Sabtu, 13 Juli 2019

Impresiku Saat Mencoba Produk Natur Hair Care (Natur Hair Mask Lidah Buaya)

Saya mengenal Natur sudah cukup lama. Semenjak SMP kalau tidak salah. Pada saat itu rambut ibu saya banyak rontoknya. Tergiur iklan di TV, ibuku mencoba produk Natur. Digunakanlah Natur secara teratur semenjak saat itu. Yang dirasakan ibuku setelah mencoba Natur, rambutnya yang rontok semakin berkurang.

Belasan tahun selanjutnya saya berkesempatan hadir di acara Hair Beauty Dating & Sharing Session Natur X Blogger Jogja. Saya penasaran, bagaimana acara tersebut nantinya? Apakah Natur mengeluarkan varian baru? Nanti, satu per satu pertanyaan bakalan terjawab. Oh ya selain diperkenalkan dengan berbagai produk Natur, pada kesempatan kali ini, kita belajar mengenai optimasi blog bersama blogger kece, Ibu Indah Juli. Apa sih optimasi blog? Ringkasnya bagaimana memonetisasi blogmu agar menghasilkan pundi-pundi receh.
Bong Kopitwon ramai. Dokumentasi pribadi
Contoh produk perawatan rambut by Natur. Dokumentasi pribadi
Natur Shampoo. Dokumentasi pribadi
Natur Hair Tonic. Dokumentasi pribadi.
Mengenal Varian Natur. Natur Hair Mask Lidah Buaya
Klaim produk.

Berbeda aku, berbeda pula ibuku. Jika rambut ibuku rontoknya banyak. Rambutku rontoknya sedang, bisa dibilang sedikit. Tapi...ada tapinya lho. Rambutku mudah kucel. Makanya aku kudu sering shampooan. Apalagi aku pakai jilbab, kadang gerah dan kurang nyaman. Rambutku jadi mudah lepek. Jadi, yang aku lakukan setelah keramas adalah mengeringakannya dengan handuk, menyisirnya, lalu membiarkan rambutku kering terlebih dahulu, terakhir kenakan jilbab.

Aku bener-bener butuh produk perawatan rambut deh kayaknya. Bukan hanya shampoo, conditioner, tetapi bisa juga hair tonic, vitamin, ataupun hair mask. Kali ini aku penasaran dengan hair mask-nya Natur. Oh ya, Hair Mask Natur ini mengandung ekstrak lidah buaya yang tentunya bagus buat rambut. Manfaat lidah buaya bagi rambut selain menutrinya adalah membuat rambut subur, halus, lebat, hingga mudah diatur. Pilih yang alami. Alami emang lebih baik.

Tiap komposisi Natur Hair Mask kemasan sachet ini mengandung Cetearil alkohol, Lauril Glucoside, Behentrimonium chloride, Cyclopentasilaxone, Aloe barbadensis extract, oil, fragrance, Lanolin, Dimethiconol, Panthenol, Glyceryl stearate, Lysine HCl, Cetyl Palmitate, Potasium sorbate, dan sodium benzonate.

Cara pakainya : setelah keramas usapkan Natur Hair Mask hingga merata pada helaian rambut. Pijat rambut mulai dari pangkal hingga ujungnya. Diamkan selama 1-2 menit. jika dirasa sudah cukup bilas dengan air sampai bersih. Gunakan satu kali dalam seminggu atau sesuai kebutuhan. praktis bukan?

Pengalaman aku mencoba Natur Hair Mask Aloe vera.

Sebelum aku menggunakan produk ini, aku mencoba Natur Shampoo, kemudian gunakan Hair Mask Natur. Setelah itu saya menyemprotkan Natur Hair Tonic hingga menyeluruh. Selesai dah.

Begini impresiku saat mencoba Natur Hair Mask Aloe vera. Dari segi bau, wanginya sangat menyegarkan menurut aku. Masih berasa wanginya bahkan setelah dibilas dengan air. Dari segi tekstur, bagaimana ya aku menjelaskannya. Teksturnya lembut, gak terlalu kental. Warnanya putih. Ketika diaplikasikan, rambut jadi terasa lebih lembut. Pakai jilbab pun jadi enak. Rambut berasa lebih ringan.
Begini penampakan Natur Hair Mask Aloe Vera. Dokumentasi pribadi
Natur Hair Mask Aloe Vera produksi PT Gondowangi ini sudah tersertifikasi halal lho dan memiliki ISO 9001 Certified Company. Jadi gak perlu khawatir soal bahan-bahan yang ditakutkan tidak halal. Karena produk ini pastinya sudah lolos berbagai macam uji sebelum dilempar ke pasar.

Saran saya untuk kamu yang benar-benar ingin merawat rambut agar tetap sehat dan kuat, pertama carilah produk perawatan rambut dari brand terkenal (seperti Natur). Berikutnya, carilah produk yang mengandung bahan-bahan alami serta berkualitas (misal Natur Hair Mask Aloe vera). Ketiga, rajin-rajinlah merawat rambut, maksudnya jangan biarkan rambutmu kucel, enggak dikasih samphoo hingga berminggu-minggu. Itu mah jorok ya gengs. Terakhir, cari produkperawatan rambut yang mudah ditemui di mana-mana. Jika kamu malas keluar rumah, kamu tinggal tap-tap smartphonemu dan beli di marketplace seperti Shopee. Bisa juga kunjungi media sosial Natur untuk mengetahui info lebih lanjut. Follow ya Instagram serta fanspage Natur.

Semoga harimu menyenangkan. Bye-bye! See Ya Next Time!

Wow Seru! Adu Cerdas pada Lomba Kompetensi Siswa SMK 2019 di Yogyakarta

Saking semangatnya saya datang ke Sportorium UMY terlalu pagi. Pukul 10.13 saya sudah di lokasi. Padahal acara pembukaannya baru dimulai pukul 09.00 WIB. Pada hari itu tengah berlangsung Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK ke-27 di Yogyakarta. Yogyakarta terpilih sebagai tuan rumah pada kesempatan kali ini. Tahun sebelumnya kompetisi LKS berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Oh ya gaes LKS 27 ini berlangsung selama seminggu dari tanggal 7 hingga 13 Juli 2019 dan diikuti 759 peserta.
Ada yang tahu atau pernah dengar LKS sebelumnya? Jangan-jangan ada yang pernah menjadi peserta atau jawara? Berdasarkan Wikipedia, Lomba Kompetensi Siswa (LKS) merupakan kompetisi tahunan pada jenjang siswa SMK sesuai keahlian yang diajarkan pada SMK peserta. Jika pada jenjang SMA, ajang kompetisi bergengsi itu bernama OSN (Olimpiade Sains Nasional), maka pada jenjang SMK ada LKS. Pemenang LKS tingkat nasional nantinya akan bertanding lagi di World Skill Internasional Competition. Pada tahun ini, World Skill Internasional Competition berlangsung di Kazan, Rusia. Wow! Tahun lalu, delegasi Indonesia meraih 6 emas pada kompetisi World Skill Asia di Abu Dhabi. Raihan ini sekaligus mengantarkan Indonesia menjadi juara umum di tingkat Asia.

