Jumat, 22 Maret 2019

Yuk Intip Inspirasi Apa Saja yang Ada di Pesta Kuliner Rakyat 2019!

"Pengen kulineran nih Arinta. Relomendasikan dong tempat yang asyik 
yang enggak bikin kantong kita bolong."

Mau kulineran? Plus dapat suasana baru yang seru dan enggak bikin kantong kamu jebol? Datang aja ke gelaran Pesta Kuliner Rakyat yang berlokasi di Piramid, Bantul mulai tanggal 22-23 Maret 2019. Di sini, kamu enggak cuma bisa mencicipi aneka penganan dengan harga terjangkau, kamu juga dapat mengikuti rangkaian acara berupa seminar, diskusi, dan talkshow tentang dunia entrepreneurship yang dikemas dalam konteks lokal yang sangat kekinian. Pembicaranya tentu saja pakar di bidangnya masing-masing. Di hari pertama gelaran Pesta Kuliner Rakyat tersebut, kamu bisa menggali informasi dan berdiskusi mengenai bagaimana kebijakan strategi pemasaran pemda DIY, financial plan, persiapan UKM menuju Bandara Internasional Yogyakarta, desain & branding (strategi membangun kemasan produk yang menjual). Adapun di hari kedua, kita bakalan disuguhkan talkshow mengenai peran sentral UKM dalam perekonomian masyarakat DIY. Wow! Materinya daging semua! Boleh banget nih untuk kamu yang sedang atau ingin mendalami bidang wirausaha. Satu lagi, seminar dan talkhow tersebut tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis! Mantul, mantap betul!

Gelaran Pesta Kuliner Rakyat ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah untuk membangun iklim positif dunia wirausaha (kuliner) sekaligus strategi membranding UKM di DIY agar naik kelas. Sudah tahu belum kalau tanggal 27 Maret nanti akan ada peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk Bandara Internasional Yogyakarta? Yups Jogja bakalan punya Bandara baru lho selain Adisutjipto International Airport. Kabar baiknya, produk-produk UKM lokal bakalan terpampang lho di etalase. Produk-produk UKM tersebut tentunya sudah dikurasi oleh tim khusus dari segi kualitas hingga desain kemasan sehingga layak jual. Proses kurasinya juga sangat ketat. UKM mana coba yang enggak ingin produknya naik kelas serta dikenal oleh wisatawan dari berbagai negara? Semuanya butuh persiapan yang matang. Edukasi ke masyarakat serta pelaku UKM dirasa sangatlah penting. Maka dari itu, Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta sudah sangat tepat menyelenggarakan rangkaian acara ini. Selain acara bertema kuliner, ada juga gelar produk craft dan fashion istimewa.

"Keterbukaan dan kecepatan informasi, globalisasi, gerakan bersama untuk mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan membuat pelaku bisnis harus berbenah." Ujar Rika Fatimah, associate professor di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Perempuan berpenampilan modis yang memiliki pengalaman internasional di bidang peningkatan produktivitas dan kualitas produk tersebut menekankan pentingnya value added berupa nilai sosial, filosofi, spirit kegotongroyongan pada suatu entitas bisnis.
"Berbisnislah dengan menciptakan produk yang mampu memberikan dampak (kebermanfaatan) bagi lingkungan serta mengembangkan aspek sosial dan budaya."

Dampak lingkungan, sosial, dan budaya itu seperti apa? Tentu saja entitas bisnis tak hanya mampu menciptakan produk berkualitas dengan harga yang kompetitif, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana cara agar produk tersebut berkategori ramah lingkungan (go green product). Nilai tambah dari segi budaya misalnya dengan membubuhkan aksara jawa dalam kemasan produk, selain Bahasa Indonesia dan Inggris tentunya. Biar nampak kesan lokalnya. Sangat Jogja gitu loh! Adapun value added dari segi sosial bisa dilihat dari spirit kegotongroyongan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Misal entitas bisnis memberdayakan pekerja difabel, menggerakkan penghuni lapas perempuan atau para janda  di suatu desa untuk tetap produktif, berkarya, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi. Mampu MENGGERAKKAN. Itu yang terpenting.

