Minggu, 20 Oktober 2019

Koperasi Syariah Zaman Now BMT Beringharjo : Berkontribusi Membangun Negeri, Bertransformasi di Era Digital

Lelaki berusia 49 tahun itu termenung sesaat, menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan pidato menyambut Hari Koperasi yang mengudara di radio pada Bulan Juni 1951. Indonesia butuh gerakan dan organisasi ekonomi yang memberdayakan masyarakat di tengah pusaran arus kapitalisme Hindia Belanda. Tatkala itu Indonesia baru merdeka beberapa tahun, Indonesia butuh berdaulat secara ekonomi. Hatinya semakin berdesir. Visi ini yang membuatnya selalu membara ketika menyampaikan gagasan dan pandangan mengenai gerakan ekonomi kerakyatan bernama koperasi. Di berbagai kesempatan, di kampus-kampus kala itu, di mana pun ia berada, gaung suaranya terus menggema. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 17 juli 1953, Kongres Koperasi Indonesia kedua di Bandung mendaulat lelaki berusia lebih dari separuh abad tersebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia. lelaki itu adalah Mohammad Hatta.

Syahdan, jauh sebelum itu, gagasan mengenai koperasi sudah berkumandang. Adalah Raden Aria Wiraatmadja, seorang patih dari bumi Purwokerto yang pada tanggal 16 Desember 1895 mendirikan Hulp en Spaarbank-sejenis lembaga pemberi pinjaman (kredit) kepada yang membutuhkan. Kala itu, pegawai negeri yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda tercekik bunga tinggi akibat meminjam uang lintah darat. Tak hanya pegawai pemerintah, petani mengalami nasib yang sama, mendapat tekanan akibat praktik ijon yang menggurita. Selain Hulp en Spaarbank, Wiraatmadja menginisiasi Koperasi Kredit Padi dengan cara menjadikan lumbung-lumbung padi yang ada di pedesaan sebagai gudang penyimpan hasil panen sekaligus pemberi pinjaman padi ketika musim paceklik menyerang, dan tentu saja sebagai solusi atas praktik ijon.

Puluhan tahun setelah Kongres di Bandung tersebut, gerakan berbasis ekonomi kerakyatan bernama koperasi kian berkembang. Koperasi, model bisnis satu ini sudah seharusnya pro perubahan, selalu berinovasi, adaptif terhadap tren untuk menjawab tantangan zaman kini dan nanti. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, di mana informasi kian terbuka dan mudah terbaca oleh generasi milenial di mesin pencari.
Dalam rentang tahun 2014 hingga 2018, koperasi mulai menunjukkan performanya. Hal tersebut bisa ditilik dari meningkatnya PDB koperasi terhadap PDB nasional. Persentasenya menanjak dari 1,71%  (2014) menjadi 5,1% (2018). Kini, terdapat kurang lebih 126.000 koperasi berorientasi pada kualitas. Rata-rata koperasi terebut sudah menerapkan online system.

Koperasi zaman now kian berbenah, semakin dinamis, semakin terdigitalisasi dengan mengadopsi Teknologi Informasi (TI) baik untuk sistem, manajemen, maupun pelayanan para anggotanya. Di awal perkembangannya dengan jumlah anggota yang sedikit, masih memungkinkan koperasi menggunakan cara kerja manual, misal pencatatan pinjaman dengan buku dan kertas. Di era industri 4.0, cara kerja tradisional semakin ditinggalkan. Apalagi jika anggota koperasi sudah mencapai puluhan ribu dan tersebar di berbagai daerah di tanah air.

Arus digitalisasi membuat koperasi kian bergerak seiring seirama dengan perkembangan Internet of Things (IoT), Artificial Intellegence (AI), FinTech (Financial Technology), dan sejenisnya. Dengan kata lain, reposisi koperasi di era digital menjadi sebuah keniscayaan. Reposisi ini membuat koperasi bertransformasi menanggalkan tradisi-tradisi masa lalu dan cara kerja lama yang sudah old fashioned, berubah menjadi koperasi berformat digital dan berbasis ekonomi kolaboratif. Yang dibutuhkan tidak hanya kerjasama, tetapi juga kolaborasi. Sinergi antara koperasi, para anggotanya, UMKM ataupun pihak-pihak lain yang berkontribusi.

