Selasa, 01 September 2020

#IniUntukKita – Optimisme Pembangunan Indonesia lewat Creative Financing dan Pembiayaan Perumahan Bersubsidi Berbasis FLPP

Beberapa waktu yang lalu saya, Arum, dan Ratna terlibat percakapan daring. Kami bertiga satu kampus tetapi beda jurusan. Setelah lulus kuliah, kami masing-masing bekerja dan komunikasi menjadi terbatas. Di masa pandemi seperti ini, kami memutuskan bersua, meski secara daring. Kabar baiknya, Ratna akan segera menikah, meski rencana pernikahannya diundur hingga akhir tahun. Seharusnya pernikahan Ratna dilaksanakan di awal Mei lalu. Karena satu dua hal, termasuk Covid-19, pernikahan tersebut akhirnya diundur. 

“Baiknya setelah menikah, tinggal di rumah mertua, ngontrak, atau beli rumah sendiri ya? Bingung…” Ungkap Ratna kepada Saya dan Arum. 

Saya menyarankan kepada Ratna mending beli rumah sendiri kalau ada dana. Jangan tinggal di rumah mertua ataupun orangtua. Kalau ngontrak paling tidak Ratna harus menyiapkan dana 20 hingga 25 juta per tahun. Uang segitu daripada buat ngontrak mending buat nyicil KPR. Saya berpikir kalau bujet terbatas, lebih baik punya rumah sederhana, tetapi milik sendiri daripada duit habis buat sewa. 

“Inginnya sih beli rumah sendiri, tapi kalian tahu kan gaji aku sebagai guru honorer seberapa dan Mas Anton gajinya belum sanggup buat bayar DP sekaligus nyicil rumah. Selama pandemi, mas Anton kerja di rumah, gajinya gak 100% lagi." Urai Ratna. 

Kami hening beberapa saat. Mungkin ini yang menyebabkan pernikahan Ratna diundur hingga akhir tahun. Ratna dan calon suaminya berusaha mengumpulkan uang buat pernikahan dan biaya pascapernikahan (kebutuhan akan rumah tinggal).

Mendingan beli rumah atau sewa saja ya? Pertanyaan klasik ini sering menggema di kalangan milenial, fresh graduate, dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Apalagi kebutuhan milenial akan rumah tinggal tergolong cukup tinggi. Saya, Ratna, Arum dan 81 juta milenial Indonesia rentang usia 26 hingga 36 tahun memiliki harapan tinggi untuk memiliki rumah pribadi. Bukan indekos apalagi mengontrak. Angka 81 juta tersebut setara dengan 31% dari total penduduk Indonesia (sumber : kementerian PUPR). Data Bank Indonesia menyebutkan bahwasanya milenial dengan rentang usia di atas mendominasi pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah tapak dan rumah susun ukuran 22-70 m2.

Masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas tentu dimudahkan ketika mengajukan KPR karena ada dana berlebih. Bagaimana dengan milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)? Membidik milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang tertarik memiliki hunian  pribadi dengan harga yang tidak membuat kantong bocor, pemerintah melalui PPDPP (Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan) Kementerian PUPR membuat inovasi creative financing berupa KPR bersubsidi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). 

Pembiayaan perumahan bersubsidi berbasis FLPP ini dikhususkan untuk masyarakat berpenghasilan ekonomi menengah ke bawah dengan pendapatan maksimal 8 juta rupiah per bulan. Jadi jika kamu dan pasanganmu memiliki pendapatan gabungan sebesar 6 juta rupiah, kamu bisa mengajukan Pembiayaan perumahan bersubsidi  atau KPR FLPP. Kamu yang masih lajang, berpenghasilan 4 juta per bulan, dan ingin memiliki hunian pribadi tentu bisa mengajukan pembiayaan ini. 
Aplikasi SIKASEP, inovasi marketplace perumahan bersubsidi. Produk dari suatu creative financing. Dokumentasi pribadi
Kabar baiknya, selama masa pandemi ini, kamu tak perlu keluar rumah untuk mencari informasi mengenai pembiayaan bersubsidi berbasis FLPP ini. Untuk menjangkau masyarakat lebih luas, PPDPP Kementerian PUPR membuat aplikasi marketplace perumahan bernama SIKASEP (Sistem KPR Subsidi Perumahan). Aplikasi SIKASEP mempertemukan dan menghubungkan antara pengembang, perbankan, dan masyarakat dalam satu genggaman  tangan. Kita tak perlu keluar rumah. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Tinggal klik-klik, cari rumah idaman yang tersedia di aplikasi, dan ikuti semua persyaratan dan prosedur yang sudah ditentukan. Alurnya nanti tertera di aplikasi. Tersedia pula pilihan opsi dalam memilih developer perumahan, nama bank mitra FLPP, estimasi biaya melalui kalkulator KPR FLPP, dan sebagainya.

Bagi milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), creative financing bernama FLPP ini memberikan kemudahan karena menetapkan tingkat suku bunga 5% (fixed), tenor kredit hingga 20 tahun, bebas PPN dan premi asuransi, uang muka lebih ringan serta cicilan terjangkau jika dibandingkan dengan KPR non-FLPP. 
Optimisme pembangunan bisa dilihat salah satunya dari alokasi anggaran infrastruktur pembiayaan perumahan dan permukiman untuk masyarakat serta bagaimana dukungan/keterlibatan BUMN dan pihak swasta di dalamnya. Inilah yang dimaksud dengan creative financing, skema pembiayaan alternatif yang bisa ditempuh oleh pemerintah melalui kerja sama antara pemerintah dan badan usaha dalam negeri (menggunakan dana non-APBN/APBD). Nah, anggaran untuk pembiayaan infrastruktur dari creative financing bisa diperoleh dari berbagai sumber seperti PMN (Penyertaan Modal Negara) melalui BUMN, investasi swasta dalam negeri, penerbitan obligasi pemerintah, dan sumber-sumber pendanaan lainnya. Yups, optimisme tersebut dibangun melalui investasi dan melibatkan berbagai elemen lokal Indonesia. Catat ya, bukan hutang kepada pihak asing. Nantinya anggaran untuk pembiayaan infrastruktur ini dipergunakan untuk pembangunan jalan tol, bandara, saluran irigasi, perumahan dan permukiman, dan berbagai jenis infrastrukur lain yang memiliki manfaat produktif.

Kembali ke topik pembiayaan perumahan, pada poin ini, optimisme bisa ditilik pada upaya untuk mengatasi adanya backlog (defisit) perumahan dan target penyediaan 1 juta rumah untuk rakyat. Pada Oktober 2019, program satu juta rumah untuk rakyat telah melampaui target dan terealisasi sebesar 1.002.317 unit rumah, terdiri atas 706.440 unit rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang bersumber dari pembiayaan FLPP dan 295.877 unit rumah untuk non-MBR, pembiayaan lain selain FLPP. Adapun pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan Renstra 2020-2024 bidang pembiayaan perumahan bersubsidi, pemerintah menarget jumlah rumah tangga yang mendiami hunian layak huni meningkat dari 56,7% menjadi 70%.

Darimana sumber dana pembiayaan perumahan berbasis FLPP ini? Pada tahun 2020 sumber dana tersebut berasal dari DIPA sebesar 9 triliun, dana pengembalian pokok sebesar 2 triliun, dan BUMN pembiayaan sekunder perumahan (PT SMF) sebesar 3,7 triliun sehingga total dana keseluruhan adalah 14,7 triliun.

Bagaimana kisah mereka yang telah memperoleh manfaat produktif dari pembiayaan perumahan berbasis FLPP tersebut? Dessy Aryanti, salah satu penerima pembiayaan perumahan berbasis FLPP bertutur bahwa dirinya yang seorang single parent dan bekerja sebagai buruh di perusahaan obat herbal mampu membeli rumah tapak tipe 36/60. Adapun angsuran bulanan sebesar Rp 890.000 untuk tenor 20 tahun. Di hunian barunya (Perumahan Sultan Residence), Dessy bahagia dan bisa fokus merawat puteri semata wayangnya yang kini telah beranjak remaja.

#IniUntukKita, kita optimistis pembangunan Indonesia bisa terjadi berkat pembiayaan infrastruktur. Melalui creative financing berbasis FLPP dan aplikasi SIKASEP, mencari rumah idaman semudah dalam genggaman. Melalui creative financing berbasis FLPP, mimpi milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk memiliki hunian pribadi bukan lagi menjadi sekadar angan. Bagaimana? Tertarik mencoba?

Sumber Referensi : Website Kemenkeu dan Kementerian PUPR.

Sabtu, 04 Juli 2020

Mangrove, Laut, Perubahan Iklim, Kesadaran Konservasi, hingga Bijak Berwisata.

Mangrove atau bakau dikenal sebagai tetumbuhan yang hidup di perairan dekat pantai, rawa-rawa di air payau. habitat mangrove dipengaruhi oleh pasang surut air laut. perlu diketahui bahwasanya garis pantai indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada dengan panjang 95,181 km2. Dengan garis pantai sepanjang itu, Indonesia memiliki 23% ekosistem mangrove dunia yakni sebesar 3.489.140,68 Ha (sumber : Kementerian Lingkungan Hidup). Kondisi mangrove yang baik, menyimpan sejuta harapan serta potensi-potensi seperti sebagai ruang konservasi, ekowisata, serta sumber keanekaragaman hayati yang melimpah. Keanekaragaman hayati ini bisa dimanfaatkan secara biologis, ekologis maupun ekonomis.

Berdasarkan data yang bersumber dari Kementerian kelautan dan perikanan 2015, vegetasi mangrove mampu menyumbang USD 1,5 miliar terhadap perekonomian nasional ditinjau dari sektor perikanan. Itu artinya secara ekonomi, vegetasi mangrove mampu memberikan pendapatan kepada masyarakat di daerah itu melalui pengelolaan dan pemberdayaan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, termasuk potensi ekowisata. Berikutnya, secara biologis, mangrove menjadi tuan rumah bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang, kerang-kerangan, bahkan sampai ke mahkluk hidup tingkat paling mikroskopik sekalipun. Secara ekologis, mangrove berperan penting sebagai spektrum pencegah abrasi air laut, penghalang gelombang saat pasang naik, mitigasi bencana (setidaknya mampu menahan hempasan badai atau tsunami), adaptasi terhadap perubahan iklim, penjaga kualitas/siklus air dan masih banyak lagi manfaat lainnya. Mangrove mampu mengendapkan polutan yang melaluinya, seperti misalnya limbah tailing di Teluk Bintuni, Papua Selatan. Limbah tailing merupakan limbah murni dari hasil tambang (misal emas atau bijih besi) yang tertinggal di air.

