Kamis, 16 Mei 2019

Ngopi-ngopi Asyik, Yuk Ke Gudang Kopi Aja!

Jika kamu pecinta kopi, yuk berkunjung ke kedai kopi satu ini, Gudang Kopi Indonesia atau kita singkat aja Gudkop. Lokasinya strategis. Terletak di dekat Pasar Demangan, tepatnya di Jalan Gejayan No 8. Bagi yang baru pertama kali datang ke Gudkop, pasti bingung. Lho mana kedai kopinya. Di sini adanya deretan ruko, mentok toko yang menyediakan peralatan fotografi, Gudang Digital. Weitsss, jangan salah gaes, Gudkop terletak di lantai 2 Gudang Digital. Kamu tinggal naik tangga ke lantai 2, di sana ada kafe yang menyediakan menu kopi, kudapan, dan makanan berat. 

Gudkop ini saya rekomendasikan untuk mahasiswa, pekerja kantoran, atau tukang lembur seperti saya yang suka mengerjakan tugas sembari ditemani secangkir kopi, alunan musik, dan venue yang asyik. Kenapa asyik? Di dinding Gudkop terpanjang karya-karya fotografi, jadi tempatnya kayak galeri foto gitu sih. Gudkop juga menyediakan ruangan untuk workshop, tapi ruangan ini bisa diubah menjadi ruangan untuk pengunjung di hari-hari biasa. 
Workshop bersama Andre Christian. Dokumentasi pribadi
Pada kesempatan ini saya juga menghadiri workshop bersama Mas Andre Christian, founder makankeliling.com. Mas Andre terkenal sebagai influencer makanan (foodstagrammer) dan juga food vlogger (youtuber). Mas Andre sharing mengenai pengalamannya menjadi foodstagrammer. Sebelum itu, blio mengawali karirnya di bidang IT sebagai programmer. Tahun 2015 Mas Andre membuat aku  instagram khusus kuliner bernama @empatsehat, selanjutnya nama Empat Sehat diubah menjadi @makankeliling. Butuh kerja keras, keteguhan hati, dan sikap mental yang kuat untuk konsisten di bidang ini. Mas Andre bercerita pernah dibayar Rp 10.000 per postingan. Mas Andre menambahkan dirinya tidak membeli follower, jadi follower blio adalah real. Selepas sesi sharing dengan Mas Andre, tak terasa azan maghrib. Kami --peserta workshop--yang berpuasa segera berbuka di Gudkop. 
Saya memilih menu Nasi Goreng Gudkop. Nasi goreng seharga 30K ini bertoping potongan ayam  katsu, telur, dan kerupuk. Sangat worth it. Rasanya juga mantap. Tapi sayangnya kurang pedas hehehe. Saya soalnya pecinta pedas. Mungkin kapan-kapan bisa request nambah lagi cabenya. Untuk minuman saya memilih Es Kopi Susu Arjuna. Selain Es Kopi Susu Arjuna, Gudkop menawarkan Es Kopi Papandayan dan Es Photocoffee. Namanya lucu ya? Photocofee. Nama ini merupakan perpaduan foto dan kopi. Maklum pemilik Gudkop yang sekaligus pemilik Gudang Digital adalah pehobi di bidang fotografi dan pecinta kopi. 

Menurut Pak Hary, pemilik Gudkop, kedai ini terbilang masih baru. Didirikan di Bulan November 2018. Belum ada setahun berdiri, tapi Gudkop sudah memiliki pelanggan tersendiri. Gudkop beroperasi mulai pukul 07.00 sampai 23.00 WIB. Gak seperti kafe atau kedai kopi pada umumnya yang beroperasi mulai sore hari, kamu bisa menikmati breakfast jam 08.00 pagi di Gudkop. Untuk menemani sarapan pagi, kamu bisa mencoba berbagai menu pilihan di antaranya nasi kecombrang, nasi cumi hitam, morning croissan. Selain itu ada juga dory finger (ikan dory dibalut tepung yang dicocol dengan saus tartar), cumi calamari, asian springroll, dan masih banyak lagi. Untuk menu nonkopi, Gudkop menawarkan beberapa pilihan, di antaranya yakni summertime mango smothies, lychee berry tea, tropical tea, ice red latte, dan hot chocolate. 
Nasi Cumi Hitam. Dokumentasi pribadi
Saya memilih ruangan yang bisa memandang langsung ke Jalan Gejayan. Lebih asyik menikmati seporsi nasi goreng dan secangkir kopi arjuna di sini. Saya menyesap seteguh dua teguk kopi arjuna. Semilir angin menerpa jilbab saya. Saya paling suka view di sini.
Bagi kamu penggemar kopi, tak ada salahnya ngopi-ngopi asyik di Gudkop. Boleh lho bawa teman atau gebetan bar tambah seru. Jika ditanya ditanya ngopi-ngopi asyik di mana ya enaknya? Ya Gudkop jawabannya!

Sampai berjumpa di lain kesempatan!

Jumat, 03 Mei 2019

Geliat Ekonomi dan Percik Inspirasi dalam Gelar Produk Makanan dan Minuman Istimewa 2019

Kita tengah memasuki era revolusi industri 4.0, sebuah tren di mana digitalisasi, akses terhadap teknologi informasi, pertukaran data begitu mudah dijangkau, selayaknya ada di genggaman tangan. Tak pelak, tren ini mengubah perilaku manusia dalam bersosialisasi maupun berbisnis (berwirausaha). Yups, tren ini membuat ekonomi (digital) kian menggeliat.

Berbicara mengenai geliat ekonomi dan wirausaha tak lepas dari peran sentral pelaku usaha level mikro dan menengah. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mencanangkan program 8 juta UMKM go online pada tahun 2019. Adapun jumlah pelaku usaha level UMKM di Indonesia mencapai 59,2 juta. Nah,  8% atau 3,79 juta pelaku usaha ini telah memanfaatkan kanal digital dan akses internet dalam memasarkan produknya. Data BPS menunjukkan kontribusi sektor UMKM pada terhadap ekonomi nasional (PDB) mencapai 60,34% (tahun 2018). Terkait hal ini, bisnis kuliner (pengolahan makanan dan minuman) serta fesyen masih menjadi primadona.

Pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta tentu saja harus gercep alias gerak cepat menanggapi hal tersebut. Berbagai pelatihan dan pameran pun ditempuh untuk memberdayakan pelaku usaha (level UMKM) agar mampu menciptakan dan memperkenalkan produk lokal berdaya saing. Jika Anda menyambangi akun instagram PLUT-KUMKM Di Yogyakarta, Anda akan mendapatkan berbagai informasi menarik seputar pelatihan dan pengembangan bisnis serta wirausaha. Semisal bagaimana foto produk agar tampil cantik di media sosial, copywriting, desain kemasan produk, website sharing session for business, pameran produk, dan masih banyak lagi. Catat ya, baik pameran atau pelatihan tersebut adalah gratis!

Beruntung pada hari ini saya berkesempatan menghadiri di salah satu kegiatan pameran/gelaran yang diadakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bersinergi dengan PLUT-KUMKM Di Yogyakarta. Acara bertajuk Gelar Produk Makanan dan Minuman Istimewa 2019 ini bertujuan untuk memperkenalkan aneka produk olahan kuliner lokal ke masyarakat. Gelaran tersebut berlangsung dari tanggal 3-4 Mei 2019, berlokasi di kawasan Maliboro, tepatnya di eks Dinas Pariwisata DIY. Anda tidak dipungut biaya untuk datang ke gelaran tersebut, justru Anda bisa icip-icip penganan lokal dengan harga yang ramah di kantong. Bisa juga bawa oleh-oleh buat keluarga di rumah.

Nah inspirasi apa saja yang saya dapat dari Gelar Produk Makanan dan Minuman Istimewa tersebut?  Barangkali 6 kisah wirausaha lokal berikut mampu menginspirasi dan mengilhami Anda dalam mengembangkan sebuah bisnis.

Inspirasi #1. Inovasi Bisnis Dwi Martuti : Cokelat plus Pegagan, Kenapa Tidak?

Di Tangan Dwi Martuti, tanaman pegagan (Cantella asiatica) yang menjadi gulma atau tanaman liar diolah menjadi aneka penganan. Salah satunya adalah cokelat pegagan dengan branding Cokelat Won.Dis. WonDis sendiri berasal dari akar kata Pawon Gendis. Di bawah Kelompok Wanita Tani, cokelat pegagan ini diolah.
Siapa sih yang tidak doyan cokelat? Hampir semua orang pasti sukalah. Termasuka saya. Konon, segigit cokelat mampu membawa perasaan bahagia. Efek dari senyawa Theobromine dan Serotonin kali ya? Nah, apakah mood Anda berubah selepas memakan cokelat?

"Kelompok Wanita Tani Pawon Gendis berawal dari 29 ibu-ibu yang sekarang jumlahnya naik menjadi 40 orang." Tutur Dwi Martuti kepada Saya.

Pawon Gendis memberdayakan perempuan (ibu rumah tangga) di Dusun Kalibawang (Kulonprogo) agar produktif, kreatif, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi. Cokelat pegagan adalah inovasi sekaligus diversifikasi yang tidak serta merta hadir, tetapi melalui serangkaian proses dan riset hingga menjadi cokelat pegagan yang enak buat dikonsumsi.

"Saya tinggal di daerah penghasil kakao yang melimpah. Namun, saat itu masih sedikit orang yang mengolah kakao menjadi cokelat." Dwi Martuti menambahkan.

Ini yang menjadi ide dasar mengolah kakao agar memiliki nilai lebih, sebab jika petani menjual kakao kering begitu saja, maka harganya jatuhnya rendah. Harus ada inovasi dan diversikasi produk. Adapun tanaman pegagan tumbuh liar di pinggiran sawah. Di Kulonprogo tanaman ini lebih dikenal dengan sebutan regedeg. Meskipun liar, daun pegagan dapat dimanfaatkan sebagai tanaman herbal, misal sebagai antiseptik. Kripik atau sayur berbahan pegagan sudah banyak yang buat. Bagaimana dengan olahan cokelat plus pegagan?

"Tahun 2015, inovasi cokelat pegagan ini berhasil meraih Penghargaaan Adhikarya Pangan Nusantara tingkat nasional kategori ketahanan pangan. Saya bertemu Presiden Jokowi dan memperkenalkan cokelat pegagan di istana." Ungkap Dwi Martuti dengan antusias.

"Tahun 2017, saya mendapat fasilitas alat olahan kakao untuk membuat permen cokelat. Tahun 2018 saya membuat bubuk cokelat. Tahun 2019 saya membuat rumah produksi cokelat. Tidak hanya menjual, saya bersama Pawon Gendis mengadakan edukasi, studi banding, penelitian, dan wisata kuliner mengenai cokelat dan olahannya. Sudah banyak mahasiswa dan beberapa dosen yang mengadakan penelitian di tempat saya. Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa dari Fakultas Perikanan UGM menguji coba dan memadukan cokelat dengan spirulina." Pungkas perempuan yang pernah meraih 25 penghargaan di bidang wirausaha tersebut.

Cokelat Won.Dis sudah dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia. Cokelat Won.Dis dibanderol dengan kisaran harga Rp 15.000 hingga Rp 25.000. Karena penasaran saya beli cokelat pegagan seharga Rp 15.000 dan minuman cokelat rasa susu seharga Rp 15.000.
9 biji cokelat pegagan ini dibanderol dengan harga Rp 15.000. Dokumentasi pribadi
Kiri : owner Cokelat Pawon Gendis. Kanan : Saya. Dokumentasi pribadi
Jika Anda berkunjung ke Pawon Gendis di Kalibawang, Anda akan diperkenalkan aneka olahan pegagan (wisata kuliner) plus studi mengenai budidaya kakao dan pengolahan cokelat. Selain sebagai bahan baku campuran cokelat, pegagan di Pawon Gendis diolah menjadi dawet, masker, slondok, peyek, egg roll mocaf, pisang cokelat, lotek, dan lain-lain.

Apakah Anda terinspirasi untuk berbisnis cokelat, pegagan, atau keduanya? Jika Anda penasaran, silakan kunjungi instagram @won.dis atau hubungi  Dwi Martuti (WA) di nomor 081229509523.

Inspirasi #2. Olahan Cokelat Tempe Pawiro yang Krispi dan Rasanya Menggigit

Masih seputar cokelat. Namun cokelat yang saya ulas kali ini adalah olahan cokelat tempe dengan branding Pawiro Chocolate. Pawiro Chocolate diisiasi oleh Bu Dyah Sunanik pada tahun 2018. Bu Dyah Sunanik sebagai pelaku UMKM sudah lama berkecimpung dalam pembuatan produk kreatif. Berdasarkan penuturan beliau, produk Prawiro Chocolate telah merambah berbagai wilayah seperti Jakarta. Untuk wilayah Yogyakarta sendiri didistribusikan ke koperasi-koperasi di kampus, sekolah, pusat jajanan dan oleh-oleh, swalayan (Mirota, Raminten, Progo), dan sebagainya.
Bu Dyah Sumanik. Owner Pawiro chocolate. Dokumentasi pribadi
"Saya mau cerita dikit mbak. Jadi anak saya suka cokelat, pengen banget buat kudapan yang sehat, apalagi Indonesia penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, ini inspirasi awal saya membuat cokelat. Selanjutnya saya melakukan riset dan observasi mengenai cokelat dengan kombinasi tempe kepada anak SMA. kok banyak yang suka cokelat tempe buat saya ini. Akhirnya saya membuat olahan cokelat tempe." Dyah Sunanik menuturkan awal mula membuat cokelat tempe.

Cokelat tempe merupakan kudapan yang memanfaatkan potensi lokal yakni tempe. Tempe selain mudah didapatkan, harganya terjangkau, juga bergizi tinggi. Kaya akan protein nabati. Bu Dyah Sunanik sendiri merasa sayang ketika mendapat oleh-oleh cokelat dari luar negeri dengan bahan kacang-kacangan yang sangat mahal. Kalau Indonesia mampu membuat cokelat kombinasi bahan baku lokal, kenapa tidak? Akhirnya tempe dipilih menjadi bahan baku yang dikombinasikan dengan cokelat.
Bagaimana ya saya menjelaskan rasa cokelat tempe ini? Cokelatnya lumer di mulut, rasanya pahit manis (dark chocolate), dengan sensasi krenyes-krenyes di setiap gigitan.

