Jumat, 09 Agustus 2019

AKSI PENDEKAR MILENIAL : Mengukuhkan Semangat Gotong Royong, Berbhineka, Cinta Pancasila, Menuju Indonesia Maju!

"Hanya dengan bersatu, kita akan menjadi negara yang kuat dan disegani dunia! Pancasila merupakan ideologi bangsa yang setiap warga negara harus menjadi bagian darinya!" (Presiden Joko Widodo dalam pidato Visi Indonesia, 14 Juli 2019)
Sedih banget akhir-akhir ini begitu banyak hoaks, ujaran kebencian yang menyulut perpecahan menyebar dengan mudahnya di media daring. Masuk melalui kanal-kanal media sosial hingga aplikasi chat. Para orangtua dan mereka yang rendah akan literasi digital mudah sekali terprovokasi oleh berita yang simpang siur dan tidak jelas muasalnya tersebut. Maka dari itu, peran milenial dan pegiat digital seperti blogger dan vlogger sangat dibutuhkan untuk memberi edukasi mengenai spirit cinta tanah air dan pendidikan karakter. Sangat menantang menang. Namun, itu sudah menjadi tugas kita bersama. 

Merasa risau dengan hal tersebut, saya memutuskan menghadiri Forum Aksi Pendekar (Pendidikan Karakter) Pancasila yang diadakan di pada hari ini, Jumat 9 Agustus 2019 di Hotel UNY. Wih acaranya di area kampus saya sendiri! Mantap jiwa. Acara bertajuk "Semangat Gotong Royong, Kebhinekaan, Persatuan, dan Kesatuan untuk Indonesia Maju" dihadiri kurang lebih 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pekerja digital seperti saya. Ya, sebagian besar audiens yang hadir merupakan generasi milenial atau mereka yang masih memiliki semangat muda, tak peduli berapa pun usianya. Itu yang menarik. 

Apa hubungan pendidikan karakter dan penanaman moral pancasila? Hikmah apa yang bisa kita petik dari Forum Aksi Pendekar Pancasila tersebut? Bagaimana cara milenial membangun spirit gotong royong yang humanis, cerdas, berkarakter, serta berbudi luhur? Wuih banyak pertanyaan di kepala.

Kuy kita kupas satu per satu...
Berfoto dulu dengan narasumber sebelum acara dimulai
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya lalu dilanjut dengan doa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian sambutan dari Kepala Dinas Koiminfo DIY, Bapak Rony Primanto Hari.
Sambutan dari kepala Diskominfo DIY
"Kemajuan Tekonologi Informasi dan Komunikasi menyebabkan pergeseran-pergeseran, terutama perilaku generasi muda dalam hal memahami ideologi bangsa. Interaksi virtual lebih banyak mewarnai kehidupan sehari-hari, akibatnya kearifan lokal seperti norma dan tata krama mengalami penurunan. Bahkan terjadi serangan-serangan melalui media sosial. Di DIY, kami memiliki Bergodo Siber, sebuah tim yang terdiri dari pegiat literasi digital yang memiliki peran dalam menangkal konten negatif dan menyebarkan berita positif." Demikian sambutan singkat dari Pak Rony.

Saya rasa langkah-langkah yang dilakukan pemerintah daerah patut mendapatkan apresiasi. Apalagi saat ini Indonesia sudah memasuki era digital, maka dari itu perlu menyiapkan kualitas SDM yang unggul, berkarakter untuk menuju Indonesia emas 2045 (menuju Indonesia Maju).
Selanjutnya memasuki acara inti. Pada sesi pertama ada 2 pembicara yakni Ibu Rima Agristina selaku Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) dan Bapak Henry Subiakto selaku staf ahli Kominfo.

"Indonesia saat ini menghadapi tantangan-tantangan dari tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri. Ada 5 tantangan serius yang menjadi PR bagi Indonesia. Tantangan tersebut yakni paham/ideologi yang bertentangan dengan pancasila, isu radikalisme, korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan bencana alam."
Bu Rima menjelaskan pancasila sebagai dasar orientasi pendidikan karakter
Ada upaya-upaya pelemahan persatuan dan kesatuan bangsa melalui berbagai elemen seperti rekontruksi simbol nasionalisme, rekontruksi terkait konotasi agama, dan konsepsi baru negara. Bahkan ada yang sengaja mengganti singkatan NKRI bukan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi sebagai Negara Khilafah Riyadhah Islamiyah. Ada egosentrisme dari golongan tertentu untuk menguasai atau menjadi dominan dalam dan melenyapkan ideologi pancasila. Ini sangat mengerikan. Pancasila sebagai dasar negara serta filsafah berbangsa dan bernegara, didirikan oleh para pendiri bangsa ingin diganti dengan sistem yang lain. Yang tentunya sistem ini bisa memunculkan perpecahan di berbagai kalangan.

Maka dari itu, penting sekali menjadikan pancasila sebagai dasar orientasi pendidikan karakter. Karakter dan spirit bergotong royong dalam pancasila bisa diterapkan di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Sinergi dan kolaborasi menjaga NKRI adalah tugas kita bersama, bukan hanya media, pemerintah, dan lembaga/institusi. BPIP selaku Badan Pembinaan Ideologi Pancasila melakukan berbagai upaya untuk menginternalisasi nilai-nilai atau falsafah pancasila melalui berbagai program, salah satunya pembuatan konten narasi. Blogger memiliki peranan signifikan dalam memproduksi konten positif. Kita bisa mengedukasi pembaca mengenai pendidikan karakter berbasis pancasila dalam tulisan-tulisan yang kita buat.

Jika Bu Rima memaparkan mengenai pancasila sebagai dasar orientasi pendidikan karakter, maka Pak Subiakto menjelaskan konsep "Membumikan Pancasila di Era Digital."

"Kekuatan politik memanfaatkan media sosial untuk melakukan perang. Hoaks menjadi bagian dari permainan politik di berbagai negara. Kenapa? Karena hoaks dianggap bisa mempengaruhi. Ini berhasil di beberapa negara."

Ciri-ciri hoaks : kontennya memicu perpecahan serta permusuhan, sumber muasalnya enggak jelas, selalu menjual isu SARA, pesan tidak lengkap cenderung bias, terakhir gerakannya masif dan cendrung minta diviralkan.

Di era post trust orang lebih cenderung percaya pada apa yang dirasakannya ketimbang fakta-fakta di lapangan. Di Amerika, konten hoaks dan ujaran kebencian berhasil melenggangkan Donald Trump menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat. Konsep seperti itu ditiru oleh Indonesia pada Pilpres 2019.
Pak Henry Subiakto memaparkan gagasan membumikan pancasila di era digital
Indonesia sebagai negara yang multikultural mudah sekali dibenturkan oleh segregasi-segregasi sosial. Hal ini jika tidak diwaspadai bisa memunculkan konflik. Pancasila sebagai ideologi bangsa dihaharapkan mampu menyatukan masyarakat Indonesia dengan keberagamannya.

Tantangan yang dihadapi generasi milenial di era digital adalah terpaan ideologi yang berbeda dari penjuru dunia. Propaganda ideologi disebarkan via media sosial dan kanal digital lainnya. Serangan terorisme dan perekrutannya justru disinyalir dari jaringan media sosial. Riset Flashpoint pada tahun 2018 menemukan lebih dari 40.000 laman terkait propaganda ISIS. NISS menggunakan 46.000 akun twitter dalam 5 bahasa. Terorisme itu puncak gunung es. Di level akar diindikasikan dengan adanya intoleransi, radikalisme, dan antikeberagaman. Selanjutnya muncul ideologi yang membenturkan ajaran agama dengan pancasila dan NKRI. Maka tak heran di media sosial muncul cyber army dan perang urat saraf (psy war).

Salah satu media sosial yakni facebook menjadi mesin perusak demokrasi. Facebook membentuk kebenaran semu lewat kegaduhan. Facebook menjadi sumber disinformasi. Kasus facebook yang datanya digunakan Cambridge Analytica merupakan bukti nyata yang menunjukkan sisi kelam media sosial yang mempengaruhi kualitas pesta demokrasi di Amerika Serikat. The Bad News cenderung dibagi lebih banyak.

Target hoaks adalah mereka yang menjadi mayoritas. Penduduk perkotaan dan pendidikan tinggi cenderung mudah terprovokasi hoaks. Masyarakat fanatik lebih gampang terpapar hoaks. Hoaks memiliki pengaruh kuat ketika bersinergi dengan politik identitas

Hoaks tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab ia mampu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Membumikan pancasila di era digital sangatlah perlu. Caranya adalah melalui internalisasi pancasila melalui orientasi pendidikan karakter. Untuk pegiat media digital seperti blogger bisa melalui konten yang dibuat.
Mira Sahid dan Cindy Gulla
Melalui Forum Pendekar Pancasila, kita tidak hanya belajar untuk mengenai sejarah dan pendidikan karakter, tetapi juga bagaimana membangun konten psoitif yang kreatif dalam menangkal berbagai isu hoaks. Konten tersebut nantinya bakal bermanfaat bagi masyarakat luas.