Apa perbedaan LKS tahun ini dengan tahun 2018? Tema LKS tahun lalu adalah "Generasi Muda Zaman Now yang Berkompeten dan Berkarakter, adapun tema tahun ini "Kompeten Menyongsong Revolusi Industri 4.0." Tahun lalu ada 56 bidang yang dilombakan, tahun ini jumlahnya berkurang menjadi 32. Meskipun demikian tingkat keikutsertaan peserta naik secara signifikan sebesar 30% (Sumber : Suara.com). Tahun lalu DKI Jakarta menjadi juara umum, tahun ini penghargaan tersebut jatuh pada Propinsi Jawa Tengah. 
Tidak hanya kompetisi, ajang LKS 2019 memiliki rangkaian kegiatan pendukung seperti workshop, pameran, fashion show, job matching, dan Gerakan Literasi Sekolah. Workhopnya keren-keren. Misal nih, ada workshop Beauty Therapy dengan narasumber dari Sari Ayu Martha Tilaar, workshop hairducation bersama L'Oreal, dan Apple Academy bersama Apple.

Baik, Saya cerita prosesi pas opening ceremony ya, sebab saya meliput di lokasi. Sudah diceritakan di awal saya datang terlalu pagi. Saya berangkat dari kosan jam 06.29 WIB. Tiba sekitar jam tujuh lewat beberapa menit. Setiba di lokasi, ternyata sudah banyak siswa dan pendamping yang berkumpul. Banyak pula pedagang marchendise yang menyiapkan lapaknya.

Saya sempat mendokumentasikan peserta atau delegasi dari Propinsi Bali. Baik siswa maupun guru pendamping mengenakan batik merah. Berikut fotonya. 
Delegasi Bali. Dokumentasi pribadi.
Selain Propinsi Bali, Kontingen Gorontalo tak kalah keren dengan pakaian adat khas daerahnya yang berwarna kuning. Berikutnya ada kontingen dari Aceh
Delegasi Gorontalo. Dokumentasi pribadi
Delegasi Aceh. Dokumentasi pribadi
Sekitar pukul 08.30 saya dan rekan-rekan blogger yang bertugas memasuki gedung Sportorium UNY. Saya naik ke lantai atas. Musik berdentum dengan kerasnya. Kami dihibur dengan penampilan orkestra tiup dari SMK 2 Kasihan Bantul. SMK 2 Kasihan Bantul lebih dikenal sebagai SMK musik. Sekolah Kejuruan Menengah satu ini sudah banyak memborong prestasi di bidang seni dan musik melalui berbagai kompetisi dan juga festival seni atau musik. Sekolah ini kerapkali diundang di bermacam acara baik tingkat lokal, maupun nasional (misal LKS SMK tingkat nasional 2019).
Orkestra Tiup SMK 2 Kasihan Bantul. Dokumentasi pribadi.
Pulang ke kotamu...
Ada setangkup haru dalam rindu.
Masih seperti dulu.
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna...

Ada yang tahu judul lagu tersebut apa? Yups, Yogyakarta. Selanjutnya SMK 2 Kasihan Bantul mempersembahkan lagu yang dipopulerkan oleh KLA Project. 
Wow! Saya nilai pembukaan LKS 2019 seru! Petjah deh. 
Nyanyi lageeee. Dokumentasi pribadi
Selanjutnya kita memasuki babak kompetisi. Kompetisi berlangsung selama 2 hari berlokasi di Jogja Expo Center dan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Selepas sesi kompetisi berakhir ada berbagai macam acara di JEC, seperti misalnya job matching. Job matching ini sangat menarik perhatian para job seeker lulusan SMK. Berdasarkan PSMK Kemdikbud, pelaksanaan job matching bertujuan untuk mempertemukan lulusan SMK dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Informasi yang didapat juga lebih baik pada saat job matching. 
Fashion show. Foto : Primastuti Satrianto
Suasana pameran. Wow pecah. Foto : Primastuti Satrianto
Tegang saat kompetisi. Foto : Primastuti Satrianto
Sambutan hangat di stan. Foto : Primastuti Satrianto
Baiklah. Inilah saatnya yang dinanti-nanti, apalagi akalau bukan pengumuman pemenang. 

Saya hanya menyebutkan beberapa SMK yang masuk 3 besar pada ajang LKS 2019.

  • Kategori prototype modelling diraih oleh : juara 1 (SMKN 1 Purworejo), juara 2 (SMKN 2 Wonosari), dan juara 3 (SMKN 2 Bandar Lampung).
  • Kategori mobile robotic diraih oleh : juara 1 (SMK Tunas Harapan Pati), juara 2 (SMK Lebak Gedong), juara 3 (SMKN 1 Kepanjen).
  • Kategori industrial control diraih oleh : juara 1 (SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen), juara 2 SMK 1 Batam), juara 3 (SMKN 1 Adiwerna).
  • Kategori automobile technology diraih oleh : juara 1 (SMKN 3 Kendal), juara 2 (SMKN 1 Mojokerto, juara 3 (SMKN 7 Palembang).
  • Kategori autobody repair diraih oleh : juara 1 (SMKN 2 Salatiga), juara 2 (SMKN 1 Magetan), juara 3 (SMKN 2 Pekanbaru).
  • Kategori marketing online diraih oleh : juara 1 (SMK Kristen Emmanuel Pontianak), juara 2 (SMKN 23 pademangan), juara 3 (SMKN 12 Tangerang).

Selain kategori/bidang lomba yang dikompetisikan, stan terbaik juga ikut diperlombakan. Nah sampai di sini dulu ya gaes. Tak lupa saya berikan ucapan selamat kepada seluruh pemenang adu cerdas LKS 2019. Semoga bisa menjadi yang terbaik di level selanjutnya, tingkat internasional.

See ya!

Akun Media Sosial Dikdasmen Kemendikbud :

1.   Twitter: https://twitter.com/DikdasmenDikbud

2.  Instagram: https://www.instagram.com/dikdasmen_kemdikbud/

Rabu, 10 Juli 2019

Mengukir Mimpi Saintis Muda di Ajang OSN 2019

Banyak momen berkesan di tahun ini. Salah satunya ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2019 yang diselenggarakan di dua propinsi sekaligus secara serentak (bersamaan). Dua propinsi tersebut meliputi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Sulawesi Utara. Propinsi DIY menjadi tuan rumah OSN SD dan OSN SMP 2019, adapun Sulawesi Utara (Manado) menjadi penyelenggara OSN SMA 2019. Yang paling membahagiakan adalah saya diberi kesempatan untuk meliput kegiatan OSN tersebut. Ini benar-benar momen berkesan sekaligus tak terlupakan. 

Dulu saya pernah menjadi peserta OSN SMP, sekarang saya malah membuat liputan khusus tentang jalanya OSN SMP 2019. Ulalala, saya berasa nostalgia. Saya merasakan atmosfer kebahagiaan sekaligus ketegangan dari para peserta. Para peserta merupakan siswa-siswi yang lolos seleksi di tingkat propinsi yang kemudian bertanding di tingkat nasional. Ini belum berakhir lho, sebab nantinya para siswa yang lolos seleksi di tingkat nasional akan dikarantina untuk berlaga di tingkat internasional. Menegangkan menurut saya, karena soal-soal dan konsep yang diujikan untuk para peserta berbeda dari soal pada umumnya. Tentu soal tersebut lebih sulit beberapa tingkat dari soal UTS, UAS, atau UN. Meskipun demikian, saya melihat rona bahagia dari raut wajah para peserta. Apalagi peserta yang datang bukan dari Pulau Jawa. Mereka sangat excited. Anak-anak tersebut berkenalan dengan rekan mereka dari berbagai daerah, saling tukar budaya, bahkan saat closing ceremony, peserta OSN SMP diminta mengenakan pakaian khas dari daerahnya masing-masing.
Peserta OSN dari Propinsi Riau. Dokumentasi pribadi
Ivana @ivanahuse (berjilbab) dann Putri @mariannemangimbulude (berkacamata). Peserta OSN SMP dari Maluku Utara
"Semoga kita bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Propinsi kita Maluku Utara dan menjadi Jawara." (Pungkas Ivana dan Puteri di sela-sela pembukaan OSN SMP 2019)
Semarak Pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP 2019 di Kota Pelajar, Yogyakarta

Untuk kali ke sekian, Yogyakarta terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara OSN, yakni OSN SMP dan OSN SD 2019. Jumlah siswa yang berpartisipasi di ajang OSN SMP 2019 yakni 408 peserta, terdiri dari 136 siswa peserta bidang IPA, 136 siswa peserta bidang IPS, dan 136 peserta bidang matematika. Adapun jumlah peserta OSN SD mencapai 272 siswa pada bidang IPA dan matematika. Berikutnya adalah OSN SMA. Untuk OSN SMA diselenggarakan di Manado ya pemirsa sudah disebutkan di awal. Nah, jumlah siswa yang berpartisipasi di OSN SMA totalnya ada 685 siswa. Ada 9 bidang lomba untuk kategori OSN SMA. Kesembilan bidang tersebut meliputi bidang matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, astronomi, kebumian, geografi dan ekonomi). Karena saya tidak meliput OSN SMA dan SD, maka fokus artikel saya lebih banyak pada OSN SMP saja. 
Buku panduan OSN SMP 2019. Dokumentasi pribadi
Perlu diketahui Gengs, ajang OSN merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjaring siswa-siswi yang berbakat serta memiliki prestasi di bidang sains. Dengan demikian, dapat dikatakan OSN sebagai ajang untuk mengukir mimpi saintis muda. Sesuai dengan temanya: "Mencintai Sains, Mengukir Masa Depan." Gelaran OSN kali ini merupakan OSN yang ke-18 dan dilaksanakan mulai tanggal 30 Juni hingga 6 Juli 2019. Pembukaan OSN SD berlangsung di The Rich Hotel, sedangkan OSN SMP berlangsung di Hotel Alana. Pelaksanaan kompetisi OSN SMP dibagi di 2 tempat yakni Universitas Negeri Yogyakarta (bidang IPA dan IPS) serta SMP 8 Yogyakarta (bidang matematika). Pelaksanaan kompetisi OSN SD berlokasi di The Rich Hotel.
Para peserta OSN SMP menuju ballroom. Dokumentasi pribadi
Saya tiba di venue (Hotel Alana) sekitar jam 7 pagi. Di sana sudah ada 2 blogger yang datang lebih awal dari saya, Agi Tiara dan Mak Lusi. Kami bertiga kemudian menuju ballroom yang terletak di lantai 2. Beberapa rombongan yang terdiri dari sekelompok siswa dan para pendamping bersiap-siap memasuki ballroom. Panitia pun sibuk berkoordinasi satu sama lain. Penjagaan selama opening ceremony berlangsung cukup ketat. Orangtua yang datang jauh-jauh tak boleh memasuki ballroom. Saya menyaksikan cukup banyak orangtua siswa yang hadir di acara ini. Mereka dengan sabar menunggu di bagian luar. Hanya peserta, pendamping, panitia, dan media yang boleh memasuki ruangan. Menyaksikan antusias para orangtua uang turut hadir mendampingi anak-anaknya berkompetisi membuat hati saya meleleh. Nyesss gitu di dada. 
Penataan stage yang bagus. Dokumentasi pribadi
Satu-persatu peserta memasuki ballroom. Dokumentasi pribadi
Sembari menunggu peserta dan pendamping memasuki ruangan, MC melakukan ice breaking barang sejenak. Beberapa saat kemudian kami semua diminta menyanyikan lagu Indonesia, dilanjut Mars OSN. Pada kesempatan ini, kita kedatangan bintang tamu spesial, seorang penyanyi berbakat yang berhasil menjadi juara 3 The Voice Season 1, siapa lagi kalau bukan Tasya. Tidak hanya itu, opening session menjadi semakin semarak karena salah satu peserta -Edmond- dengan pedenya maju di atas panggung untuk berduet dengan Tasya. Edmond merupakan peserta bidang IPA dari Propinsi Maluku. Suaranya bagus gaes. Bisa seimbang dengan Tasya. Wah ternyata ada juga ya peserta yang enggak hanya jago di sains, tapi juga jago tarik suara.
Edmon duet dengan Tasya. Dokumentasi pribadi.
Persembahan Tari Pancarupa dari SMP 5 Yogyakarta. Dokumentasi pribadi
Pengumuman Pemenang dan Pembagian Medali

Setelah berjuang mengerjakan soal demi soal. Akhirnya hal yang dinanti-nanti pun datang juga. Apalagi kalau bukan pengumuman pemenang. Total medali yang diperebutkan berjumlah 90, terdiri atas 45 medali perunggu (masing-masing 15 medali  bidang IPA, IPS, dan matematika). 30 medali perak (masing-masing 10 medali bidang IPA, IPS, dan matematika), dan 15 medali emas ( masing-masing 5 medali bidang IPA, IPS, dan matematika). Medali terbanyak diperoleh Propinsi Jawa Barat dengan total 16 medali (2 emas, 8 perak, dan 6 perunggu), diikuti Propinsi DKI Jakarta dan Jawa Tengah dengan perolehan 13 medali, disusul Propinsi Jawa Timur dengan 12 medali. Peraih medali emas memperoleh sertifikat dan beasiswa sebesar 5 juta rupiah. Peraih medali perak dan perunggu juga memperoleh sertifikat serta beasiswa masing-masing sebesar 4 juta dan 3 juta rupiah. Peraih best theory dan best experiment mendapatkan beasiswa sebesar 2,5 juta rupiah. Tidak hanya para jawara yang mendapatkan hadiah uang tunai, semua peserta mendapatkan beasiswa bakat dan prestasi masing-masing senilai 3 juta rupiah. Mantap kan? 
Pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Dokumentasi pribadi.
Saya ucapkan selamat kepada para jawara. Bagi kalian yang belum menang, jangan berkecil hati ya. Ajang OSN 2019 menang sudah berakhir. Namun, bukan pula akhir dari mimpi dan perjuangan para saintis muda. Kalian masih muda. Bagi saya, kalian semua adalah para juara. Masih banyak cara untuk mengukir mimpi dan menata masa depan. 

Saintis Muda, Semangat!



Akun media sosial Dikdasmen Kemendikbud:

1.   Twitter: https://twitter.com/DikdasmenDikbud

2.  Instagram: https://www.instagram.com/dikdasmen_kemdikbud/

Selasa, 02 Juli 2019

Mari Hidup Sehat dengan GERMAS, Cegah Penyakit Tidak Menular (PTM)

Kamu suka mengonsumsi minuman kemasan atau minuman murah yang sering dijajakan di sekitar sekolah? Kamu sering membeli minuman bersoda sebagai solusi pelepas dahaga? Kamu suka beli es teh di pinggir jalan? Terlalu sering ngemil gorengan, bahkan hampir setiap hari? Makan mie instan mulu? Doyan banget dan acapkali kulineran jeroan, daging, lemak, dan produk olahannya? Setelah membaca tulisan ini, saya berharap kamu mampu menghentikan kebiasan tersebut. Dua kisah berikut (based on true story) setidaknya membuat kamu menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan tubuh supaya terhindar dari Penyakit Tidak Menular (PTM)

Mari kita simak kisah mereka...

Seharusnya bocah itu bisa dengan leluasa bermain bersama kawan-kawannya. Ikut belajar di kelas dan sekadar mengerjakan PR biar tidak menumpuk. Seharusnya bocah itu bisa tertawa lepas, berkejar-kejaran menangkap layangan atau berburu belut di sawah. Seharusnya... tapi nyatanya tidak. Di usianya yang begitu belia, bocah itu divonis oleh dokter menderita obesitas ekstrem (severe obesity). Kasus yang jarang terjadi di Indonesia. Saat umur 10 tahun, berat badan bocah itu mencapai 192 kg (tahun 2016). Umur 10 tahun lho dengan berat 192 kg, kalau kata Syahrini, "sesuatu sekali." Sesuatu dalam artian ekstrim, sangat tidak normal. 

Ada yang tahu nama bocah itu? Yups, dia adalah Arya Permana, bocah kelahiran Karawang, 15 Februari 2006. Arya terpaksa berhenti (sementara) dari sekolah saat kelas 3 SD semester pertama. Padahal Arya tergolong siswa pintar, sebab Arya selalu menjadi juara kelas dari kelas 1 hingga kelas 2. Kegemukan ekstrim benar-benar sangat mengganggu aktivitas harian Arya. Arya bahkan tidak mampu berjalan ke sekolahnya yang jaraknya hanya 50 meter. Lima puluh meter pemirsa. Bayangin sedekat itu jaraknya. Arya hanya bisa terbaring di ranjang, tidak berbaju hanya berselimut sarung.

Ayah Ibu Arya berat badannya normal. Tidak ada tanda-tanda obesitas ekstrim yang diturunkan dari kedua orangtunya. Menurut penuturan sang ayah yang saya kutip dari Kompas, Arya pada awalnya normal seperti anak-anak yang lain. Namun,menjelang usia 5 tahun Arya gemar mengonsumsi minuman kemasan. Saya kutip dari Kompas TV, ilustrasinya begini, satu gelas minuman kemasan yang dikonsumsi Arya mengandung 70 kalori dan juga lebih dari 17 gram karbohidrat. Dalam sehari Arya bisa menghabiskan 20 gelas minuman kemasan. Itu kira-kira setara dengan 11 piring nasi. Selain konsumsi minuman kemasan, Arya juga doyan mengonsumsi mie instan. Satu kemasan mie instan mengandung 54 gram karbohidrat. Dalam sehari Arya mampu mengonsumsi 12 bungkus mie instan. Itu kira-kira setara dengan 21 piring nasi. Tidak hanya itu, Arya pun doyan ngemil jajanan. Menurut penelitian tim dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, konsumsi rata-rata Arya mencapai 6000 kalori atau setara dengan 24 piring nasi. Hmmm...

Kasus kedua masih berhubungan dengan obesitas. Adalah Yudi Hermanto, penderita kegemukan ekstrim yang lain. Seperti halnya Arya, Yudi pun berasal dari Karawang. Pria berusia 33 tahun tersebut memiliki bobot ekstrim hingga 310 kg. Pada tahun 2016, berat badannya mencapai 110 kg. Namun tahun 2017, berat badan Yudi meningkat secara ekstrim yakni mencapai 310 kg. Artinya dalam setahun bobotnya bertambah sekitar 2 kali lipat (lebih dari 200 kg). wow!

Yudi bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan katering yang cukup terkenal di daerah Karawang. Yudi bekerja di shift malam. Setiap malam Yudi mendapat sisa makanan (pesanan katering) dari sopir katering. Makanan tersebut kaya akan lemak, karbo, dan daging-dagingan (ikan, sapi, ayam). Seperti itu setiap harinya. Hal ini membuat timbunan lemak dalam tubuh bertambah yang mengakibatkan pada kenaikan berat badan. Tak terkendali. 

Pada tahun 2017, Rudi dirawat secara intensif di RSUD Karawang. Yudi mengeluh sering sesak dan ngilu di daerah dada. Setelah mandi Yudi mengalami kejang-kejang, penyakit jantungnya kambuh. Namun sayang, saat tim medis datang ke ruangan, nyawa Yudi tidak sempat terselamatkan. Yudi menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 10 Desember 2017.

Berbeda dengan Yudi, bagaimana dengan kondisi Arya kini? Arya dapat dikatakan sebagai pasien severe obesity yang berhasil menurunkan berat badannya karena latihan yang intensif, pengendalian pola makan (diet super ketat), serta operasi bariatrik (penyempitan lambung). Dari semula 192 kg menjadi 83 kg. Mengutip Detik Health, operasi bariatrik berperan signifikan dalam upaya menurunkan berat badan Arya. Prosedurnya adalah dengan memotong atau mengurangi kapasitas lambung pada penderita obesitas ekstrim. Hal ini nantinya berpengaruh pada turunnya nafsu makan berlebih alias apa-apa dimakan (overeating) dan juga eating behaviour (yang tadinya makan 6 kali sehari berubah menjadi 2-3 kali sehari). Arya mendapat binaan langsung dari binaragawan Ade Rai plus fasilitas olahraga di gym untuk menurunkan berat badan. Arya sering melakukan angkat barbel Banyak gerak. Banyak melakukan aktivitas fisik. Tahun 2019 ini Arya sudah duduk di bangku SMP.

Kalau sudah berada di level ekstrim seperti ini pasti biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Baik Arya maupun Yudi sama-sama berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Yudi apalagi, meskipun menderita obesitas ekstrim, Yudi enggan memeriksakan kondisi tubuhnya. Sebab Yudi tak sanggup membayar tagihan dokter dan biaya rumah sakit. Untungnya dinas kesehatan Karawang mau membantu meringankan beban biaya yang ditanggung Yudi. Adapun Arya, operasi bariatriknya saja menelan biaya yang jelas tidak sedikit. BPJS menanggung biaya rumah sakit selama perawatan sebulan. Biaya lain-lain seperti uji laboratorium ditanggung oleh Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Karawang (sumber : Liputan6.com).

Dulu, orangtua saya pernah bilang ke saya bahwasanya Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke, obesitas (ekstrim), dan hipertensi merupakan penyakit "orang-orang kaya." Namun ternyata, seiring berjalannya waktu, saya justru mendapati bahwa orang-orang dari keluarga miskin juga mampu menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) ini. Lho kok bisa? Justru keluarga berpendapatan menengah ke bawah membelanjakan uangnya untuk membeli makanan murah lagi tidak sehat. Gorengan per biji lima ratusan dengan minyak goreng sisa kemarin misalnya. 

Orang berpendapatan menengah ke atas kini mulai sadar akan gaya hidup sehat (healthy lifestyle). Bisa dilihat dari munculnya makanan vegan, penganan rendah lemak dan kalori (misal salad buah), tren infused water, dan sebagainya. Namun, tak memungkiri golongan ini juga rentan terkena terkena Penyakit Tidak Menular (PTM). Jadi dapat disimpulkan bahwa siapa pun dan dari golongan pendapatan manapun bisa menderita penyakit yang saya sebutkan di atas. Dari kuli bangunan, pejabat, hingga selebritas.

Menurut European Heart Journal, obesitas bisa memicu penyakit lain seperti hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung. Saya bold ya nama-nama penyakitnya. Sebuah studi dari jurnal Lancet menyebutkan bahwa kegemukan menjadi faktor penyebab kematian dini. Adapun hipertensi diam-diam menjadi si pembunuh dalam senyap (silent killer), tanpa gejala tetiba menyebabkan kematian, baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2014,  stroke menyebabkan kematian sebesar 21,1%. Seperti halnya obesitas dan hipertensi, stroke disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Meskipun tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM), keberadaan penyakit-penyakit tersebut perlu diwaspadai. Sebab mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

Perlu pendekatan preventif untuk menanggulangi meningkatnya Penyakit Tidak Menular tersebut. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan prevalensi PTM pada tahun 2018 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2013. 

Kementerian Kesehatan tidak tinggal diam Sebab Penyakit Tidak Menular (PTM) jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya preventif maupun kuratif tentunya akan semakin melonjak jumlah dan menyedot anggaran kesehatan yang jumlahnya tidak sedikit. Serius! Sakit itu enggak enak gengs, mahal pula biaya untuk berobat. 
Upaya Promotif dalam mengkampanyekan GERMAS. Dokumentasi Pribadi
Salah upaya preventif dalam hal menurunkan angka prevalensi akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah melalui GERMAS. GERMAS? Wah apalagi itu?

GERMAS singkatan dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Kementerian Kesehatan mengedukasi masyarakat pentingnya gaya hidup sehat dengan fokus pada 3 kegiatan utama yakni melakukan aktivitas fisik kurang lebih 30 menit, mengonsumsi buah dan sayur, terakhir memeriksakan kesehatan secara rutin. Ini merupakan 3 langkah utama, selebihnya bisa ditambah dengan tidak mengonsumsi alkohol maupun rokok. Tiga kegiatan tersebut, murah dan mudah dilaksanakan ya gengs. Bisa dilakukan mulai dari diri sendiri. Apakah kamu sudah mencobanya gengs?
Mencoba eksis bersama GERMAS. Dokumentasi Pribadi
Sosialisasi GERMAS dengan Cara Asyik. Dokumentasi Pribadi
Kamu bisa melakukan kegiatan GERMAS dimulai dari langkah 3 langkah berikut  :

1. Aktivitas Fisik Minimal 30 Menit 

Melalui tulisan ini sayang ingin mengajak pembaca, terutama dari kalangan milenial agar mampu mengadopsi prinsip kegiatan Germas dalam kehidupan sehari-hari. Yuk mulai langkah pertama dari aktivitas fisik. Aktivitas fisik apapun itu yang intinya menggerakkan tubuh agar tubuh sehat dan bugar. Jenis-jenis aktivitas fisik sederhana yang bisa milenial lakukan yakni berjalan kaki (misal dari rumah ke sekolah atau kampus), berkebun, mencuci mobil, naik turun tangga, menyapu lantai dan menenteng belanjaan. Untuk aktivitas fisik olahraga bisa berupa yoga, renang, senam, joging, bermain bola, futsal, dan masih banyak lagi. Kalau kamu anak pecinta alam, anak pramuka, olahragawan pasti aktivitas dan latihan fisik kamu lebih banyak dibandingkan dengan orang lain.

Selain melakukan aktivitas fisik yang ringan-ringan, saya terkadang juga berolahraga, sekadar lari-lari kecil mengelilingi kompleks. Salah satu aktivitas fisik yang cukup menguras keringat bagi saya adalah saat aksi tanam bakau di kawasan konservasi mangrove. Ini benar-benar menguras energi karena saya berjalan di atas air, menanam satu demi satu bibit mangrove ke dalam tanah berlumpur. Meskipun lelah, fisik saya tetaplah prima. 
Tanam Bakau : Aktivitas fisik Seharian yang Menguras Energi. Dokumentasi Pribadi
Dengan melakukan aktivitas fisik apapun itu minimal 30 menit mampu menyehatkan kinerja jantung, paru, aliran darah, dan lain sebagainya. Apalagi jika hal itu rutin dilakukan setiap hari.

2. Periksa Kesehatan Secara Berkala

Saya tinggal di Sleman, kebetulan saat itu Dinas Kesehatan Sleman memberikan layanan kesehatan serta sosialisasi Germas. Dinas Kesehatan Sleman saat ini masih berproses dalam hal mengadopsi teknologi SMART HEALTH menuju SMART REGENCY. Patut diacungi jempol.

Melalui Dinas Kesehatan Sleman, saya mencoba mengecek Indeks Massa Tubuh (IMT) dan tekanan darah saya. Saya mengantri karena ada perempuan yang juga sedang berkonsultasi dengan petugas kesehatan di sana.
Seorang Ibu Berbaju Merah sedang Berkonsultasi dengan Petugas Kesehatan. Dokumentasi Pribadi.
Nah sekarang giliran saya konsultasi plus cek kesehatan.

Ada yang belum tahu Indeks Massa Tubuh (IMT)? Sini saya bisikin. Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI) merupakan cara mengetahui rentang berat badan ideal untuk memprediksi sejauhmana gangguan kesehatan yang kita alami. Cara menghitung IMT sangatlah gampang yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) dalam kuadrat. Ternyata setelah dicek, berat badan saya 68,1 dengan tinggi 155 cm atau 1,55 m. Setelah dihitung dengan rumus IMT ketemulah hasilnya. Petugas kesehatan memasukkan data melalui komputer. Komputer mengolah data, menentukan hasil, bahkan memberikan masukan-masukan yang berarti bagi saya. 
Timbang Dulu Gaes. Dokumentasi Pribadi
Berikut hasil perhitungan IMT via smart health Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.
Input Data Indeks Massa Tubuh (IMT). Dokumentasi Pribadi
Hasil Hitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Dokumentasi Pribadi
Dari hasil perhitungan IMT, saya mendapatkan masukan untuk mengurangi jumlah kalori dalam makanan sebesar 300-500 kkal/hari. Dengan melakukan hal tersebut saya mampu menurunkan berat badan 0,5 hingga 1 kg per minggu. Di layar tertulis, semisal dahulu kebutuhan kalori harian saya sebesar 2100 kkal, maka saat ini saya harus mengonsumsi makanan tidak lebih dari 1600 kkal (angka ini diperoleh 2100 kkal - 500 kkal). Ini contoh saja ya. Bisa disesuaikan kok jumlah kalori harian yang ingin dikurangi.

Saya harus menurunkan asupan kalori per hari hingga mencapai berat badan ideal. Saya termasuk kategori obesitas tingkat 1 dengan risiko penyakit sedang karena nilai IMT saya (sebesar 28,3) berada di kisaran 25,0 hingga 29.9. Untuk berat badan normal nilai IMT berada di kisaran 18,5-22,9. Saya masih cukup jauh dari itu, maka harus lebih banyak lagi melakukan aktivitas fisik. Tadinya saya pede. Dengan segudang aktivitas yang saya miliki, pasti nilai IMT saya ideal. Ternyata saya salah. Ini peringatan! Saya perlu waspada. Deteksi dini semacam ini membantu saya lebih aware dalam rangka menjaga kesehatan sekaligus meminimalisasi risiko penyakit. 

Tak lupa saya mengecek tekanan darah saya. Dari hasil pemeriksaan, saya dapati input tensi sebesar 113/90 mmHg. Tekanan sistolik sebesar 113 mmHg, tekanan diastolik sebesar 90 mmHg. Kemudian petugas kesehatan memasukan data tersebut ke komputer. Berikut hasil akhirnya.
Bukan 115/90 mmHg. Hasil akhir input tensi saya sebesar 113/90 mmHg. Dokumentasi pribadi.
Tekanan Darah Saya Normal. Dokumentasi Pribadi.
Duh senangnya... ternyata tekanan darah saya normal pemirsa. Berikut informasi mengenai tekanan darah biar kamu paham (sumber data : GERMAS Dinas Kabupaten Sleman).
  1. Tekanan darah terjadi apabila normal input tensi berada di angka kurang dari 120/80 mmHg. Karena saya tergolong normal maka saya harus menjaga pola makan dan aktivitas fisik yang seimbang.
  2. Prahipertensi terjadi apabila input tensi berkisar antara 120-139 mmHg (sistolik) dan 80-90 mmHg (diastolik). Jika tidak dicek secara berkala/dideteksi sedini mungkin, maka kamu bakal berisiko menderita hipertensi.
  3. Hipertensi derajat 1 terjadi apabila input tensi berkisar antara 140-150 mmHg (sistolik) dan 90-99 mmHg (diastolik). Di level ini kamu perlu konsultasi ke dokter.
  4. Hipertensi derajat 2 terjadi apabila input tensi berada di angka lebih dari 160/100 mmHg. Di level ini benar-benar perlu diwaspadai karena mulai muncul tanda-tanda sesak napas, tersengal-sengal, serta nyeri di bagian dada. Segera berobat ke dokter untuk mendapatkan resep menurunkan hipertensi.

Upaya Promotif Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Mensosialisasikan Germas. Dokumentasi Pribadi
Tabel Frekuensi dan Jangka Waktu Pemantauan Faktor Risiko PTM. Dokumentasi Pribadi.
3. Mengonsumsi Buah dan Sayur

Mengonsumsi buah dan sayur merupakan fokus ketiga gerakan utama Germas. Ada yang tidak suka buah dan sayur? Berarti sama kayak adik saya. Adik saya yang paling kecil tidak suka makan buah dan sayur, tapi produk olahan buah dan sayur sangat suka.

Kenapa buah sayur? Jadi, ada beberapa nutrisi dan zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat diproduksi di dalam tubuh. Nah, nutrisi atau zat gizi tersebut harus "diimpor" dengan cara dikonsumsi/dimakan. Misalnya vitamin dan mineral. Angka kecukupan gizi harus diperhatikan sebagai upaya preventif terutama dalam hal menanggulangi Penyakit Tidak Menular (PTM). Kita ambil contoh, ternyata ternyata kandungan kalium dalam pisang mampu menurunkan kadar tekanan darah. Sayur dan buah berwarna merah mengandung likopen, senyawa yang diperlukan guna melawan kanker dan mencegah penyakit jantung. Sayur dan buah yang kaya akan kandungan flavonoid bermanfaat dalam hal mencegah kenaikan berat badan sekaligus sebagai antioksidan. 

Milenial harus sering mengonsumsi sayur dan buah ya. Sayur dan buah kan harganya sangat terjangkau. Hidup sehat mulai mengonsumsi buah dan sayur. Hidup sehat mulai dari langkah-langkah Germas yang sederhana. Hidup sehat kini dan nanti!

Saya sudah mengaplikasikan Germas melalui konsumsi sayur dan buah. Kamu?
Yuk Konsumsi Sayur dan Buah Biar Sehat dan mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM). Dokumentasi Pribadi
Implementasi hidup sehat ala Germas bisa dimulai dari diri sendiri. Namun demikian, sinergi dan kolaborasi berbagai eleman membuat Germas semakin dekat dengan masyarakat. Semakin aplikatif nantinya. Elemen-elemen yang saya maksud berupa keluarga, institusi pendidikan, pemerintah melalui kementerian dan dinas kesehatan, serta media

Saya mulai dari keluarga. Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Jika orangtua mengaplikasikan gaya hidup sehat dalam kehidupan keluarga, niscaya anak-anak akan melakukan aktivitas yang sama dalam keseharian. Ayah Ibu merupakan garda pertama yang menentukan apakah nantinya anak akan berkembang sehat atau justru malah berpenyakitan. Kita ambil contoh kasus yang saya bahas di awal. Obesitas Arya. Perhatikan pemirsa, Arya sedari kecil, umur 5 tahun sudah mengonsumsi minuman kemasan sedemikian banyaknya. Orangtua yang peduli kesehatan anaknya pasti akan "TEGAS" melarang anak mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak baik bagi kesehatan tubuh. Meskipun sang anak bakal ngamuk, tantrum, atau nangis-nangis jika keinginannya tidak dituruti. Namun sangat disayangkan, pada kasus Arya, orangtuanya justru membiarkan Arya memiliki pola hidup tidak sehat sedari umur 5 tahun. Pola ini terbawa hingga Arya berusia 10 tahun dengan bobot luar biasa ekstrim dibandingkan anak lain seusianya. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama bagi yang sudah berkeluarga dan (calon) orangtua dari generasi milenial. 
Sosialisasi GERMAS di Poltekkes Kemenkes Palangkaraya. Dokumentasi Poltekkes Kemenkes Palangkaraya
Berikutnya, institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus bisa menjadi medium yang sangat baik dalam rangka mengimplementasikan Germas. Apalagi di lingkungan pendidikan tinggi, mahasiswa lebih dikenal sebagai agent of change yang menjadi harapan bangsa dan masyarakat untuk melakukan perubahan. Di Universitas Indonesia, kampanye Germas dilakukan dengan pemberdayaan mahasiswa untuk mencegah sindrom metabolik. Di Poltekkes Kemenkes Palangkarya, sosialisasi Germas dilakukan melalui seminar dengan tema "Hidup Sehat dengan Germas." Adapun mahasiswa jurusan Kesehatan Masyakat (Kesmas) kampus Esa Unggul menyelenggarakan seminar “Peran SDM Kesehatan Dalam pencapaian Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).” Sudah cukup banyak kampus yang mulai mengimplementasikan Germas. Semoga kegiatan seperti ini menular di institusi pendidikan yang lain.

Elemen ketiga yakni pemerintah melalui kementerian dan dinas kesehatan setempat. Germas pertama kali disosalisaikan pada tahun 2016 oleh Kementerian Kesehatan dengan didukung Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Di Bantul DIY, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian PUPR membuat program infrastruktur berbasis masyarakat kota tanpa kumuh tepatnya di Kelurahan Karangwaru.

Di tingkat daerah, dinas kesehatan pun melakukan hal yang sama. Dalam hal ini, saya mengulas Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Dari hasil cek kesehatan yang saya lakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, saya mendapati tekanan darah normal dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkategori obesitas. Saya perlu mewaspadai ini. Untung saya deteksi lebih dini sehingga saya bisa melakukan tindakan preventif terkait obesitas. Melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, saya berkonsultasi dengan petugas kesehatan bernama Kak Atri mengenai kendala yang saya alami serta upaya-upaya solutif yang harus saya ambil untuk menurunkan asupan kalori berlebih. Saya juga mendapat selebaran-selebaran mengenai Germas yang isinya sangat lengkap dan informatif.
Menu Sehat Ala GERMAS dari Dinas Kesehatan Sleman. Dokumentasi Pribadi.
Elemen yang terakhir yakni media. Jika kita bicara media, kita mengenal media digital, televisi, dan cetak dengan kerja-kerja jurnalistiknya. Media-media tersebut sudah cukup banyak memberikan informasi mengenai Germas. Kamu klik kata Germas di mesin pencari makan akan muncul ribuan tautan baik dalam bentuk berita maupun video dari media-media seperti TribunNews.Com, Detik.Com, Liputan6.Com, KompasTV dan sebagainya.

Sebagai bagian dari media digital, peranan blogger dalam menulis opini dan pengalaman mengenai Germas tidak dapat dikesampingkan. Kita para pekerja digital memiliki kontribusi cukup signifikan dalam hal mensosialisasikan sekaligus mengimplementasikan Germas dalam bentuk konten daring. Apalagi di era industri 4.0 seperti sekarang ini, netizen banyak menghabiskan waktu  membaca berita via internet bukan? Inilah kesempatan blogger dan pekerja digital lainnya untuk mengedukasi masyarakat mengenai Germas.

Sinergi berbagai elemen dalam rangka mengimplementasikan GERMAS, perlukah? Sangat perlu! Mari bersama kita berkolaborasi menyukseskan GERMAS! Hidup sehat tanpa Penyakit Tidak Menular? Yuk!
Saya dan GERMAS 2019. Dokumentasi Pribadi.

Sumber Pendukung :
  1. Website Kemenkes Indonesia
  2. Hasil Riskesdas 2013 dan 2018
  3. P2PTM Kemenkes
  4. Suara Dot Com dengan judul artikel Hasil Riskesdas 2018, Penyakit Tidak Menular Semakin Meningkat
  5. Hipwee dengan judul artikel : Yudi Penderita Obesitas Meninggal Dunia, Sudah Saatnya Menjadikan Hal Ini Sebagai Masalah Bersama
  6. Republika dengan judul artikel : Pemerintah Luncurkan Gerakan Hidup Sehat di Bantul
  7. Hallosehat.com dengan judul artikel : Manfaat Flavonoid Antioksidan Penangkal Penyakit Kronis
  8. Doktersehat.com dengan judul artikel : Ini Buah dan Sayuran yang Dapat Mencegah Obesitas.

Minggu, 26 Mei 2019

Seru-seruan Mengeksplorasi Malioboro dengan Fujifilm X-T100

Dulu, di kampus saya pernah menjadi seksi dokumentasi. Saya menenteng-nenteng kamera SLR dan merekam setiap momen selama sebuah acara berlangsung. Saya kangen masa itu. Pas KEB (Kumpulan Emak Blogger) regional Jogja mengadakan sharing sekaligus belajar fotografi bagi pemula, saya tak bakalan melewatkan kesempatan itu. Apalagi kamera yang digunakan kamera mirrorless. Seumur-umur saya belum pernah pegang mirrorless. Kamera yang sudah pernah saya pakai yakni kamera SLR dan kamera digital. 

Nah, kamera mirroless yang kali ini saya coba adalah Fujifilm X-T100. Saya suka desain retro kamera ini. Jadi terkesan klasik gitu. Soal kualitas jangan ditanyakan. Kamera tipe menengah ini cocok untuk fotografer pemula seperti saya. Fujifilm X-T100 ini ini sangatlah fleksibel dibawa bepergian ke manapun. Bodinya ringkas. Di bagian belakang terdapat layar LCD berukuran 3 inchi yang bisa dilipat, bisa juga untuk selfie. Ada fitur touch screen pada layar sehingga ketika memilih ISO dan lain sebaginya, tinggal disentuh saja. Resolusi kamera ini yakni 24.2 MP dilengkapi sensor CMOS APS-C serta autofokus deteksi di 91 titik. 

Begini tampilan Fujifilm X-T100.
Sebelum saya dan rekan-rekan blogger Jogja mengeksplorasi kawasan Malioboro, kami berkumpul di Fujifilm Center yang terletak di Jalan Simanjutak No. 3 Terban, Gondokusuman, Yogyakarta. Di sini ada kelas yang mengupas trik dan tips seputar fotografi, juga bagaimana menggunakan Fujifilm XT100.

Adalah Mas Agoeng Tosol yang menjadi pemateri pada workshop kali ini. Ada 3 acara yang saya ikuti kali ini, pertama belajar fotografi bareng Mas Agoeng. Kedua, Eksplorasi Malioboro dengan Fujifilm XT100, dan terakhir bukber bareng KEB dan Fujifilm Jogja. Kami belajar mengenai apa itu eksposure, efek bokeh, ISO, dan masih banyak lagi. Misal nih exposure, exposure sendiri memiliki pengertian jumlah cahaya yang diterima sensor kamera dalam suatu pengambilan gambar. Exposure mempengaruhi terang gelap gambar yang dihaslkan suatu kamera. ISO berkaitan dengan exposure, semakin tinggi ISO, semakin terang gambar yang akan dihasilkan, begitupun sebaliknya. ISO 400 dan ISO 1600 tentu saja berbeda. Jikalau cuaca mendung atau suasana terlalu gelap, kita bisa setel ke ISO yang lebih tinggi untuk menghasilkan gambar yang lebih cerah. Jangan gunakan ISO 400 di saat cuaca mendung, kalau perlu tingkatkan levelnya hingga menghasilkan gambar cerah sesuai yang diinginkan. 

Setelah dirasa cukup, kelas fotografi ini berakhir. Dilanjut dengan hunting foto di Malioboro. 

Ada banyak objek yang bisa dieksplorasi selama berada di Malioboro. Nah, di Bulan Ramadhan ini, Fujfilm Jogja mengadakan lomba fotografi dengan tema Senyum Ramadhan. Makanya banyak yang antusias berburu foto. Dari satu kelompok, kami berpencar guna mendapatkan objek foto yang berbeda. Selama Ramadhan ini pedagang yang berjualan di siang hari tidak terlalu banyak. Pengunjung juga belum terlalu ramai. Entah kalau sore.

Ini Beberapa gambar sepanjang Malioboo yang sempat saya abadikan menggunakan Fujifilm X-T100. 

Saya kemudian memasuki Mall Maioboro. Karena berada di indoor suasananya cukup temaran di kamera saya, sehingga menghasilkan gambar yang gelap. Kemudian saya naikkan ISO dari 400 ke 800. Kualitas gambar yang dihasilkan menjadi lebih baik.
Hasil foto dengan ISO 400 di ruangan yang agak temaram. Dokumentasi pribadi
Hasil foto dengan ISO 800. Dokumentasi pribadi
Waktu mendekati azan mahgrib, kami berkumpul di Hotel Neo Maliboro untuk buka bersama sekaligus memindah data dari kamera ke smartphone untuk diunggah ke instagram. Oh ya gaes, untuk mempermudah transfer foto ke smartphone tanpa harus memindahkan kartu memori, kamu bisa unduh aplikasi Fujifilm Camera Remote di Play Store. Gratis.
Saatnya maman dulu ya gaes. Perbaikan gizi nih buat anak kos di Bulan ramadhan hehe. Sueeger, Rek. Kalau ada menu sayur dan daging, kamu milih mana gaes. Tetep ya ini diambil dari kamera Fujifilm X-T100.

Ini cerita saya seru-seru bareng Fujifilm X-T100. Terima kasih KEB, Fujifilm, dan Gudang Digital atas kesempatan yang spesial ini.

See ya!