Satu butir cokelat tempe dengan berat 11 gram dibanderol dengan harga eceran Rp 1.500 saja. Masa simpan kurang lebih 10 bulan di suhu ruangan. Di letakkan dalam freezer atau lemari es bisa jauh lebih tahan lama.
Satu biji cokelat mungil ini hanya Rp 1.500 saja
"Cokelat Tempe Pawiro baru mendapat izin PIRT pada Maret 2018. Setelah mendapat ijin tersebut saya bisa memasarkan ke berbagai swalayan yang ada di Jogja."

Anda tertarik menjadi distributor, reseller, atau sekadar membeli cokelat tempe Pawiro ini buat oleh-oleh keluarga? Silakan kunjungi instagram @pawirochoc dan WA di nomor 085878994800.

Inspirasi #3. Maknyusnya Geblek khas Kulonprogo Mister Telo. 
Pak Supriadi, owner geblek mister Telo. Dokumentasi pribadi
Bagi yang belum tahu apa itu geblek, mari saya jelaskan secara singkat. Geblek merupakan kudapan tempo dulu yang berbahan saripati singkong. Geblek ini banyak diproduksi di Kulon Progo. Pak Supriadi mengawali karir pada tahun 2006 dengan memproduksi tepung tapioka. Seiring berjalannya waktu, Pak Supriadi menganalisis margin tertinggi untuk olahan tepung tapioka jatuh pada produk apa ya? Ternyata geblek singkong yang sudah matang. Setelah melalui serangkaian uji coba, Pak Supriadi merintis usaha geblek dengan rasa original dengan branding Mister Telo. Pada tahun 2015, mulailah dibuat kemasan geblek dengan kemasan vakum, biar kedap udara dan lebih tahan lama. Tahun berikutnya dibuatlah berbagai varian rasa dengan bahan baku ikan tuna, tenggiri, dan udang. Varian ini lebih bergizi karena mengandung ikan laut. Oh iya, usaha ini udah mendapat izin PIRT dan sertifikasi halal lho.

"Di Kulon Progo saya ada 3 outlet, di Wates juga 3 outlet. Saya aya memasarkan produk Geblek Mister Telo ini di swalayan (Mirota) dan toko oleh-oleh. Saya juga pernah ikut pameran produk atau acara-acara seperti  di Sunmor dan Pasar Sekaten."

"Mengenai produksi, tidak satu bulan full saya memproduksi geblek. Masa produksi dihitung 23 hari saja atau 5 hari kerja/minggu. Dalam waktu satu hari kapasitas produksi Geblek Mister Telo mencapai 150 kg hingga 200 kg. Ketentuannya 50% dijual secara curah dan 50% dijual secara kemasan untuk diecer di swalayan, pusat oleh-oleh, pameran, dan sebagainya.
Pak Supriadi menambahkan bahwasanya beliau sangat terbuka untuk memberikan pelatihan pembuatan geblek bagi yang berminat. Siapa tahu ada mahasiswa atau pelajar yang ingin belajar cara membuat geblek. Untuk pelatihan, Pak Supriadi tidak mematok tarif alias gratis. Itung-itung sedekahlah, kata beliau. Pelatihan bisa dilakukan di kantor pusat (Kalibawang). Melalui pelatihan pengolahan geblek, peserta bisa belajar mengolah adonan hingga menjadi produk siap santap.

Pak Supriadi merupakan inisiator dan penggerak usaha geblek di Kulon progo. Tak heran beliau mendapat penghargaan wirausaha dari pemerintah daerah setempat dan piala kreanova pada tahun 2016.

Saya sendiri pemasaran dengan rasa geblek ini. Apalagi yang udang dan tenggiri. Untung ada testernya. Rasanya maknyus. Kenyal-kenyal gimana gitu, apalagi kalau panas plus ada sambalnya. Wahhh... Setelah mencoba 2 varian rasa (udang dan tenggiri), akhirnya saya memutuskan membeli geblek dengan rasa original untuk disantap bareng-bareng sama anak kos.

Anda yang berminat berbisnis geblek atau penasaran pengen icip-icip rasanya, silakan kontak di WA dengan nomor 082138106976 atau email : supriyadiyanti@gmail.com.

Inspirasi #4. Ingin Belajar Bisnis dan Meracik Bakpia? Bakpia Menuk Jawabannya. 

Jogja surganya kuliner, eh surganya bakpia juga ding. Maklum banyak tempat produksi bakpia di sini. Mau bakpia model apapun ada di Jogja, Bakpia kukus, bakpia bakar, bakpia basah, dan lain sebagainya. Harganya pun bervarias, mulai dari Rp 15.000/pack hingga level premium dengan harga lebih dari Rp 50.000/pack.

Di Gelaran Produk Makanan dan Minuman istimewa ini saya bertemu Bu Hesti yang memperkenalkan produk Bakpia Menuk.

"Silakan Mbak dicoba dulu testernya." Saya pun menjajal tester tersebut. Rasanya krispi di luar, lembut di dalam.
Harga Bakpia isi 10 mulai 20 rebu. Dokumentasi pribadi
Jadi Bakpia Menuk ini memiliki 10 varian rasa, beberapa di antaranya yakni keju, cokelat, susu, salak, green tea, ubi ungu, dan kumbu hitam. Soal harga, Bakpia Menuk isi 10 biji dibanderol Rp 23.000/pack, adapun isi 15 biji dibanderol Rp 35.000/pack. Usaha Bakpia Menuk dibuka pada tahun 2018 dalam bentuk CV. Cahaya Citra Food. Bakpia Menuk sudah memiliki izin PIRT dan sertifikat halal lho, jadi produk tersebut sudah aman dan dijamin kehalalannya ketika dikonsumsi.

Kalau Anda berstatus pelajar, tertarik dengan bisnis bakpia, dan ingin mempelajari bagaimana mengolah bakpia, Anda ikut program study tour di Bakpia Menuk untuk satu rombongan. Setiap peserta membayar uang sebesar Rp 50.000 untuk ditukar dengan praktek membuat bakpia, study bisnis bakery, sertifikat pelatihan, lunch box, dan 1 box bakpia hasil produksi. Murah bukan? Bagi yang mau tanya-tanya silakan hubungi Hesti dengan nomor WA 087705378763. Bagi Anda yang tertarik membeli Bakpia Menuk silakan kunjungi www.bakpiamenuk.com atau 082257854345.

Inspirasi #5. Soklat Es Cokelat : Cokelat Bintang Lima Harga Kali Lima
Segernya es kuwut. Dokumentasi pribadi
Siang itu sangat panas. Mencekat. Membuat jiwa-jiwa yang kehausan bin kegerahan mencari minuman pelepas dahaga, apalagi kalau bukan menikmati Soklat Es Cokelat dan Es Kuwut. Untuk es kuwutnya satu gelas plastik harganya Rp 10.000 dan es cokelat Rp 8.000 saja. Saya mencoba keduanya. Kebetulan saya sedang haus-hausnya. Di sela-sela minum, saya tertarik mengobrol dengan Pak Pami Dwi Anggoro, pemilik usaha Soklat Es Cokelat. Usaha yang bermarkas di Pujowinatan PA 1/734 ini mulai didirikan pada tahun 2015 dengan berjualan di Pasar Malan Sekaten selama 30 hari.