Cindy Gulla, seorang konten kreator/youtuber yang didapuk menjadi narasumber pada kesempatan kali ini bercerita tentang spirit gotong royong. Spirit gotong royong merupakan semangat yang sudah mengakar kuat di jiwa penduduk Indonesia. Gotong royong dalam membersihkan selokan misalnya. Para warga berkumpul, berbondong-bondong membersihkan saluran air. Pekerjaan ini kadang dilakukan dengan sukarela alias tidak dibayar.

Di era digital, spirit gotong royong masyarakat Indonesia terlihat jelas dari adanya petisi online. Sebagai bagian dari proses demokrasi masyarakat menuntut perubahan. Adanya hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan kearifan lokal membuat masyarakat tak segan untuk mempetisi suatu kebijakan atau hal apapun sekiranya itu bisa membuat sebuah perubahan. 

Tak hanya petisi online, masyakat juga tak segan mengulurkan bantuan ketika ada saudara yang tertimpa musibah dan penyakit. Melalui crowdfunding KitaBisa.Com, kita bisa melihat betapa masyarakat Indonesia masih sangat tinggi kepeduliannya. Saya pernah menyaksikan driver ojol yang kehilangan motornya (dicuri) saat bertugas mengantarkan penumpang. Sang penumpang merasa iba, akhirnya melalui KitaBisa.Com menggalang dana untuk membantu driver ojol tersebut. Akhirnya terkumpullah dana yang dapat digunakan untuk membeli motor baru. Luar biasa sekali semangat gotong royong bangsa Indonesia.
Mira Sahid In Action
Adapun Mira Sahid, selaku founder Komunitas Emak Blogger membagikan tips menjadi konten kreator dengan 7K. Apa saja itu?
  1. Kenali keahlian atau passionmu. Diana Rikasari merupakan blogger sekaligus konten kreator di bidang fesyen yang mampu melebarkan sayap hingga kancah internasional. Diana tahu bagaimana mengelola passion hingga menjadi pundi-pundi rupiah/dolar.
  2. Konten yang kuat. Setelah menemukan passionmu apa, langkah selanjutnya yakni membuat konten yang kuat. Ciptakan branding yang bagus melalui konten kreatif dan positif.
  3. Kuasai aplikasi pengolah gambar/video. Konten kreator bisa memaksimalkan aplikasi edit gambar seperti Canva dan Corel. Untuk aplikasi pengolah video bia menggunakan Filmora atau Viva Video.
  4. Komunikasi dua arah. Kalau luang, gunakan waktu untuk membalas komentar di media sosial atau saat blogwalking di blog. Ini berguna untuk tetap menjalin relasi dan komunikasi dengan fans atau netizen di dunia virtual.
  5. Konsisten dan kontinyu. Tidak ada yang instan. Semua melalui proses dan bertahap. Untuk menjadi konten kreator sukses kita dituntut untuk selalu up to date, inovatif, serta kreatif dalam mengolah gagasan.
  6. Kolaborasi. Berjejaringlah dengan berbagai pihak untuk memperluas wawasan serta jalinan pertemanan.
  7. Kuy mulai dari sekarang!
Cindy Gulla menambahkan beberapa tips untuk menjadi konten kreator :
  1. Be you, jadilah yang terunik
  2. Be brave, Berani menunjukkan siapa diri kita
  3. Konsisten
  4. Positif agar memiliki impact yang baik.
Demikianlah materi keren dari 2 konten kreator kita.
Foto dengan fans.
Saya sendiri mengukuhkan spirit gotong royong dengan menulis, menulis konten positif dan menyebarkannya kepada masyarakat luas. Menulis merupakan upaya untuk merekam jejak. Di era digital pendekar milenial wajib mengawal pancasila serta proses demokrasi di Indonesia agar menjadi semakin baik. Jika spirit gotong royong dan pancasila sudah mendarah daging dan membumi, saya yakin mimpi Indonesia Emas (Indonesia Maju) di tahun 2045 bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.

So, mulai detik ini mari kukuhkan semangat gotong royong, berbhineka, dan cinta tanah air. Yuk!

Salam hangat dari Jogja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar