Senin, 05 Agustus 2019

Jelajah Budaya dan Sejarah dalam JOGJA CROSS CULTURE, Wisata yang Cocok Buat Milenial

Milenial merupakan generasi yang sangat familiar dengan gawai dan perkembangan teknologi. Berfoto dan berbagi di media sosial menjadi hal yang wajib ketika berwisata. Karena kedekatannya dengan teknologi, milenial mampu membuat perjalanan wisata menjadi efektif dan efisien, mulai dari membeli transportasi, mengatur jadwal perjalanan, hingga akomodasi. (DETIK TRAVEL 2019)
Saya sedang bersantai dan scrolling timeline twitter, menemukan sebuah utas :

"Iseng searching (menyebut nama sebuah aplikasi), nemu penginapan lucu dan cozy banget di daerah Bandung! Penginapan nyaman under 400K. A thread..." @firyalblfst

Utas yang dibagikan @firyalblfst (Firyal A Balfast) tersebut viral di twitter dan berhasil diretweet 8.516 orang serta mendapat 38.000 like. Lain lagi dengan @ellyaqul, dia berhasil membuat thread atau utas mengenai liburan dan kuliner di Jogja dan sukses mendapat 24.000 like serta 6.359 retweet. Bagi kamu yang belum tahu apa itu utas (thread) di twitter, utas bisa dikatakan sebagai rangkaian tweet bersambung. Utas merupakan sebuah media tempat kamu berbagi opini mengenai suatu hal, peristiwa, atau topik tertentu dalam rangkaian tweet panjang dan berseri. Mirip kultweet sebenarnya. Gila ya, sebuah utas bisa viral! Di era digital, beginilah cara anak muda berbagi pengalaman, momen, dan perjalanan traveling. Yups, melalui sentuhan media sosial dan kedekatan dengan teknologi. Selamat datang milennial tourism! Gaya berwisata di era kekinian.

Puas bermain twitter, saya pindah ke instagram stories. Teman saya seorang blogger, Sapti Nurul mengunggah Historical Trail Jeron Journey dalam IG stories-nya. Historical Trail Jeron Journey merupakan bagian dari rangkaian acara helatan Jogja Cross Culture 2019. Jadi, tanggal 3 dan 4 Agustus kemarin, ada helatan spesial bernama Jogja Cross Culture. Bertitik temu di Nol Kilometer Jogja, Jogja Cross Culture menghadirkan beragam acara menarik seperti pertunjukan wayang ukur, festival jamu dan kuliner, flashmob Njoged Njalar, orkestra Selaras Juang, termasuk Historical Trail Jeron Journey. Adanya Jogja Cross Culture tentunya memiliki daya atraktif tersendiri yang memikat hati warga jogja serta wisatawan. Terlebih lagi para milenial. 

"Arinta ayo ikut. Kita buat kelompok. Nanti kita bikin grup WA Njeron Beteng." Mbak Sapti membuka obrolan melalui direct message instagram. Grup WA dibentuk untuk mempermudah komunikasi antaranggota tim.

Saya membayangkan dalam dua hari (tanggal 3 dan 4 Agustus), saya bisa mengikuti beragam acara dalam Jogja Cross Culture. Saya bisa melakukan jelajah budaya dan sejarah sekaligus berwisata ala milenial. Wah!
Tata panggung wayang ukuryang apik nan megah. Jogja Cross Culture 2019. Dokumentasi pribadi
Sabtu, 3 Agustus 2019 

Malam itu, sudut Nol Kilometer Jogja yang tak begitu jauh dari Museum Benteng Vredeburg nampak berbeda. Trotoar di samping museum, yang pada hari-hari biasa digunakan oleh wisatawan, kini disulap menjadi sebuah panggung megah yang ditata sedemikian apiknya. Sangat semarak dengan lampu sorot di mana-mana. Begitu magis. Begitu menakjubkan. 
Ribuan pengunjung meluber hingga ke jalan raya. Dokumentasi pribadi.
Saya berangkat menuju Nol kilometer menggunakan aplikasi ojek online besutan Nadiem Makarim. Sesampainya di mulut museum, saya begitu takjub dengan antuasiasme pengunjung yang menanti pertunjukan atau pementasan wayang ukur. Ribuan pengunjung meluber memadati trotoar sepanjang area museum hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret. Titik Nol Kilometer begitu sesaknya.

Apa yang spesial dari pertunjukan wayang tersebut? Dalang dan pesindennya berasal dari kalangan milenial. Ini beneran lho. Keren kan? 

Sobat milenial pernah menyaksikan secara langsung pementasan wayang ukur? Minimal pernah mendengar istilah ini sebelumnya? Jujur, ini kali pertama saya melihatnya. Saya begitu terpukau, jatuh cinta pada pandangan pertama. Pementasan wayang ukur sangatlah atraktif dan begitu membekas di hati saya. Saya tak terbiasa menonton pertunjukkan wayang selama berjam-jam. Rasanya begitu membosankan. Berbeda dengan wayang ukur. Saya merasa betah dan nyaman, meski duduk lesehan di trotoar dan menghabiskan waktu yang tidak sedikit. Berjubelan dengan para penonton pula!
Sebelum Pentas Dimulai, Dalang Milenial Tampil Bersama di Atas Panggung. Dokumentasi Pribadi.
Pertunjukan Tari Kayon oleh Penari Milenial. Dokumentasi Pribadi.
Wayang Ukur merupakan gagasan brilian dari seorang maestro wayang asal Mergangsang, Yogyakarta, (almarhum) Ki Sigit Sukasman. Wayang Ukur lahir dari kejengahan sang maestro dan ketidakpuasan terhadap kemapanan suatu tradisi. Lelaki kelahiran Yogyakarta, 10 April 1937 ini lantas membuat wayang genre baru yang mendobrak pakem wayang pada umumnya, wayang ukur. Dinamakan wayang ukur sebab dalam proses penciptaannya selalu diawali dengan aktivitas mengukur. Mencari ukuran baru dari ukuran yang sudah pakem. Di awal kelahirannya, kehadiran wayang ukur mendapat resistensi atau penolakan dari sesama rekan pedalangan. Bagaimana tidak! Selain melanggar pakem, Sigit Sukasman juga melakukan perubahan dalam tata sungging pementasan wayang. 

Pada usia remaja, Sigit Sukasman pernah dimarahi seorang guru dari Abiranda (lembaga pendidikan pedalangan Keraton Yogya), sebab membuat kreasi baru dari wayang klasik. Gunungan dalam versi klasik yang menyerupai bentuk gunung, dibikin bulat oleh Sigit Sukasman. Selain itu, ukuran-ukuran kaki, tangan, dan badan tokoh-tokoh pewayangan klasik, dibuat semakin panjang, kurus, bahkan lebar. 

Wayang ukur, sebuah ekspresi atas keprihatinan Sigit Sukasman lantaran minat anak muda di era 80an terhadap seni pertunjukan tradisional kian mengkerut. Meskipun demikian, bara semangat masih dalam genggaman, sang maestro tak patah arang. Sigit Sukasman yakin suatu hari pertunjukkan wayang ukur yang dikreasikannya bakal diterima banyak orang. Seandainya beliau masih hidup, Sigit Sukasman pasti berbangga, sebab saat ini pementasan wayang ukur di Jogja Cross Culture dipadati ribuan pengunjung dari berbagai kalangan dan diapresiasi banyak media.

Pentas wayang ukur sendiri memadukan unsur pertunjukan tari, seni teater, musik gamelan, serta sastra pedalangan (sumber : Biografi Sigit Sukasman), diiringi tata cahaya yang apik serta sentuhan teknologi yang artistik nan menawan. Puluhan lampu warna-warni dipasang di belakang dan di depan kelir (layar) sehingga nampak seolah-olah seperti seni visual 3 dimensi. Inilah yang membedakannya dengan pentas wayang klasik. Dalang wayang ukur tidak hanya satu. Ada minimal 3 dalang pendukung di setiap pentas. Kolosal, adalah kesan yang tertangkap dalam konsep wayang ukur. 
Kelir (layar) dengan Tata Cahaya Apik. Kadang Berwarna Biru, Hijau, Ungu, Merah, dan Putih.
Kelir Seperti Ini Tidak Ada Dalam Pementasan Wayang Klasik. Dokumentasi Pribadi.
Gatotkaca dalam Lakon Kancing Jaya. Wayang Ukur Memadukan Pentas Wayang & Seni Teater. Dokumentasi Pribadi
Dunia di Balik Kelir. Dalang milenial dalam Jogja Cross Culture 2019. Dokumentasi Akun Instagram Marp65
Bagaimana wayang ukur yang dipentaskan pada Jogja Cross Culture? Disutradarai oleh Ki Catur Benyek Kuncoro, Jogja Cross Culture menghadirkan 7 dalang milenial. Beberapa dalang tersebut di antaranya Fani Rickyansyah (dalang utama), Ganesh Risanghastho, Bayu Aji Nugraha, dan Bayu Probo. Adapun dalang utama di atas panggung diwakili Fani Rickyansyah. Kisah kehidupan Gatotkaca dalam lakon Kancing Jaya mewarnai kelir pada pentas wayang ukir itu. Kancing Jaya sendiri merupakan nama lain dari Gatotkaca.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan para dalang untuk mementaskan wayang ukur dalam Jogja Cross Culture? 

"Persiapannya kurang lebih dua bulan." Tutur Fani Rickyansyah dalam sebuah sesi wawancara.

Ricky saat ini tengah menempuh pendidikan pascasarjana di ISI Surakarta. Dalang milenial satu ini bercerita kepada saya bahwa ia menyukai seni wayang sejak usia 7 tahun. Ricky serius belajar mendalang ketika duduk di bangku SMA. Dalang favorit yang menjadi inspirasi Ricky hingga hari ini adalah Ki Purbo Asmoro.
Fani Rickyansyah, dalang utama dalam Jogja Cross Culture 2019. Dokumentasi Fani Rickyansyah.
Ilustrasi Denah Benteng Keraton Yogyakarta beserta 5 Plengkung/Gerbang Masuk dan 4 Bastion. Sumber : KratonJogja.id
Minggu, 4 Agustus 2019

Historical Trail Jeron Journey bisa dibilang sebagai wisata atau jelajah lokasi-lokasi yang ada dalam Jeron Beteng (dalam benteng), yang merupakan bagian dalam kawasan tembok pertahanan Keraton Yogyakarta. Benteng yang dimaksud adalah Benteng Baluwerti. Di Benteng tersebut terdapat 5 gerbang masuk atau lebih dikenal dengan istilah plengkung (gerbang dengan pintu melengkung). Kelima gerbang tersebut yakni, Plengkung Nirbaya, Plengkung Tarunasura, Plengkung Jagasura, Plengkung Jakabaya, dan Plengkung Madyasura.