"Pada saat itu saya mendapat stand dengan ukuran 1x1 meter. Saya bingung mau diisi apa ini stand. Kebetulan istri saya ini doyan minuman cokelat di setarbak. Kan lumayan harga per cup minuman di sana. Akhirnya saya mencoba menjual minuman cokelat seperti yang ada di kafe mahal tersebut dengan harga kaki lima. Responnya positif. Kebanyakan yang membeli minuman cokelat saya adalah mahasiswi. Pada saat itu (tahun 2015), harga per cup Rp 5.000 saja."

Cukup terjangkau bukan?

"Tak disangka selama 30 hari berjualan di Sekaten saya punya modal untuk buka booth di daerah Janturan. Tahun 2016, saya buka booth lagi di daerah Glagah, Kotagede, Berbah, bahkan beberapa meminta usaha dibikin franchise."

Jika dilihat usaha minuman ini cukup potensial. Apalagi jika dijual di daerah kampus atau dekat dengan pusat keramaian.
"Nah, kalau bubuk cokelat ini harganya Rp 18.000/bungkusnya. Bubuk cokelat ini sudah dijual hingga ke Palu dan Makassar.

Bagaimana? Apa Anda melirik usaha minuman cokelat? Jika mau tanya-tanya atau tertarik buat membeli cokelat kemasan silakan kontak Bu Farida dengan nomor WA 082313114668 atau instagram @soklatescoklat.

Inspirasi #6. Jamune Biyung : Anak Sakit Menjadikan Menjadikan Biyung Yayuk Terjun Ke Bisnis Jamu
Biyung (ibu) Yayuk memulai berbisnis jejamuan pada tahun 2017. "Awalnya saya khawatir dengan banyaknya sakarin dan pemanis buatan pada minuman kemasan. Apalagi anak saya mengalami gagal ginjal." Kenang Biyung Yayuk.

Biyung Yayuk baru menyadari bahwa anaknya mengalami gagal ginjal saat sang anak berusia 13 tahun. Selama perawatan sang anak, Biyung Yayuk menemukan banyak pasien karena tingginya konsumsi sakarin/pemanis buatan pada minuman ringan. Tak menyerah, Biyung Yayuk memulai usaha minuman herbal (jejamuan) dengan mengolah empon-empon seperti kunyit, asem, dan temumangga. Alasan lain membuat jamu karena jamu merupakan pengobatan tradisional yang memiliki peranan mengobati penyakit di negara berkembang. Diperkirakan sekitar 70-80% populasi penduduk di negara berkembang memiliki ketergantungan terhadap jamu dan ramuan tradisional lainnya.
Seorang pengunjung bertanya tentang khasiat olahan Jamune Biyung. Dokumentasi pribadi
"Sangat bersyukur setelah minum jamu anak saya semakin membaik kesehatannya."

Saat ini omset usaha Jamune Biyung mencapai 100%. Biyung Yayuk memproduksi jamu secara harian. Biyung Yayuk pernah menerima order 500 hingga 1500 botol jamu untuk  acara pernikahan, reuni, coffe break, dan sebagainya. berkat usahanya, Biyung Yayuk pernah diminta mengisi acara kampanye kesehatan salah satu rumah sakit di Yogyakarta.
Pilih kunir asem atau gula asem? Dokumentasi pribadi
Sebotol hanya Rp 5.000 saja. Dokumentasi pribadi
Saya pribadi penasaran dengan jamu rasa gula asem. Jujur saya takut minum jamu karena khawatir dengan pemanis buatan. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan Biyung Yayuk saya berani mencoba jamu rasa Gula Asem. Seger banget pokoknya. Apalagi bila dimasukkan freezer.

Harga per botolnya murah meriah lho, cukup merogoh kocek Rp 5.000 saja Anda dapat minuman herbal dengan bahan-bahan alami ini.

Apabila Anda tertarik bekerjasama/menjadi reseller Jamune Biyung silakan hubungi WA dengan nomor 082327697775 atau DM akun instagram @jamunebiyung.

Gambar-gambar di bawah ini merupakan dokumentasi yang berhasil saya jepret sebelum balik kosan.
Lihat apa mas? Stan Bandeng Presto dan makanan ringan. Dokumentasi pribadi
Ada yang coba tester Bakpia Citra? Stan Bakpia Citra. Dokumentasi Pribadi
Ibu-ibu kalap di stan Brownies Kukus Melinda. Dokumentasi Pribadi.
Semakin siang beberapa pengunjung dari Malioboro melirik stan-stan yang ada di Gelar Produk Makanan dan Minuman Istimewa. Stan brownies kukus Melinda yang tadinya sepi pembeli, kini diserbu pengunjung. Beberapa pengunjung tersebut membeli brownies Melinda.

Sayang sekali saya tak bisa berlama-lama di gelaran tersebut. Setidaknya saya dan Anda yang membaca artikel ini mendapat secercah inspirasi mengenai keuletan dan perjuangan wirausahawan lokal dalam mengembangkan bisnis. Lihatlah, geliat ekonomi terbangun dari para pelaku UMKM yang pantang menyerah ini!

Teruslah berjuanglah!

Sampai jumpa di gelaran tahun depan!

Jumat, 22 Maret 2019

Yuk Intip Inspirasi Apa Saja yang Ada di Pesta Kuliner Rakyat 2019!

"Pengen kulineran nih Arinta. Relomendasikan dong tempat yang asyik 
yang enggak bikin kantong kita bolong."

Mau kulineran? Plus dapat suasana baru yang seru dan enggak bikin kantong kamu jebol? Datang aja ke gelaran Pesta Kuliner Rakyat yang berlokasi di Piramid, Bantul mulai tanggal 22-23 Maret 2019. Di sini, kamu enggak cuma bisa mencicipi aneka penganan dengan harga terjangkau, kamu juga dapat mengikuti rangkaian acara berupa seminar, diskusi, dan talkshow tentang dunia entrepreneurship yang dikemas dalam konteks lokal yang sangat kekinian. Pembicaranya tentu saja pakar di bidangnya masing-masing. Di hari pertama gelaran Pesta Kuliner Rakyat tersebut, kamu bisa menggali informasi dan berdiskusi mengenai bagaimana kebijakan strategi pemasaran pemda DIY, financial plan, persiapan UKM menuju Bandara Internasional Yogyakarta, desain & branding (strategi membangun kemasan produk yang menjual). Adapun di hari kedua, kita bakalan disuguhkan talkshow mengenai peran sentral UKM dalam perekonomian masyarakat DIY. Wow! Materinya daging semua! Boleh banget nih untuk kamu yang sedang atau ingin mendalami bidang wirausaha. Satu lagi, seminar dan talkhow tersebut tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis! Mantul, mantap betul!