Menjawab tantangan zaman, Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Beringharjo tumbuh menjadi koperasi yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Koperasi syariah zaman now ini memiliki program sosial dan pemberdayaan usaha mikro seperti Angkringan Simbah Harjo. Selain itu, BMT Beringharjo telah mengembangkan aplikasi digital berbasis android yang bisa diunduh di Google Play. Mantap betul! Adakah inspirasi yang bisa kita petik dari koperasi satu ini?
KSPPS BMT Beringharjo. Dokumentasi pribadi.
Masih terngiang dengan jelas di benak perempuan kelahiran Sumatera Utara, Mursida Rambe, bagaimana rentenir menjerat dan menyita rumah milik teman pengajian ibunya, Bik Senin. Kala itu Bik Senin meminjam uang untuk modal usaha senilai seratus ribu rupiah, tetapi berujung eksekusi rumah. Model bunga majemuk (compound interest) dengan rentang 10%-30% inilah yang menjerat Bik Senin. Bik Senin hanyalah pedagang kecil di suatu pasar tradisional yang sehari-hari berjualan ubi kayu, daun pisang, gori, dan sejenisnya. Bik Senin tak mampu membayar bunga itu, rumah pun disita. Ada rasa ngilu yang menyeruak menyaksikan eksekusi rumah tersebut. Memori masa kecil inilah yang membuat Mursida Rambe semakin peka terhadap nasib kaum pinggiran. Memori ini pula yang kelak menggerakkan Mursida Rambe mendirikan lembaga yang memberdayakan kaum dhuafa agar lepas dari riba dan jerat rentenir. Memori pilu itu membuat perempuan berusia  52 tahun tersebut menjadi social entrepreneur dan menggawangi entitas bisnis berupa koperasi (syariah) dengan aset mencapai 160 miliar rupiah, BMT Beringharjo.
Yups, mimpi kecil Mursida adalah agar kaum dhuafa, pedagang cilik, buruh gendong, dan sejenisnya terbebas dari riba serta berdaya secara ekonomi. Di tahun 1994, selepas menyelesaikan diklat ekonomi syariah, Mursida mendapat modal dana sebesar 1 juta dari Dompet Dhuafa guna mengembangkan BMT Beringharjo. Beringharjo sendiri diambil dari nama tempat jejualan yang berlokasi di daerah Malioboro, Pasar Beringharjo. Mursida meyakini bahwa prinsip-prinsip syariah mampu menawarkan solusi atas praktik rente yang menjerat kaum ekonomi menengah ke bawah serta merangkul segmen mikro/UMKM.
Menyapa pedagang pasar yang menjadi anggota BMT Beringharjo. Dokumentasi BMT Beringharjo
BMT Beringharjo membina UMKM Lebih dari Seratus Angkringan Simbah Harjo. Dokumentasi BMT Beringharjo
Angkringan Simbah Harjo Mr. Heru. Dokumentasi pribadi
Hingga saat ini usaha Angkringan Simbah Harjo masihlah produktif. Selain memberdayakan lebih dari seratus angkringan, BMT Beringharjo juga mempunyai sejumlah program pemberdayaan lain. Beberapa di antaranya yakni Bering Sehat, Bering Tirta, pemberdayaan dhuafa melalui SIM (Sahabat Ikhtiar Mandiri), Parsel Dhuafa, pendampingan komunitas becak Beringharjo (Kompak Harjo), hingga pendampingan spiritual (mengaji) untuk buruh gendong.
Terhitung hingga kini, sudah 25 tahun BMT Beringharjo berkiprah dan berkontribusi untuk negeri. Lebih dari itu, BMT Beringharjo terus berbenah. Semakin inovatif dan bertransformasi di era digital. Apalagi jumlah anggota BMT Beringharjo sudah mencapai 12 ribu orang yang tersebar di 17 kantor cabang berbeda. Di usianya yang sudah seperempat abad, BMT Beringharjo dinilai perlu mengembangkan platform yang mendukung kemudahan transaksi nontunai para anggotanya. Selain menyediakan website yang informatif, BMT Beringharjo di Bulan November ini akan meluncurkan aplikasi berbasis android bernama KOCEQU.
Aplikasi KOCEQU. Dokumentasi pribadi
Wah mantap! Koperasi zaman now berkembang luar biasa hebat. Bung Hatta dan Aria Wiryaatmadja pasti bangga. Koperasi menunjukkan kinerja yang bagus serta adaptif terhadap perubahan. Berkontribusi membangun negeri, bertransformasi di era digital. Semoga Menginspirasi!


Rabu, 25 September 2019

Mengabdi Cegah Korupsi : Begini Aksi Milenial Mendukung KPK Cegah Perilaku Koruptif

Saya sangat mengaguminya, di masa beliau menjabat, para atlet diapresiasi dan dibayar mahal atas prestasinya. Demikian pula atlet-atlet penyandang disabilitas yang berlaga di ajang bergengsi Asian Para Games. Peraih medali emas Asian Games saja mendapat bonus sebesar 1,5 miliar rupiah, ditransfer langsung ke rekening tabungan pribadi. Belum atlet-atlet di ajang kejuaraan olahraga lainnya. Inilah bentuk kepedulian pemerintah terhadap para atlet. Selain itu, kebijakan tersebut dilakukan untuk menghindari pungutan liar sejumlah oknum yang kerapkali "memeras" para atlet yang telah berjuang keras. Dalihnya, potongan uang pembinaan atlet. Praktik pemotongan insentif yang diberikan kepada atlet berprestasi bukanlah hal yang baru. Praktik ini sudah sekian lama terjadi di dunia olahraga kita. 

Saya salut. Bagaimana mungkin saya tidak mengaguminya?

Tetiba, kabar itu datang begitu cepat. Saya dibuat kaget. Linimasa media sosial mencuitkan orang yang saya kagumi di lembaga yang membidangi pemuda dan olahraga tersebut tertangkap KPK terkait dugaan suap proposal dana hibah KONI bernilai miliaran rupiah. Sejumlah staf pun terlibat di dalamnya. Saya patah hati. Saya masih tak percaya dengan apa yang saya baca, apa yang saya dengar. Ini pasti hoaks! Meski bagaimanapun juga, semesta tak tidur. Themis telah mengayunkan pedangnya. Kali ini, mata pedang Sang Dewi Keadilan mengarah kepada para mafia anggaran.

Korupsi adalah penyakit. Korupsi merupakan benalu yang menggerogoti kehidupan moral sosial masyarakat. Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme juga mampu menghancurkan sendi perekonomian suatu negara. Sebab secara material, uang yang dikeruk para koruptor bisa mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Bayangkan uang sebesar itu bisa digunakan untuk membangun infrastruktur di daerah tertinggal, daerah terkena dampak bencana, pemberian beasiswa prestasi, dan masih banyak lagi. Namun uang tersebut lenyap di tangan para mafia anggaran dan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. 

Seperti halnya terorisme dan penyalahgunaan narkotika, korupsi masuk ke dalam ranah extraordinary crime, tindak kejahatan luar biasa. Sebab dampaknya yang sangat luas dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Menurut Komisi pemberantasan Korupsi (KPK), sejumlah besar kasus korupsi di Indonesia berbentuk praktik suap, sisanya berupa jual beli jabatan, gratifikasi, penyalahgunaan wewenang, dan lain sebagainya. Tak sedikit pula pelaku tindak pidana ini melakukan praktik cuci uang dengan membawa lari uang negara ke luar negeri.