Dalam sesi talkshow yang dihadiri para pelaku UKM itu, Rika memperkenalkan konsep Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneurship. Model gerakan wirausaha ini mengangkat kearifan lokal dengan semangat gotong royong sebagai elemen utama. Model kewirausahaan ini pertama kali diperkenalkan di Saemaul Internasional Forum pada tahun 2018. Kini konsep tersebut sudah dipromosikan ke berbagai negara dan ternyata telah diimplementasikan di negeri jiran, Malaysia. Apalagi menjelang pembukaan Bandara Internasional Yogyakarta, produk-produk UKM terutama kuliner, craft dan fesyen haruslah dikurasi sedemikan rupa serta memiliki filosofi G2R Tetrapreneurship sehingga nantinya mampu berkontribusi pada segmen ekonomi dan pariwisata di DIY.

Ada empat elemen yang dikedepankan dalam model wirausaha G2C Tetrapreneurship. Tetra berarti empat. Keempat elemen tersebut yakni berupa rantai wirausaha (chainpreneurship), pasar wirausaha (marketpreneurship), kualitas wirausaha (qualitypreneurship), dan merek wirausaha (brandpreneurship). Pendekatan rantai wirausaha mendeskripsikan filosofi chain supply dalam suatu proses atau aktivitas bisnis (ketersediaan produk, akses dan prioritas informasi, fasilitas, harga). Melalui elemen marketpreneurship dan qualitypreneurship, pelaku UKM mampu mengindetifikasi segmentasi pasar, kebutuhan, serta ekspektasi pelanggan/konsumen dengan menciptakan produk yang berkualitas. Terakhir brandpreneurship, mendorong iklim wirausaha melalui pendekatan nilai merek (brand value). Peran pemerintah daerah melalui kebijakan yang strategis, inovatif, serta futuristik sangatlah berarti, terutama untuk mendukung 4 elemen tersebut.

Untuk pengemasan dan pemasaran ada baiknya UKM membuat produk kemasan berkategori ritel, reguler, premium, dan suvenir Memang kategori suvenir dan premium harganya jauh lebih mahal, tetapi orang-orang justru lebih tertarik pada produk dengan kemasan unik, menarik, serta ergonomis. Biasanya kemasan jenis ini dijual saat ada pameran-pameran atau expo kuliner. Adapun kemasan ritel dan reguler bisa dijual secara eceran di toko-toko dan harganya jauh lebih murah.
"Bandara Internasional Suvarnabhumi (Thailand), Narita Airport (Jepang), Bandara Incheon (Korea), Rotterdam The Hague Airport (Belanda) merupakan segelintir bandara internasional yang mana memperkenalkan kuliner/penganan lokal ke mancanegara dengan desain kemasan produk yang menarik" tutur Rika.

Jogja tak mau kalah dong!
Nah penasaran enggak sih bagaimana kemasan produk-produk yang dijual di Pesta Kuliner Rakyat 2019? Berikut beberapa kemasan makanan yang saya ambil dan dokumentasikan. Desain kemasan ini tentunya sudah layak jual, tetapi untuk masuk ke Bandara Internasional Yogyakarta butuh kurasi dan pendampingan lebih lanjut oleh tim G2C Tetrapreneur serta Dinas Koperasi dan UMKM DIY.
Gelaran Pesta Kuliner Rakyat turut mendongkrak pendapatan pelaku UKM yang berjualan produk makanan di sana. Salah satunya Bu Sudarmi. Bu Sudarmi, perempuan asal Pundong (Bantul) ini telah berjualan Miedes sejak 2015. Miedes merupakan mie yang terbuat dari tepung tapioka yang diolah bersama bumbu rahasia, kocokan teluran, dan beberapa potong sayuran. Kuahnya segar dan maknyus. Sepersi Miedes dibanderol dengan harga Rp 10.000. Miedes ini halal dan sehat lho, tertulis di gerobaknya. Kalau kamu pengen Miedes buat oleh-oleh, ada lho mie kering dalam kemasan khusus.

"Orang mengira bahwa Miedes itu singkatan dari Mie Pedes, Mbak. Tapi bukan. Miedes itu sejatinya Mie Desa, khas Pundong. Saya menamainya Miedes sejak mendapat pelatihan dari dinas propinsi." Pungkas Bu Sudarmi.
Bu Sudarmi (Jilbab Hitam) dan Angkringan Miedes Pundong. Dokumentasi Pribadi
Ada yang pernah mencoba Miedes Pundong ini guys? Dokumentasi pribadi
Selain Miedes, ada lagi yang kuliner yang menarik menurut saya yakni olahan makanan yang dikemas ke dalam daun pisang dan daun jati yang dijual oleh Bu Farsiyati. Menarik karena jarang sekali saya mendapati makanan yang dikemas daun jati. Kemasan makanan (nasi)  di jaman now kebanyakan pakai kertas minyak, yang pakai daun pisang pun bisa dihitung jari. Bu Farsiyati masih satu desa dengan Bu Sudarmi di Pundong. Dengan kemasan daun Bu Farsiyati menjajakan buntil dan nasi bungkus. Harga per bungkus berkisar antara Rp 2.000-3000 saja. Tidak hanya itu, Bu Farsiyati juga menjual aneka keripik yang rasanya renyah.
Bu Farsiyati, buntil dalam kemasan daun jati serta nasi bungkus dalam kemasan daun pisang. Dokumentasi pribadi
Seorang pengunjung membeli keripik tempe yang dijual Bu Farsiyati. Dokumentasi pribadi.
Bagaimana? Apakah cerita di atas menginspirasi kamu untuk berwirausaha? Bagi kamu warga Yogyakarta yang masih bingung, tak tau bagaimana langkah untuk memulai usaha. Silakan gabung menjadi anggota PLUT dan konsultasilah. Setiap bulan banyak program-program yang pastinya memberdayakan pelaku UKM. Selain pendampingan usaha, kamu bisa mendapat relasi, mentor, pengetahuan teknis seperti finansial plan for business, membangun branding, digital marketing, dan masih banyak lagi.

Kesan saya : semoga acara seperti ini diperbanyak lagi. Bulan lalu ada gelaran Expo UKM Istimewa di Jogja yang diselenggarakan oleh PLUT serta Dinas Koperasi dan UKM DIY. Saya berharap ke depan, gelaran seperti ini juga ada Gunungkidul dan Kulonprogo. Menginsprasi tidak hanya Yogyakarta tetapi daerah-daerah lain di Indonesia. Jangan lupa untuk mempromosikan lebih gencar ke kalangan pelajar, mahasiswa, pegiat media sosial, dan masyarakat luas. Semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang mau (membeli) produk lokal, kan?

Sekian dan sampai jumpa di gelaran berikutnya!!!

Kamis, 21 Maret 2019

Ini Dia 3 Menu Baru Hotel Ibis Malioboro! Tertarik Menjajalnya?

Menjejak Jogja, gak afdhol rasanya kalau belum menjelajah kawasan Malioboro. Surganya kuliner ada di Malioboro, mulai dari harga kaki lima hingga bintang lima. Malioboro sekarang gak seperti Malioboro pas pertama kali saya di Jogja, 7 tahun silam. Kawasan Malioboro jaman old sangat tak ramah untuk pejalan kaki. Pasalnya jalur pedestrian yang seharusnya untuk pejalan kaki kemakan parkir motor. Malioboro jaman now merepresentasikan kenyamanan bagi siapa saja yang ingin menikmati kehangatan dan roamtisme Jogja, tak terkecuali pejalan kaki. 

Selepas seharian mencari batik atau suvenir untuk oleh-oleh, pastinya lapar dan pengin kulineran. Gini Arinta, dong tempat makan yang asyik dan harganya terjangkau buat kami para penikmat kuliner dan traveler? Soalnya pagi udah menjajal gudeg di lesehan, sekarang pengen mencoba suasana yang agak high class dikitlat, ada music performance didukung menu yang oke punya. Ada rekomendasi, Arinta? 

Wah kalau gitu aku tawarkan ke Ibis Kitchen Restaurant dan Ibis Bar (Ibar) di Hotel ibis Malioboro. Kebetulan ada 3 menu anyar yang baru-baru ini dilanching. Dalam launching yang diadakan pada tanggal 12 Maret itu, Hotel Ibis Malioboro mengundang media dan blogger Jogja untuk mencicipi 3 menu baru tersebut. Rasa dan penampilannya 3 menu baru Hotel Ibis sangatlah oke punya. So tasty

Penasaran 3 menu baru itu seperti apa? Wah...wah baca artikel ini sangatlah berbahaya! Apalagi kalau kamu sedang lapar-laparnya. Aku gak nanggung lho kalau sampai mupeng pengen menjajal sensasinya!

1 Bebek Manalagi
Bebek Manalagi merupakan sajian bebek goreng bertabur kremesan yang pastinya kripsi, ada sambal pedasnya. Dagingnya gede dan rasanya gurih. Mantul banget menurut aku. Dengan harga Rp 65.000/porsi rasanya sangatlah worth it

2. Favorito Sandwich
Bagi kamu yang gak ingin makan berat macam nasi, bolehlah menjajal menu satu ini : Favorito Sandwich. Favorito Sandwich merupakan sandwich berisikan daging ayam dan potongan sayuran segar disajikan bersama french fries. Sandwichnya gede lho dan bikin kenyang. Benar-benar pemadam kelaparan sejati. Untuk harga, seporsi Favorito Sandwich dibanderol dengan harga Rp 35.000 saja. 

3. Milky Yuzu
Milky Yuzu? wah apaan lagi ini Arinta?

Milky Yuzu merupakan minuman segar perpaduan susu fermentasi, yuzu (orange), dan soda. Rasanya seger banget, apalagi diminum pas lagi panas-panas. Nyessss....adem kerongkongan. Untuk menikmati segelas Milky Yuzu kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000 saja. 

Selain 3 menu baru tersebut, saya icip-icip pizza yang disajikan buat peserta gathering media dan blogger. Begini tampilan pizzanya...
Hotel Ibis membius saya pada pandangan pertama. Bagaimana tidak? tempatnya nyaman juga instagrammable-lah buat nongkrong. Berada di lantai 2, Ibis Kitchen Restaurant dan Ibar menawarkan konsep unik semi outdoor perpaduan klasik dan modern. Untuk kenyamanan pengunjung hotel ini menampilkan regular music dan DJ Deep House. Selain itu, wajah baru Hotel Ibis Malioboro terlihat dari kamar dengan konsep baru serta lobby yang terkoneksikan dengan Mall Malioboro.

Satu lagi, menjelang bulan puasa, Ibis Hotel Malioboro menawarkan promo Ramadhan Buffet All You Can Eat (Mei 2019) cukup dengan Rp 100.000/net atau early bird Rp 80.000/net dengan berbagai menu sajian nusantara dan western.
Bagi pecinta kopi, Ibis Hotel Malioboro menyajikan sajian khas "Molinari Coffee"dengan berbagai menu kopi mulai dari Rp 35.000/net per cup. Ada juga sajian spesial kopi dari Italia, serta biji kopi dari Brasil dan Jamaika yang dapat dinikmati mulai pukul 8.00-24.00 WIB.

Sekian dulu cerita saya. Kalau jalan ke Malioboro jangan lupa mampir ke Ibis Kitchen dan Ibar ya. See ya!

Kamis, 21 Februari 2019

Mereguk Inspirasi Halal Journey Via Jogja Halal Food Expo 2019

Undang-Undang Nomor 33 mengenai Jaminan Produk Halal telah disahkan pada tahun 2014. Undang-Undang tersebut memuat pokok-pokok peraturan mengenai bagaimana jaminan ketersediaan produk halal, hak dan kewajiban pelaku usaha dalam memilih bahan hingga memproses produk halal, serta tata cara pengajuan permohonan sertifikat halal. Yups, akhir-akhir ini kesadaran masyarakat dan pelaku usaha mengenai produk halal mulai meningkat. Sektor produk halal tidak hanya menyangkut pada makanan dan minuman (pangan), obat-obatan, kosmetika, tetapi juga merambah ke jasa keuangan (fintech), dan pariwisata. Begitu besar pengaruh industri halal pada pertumbuhan ekonomi nasional membuat Bank Indonesia pada tahun 2018 membuat perhelatan The Indonesia International Halal Lifestyle Conference & Business Forum dengan tema "Halal Lifestyle Goes Global: Trend, Technology & Hospitality Industry.” Perhelatan ini diadakan seiring seirama dengan Sharia Economic Festival serta pertemuan tahunan IMF-World di Bali 2018 silam. Perhelatan yang menggandeng pemerintah, pengusaha, investor, dan para pemangku kepentingan tersebut bertujuan membangun komitmen, sinergi, dan strategi dalam hal membentuk ekosistem halal value chain di Indonesia. Salah satu caranya yakni dengan edukasi, social campaign, dan implementasi gaya hidup halal. 

Lalu bagaimana komitmen dan strategi pemerintah daerah dalam rangka membangun industri halal yang sangat potensial tersebut? Kali ini saya berkesempatan menghadiri rangkaian acara Jogja Halal Food Expo 2019 yang didukung oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta. Adapun PLUT-KUMKM (Pusat Layanan Umum Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) merupakan lembaga yang menyediakan jasa yang sifatnya nonfinansial dan terintegrasi untuk pelaku UMKM dalam rangka mengembangkan kinerja produksi, manajerial, pemasaran, SDM, teknis, akses pembiayaan, dan lain sebagainya. Jadi, kalau kamu pelaku UMKM di wilayah Yogyakarta yang ingin mengembangkan usaha lebih baik lagi, jangan sungkan untuk bertandang dan membangun relasi dengan Dinas Koperasi dan PLUT ya. Apalagi untuk proses sertifikasi produk halal, tentu saja pelaku UMKM akan didukung dan difasilitasi oleh instansi tersebut.

Jogja Halal Food, tentu saja tema kali ini lebih fokus pada industri makanan halal di wilayah Yogyakarta. Berlokasi di Jogja Expo Center (JEC), perhelatan Jogja Halal Expo berlangsung mulai tanggal 20 hingga 24 Februari 2019. Tidak hanya menikmati suguhan kuliner halal, para pengunjung juga bisa mengikuti rangkaian acara mulai dari demo masak yang dipandu oleh Chef Dian serta talkshow "Makan Makanan yang Halal Yuk" yang menampilkan narasumber dari latar belakang yang berbeda. Mantap betul kan?

Saya sendiri datang di hari kedua, yakni tanggal 21 Februari 2019. Lantas inspirasi halal apa yang saya dapat selama seharian mengikuti acara tersebut? Berikut liputannya...

Mereguk Inspirasi Halal Journey Via Jogja Halal Food Expo 2019

Saking semangatnya, saya datang terlalu awal. Pukul 08.23 saya sudah tiba di venue. Suasana tampak temaram, maklum lampu-lampu stand belum semua dihidupkan. Selain itu banyak booth yang masih sepi, belum terlihat karyawan atau pemilik usaha yang melakukan aktivitas (goreng-menggoreng misalnya). Pengunjung pun bisa dihitung dengan jari. Saya memanfaatkan momen senggang tersebut untuk membuat catatan, halal journey journal 2019. Catatan tersebut diracik dan nantinya akan diposting di blog Arinta Story. 