Gelaran Pesta Kuliner Rakyat ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah untuk membangun iklim positif dunia wirausaha (kuliner) sekaligus strategi membranding UKM di DIY agar naik kelas. Sudah tahu belum kalau tanggal 27 Maret nanti akan ada peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk Bandara Internasional Yogyakarta? Yups Jogja bakalan punya Bandara baru lho selain Adisutjipto International Airport. Kabar baiknya, produk-produk UKM lokal bakalan terpampang lho di etalase. Produk-produk UKM tersebut tentunya sudah dikurasi oleh tim khusus dari segi kualitas hingga desain kemasan sehingga layak jual. Proses kurasinya juga sangat ketat. UKM mana coba yang enggak ingin produknya naik kelas serta dikenal oleh wisatawan dari berbagai negara? Semuanya butuh persiapan yang matang. Edukasi ke masyarakat serta pelaku UKM dirasa sangatlah penting. Maka dari itu, Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta sudah sangat tepat menyelenggarakan rangkaian acara ini. Selain acara bertema kuliner, ada juga gelar produk craft dan fashion istimewa.

"Keterbukaan dan kecepatan informasi, globalisasi, gerakan bersama untuk mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan membuat pelaku bisnis harus berbenah." Ujar Rika Fatimah, associate professor di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Perempuan berpenampilan modis yang memiliki pengalaman internasional di bidang peningkatan produktivitas dan kualitas produk tersebut menekankan pentingnya value added berupa nilai sosial, filosofi, spirit kegotongroyongan pada suatu entitas bisnis.
"Berbisnislah dengan menciptakan produk yang mampu memberikan dampak (kebermanfaatan) bagi lingkungan serta mengembangkan aspek sosial dan budaya."

Dampak lingkungan, sosial, dan budaya itu seperti apa? Tentu saja entitas bisnis tak hanya mampu menciptakan produk berkualitas dengan harga yang kompetitif, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana cara agar produk tersebut berkategori ramah lingkungan (go green product). Nilai tambah dari segi budaya misalnya dengan membubuhkan aksara jawa dalam kemasan produk, selain Bahasa Indonesia dan Inggris tentunya. Biar nampak kesan lokalnya. Sangat Jogja gitu loh! Adapun value added dari segi sosial bisa dilihat dari spirit kegotongroyongan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Misal entitas bisnis memberdayakan pekerja difabel, menggerakkan penghuni lapas perempuan atau para janda  di suatu desa untuk tetap produktif, berkarya, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi. Mampu MENGGERAKKAN. Itu yang terpenting.

Dalam sesi talkshow yang dihadiri para pelaku UKM itu, Rika memperkenalkan konsep Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneurship. Model gerakan wirausaha ini mengangkat kearifan lokal dengan semangat gotong royong sebagai elemen utama. Model kewirausahaan ini pertama kali diperkenalkan di Saemaul Internasional Forum pada tahun 2018. Kini konsep tersebut sudah dipromosikan ke berbagai negara dan ternyata telah diimplementasikan di negeri jiran, Malaysia. Apalagi menjelang pembukaan Bandara Internasional Yogyakarta, produk-produk UKM terutama kuliner, craft dan fesyen haruslah dikurasi sedemikan rupa serta memiliki filosofi G2R Tetrapreneurship sehingga nantinya mampu berkontribusi pada segmen ekonomi dan pariwisata di DIY.

Ada empat elemen yang dikedepankan dalam model wirausaha G2C Tetrapreneurship. Tetra berarti empat. Keempat elemen tersebut yakni berupa rantai wirausaha (chainpreneurship), pasar wirausaha (marketpreneurship), kualitas wirausaha (qualitypreneurship), dan merek wirausaha (brandpreneurship). Pendekatan rantai wirausaha mendeskripsikan filosofi chain supply dalam suatu proses atau aktivitas bisnis (ketersediaan produk, akses dan prioritas informasi, fasilitas, harga). Melalui elemen marketpreneurship dan qualitypreneurship, pelaku UKM mampu mengindetifikasi segmentasi pasar, kebutuhan, serta ekspektasi pelanggan/konsumen dengan menciptakan produk yang berkualitas. Terakhir brandpreneurship, mendorong iklim wirausaha melalui pendekatan nilai merek (brand value). Peran pemerintah daerah melalui kebijakan yang strategis, inovatif, serta futuristik sangatlah berarti, terutama untuk mendukung 4 elemen tersebut.

Untuk pengemasan dan pemasaran ada baiknya UKM membuat produk kemasan berkategori ritel, reguler, premium, dan suvenir Memang kategori suvenir dan premium harganya jauh lebih mahal, tetapi orang-orang justru lebih tertarik pada produk dengan kemasan unik, menarik, serta ergonomis. Biasanya kemasan jenis ini dijual saat ada pameran-pameran atau expo kuliner. Adapun kemasan ritel dan reguler bisa dijual secara eceran di toko-toko dan harganya jauh lebih murah.
"Bandara Internasional Suvarnabhumi (Thailand), Narita Airport (Jepang), Bandara Incheon (Korea), Rotterdam The Hague Airport (Belanda) merupakan segelintir bandara internasional yang mana memperkenalkan kuliner/penganan lokal ke mancanegara dengan desain kemasan produk yang menarik" tutur Rika.

Jogja tak mau kalah dong!
Nah penasaran enggak sih bagaimana kemasan produk-produk yang dijual di Pesta Kuliner Rakyat 2019? Berikut beberapa kemasan makanan yang saya ambil dan dokumentasikan. Desain kemasan ini tentunya sudah layak jual, tetapi untuk masuk ke Bandara Internasional Yogyakarta butuh kurasi dan pendampingan lebih lanjut oleh tim G2C Tetrapreneur serta Dinas Koperasi dan UMKM DIY.
Gelaran Pesta Kuliner Rakyat turut mendongkrak pendapatan pelaku UKM yang berjualan produk makanan di sana. Salah satunya Bu Sudarmi. Bu Sudarmi, perempuan asal Pundong (Bantul) ini telah berjualan Miedes sejak 2015. Miedes merupakan mie yang terbuat dari tepung tapioka yang diolah bersama bumbu rahasia, kocokan teluran, dan beberapa potong sayuran. Kuahnya segar dan maknyus. Sepersi Miedes dibanderol dengan harga Rp 10.000. Miedes ini halal dan sehat lho, tertulis di gerobaknya. Kalau kamu pengen Miedes buat oleh-oleh, ada lho mie kering dalam kemasan khusus.