Mengapa mangrove memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi? Sebab, mangrove memiliki perpaduan ekosistem darat dan laut yang memungkinkan berbagai makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Beberapa jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove meliputi terna, perdu, liana, nipah-nipahan, beberapa paku-pakuan, dan sebagainya. Adapun jenis satwa yang mampu beradaptasi pada daerah bakau meliputi ular, biawak, buaya air asin, bangau, elang, kera, dan masih banyak lagi. 

Namun sayang, meskipun mangrove memiliki peranan yang sangat signifikan dalam banyak hal, sungguh sangat ironis Indonesia juga menghadapi laju kerusakan mangrove terbesar di dunia yakni mencapai yakni 4.364 km2 atau sekitar 311 km2 per tahunnya (Sumber : Mongabay). Di kehidupan nyata, vegetasi mangrove semakin terkikis akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, permukiman, industri, dan sebagainya. Banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, LSM, CRS perusahaan, institusi pendidikan yang berperan dalam rehabilitasi hutan mangrove. Misal aksi tanam 7000 bibit bakau di Desa Bulu Cindea, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Aksi tersebut bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati, konservasi, serta memenuhi standar praktik budidaya perikanan berkelanjutan bersertifikasi ASC (Aquaculture Stewardship Council).

Di Pekalongan, kota kelahiran saya, keberadaan mangrove atau hutan bakau sangat berperan, meskipun belum maksimal. Mangrove memiliki fungsi untuk menahan abrasi pantai dan serangan banjir rob. Namun sayang, meski memiliki lahan seluas kurang lebih 90 hektar, hutan-hutan penjaga bibir pantai utara Jawa Tengah ini belum mampu menahan gelombang laut seutuhnya. Bahkan sering diberitakan mengenai banjir rob yang menelan beberapa wilayah di Pekalongan bagian utara, daerah yang cukup rawan dengan abrasi air laut.

Saya mengunjungi Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove di Pekalongan ketika mudik lebaran tahun 2019 silam. Ekowisata Pekalongan Mengrove Park ini terletak di Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara. Di kawasan ini tersedia beberapa fasilitas infrastruktur pendukung pembelajaran seperti : fasilitas edukasi, fasilitas pembibitan, fasilitas penelitian, fasilitas ekonomi produktif (budidaya kepiting soka, budidaya rumput laut dan silvofishery - tumpang sari antara ikan, udang dan mangrove), fasilitas wisata kuliner, area pemancingan, dan masih banyak lagi.
Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove. Dokmentasi Pribadi
Dampak abrasi dan gelombang pasang air laut . Daratan yang semula kering tergenang air asin. Dokumentasi Pribadi
Sayangnya sore itu terjadi gelombang pasang air laut sehingga menyebabkan daratan tergenang air asin. Foto di atas sebelum tergenang air laut berupa tegelan semen. Ketika menjelang sore terjadi gelombang pasang air laut. Daratan tergenang. Motor-motor yang melewati daratan pun tetap akan melaju meskipun menerjang air yang dalamnya melebihi mata kaki. Bahkan kawasan mangrove pun kurang mampu menahan laju abrasi juga gelombang pasang air laut.
Daratan yang tergenang air laut di Pekalongan Mangrove Park. Dokumentasi Pribadi
Selain abrasi dan gelombang pasang, terdapat fenomena penurunan tanah (land Subsidence) yang terjadi sepanjang tahun. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Pekalongan saja, tetapi juga di beberapa kawasan sepanjang Pantai utara Jawa seperti Tegal, Pemalang, Brebes, Rembang, dan Demak. Berdasarkan penelitian Lembaga Partnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan Pekalongan, penurunan tanah ini mampu mencapai 25 cm hingga 34 sentimeter atau hampir setengah meter sepanjang tahun. Dalam kondisi normal penurunan tanah ini bisa terjadi 3 cm hingga 5 cm. Namun, sayangnya industri-industri besar, pembuatan sumur air tanah, dan abrasi menyebabkan penurunan tanah bertambah hingga lebih dari 20 cm per tahun. Akibat Land Subsidence tersebut terjadilah banjir rob yang menenggelamkan beberapa kecamatan di wilayah Pekalongan. Gambar udara dari Drone AntaraNews.Com mendokumentasikan bagaimana banjir rob menelan hampir 70% wilayah yang ada di Pekalongan.

Fenomena ini membuat saya sedih, pasalnya sewaktu saya masih kecil (tahun 1996) keadaan tidaklah sedemikian rupa. Semenjak tahun 2002, Wilayah Pantai Utara Jawa, terkhusus Pekalongan terdampak perubahan iklim secara langsung. Hingga tahun 2018, 31% wilayah Pekalongan tergenang air laut bahkan hingga menjadi permanen. Suatu kondisi yang menggiriskan hati dan layak mendapatkan perhatian tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat.

Pada Desember 2017, banjir rob ini menyebabkan terendamnya 7 kelurahan di Pekalongan Utara,. ribuan orang mengungsi, menenggelamkan harapan warga untuk tertidur nyenyak, hingga membuat wabah penyakit seperti demam berdarah dan penyakit kulit disebabkan air kotor. Pada Mei 2018, banjir rob menyebabkan Lapas Pekalongan terendam air hingga kedalaman 80 cm, hal ini menjadikan 466 warga binaan lapas tersebut terpaksa harus dipindahkan.

Pengeboran air sumur tanah untuk industri besar (tekstil) dan industri rumah tangga (batik) menjadi salah satu pokok permasalahan penyebab banjir rob sepanjang tahun. Pembuatan sumur bor ini menyebabkan terjadinya land subsidence seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Selain itu, limbah buangan yang dihanyutkan ke sungai dan bermuara ke laut menjadi masalah baru. Belum lagi dampak perubahan iklim seperti fenomena La Nina.
Akibat banjir rob, warga di Pekalongan banyak yang mengungsi. Dokumentasi Alifa Taufan.
Terjadinya pandemi Covid-19 membuat membuat bumi semakin membaik sebab menurunnya aktivitas manusia yang berdampak kerusakan pada alam dan lingkungan. Pandemi Covid-19 ini sedikit banyak menjadikan alam semakin sehat dan berseri. Apalagi semenjak industri-industri besar yang ada di Pekalongan membuat kebijakan meliburkan karyawannya untuk sementara waktu. Tak ada aktivitas pabrik. Tak ada asap. Tak ada polusi suara. Sangat sedikit limbah industri yang mengalir ke sungai-sungai. Perburuan ikan-ikan di Pantai Utara tidak semasif sebelumnya. Biota laut semakin banyak dan berkembang. Ekosistem laut (termasuk mangrove) menjadi lebih baik.

Menurunnya aktivitas manusia, tidak mengurangi kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim. Dengan kata lain, perubahan iklim menjadi faktor yang cukup influensial jika dikaitkan dengan bencana-bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Krisis iklim berupa pemanasan global misalnya, karena hal ini suhu bumi bertambah beberapa derajat celsius yaang membuat es di kutub mencair. Mencairnya es kutub membuat air di permukaan laut meningkat sehingga semakin menjorok ke daratan.
Guru Besar Bidang Kelautan Universitas Diponegoro, Prof. Muhammad Zuhairi dalam Ruang Publik KBR memaparkan bahwa daerah sepanjang Pantai Utara Jawa seperti Pekalongan akan mengalami pasang tinggi (rob), sehingga daerah-daerah di wilayah itu akan tergenang akibat peningkatan massa air. Perubahan iklim di Indonesia dipengaruhi oleh La Nina dan El Nino. La Nina berkaitan erat dengan suhu permukaan laut yang menyebabkan sirkulasi air dari daerah kutub ke daerah tropis menjadi lebih besar. Apabila massa air tersebut datang ke daratan, tetapi sistem drainase dalam kondisi baik, maka daerah itu akan cukup aman dan terbebas dari genangan. Namun, aktivitas manusia yang berhubungan dengan industri dan eksploitasi air tanah menyebabkan air tanah menjadi asin. Sehingga baik dampak perubahan iklim maupun aktivitas eksploitasi oleh manusia menyebabkan intrusi air laut dan struktur tanah berubah. Hasilnya adalah penurunan permukaan tanah, urai Prof. Muhammad Zainuri.

Prof. Muhammad Zainuri menambahkan bahwasanya menjoroknya garis pantai menuju ke darat, di Pekalongan sudah sepanjang 900 m, adapun Semarang sudah 2,3 Km. Jadi ada daerah yang dulunya daratan, kini menjadi genangan air laut. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah Kota Pekalongan sudah merencanakan pembangunan Giant Sea Wall (Tanggul Laut) dan beberapa polder.

Menurunnya aktivitas manusia di sepanjang garis pantai dan kawasan ekowisata hutan mangrove, membuat peneliti seperti Prof. Muhammad Zainuri dan rekan-rekan ketika melakukan rehabilitasi dan reklamasi wilayah menjadi lebih mudah. Alias tidak mengalami banyak kendala.

Kesadaran konservasi dan bijak berpariwisata merupakan salah satu langkah konkret yang bisa kita lakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut. Jangan sampai setelah new normal, pariwisata Indonesia menjadi tidak terkendali, menciptakan sampah di sana-sini, dan sejumlah masalah baru lainnya.

Berbicara mengenai kesadaran konservasi, saya akan sedikit bercerita mengenai bagaimana seorang konservator mengelola Ekowisata Mangrove yang ada di Selatan Pulau Jawa, tepatnya Ekowisata Wana Tirta Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dokumentasi ini saya rangkum sebelum Pandemi Covid-19.
Mbah Warso, Sang Konservator mangrove. Dokumentasi pribadi
Namanya Lengkapnya Warso Suwito. Namun, beliau kerap dipanggal Mbak Warso atau Pak Wito. Sosoknya begitu bersahaja, jauh dari publisitas. Ramah dan terbuka terhadap siapa saja yang ingin belajar. Siapa sangka bapak dua anak yang bekerja serabutan tersebut merupakan kader konservasi mangrove terbaik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  pada tahun 2014.

Dengan mengenakan kaos biru, celana pendek, dan kaki telanjang, Mbah Warso mengajak saya berkeliling di sekitar Mangrove Wana Tirta.  Mangrove Wana Tirta dijadikan sebagai wisata edukasi berbasis konservasi bakau. Para peserta yang ikut dalam tur akan dijelaskan bagaimana pembibitan bakau, pengenalan manfaat bakau bagi kehidupan pesisir pantai, serta jenis-jenis vegetasi bakau yang bermanfaat dalam mengurangi laju abrasi air laut, penurunan daratan, serta menahan gelombang pasang naik.

