Minggu, 18 Oktober 2026

Dari Sepiring Nasi, Karhutla, hingga Keanekaragaman Pangan

.
jujur ya melihat sliweran berita sebulanan ini hatiku sedih, marah, kesal bercampur lebur jadi satu. Kondisi negara kita sedang tidak baik-baik saja. Negara kita sedang "sakit" dan butuh waktu buat pulih. 

Buka dan scrolling medsos langsung ngelus dada. Bencana di mana-mana, baik bencana alam atau kerusakan yang disebabkan oleh tangan jahil manusia: karhutla.

Mak jleb banget! Efek karhutla gak hanya dirasakan masyarakat setempat, tetapi juga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan beberapa pengguna Tiktok dan Threads memaki-maki ketidakbecusan pemerintah dalam mengatasi Karhutla.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Indonesia sepanjang 2026. Data resmi Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat luas area terbakar mencapai 202.004,30 hektare pada periode Januari hingga Juli 2026, meningkat sekitar 69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sementara itu, analisis independen Nusantara Atlas menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi, yakni sekitar 1,9 juta hektare hingga akhir September 2026. Fenomena ini terutama melanda wilayah Kalimantan, Sumatera, Papua, dan Nusa Tenggara, dengan sebagian besar terjadi di lahan gambut dan area yang berdekatan dengan aktivitas pertanian serta perkebunan.

Dampak langsung karhutla terhadap lahan pertanian sangat nyata. Laporan Serikat Petani Indonesia (SPI) dari berbagai daerah mencatat kerusakan tanaman pangan dan perkebunan rakyat, termasuk ubi-ubian, pisang, sayuran, kopi, karet, kelapa sawit, pala, dan cengkih.

Di sejumlah lokasi di Kalimantan Barat, misalnya, puluhan hingga ratusan hektare lahan petani terbakar. Di Nabire, Papua, kerusakan lahan beriringan dengan kenaikan harga sayuran di pasar lokal. Kondisi ini meningkatkan risiko gagal panen dan mengancam pasokan pangan di tingkat rumah tangga serta komunitas. 

Wahhhhh... Miris ya manteman!

Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman dari #EcoBloggerSquad mengikuti webinar bertajuk "Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan." Acaranya dikemas dengan sangat menarik dan fun. Pada pembukaan terdapat quiz yang tentunya disediakan hadiah berupa e-money.

Pada webinar tersebut menghadirkan 2 narasumber Kece yang satu jurnalis (Ahmad Arif) dan narasumber berikutnya Yoga Apriliana dari Pantau Gambut. 

Eh ternyata kalau terjadi karhutla yang dirugikan gak hanya manusia, tetapi juga keanekaragaman hayati di dalamnya juga ikut terancam. Ketahanan pangan pun ikut goyah.

Yoga Aprilian dari Pantau Gambut menjelaskan bahwa tanah gambut sangat rentan terbakar. Kalau sudah terbakar, bara apinya masih tersimpan dan  sewaktu-waktu bisa memercik lagi, memicu kebakaran lagi. Kanalisasi yang dilakukan perusahaan ekstraktif juga disinyalir menjadi pemicu rusaknya ekosistem lahan gambut di Indonesia.
#PeatlandsIsNotWasteland, gambut bukanlah lahan yang sia-sia. Ada berjuta manfaat gambut bagi kehidupan.

Tahukah kamu bahwa Lahan gambut merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia. Meski hanya menutupi sekitar 3% permukaan daratan bumi, gambut menyimpan sekitar 30% karbon tanah global (sekitar 550–600 gigaton karbon). 

Di Indonesia saja, lahan gambut diperkirakan menyimpan hingga 57 gigaton karbon. Selama tetap basah, karbon ini terkunci dan tidak dilepaskan ke atmosfer sebagai gas rumah kaca, sehingga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Gambut mampu menyerap air hingga 10–13 kali bobot keringnya. Saat musim hujan, gambut menahan air sehingga mengurangi risiko banjir. Saat musim kemarau, air yang tersimpan dilepaskan secara perlahan sehingga menjaga ketersediaan air tanah, aliran sungai, dan mencegah kekeringan. Fungsi ini juga membantu menjaga kelembaban lingkungan sekitar.

Ekosistem gambut menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna khas yang tidak ditemukan di tempat lain, termasuk spesies langka dan terancam punah seperti orangutan, harimau Sumatera, beruang madu, buaya, serta tanaman kantong semar. Keanekaragaman hayati ini penting bagi keseimbangan ekosistem dan kelangsungan hidup banyak spesies.

Struktur organik gambut mampu menyaring polutan, logam berat, pestisida, dan zat kimia lainnya. Air yang keluar dari lahan gambut biasanya lebih bersih, sehingga membantu menjaga kualitas air sungai dan sumber air bagi masyarakat di sekitarnya.

Dalam webinar tersebut Mas Arief memaparkan tentang ketahanan pangan dan ancaman terhadap biodiversitas.
Contoh tanaman yang bisa bertahan di tingkat keasaman gambut yaitu sagu. Tapi kenapa sagu sebagai sumber karbohidrat masih kalah populer jika dibandingkan dengan beras dan terigu? Mengapa Indonesia belum mempunyai berswasembada pangan dari pangan lokal? Mengapa Indonesia masih tergantung pada impor beras dan terigu? Tiba-tiba banyak pertanyaan di kepala.

Dulu,  dekat tempat tinggal saya ada penjual umbi-umbian. Saya beberapa kali membeli ubi ungu dan singkong buat dijadiin camilan. Tetangga saya juga kalau memanen talas dan singkong pasti dibagikan kepada keluarga kami. Ah membayangkan kapan ya Indonesia bisa berswasembada dari pangan lokal yang berkelanjutan?

Jawabannya ada di kebijakan yang dibuat regulator. Dari era orde baru hingga sekarang kebijakan yang ada sangat menguntungkan importir dan pihak-pihak yang terlihat. Maka efeknya lidah manusia Indonesia terbiasa dengan beras dan terigu bukan sumber karbohidrat lain seperti sagu, umbi, dan kawan-kawannya.

Masih bermimpi Indonesia memiliki pemimpin yang peduli akan keanekaragaman pangan. Tapi kapan? Tapi apa mungkin? Tapi... Ah sudahlah