"Orang mengira bahwa Miedes itu singkatan dari Mie Pedes, Mbak. Tapi bukan. Miedes itu sejatinya Mie Desa, khas Pundong. Saya menamainya Miedes sejak mendapat pelatihan dari dinas propinsi." Pungkas Bu Sudarmi.
Bu Sudarmi (Jilbab Hitam) dan Angkringan Miedes Pundong. Dokumentasi Pribadi
Ada yang pernah mencoba Miedes Pundong ini guys? Dokumentasi pribadi
Selain Miedes, ada lagi yang kuliner yang menarik menurut saya yakni olahan makanan yang dikemas ke dalam daun pisang dan daun jati yang dijual oleh Bu Farsiyati. Menarik karena jarang sekali saya mendapati makanan yang dikemas daun jati. Kemasan makanan (nasi)  di jaman now kebanyakan pakai kertas minyak, yang pakai daun pisang pun bisa dihitung jari. Bu Farsiyati masih satu desa dengan Bu Sudarmi di Pundong. Dengan kemasan daun Bu Farsiyati menjajakan buntil dan nasi bungkus. Harga per bungkus berkisar antara Rp 2.000-3000 saja. Tidak hanya itu, Bu Farsiyati juga menjual aneka keripik yang rasanya renyah.
Bu Farsiyati, buntil dalam kemasan daun jati serta nasi bungkus dalam kemasan daun pisang. Dokumentasi pribadi
Seorang pengunjung membeli keripik tempe yang dijual Bu Farsiyati. Dokumentasi pribadi.
Bagaimana? Apakah cerita di atas menginspirasi kamu untuk berwirausaha? Bagi kamu warga Yogyakarta yang masih bingung, tak tau bagaimana langkah untuk memulai usaha. Silakan gabung menjadi anggota PLUT dan konsultasilah. Setiap bulan banyak program-program yang pastinya memberdayakan pelaku UKM. Selain pendampingan usaha, kamu bisa mendapat relasi, mentor, pengetahuan teknis seperti finansial plan for business, membangun branding, digital marketing, dan masih banyak lagi.

Kesan saya : semoga acara seperti ini diperbanyak lagi. Bulan lalu ada gelaran Expo UKM Istimewa di Jogja yang diselenggarakan oleh PLUT serta Dinas Koperasi dan UKM DIY. Saya berharap ke depan, gelaran seperti ini juga ada Gunungkidul dan Kulonprogo. Menginsprasi tidak hanya Yogyakarta tetapi daerah-daerah lain di Indonesia. Jangan lupa untuk mempromosikan lebih gencar ke kalangan pelajar, mahasiswa, pegiat media sosial, dan masyarakat luas. Semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang mau (membeli) produk lokal, kan?

Sekian dan sampai jumpa di gelaran berikutnya!!!

Kamis, 21 Maret 2019

Ini Dia 3 Menu Baru Hotel Ibis Malioboro! Tertarik Menjajalnya?

Menjejak Jogja, gak afdhol rasanya kalau belum menjelajah kawasan Malioboro. Surganya kuliner ada di Malioboro, mulai dari harga kaki lima hingga bintang lima. Malioboro sekarang gak seperti Malioboro pas pertama kali saya di Jogja, 7 tahun silam. Kawasan Malioboro jaman old sangat tak ramah untuk pejalan kaki. Pasalnya jalur pedestrian yang seharusnya untuk pejalan kaki kemakan parkir motor. Malioboro jaman now merepresentasikan kenyamanan bagi siapa saja yang ingin menikmati kehangatan dan roamtisme Jogja, tak terkecuali pejalan kaki. 

Selepas seharian mencari batik atau suvenir untuk oleh-oleh, pastinya lapar dan pengin kulineran. Gini Arinta, dong tempat makan yang asyik dan harganya terjangkau buat kami para penikmat kuliner dan traveler? Soalnya pagi udah menjajal gudeg di lesehan, sekarang pengen mencoba suasana yang agak high class dikitlat, ada music performance didukung menu yang oke punya. Ada rekomendasi, Arinta? 

Wah kalau gitu aku tawarkan ke Ibis Kitchen Restaurant dan Ibis Bar (Ibar) di Hotel ibis Malioboro. Kebetulan ada 3 menu anyar yang baru-baru ini dilanching. Dalam launching yang diadakan pada tanggal 12 Maret itu, Hotel Ibis Malioboro mengundang media dan blogger Jogja untuk mencicipi 3 menu baru tersebut. Rasa dan penampilannya 3 menu baru Hotel Ibis sangatlah oke punya. So tasty

Penasaran 3 menu baru itu seperti apa? Wah...wah baca artikel ini sangatlah berbahaya! Apalagi kalau kamu sedang lapar-laparnya. Aku gak nanggung lho kalau sampai mupeng pengen menjajal sensasinya!

1 Bebek Manalagi
Bebek Manalagi merupakan sajian bebek goreng bertabur kremesan yang pastinya kripsi, ada sambal pedasnya. Dagingnya gede dan rasanya gurih. Mantul banget menurut aku. Dengan harga Rp 65.000/porsi rasanya sangatlah worth it

2. Favorito Sandwich
Bagi kamu yang gak ingin makan berat macam nasi, bolehlah menjajal menu satu ini : Favorito Sandwich. Favorito Sandwich merupakan sandwich berisikan daging ayam dan potongan sayuran segar disajikan bersama french fries. Sandwichnya gede lho dan bikin kenyang. Benar-benar pemadam kelaparan sejati. Untuk harga, seporsi Favorito Sandwich dibanderol dengan harga Rp 35.000 saja. 

3. Milky Yuzu
Milky Yuzu? wah apaan lagi ini Arinta?

Milky Yuzu merupakan minuman segar perpaduan susu fermentasi, yuzu (orange), dan soda. Rasanya seger banget, apalagi diminum pas lagi panas-panas. Nyessss....adem kerongkongan. Untuk menikmati segelas Milky Yuzu kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000 saja. 

Selain 3 menu baru tersebut, saya icip-icip pizza yang disajikan buat peserta gathering media dan blogger. Begini tampilan pizzanya...
Hotel Ibis membius saya pada pandangan pertama. Bagaimana tidak? tempatnya nyaman juga instagrammable-lah buat nongkrong. Berada di lantai 2, Ibis Kitchen Restaurant dan Ibar menawarkan konsep unik semi outdoor perpaduan klasik dan modern. Untuk kenyamanan pengunjung hotel ini menampilkan regular music dan DJ Deep House. Selain itu, wajah baru Hotel Ibis Malioboro terlihat dari kamar dengan konsep baru serta lobby yang terkoneksikan dengan Mall Malioboro.

Satu lagi, menjelang bulan puasa, Ibis Hotel Malioboro menawarkan promo Ramadhan Buffet All You Can Eat (Mei 2019) cukup dengan Rp 100.000/net atau early bird Rp 80.000/net dengan berbagai menu sajian nusantara dan western.
Bagi pecinta kopi, Ibis Hotel Malioboro menyajikan sajian khas "Molinari Coffee"dengan berbagai menu kopi mulai dari Rp 35.000/net per cup. Ada juga sajian spesial kopi dari Italia, serta biji kopi dari Brasil dan Jamaika yang dapat dinikmati mulai pukul 8.00-24.00 WIB.

Sekian dulu cerita saya. Kalau jalan ke Malioboro jangan lupa mampir ke Ibis Kitchen dan Ibar ya. See ya!

Kamis, 21 Februari 2019

Mereguk Inspirasi Halal Journey Via Jogja Halal Food Expo 2019

Undang-Undang Nomor 33 mengenai Jaminan Produk Halal telah disahkan pada tahun 2014. Undang-Undang tersebut memuat pokok-pokok peraturan mengenai bagaimana jaminan ketersediaan produk halal, hak dan kewajiban pelaku usaha dalam memilih bahan hingga memproses produk halal, serta tata cara pengajuan permohonan sertifikat halal. Yups, akhir-akhir ini kesadaran masyarakat dan pelaku usaha mengenai produk halal mulai meningkat. Sektor produk halal tidak hanya menyangkut pada makanan dan minuman (pangan), obat-obatan, kosmetika, tetapi juga merambah ke jasa keuangan (fintech), dan pariwisata. Begitu besar pengaruh industri halal pada pertumbuhan ekonomi nasional membuat Bank Indonesia pada tahun 2018 membuat perhelatan The Indonesia International Halal Lifestyle Conference & Business Forum dengan tema "Halal Lifestyle Goes Global: Trend, Technology & Hospitality Industry.” Perhelatan ini diadakan seiring seirama dengan Sharia Economic Festival serta pertemuan tahunan IMF-World di Bali 2018 silam. Perhelatan yang menggandeng pemerintah, pengusaha, investor, dan para pemangku kepentingan tersebut bertujuan membangun komitmen, sinergi, dan strategi dalam hal membentuk ekosistem halal value chain di Indonesia. Salah satu caranya yakni dengan edukasi, social campaign, dan implementasi gaya hidup halal. 

Lalu bagaimana komitmen dan strategi pemerintah daerah dalam rangka membangun industri halal yang sangat potensial tersebut? Kali ini saya berkesempatan menghadiri rangkaian acara Jogja Halal Food Expo 2019 yang didukung oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta. Adapun PLUT-KUMKM (Pusat Layanan Umum Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) merupakan lembaga yang menyediakan jasa yang sifatnya nonfinansial dan terintegrasi untuk pelaku UMKM dalam rangka mengembangkan kinerja produksi, manajerial, pemasaran, SDM, teknis, akses pembiayaan, dan lain sebagainya. Jadi, kalau kamu pelaku UMKM di wilayah Yogyakarta yang ingin mengembangkan usaha lebih baik lagi, jangan sungkan untuk bertandang dan membangun relasi dengan Dinas Koperasi dan PLUT ya. Apalagi untuk proses sertifikasi produk halal, tentu saja pelaku UMKM akan didukung dan difasilitasi oleh instansi tersebut.

Jogja Halal Food, tentu saja tema kali ini lebih fokus pada industri makanan halal di wilayah Yogyakarta. Berlokasi di Jogja Expo Center (JEC), perhelatan Jogja Halal Expo berlangsung mulai tanggal 20 hingga 24 Februari 2019. Tidak hanya menikmati suguhan kuliner halal, para pengunjung juga bisa mengikuti rangkaian acara mulai dari demo masak yang dipandu oleh Chef Dian serta talkshow "Makan Makanan yang Halal Yuk" yang menampilkan narasumber dari latar belakang yang berbeda. Mantap betul kan?

Saya sendiri datang di hari kedua, yakni tanggal 21 Februari 2019. Lantas inspirasi halal apa yang saya dapat selama seharian mengikuti acara tersebut? Berikut liputannya...

Mereguk Inspirasi Halal Journey Via Jogja Halal Food Expo 2019

Saking semangatnya, saya datang terlalu awal. Pukul 08.23 saya sudah tiba di venue. Suasana tampak temaram, maklum lampu-lampu stand belum semua dihidupkan. Selain itu banyak booth yang masih sepi, belum terlihat karyawan atau pemilik usaha yang melakukan aktivitas (goreng-menggoreng misalnya). Pengunjung pun bisa dihitung dengan jari. Saya memanfaatkan momen senggang tersebut untuk membuat catatan, halal journey journal 2019. Catatan tersebut diracik dan nantinya akan diposting di blog Arinta Story. 

Menjelang siang, para pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang sendirian (((seperti saya))), berdua, bahkan berkelompok. Ada pengunjung yang mengabadikan momen bersama smartphone dan kamera digitalnya. Ada juga pengunjung yang mengobrol sembari menikmati sajian menu yang rasanya menggigit lidah. Pengunjung lain memborong aneka penganan untuk dijadikan oleh-oleh. Saya sungguh menikmati setiap jengkal momen tersebut. 
Disclaimer : Dokumentasi tersebut adalah dokumentasi pribadi, dilarang mengambil foto tanpa ijin saya.
Ini halal. Gak usah ditanya lagi!. Dokumentasi pribadi
Setelah puas berkeliling dan mencicipi beberapa menu kuliner, saya tertarik menghadiri acara baking demo (membuat resep aneka kue) yang dibersamai oleh Chef Dian. Banyak pengunjung perempuan yang antusias mengikuti acara tersebut. Pada kesempatan ini, chef Dian akan berbagi resep 3 kue andalan yakni, Nutti Brownie Cookies, Crunchy Chocolate Swiss Roll, dan Orange Chocolate Tart. Tak lupa Chef Dian membagi tips dan trik membuat kue agar terasa crunchy, tidak lembek, dan pastinya memanjakan lidah. 
Chef Dian (berbaju hitam) bersama seorang peserta mempraktikkan cara membuat Orange Chocolate Tart. Dokpri
Tak hanya mendapat transfer ilmu membuat 3 resep kue, pengunjung juga boleh mencicipi sampel yang ada. Dokpri
Nah, selanjutnya kita memasuki gelanggang utama alias acara yang paling esensial dan dinanti-nanti menurut saya. Acara tersebut berupa talkshow interaktif yang dimoderatori oleh Ibu Sukamti dan menghadirkan 3 narasumber yang merupakan ahli di bidangnya. Narasumber pertama bernama Ibu Syam Arjayanti, beliau merupakan Kabid Bidang UMKM Dinas Koperasi DIY . Narasumber kedua bernama Ibu Hani Kusdaryanti dari Fania Food (pengusaha). Narasumber terakhir yakni Bapak Elvy Effendie, beliau merupakan perwakilan dari LPPOM MUI DIY. "Makan Makanan Halal Yuk" menjadi tema talkshow pada hari ini. Serius! Sangat beruntung saya bisa hadir di sini!
Dari kiri ke kanan : Bu Sukamti, Bu Hani, Bu Syam, dan Pak Effendie. Dokumentasi pribadi
Menurut penuturan Bu Syam, ada lebih dari dua ratus ribu UMKM di wilayah DIY. Namun yang memiliki sertifikat produk halal belumlah banyak. Seharusnya ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha mengingat kesadaran konsumen akan produk halal sudah semakin baik. Terdata hingga 2018, ada 187 UKM dari kelompok bakery, 7 UKM dari kelompok cokelat dan produk turunannya, 40 UKM dari kelompok minuman dan aneka olahannya, 15 UKM dari kelompok jejamuan, dan 118 restoran dan katering yang sudah memiliki sertifikat halal.

Apa sih manfaat sebuah produk yang memiliki sertifikasi halal? Tentunya selain sertifikasi/label PIRT atau MD dari BPOM, sertikasi halal dari MUI dirasa sangat penting, mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Pelaku usaha harusnya paham bahwa segmentasi pasar muslim begitu menggiurkan. Apalagi saat ini, Indonesia melalui Kementerian Pariwisata sedang gencar-gencarnya mempromosikan destinasi wisata halal. Selain itu, melalui sertifikasi halal, sebuah produk akan mendapatkan kepercayaan konsumen, memiliki unique selling point, dan terakhir meraih kesempatan pangsa pasar global di negara muslim seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Uni Emiret Arab, Arab Saudi, dan sebagainya.
Bu Hani (tengah berbaju merah muda), Owner dari Fania Food bersama peserta magang. Dokumentasi Fania Food
Sebagai pelaku usaha menggeluti aneka produk olahan ikan, sertifikasi halal sangatlah esensial bagi Hani Kusdaryanti, pemilik usaha Fania Food. Produk berlabel halal mampu meroketkan omset dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk-produk Fania Food.

Berawal dari niat untuk menambah penghasilan, Bu Hani pada tahun 2008 menjajal peruntungan dengan membuat usaha produk olahan ikan. Jangan tanya bagaimana produk dan kemasan pada awal merintis usaha, pastinya perlu banyak masukan dan perbaikan dari segi kualitas. Saat itu pendampingan usaha dari dinas belumlah seperti sekarang ini. Lanjut ya. Adapun jenama FANIA, diambil dari gabungan dua putri Bu Hani, FA (farrel) dan NIA (Tania).

Pada tahun 2009, Bu Hani pertama kali mengikuti pameran produk di JEC, justru setelah pameran banyak permintaan dari  supermarket-supermarket yang ada di Jogja. Namun, ketika memasarkan produk ke supermarket, satu hal yang paling esensial adalah mengenai perijinan dan sertifikasi produk, terutama ijin PIRT (BPOM) dan sertifikasi halal (MUI). Gimana ya caranya mendapat sertifikat halal? Pada tahun 2010, Bu Hani mampir ke dinas untuk menggali informasi lebih jauh mengenai sertifikasi produk halal. Setelah mendapat sertifikasi halal, produknya sudah mampu menembus supermarket. Kini, bukan hanya lebal PIRT dan sertifikasi halal saja, beberapa produk Fania Food sudah berstandar SNI dan menuju ISO.

Berawal dari hobi, kini Bu Hani memiliki rumah produksi sendiri. Berlokasi di daerah Gedongkuning, rumah produksi tersebut mampu memproduksi 600 pack produk olahan ikan dengan kuota rata-rata produksi per hari mencapai 150 Kg. Jumlah kuota akan semakin berlipat mendekati bulan-bulan tertentu, Ramadhan misalnya.

Produk terlaris dan masih menjadi primadona di Fania Food apalagi kalau bukan otak-otak bandeng. Ya, produk ini menjadi andalan Fania. Semua berawal dari kecintaan seorang ibu yang membawakan anaknya oleh-oleh berupa otak-otak bandeng.

"Ibu saya asli Kudus, jika berkunjung ke Jogja sering membawakan saya otak-otak bandeng. Karena penasaran dengan rasanya yang enak saya mencoba membuat sendiri dengan resep asli dari Kudus. Setelah beberapa kali percobaan, saya membuat cita rasa otak-otak bandeng yang sangat lezat." Kenang Bu Hani.

Fania Food telah menghasilkan produk olahan ikan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sudah jelas, Fania Food mengupayakan sertifikasi dan mengurus berbagai perijinan untuk produk-produknya. Proses produksi di Fania Food sudah melalui GMP (Good Manufacturing Practices) dan SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure) sedemikan rupa sehingga mampu menghasilkan produk yang benar-benar higienis, bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

"Awal mendaftar sertifikasi halal itu gratis, selanjutkan kita akan dikenai biaya. Setiap 2 tahun sekali saya memperpanjang sertifikasi halal."

Kerja keras diganjar manis. Berkat ketekunan, keuletan, dan komitmen untuk terus melakukan perbaikan, Bu Hani meraih sejumlah penghargaan. Beberapa penghargaan tersebut di antaranya Perempuan Wirausaha Nova, penghargaan Siddhakarya, Adibakti Mina Bahari, Anugerah Kreasi Mutu, dan sejumlah penghargaan lainnya.

Inspiratif sekali bukan?
Penjelasan sertifikasi produk halal oleh Pak Effendie. Dokumentasi pribadi
Selanjutnya, mari kita simak penuturan dari Pak Effendie mengenai sertifikasi produk halal. Sertifikasi halal dapat dikatakan sebagai fatwa tertulis yang menyatakan mengenai kehalalan suatu produk sesuai syariat islam. Dalil mengenai kehalalan tertuang pada Quran Surat Al Baqarah ayat 168-169. Nah, mengenai produk yang dinyatakan halal, tidak hanya dilihat dari bahan bakunya yang halal, tetapi juga bagaimana proses produksi, dan sistem yang tersedia apakah telah menemuhi standar jaminan halal LPPOM MUI.

"Ada 11 kriteria yang harus dipenuhi untuk membentuk komponen Sistem Jaminan Halal (SJH). Sebelas kriteria tersebut berupa kebijakan halal, tim halal perusahaan, training dan sosialisasi SJH, daftar bahan-bahan/material, produk, fasilitas produksi, prosedur untuk proses kritis, penanganan produk yang tidak sesuai kriteria, ketelusuran (traceability), audit halal internal, dan rapat tinjauan manajemen."

Pak Effendie menambahkan, "Mari jadikan halal sebagai lifestyle."

Mengawasi dan memastikan bahwa suatu produk telah memiliki sertifikasi halal  merupakan tugas kita bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga  pelaku usaha maupun masyarakat pada umumnya. Pak Effendie bercerita bahwa ada pelaku usaha mihun setelah memiliki sertifikasi halal mengalami kenaikan omset sebesar 400%. Sebagai tambahan lagi, menjelang lebaran atau tahun baru, supermarket tidak menerima parsel yang memiliki produk belum bersertifikasi halal. Butuh waktu kurang lebih 2 bulan untuk memproses sertifikasi halal.

"Kami mengupayakan adanya halal gathering sebagai ajang pertemuan pelaku usaha yang sadar akan pentingnya produk bersertifikasi halal."

Pungkasan mengenai halal gathering ini mengakhiri sesi talkshow tersebut, kemudian dilanjut dengan sesi tanya jawab. Peserta yang hadir sangat antusias dan mengajukan beberapa pertanyaan berkualitas.

Boom! Hari ini saya benar-benar mereguk inspirasi halal journey melalui Jogja Halal Food Expo 2019. Ibarat menapak jejak perjalanan, khazanah pengetahuan saya bertambah!
Bakpia Juwara Satoe telah memiliki sertifikasi halal. Dokumentasi pribadi
Sertifikasi halal di pajang di bagian depan biar nampak oleh pengunjung. Dokumentasi pribadi.
Semoga tulisan ini mampu menjadi trigger pelaku usaha/industri agar peduli akan kehalalan produknya. Juga untuk pembeli, jadilah konsumen cerdas, cerdas dalam memilah produk dalam negeri berkualitas lagi halal. Saya berharap kegiatan pameran produk halal semacam ini tidak hanya berlaku di Jogja saja, tetapi juga menular ke daerah lain. Sinergi itulah kata kunci. Kalau bukan kita yang berlari menciptakan mata rantai ekosistem halal, lantas siapa lagi? Yuk mulai sekarang kita berburu makanan-makanan halal!