Menjelang siang, para pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang sendirian (((seperti saya))), berdua, bahkan berkelompok. Ada pengunjung yang mengabadikan momen bersama smartphone dan kamera digitalnya. Ada juga pengunjung yang mengobrol sembari menikmati sajian menu yang rasanya menggigit lidah. Pengunjung lain memborong aneka penganan untuk dijadikan oleh-oleh. Saya sungguh menikmati setiap jengkal momen tersebut. 
Disclaimer : Dokumentasi tersebut adalah dokumentasi pribadi, dilarang mengambil foto tanpa ijin saya.
Ini halal. Gak usah ditanya lagi!. Dokumentasi pribadi
Setelah puas berkeliling dan mencicipi beberapa menu kuliner, saya tertarik menghadiri acara baking demo (membuat resep aneka kue) yang dibersamai oleh Chef Dian. Banyak pengunjung perempuan yang antusias mengikuti acara tersebut. Pada kesempatan ini, chef Dian akan berbagi resep 3 kue andalan yakni, Nutti Brownie Cookies, Crunchy Chocolate Swiss Roll, dan Orange Chocolate Tart. Tak lupa Chef Dian membagi tips dan trik membuat kue agar terasa crunchy, tidak lembek, dan pastinya memanjakan lidah. 
Chef Dian (berbaju hitam) bersama seorang peserta mempraktikkan cara membuat Orange Chocolate Tart. Dokpri
Tak hanya mendapat transfer ilmu membuat 3 resep kue, pengunjung juga boleh mencicipi sampel yang ada. Dokpri
Nah, selanjutnya kita memasuki gelanggang utama alias acara yang paling esensial dan dinanti-nanti menurut saya. Acara tersebut berupa talkshow interaktif yang dimoderatori oleh Ibu Sukamti dan menghadirkan 3 narasumber yang merupakan ahli di bidangnya. Narasumber pertama bernama Ibu Syam Arjayanti, beliau merupakan Kabid Bidang UMKM Dinas Koperasi DIY . Narasumber kedua bernama Ibu Hani Kusdaryanti dari Fania Food (pengusaha). Narasumber terakhir yakni Bapak Elvy Effendie, beliau merupakan perwakilan dari LPPOM MUI DIY. "Makan Makanan Halal Yuk" menjadi tema talkshow pada hari ini. Serius! Sangat beruntung saya bisa hadir di sini!
Dari kiri ke kanan : Bu Sukamti, Bu Hani, Bu Syam, dan Pak Effendie. Dokumentasi pribadi
Menurut penuturan Bu Syam, ada lebih dari dua ratus ribu UMKM di wilayah DIY. Namun yang memiliki sertifikat produk halal belumlah banyak. Seharusnya ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha mengingat kesadaran konsumen akan produk halal sudah semakin baik. Terdata hingga 2018, ada 187 UKM dari kelompok bakery, 7 UKM dari kelompok cokelat dan produk turunannya, 40 UKM dari kelompok minuman dan aneka olahannya, 15 UKM dari kelompok jejamuan, dan 118 restoran dan katering yang sudah memiliki sertifikat halal.

Apa sih manfaat sebuah produk yang memiliki sertifikasi halal? Tentunya selain sertifikasi/label PIRT atau MD dari BPOM, sertikasi halal dari MUI dirasa sangat penting, mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Pelaku usaha harusnya paham bahwa segmentasi pasar muslim begitu menggiurkan. Apalagi saat ini, Indonesia melalui Kementerian Pariwisata sedang gencar-gencarnya mempromosikan destinasi wisata halal. Selain itu, melalui sertifikasi halal, sebuah produk akan mendapatkan kepercayaan konsumen, memiliki unique selling point, dan terakhir meraih kesempatan pangsa pasar global di negara muslim seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Uni Emiret Arab, Arab Saudi, dan sebagainya.
Bu Hani (tengah berbaju merah muda), Owner dari Fania Food bersama peserta magang. Dokumentasi Fania Food
Sebagai pelaku usaha menggeluti aneka produk olahan ikan, sertifikasi halal sangatlah esensial bagi Hani Kusdaryanti, pemilik usaha Fania Food. Produk berlabel halal mampu meroketkan omset dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk-produk Fania Food.