Sekali lagi kudu di-bold, Kasus korupsi diidentifikasikan sebagai kasus kejahatan luar biasa. Perlu penanganan yang tepat untuk menghajarnya, bahkan sampai ke akar-akarnya. Ini adalah perang. Perang kita bersama. Diperlukan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menangani kasus-kasus korupsi. Secara garis besar ada 3 upaya untuk memberantas korupsi. Pertama, penindakan. Kedua, pengawasan. Ketiga, pencegahan. Penindakan sudah dilakukan tegas oleh KPK, aparat hukum, dan pihak-pihak yang terkait. Adapun pengawasan dan pemantauan kerap dilakukan oleh awak media atau jurnalis yang secara khusus membuat ulasan indepth/investigation reporting atas kasus korupsi (misal Tirto dan Tempo), yang kemudian disebarkan ke khalayak luas. Selain media, peran LSM/NGO seperti ICW (Indonesian Corruption Watch) juga berperan signifikan. Sebab semenjak berdiri, ICW memiliki komitmen untuk  menjadi garda depan pendukung peraturan perundangan pemberantasan korupsi (misal UU Tindak Pidana Pencucian Uang) serta mengawal dan mengungkap kasus-kasus korupsi yang dilakukan pejabat publik.

Upaya terakhir yakni aksi pencegahan/preventif. Langkah pencegahan dapat dilakukan oleh masyarakat, akademisi, dan tokoh-tokoh lain yang dianggap sebagai role model dalam aksi pemberantasan korupsi (misal tokoh agama). Keluarga sebagai kelompok sosial kecil dalam masyarakat memiliki peranan dalam menanamkan  keteladanan, pendidikan karakter,  serta nilai-nilai antikorupsi seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, berani, mandiri, sederhana, adil, patuh, semangat bekerja keras terhadap anak-anak. Sebagai akademisi, pewaris peradaban, sekaligus agent of change, mahasiswa bisa berperan aktif dan terlibat dalam membangun budaya antikorupsi di tengah masyarakat. Ah bagaimana mungkin? Kok bisa? Nggak percaya? Lima Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang digawangi oleh Afrianti Dwi Yunitasari, Achmad Sidiq Assad, Elly Nur Rahmawati, Muhammad Abdul Azis, dan Azwan berhasil membuktikannya. Mereka berlima menciptakan Antikorupsi Pop Up Book (AKSI POB), yakni media pembelajaran antikorupsi berbasis kearifan lokal dengan konten visual yang memikat hati anak-anak. Wah!

Siapa yang bakal memimpin Indonesia 20, 30, atau 50 tahun mendatang? Ya anak-anak itu kelak! Program pengabdian ini merupakan langkah kecil untuk menyelamatkan masa depan 'calon pemimpin' Indonesia dari budaya dan perilaku koruptif.
Afrianti Dwi Yunitasari bersama anak-anak Prenggan. Dokumentasi AKSIPOB
Gadis itu masih belia. Tawanya renyah. Pembawaannya santai, sesekali serius. Suka berceloteh, terkadang sesekali terdiam memilah kata. Definisi cerdas sekaligus rendah hati. Prestasi? Jangan ditanya. Tahun 2018 silam dia berhasil meraih juara 1 Kompetisi Peneliti Muda (YORECO) yang diadakan oleh PPIPM Fair Universitas Negeri Padang. Tak hanya itu, di tahun yang sama dia menggondol juara 1 kompetisi esai yang diadakan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Milenial kelahiran Ngawi  22 tahun silam ini aktif di organisasi kampus berbasis riset dan penalaran, UKM Penelitian UNY. Dialah Afrianti Dwi Yunitasari, kita panggil saja tokoh utama ini Afri.

Tri Dharma Perguruan Tinggi bertitik tumpu pada 3 pilar yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Afri sudah mengamalkan ketiga-tiganya. Apalagi poin terakhir, pengabdian. Lulusan ilmu sejarah ini pernah berkontribusi di bidang pengabdian masyarakat dalam penguatan branding lokal dengan mengusung program Rumah Setapak (Sejarah Tentara Pelajar Yogyakarta) di Desa Wisata Kampoeng Sedjarah, Kelor, Yogyakarta. Program pengabdian Afri yang lain yakni Mengabdi Cegah Korupsi, bersama Antikorupsi Pop Up Book (AKSI POB) di Desa Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Dikonsep di tahun 2017, dieksekusi mulai tahun 2018, dan mendapatkan dukungan pendanaan dari Ristekdikti di tahun 2019 untuk melakukan program pengabdian selama kurang lebih 4 bulan di Prenggan, Yogyakarta.

Mengabdi, cegah korupsi. Saat Afri dan rekannya melakukan observasi (riset) terhadap beberapa anak usia SD di Prenggan untuk pertama kalinya, mereka mendapati bahwa anak-anak tersebut tidak memahami apa itu korupsi.

"Korupsi itu yang mabuk-mabukan itu ya Kak, yang pakai obat-obatan?"

"Korupsi itu jomblo. Masnya jomblo ya?" Demikian jawaban ngasal anak-anak yang tentunya mengundang ledekan sekaligus ledakan tawa.

Anak-anak rata-rata belum memiliki definisi yang tepat mengenai apa itu korupsi dan bagaimana bahaya korupsi bagi negara. Beberapa dari anak-anak tersebut mendefinisikan korupsi serupa dengan narkoba. Demikian Afri mengenang masa-masa itu.

Saat saya tanya siapa yang menginisiasi program mengabdi cegah korupsi ini, Afri menjawab bahwa sebenarnya ini gagasannya yang kemudian dikembangkan lebih matang setelah berdiskusi dengan 4 rekannya yang lain. Adapun Assad pada saat itu ditunjuk sebagai ketua pelaksana.

Kenapa memilih Prenggan bukan yang lain?

Perlu diketahui permirsa, Prenggan merupakan daerah pertama di Indonesia sekaligus pilot project (proyek percontohan) KPK dalam melaksanakan program Pembangunan Budaya Antikorupsi Berbasis keluarga (PBAK) pada tahun 2014. Komunitas yang diberdayakan pada saat itu bernama KIRAB, Komunitas Relawan Bahagia dengan ibu-ibu rumah tangga sebagai motot penggeraknya. Program ini berjalan dengan baik, tapi belum sepenuhnya optimal. Setelah ditelusuri dengan serangkai observasi dan wawacara ditemukan kendala-kendala yang dihadapi oleh KIRAB seperti kesulitan menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada anak (metode ceramah sangat tidak cocok untuk anak-anak). Kedua, rendahnya partisipasi pemuda dalam mendukung program KIRAB antikorupsi. Ketiga, diperlukan media edukasi yang menyenangkan (fun), memiliki konten visual yang menarik yang mampu membangkitka imaji positif anak mengenai sikap atau nilai-nilai antikorupsi. Demikianlah ide Aksipob bermula. 
Ini bukan posko KKN. Apalagi KKN di Desa Penari. Ini Posko Antikorupsi AKSIPOB X KIRAB. Dokumentasi AKSIPOB
Desain Jaket Lapangan Mengabdi Cegah Korupsi, AKSIPOB 2019.
Tidak salah KPK memilih Prenggan sebagai proyek percontohan. Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masih dijunjung kuat di sini. Masyarakat Prenggan masih memegang teguh falsafah Jawa Mo Limo, Moh Madon (tidak bermain perempuan), Moh Madat (tidak memakai obat-obatan terlarang), Moh Mabuk (tidak boleh mabuk-mabukan), Moh Main (tidak berjudi), dan Moh Maling (tidak mengambil yang bukan haknya. Prinsip Moh Maling sangat lekat dengan salah satu sikap antikorupsi yakni nilai kejujuran. Selain masyarakatnya sangat religius, falsafah hidup lain yang masih dipegang yakni Nerimo Ing Pandhum (sederhana dan menerima apapun dengan penuh rasa syukur). Lagi-lagi, sikap hidup sederhana merupakan satu dari 9 sikap utama antikorupsi.

Bagi kamu yang masih penasaran seperti apa konten visual yang ditampilkan dalam pop up book tersebut, lihat foto-foto berikut.

1. Tampilan Visual Ciamik Antikorupsi Pop Up Book, AKSIPOB.
Cover depan Pop Up Book Antikorupsi. Dokumentasi pribadi
Ketika halaman pertama dibuka, muncul gambar Sultan Hamengku Buwono IX dan gedung KPK. Dokumentasi pribadi
Indonesia adalah negara kaya, korupsi membuat Indonesia menjadi miskin dan ber-SDM rendah. Dokumentasi pribadi
Diagram yang menunjukkan bahwa jumlah kasus korupsi meningkat setiap tahun. Dokumentasi pribadi
Kearifan lokal yang mampu memuat sikap dan nilai-nilai antikorupsi. Dokumentasi pribadi
Contoh perilaku antikorupsi ketika karawitan atau memainkan gamelan. Dokumentasi pribadi
Inspirasi drama Tahta Untuk Rakyat bersumber dari Sultan Hamengku Buwono IX. Dokumentasi pribadi
Sultan Hamengku Buwono IX dipilih sebagai role model dalam buku AKSIPOB dan Drama Tahta Untuk Rakyat bukan tanpa sebab. Sikap yang bisa diteladani dari beliau adalah kepribadiannya yang bersahaja dan dekat dengan rakyat. Pernah suatu ketika beliau memberikan tumpangan mobil kepada Mbok pedagang di Pasar Kranggan, Si Mbok tidak tahu kalau yang memberikan tumpangan adalah penguasa Yogyakarta pada saat itu. Egaliter dan ora mingkuh (tidak mengharap balas budi), adalah karakter yang beliau pegang teguh. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Angkara, sebuah petuah Sang Sultan yang memiliki makna memberikan keselamatan dan kesejahteraan serta membebaskan diri dari angkara murka dan keserakahan. 

Dulu, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan diri bersumpah setia kepada pemerintah Republik Indonesia. Selain mendukung perjuangan bersenjata, sultan juga mendukung dengan memberikan support finansial kepada para pejuang kemerdekaan. Saking geramnya, Belanda pernah menawarkan kepada sultan tanah yang luas (meliputi kawasan Yogyakarta, Surakarta, Kedu, Madiun, Banyumas) serta iming-iming sejumlah besar saham di perusahaan kereta api dan pelayaran agar sultan membelot. Tapi sultan tetap bergeming. Teguh pada pendiriannya. Sultan tidak mau berkhianat dan menerima suap dari Belanda. 
Sengguh dan Greged. Nilai-nilai antikorupsi dalam tari Jawa klasik. Dokumentasi pribadi
Nilai-nilai antikorupsi yang terdapat dalam Tari Jawa Klasik gaya Yogyakarta yakni Sawiji, Greged, Sengguh, dan Ora Mingkuh.  

Sawiji merupakan ekspresi bentuk kehati-hatian dan konsentrasi. Relevansinya dengan nilai antikorupsi yaitu penjiwaan total dan integritas. Orang yang nyawiji cenderung hati-hati, tidak gegabah dan terlena jika ditawari harta atau kekuasaan dengan cara yang tidak patut.

Greged adalah bentuk ekspresi semangat, kerja keras, dan pantang menyerah. Jika sudah greged bekerja, maka orang tak akan terlena dengan rasa malas yang lekat dengan hal-hal serba instans. Orang yang malas bekerja tapi ingin kaya dadakan mudah untuk disuap dan melakukan hal-hal yang negatif bukan?

Sengguh bisa dikatakan sebagai bentuk ekspresi rasa percaya diri. Percaya dan yakin seseorang bisa berhasil mendapatkan apa yang diinginkan tanpa melekat dengan hal-hal yang sifatnya koruptif. 

