Sebagai ibukota Jawa Tengah sekaligus destinasi studi, Semarang terus berbenah, terus bergerak. Seiring mekarnya beragam jenis industri dan kualitas pendidikan melesat semakin mumpuni, menjadikan banyak orang berbondong-bondong mengadu peruntungan di kota dengan julukan Venetie Van Java ini. Dengan pertumbuhan penduduk yang dinamis—di lebih dari 1,7 juta jiwa pada tahun 2025—membuat Semarang menghadapi isu krusial seperti kota-kota urban pada umumnya. Apalagi kalau bukan masalah mobilitas dan kemacetan.
Kilas
balik di dekade 2000an, di mana terjadi lonjakan penggunaan kendaraan pribadi
akibat penyediaan transportasi publik yang belum memadai. Calo bus di
mana-mana. Suara cempreng kernet melebihi dosen killer. Naik angkot
harus berseteru dengan bau ayam dan bawang yang baru saja dibeli dari pasar.
Erangan mesin kendaraan yang sudah renta, asap knalpot mendera, serta masa
tunggu yang lebih lama. Bagamana tidak menunggu lama? Setiap angkot atau bus akan
jalan harus menunggu full penumpang (istilahnya ngetem!). Ngetem
disinyalir menjadi biang kerok kemacetan.
Kondisi
demikian sangatlah tidak ideal buat pelajar dan pekerja urban dengan mobilitas dan
produktivitas yang sangat tinggi di mana waktu dan kecepatan adalah prioritas. Akibatnya
mereka memilih menggunakan kendaraan pribadi karena lebih praktis lagi efisien,
alih-alih moda transportasi publik.
![]() |
| Feeder Trans Semarang untuk pembayaran bisa dengan AstraPay. Dokumentasi Pribadi |
Menghadirkan
solusi keuangan digital yang inklusif dan mendukung mobilitas serta
produktivitas pekerja urban seperti saya, kolaborasi Trans Semarang bekerjasama
dengan dompet digital AstraPay sangatlah dinanti-nanti. Apalagi banyak sekali
keuntungan, diskon, promo, dan cashback yang ditawarkan Astrapay! Misalkan
promo bulan April hingga Juni 2026 ini, saya bisa menikmati insentif berupa
cashback 50% saat membeli e-ticket via aplikasi Trans Semarang yang sudah
terhubung dengan AstraPay.
Perlu
diketahui, tarif Trans Semarang (BRT dan Feeder) dibedakan berdasarkan
usia/status serta metode pembayaran (tunai/nontunai). Untuk pelajar sekolah
tarifnya Rp1000. Sedang masyarakat umum dan mahasiswa tarif Rp4.000 (tunai) dan
Rp3.500 (nontunai). Kabar baiknya bagi pekerja urban seperti saya, bertransaksi
secara cashless via AstraPay sangatlah membantu menekan pengeluaran. Apalagi
saat sedang ada cashback 50%. Sekali jalan, saya bisa saving Rp1.750!
Dulu, jika kita membayar angkot atau bus ternyata uangnya kurang 500 perak pasti dipelototi kernet. Bahkan membayar dengan uang pecahan besar juga tak luput dari sinisan dan sindiran kernet jika tak ada kembalian. Pasalnya kernet harus menukar pecahan besar tersebut ke warung-warung atau tukang pakir untuk mendapatkan kembalian.
Melalui layanan teknologi finansial AstraPay yang dikembangkan oleh PT Astra Digital Arta, segala macam transaksi tercatat dengan rapi dan presisi. Dari jajan, makan, perpanjang domain blog hingga upgrade fitur premium Kompasiana tinggal tap-tap Astrapay. Saya bisa mengatur pengeluaran apa saja setiap bulannya. Definisi cepat, praktis, dan cashless!
![]() |
| Aplikasi Trans Semarang yang sudah Terkoneksi dengan AstraPay. Dokumentasi Pribadi |
![]() |
| Selama saldo AstraPay mencukupi tak perlu ribet bawa uang receh. Dokumentasi pribadi |
Saya
semakin bersuka cita sebab top up dari virtual account via mobile
banking milik saya ke AstraPay ternyata tidak dikenai biaya admin lho.
Lagi-lagi, AstraPay membantu saya berhemat dan menekan pengeluaran! Selain itu,
setiap top up ke Astrapay atau melakukan transaksi apapun di AstraPay, kita
mendapatkan AstraPoints yang bisa ditukarkan dengan voucher di merchant
favorit.
Berbagai
benefit yang ditawarkan AstraPay dirasakan pula oleh Faisal Akbar (22), seorang
barista yang juga mahasiswa UNDIP semester akhir. Sebagai mahasiswa sekaligus
pekerja paruh waktu di kota urban Semarang, hadirnya Feeder membuat mobilitas lebih
fleksibel dan produktivitas meningkat sebab tak ada waktu yang terbuang sia-sia
seperti saat menunggu angkot ngetem. Feeder berangkat on time, urusan
bayar kan ada AstraPay.
“Sehari-hari
dari kos ke tempat kerja atau ke kampus buat bimbingan skripsi, saya
menggunakan Feeder. Sebenarnya pakai Feeder tarifnya lebih murah daripada naik
ojek online atau angkot, terutama pas dapat cashback AstraPay,” ungkap
Faisal. Bandingkan ketiganya. Tarif ojek online jarak dekat dibanderol
Rp9.000. Angkot sekali jalan Rp5.000. Feeder hanya Rp3.500 via AstraPay, ada cashback
makin untung!
Life
in digital era
menuntut anak muda seperti Faisal dan pekerja urban macam saya memanfaatkan
gawai dan internet semaksimal mungkin. Sebab cepat, praktis, cashless
sudah menjadi keniscayaan. Dengan bantuan AstraPay, mobilitas yang terukur dan
terencana berdampak pada kinerja dan produktivitas yang optimal.
Beberapa waktu lalu saya menderita gatal dan alergi kulit. Begitu sampai di Puskesmas, saya diarahkan ke meja registrasi. Karena bukan peserta faskes di puskesmas tersebut, saya harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp10.000. Saya buka AstraPay, scan QRIS, dan isi sesuai nominal yang diminta. Transaksi pun selesai. Selepas nomer antrian dipanggil, saya segera diresepkan obat pereda gatal oleh dokter.
![]() |
| Bayar biaya berobat scan QRIS AstraPay. Dokumentasi pribadi |
![]() |
| Bayar minuman, cukup scan QRIS Astrapay. Dokumentasi pribadi |
![]() |
| Bayar makanan, cukup scan QRIS Astrapay. Dokumentasi pribadi |
AstraPay hadir bak malaikat penolong. Cepat, praktis, cashless bukanlah pepesan kosong. Jika dompet saya tertinggal di rumah, saya lantas tak was-was. Selama baterai ponsel menyala, sinyal internet ngebut, dan saldo AstraPay terisi. Hati saya senyum merekah. Life with AstraPay sudah menjadi bagian dari solusi keuangan digital inklusif yang pastinya mendukung mobilitas dan produktivitas pekerja urban serta dinamika gaya hidup modern.




.png)

.png)