Benteng Baluwerti merupakan bangunan tinggi nan kokoh seluas 5 km persegi yang berfungsi menjaga keamanan Keraton Yogyakarta terhadap serangan musuh. Jatuhnya peluru laksana hujan, Benteng Baluwerti didirikan oleh Pangeran Adipati Anom (Putra Mahkota Sri Sultan Hamengku Buwono I) sebagai reaksi keras dibangunnya Benteng Vrederburg oleh Pemerintah Hindia Belanda pada saat itu (tahun 1760). Masa pengerjaan Benteng Baluwerti dimulai dari tahun 1785 hingga 1787. Benteng ini diperkuat kembali pada tahun 1809 ketika Sang Putra Mahkota naik tahta menggantikan kedudukan ayahanda dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Para penjelajah yang tergabung dalam Historical Trail Jeron Journey diwajibkan memakai baju bertema perjuangan atau baju tradisi. Harus berkelompok, satu kelompok terdiri dari 5 anggota. Setiap kelompok nantinya akan menyusuri pos-pos yang ada di dalam kawasan benteng. 
Foto Bersama Sebelum Diunggah di Instagram (Tim Blogger Jeron, Saya Berjilbab Hijau). Dokumentasi Arry Wastuti
Berswafoto. Saya (Berjilbab Hijau) dan Tim GENPI Jogja yang memakai baju bertema perjuangan. Dokumentasi Pribadi
Dengan mengenakan baju tradisi, kelompok lain foto bersama sebagai bahan unggahan di instagram. Dokumentasi pribadi
Kelompok kami kebetulan terdiri dari 5 blogger, saya menyebutnya Tim Blogger Jeron. Koordinator tim Blogger Jeron adalah Sapti Nurul, dengan anggota saya, Arry Wastuti, Mida, dan Ika. Ika merupakan anggota termuda karena masih kuliah di semester 5. Milenial satu ini hobi banget berswafoto dan menghasilkan foto yang ciamik. 

Berfoto dalam bentuk foto biasa atau swafoto sangat penting ketika mengikuti Historical Trail Jeron Journey. Nantinya setiap tim harus mengunggah foto di instagram, tak lupa memberi tag @jogjacrossculture dan @dinaskebudayaankotajogja disertai hastag #JogjaDay #JeronJourney #JogjaCrossCulture #JogjaBudaya. Ada hadiah menarik untuk foto terbaik.

Kami diberi amplop oleh panitia. Amplop tersebut berisi kertas pertanyaan dan alat tulis. Ada 10 pos yang harus kami lalui. Di pos pertama, semua tim harus menjawab soal, baru diijinkan berjalan meniti pos berikutnya, pos kedua. Adapun pertanyaan di pos pertama, "Siapa nama kecil Sultan Yogyakarta dari Pertama hingga kini?" Sobat milenial bisa menjawabnya lengkap?

Setelah selesai menjawab, kami bergerak ke pos berikutnya. Menuju pos 2, kami mendapat penugasan untuk menulis lengkap teks proklamasi dan berfoto di Plengkung Wijilan untuk kemudian diunggah di instagram. Plengkung Wijilan acapkali disebut Plengkung Tarunasura. Disebut Plengkung Wijilan karena letak plengkung tersebut di kawasan Kampung Wijilan. Dulu di Plengkung ini banyak prajurit muda yang berjaga di sekitar benteng. Plengkung Wijilan saat ini terbuka untuk umum. Di kawasan ini sobat milenial bisa traveling sambil menikmati wisata kuliner yang sangat tersohor di Jogja, apalagi kalau bukan gudeg. Asal kamu tahu, Gudeng Wijilan sangat terkenal karena kelezatannya.
Tim Blogger Jeron Sudah Tiba di Plengkung Wijilan atau Tarunasura. Dokumentasi Arry Wastuti
Penugasan di pos 2 berhasil kami lalui dengan mulus. Kami kemudian bergegas menuju pos 3. Pertanyaan untuk pos ketiga, "Tulis Teks Prasasti yang terdapat dalam Benteng yang Hilang." Benteng yang hilang? Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya menyusuri kawasan dalam Benteng Keraton Yogyakarta. Saya pun baru tahu kalau ada benteng yang hilang. Apa yang menyebabkan sebuah tembok pertahanan yang begitu kokoh hancur? Bagaimana bisa? Kapan hal itu terjadi? Beribu pertanyaan menerjang kepala. Saya tentu semakin dibuat penasaran. Tak berselang lama, kami tiba di lokasi di mana terdapat benteng yang hilang. Benteng hilang yang dimaksud merupakan benteng yang terletak di timur laut keraton dan kini sudah tidak ada lagi. Hancurnya benteng ini disebabkan oleh serangan pasukan Inggris pada peristiwa Geger Sepehi (Sepoy). Nama Sepehi (sepoy) berasal dari Pasukan Sepoy (prajurit bayaran dari India) yang diperintah Inggris untuk menyerang benteng pada tahun 1812. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibuatlah prasasti ini.

Berikut teks yang tertulis di Prasati Sepehi,
Reruntuhan ini adalah sisa-sisa Bastion Benteng Kraton Ngayogyakarta, hancur diserang Inggris tahun 1812 pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II. Peristiwa tersebut dikenal sebagai "GEGER SEPOY" atau "GEGER SPEI."
Jika kita perhatikan peta di awal, Benteng Baluwerti dikelilingi 5 gerbang masuk (plengkung) dan 4 bastion. Bastion itu semacam menara pengawas yang berfungsi mengintai musuh, bentuknya menyerupai tabung dengan lubang-lubang pengintai. Bagi warga Jogja, istilah bastion lebih dikenal dengan sebutan Pojok Beteng, disingkat Jokteng. Dari keempat bastion tersebut, satu bastion yang terletak di timur laut luluh lantak saat peristiwa Geger Sepehi, menyebabkan Plengkung Madyasura ditutup secara permanen. Kini, tiga bastion yang tersisa yaitu Jokteng Wetan, Jokteng Lor, dan Jokteng Kulon.

Dinamakan Geger Sepehi sebab peristiwa penyerangan tentara Sepehi tersebut terjadi secara tiba-tiba dan menggegerkan (mengguncang) Keraton Yogyakarta. Geger Sepehi memuntahkan luka, darah, air mata serta kehilangan harta dan nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Tak hanya itu, manuskrip atau naskah kuno keraton yang jumlahnya ribuan pun hilang. Dicuri dan dibawa lari ke Inggris. Yang tertinggal di keraton hanya 3 gulungan naskah saja. 
Prasasti untuk Mengenang Peristiwa Geger Sepehi. Dokumentasi Pribadi.
Dulu di Kampung Mangunegaran ini ada sebuah benteng yang kokoh. Hancur gegara pasukan Sepoy/Sepehi dari India. Dokumentasi pribadi
Dari arah benteng yang hilang, kami melanjutkan perjalanan menuju pos ke 4. Di pos 4 kami menjelajah dan diwajibkan mengunggah dua foto berbeda yang mengambil lokasi di sepanjang jalan Mantrigawen hingga Gamelan. Perlu diketahui Sobat Milenial, dulu di kawasan Mantrigawen ini merupakan tempat tinggal kepala pegawai keraton. Sedangkan kawasan Gamelan merupakan tempat tinggal abdi dalem yang bertugas mengurus kuda milik sultan dan keraton. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Untuk mengenang masa lalu, dibuatlah monumen patung serta prasasti berisi ucapan terima kasih kepada Abdi Dalem Gamel yang sudah mengabdi dan setia kepada Keraton Yogyakarta. Bahkan ketika perjuangan memperebutkan kemerdekan Indonesia, tak sedikit pejuang dari Kampung Gamelan ini yang berguguran atau wafat. Monumen ini diresmikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono X.
Monumen Pejuangan Gamel dengan Patung Kuda di Atasnya. Dokumentasi Pribadi
Swafoto bersama di depan Ndalem Gamelan untuk konten media sosial. Dokumentasi Arry Wastuti.
Pos 5 kita lewati saja karena pertanyaannya sangat mudah. Kami diminta menyebutkan 7 tokoh pemimpin Indonesia. Lanjut ke pos 6 ya. Di pos ini kami mendapat dua pertanyaan. Pertama, kami harus mencari makna "Sasono Inggil Dwi Abad." Kedua, apa arti "Dwi Naga Rasa Tunggal." Sasono Inggil Dwi Abad merupakan bangunan yang sengaja ditinggikan oleh Sultan Hamengku Buwana 1 dan terletak di Alun-alun Selatan. Sedangkan Dwi Naga Rasa Tunggal jika dibaca secara harafiah artinya (tahun) 1682, sebuah Candra Sengkala atau simbolisasi angka tahun dalam budaya Jawa. Candra artinya pernyatan, Sengkala adalah angka tahun (penanda waktu berwujud rangkaian kata yang memiliki makna bilangan-bilangan). Dwi menunjukkan angka 2, Naga angka 8, Rasa angka 6, dan Tunggal angka 1. Secara kaidah dibaca dari belakang angkanya. Jadi Dwi Naga Rasa Tunggal berarti 1682 bukan 2861. Tahun 1682 dalam kalender Jawa (1756 M) menunjukkan tahun mulai dihuninya Keraton Yogyakarta.
Menjawab pertanyaan mengenai Sasono Inggil Dwi Abad dan Dwi Naga Rasa Tunggal,
sebelum posting di media sosial . Dokumentasi Pribadi
Eksplorasi kawasan dalam Keraton Yogyakarta. Dokumentasi pribadi.
Dari pos 6 melompat ke pos 7. Mulai dari sini kami menyusuri sepanjang kawasan keraton untuk mencari tetenger atau penanda dalam bentuk prasasti. Tetenger tersebut merupakan tugu bertuliskan aksara jawa sebagai penanda bahwa setiap abdi dalem yang melewati daerah tersebut (Ndalem Perbaya) hendaknya berjalan kaki saja (tidak diijinkan menaiki sepeda atau kendaraan apapun). Sepeda harus dituntun jika melewati Ndalem Perbaya.
Penugasan di pos 8, posting foto di media sosial. Dokumentasi Pribadi
Di pos 8, kami diminta untuk foto berkelompok di depan Prasasti Ngejaman. Jangan lupa foto tersebut diunggah ke instagram, dibubuhi caption semenarik mungkin. Prasasti Ngejaman merupakan monumen berbentuk jam yang menjadi simbol persahabatan dan multikuralisme antara masyarakat Jawa, Tionghoa, dan Hindia Belanda pada masa itu. Prasasasti Ngejaman ditulis dengan aksara jawa dan dikukuhkan di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Prasasti Ngejaman, selain bernilai sejarah tinggi, juga bisa dijadikan sebagai penanda waktu bagi sobat milenial yang berniat traveling dan menjelajah Jeron Beteng Keraton Yogyakarta. Bagi kamu yang penasaran seperti apa wujud jam di Prasasti Ngejaman, lihatlah foto berikut.
Tim Blogger Jeron Foto Bersama di Depan Prasasti Ngejaman. Dokumentasi Arry Wastuti.
Tarik napas. Hembuskan dalam-dalam...

Sabar Sobat Milenial, kami hampir memasuki dua pos terakhir, pos 9 dan 10. Di pos 9, kami diminta untuk berfoto di antara Kyai Dewandaru dan Kyai Janadaru, lalu unggah ke instagram dengan caption semenarik mungkin. Kyai Dewandaru, Kyai Janadaru. Wah apalagi ini? Ada yang bisa menjelaskan siapa dua kyai tersebut?

Usut punya usut, Kyai Dewandaru dan Janadaru merupakan dua beringin kokoh yang menjulang di tengah-tengah Alun-alun Utara. Secara tersirat, Kyai Dewandaru memiliki makna filosofis dan simbolis sebagai hubungan spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta. Sedangkan Kyai Janadaru yang bermakna harafiah pohon manusia, melambangkan hubungan yang baik antarsesama manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.
Swafoto bersama Kyai Dewandaru dan Janadaru di Alun-alun Utara. Dokumentasi Arry Wastuti.
Jeng...jeng... Tibalah kami di pos terakhir, pos 10. Di pos ini kami kudu menunjukkan keseluruhan unggahan foto di instagram serta bercerita secara runtut mengenai perjalanan dari pos 1 hingga pos terakhir. Sudah itu saja.

Yay! Akhirnya kami bisa istirahat dan makan siang. Meski lelah, saya sangat puas dengan perjalanan menyusuri benteng dalam Historical Trail Jeron Journey ini.
Di kawasan Jeron Beteng. Unggah foto via instagram. Memanfaatkan media sosial untuk berbagi. Dokumentasi pribadi
Dari perjalanan 2 hari ini, dapat saya simpulkan bahwasanya Jogja Cross Culture bisa menjadi kegiatan wisata atau traveling yang mendukung milennial tourism. Hal tersebut bisa ditilik dari peserta Historical Trail Jeron Journey yang kebanyakan berasal dari kalangan milenial. Bahkan saya tak menyangka bahwa dalang-dalang dan pesinden dalam pementasan wayang ukur juga berasal dari generasi di era 90an ke atas, generasi jaman now. Selain itu, di era digital penggunaan berbagai platform media sosial dalam menyebarkan informasi sangatlah mendukung milennial tourism.

Dikutip dari Tempo.Co, sekitar 74% wisatawan yang masuk ke Indonesia menggunakan akses internet dan smartphone. Diprediksi 50% wisata Indonesia sudah didominasi oleh generasi milenial. Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam paparan The Future of Tourism in Indonesia di Kolega X Markplus menyatakan bahwasanya 50% dari milenial tersebut memanfaatkan teknologi digital ketika membagikan (sharing) aktivitas travelingnya. Arief Yahya menambahkan bahwa Indonesia saat ini sedang bertransformasi menuju Tourism 4.0 yang pastinya go digital. Apalagi terjadi perubahan perilaku pasar di mana para wisatawan memanfaatkan momen untuk berbagi di media sosial. Spanyol merupakan contoh negara yang bagus dalam mengembangkan pariwisata di era digital. Untuk mendukung Tourism 4.0, Spanyol mengembangkan ekosistem pariwisata digital mulai dari mencari inspirasi berwisata, perjalanan, hingga destinasi wisata digital.

Bagaimana dengan Indonesia? Tak mau kalah, Kementerian Pariwisata meluncurkan GENPI atau Generasi Pesona Indonesia. Genpi berisi anak muda yang memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti youtube, twitter, facebook, blog, dan instagram untuk mempopulerkan destinasi wisata digital. Contoh destinasi wisata digital di Jogja yakni Pasar Kaki Langit dan Kebun Teh Nglinggo. Genpi Jogja pun turut menjadi bagian dari Jogja Cross Culture 2019. 
Para milenial yang tergabung dalam GENPI JOGJA sangat mendukung Jogja Cross Culture 2019.
 Dokumentasi pribadi
Di era digital, milenial sangatlah adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi, termasuk
sharing aktivitas di berbagai platform media sosial. Dokumentasi pribadi
Eksplorasi dan Jelajah Benteng Keraton dalam Jogja Cross Culture sangatlah cocok sebagai ajang Milennial Tourism.
Dokumentasi Diyah Prabawani
Mari kita dukung Yogyakarta sebagai bagian dari kota budaya dunia. Menjelajahlah. Bertualanglah. Go Digital. Sebarkan berita positif via media sosial di mana pun sobat milenial berada. Kalau bukan kita yang menjaga tradisi, mengukuhkan nilai sejarah, dan melestarikan budaya bangsa, lantas siapa lagi? Maju terus industri pariwisata Indonesia, berkontribusilah di dalamnya!

Dari milenial, oleh milenial, dan untuk milenial. Sampai jumpa di Jogja Cross Culture 2020!

Referensi Pendukung.

1. Pengembangan Industri Wisata 4.0 Tarik Turis Milenial, Katadata.co.id

2. Wisatawan Milenial, Inilah Kunci Sukses Pariwisata di Era Digital, Tempo.co.

3. Geger Sepehi dan Jatuhnya Keraton Jogja, Kratonjogja.id.

4. Candra Sengkala, Simbolisasi Angka Tahun dalam Budaya Jawa oleh Ryan M, Kompasiana.com.

5. Maestro Wayang Ukur, Sigit Sukasman, Tokoh.id/Biografi.

6. Benteng Baluwerti, Kratonpedia.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar