, bagaimapun juga, mau tidak mau, siap atau tidak siap, guru harus belajar berkomunikasi dengan siswa via media digital.

Upaya meningkatkan kompetensi guru dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti melalui seminar, workshop, dan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga profesi guru, forum guru, konsorsium, perguruan tinggi, swasta maupun pemerintah (dinas pendidikan/kementerian pendidikan). Dulu ada program Indonesia Mengajar yang diiniasi oleh Anies Baswedan, ada juga pengiriman guru-guru muda di daerah terpencil dan terluar. 

Sebagai seorang profesional, idealnya guru harus adatif terhadap perkembangan teknologi digital, tetapi peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, "orang tua" di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang ataupun mesin. Pembelajaran jarak jauh dan model belajar mandiri di era pandemi seperti sekarang ini membuat guru harus semakin kreatif, inovatif, dan solutif memberikan yang terbaik dalam pengajaran di kelas daring.

Kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa menjadi hal yang diprioritaskan dalam kurikulum nasional tahun ini. Di tahun 2021, UN ditiadakan dan digantikan dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengacu pada aspek literasi dan numerasi. Ini penting untuk melatih siswa berpikir kritis. Ini titik tolaknya. Selain AKM, terdapat pula penilaian lain berupa Survei Karakter.

Guru berkualitas adalah guru inovatif yang mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk menjadi ‘agen perubahan’ dunia di era global dewasa ini. Guru inovatif mampu menggali potensi serta membangkitkan passion dan minat belajar peserta didik. Guru inovatif memiliki gagasan-gagasan baru yang didasari berbagai pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diaktualisasikan dalam berbagai tugas pembelajaran, seperti inovasi terhadap bahan ajar, metode pembelajaran, sarana/media pembelajaran, evaluasi belajar, serta relasi edukasi guru dan anak didik. Dengan guru inovatif, proses belajar-mengajar menjadi bergairah, menarik, dan dinamis. Dengan demikian, proses pembelajaran akan semakin menyenangkan. Sesungguhkan tidak mudah menjadi guru inovatif. Dalam kegiatan belajar mengajar tak sedikit guru mengajar di kelas dengan model ceramah yang membosankan, membaca text book halaman sekian sampai sekian, mengerjakan LKS, lalu ujian. Siswa menghafal materi pelajaran. Namun tak mendapat esensi dari apa yang sudah dipelajari. Siswa tidak boleh terlalu kritis di kelas. Tak ayal, seusai ujian, siswa lupa apa yang pernah dipelajarinya. Guru inovatif tidaklah demikian. Guru inovatif akan mencoba berbagai cara agar pembelajaran di kelas menjadi sesuatu yang menarik lagi menyenangkan. Belajar menjadi sesuatu seasyik bermain game. Asyik dan bikin hepi.

Sebagai partner guru inovatif, HAFECS- sebuah lembaga di bidang konsultasi pendidikan, menginisiasi hadirnya ruang belajar untuk para guru Indonesia melalui Guruinovatif.id. Selaku lembaga yang fokus di bidang transformasi pendidikan, HAFECS membuat sejumlah inovasi program seperti Dynamic Lesson Plan, Teaching Grading System, dan New Training Approach for Teachers terutama dalam rangka membantu penguasaan Kurikulum-13 dan Anderson Taxonomy.Interactive Training selalu menjadi metod, tidak hanya teori, praktik dengan memberikan pengajaran yang nyata di kelas, peserta diajak aktif untuk mengeksplorasi pengetahuannya dengan berbagai konteks dan analogi yang telah ditentukan oleh trainer yang ada di platform Guruinotif.id. 

Beragam layanan dihadirkan pada platform Guruinovatif untuk mendukung kemudahan belajar para guru melalui seminar dan kursus dengan harga terjangkau. Di samping itu, para guru dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui PCK, HOTS, dan asesmen. Ada sertifikasi dari setiap pelatihan yang diikuti.

Berikut tampilan Guruinovatif.if.
HAFESC sendiri sebagai mitra pendidikan bagi guru dan institusi bidang pendidikan telah menyelenggarakan berbagai kegiatan dan merangkul lebih dari 50.000 guru dan pegiat pendidikan, lebih dari 10.000 sekolah/institusi yang tersebar di lebih dari 300 kota/kabupaten di Indonesia. Melalui platform digital Guruinovatif.Id, HAFESC berharap inovasi anak bangsa ini mampu menjadi yang terdepan dalam hal memajukan pendidikan dan meningkatkan kompetensi guru di abad 21.

Selasa, 01 September 2020

#IniUntukKita – Optimisme Pembangunan Indonesia lewat Creative Financing dan Pembiayaan Perumahan Bersubsidi Berbasis FLPP

Beberapa waktu yang lalu saya, Arum, dan Ratna terlibat percakapan daring. Kami bertiga satu kampus tetapi beda jurusan. Setelah lulus kuliah, kami masing-masing bekerja dan komunikasi menjadi terbatas. Di masa pandemi seperti ini, kami memutuskan bersua, meski secara daring. Kabar baiknya, Ratna akan segera menikah, meski rencana pernikahannya diundur hingga akhir tahun. Seharusnya pernikahan Ratna dilaksanakan di awal Mei lalu. Karena satu dua hal, termasuk Covid-19, pernikahan tersebut akhirnya diundur. 

“Baiknya setelah menikah, tinggal di rumah mertua, ngontrak, atau beli rumah sendiri ya? Bingung…” Ungkap Ratna kepada Saya dan Arum. 

Saya menyarankan kepada Ratna mending beli rumah sendiri kalau ada dana. Jangan tinggal di rumah mertua ataupun orangtua. Kalau ngontrak paling tidak Ratna harus menyiapkan dana 20 hingga 25 juta per tahun. Uang segitu daripada buat ngontrak mending buat nyicil KPR. Saya berpikir kalau bujet terbatas, lebih baik punya rumah sederhana, tetapi milik sendiri daripada duit habis buat sewa. 

“Inginnya sih beli rumah sendiri, tapi kalian tahu kan gaji aku sebagai guru honorer seberapa dan Mas Anton gajinya belum sanggup buat bayar DP sekaligus nyicil rumah. Selama pandemi, mas Anton kerja di rumah, gajinya gak 100% lagi." Urai Ratna. 

Kami hening beberapa saat. Mungkin ini yang menyebabkan pernikahan Ratna diundur hingga akhir tahun. Ratna dan calon suaminya berusaha mengumpulkan uang buat pernikahan dan biaya pascapernikahan (kebutuhan akan rumah tinggal).

Mendingan beli rumah atau sewa saja ya? Pertanyaan klasik ini sering menggema di kalangan milenial, fresh graduate, dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Apalagi kebutuhan milenial akan rumah tinggal tergolong cukup tinggi. Saya, Ratna, Arum dan 81 juta milenial Indonesia rentang usia 26 hingga 36 tahun memiliki harapan tinggi untuk memiliki rumah pribadi. Bukan indekos apalagi mengontrak. Angka 81 juta tersebut setara dengan 31% dari total penduduk Indonesia (sumber : kementerian PUPR). Data Bank Indonesia menyebutkan bahwasanya milenial dengan rentang usia di atas mendominasi pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah tapak dan rumah susun ukuran 22-70 m2.

Masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas tentu dimudahkan ketika mengajukan KPR karena ada dana berlebih. Bagaimana dengan milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)? Membidik milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang tertarik memiliki hunian  pribadi dengan harga yang tidak membuat kantong bocor, pemerintah melalui PPDPP (Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan) Kementerian PUPR membuat inovasi creative financing berupa KPR bersubsidi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). 

Pembiayaan perumahan bersubsidi berbasis FLPP ini dikhususkan untuk masyarakat berpenghasilan ekonomi menengah ke bawah dengan pendapatan maksimal 8 juta rupiah per bulan. Jadi jika kamu dan pasanganmu memiliki pendapatan gabungan sebesar 6 juta rupiah, kamu bisa mengajukan Pembiayaan perumahan bersubsidi  atau KPR FLPP. Kamu yang masih lajang, berpenghasilan 4 juta per bulan, dan ingin memiliki hunian pribadi tentu bisa mengajukan pembiayaan ini. 
Aplikasi SIKASEP, inovasi marketplace perumahan bersubsidi. Produk dari suatu creative financing. Dokumentasi pribadi
Kabar baiknya, selama masa pandemi ini, kamu tak perlu keluar rumah untuk mencari informasi mengenai pembiayaan bersubsidi berbasis FLPP ini. Untuk menjangkau masyarakat lebih luas, PPDPP Kementerian PUPR membuat aplikasi marketplace perumahan bernama SIKASEP (Sistem KPR Subsidi Perumahan). Aplikasi SIKASEP mempertemukan dan menghubungkan antara pengembang, perbankan, dan masyarakat dalam satu genggaman  tangan. Kita tak perlu keluar rumah. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Tinggal klik-klik, cari rumah idaman yang tersedia di aplikasi, dan ikuti semua persyaratan dan prosedur yang sudah ditentukan. Alurnya nanti tertera di aplikasi. Tersedia pula pilihan opsi dalam memilih developer perumahan, nama bank mitra FLPP, estimasi biaya melalui kalkulator KPR FLPP, dan sebagainya.

Bagi milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), creative financing bernama FLPP ini memberikan kemudahan karena menetapkan tingkat suku bunga 5% (fixed), tenor kredit hingga 20 tahun, bebas PPN dan premi asuransi, uang muka lebih ringan serta cicilan terjangkau jika dibandingkan dengan KPR non-FLPP. 
Optimisme pembangunan bisa dilihat salah satunya dari alokasi anggaran infrastruktur pembiayaan perumahan dan permukiman untuk masyarakat serta bagaimana dukungan/keterlibatan BUMN dan pihak swasta di dalamnya. Inilah yang dimaksud dengan creative financing, skema pembiayaan alternatif yang bisa ditempuh oleh pemerintah melalui kerja sama antara pemerintah dan badan usaha dalam negeri (menggunakan dana non-APBN/APBD). Nah, anggaran untuk pembiayaan infrastruktur dari creative financing bisa diperoleh dari berbagai sumber seperti PMN (Penyertaan Modal Negara) melalui BUMN, investasi swasta dalam negeri, penerbitan obligasi pemerintah, dan sumber-sumber pendanaan lainnya. Yups, optimisme tersebut dibangun melalui investasi dan melibatkan berbagai elemen lokal Indonesia. Catat ya, bukan hutang kepada pihak asing. Nantinya anggaran untuk pembiayaan infrastruktur ini dipergunakan untuk pembangunan jalan tol, bandara, saluran irigasi, perumahan dan permukiman, dan berbagai jenis infrastrukur lain yang memiliki manfaat produktif.

Kembali ke topik pembiayaan perumahan, pada poin ini, optimisme bisa ditilik pada upaya untuk mengatasi adanya backlog (defisit) perumahan dan target penyediaan 1 juta rumah untuk rakyat. Pada Oktober 2019, program satu juta rumah untuk rakyat telah melampaui target dan terealisasi sebesar 1.002.317 unit rumah, terdiri atas 706.440 unit rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang bersumber dari pembiayaan FLPP dan 295.877 unit rumah untuk non-MBR, pembiayaan lain selain FLPP. Adapun pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan Renstra 2020-2024 bidang pembiayaan perumahan bersubsidi, pemerintah menarget jumlah rumah tangga yang mendiami hunian layak huni meningkat dari 56,7% menjadi 70%.

Darimana sumber dana pembiayaan perumahan berbasis FLPP ini? Pada tahun 2020 sumber dana tersebut berasal dari DIPA sebesar 9 triliun, dana pengembalian pokok sebesar 2 triliun, dan BUMN pembiayaan sekunder perumahan (PT SMF) sebesar 3,7 triliun sehingga total dana keseluruhan adalah 14,7 triliun.

Bagaimana kisah mereka yang telah memperoleh manfaat produktif dari pembiayaan perumahan berbasis FLPP tersebut? Dessy Aryanti, salah satu penerima pembiayaan perumahan berbasis FLPP bertutur bahwa dirinya yang seorang single parent dan bekerja sebagai buruh di perusahaan obat herbal mampu membeli rumah tapak tipe 36/60. Adapun angsuran bulanan sebesar Rp 890.000 untuk tenor 20 tahun. Di hunian barunya (Perumahan Sultan Residence), Dessy bahagia dan bisa fokus merawat puteri semata wayangnya yang kini telah beranjak remaja.

#IniUntukKita, kita optimistis pembangunan Indonesia bisa terjadi berkat pembiayaan infrastruktur. Melalui creative financing berbasis FLPP dan aplikasi SIKASEP, mencari rumah idaman semudah dalam genggaman. Melalui creative financing berbasis FLPP, mimpi milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk memiliki hunian pribadi bukan lagi menjadi sekadar angan. Bagaimana? Tertarik mencoba?

Sumber Referensi : Website Kemenkeu dan Kementerian PUPR.

Sabtu, 04 Juli 2020

Mangrove, Laut, Perubahan Iklim, Kesadaran Konservasi, hingga Bijak Berwisata.

Mangrove atau bakau dikenal sebagai tetumbuhan yang hidup di perairan dekat pantai, rawa-rawa di air payau. habitat mangrove dipengaruhi oleh pasang surut air laut. perlu diketahui bahwasanya garis pantai indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada dengan panjang 95,181 km2. Dengan garis pantai sepanjang itu, Indonesia memiliki 23% ekosistem mangrove dunia yakni sebesar 3.489.140,68 Ha (sumber : Kementerian Lingkungan Hidup). Kondisi mangrove yang baik, menyimpan sejuta harapan serta potensi-potensi seperti sebagai ruang konservasi, ekowisata, serta sumber keanekaragaman hayati yang melimpah. Keanekaragaman hayati ini bisa dimanfaatkan secara biologis, ekologis maupun ekonomis.

Berdasarkan data yang bersumber dari Kementerian kelautan dan perikanan 2015, vegetasi mangrove mampu menyumbang USD 1,5 miliar terhadap perekonomian nasional ditinjau dari sektor perikanan. Itu artinya secara ekonomi, vegetasi mangrove mampu memberikan pendapatan kepada masyarakat di daerah itu melalui pengelolaan dan pemberdayaan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, termasuk potensi ekowisata. Berikutnya, secara biologis, mangrove menjadi tuan rumah bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang, kerang-kerangan, bahkan sampai ke mahkluk hidup tingkat paling mikroskopik sekalipun. Secara ekologis, mangrove berperan penting sebagai spektrum pencegah abrasi air laut, penghalang gelombang saat pasang naik, mitigasi bencana (setidaknya mampu menahan hempasan badai atau tsunami), adaptasi terhadap perubahan iklim, penjaga kualitas/siklus air dan masih banyak lagi manfaat lainnya. Mangrove mampu mengendapkan polutan yang melaluinya, seperti misalnya limbah tailing di Teluk Bintuni, Papua Selatan. Limbah tailing merupakan limbah murni dari hasil tambang (misal emas atau bijih besi) yang tertinggal di air.

Mengapa mangrove memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi? Sebab, mangrove memiliki perpaduan ekosistem darat dan laut yang memungkinkan berbagai makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Beberapa jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove meliputi terna, perdu, liana, nipah-nipahan, beberapa paku-pakuan, dan sebagainya. Adapun jenis satwa yang mampu beradaptasi pada daerah bakau meliputi ular, biawak, buaya air asin, bangau, elang, kera, dan masih banyak lagi. 

Namun sayang, meskipun mangrove memiliki peranan yang sangat signifikan dalam banyak hal, sungguh sangat ironis Indonesia juga menghadapi laju kerusakan mangrove terbesar di dunia yakni mencapai yakni 4.364 km2 atau sekitar 311 km2 per tahunnya (Sumber : Mongabay). Di kehidupan nyata, vegetasi mangrove semakin terkikis akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, permukiman, industri, dan sebagainya. Banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, LSM, CRS perusahaan, institusi pendidikan yang berperan dalam rehabilitasi hutan mangrove. Misal aksi tanam 7000 bibit bakau di Desa Bulu Cindea, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Aksi tersebut bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati, konservasi, serta memenuhi standar praktik budidaya perikanan berkelanjutan bersertifikasi ASC (Aquaculture Stewardship Council).

Di Pekalongan, kota kelahiran saya, keberadaan mangrove atau hutan bakau sangat berperan, meskipun belum maksimal. Mangrove memiliki fungsi untuk menahan abrasi pantai dan serangan banjir rob. Namun sayang, meski memiliki lahan seluas kurang lebih 90 hektar, hutan-hutan penjaga bibir pantai utara Jawa Tengah ini belum mampu menahan gelombang laut seutuhnya. Bahkan sering diberitakan mengenai banjir rob yang menelan beberapa wilayah di Pekalongan bagian utara, daerah yang cukup rawan dengan abrasi air laut.

Saya mengunjungi Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove di Pekalongan ketika mudik lebaran tahun 2019 silam. Ekowisata Pekalongan Mengrove Park ini terletak di Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara. Di kawasan ini tersedia beberapa fasilitas infrastruktur pendukung pembelajaran seperti : fasilitas edukasi, fasilitas pembibitan, fasilitas penelitian, fasilitas ekonomi produktif (budidaya kepiting soka, budidaya rumput laut dan silvofishery - tumpang sari antara ikan, udang dan mangrove), fasilitas wisata kuliner, area pemancingan, dan masih banyak lagi.
Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove. Dokmentasi Pribadi
Dampak abrasi dan gelombang pasang air laut . Daratan yang semula kering tergenang air asin. Dokumentasi Pribadi
Sayangnya sore itu terjadi gelombang pasang air laut sehingga menyebabkan daratan tergenang air asin. Foto di atas sebelum tergenang air laut berupa tegelan semen. Ketika menjelang sore terjadi gelombang pasang air laut. Daratan tergenang. Motor-motor yang melewati daratan pun tetap akan melaju meskipun menerjang air yang dalamnya melebihi mata kaki. Bahkan kawasan mangrove pun kurang mampu menahan laju abrasi juga gelombang pasang air laut.
Daratan yang tergenang air laut di Pekalongan Mangrove Park. Dokumentasi Pribadi
Selain abrasi dan gelombang pasang, terdapat fenomena penurunan tanah (land Subsidence) yang terjadi sepanjang tahun. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Pekalongan saja, tetapi juga di beberapa kawasan sepanjang Pantai utara Jawa seperti Tegal, Pemalang, Brebes, Rembang, dan Demak. Berdasarkan penelitian Lembaga Partnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan Pekalongan, penurunan tanah ini mampu mencapai 25 cm hingga 34 sentimeter atau hampir setengah meter sepanjang tahun. Dalam kondisi normal penurunan tanah ini bisa terjadi 3 cm hingga 5 cm. Namun, sayangnya industri-industri besar, pembuatan sumur air tanah, dan abrasi menyebabkan penurunan tanah bertambah hingga lebih dari 20 cm per tahun. Akibat Land Subsidence tersebut terjadilah banjir rob yang menenggelamkan beberapa kecamatan di wilayah Pekalongan. Gambar udara dari Drone AntaraNews.Com mendokumentasikan bagaimana banjir rob menelan hampir 70% wilayah yang ada di Pekalongan.

Fenomena ini membuat saya sedih, pasalnya sewaktu saya masih kecil (tahun 1996) keadaan tidaklah sedemikian rupa. Semenjak tahun 2002, Wilayah Pantai Utara Jawa, terkhusus Pekalongan terdampak perubahan iklim secara langsung. Hingga tahun 2018, 31% wilayah Pekalongan tergenang air laut bahkan hingga menjadi permanen. Suatu kondisi yang menggiriskan hati dan layak mendapatkan perhatian tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat.

Pada Desember 2017, banjir rob ini menyebabkan terendamnya 7 kelurahan di Pekalongan Utara,. ribuan orang mengungsi, menenggelamkan harapan warga untuk tertidur nyenyak, hingga membuat wabah penyakit seperti demam berdarah dan penyakit kulit disebabkan air kotor. Pada Mei 2018, banjir rob menyebabkan Lapas Pekalongan terendam air hingga kedalaman 80 cm, hal ini menjadikan 466 warga binaan lapas tersebut terpaksa harus dipindahkan.

Pengeboran air sumur tanah untuk industri besar (tekstil) dan industri rumah tangga (batik) menjadi salah satu pokok permasalahan penyebab banjir rob sepanjang tahun. Pembuatan sumur bor ini menyebabkan terjadinya land subsidence seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Selain itu, limbah buangan yang dihanyutkan ke sungai dan bermuara ke laut menjadi masalah baru. Belum lagi dampak perubahan iklim seperti fenomena La Nina.
Akibat banjir rob, warga di Pekalongan banyak yang mengungsi. Dokumentasi Alifa Taufan.
Terjadinya pandemi Covid-19 membuat membuat bumi semakin membaik sebab menurunnya aktivitas manusia yang berdampak kerusakan pada alam dan lingkungan. Pandemi Covid-19 ini sedikit banyak menjadikan alam semakin sehat dan berseri. Apalagi semenjak industri-industri besar yang ada di Pekalongan membuat kebijakan meliburkan karyawannya untuk sementara waktu. Tak ada aktivitas pabrik. Tak ada asap. Tak ada polusi suara. Sangat sedikit limbah industri yang mengalir ke sungai-sungai. Perburuan ikan-ikan di Pantai Utara tidak semasif sebelumnya. Biota laut semakin banyak dan berkembang. Ekosistem laut (termasuk mangrove) menjadi lebih baik.

Menurunnya aktivitas manusia, tidak mengurangi kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim. Dengan kata lain, perubahan iklim menjadi faktor yang cukup influensial jika dikaitkan dengan bencana-bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Krisis iklim berupa pemanasan global misalnya, karena hal ini suhu bumi bertambah beberapa derajat celsius yaang membuat es di kutub mencair. Mencairnya es kutub membuat air di permukaan laut meningkat sehingga semakin menjorok ke daratan.
Guru Besar Bidang Kelautan Universitas Diponegoro, Prof. Muhammad Zuhairi dalam Ruang Publik KBR memaparkan bahwa daerah sepanjang Pantai Utara Jawa seperti Pekalongan akan mengalami pasang tinggi (rob), sehingga daerah-daerah di wilayah itu akan tergenang akibat peningkatan massa air. Perubahan iklim di Indonesia dipengaruhi oleh La Nina dan El Nino. La Nina berkaitan erat dengan suhu permukaan laut yang menyebabkan sirkulasi air dari daerah kutub ke daerah tropis menjadi lebih besar. Apabila massa air tersebut datang ke daratan, tetapi sistem drainase dalam kondisi baik, maka daerah itu akan cukup aman dan terbebas dari genangan. Namun, aktivitas manusia yang berhubungan dengan industri dan eksploitasi air tanah menyebabkan air tanah menjadi asin. Sehingga baik dampak perubahan iklim maupun aktivitas eksploitasi oleh manusia menyebabkan intrusi air laut dan struktur tanah berubah. Hasilnya adalah penurunan permukaan tanah, urai Prof. Muhammad Zainuri.

Prof. Muhammad Zainuri menambahkan bahwasanya menjoroknya garis pantai menuju ke darat, di Pekalongan sudah sepanjang 900 m, adapun Semarang sudah 2,3 Km. Jadi ada daerah yang dulunya daratan, kini menjadi genangan air laut. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah Kota Pekalongan sudah merencanakan pembangunan Giant Sea Wall (Tanggul Laut) dan beberapa polder.

Menurunnya aktivitas manusia di sepanjang garis pantai dan kawasan ekowisata hutan mangrove, membuat peneliti seperti Prof. Muhammad Zainuri dan rekan-rekan ketika melakukan rehabilitasi dan reklamasi wilayah menjadi lebih mudah. Alias tidak mengalami banyak kendala.

Kesadaran konservasi dan bijak berpariwisata merupakan salah satu langkah konkret yang bisa kita lakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut. Jangan sampai setelah new normal, pariwisata Indonesia menjadi tidak terkendali, menciptakan sampah di sana-sini, dan sejumlah masalah baru lainnya.

Berbicara mengenai kesadaran konservasi, saya akan sedikit bercerita mengenai bagaimana seorang konservator mengelola Ekowisata Mangrove yang ada di Selatan Pulau Jawa, tepatnya Ekowisata Wana Tirta Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dokumentasi ini saya rangkum sebelum Pandemi Covid-19.
Mbah Warso, Sang Konservator mangrove. Dokumentasi pribadi
Namanya Lengkapnya Warso Suwito. Namun, beliau kerap dipanggal Mbak Warso atau Pak Wito. Sosoknya begitu bersahaja, jauh dari publisitas. Ramah dan terbuka terhadap siapa saja yang ingin belajar. Siapa sangka bapak dua anak yang bekerja serabutan tersebut merupakan kader konservasi mangrove terbaik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  pada tahun 2014.

Dengan mengenakan kaos biru, celana pendek, dan kaki telanjang, Mbah Warso mengajak saya berkeliling di sekitar Mangrove Wana Tirta.  Mangrove Wana Tirta dijadikan sebagai wisata edukasi berbasis konservasi bakau. Para peserta yang ikut dalam tur akan dijelaskan bagaimana pembibitan bakau, pengenalan manfaat bakau bagi kehidupan pesisir pantai, serta jenis-jenis vegetasi bakau yang bermanfaat dalam mengurangi laju abrasi air laut, penurunan daratan, serta menahan gelombang pasang naik.

Mbah Warso justru berharap banyak anak muda yang datang kemari. Terutama anak usia sekolah dasar. Mbah warso ingin mengajak agar anak muda mencintai lingkungan dan menjaga ekosistem Hutan Mangrove kerusakan. Mbah Warso berharap edukasi sedini mungkin mengenai cinta lingkungan hidup dan alam mampu meminimalisasi kasus pengrusakan alam dan lingkungan. Mbah Warso juga mengajak mahasiswa, LSM, pemerintah, dan pegiat lingkungan hidup dalam aksi tanam mangrove. Ikut dalam aksi penanaman 1000 bibit mangrove merupakan salah satu kontribusi saya dalam melestarikan lingkungan.
Membangun kesadaran konservasi melalui aksi tanam bakau. Dokumentasi pribadi
Membangun kesadaran konservasi melalui aksi tanam bakau. Dokumentasi pribadi
Itu di Kawasan Pantai Selatan Jawa, bagaimana membangun kesadaran konservasi di Kawasan Pantai Utara, terkhusus Pekalongan yang sering terkena dampak banjir rob sepanjang tahun? Di Pekalongan Mangrove Park sendiri sudah beberapa kali melakukan aksi tanam bakau/mangrove yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya ini, penanaman 2.500 bibit bakau pada lokasi yang sudah ditentukan. Aksi ini justru banyak melibatkan anak sekolah.
Membangun kesadaran konservasi melalui aksi tanam bakau. Dokumentasi Hadi Lempe
Selain membangun kesadaran konservasi, Pemerintah Kota Pekalongan telah menempuh berbagai cara untuk menanggulangi masalah banjir rob. Berikut beberapa di antarannya.

1. Mengoperasikan 8 rumah pompa berkecepatan 800 liter hingga 2.000 liter per detik dan 8 mobil pompa air dengan kecepatan 200 liter per detik pada Januari 2019. Pompa-pompa ini berfungsi mengalirkan air banjir rob kembali ke laut.

2. Membangun Giant Sea Wall atau tanggul raksasa penahan rob. Pada September 2019, pengerjaan proyek tanggul laut sudah memasuki pemasangan sheet pile. Sheet Pile merupakan dinding vertikal yang berfungsi menahan tanah dan menahan merembesnya air ke dalam lubang galian, serta menjadi penahan utama tanggul laut. Selain itu sudah dilakukan pemasangan 260 tiang yang membentang dari Desa Panjang Baru dan Panjang Wetan (jaraknya mencapai 260 meter).

3. Normalisasi daerah air sungai yang bermuara ke laut melalui manajemen pengendalian air pada 3 sungai utama : Sungai Sragi Baru, Sungai Bremi, dan Sungai Meduri.  Normalisasi dilakukan dengan tujuan agar aliran air yang ada tidak menumpuk pada titik tertentu sehingga memungkinkan untuk dialirkan langsung menuju muara/laut.

4. Membangun polder. Sistem polder sendiri merupakan cara penanganan banjir rob dengan mengintegrasikan satu kesatuan pengelolaan tata air yang meliputi: sistem drainase kawasan, kolam retensi, tanggul keliling kawasan, pompa dan pintu air. Manajemen sistem tata air dilakukan dengan mengendalikan volume, debit, muka air, tata guna lahan dan lansekap. Dalam pengadaan polder, pemerintah Kota Pekalongan menyiapkan lahan kurang lebih seluas 5 hektare di wilayah Pekalongan Utara.

5. Membangun kesadaran konservasi dan kepedulian akan lingkungan melalui aksi tanam bakau di sepanjang bibir pantai, bersih-bersih Sungai Loji, dan pembuatan biopori. Dinas Lingkungan Hidup Pekalongan mencatat bahwa setiap harinya terdapat sekitar 2 ton sampah yang mengalir ke Sungai Loji. Itu belum termasuk buangan limbah industri makro dan mikro. Akan berbahaya jika limbah Sungai Loji bermuara ke laut, mengancam ekosistem laut. Aksi bersih-bersih berupa pungut sampah di sepanjang Sungai Loji yang melibatkan warga setempat diharapkan mampu membangun kesadaran warga untuk berperilaku hidup bersih serta peduli lingkungan.
Pewarna batik dari mangrove (Potensi produk olahan pendukung ekowisata mangrove di Pekalongan). Dokumentasi pribadi
Tepung mangrove (Potensi produk olahan pendukung ekowisata mangrove di Pekalongan). Dokumentasi pribadi
Kawasan mangrove memiliki potensi ekowisata luar biasa jika dikelola dengan baik. Di Pekalongan, beberapa jenis mangrove dapat diolah menjadi tepung mangrove untuk membuat aneka jenis kue serta pewarna alami batik. Potensi ini juga bisa menciptakan nilai ekonomis. Lalu bagaimana geliat pariwisata bahari selepas new normal? Menyambut dibukanya beberapa keran pariwisata, semua pegiat wisata maupun wisatawan wajib mematuhi protokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah. Pembatasan-pembatasan tentu saja masih dilakukan, misal akses memancing tidak terbuka seperti sebelumnya, dibatasi hanya sekian orang per hari. Desa wisata bahari dan kawasan ekowisata melakukan kontrol penuh mengenai siapa saja yang berkunjung ke tempat wisata.

Berwisatalah dengan bijak. Jangan berwisata seperti orang lapar. Kenali potensi lokal yang ada. Berwisatalah dengan melibatkan warga sekitar dengan mencoba mencari apa yang dibutuhkan mereka, misal apakah warga setempat membutuhkan masker, hand sanitizer, dan sebagainya. Sebuah pesan tersirat Githa Anathasia, pengelola Kampung Wisata Arborek dalam diskusi ringan di Ruang Publik KBR.

Membangun kesadaran konservasi dan bijak berwisata di tengah pandemi. Langkah-langkah ini terbilang cukup sederhana, tetapi bisa berdampak di kemudian hari. Membuat mangrove, laut, dan segenap ekosistem kehidupan menjadi lebih baik.

                                                                                ***

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Kalian juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa selengkapnya lihat di sini ya.

Referensi Bacaan :

1. Selamatkan Pantai Pekalongan, Aksi Penanaman Mangrove Digalakkan, jateng.garudacitizen.com.
2. Banjir Rob Landa Warga Krapyak Pekalongan, jateng.garudacitizen.com.
3. Kawal Pembangunan Polder, Solusi Banjir Pekalongan, suaramerdeka.com.
4. Strategi Pekalongan Atasi Ancaman Banjir Berulang, bisnis.com.
5. Normalisasi atau Naturalisasi Sungai? Begini Bedanya, news.detik.com.
6. Pembangunan Tanggul Laut di Pekalongan Tunjukkan Progress Positif, antaranews.com.
7. Wisata Taman Mangrove Pekalongan, cintapekalongan.com.

Minggu, 14 Juni 2020

Bukan Perempuan Biasa : Kisah Inspiratif Mbok Gendong Rubiah, Sang Perempuan Tangguh

Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi Pribadi
"Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan" (UUD 1945 pasal 27 ayat 2).

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, pekerja informal jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan pekerja formal. Dari 126,51 juta angkatan kerja (pekerja aktif), sebanyak 70,49 juta berasal dari sektor informal (unskilled worker), adapun sisanya sebanyak 56,02 juta jiwa merupakan pekerja formal (skilled worker). Pekerja formal mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah, memiliki seperangkat hak dan kewajiban yang diatur dalam undang-undang, serta dijamin kesejahteraannya. Pekerja formal ini meliputi dosen, guru, dokter, TNI, polisi, wirausahawan, dan sejenisnya. Pekerja formal memiliki jumlah jam kerja yang pasti (8 jam kerja/hari atau 40 jam kerja/minggu), hari libur (Sabtu-Minggu), gaji tetap, upah lembur, dan terkadang bonus kerja. Lain halnya dengan pekerja formal, pekerja sektor informal memiliki beban dan juga jam kerja yang terkadang tidak manusiawi, ketiadaan hari libur, nihilnya jaminan sosial, upah yang tidak layak, minimnya fasilitas pendukung, bahkan berbagai macam diskriminasi dan pelecehan di tempat kerja. Itu pun belum ada regulasi yang jelas berupa seperangkat undang-undang yang melindungi hak-hak dasar pekerja sektor informal.

Dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional yang jatuh pada 10 Desember 2019, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta bersama Yayasan Annisa Swasti mengajak kelompok yang tergabung dalam jaringan pekerja informal wilayah DIY untuk mengekspresikan suara hati dan kegundahan kepada pemerintah daerah, dinas tenaga kerja, serta instansi lain yang terkait. Jaringan pekerja informal yang terdiri atas paguyuban buruh gendong, perempuan pekerja rumahan, dan pekerja rumah tangga ini menuntut pemda untuk membuat kebijakan atau regulasi tertulis (semacam perda) guna memberikan jaminan dan perlindungan terhadap kaum pekerja sektor informal.

Rubiyah merupakan salah satu dari sekian perempuan yang berani menyuarakan kegundahan tersebut. Rubiyah, perempuan berusia setengah abad itu tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun, sebuah kelompok yang menaungi buruh gendong wilayah DIY di 4 pasar (Giwangan, Beringharjo, Gamping, dan Kranggan). Rubiyah adalah lokomotif. Rubiyah adalah penggerak sekaligus pemimpin Paguyuban Sayuk Rukun dimulai dari tahun 2013 hingga artikel ini ditulis. Rubiyah memiliki kisah yang inspiratif.

Sesungguhnya tidak mudah menjadi buruh gendong atau mbok gendong. Perempuan seperti Rubiyah rela melakukan kerja ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus penyokong ekonomi keluarga untuk sebuah pekerjaan yang tidak ringan. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya cocok untuk laki-laki. Sebuah pekerjaan yang serupa kuli. Sebuah pekerjaan yang beban kerja dan pengupahannya terasa kurang manusiawi.

Tapi mau bagaimana lagi? Inilah kisah Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh.

                                                                               ***
Sepagi buta, di mana orang-orang masih terlelap dengan tidurnya, para buruh gendong atau kerap dipanggil dengan sebutan mbok gendong mulai menjalankan aktivitasnya. Denyut nadi Pasar Giwangan justru berpusat di malam hari hingga menjelang subuh. Di sinilah terjadi transaksi ekonomi dalam skala besar. Truk-truk pengangkut sayur dan buah berlalu lalang mengangkut berkuintal-kuintal beban. Jasa angkut seperti mbok gendong sangatlah berperan signifikan. Terdengar hiruk-pikuk, riuh rendah obrolan sopir, kuli, tukang sortir, juragan, serta pedagang di tengah bongkar muat barang-barang. Maklum Pasar Giwangan merupakan pasar induk yang menyuplai kebutuhan partai besar dan grosir ke pasar-pasar kecil di wilayah DIY dan sebagian Jawa Tengah. Pasar Giwangan tidak hanya memasok buah dan sayur dari petani lokal, tetapi ada juga produk buah dan sayur impor. Pasar yang beroperasi 24 jam nonstop dan memiliki luas lahan 24.594 m2 tersebut memiliki omset per bulan rata-rata mencapai 51 miliar rupiah dan perputaran retribusi sebesar 122 juta rupiah (sumber : Jogjaprov.go.id)
Pasar Giwangan. Berkarung-karung jeruk telah ditimbang dan siap didistribusikan. Dokumentasi pribadi.
Pasar yang terletak di Jalan Imogiri No. 212 ini mulai beroperasi semenjak 14 Desember 2004, dulunya merupakan balai benih ikan. Terdapat 1135 pedagang yang terdiri atas 117 pedagang los, 625 pedagang kios, dan 393 pedagang lapak. Tidak hanya sayur-mayur dan bebuahan, Pasar Giwangan juga menyediakan aneka kebutuhan pokok, kudapan/jajanan, jejamuan, aneka jenis daging, bumbu-bumbu, rempah-rempah, berbagai perlengkapan rumah tangga, dan masih banyak lagi. 
Mbok Gendong Pasar Giwangan (Baju Biru)  & Aktivitas Sortir Buah Jeruk Berdasarkan Grade. Dokumentasi Pribadi.
Di Pasar Giwangan terdapat 135 mbok gendong yang juga tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun. Kebutuhan ekonomi yang menghimpit membuat para ibu rumah tangga yang seharusnya berada di sektor domestik merambah ke sektor informal yakni dengan menjadi buruh gendong atau mbok gendong. Mbok gendong merupakan istilah untuk perempuan yang menawarkan jasa mengangkut barang (bisa berupa sayur-mayur, kerupuk, atau buah-buahan) di pasar dengan cara menggendongnya menggunakan jarik (lurik). 

Beban barang sekali angkut berada kisaran 80 kg hingga 90 kg dengan upah 2.000 hingga 4.000 rupiah. Angka minimal beban angkut adalah 25 kg (meski cukup jarang) dan maksimal 120 kg. Upah yang diterima para mbok gendong per bulan berada di kisaran 800 ribu hingga 900 ribu rupiah. Angka ini bahkan sangat jauh dari UMP (Upah Minimum Propinsi) DIY per 2020 yang mencapai Rp. 1.704.608. Ironis bukan? Di tengah pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang memilih isolasi mandiri di rumah dan tidak terlibat kontak fisik dengan pasar sehingga mengakibatkan pendapatan para mbok gendong menurun.
Pasar Induk Giwangan Lumayan Sepi Selama Masa Pandemi. Dokumentasi Pribadi.
Bayangkan perempuan-perempuan dengan fisik kurus ringkih harus mampu mengangkat beban setara 0,8 hingga 1,2 kuintal per sekali gendong. Mbok gendong, meski tubuh keliatan kurus ringkih, sejatinya mereka adalah perempuan-perempuan tangguh nan perkasa. Perempuan-perempuan tangguh nan perkasa yang bekerja di Pasar Giwangan ini berasal dari berbagai daerah seperti Solo, Sukoharjo, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Purworejo.

Penelitian yang dilakukan Budi Estri dengan judul "Peran Perempuan Buruh Gendong di Yogyakarta" menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perempuan ini bekerja di sektor informal. Faktor tersebut meliputi adanya upaya menopang dan meningkatkan kebutuhan ekonomi keluarga, tingkat pendidikan yang rendah, dan keahlian/keterampilan yang kurang memadai. Adapun faktor risiko yang ditanggung oleh mbok gendong bisa berupa kelelahan dan rasa sakit di sepanjang kaki dan punggung, terpeleset saat membawa gendongan, serta kaki kejatuhan peti gendong. Itu belum termasuk risiko pelecehan dan diskriminasi gender di tempat kerja. Juragan-juragan sewaktu-waktu bisa membentak dan berkata kasar jika mbok gendong dirasa bekerja lamban tidak sesuai ekspektasi sang juragan.

"Awal saya bekerja sebagai mbok gendong karena terdesak. Ambar, anak saya yang pertama menunggak SPP selama 4 bulan. Jumlahnya kalau tidak salah hampir seratus lima puluh ribu. Bingung. Nangislah saya. Pada waktu itu saya hanya ibu rumah tangga biasa. Bapak kerja mbecak di Pasar Beringharjo. Pulang bisa 3 atau 4 hari sekali." Cerita Rubiyah kepada saya.

Rubiyah memiliki 4 orang anak. Anak yang pertama bernama Ambarwati, waktu itu terancam drop out dari SMA-nya jika tidak mampu melunasi tunggakan. Anak kedua berjenis kelamin laki-laki merupakan anak spesial (baca : berkebutuhan khusus) yang bersekolah di salah satu SLB di Bantul. Anak ketiga berjenis kelamin laki-laki juga. Adapun si bungsu saat itu baru saja lahir (tahun 2003). 

Awal 2004, Rubiyah mulai bekerja sebagai mbok gendong di Shopping Centre, Pasar Beringharjo. Menjelang akhir tahun 2004, Pasar Induk Giwangan baru saja diresmikan dan mulai beroperasi. Pedagang-pedagang yang semula berjualan di Kranggan, Gamping, dan Beringharjo sebagian pindah lapak ke Pasar Induk Giwangan. Termasuk juga para mbok gendong dan tentunya Rubiyah. 

Pasar Induk Giwangan sangatlah luas, fasilitas pendukungnya lebih memadai, dan jauh lebih representatif jika dibandingkan pasar-pasar lainnya. Makanya pemda setempat melakukan relokasi. Sebuah spanduk besar terpampang ketika saya memasuki Pasar Induk Giwangan, pasare resik, atine becik, rejekine apik, sing tuku ora kecelik (Pasarnya bersih, penjualnya berhati baik, rejekinya bagus, yang membeli tidak kecewa).

"Saya bekerja di Shopping pertama kali mendapat upah Rp. 17.000 rasanya sweeenengnya bukan main. Upah berikutnya secara teratur Rp. 20.000/hari. Bapak mbecak yang pulangnya bisa 3 atau 4 hari sekali, cuma bisa bawa uang Rp. 6.000 atau Rp. 7.000 saja. Dari nggendong saya mampu melunasi SPP Ambar." Kenang Rubiyah.

Rubiyah melanjutkan, "Sebenarnya saya kerja di Shopping awalnya tidak diijinkan oleh suami. Soalnya banyak kejadian pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki (baca : kuli dan pekerja kasar lainnya) kepada para mbok gendong. Itu ngeri banget." Pelecehan tersebut dalam bentuk verbal berupa siulan/godaan yang tidak senonoh, ada juga yang mengarah kepada sentuhan fisik seperti colekan/rabaan.

Selain pelecehan, diskriminasi dan ketidaksetaraan gender berupa upah yang tak adil untuk beban kerja yang sama antara mbok gendong yang perempuan dan kuli laki-laki kerapkali terjadi. Semisal untuk mengangkut 90 kg kentang, mbok gendong mendapat upah Rp 1.000, adapun kuli Rp 2.000. Tak adil bukan?

"Pindahan dari Beringharjo ke Giwangan, saya mendapati perempuan muda yang menangis sehabis bekerja. Dia diperlakukan tidak senonoh oleh salah satu kuli di Giwangan. Marahlah saya. Mencak-mencaklah saya ke kuli tersebut. Namun, kuli tersebut malah melengos. Ya Allah." Ucap Rubiyah sambil menarik napas panjang, prihatin. Air mukanya nampak sedih dan terluka. Masa-masa itu menyimpan memori yang cukup kelam. 
Beban berupa satu gendongan kubis ini hampir berukuran  1 kuintal. Dokumentasi Pribadi
Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi pribadi.
Sebuah LSM bernama Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) yang fokus pada pemberdayaan kaum perempuan sektor pekerja informal mulai bergerak dan memperjuangkan kaum buruh gendong. Yasanti gencar melakukan advokasi, pendampingan, sosialisasi, dan memberikan pelatihan-pelatihan untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan sosial perempuan pekerja informal. Yasanti mendorong mbok gendong agar berani bersuara terhadap kasus-kasus ketidakadilan dan ketaksetaraan gender, HAM, perlindungan hukum perempuan pekerja informal, dan masih banyak lagi. 

Pada tahun 2005 dibentuklah Paguyuban Sayuk rukun, sebuah komunitas yang mewadahi perjuangan mbok gendong area Pasar Kranggan, Gamping, dan Beringharjo. Pasar Induk Giwangan belum tergabung, karena belum memiliki paguyuban saat itu. Nah, pada tahun 2007 dibentuklah paguyuban mbok gendong Pasar Induk Giwangan. Pada akhirnya 4 pasar tersebut bersatu di bawah 1 paguyuban tunggal yakni Sayuk Rukun. Terbentuknya Sayuk Rukun tidak lepas dari peran besar Yasanti.

"Saya mendapatkan pelatihan dari Yasanti tentang kesetaraan gender, hukum, dan HAM. Wah, awalnya berat sekali rasanya memahami hal tersebut. Apalagi saya hanya tamatan SD." Ungkap Rubiyah yang pernah mengenyam pendidikan di SDN 2 Mecijah Gunungkidul. Istilah "advokasi" dulu terasa asing baginya.

Kontribusi Yasanti ibarat rintik hujan di musim kemarau, menghadirkan pencerahan. Rubiyah mulai mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Yasanti pada tahun 2008. Rubiyah terus belajar. Meski statusnya hanya lulusan sekolah dasar, tak menghalangi Rubiah untuk terus menempa diri, terus berbenah. Mengkaji hal-hal baru yang masih terbilang asing baginya saat itu seperti apa itu perlindungan hukum, HAM, advokasi, organisasi, kesetaraan gender, bagaimana melakukan audiensi dengan regulator/pemerintah, bagaimana cara berbicara di depan media dan publik, dan lain sebagainya. Maka tak heran di tahun 2013, Rubiyah didaulat sebagai ketua Paguyuban Sayuk Rukun Daerah Istimewa Yogyakarta. Jabatan itu masih terus diembannya hingga kini.

"Tahun 2015 saya dan teman-teman bergerak di depan DPRD Yogyakarta, menuntut adanya regulasi dan perlindungan hukum terhadap pekerja informal seperti kami."

Ada 4 tuntutan yang dilakukan buruh gendong. Pertama, pemerintah daerah mengakui (secara tertulis) pekerja informal buruh gendong, memberikan jaminan perlindungan kerja, serta sistem upah yang layak. Kedua, pemerintah daerah melibatkan buruh gendong dalam pengambilan keputusan terkait pelayanan publik di pasar. Ketiga, buruh gendong diberikan fasilitas pelayanan kesehatan. Terakhir, pemerintah daerah menyediakan ruang pertemuan (rapat) dan ruang istirahat bagi buruh gendong.

"Dulu sering terjadi diskriminasi dalam sistem upah di mana kami buruh gendong mendapat upah yang lebih kecil dari pekerja kasar laki-laki/kuli. Setelah melalui proses yang panjang, upah antara mbok gendong dan kuli sudah setara. Dulu, upah per gendongan dengan berat mulai dari 60 kg hingga 1 kuintal dibayar Rp 2.000 saja. Sekarang upah yang diterima mbok gendong ada yang Rp 3.000, Rp. 4.000, kalau juragannya baik bisa Rp 5.000. Dulu banyak kasus pelecehan yang menimpa mbok gendong saat bekerja, sekarang sudah tidak ada. Sudah tidak ada yang berani malah." Tegas Rubiyah.

"Terkait fasilitas kesehatan ini yang belum menyeluruh. Banyak dari kami yang berasal dari luar DIY, Jamkesmas tidak menanggung biaya kesehatan buruh gendong yang dudu wong asli Jogja. Kalau terjadi kecelakaan kerja yang menimpa buruh gendong yang bukan warga sini, ya paling diobati dengan cara dipijat atau dikasih balsam."

"Kami butuh semacam ruang istirahat dan ruang pertemuan sebagai tempat ganti pakaian para mbok gendong serta tempat koordinasi anggota Sayuk Rukun. Sakwise audiensi ingkang cukup alot, akhirnya dibuatlah shelter berukuran 3x3 m yang terletak di pasar bagian timur (digunakan sebagai ruang ganti pakaian dan ruang istirahat) dan sebuah aula. Lantai 2 aula, saged kangge ruang pertemuan/rapat. Sejak dibangun aula meniko, mbok gendong dan pedagang pasar bisa memanfaatkannya untuk sesrawungan dan bertukar pikiran terkait pengelolaan pasar."
Lantai 2 Bangunan Hijau Ini Digunakan Sebagai Aula dan Ruang Pertemuan/Koordinasi/Rapat. Dokumentasi Pribadi.
Rubiyah bertutur salah satu momen yang berkesan adalah ketika bisa berjumpa dan menyampaikan uneg-uneg mengenai buruh gendong secara langsung kepada Presiden Jokowi pada 9 Desember 2015. Bertepatan dengan Hari HAM sedunia. Berlokasi di Gedung Agung Yogyakarta, Rubiyah hadir sebagai wakil dari Sayuk Rukun. Bertatap muka dengan mantan orang nomor satu di Kota Solo merupakan impian sejak lama. Di akhir pertemuan tersebut, Rubiyah sempat berfoto bareng dengan sang presiden. "Sebagai kenangan buat anak cucu." Ungkap Rubiyah bangga.

Seberapa besar kontribusi mbok gendong di masyarakat? Demi menciptakan ketahanan keluarga dan meningkatkan pundi-pundi rejeki, para perempuan tangguh ini rela menghabiskan waktu berjam-jam di pasar dengan menjadi mbok gendong. Keberadaan mbok gendong sangatlah penting bagi pedagang. Mbok gendong menawarkan jasa angkut buah dan sayuran yang dibutuhkan oleh para juragan. Ah, bisa jadi dari sesuap kentang balado yang kamu sendok ada tetes peluh mbok gendong. Dari setiap teguk jus apel yang kamu minum ada derai perjuangan mbok gendong. Dari kepingan kerupuk udang yang kamu goreng, ada semangat pantang menyerah dari mbok gendong.
Rubiyah Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi Pribadi
Berkuital-kuintal Kentang dalam Karung-karung. Dokumentasi Pribadi
 Semangat Pantang Menyerah dari Rubiyah. Dokumentasi Pribadi
Harapan apa yang masih ingin dirajut Rubiyah? Rubiyah bercerita bahwa pergi ke tanah suci Mekah dan melakukan perjalanan spiritual merupakan impian yang masih terus digenggam. Terkadang harapan dan impian Rubiyah tersebut terkesan muluk-muluk. Bagaimana mungkin pergi umroh atau haji, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja terkadang masih terkatung-katung. Upah 800 ribu hingga 900 ribu dirasa masih kurang untuk biaya hidup sebulan plus ada tanggungan seorang anak dengan kategori "special needs." 

Tak Sekadar Merajut Impian dan Memulai Langkah Kaki, Tetapi Bagaimana Segalanya Kita #AwaliDenganKebaikan

Rubiyah hanya seorang mbok gendong yang mengenyam pendidikan tingkat dasar, tetapi tanpa kita sangka kepedulian hatinya kepada nasib sesamanya telah mengubah peta hidupnya. Diawali pergulatan batin menghadapi diskriminasi (upah kerja yang tidak adil dan layak) serta kasus pelecehan yang menimpa rekan kerjanya yang berusia muda, membuat Rubiyah lantang bersuara. Rubiyah pantang menyerah. Rubiyah banyak belajar. Rubiyah kunyah dengan hati-hati istilah-istilah seperti HAM, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, perlindungan hukum, advokasi, audiensi, dan masih banyak lagi. Rubiyah yakin bahwa segala sesuatu itu harus dimulai dari hati. Tak sekadar merajut impian dan memulai langkah kaki, tetapi bagaimana segalanya kita #AwaliDenganKebaikan.

Spirit #AwaliDenganKebaikan mendorong Allianz, perusahaan asuransi dan manajemen aset terkemuka di dunia untuk selalu berbagi dan menebar inspirasi. Melalui kisah-kisah yang memikat hati. Lewat program #AwaliDenganKebaikan, Allianz mengajak masyarakat Indonesia merangkai dan menarasikan kisah hidup, perjalanan, dan perjuangan seseorang yang paling inspiratif, yang tentunya layak mendapatkan kesempatan beribadah umroh ke tanah suci. Bersama program #AwaliDenganKebaikan Allianz, mari kita dukung Rubiyah agar mampu melaksanakan umroh ke Baitullah.

Allianz melesat dan menjadi salah satu perusahaan asuransi terbaik di Indonesia. Allianz semakin membesar, seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan jiwa sekaligus investasi. Salah satu yang menjadi andalan Allianz adalah Produk Asuransi Syariah Allisya Protection Plus. Allisya Protection Plus merupakan merupakan produk asuransi jiwa unit link syariah yang memberikan perlindungan maksimal plus nilai investasi potensial di masa yang akan datang. Asuransi Syariah Indonesia dari Allianz ini ternyata sudah dilengkapi dengan fitur wakaf lho. Wakaf sendiri cukup diminati lantaran memiliki berkah dan kebermanfaatan yang mengalir tiada henti, meskipun sang pemberi wakaf telah meninggal dunia.

Teladani Mbok Gendong Rubiyah yang memantapkan hati untuk terus belajar dan berkembang, sebab Rubiyah begitu paham bagaimana #AwaliDenganKebaikan. Memilih produk keuangan yang menjamin perlindungan jiwa dan nilai investasi di masa depan merupakan wujud dari #AwaliDenganKebaikan. Yuk  segalanya kita #AwaliDenganKebaikan. Mulai dari diri sendiri, kini, dan nanti.

Sumber referensi tulisan : Artikel ini ditulis dengan sejumlah informasi berdasarkan wawancara langsung dengan ketua Buruh Gendong DIY Paguyuban Sayuk Rukun, Rubiyah.