Ora mingkuh maksudnya bertanggung jawab, mandiri, dan tidak pamrih seperti karakter Sultan Hamengku Buwono IX yang sudah saya jelaskan di atas. Seseorang yang memiliki jiwa ora mingkuh akan menolak tegas tawaran-tawaran yang sekiranya memberikan dampak negatif di kemudian hari.
Yuk evaluasi, mulai dari diri kita sendiri. Dokumentasi pribadi
Berani jujur Hebat! Cover belakang Pop Up Book Antikorupsi. Dokumentasi pribadi

2. Edukasi dan Literasi Antikorupsi Melalui BACA , MIBASO, BESANTI, dan BESMANIKO

Untuk mengedukasi dan mengenalkan literasi antikorupsi kepada anak-anak dibentuklah beberapa program kerja/kegiatan selama 16 minggu mulai Bulan April hingga Juli 2019. Prosesnya melalui diskusi dan permainan edukatif

BACA, Be Anti Corruption Agent. Kegiatan pertama ini berbentuk life motivation yakni memberikan semangat menjaga kearifan lokal, serta sosialisasi hidup bersih tanpa korupsi. Di Prenggan banyak sekali falsafah hidup yang sejalan dengan nilai-nilai antikorupsi, anak-anak pun diajak berdiskusi mengenai hal ini. 
Be Anti Corruption Agent. Dokumentasi AKSIPOB
MIBASO, Minggu Bahagia bersama AKSIPOB. Pada pertemuan ini anak-anak Prenggan diajak untuk mengeksplorasi dan memahami media Pop Up Book AKSIPOB. melalui mini outbound. Dalam nini outbond tersebut dibentuk pos-pos khusus, seperti misalnya  pos pendidikan antikorupsi. Target kualitatif yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah mereka mengerti bagaimana sikap yang mencerminkan antikorupsi untuk menunjang hidup bersih tanpa korupsi.
Belajar mengenai pendidikan dan literasi antikorupsi bersama AKSIPOB. Dokumentasi AKSIPOB
BESANTI, Belajar Seni Tari Antikorupsi. Besanti memfokuskan pada kegiatan tari Nawung Sekar dan kuda-kuda yang sudah disisipkan dengan nilai-nilai atau penanaman hidup bersih tanpa korupsi. Tim solid Aksipob turut membentuk Sanggar Tari Mini guna memudahkan anak-anak praktik menari. Setelah beberapa kali latihan, anak-anak Prenggan mulai hafal gerakan-gerakannya. Azwan, salah satu tim AKSIPOB sesekali melempar pertanyaan terkait mana gerakan tari yang mengandung nilai-nilai antikorupsi pada Tari Nawung Sekar. Anak-anak terlihat antusias dan menjawab dengan lantang. Meski tak semua jawaban-jawaban itu benar, kadang masih saja salah. Namun itu tak menjadi soal, sebab mereka sudah mampu membedakan mana baik, mana buruk. Mana benar, mana salah. Ini adalah kemajuan!
Para penari cilik Prenggan. Dokumentasi AKSIPOB
BESMANIKO, Belajar Seni Drama Antikorupsi. Di sini drama yang dimaksud adalah Tahta untuk Rakyat. Pada sesi ini, anak-anak diajari drama tari serta bagaimana mengolah vokal dan bahasa tubuh oleh tim AKSIPOB. Sesi ini juga dipersiapkan menjelang Festival Kebudayaan Aksi Antikorupsi dan pemilihan Duta Cilik Antikorupsi 2019.

3. Festival Kebudayaan Aksi Antikorupsi dan Pemilihan Duta Antikorupsi 2019
Wawancara dengan Mata Media. Dokumentasi AKSIPOB
Festival Budaya Aksi Antikorupsi merupakan kegiatan puncak yang diselenggarakan oleh tim AKSIPOB UNY. Pada acara puncak ini, anak-anak yang menjadi yang telah digembleng selama 4 bulan berani unjuk kemampuan di hadapan audiens. Anak-anak kini sudah hafal ritme dan gerakan Tari Nawung Sekar. Gerakannya lebih halus dan ritmis. Festival ini tak sekadar menampilkan kreativitas anak-anak, tetapi juga berbagai performa lain yang tak kalah asyik. 

Festival ini diawali dengan Senam Si Kumbi di pagi hari. Kemudian menjelang siang acara dilanjut dengan sambutan hangat dari ketua tim AKSIPOB, Achmad Sidiq Asad dan ketua KIRAB, Ari Sutrantiyati.

"Dengan adanya Program AKSIPOB Mengabdi Cegah Korupsi ini saya mengucapkan terima kasih karena telah memecahkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh komunitas kami. Kami menjadi memiliki bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi melalui AKSIPOB. Selain itu komunitas kami juga menjadi aktif kembali dengan adanya kegiatan-kegiatan baru dan antusias anak-anak dalam mengikuti semua kegiatan serta dukungan para wali." Ujar Ari Sutranti menanggapi dan memberikan pernyataan terkait kegiatan yang dilakukan tim AKSIPOB.

Sesi berikutnya yakni pembacaan puisi antikorupsi, suguhan Tari Nawung Sekar dan Tari Kreasi AKSIPOB, penganugerahan Duta Cilik Antikorupsi 2019, painting hand, sekaligus pembacaan deklarasi antikorupsi
Tari Nawung Sekar di Festival Aksi Antikorupsi 2019. Dokumentasi AKSIPOB
Tari kreasi baru AKSIPOB. Dokumentasi AKSIPOB
Tim AKSIPOB lengkap hadir saat Festival Aksi Antikorupsi. Dokumentasi AKSIPOB.
Hand painting satukan tekad dalam deklarasi antikorupsi. Dokumentai AKSIPOB.
Tsabita Olivia Putri mendapat peringkat teratas alias menempati urutan pertama Duta Cilik Antikorupsi 2019. Posisi runner up diraih oleh Runa'a Qiyyara Pienasti. Duta cilik Antikorupsi terbaik ketiga diraih oleh Farah Frida Lathifa. Adapun juara favorit dirauh oleh Athna Shafina Zafirah. Para orangtua yang menemani puteri mereka berlaga di ajang Duta Cilik Antikorupsi 2019 tentunya patut berbangga. Duta-duta cilik ini dianggap mumpuni dan menjadi role model untuk tutor sebaya.

"Adanya kegiatan AKSIPOB ini dapat membantu anak-anak dalam belajar mengenai sikap-sikap antikorupsi. Setelah mengikuti kegiatan ini, anak saya menjadi berani tampil di depan umum. Saya juga mengetahui tentang sikap-sikap antikorupsi yang mungkin selama belum anak saya ketahui. Terima kasih AKSIPOB semoga kegiatan ini dapat terus berjalan." Tutur Ibunda Tsabita Olivia Putri.
Para bunda dan Duta Cilik Antikorupsi 2019. Dokumentasi AKSIPOB
Selama mengikuti kegiatan yang diselenggarakan AKSIPOB, anak-anak menunjukkan tingkat kepemahaman yang lebih baik mengenai apa itu korupsi, bahayanya, serta nilai-nilai apa yang sangat relevan dengan sikap antikorupsi. Internalisasi nilai dan sikap ini yang penting (mereka hafal 9 sikap antikorupsi). Rata-rata anak-anak sudah mampu menjelaskan apa itu suap dan mencuri uang negara. Ketika ditanya kearifan lokal seperti apa yang berkaitan dengan sikap antikorupsi, anak-anak menjawab : sawiji, greged, sengguh, ora mingkuh. Bahkan ada perubahan sikap signifikan dari peserta, misal anak yang tadinya selalu diantar orangtua ketika berangkat ke AKSIPOB, kini berani berangkat sendiri. Anak lain menjadi disiplin dan tidak terlambat ke sekolah. Mencontek saat ujian merupakan tindakan yang tidak patut dan lekat dengan sikap korupsi. Dan masih banyak lagi perubahan yang di alami anak-anak AKSIPOB yang tidak bisa tulis satu per satu. 

Semoga AKSIPOB menjadi role model kegiatan asyik menanamkan nilai dan sikap-sikap antikorupsi tidak hanya di Jogja, tetapi di berbagai daerah di Indonesia. 

Mengabdi cegah korupsi, inilah aksi milenial mendukung KPK cegah perilaku koruptif sejak dini melalui literasi dan edukasi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Afrianti dan milenial AKSIPOB yang telah menuturkan pengabdian luar biasa selama 4 bulan di Prenggan ini. Sampai berjumpa di lain kesempatan ya!

Minggu, 01 September 2019

Dari Panggung Krapyak Hingga Tugu Pal Putih, Serunya Menyusuri Sumbu Filosofi Jogja dengan 2 Aplikasi Ini!

Indonesia memiliki ragam warisan budaya lokal yang sangat artistik nan estetik terhitung dari Sabang sampai Merauke. Ini membuktikan betapa luar biasanya kecedasan leluhur bangsa kita. Warisan budaya tersebut tersebut bisa berupa berupa benda (situs peninggalan bersejarah seperti candi) dan nonbenda (musik, adat-istiadat, tradisi lisan, seni arsitektur, tatanan nilai). Di balik peninggalan-peninggalan budaya lokal tersebut, terdapat filosofi hebat yang mendasarinya. 

Di era digital seperti sekarang ini, memanfaatkan teknologi informasi untuk memperkuat akar budaya lokal adalah suatu keniscayaan. Terlebih lagi buat kamu milenial, yang sangat lekat dan dekat dengan teknologi. Yuk kita gali kearifan lokal dan budaya agar menjadi identitas bersama. Menguat sekaligus mengakar!
Apakah budaya lokal mampu bersanding dengan teknologi? Ya tentu saja, apalagi ketika memasuki era industri 4.0 dewasa ini. Seiring berkembangnya waktu digitalisasi dan kemelekatan budaya dengan teknologi menjadi bagian yang tak terelakkan, saling berkelindan. Kita ambil contoh digitalisasi manuskrip seperti serat, babad, tembang-tembangan, dan aneka rupa kidung-kidungan . Manuskrip atau naskah kuno jika tidak segera digitalisasi, secara fisik ia akan rusak termakan usia atau digerigiti hewan seperti rayap. Padahal manuskrip tersebut merupakan warisan budaya leluhur yang tak ternilai harganya. Seandainya lenyap, generasi selanjutnya akan kehilangan akar budayanya. 

Bicara manuskrip, saya jadi teringat peristiwa Geger Sepehi pada tahun 1812 di mana Inggris menjarah ratusan naskah kuno dari Keraton Yogyakarta dan menyisakan 3 serat saja. Arjuna Wiwaha merupakan satu dari tiga serat yang tertinggal. Ribuan purnama berlalu. Kini, naskah kuno yang dijarah itu tersimpan dengan rapi di British Museum, British Libary, ada juga di Raffles Foundation, dan berbagai tempat lain yang sulit dilacak keberadaannya. Lantas jikalau ilmuwan budaya atau mahasiswa Indonesia ingin mengadakan riset mengenai naskah kuno tersebut harus ke Inggris begitu? Tenang dulu. Perlahan-lahan, naskah tersebut kembali ke Yogyakarta dalam bentuk digital. Berterima kasihlah kepada Javanese Manuscripts from Yogyakarta Digitisation Project, sebuah proyek yang dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono X guna mengembalikan dan mendigitalisasi naskah-naskah kuno Jawa itu. Dikutip dari Liputan6.com, dari ratusan naskah yang hilang, 75 kembali dalam bentuk digital. Naskah-naskah yang telah kembali dalam bentuk digital tersebut berupa naskah sejarah, sastra, etika Jawa, tata cara hidup, hukum/moral, cerita pewayangan, naskah-naskah islam, dan masih banyak lagi.

Situs bersejarah seperti candi tergolong sebagai warisan budaya benda (tangible cultural heritage) karena ada bentuk fisiknya Manuskrip atau naskah kuno termasuk bagian dari warisan budaya tak benda (intangibe cultural heritage), sebab meskipun memiliki bentuk fisik, di dalam sebuah naskah mengandung teks-teks bermakna (hasil dari pemikiran seseorang) dan persepsi budaya masyarakat pada masa tertentu. Makna dan persepsi budaya sifatnya abstrak, tidak memiliki wujud fisik. Itulah alasan mengapa naskah kuno masuk ke dalam kategori intangibe cultural heritage. Selain naskah, produk budaya seperti tata cara, pranata sosial, filosofi menjadi bagian dari warisan budaya tak benda. 

Kembali pada topik utama, apakah teknologi mampu memperkuat akar budaya lokal? seharusnya demikian. Selain mempermudah kehidupan, kehadiran teknologi sejatinya juga mampu menjaga kearifan budaya dan nilai-nilai lokal. Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas 2 aplikasi yang secara tidak langsung berkontribusi memperkokoh akar budaya lokal. Kedua aplikasi tersebut yakni Jogja Istimewa dan JogjaBike. Aplikasi Jogja Istimewa hadir sebagai produk teknologi informasi yang merangkum hampir 97% Jogja. Jika kamu ulik Aplikasi Jogja Istimewa, di dalamnya berisi menu/ikon Jogja Budaya, Jogja Wisata, Jogja Layanan Publik, Jogja Belajar, Jogja Kuliner, Jogja Info, Jogja Transportasi, Jogja Event, Jogja Galeri, Jogja 360, Jogja Doeloe AR, dan Jogja Streaming. Adapun aplikasi JogjaBike membantu kamu menjelajah kawasan sejarah seperti Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Jogja (Sumbu Filosofi Jogja) melalui sewa sepeda daring.
Lanjut ya...

Selain manuskrip/naskah kuno, budaya lokal Yogyakarta yang masuk kategori intagible cultural heritage yakni Sumbu Filosofi Jogja. Tahun 2017, Sumbu Filosofi Jogja terdaftar dalam World Historical Tentatif List UNESCO lho.

Bagi kamu yang belum tahu mengenai Sumbu Filosofi Jogja, Infografis berikut setidaknya memberikan secuil pengetahuan tentang hal itu.
Untuk mengulik lebih jauh mengenai Sumbu Filosofi Jogja, saya menantang diri saya sendiri untuk menjelajah garis imajiner tersebut menggunakan sepeda berbasis daring buatan developer lokal, JogjaBike. Bagi pengguna Android, kamu bisa mengunduh Jogjabike by Inabike via Google Play. Untuk pengguna iOS, kamu bisa mendonlotnya melalui App Store. lokasi persewaan sepeda Jogjabike bisa kamu temui di sepanjang kawasan Malioboro. Jadi, lokasi persewaan sepeda sangatlah strategis dan menjangkau Sumbu Filosofi jogja. Oh ya, biaya sewa per jam hanya Rp 5.000. Murah kan? Bagi kamu para turis dan traveler, puas-puasin deh menjelajah Sumbu Filosofi Jogja. 
Langkah-langkah menggunakan sepeda JogjaBike. Dokumentasi pribadi.
Jenis sepeda yang disewakan JogjaBike. Dokumentasi Pribadi.
Klik menu GO, maka lokasi sepedamu akan terlacak di map dan durasi waktu akan terus berputar. Dokumentasi pribadi
Untuk top up bisa langsung ke petugas yang berada di lokasi persewaan ya gaes. Karena saya hendak menjelajah Sumbu Filosofi yang mungkin memakan waktu cukup lama (2 hingga 4 jam), maka saya isi saldo aplikasi sebesar Rp 20.000.

Gaskeun! Saatnya menyusuri Sumbu Filosofi!
Saatnya menjelajah Sumbu Filosofi Jogja. Dokumentasi pribadi

Panggung Krapyak, tempat berburu Raja-raja Mataram. Dokumentasi pribadi
1. Panggung Krapyak (Kandang Menjangan)

Sangkan Paraning Dumadi bermula dari Panggung Krapyak. Filosofi Sangkane Dumadi (Awalnya ada). Berakhir pada Paraning Dumadi yang memanjang dari Keraton Yogyakarta menuju Tugu Golog Gilig. Panggung Krapyak mengilustrasikan posisi janin ketika berada dalam kandungan.

Bangunan menyerupai kubus ini dulunya digunakan sebagai tempat berburu para pewaris trah Kerajaan Mataram. Selain berburu, tempat ini digunakan sebagai lokasi latihan beladiri. Adapun binatang yang menjadi bahan buruan adalah jenis rusa atau menjangan. Tak heran Panggung Krapyak juga dikenal pula sebagai Kandang Menjangan. Sebagai tempat perburuan, Panggung Krapyak juga dilengkapi pesanggarahan sebagai tempat beristirahat dan taman air.

Jarak Panggung Krapyak dari Alun-alun Selatan sekitar 1 km, sedangkan dari Keraton Yogyakarta kurang lebih 3 km. 
2. Alun-alun Selatan
Plengkung Gading, gerbang masuk Alun-alun Selatan. Dokumentasi pribadi
Sebelum memasuki Alun-alun Selatan, saya akan melewati Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya. Plengkung Gading merupakan gerbang masuk menuju Alun-alun Selatan dan Keraton Yogyakarta. Di sekeliling plengkung terdapat tembok kokoh (Benteng Baluwerti) dan bastion (semacam tempat mengintai musuh). Sepedaan di kawasan seperti ini seru gaes. Saya bisa menikmati semilir angin yang menyegarkan sekaligus wisata budaya dan sejarah!
Sasono Hinggil Dwi Abad dengan 2 beringin kembarnya. Dokumentasi pribadi.
Arsitektur khas yang ada di Alun-alun Selatan yakni Sasono Hinggil Dwi Abad yang merupakan bangunan yang sengaja ditinggikan. Sasono Hinggil Dwi Abad memiliki luas atau ukuran sekitar 500 meter persegi dan ditinggikan 150 meter persegi dari permukaan tanah di sekitarnya. Di pelataran bangunan tersebut terdapat 2 beringin tegak yang jika ditarik garis lurus akan sejajar dengan 2 pohon beringin di Alun-alun utara, memanjang lurus ke utara menuju Tugu Pal Putih hingga Gunung Merapi (Sumbu Filosofi Jogja) .

3. Keraton Yogyakarta
Akhirnya sampai di depan Keraton Yogyakarta. Dokumentasi pribadi.
Ada yang tahu kisah berdirinya Keraton Yogyakarta?

Baiklah, saya akan bercerita sedikit. Keraton Yogyakarta didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Perlu kita tahu bahwasanya Nagari Ngayogyakarta memiliki hari proklamasinya yang disebut Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat yaitu tanggal 13 Maret 1755. Sang Sultan memulai membangun Keraton Yogyakarta pada tanggal 9 Oktober 1755. Pembangunan keraton memakan waktu kira-kira setahun. Pada tanggal 7 Oktober 1756, Sultan Hamengku Buwono I, keluarga, beserta pengikut setianya pertama kali memasuki keraton yang baru saja selesai dibangun. Peristiwa besar ini ditandai dengan munculnya Candra Sengkala : Dwi Naga Rasa Tunggal. Candra Sengkala sendiri merupakan perhitungan angka tahun dalam budaya Jawa. Dwi Naga Rasa Tunggal artinya tahun 1682 (penanggalan Jawa) atau setara dengan tahun 1756 dalam kalender masehi.

 4. Alun-alun Utara
Kiai Janadaru (kiri) dan Kiai Dewadaru (kanan), dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara. Dokumentasi pribadi
Berdasarkan kratonjogja.id, Alun-alun Utara membentang seluas 300 x 300 meter persegi. Di tengah alun-alun tersebut terdapat dua pohon beringin berkurung. Usut punya usut, kedua beringin tersebut memiliki nama lho gaes. Mereka berdua adalah Kiai Dewandaru dan Kiai Janadaru. Saya bahkan baru tahu nama dua beringin ini ketika mengikuti Jogja Cross Culture, Agustus silam. 

Mari kita dedah satu per satu. Kiai Dewadaru memiliki makna filosofis dan simbolis sebagai hubungan spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta. Dewa berartu Tuhan, Daru berarti Wahyu. Posisi Kiai Dewadaru berada di sebelah barat sumbu filosofi, segaris lurus dengan Masjid Gedhe. Mengilustrasikan pula kedudukan hamba beriman dengan Gusti Ingkang Agung. Konsep habluminallah dalam sumbu filosofi telah dipikirkan semenjak awal oleh Sultan Hamengku Buwono I. Luar biasa bukan pemikiran beliau?

Sedangkan Kyai Janadaru yang bermakna harafiah pohon manusia, melambangkan hubungan yang baik antarsesama manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, hablumminannas. Posisi Kiai Janadaru berada di sisi timur Sumbu Filosofi, searah dengan Pasar Beringharjo. Secara tersirat, makna alun-alun dengan 2 pohon beringin di tengah menggambarkan konsep manunggaling kawula gusti, bersatunya rakyat dan raja, selaras dengan Sang Pencipta. 

Puas menjelajah Alun-alun Utara, yuk kita bersiap menuju Tugu Pal Putih!

5. Tugu Pal Putih (Tugu Golong Gilig)
Tugu Pal Putih (Tugu Golong Gilig). Dokumentasi pribadi.
Semula, Tugu Pal Putih bentuknya tidak lancip di ujung, tetapi bulat (gilig) dan tubuhnya berbentuk silinder (golong). Maka jangan heran tugu ini disebut pula sebagai Tugu Golong Gilig. Kala itu, orang Belanda kerap memanggil Tugu Golong Gilig dengan istilah white paal (tiang putih), seiring berjalannnya waktu masyarakat menyebutnya dengan Tugu Pal Putih. Tugu ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756. Tinggi tugu ini mencapai 25 meter.

Gempa tektonik skala besar menghantam Jogja pada tahun 1867. Banyak bangunan yang rusak, Tugu Golong Gilig ini satu di antaranya. Pilar tugu rusak sepertiga bagian. Tugu tersebut dipugar kembali oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Bentuk dan ketinggian tugu pun mengalami perubahan dari semula tinggi 25 meter menjadi 15 meter. Dari berbentuk Golong Gilig menjadi lancip pada bagian ujung. 

Dalam Sumbu Filosofi, perjalanan dari Panggung Krapyak hingga Keraton Yogyakarta memiliki makna simbolis sebagai awal mula penciptaan/kelahiran hingga proses kedewasaan (Sangkan Dumadi) Adapun Tugu Pal Putih atau Golong Gilig ini melambangkan perjalanan manusia menghadap Sang Maha Pencipta (Paraning Dumadi).
Diorama Sumbu Filosofi Jogja dan replika awal Tugu Golong Gilig sebelum terkena gempa. Dokumentasi pribadi
Tak terasa perjalanan saya dari Panggung Krapyak menempuh waktu lebih dari 3 jam. Saya harus segera mengembalikan sepeda ke shelter yang berada di dekat kantor DPRD DIY. Saldo di aplikasi JogjaBike kian menipis. Meski lelah, saya sangat puas. Saya mendapati banyak pelajaran berharga sepanjang penjelajahan Sumbu Filosofi.
Selain JogjaBike, Aplikasi Jogja Istimewa membantu saya menjelajah Sumbu Filosofi Jogja. Dokumentasi pribadi
Dari penjelajahan ini, saya bisa membuktikan bahwa teknologi informasi baik secara langsung maupun tidak langsung mampu memperkuat akar budaya lokal. Melalui aplikasi JogjaBike, saya mencoba memahami secara langsung seperti apa garis imajiner yang membentang mulai dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Pal Putih yang dulu dikenal sebagai Tugu Golong Gilig. Belajar budaya dan sejarah model seperti ini sangatlah berkesan. Melalui aplikasi Jogja Istimewa, saya mendapat berbagai informasi mengenai cagar-cagar budaya apa saja yang dilestarikan pemerintah daerah.Tak cuma itu! Berbagai event budaya setiap bulan ditampilkan dalam menu Jogja Event. Saya cek di Jogja Event, tanggal 17 dan 18 September besok ada acara Siraman Pusaka I dan II, tanggal 28 terdapat Sendratari Sekar Pembayun. Wah! 

Pekan depan saya mau menjelajah kembali sumbu filosofi via JogjaBike, ada yang mau gabung?