Mbah Warso justru berharap banyak anak muda yang datang kemari. Terutama anak usia sekolah dasar. Mbah warso ingin mengajak agar anak muda mencintai lingkungan dan menjaga ekosistem Hutan Mangrove kerusakan. Mbah Warso berharap edukasi sedini mungkin mengenai cinta lingkungan hidup dan alam mampu meminimalisasi kasus pengrusakan alam dan lingkungan. Mbah Warso juga mengajak mahasiswa, LSM, pemerintah, dan pegiat lingkungan hidup dalam aksi tanam mangrove. Ikut dalam aksi penanaman 1000 bibit mangrove merupakan salah satu kontribusi saya dalam melestarikan lingkungan.
Membangun kesadaran konservasi melalui aksi tanam bakau. Dokumentasi pribadi
Membangun kesadaran konservasi melalui aksi tanam bakau. Dokumentasi pribadi
Itu di Kawasan Pantai Selatan Jawa, bagaimana membangun kesadaran konservasi di Kawasan Pantai Utara, terkhusus Pekalongan yang sering terkena dampak banjir rob sepanjang tahun? Di Pekalongan Mangrove Park sendiri sudah beberapa kali melakukan aksi tanam bakau/mangrove yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya ini, penanaman 2.500 bibit bakau pada lokasi yang sudah ditentukan. Aksi ini justru banyak melibatkan anak sekolah.
Membangun kesadaran konservasi melalui aksi tanam bakau. Dokumentasi Hadi Lempe
Selain membangun kesadaran konservasi, Pemerintah Kota Pekalongan telah menempuh berbagai cara untuk menanggulangi masalah banjir rob. Berikut beberapa di antarannya.

1. Mengoperasikan 8 rumah pompa berkecepatan 800 liter hingga 2.000 liter per detik dan 8 mobil pompa air dengan kecepatan 200 liter per detik pada Januari 2019. Pompa-pompa ini berfungsi mengalirkan air banjir rob kembali ke laut.

2. Membangun Giant Sea Wall atau tanggul raksasa penahan rob. Pada September 2019, pengerjaan proyek tanggul laut sudah memasuki pemasangan sheet pile. Sheet Pile merupakan dinding vertikal yang berfungsi menahan tanah dan menahan merembesnya air ke dalam lubang galian, serta menjadi penahan utama tanggul laut. Selain itu sudah dilakukan pemasangan 260 tiang yang membentang dari Desa Panjang Baru dan Panjang Wetan (jaraknya mencapai 260 meter).

3. Normalisasi daerah air sungai yang bermuara ke laut melalui manajemen pengendalian air pada 3 sungai utama : Sungai Sragi Baru, Sungai Bremi, dan Sungai Meduri.  Normalisasi dilakukan dengan tujuan agar aliran air yang ada tidak menumpuk pada titik tertentu sehingga memungkinkan untuk dialirkan langsung menuju muara/laut.

4. Membangun polder. Sistem polder sendiri merupakan cara penanganan banjir rob dengan mengintegrasikan satu kesatuan pengelolaan tata air yang meliputi: sistem drainase kawasan, kolam retensi, tanggul keliling kawasan, pompa dan pintu air. Manajemen sistem tata air dilakukan dengan mengendalikan volume, debit, muka air, tata guna lahan dan lansekap. Dalam pengadaan polder, pemerintah Kota Pekalongan menyiapkan lahan kurang lebih seluas 5 hektare di wilayah Pekalongan Utara.

5. Membangun kesadaran konservasi dan kepedulian akan lingkungan melalui aksi tanam bakau di sepanjang bibir pantai, bersih-bersih Sungai Loji, dan pembuatan biopori. Dinas Lingkungan Hidup Pekalongan mencatat bahwa setiap harinya terdapat sekitar 2 ton sampah yang mengalir ke Sungai Loji. Itu belum termasuk buangan limbah industri makro dan mikro. Akan berbahaya jika limbah Sungai Loji bermuara ke laut, mengancam ekosistem laut. Aksi bersih-bersih berupa pungut sampah di sepanjang Sungai Loji yang melibatkan warga setempat diharapkan mampu membangun kesadaran warga untuk berperilaku hidup bersih serta peduli lingkungan.
Pewarna batik dari mangrove (Potensi produk olahan pendukung ekowisata mangrove di Pekalongan). Dokumentasi pribadi
Tepung mangrove (Potensi produk olahan pendukung ekowisata mangrove di Pekalongan). Dokumentasi pribadi
Kawasan mangrove memiliki potensi ekowisata luar biasa jika dikelola dengan baik. Di Pekalongan, beberapa jenis mangrove dapat diolah menjadi tepung mangrove untuk membuat aneka jenis kue serta pewarna alami batik. Potensi ini juga bisa menciptakan nilai ekonomis. Lalu bagaimana geliat pariwisata bahari selepas new normal? Menyambut dibukanya beberapa keran pariwisata, semua pegiat wisata maupun wisatawan wajib mematuhi protokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah. Pembatasan-pembatasan tentu saja masih dilakukan, misal akses memancing tidak terbuka seperti sebelumnya, dibatasi hanya sekian orang per hari. Desa wisata bahari dan kawasan ekowisata melakukan kontrol penuh mengenai siapa saja yang berkunjung ke tempat wisata.

Berwisatalah dengan bijak. Jangan berwisata seperti orang lapar. Kenali potensi lokal yang ada. Berwisatalah dengan melibatkan warga sekitar dengan mencoba mencari apa yang dibutuhkan mereka, misal apakah warga setempat membutuhkan masker, hand sanitizer, dan sebagainya. Sebuah pesan tersirat Githa Anathasia, pengelola Kampung Wisata Arborek dalam diskusi ringan di Ruang Publik KBR.

Membangun kesadaran konservasi dan bijak berwisata di tengah pandemi. Langkah-langkah ini terbilang cukup sederhana, tetapi bisa berdampak di kemudian hari. Membuat mangrove, laut, dan segenap ekosistem kehidupan menjadi lebih baik.

                                                                                ***

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Kalian juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa selengkapnya lihat di sini ya.

Referensi Bacaan :

1. Selamatkan Pantai Pekalongan, Aksi Penanaman Mangrove Digalakkan, jateng.garudacitizen.com.
2. Banjir Rob Landa Warga Krapyak Pekalongan, jateng.garudacitizen.com.
3. Kawal Pembangunan Polder, Solusi Banjir Pekalongan, suaramerdeka.com.
4. Strategi Pekalongan Atasi Ancaman Banjir Berulang, bisnis.com.
5. Normalisasi atau Naturalisasi Sungai? Begini Bedanya, news.detik.com.
6. Pembangunan Tanggul Laut di Pekalongan Tunjukkan Progress Positif, antaranews.com.
7. Wisata Taman Mangrove Pekalongan, cintapekalongan.com.

Minggu, 14 Juni 2020

Bukan Perempuan Biasa : Kisah Inspiratif Mbok Gendong Rubiah, Sang Perempuan Tangguh

Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi Pribadi
"Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan" (UUD 1945 pasal 27 ayat 2).

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, pekerja informal jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan pekerja formal. Dari 126,51 juta angkatan kerja (pekerja aktif), sebanyak 70,49 juta berasal dari sektor informal (unskilled worker), adapun sisanya sebanyak 56,02 juta jiwa merupakan pekerja formal (skilled worker). Pekerja formal mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah, memiliki seperangkat hak dan kewajiban yang diatur dalam undang-undang, serta dijamin kesejahteraannya. Pekerja formal ini meliputi dosen, guru, dokter, TNI, polisi, wirausahawan, dan sejenisnya. Pekerja formal memiliki jumlah jam kerja yang pasti (8 jam kerja/hari atau 40 jam kerja/minggu), hari libur (Sabtu-Minggu), gaji tetap, upah lembur, dan terkadang bonus kerja. Lain halnya dengan pekerja formal, pekerja sektor informal memiliki beban dan juga jam kerja yang terkadang tidak manusiawi, ketiadaan hari libur, nihilnya jaminan sosial, upah yang tidak layak, minimnya fasilitas pendukung, bahkan berbagai macam diskriminasi dan pelecehan di tempat kerja. Itu pun belum ada regulasi yang jelas berupa seperangkat undang-undang yang melindungi hak-hak dasar pekerja sektor informal.

Dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional yang jatuh pada 10 Desember 2019, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta bersama Yayasan Annisa Swasti mengajak kelompok yang tergabung dalam jaringan pekerja informal wilayah DIY untuk mengekspresikan suara hati dan kegundahan kepada pemerintah daerah, dinas tenaga kerja, serta instansi lain yang terkait. Jaringan pekerja informal yang terdiri atas paguyuban buruh gendong, perempuan pekerja rumahan, dan pekerja rumah tangga ini menuntut pemda untuk membuat kebijakan atau regulasi tertulis (semacam perda) guna memberikan jaminan dan perlindungan terhadap kaum pekerja sektor informal.

Rubiyah merupakan salah satu dari sekian perempuan yang berani menyuarakan kegundahan tersebut. Rubiyah, perempuan berusia setengah abad itu tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun, sebuah kelompok yang menaungi buruh gendong wilayah DIY di 4 pasar (Giwangan, Beringharjo, Gamping, dan Kranggan). Rubiyah adalah lokomotif. Rubiyah adalah penggerak sekaligus pemimpin Paguyuban Sayuk Rukun dimulai dari tahun 2013 hingga artikel ini ditulis. Rubiyah memiliki kisah yang inspiratif.

Sesungguhnya tidak mudah menjadi buruh gendong atau mbok gendong. Perempuan seperti Rubiyah rela melakukan kerja ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus penyokong ekonomi keluarga untuk sebuah pekerjaan yang tidak ringan. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya cocok untuk laki-laki. Sebuah pekerjaan yang serupa kuli. Sebuah pekerjaan yang beban kerja dan pengupahannya terasa kurang manusiawi.

Tapi mau bagaimana lagi? Inilah kisah Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh.

                                                                               ***
Sepagi buta, di mana orang-orang masih terlelap dengan tidurnya, para buruh gendong atau kerap dipanggil dengan sebutan mbok gendong mulai menjalankan aktivitasnya. Denyut nadi Pasar Giwangan justru berpusat di malam hari hingga menjelang subuh. Di sinilah terjadi transaksi ekonomi dalam skala besar. Truk-truk pengangkut sayur dan buah berlalu lalang mengangkut berkuintal-kuintal beban. Jasa angkut seperti mbok gendong sangatlah berperan signifikan. Terdengar hiruk-pikuk, riuh rendah obrolan sopir, kuli, tukang sortir, juragan, serta pedagang di tengah bongkar muat barang-barang. Maklum Pasar Giwangan merupakan pasar induk yang menyuplai kebutuhan partai besar dan grosir ke pasar-pasar kecil di wilayah DIY dan sebagian Jawa Tengah. Pasar Giwangan tidak hanya memasok buah dan sayur dari petani lokal, tetapi ada juga produk buah dan sayur impor. Pasar yang beroperasi 24 jam nonstop dan memiliki luas lahan 24.594 m2 tersebut memiliki omset per bulan rata-rata mencapai 51 miliar rupiah dan perputaran retribusi sebesar 122 juta rupiah (sumber : Jogjaprov.go.id)
Pasar Giwangan. Berkarung-karung jeruk telah ditimbang dan siap didistribusikan. Dokumentasi pribadi.
Pasar yang terletak di Jalan Imogiri No. 212 ini mulai beroperasi semenjak 14 Desember 2004, dulunya merupakan balai benih ikan. Terdapat 1135 pedagang yang terdiri atas 117 pedagang los, 625 pedagang kios, dan 393 pedagang lapak. Tidak hanya sayur-mayur dan bebuahan, Pasar Giwangan juga menyediakan aneka kebutuhan pokok, kudapan/jajanan, jejamuan, aneka jenis daging, bumbu-bumbu, rempah-rempah, berbagai perlengkapan rumah tangga, dan masih banyak lagi. 
Mbok Gendong Pasar Giwangan (Baju Biru)  & Aktivitas Sortir Buah Jeruk Berdasarkan Grade. Dokumentasi Pribadi.
Di Pasar Giwangan terdapat 135 mbok gendong yang juga tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun. Kebutuhan ekonomi yang menghimpit membuat para ibu rumah tangga yang seharusnya berada di sektor domestik merambah ke sektor informal yakni dengan menjadi buruh gendong atau mbok gendong. Mbok gendong merupakan istilah untuk perempuan yang menawarkan jasa mengangkut barang (bisa berupa sayur-mayur, kerupuk, atau buah-buahan) di pasar dengan cara menggendongnya menggunakan jarik (lurik). 

Beban barang sekali angkut berada kisaran 80 kg hingga 90 kg dengan upah 2.000 hingga 4.000 rupiah. Angka minimal beban angkut adalah 25 kg (meski cukup jarang) dan maksimal 120 kg. Upah yang diterima para mbok gendong per bulan berada di kisaran 800 ribu hingga 900 ribu rupiah. Angka ini bahkan sangat jauh dari UMP (Upah Minimum Propinsi) DIY per 2020 yang mencapai Rp. 1.704.608. Ironis bukan? Di tengah pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang memilih isolasi mandiri di rumah dan tidak terlibat kontak fisik dengan pasar sehingga mengakibatkan pendapatan para mbok gendong menurun.
Pasar Induk Giwangan Lumayan Sepi Selama Masa Pandemi. Dokumentasi Pribadi.
Bayangkan perempuan-perempuan dengan fisik kurus ringkih harus mampu mengangkat beban setara 0,8 hingga 1,2 kuintal per sekali gendong. Mbok gendong, meski tubuh keliatan kurus ringkih, sejatinya mereka adalah perempuan-perempuan tangguh nan perkasa. Perempuan-perempuan tangguh nan perkasa yang bekerja di Pasar Giwangan ini berasal dari berbagai daerah seperti Solo, Sukoharjo, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Purworejo.

Penelitian yang dilakukan Budi Estri dengan judul "Peran Perempuan Buruh Gendong di Yogyakarta" menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perempuan ini bekerja di sektor informal. Faktor tersebut meliputi adanya upaya menopang dan meningkatkan kebutuhan ekonomi keluarga, tingkat pendidikan yang rendah, dan keahlian/keterampilan yang kurang memadai. Adapun faktor risiko yang ditanggung oleh mbok gendong bisa berupa kelelahan dan rasa sakit di sepanjang kaki dan punggung, terpeleset saat membawa gendongan, serta kaki kejatuhan peti gendong. Itu belum termasuk risiko pelecehan dan diskriminasi gender di tempat kerja. Juragan-juragan sewaktu-waktu bisa membentak dan berkata kasar jika mbok gendong dirasa bekerja lamban tidak sesuai ekspektasi sang juragan.

"Awal saya bekerja sebagai mbok gendong karena terdesak. Ambar, anak saya yang pertama menunggak SPP selama 4 bulan. Jumlahnya kalau tidak salah hampir seratus lima puluh ribu. Bingung. Nangislah saya. Pada waktu itu saya hanya ibu rumah tangga biasa. Bapak kerja mbecak di Pasar Beringharjo. Pulang bisa 3 atau 4 hari sekali." Cerita Rubiyah kepada saya.

Rubiyah memiliki 4 orang anak. Anak yang pertama bernama Ambarwati, waktu itu terancam drop out dari SMA-nya jika tidak mampu melunasi tunggakan. Anak kedua berjenis kelamin laki-laki merupakan anak spesial (baca : berkebutuhan khusus) yang bersekolah di salah satu SLB di Bantul. Anak ketiga berjenis kelamin laki-laki juga. Adapun si bungsu saat itu baru saja lahir (tahun 2003). 

Awal 2004, Rubiyah mulai bekerja sebagai mbok gendong di Shopping Centre, Pasar Beringharjo. Menjelang akhir tahun 2004, Pasar Induk Giwangan baru saja diresmikan dan mulai beroperasi. Pedagang-pedagang yang semula berjualan di Kranggan, Gamping, dan Beringharjo sebagian pindah lapak ke Pasar Induk Giwangan. Termasuk juga para mbok gendong dan tentunya Rubiyah. 

Pasar Induk Giwangan sangatlah luas, fasilitas pendukungnya lebih memadai, dan jauh lebih representatif jika dibandingkan pasar-pasar lainnya. Makanya pemda setempat melakukan relokasi. Sebuah spanduk besar terpampang ketika saya memasuki Pasar Induk Giwangan, pasare resik, atine becik, rejekine apik, sing tuku ora kecelik (Pasarnya bersih, penjualnya berhati baik, rejekinya bagus, yang membeli tidak kecewa).

"Saya bekerja di Shopping pertama kali mendapat upah Rp. 17.000 rasanya sweeenengnya bukan main. Upah berikutnya secara teratur Rp. 20.000/hari. Bapak mbecak yang pulangnya bisa 3 atau 4 hari sekali, cuma bisa bawa uang Rp. 6.000 atau Rp. 7.000 saja. Dari nggendong saya mampu melunasi SPP Ambar." Kenang Rubiyah.

Rubiyah melanjutkan, "Sebenarnya saya kerja di Shopping awalnya tidak diijinkan oleh suami. Soalnya banyak kejadian pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki (baca : kuli dan pekerja kasar lainnya) kepada para mbok gendong. Itu ngeri banget." Pelecehan tersebut dalam bentuk verbal berupa siulan/godaan yang tidak senonoh, ada juga yang mengarah kepada sentuhan fisik seperti colekan/rabaan.

Selain pelecehan, diskriminasi dan ketidaksetaraan gender berupa upah yang tak adil untuk beban kerja yang sama antara mbok gendong yang perempuan dan kuli laki-laki kerapkali terjadi. Semisal untuk mengangkut 90 kg kentang, mbok gendong mendapat upah Rp 1.000, adapun kuli Rp 2.000. Tak adil bukan?

"Pindahan dari Beringharjo ke Giwangan, saya mendapati perempuan muda yang menangis sehabis bekerja. Dia diperlakukan tidak senonoh oleh salah satu kuli di Giwangan. Marahlah saya. Mencak-mencaklah saya ke kuli tersebut. Namun, kuli tersebut malah melengos. Ya Allah." Ucap Rubiyah sambil menarik napas panjang, prihatin. Air mukanya nampak sedih dan terluka. Masa-masa itu menyimpan memori yang cukup kelam. 
Beban berupa satu gendongan kubis ini hampir berukuran  1 kuintal. Dokumentasi Pribadi
Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi pribadi.
Sebuah LSM bernama Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) yang fokus pada pemberdayaan kaum perempuan sektor pekerja informal mulai bergerak dan memperjuangkan kaum buruh gendong. Yasanti gencar melakukan advokasi, pendampingan, sosialisasi, dan memberikan pelatihan-pelatihan untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan sosial perempuan pekerja informal. Yasanti mendorong mbok gendong agar berani bersuara terhadap kasus-kasus ketidakadilan dan ketaksetaraan gender, HAM, perlindungan hukum perempuan pekerja informal, dan masih banyak lagi. 

Pada tahun 2005 dibentuklah Paguyuban Sayuk rukun, sebuah komunitas yang mewadahi perjuangan mbok gendong area Pasar Kranggan, Gamping, dan Beringharjo. Pasar Induk Giwangan belum tergabung, karena belum memiliki paguyuban saat itu. Nah, pada tahun 2007 dibentuklah paguyuban mbok gendong Pasar Induk Giwangan. Pada akhirnya 4 pasar tersebut bersatu di bawah 1 paguyuban tunggal yakni Sayuk Rukun. Terbentuknya Sayuk Rukun tidak lepas dari peran besar Yasanti.

"Saya mendapatkan pelatihan dari Yasanti tentang kesetaraan gender, hukum, dan HAM. Wah, awalnya berat sekali rasanya memahami hal tersebut. Apalagi saya hanya tamatan SD." Ungkap Rubiyah yang pernah mengenyam pendidikan di SDN 2 Mecijah Gunungkidul. Istilah "advokasi" dulu terasa asing baginya.

Kontribusi Yasanti ibarat rintik hujan di musim kemarau, menghadirkan pencerahan. Rubiyah mulai mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Yasanti pada tahun 2008. Rubiyah terus belajar. Meski statusnya hanya lulusan sekolah dasar, tak menghalangi Rubiah untuk terus menempa diri, terus berbenah. Mengkaji hal-hal baru yang masih terbilang asing baginya saat itu seperti apa itu perlindungan hukum, HAM, advokasi, organisasi, kesetaraan gender, bagaimana melakukan audiensi dengan regulator/pemerintah, bagaimana cara berbicara di depan media dan publik, dan lain sebagainya. Maka tak heran di tahun 2013, Rubiyah didaulat sebagai ketua Paguyuban Sayuk Rukun Daerah Istimewa Yogyakarta. Jabatan itu masih terus diembannya hingga kini.

"Tahun 2015 saya dan teman-teman bergerak di depan DPRD Yogyakarta, menuntut adanya regulasi dan perlindungan hukum terhadap pekerja informal seperti kami."

Ada 4 tuntutan yang dilakukan buruh gendong. Pertama, pemerintah daerah mengakui (secara tertulis) pekerja informal buruh gendong, memberikan jaminan perlindungan kerja, serta sistem upah yang layak. Kedua, pemerintah daerah melibatkan buruh gendong dalam pengambilan keputusan terkait pelayanan publik di pasar. Ketiga, buruh gendong diberikan fasilitas pelayanan kesehatan. Terakhir, pemerintah daerah menyediakan ruang pertemuan (rapat) dan ruang istirahat bagi buruh gendong.

"Dulu sering terjadi diskriminasi dalam sistem upah di mana kami buruh gendong mendapat upah yang lebih kecil dari pekerja kasar laki-laki/kuli. Setelah melalui proses yang panjang, upah antara mbok gendong dan kuli sudah setara. Dulu, upah per gendongan dengan berat mulai dari 60 kg hingga 1 kuintal dibayar Rp 2.000 saja. Sekarang upah yang diterima mbok gendong ada yang Rp 3.000, Rp. 4.000, kalau juragannya baik bisa Rp 5.000. Dulu banyak kasus pelecehan yang menimpa mbok gendong saat bekerja, sekarang sudah tidak ada. Sudah tidak ada yang berani malah." Tegas Rubiyah.

"Terkait fasilitas kesehatan ini yang belum menyeluruh. Banyak dari kami yang berasal dari luar DIY, Jamkesmas tidak menanggung biaya kesehatan buruh gendong yang dudu wong asli Jogja. Kalau terjadi kecelakaan kerja yang menimpa buruh gendong yang bukan warga sini, ya paling diobati dengan cara dipijat atau dikasih balsam."

"Kami butuh semacam ruang istirahat dan ruang pertemuan sebagai tempat ganti pakaian para mbok gendong serta tempat koordinasi anggota Sayuk Rukun. Sakwise audiensi ingkang cukup alot, akhirnya dibuatlah shelter berukuran 3x3 m yang terletak di pasar bagian timur (digunakan sebagai ruang ganti pakaian dan ruang istirahat) dan sebuah aula. Lantai 2 aula, saged kangge ruang pertemuan/rapat. Sejak dibangun aula meniko, mbok gendong dan pedagang pasar bisa memanfaatkannya untuk sesrawungan dan bertukar pikiran terkait pengelolaan pasar."
Lantai 2 Bangunan Hijau Ini Digunakan Sebagai Aula dan Ruang Pertemuan/Koordinasi/Rapat. Dokumentasi Pribadi.
Rubiyah bertutur salah satu momen yang berkesan adalah ketika bisa berjumpa dan menyampaikan uneg-uneg mengenai buruh gendong secara langsung kepada Presiden Jokowi pada 9 Desember 2015. Bertepatan dengan Hari HAM sedunia. Berlokasi di Gedung Agung Yogyakarta, Rubiyah hadir sebagai wakil dari Sayuk Rukun. Bertatap muka dengan mantan orang nomor satu di Kota Solo merupakan impian sejak lama. Di akhir pertemuan tersebut, Rubiyah sempat berfoto bareng dengan sang presiden. "Sebagai kenangan buat anak cucu." Ungkap Rubiyah bangga.

Seberapa besar kontribusi mbok gendong di masyarakat? Demi menciptakan ketahanan keluarga dan meningkatkan pundi-pundi rejeki, para perempuan tangguh ini rela menghabiskan waktu berjam-jam di pasar dengan menjadi mbok gendong. Keberadaan mbok gendong sangatlah penting bagi pedagang. Mbok gendong menawarkan jasa angkut buah dan sayuran yang dibutuhkan oleh para juragan. Ah, bisa jadi dari sesuap kentang balado yang kamu sendok ada tetes peluh mbok gendong. Dari setiap teguk jus apel yang kamu minum ada derai perjuangan mbok gendong. Dari kepingan kerupuk udang yang kamu goreng, ada semangat pantang menyerah dari mbok gendong.
Rubiyah Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi Pribadi
Berkuital-kuintal Kentang dalam Karung-karung. Dokumentasi Pribadi
 Semangat Pantang Menyerah dari Rubiyah. Dokumentasi Pribadi
Harapan apa yang masih ingin dirajut Rubiyah? Rubiyah bercerita bahwa pergi ke tanah suci Mekah dan melakukan perjalanan spiritual merupakan impian yang masih terus digenggam. Terkadang harapan dan impian Rubiyah tersebut terkesan muluk-muluk. Bagaimana mungkin pergi umroh atau haji, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja terkadang masih terkatung-katung. Upah 800 ribu hingga 900 ribu dirasa masih kurang untuk biaya hidup sebulan plus ada tanggungan seorang anak dengan kategori "special needs." 

Tak Sekadar Merajut Impian dan Memulai Langkah Kaki, Tetapi Bagaimana Segalanya Kita #AwaliDenganKebaikan

Rubiyah hanya seorang mbok gendong yang mengenyam pendidikan tingkat dasar, tetapi tanpa kita sangka kepedulian hatinya kepada nasib sesamanya telah mengubah peta hidupnya. Diawali pergulatan batin menghadapi diskriminasi (upah kerja yang tidak adil dan layak) serta kasus pelecehan yang menimpa rekan kerjanya yang berusia muda, membuat Rubiyah lantang bersuara. Rubiyah pantang menyerah. Rubiyah banyak belajar. Rubiyah kunyah dengan hati-hati istilah-istilah seperti HAM, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, perlindungan hukum, advokasi, audiensi, dan masih banyak lagi. Rubiyah yakin bahwa segala sesuatu itu harus dimulai dari hati. Tak sekadar merajut impian dan memulai langkah kaki, tetapi bagaimana segalanya kita #AwaliDenganKebaikan.

Spirit #AwaliDenganKebaikan mendorong Allianz, perusahaan asuransi dan manajemen aset terkemuka di dunia untuk selalu berbagi dan menebar inspirasi. Melalui kisah-kisah yang memikat hati. Lewat program #AwaliDenganKebaikan, Allianz mengajak masyarakat Indonesia merangkai dan menarasikan kisah hidup, perjalanan, dan perjuangan seseorang yang paling inspiratif, yang tentunya layak mendapatkan kesempatan beribadah umroh ke tanah suci. Bersama program #AwaliDenganKebaikan Allianz, mari kita dukung Rubiyah agar mampu melaksanakan umroh ke Baitullah.

Allianz melesat dan menjadi salah satu perusahaan asuransi terbaik di Indonesia. Allianz semakin membesar, seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan jiwa sekaligus investasi. Salah satu yang menjadi andalan Allianz adalah Produk Asuransi Syariah Allisya Protection Plus. Allisya Protection Plus merupakan merupakan produk asuransi jiwa unit link syariah yang memberikan perlindungan maksimal plus nilai investasi potensial di masa yang akan datang. Asuransi Syariah Indonesia dari Allianz ini ternyata sudah dilengkapi dengan fitur wakaf lho. Wakaf sendiri cukup diminati lantaran memiliki berkah dan kebermanfaatan yang mengalir tiada henti, meskipun sang pemberi wakaf telah meninggal dunia.

Teladani Mbok Gendong Rubiyah yang memantapkan hati untuk terus belajar dan berkembang, sebab Rubiyah begitu paham bagaimana #AwaliDenganKebaikan. Memilih produk keuangan yang menjamin perlindungan jiwa dan nilai investasi di masa depan merupakan wujud dari #AwaliDenganKebaikan. Yuk  segalanya kita #AwaliDenganKebaikan. Mulai dari diri sendiri, kini, dan nanti.

Sumber referensi tulisan : Artikel ini ditulis dengan sejumlah informasi berdasarkan wawancara langsung dengan ketua Buruh Gendong DIY Paguyuban Sayuk Rukun, Rubiyah.

Sabtu, 14 Maret 2020

Famtrip KBA Astra : Cara Asyik Belajar Membatik Di Wisata Kampung Batik Tegalrejo

Jam menunjukkan hampir pukul 7.14 WIB. Saya segera bergegas. Saya bersama teman-teman dari biro travel jogja pada kesempatan ini bersiap mengikuti Famtrip yang diselenggarakan oleh KBA (Kampung Berseri Astra.) Gedangsari. Kami akan belajar membuat batik tulis secara sederhana, semacam short course membatik gitulah. Titik kumpul di Jogja Expo Center (JEC) pada pukul 8.00. Di JEC, saya berkenalan dengan Mas Goris. Mas Goris inilah yang memandu kami, dari keberangkatan hingga pulang dari Gedangsari.

Ada apa di Gedangsari? Di Gedangsari terdapat Kampung Wisata Batik Tegalrejo. Sedikit cerita, dulu, Gedangsari merupakan kecamatan termiskin di Gunungkidul. Gedangsari terletak di perbatasan antara Klaten di Jawa Tengah dan Gunungkidul di DIY. Pada kenyataannya, Gedangsari memiliki sejumlah potensi daerah/lokal yang jika dipoles dan diberdayakan mampu memiliki nilai tambah. Gedang atau pisang jumlahnya cukup melimpah di Gedangsari. Membatik juga menjadi kegiatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Melihat potensi tersebut, Astra menggandeng Gedangsari menjadi bagian dari Kampung Berseri Astra (KBA). Melalui KBA Astra, potensi unggul dari suatu daerah dipetakan, ditelisik bagaimana mengembangkan potensi tersebut. Dalam penerapannya, KBA Astra berfokus pada 4 pilar. Empat pilar tersebut meliputi pilar pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan tentu saja lingkungan.

Tak dipungkiri, Astra turut berkontribusi di bidang pendidikan di antaranya dengan memiliki beberapa sekolah binaan di Gedangsari (9 SD, 1 SMP dan 1 SMK). Saya ambil contoh salah satu sekolah binaan PT Astra Internasional Tbk, SMK 2 Gedangsari. Berkat dukungan Astra, siswa-siswi SMK 2 Gedangsari berani unjuk gigi di event bertajuk Jogja International Batik Biennale pada tahun 2016. Melalui ajang tersebut, pihak sekolah berharap batik kreasi siswa SMK 2 Gedangsari mampu dilirik dunia internasional. Tidak hanya itu, tahun 2018, SMK 2 Gedangsari berkesempatan meluncurkan produk busana Roges Style di Hartono Mall Yogyakarta. Peluncuran ini sekaligus menunjukkan hasil olah karsa siswa binaan dalam melestarikan tradisi dan budaya membatik.
Welcome dance berupa tarian kuda lumping. Dokumentasi pribadi
Sekitar pukul 9.00, rombongan kami sampai di Balai Desa Tegalrejo. Di sana kami disambut dengan tarian lokal, semacam tari kuda lumping. Para penarinya adalah remaja warga desa setempat. Selain tarian, kami disuguhi jajanan tradisional seperti pisang dan kacang rebus. menu ala ndeso ini tentunya menggugah jiwa saya yang sangat kelaparan wkwkwk. Maklum gaes, belum sempat sarapan saya hahaha. 
Mba Suryanti, memperkenalkan potensi Batik Tegalrejo, Gedangsari. Dokumentasi pribadi
"Jadi di Gedangsari kami menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Batik Tegalrejo sendiri memiliki beberapa motif yang khas, yang terinspirasi lagi-lagi dari alam. Untuk lebih jelasnya setelah ini kita bisa belajar langsung di workshop." Pungkas Suryanti, pelatih batik yang akan mendampingi kami nanti.
Kreasi Batik Tegalrejo. Dokumentasi pribadi
Kreasi Batik Tegalrejo. Dokumentasi pribadi
Mbak Suryanti bercerita, selepas menyelesaikan studi di ISI Yogyakarta pada tahun 2016, beliau ingin fokus menggeluti kriya batik. Sedari kecil Mbak Suryanti telah akrab dengan dunia membatik. Ketertarikan dan bakat membatik diwariskan dari orangtuanya yang memiliki pekerjaan sebagai perajin batik. Di Tegalrejo inilah, Mbak Suryanti merintis workshop sekaligus galeri batik miliknya.

"Kami memproduksi batik dengan pewarna dari bahan-bahan alami. Pewarna alami yang kami gunakan misal dari tanaman indigofera yang menciptakan warna biru pada kain batik. Motif-motif Batik Tegalrejo juga diambil dari tanaman-tanaman yang banyak tumbuh di Gedangsari seperti Srikaya, bambu dan pisang." Urai Mbak Suryanti di galeri.

Setelah sedikit menjelaskan mengenai Batik Tegalrejo, berikutnya kami beranjak untuk sesi worskhop batik tulis. Kami diberi secarik mori yang bebas kami bikin motif sesuka hati. Setelah motif kreasi kami selesai, selanjutnya kami mengoleskan malam panas di atas motif tersebut. Langkah berikutnya yakni memberi warna pada batik tersebut. Selepas itu dikeringkan sebentar untuk kemudian memasuki tahap nglorod dengan maksud menghilangkan lapisan malam pada kain tersebut dengan cara merendamnya dengan air panas.
Membuat motif atau pola di atas secarik mori. Dokumentasi pribadi
Melapisi motif dengan malam panas. Dokumentasi pribadi
Proses pewarnaan pada kain batik. Dokumentasi pribadi
Proses Nglorod. Dokumentasi pribadi
Mengeringkan/menjemur kain selepas dilorod. Dokumentasi pribadi
Momen ini membuat saya merasa bahagia sekaligus nostalgia. Ya, saya dulu pernah belajar membatik sewaktu duduk di kelas 2 SMP. Mata pelajaran membatik menjadi muatan lokal di sekolah saya dulu. Ketika dewasa saya sudah lupa bagaimana metode/teknik dan proses dalam membatik. Makanya saya berasa nostalgia ketika ikut kelas membatik di Famtrip KBA Astra. Bagi saya inilah cara asyik belajar membatik sekaligus berwisata di kampung Batik Tegalrejo. Semoga di kesempatan berikutnya saya bisa mengunjungi kembali Kampung Batik Tegalrejo. Terima kasih Astra dan KBA Gedangsari telah menciptakan momen istimewa ini.


Selasa, 10 Maret 2020

Jangan Panik, Yuk Kenali Lebih Dekat Coronavirus atau Covid-19

Covid 19 atau Coronavirus menjadi hot issue di awal tahun 2020. Bagaimana tidak? Awalnya yang saya santai-santai saja jika bepergian ke tempat umum, sekarang jadi agak-agak was-was. Apalagi jika berkunjung ke pusat keramaian seperti mall, bisokop, tempat wisata, kampus, dan sebagainya. Awalnya saya juga tidak terlalu menanggapinya serius. Saya pikir Covid 19 seperti flu babi, menular sih tapi tidak ganas-ganas amat. Ternyata dugaan saya salah. Di  China, per tanggal 10 Maret 2020, Covid 19 telah menelan lebih dari 3.000 korban jiwa (meninggal). Di Italia korban yang meninggal sebanyak 1.797 jiwa. Beberapa negara memutuskan untuk mengisolasi negaranya dari dunia luar untuk menekan persebaran Covid 19 agar tidak memakan korban lagi. Saya berharap di Indonesia tidak memakan korban hingga sebanyak itu.... 
Kenali lebih dekat dulu yuk apa itu Coronavirus atau yang kita kenal sebagai Covid 19.

Pada dasarnya virus terbagi-bagi dalam beberapa golongan. Nah, berdasarkan asam nukleat, virus terbagi menjadi 2 jenis, virus ber-RNA dan virus ber-DNA. Itulah yang membedakan virus dengan makhluk hidup lainnya, sebab setiap jenis mahkluk hidup yang ada di bumi memiliki 2 jenis asam nukleat yakni DNA dan RNA. Sedangkan virus, bertipe RNA atau DNA saja. Cobtoh virus dengan DNA yakni herpes simplex yang menginfeksi mulut dan alat kelamin. Adapun virus ber-RNA, contohnya HIV, virus hepatitis A dan C, dan coronavirus. 

Virus DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) materi genetiknya berupa asam nukleat berbentuk rantai ganda berpilin. Virus RNA (Ribonucleic Acid ), materi genetiknya berupa rantai tunggal atau ganda tidak berpilin. Dibandingkan virus DNA, virus RNA memiliki struktur yang tidak stabil sehingga mudah bermutasi. Coronavirus yang asal mulanya dari hewan, setelah menginfeksi manusia bisa bermutasi yang berbeda dari awalnya. 

Diduga awal virus ini berasal dari hewan yang diperjualbelikan di Wuhan Wet Market. Hewan-hewan yang tak umum dikonsumsi manusia dijual di pasar ini, seperti buaya, biawak, kelelawar, dan sebagainya. Apalagi kelelawar dikenal sebagai agen pembawa penyakit dan berbagai patogen. 
Gejala-gejala infeksi Coronavirus dari hari ke hari

1. Hari pertama hingga ketiga, timbul gejala seperti masuk angin, sakit tenggorokan ringan, dan tidak demam, masih bisa melakukan aktivitas normal.

2. Hari keempat, mulai sakit tenggorokan mulai kerasa, suara serak, suhu badan di kisaran 36,5 derajat celsius, mulai sakit kepala ringan, diare ringan, kurang nafsu makan.

3. Hari kelima, suara serak semakin menjadi-jadi, suhu tubuh meningkat, tubuh mulai kelelahan dan nyeri di persendian.

4. Hari keenam, suhu tubuh di kisaran 37 derajat celsius, batuk kering atau batuk berlendir, sakit tenggorokan yang disertai kesulitan berbicara atau menelan, kelelahan, mual, sesekali muntah, kesulitan bernapas, hingga diare.

5. Hari ketujuh, demam tubuh antara 37,4 hingga 37,8 derajat celsius, pusing di kepala dan sesak napas semakin menjadi-jadi, batuk berdahak lebih banyak, diare terus, muntah.

6. Hari kedelapan, demam dengan suhu tubuh di kisaran 38 derajat celsius, batuk terus menerus, nyeri sendi, sakit punggung, nyeri di kepala.

7. Hari kesembilan, gejala-gejala di hari sebelumnya tidak berubah malah semakin parah, kesulitan bernapas (Sumber infografis dompet duafa)

Saya mendapatkan gejala yang hampir sama pada sumber yang lain disertai perawatan hingga sembuh di rumah sakit. Silakan lihat infografis berikut.
Penyebaran Covid 19, jangan panik, tetapi tetap berhati-hati dan Jaga kesehatan

Penyebaran virus Covid 19 tidak melalui udara, tetapi melalui droplet. Apa itu droplet? Droplet merupakan cairan yang keluar dari tubuh kita dalam bentuk bersin. dahak, ingus. Maka penting sekali saat bersih atau batuk kita menutup tangan ke arah mulut dan hidung, jauhi keramaian saat bersin, atau paling ideal ya menggunakan masker. Droplet ini bisa terbang sejauh 1,8 meter lho. Makanya, jaga jarak dengan orang lain agar tidak tertular adalah sikap yang bijak. 

Pada benda mati, virus Covid 19 bisa bertahan dalam kurun waktu dari 5 hingga 9 hari. Setelah menginfeksi makluk hidup, virus ini menyerang sistem imunitas tubuh. Jika sistem imunnya baik, maka tubuh akan berupaya membentuk antibody untuk menyerang si patogen. Makanya tubuh menjadi deman, batuk, nyeri, dan sebagainya. Itu artinya sedang terjadi 'baku hantam" atau peperangan di dalam tubuh antara sistem imun dan patogennya. 

Karena ditularkan melalui droplet, ada baiknya kita wajib mencuci tangan setiap selesai melakukan aktivitas, menggunakan hand sanitizer, dan masker wajah (jika bepergian). Imun tubuh yang baik dibentuk jika raga sehat, makanya mengonsumsi makanan bernutrisi, vitamin, dan melakukan aktivita olahraga sangat dianjurkan. 
Apa yang perlu saya lakukan jika saya memiliki gejala covid 19? Tenang. Jangan panik. Kamu bisa mengkarantina dirimu sendiri dan sebisa mungkin meminimalisir kontak dengan luar. Gunakan masker saat beraktivitas di psuat keramaian, seperti tempat kerja. Kamu perlu ke rumah sakit yang menjadi sumber rujukan yang ada penanganan Covid 19 untuk mengetahui apakah kamu benar-benar terpapar Covid 19 atau hanya terinfeksi flu biasa. 

Di Jogja, rumah sakit yang memiliki fasilitas pemeriksaan terkait Covid 19 bisa melalui RS. Panembahan Senopati di Bantul dan RSUP Sardjito. Untuk rumah sakit lainnya bisa dilihat di link berikut ini : Daftar Rujukan Rumah Sakit Terkait Covid 19. Jika ingin informasi lebih lanjut silakan hubungi hotline virus corona sebagai berikut. Semoga informasi ini bisa memberi manfaat.

Senin, 24 Februari 2020

Staycation Plus Traveling Jadi Enjoy dan Gak Ribet, Inilah Alasan Milenial Jatuh Cinta pada OYO Hotels

Notifikasi di whatsapp menyala. Sebuah pesan masuk.

Arinta, masih di Jogja kah? Arum ada rencana mau main ke Jogja pekan ini? Kalau Arinta luang kabarin ya, soalnya Arum kangen sama Arinta dan pengen liburan bareng. Dah lama gak balik jogja. Jogja pasti banyak yang berubah ya? *Arum.

Arum ini rekan organisasi di kampus. Kami bertemu dalam suatu kepanitiaan. Arum adalah partner in crime semasa kuliah. Kita sering jalan, jajan, curhat, dan ngerjain tugas bareng-bareng. Ah ingat momen itu jadi pengen balik lagi ke kampus huhuhu.

What, Arum mengajak saya hang out pekan ini? 

Selepas Arum Wisuda, kami jarang kontakan. Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Sesekali chit-chat menanyakan kabar. Terakhir kali, saya dengar Arum balik ke Tegal. Ya kampung halamannya memang di Tegal. Arum juga bercerita bahwa dia bekerja di sebuah jasa logistik. Surprise dong ada inbox dari Arum. Ada rindu yang membuncah. Tak sabar pengen ketemu Arum dan seru-seruan seperti dulu kala. Gak berubah! Milenial satu ini demen banget ngajakin jalan. Hasyekkkk...

Saya membalas chat Arum. Tak selang berapa lama, Arum membalas pesan saya.

Arinta sebenarnya Senin besok Arum mau ke kampus. Arum akan legalisir ijazah dan akreditasi jurusan. Minggunya kita jalan-jalan bareng kuy! Ada rekomendasi tempat liburan dan penginapan yang asik gak nih? Bosen itu-itu melulu.

Saya pun gugling beberapa tempat liburan hits dan instagrammable di Jogja. Kami diskusi cukup alot di whatsapp, mencari tempat liburan yang cocok buat menghabiskan akhir pekan. Arum ingin main ke Bantul atau Gunungkidul, sedangkan saya ingin di Jogja atau Sleman saja. Soalnya lebih dekat, murah meriah pula. Akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi salah satu desa wisata di Sleman. Desa Wisata Studio Alam Gamplong, pernah dengar?

Sudah sekian lama saya ingin berkunjung ke Studio Alam Gamplong, tapi niat itu hanya terpendam saja. Berbulan-bulan sampai saya lupa dan tak secuil pun terlaksana. Ketika Arum ingin menghabiskan akhir pekan di Jogja, kenapa gak main Studio Alam Gamplong? Lagipula lokasinya gampang dijangkau oleh transportasi online. Tiket masuknya pun murah meriah, cuma sepuluh ribu rupiah. Banyak spot foto keren di sana. Jauh-jauh hari kita merencanakan traveling dan stacation ala anak milenial. Kemudahan akses, inilah yang membuat saya dan Arum bersepakat mengunjungi Studio Alam Gamplong.

Pernah dengar Studio Alam Gamplong sebelumnya? Baiklah Arinta ceritakan sedikit...

Studio Alam Gamplong terletak di Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 30-40 menit dari Kota Jogja. Studio alam ini mulanya adalah lahan kosong. Tak ada hal menarik di lahan kosong tersebut. Kemudian, atas inisiasi Hanung Bramantyo, lahan kosong tersebut disulap menjadi sebuah lokasi syuting. Setelah melalui serangkaian proses. lahan seluas 2,7 hektar itu berubah menjadi tempat yang atraktif. Sultan Agung The Untold Love Story, Bumi Manusia, Habibie dan Ainun 3, Abacadabra adalah beberapa film yang menggunakan studio Gamplong sebagai lokasi syuting. Menarik bukan?

Pada waktu yang sudah ditentukan, saya dan Arum berangkat menuju Studio Alam Gamplong. Kami berkemas pukul 8.30 pagi. Menuju lokasi kami menggunakan layanan taksi online. Jogja mendung dan jarum-jarum langit mulai membahasahi bumi. Namun, hal itu tak menyurutkan langkah kami untuk pergi sana. Beruntung gerimis hanya sesaat, sesampainya di Studio Alam Gamplong cuaca kembali cerah.
Serasa berada di zaman yang berbeda. Dokumentasi pribadi
Set Mellema Melk untuk syuting Bumi Manusia. Dokumentasi pribadi.
Set pendopo untuk syuting film Sultan Agung. Dokumentasi pribadi.
Set bangunan untuk keperluan syuting film Sultan Agung. Dokumentasi pribadi.
Saat kami menjajaki studio ini, kami serasa berada di zaman yang berbeda. Bukan zaman anak milenial lagi, lebih tepatnya zaman kerajaan Mataram, VOC, dan penjajahan Hindia Belanda di abad 17 dan 18. 

Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 Juli 2018, kawasan yang awalnya khusus digunakan untuk lokasi syuting film kini terbuka untuk umum. Desa wisata Studio Alam Gamplong telah menarik banyak wisatawan dari luar Jogja. Konsep wisata yang cukup unik ini menciptakan pundi-pundi rejeki bagi warga setempat. Ditambah lagi, Desember 2019 lalu rilis film Habibie dan Ainun 3 yang mendulang lebih dari 2 juta penonton. Tentu hal ini membuat animo masyarakat untuk berkunjung, hunting foto semakin meningkat, dan menghabiskan akhir pekan semakin meningkat.
Trem, transportasi di Batavia tempo doeloe. Habibie dan Ainun 3. Studio Alam Gamplong. Dokumentasi pribadi
Set Kawasan Cikini tempo doeleo, properti syuting film Habibie dan Ainun 3. Dokumentasi pribadi
Ada yang ingat adegan di scene ini? Habibie dan Ainun 3. Studio Alam Gamplong. Dokumentasi pribadi
Setelah puas berkeliling, saya dan Arum memutuskan istirahat barang sejenak sembari menikmati tumpang koyor dan cendol dawet, olahan spesial warga Gamplong. 

"Rum, enaknya ini habis kita ngapain ya? Masih stay di sini atau belanja di Malioboro?"

"Arum pengennya sih kita cari tempat nginep Rin. Keburu sore entar. Carinya yang gak jauh dari kampus. Kamu ada rekomendasi penginapan atau low budget hotel gitu gak Rin?"

"Aku udah gugling dan nemu beberapa penginapan yang affordable plus sesuai dengan preferensimu, Rum. Kamu bisa temukan semua itu di OYO." Jawab saya sembari memperlihatkan berbagai hotel dan tempat penginapan yang tersedia di aplikasi OYO Hotels & Homes.

"Arum sebenarnya suka yang ada nuansa etnik-enik gitu sih Rin. Kayak ada joglo atau pendopo khas Jogja. Kalau disuruh memilih, bingung antara OYO Joglo Manggisan atau OYO De Amor Timoho. Arinta lebih suka yang mana?

"Kalau menurut aku ya Rum, kita ambil OYO De Amor Timoho aja. Udah dekat kampus, accessible buat ke terminal/stasiun, dan terjangkau gojek. Kalau Joglo Manggisan, bagus sih, tapi jauh dari kampus. Selain itu OYO De Amor ada kolam renang dan fasilitas restonya juga."

"Baik kalau gitu kita nginep di OYO De Amor Timoho aja. Nanti Arinta yang booking room di aplikasi ya, Arum mau bayar makanan dulu."

Enak ya jaman now ini, berkat jaringan OYO Hotels traveling dan staycation jadi enjoy dan gak ribet. Inilah kenapa milenial jatuh cinta sama OYO Hotels. Tinggal tap-tap via aplikasi, mudah dan praktis!
Gak Usah Ragu Mencari Affordable Hotel yang Kamu Inginkan karena Pasti Ada OYO

Kamu pernah gak ngalamin hal ngenes saat memesan penginapan atau hotel? Atau kesulitaan saat booking room? Semoga tidak ya. Beruntung nih jaringan OYO Hotels masuk ke Indonesia di saat tren digitalisasi dan revolusi industri 4.0 sedang menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. Lima atau sepuluh tahun yang lalu, mencari hotel biasanya melalui website atau agen, sebab kita belum berada di era smartphone berbasis android/iOS di mana kita bisa booking room via aplikasi. Beuh, gak kebayang ya jika mundur 20 tahun lagi, pesan hotel/tempat penginapan tidaklah semudah dan sepraktis seperti di era kekinian. Internet masihlah menjadi barang mewah. Sekarang, kapan pun kamu butuh hotel/penginapan sekadar untuk staycation, liburan bersama keluarga, atau melakukan perjalanan bisnis, tinggal klik via aplikasi saja OYO. OYO menawarkan hotel dan penginapan dengan harga dan fasilitas yang bersaing.

Ngomong-ngomong soal pengalaman ngenes nih, saya mau berbagi sedikit cerita. Kesel! Kesel! Kesel deh kalau diingat-ingat. Semoga ini hanya terjadi di saya, tidak di kamu.

Tahun 2014, saya dan Arum tergabung dalam suatu kepanitiaan (kompetisi karya tulis ilmiah) di sebuah organisasi kampus. Job desc kita beda, karena saya dan Arum tidak berada satu divisi. Saya bertugas sebagai koordinator soponsorship dan bertanggung jawab mencari sponsor untuk mendukung kegiatan kami. Adapun Arum bertugas sebagai Liaison Officer (LO) yang mendampingi finalis lomba. Arum bertanggungjawab dalam hal akomodasi dan transportasi peserta selama acara, termasuk penginapan serta penjemputan finalis dari bandara/stasiun ke lokasi kompetisi.

Pernah tiba di suatu masa saya bersitegang dengan Arum. Sebab penginapan dan homestay low budget di Jogja sudah full booked. Kebetulan kegiatan yang kita adakan bertepatan dengan wisuda beberapa kampus besar. Banyak mahasiswa sudah booking penginapan jauh-jauh hari untuk keluarga/kerabatnya menjelang wisuda.

Arum menyesalkan kenapa saya tidak mencari sponsor hotel untuk para finalis sedari awal, saya malah terlalu fokus di acara seminar dan field trip. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya pikir perihal penginapan finalis sudah beres dan tidak ada masalah/kendala. Divisi sponsorship tidak perlu turun tangan. Namun, fakta berbicara sebaliknya.

Waktu sudah mepet, dana terbatas, gak mungkin lobi-lobi ke pihak hotel/homestay untuk mensponsori acara ini. Akhirnya panitia memutuskan untuk mencari penginapan yang jaraknya cukup jauh dari kampus, namanya pun kurang dikenal. Harganya sedikit lebih mahal dari homestay yang biasanya kami gunakan. Membuat kami harus menekan berbagai pengeluaran di sana-sini. Tak mengapa, yang penting para finalis dapat tempat untuk beristirahat. Meskipun kami sudah mendapatkan penginapan, ada beberapa finalis yang gak kebagian kamar karena stok kamar ternyata juga terbatas. Finalis yang gak kebagian kamar menginap di kos-kosan panitia.

Masalah belumlah kelar. Keesokan harinya beberapa finalis mengeluhkan keran air di penginapan tersebut yang ternyata macet. Bahkan ketika malam, ada finalis yang mendengar seseorang cekikikan memainkan air wastafel. Berkali-kali. Berisik banget. Pas dicek gak ada siapa-siapa. Nah lo! Creepy banget kan?

Penginapan tersebut memiliki 8 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Per kamar bisa diisi 3 orang, tidak ada kamar mandi dalam. Ndilalah, satu kamar mandi kerannya bermasalah (macet), sehingga butuh perbaikan. Tentu saja ini cukup menyita waktu. Akhirnya para finalis mengantri di kamar mandi yang lain yang tidak macet. Acara yang seharusnya dimulai pada pukul 08.00 molor menjadi pukul 09.00 karena masalah keran air. AMBYAR!

Zaman now kebanyakan drama? Now way! Berkat aplikasi OYO, staycation di mana pun dan kapan pun menjadi begitu mudah. Semua berada dalam genggaman.

OYO merupakan aplikasi dari milenial untuk semua kalangan. Pendiri jaringan OYO Hotels & Homes adalah Ritesh Agarwal, milenial berusia 26 tahun dari India. Sedari kanak-kanak hingga remaja Agarwal menyukai pemrograman. Maka tak heran Agarwal memiliki minat yang cukup besar untuk menciptakan aplikasi. Pada usia 19 tahun Agarwal mencoba keluar dari comfort zone. Agarwal pergi dari kampung halamannya, memilih melancong berbulan-bulan, dan menginap di hotel murah ala kadarnya. Mencari budget hotel untuk traveling atau backpackeran sangatlah tidak mudah pada masa itu. Belum lagi buruknya fasilitas dan minimnya pengalaman karyawan yang bekerja di industri hotel & hospitality berbujet cekak. Agarwal muda mencoba mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Terbukti Agarwal mampu menghadirkan solusi dengan menciptakan aplikasi OYO, singkatan dari On Your Own. Bermula dari mengembangkan puluhan kamar di India, per Juni 2019 tercatat jumlah hotel yang bekerjasama menjadi mitra OYO Hotels yakni mencapai 23.000 hotel dengan lebih dari 850.000 kamar yang tersebar di lebih dari 800 kota besar di dunia. Pencapaian yang luar biasa!

Berkat OYO, unbranded hotels dengan fasilitas dan pelayanan yang kurang memadai disulap menjadi hotel terstandardisasi dan berkualitas. Jaringan OYO Hotels memberikan pelatihan mengenai industry hotel & hospitality kepada semua OYOpreneurs dan mitra. Hal ini tentunya menciptakan tenaga profesional, handal, memahami manajemen dan tata kelola perhotelan berbasis teknologi.

Soal preferensi kamu bisa pilih jenis/kategori produk dan layanan yang disediakan OYO Hotels. Ada OYO Townhouse, OYO Home, OYO Vacation Homes, Silverkey, Palette, Collection O, OYO Premium hingga OYO Life. Milenial yang ingin merasakan akomodasi ekonomi premium bisa mencoba OYO Townhouse. Bagi kamu yang sudah berkeluarga dan ingin mendapatkan kamar yang luas seperti di apartemen ada baiknya menjajal OYO Premium. Collection O diperuntukkan bagi smart traveler yang menginginkan fasilitas olahraga, kolam renang, resto, meeting room, hingga parking area yang memadai. Silver Key untuk kamu pebisnis yang membutuhkan tempat menginap untuk perjalanan bisnis jangka pendek maupun panjang. Baru-baru ini, OYO meluncurkan OYO Life, segmen baru di mana milenial bisa mendapatkan fasilitas indekos terstandardisasi yang sifat sewanya bisa jangka panjang.
Seandainya di tahun 2014 mencari hotel/penginapan semudah mengklik aplikasi OYO, drama-drama yang saya ceritakan di atas gak bakalan terjadi hahaha.

Mencari hotel dan penginapan segmen low budget hingga high class atau premium menjadi mudah karena #PastiAdaOYO. Punya pengalaman menginap di OYO Hotels, cerita di kolom komentar yuks! Kamu juga bisa lho memilih salah satu Hotel OYO yang ada di dalam daftar berikut ini https://www.oyorooms.com/id/allcities/. Klik aja!

Berikutnya saya akan mengulas bagaimana pengalaman saya booking Hotel Murah di Yogyakarta, OYO De Amor Timoho. 

Pengalaman Menjajal OYO De Amor Exclusive Timoho

Ibarat Jogja yang terdiri dari rindu, kenangan, dan angkringan. OYO berbahan bakar cinta, kehangatan, dan pelayanan. Jatuh hati pada pandangan pertama bikin hati susah move on. Seperti halnya cintaku pada OYO. Pelayanan, fasilitas, dan kehangatan yang ditawarkan OYO membuat hati ini tertaut dan gak mau berpaling. Eaaaaa baper.

Saya mengetahui OYO saat rekan saya bernama Dhita bercerita mengenai pengalamannya menginap di salah satu hotel OYO yang ada di Bali. Dhita bisa menghemat pengeluaran traveling selama 3 hari!  Budget hotel tapi bisa dapat fasilitas bagus plus menghemat biaya traveling? Ah masa? Dari situ saya mulai penasaran.

Tepat di Bulan Februari, bulan simbol cinta, saya bersama partner in crime Arum menginap di OYO De Amor Exclusive Timoho. Bagaimana pengalaman 2 milenial ini menjajal OYO De Amor Exclusive Timoho? Stay tune!
Ekspresi cinta OYO Hotels. Lokasi OYO DE Amor Timoho. Dokumentasi pribadi.
Menikmati secangkir kopi di sore hari. OYO De Amor Timoho. Dokumentasi pribadi.
Love OYO Hotels. OYO De Amor Timoho. Dokumentasi pribadi
Demen banget suasana OYO De Amor Timoho, makin cinta OYO deh! Dokumentasi pribadi.
Enam alasan duo milenial jatuh cinta pada OYO De Amor Timoho.

Pertama, OYO De Amor Timoho menyediakan lahan parkir yang luas. Pertama kali Arinta dan Arum tiba di OYO De Amor Timoho, wah area parkirnya luas juga ya. Di samping kanan tersedia taksi  nangkring yang siap mengantarkan kita jalan-jalan di Yogyakarta. Ternyata eh ternyata taksi-taksi tersebut masih satu kepemilikan dengan pengusaha yang menjalankan bisnis OYO De Amor Timoho. Dekat dengan bandara, kampus, dan lokasi strategis lainnya membuat OYO De Amor Timoho menjadi pilihan tepat kami menginap.
Lahan parkir yang luas. OYO De Amor Timoho. Dokumentasi pribadi
Kedua, OYO De Amor Timoho menyediakan kafe dan rumah makan soto yang sangat etnik, Jogja banget. Kalau kita lapar tinggal jalan beberapa langkah ke depan, pilih mau kafe atau warung soto. Untuk kafenya biasanya rame di malam hari. Ada live music pula. Sedangkan menu soto yang disajikan berupa soto dengan daging ayam kampung yang empuk serta ubarampe pelengkap seperti kerupuk, gorengan, sate telur, sate usus, peyek, dan masih banyak lagi. 
Suasana kafe di OYO De Amor Timoho. Dokumentasi pribadi
Ketiga, terdapat kolam renang yang luas dan bersih. Arum demen banget nyebur-nyebur dan maen di air. Sekalinya nyebur betah banget dan udah gitu lama. Anak pemilik OYO De Amor Timoho adalah seorang atlet dan sering berlaga di beberapa kejuaraan renang. Maka tak heran bangunan OYO De Amor Timoho dilengkapi swimming pool, paket lengkap buat latihan renang dan usaha penginapan. Oh ya, di sisi kiri kolam renang terdapat mushola juga kamar ganti. Jangan sia-siain deh kesempatan berenang di OYO De Amor Timoho!
Swimming pool at OYO De Amor Timoho. Dokumentasi pribadi
Keempat, amenities-nya SUPER DUPER lengkap.

OYO De Amor Timoho menyediakan 2 jenis kamar yakni Deluxe Double dan Indonesia Suite Double sebanyak 4 unit. Harga Suite Double lebih mahal jika dibandingkan Deluxe double. Desain interior dibuat modern dengan akses merah berlapis kayu. Dibuat senyaman mungkin dengan untuk para tamu. 

Saya dan Arum memesan Suite Double di lantai satu yang berhadapan langsung dengan kolam renang. Emang sih lebih mahal, tapi kamarnya lebih luas dibandingkan dengan Deluxe Double. Bisa buat gelundungan hehehe. 

Amenities yang ditawarkan Suite Double OYO De Amor Timoho apa aja sih. Yuk cekidot,
a) Ranjang ukuran queen size.
b) Pembuat kopi/teh dan air mineral
c) Pengering rambut.
d) Seating area.
e) TV.
f) AC.
g) Kulkas.
h) Tempat sampah.
i) Tempat sepatu.
j) Lemari pakaian dan lemari barang-barang lain.
k) WIFI
l) Colokan
m) Windows view 
n) Ubarampe toilet seperti handuk, pasta gigi, sikat gigi, hair  body wash, body lotion
o) Interkom dan kamera CCTV 
Amenities OYO De Amor Timoho. Dokumentasi pribadi
Kelima, pelayanannya yang ramah. Saat akan check ini kita kartu identitas kita diminta serta terdapat uang jaminan senilai seratus ribu rupiah yang bisa diambil kembali setelah kita check out. Mbak resepsionisnya ramah banget, saya diminta menyebutkan kode pemesanan, identitas, bayar sewa per hari plus menyerahkan uang jaminan. Selanjutnya Mbak resepsionis memanggil room boy yang siap mengantar kami ke kamar yang sudah kami booking
Resepsionis yang ramah dan siap membantu para tamu. Dokumentasi pribadi
Keenam, beberapa spot sangat kece dan instagrammable. Cekrek...cekrek...selfie syantik ahay. Lumayan bisa jadi konten di instagram atau media sosial lainnya. Kalau ada yang nanya "Ini lokasinya di mana?" "Mau banget ke sana." Saya jawab, hayuk main OYO De Amor Timoho, jangan lupa traktir ya hahaha.
Saya sudah donlot aplikasi OYO, menginap di OYO De Amor Timoho bareng partner in crime, dan follow semua media sosial OYO sebagai bukti #ILoveOYO.

Banyak benefit lho kalau kita follow media sosial OYO. Kita jadi tahu promo apa saja yang diadakan bulan ini. Misal Diskon Super 90% dan bisa nginep hotel dengan modal 99 ribu rupiah saja. Ada juga promo 66 ribu, promo nginep khusus gajian mulai dari 50 ribu dan masih banyak lagi.

Selain promo, ada juga giveaway yang hadiahnya bukan kaleng-kaleng, smartphone dari kelas middle end hingga high end seperti Iphone 11. Kuy buruan follow siapa tau kamu hoki dan berkesempatan memenangkan hadiah menarik dari OYO!

Berkat OYO, staycation plus traveling jadi praktis, enjoy dan gak ribet. No drama. Pastinya bikin milenial jatuh cinta.