Berawal dari niat untuk menambah penghasilan, Bu Hani pada tahun 2008 menjajal peruntungan dengan membuat usaha produk olahan ikan. Jangan tanya bagaimana produk dan kemasan pada awal merintis usaha, pastinya perlu banyak masukan dan perbaikan dari segi kualitas. Saat itu pendampingan usaha dari dinas belumlah seperti sekarang ini. Lanjut ya. Adapun jenama FANIA, diambil dari gabungan dua putri Bu Hani, FA (farrel) dan NIA (Tania).

Pada tahun 2009, Bu Hani pertama kali mengikuti pameran produk di JEC, justru setelah pameran banyak permintaan dari  supermarket-supermarket yang ada di Jogja. Namun, ketika memasarkan produk ke supermarket, satu hal yang paling esensial adalah mengenai perijinan dan sertifikasi produk, terutama ijin PIRT (BPOM) dan sertifikasi halal (MUI). Gimana ya caranya mendapat sertifikat halal? Pada tahun 2010, Bu Hani mampir ke dinas untuk menggali informasi lebih jauh mengenai sertifikasi produk halal. Setelah mendapat sertifikasi halal, produknya sudah mampu menembus supermarket. Kini, bukan hanya lebal PIRT dan sertifikasi halal saja, beberapa produk Fania Food sudah berstandar SNI dan menuju ISO.

Berawal dari hobi, kini Bu Hani memiliki rumah produksi sendiri. Berlokasi di daerah Gedongkuning, rumah produksi tersebut mampu memproduksi 600 pack produk olahan ikan dengan kuota rata-rata produksi per hari mencapai 150 Kg. Jumlah kuota akan semakin berlipat mendekati bulan-bulan tertentu, Ramadhan misalnya.

Produk terlaris dan masih menjadi primadona di Fania Food apalagi kalau bukan otak-otak bandeng. Ya, produk ini menjadi andalan Fania. Semua berawal dari kecintaan seorang ibu yang membawakan anaknya oleh-oleh berupa otak-otak bandeng.

"Ibu saya asli Kudus, jika berkunjung ke Jogja sering membawakan saya otak-otak bandeng. Karena penasaran dengan rasanya yang enak saya mencoba membuat sendiri dengan resep asli dari Kudus. Setelah beberapa kali percobaan, saya membuat cita rasa otak-otak bandeng yang sangat lezat." Kenang Bu Hani.

Fania Food telah menghasilkan produk olahan ikan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sudah jelas, Fania Food mengupayakan sertifikasi dan mengurus berbagai perijinan untuk produk-produknya. Proses produksi di Fania Food sudah melalui GMP (Good Manufacturing Practices) dan SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure) sedemikan rupa sehingga mampu menghasilkan produk yang benar-benar higienis, bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

"Awal mendaftar sertifikasi halal itu gratis, selanjutkan kita akan dikenai biaya. Setiap 2 tahun sekali saya memperpanjang sertifikasi halal."

Kerja keras diganjar manis. Berkat ketekunan, keuletan, dan komitmen untuk terus melakukan perbaikan, Bu Hani meraih sejumlah penghargaan. Beberapa penghargaan tersebut di antaranya Perempuan Wirausaha Nova, penghargaan Siddhakarya, Adibakti Mina Bahari, Anugerah Kreasi Mutu, dan sejumlah penghargaan lainnya.

Inspiratif sekali bukan?
Penjelasan sertifikasi produk halal oleh Pak Effendie. Dokumentasi pribadi
Selanjutnya, mari kita simak penuturan dari Pak Effendie mengenai sertifikasi produk halal. Sertifikasi halal dapat dikatakan sebagai fatwa tertulis yang menyatakan mengenai kehalalan suatu produk sesuai syariat islam. Dalil mengenai kehalalan tertuang pada Quran Surat Al Baqarah ayat 168-169. Nah, mengenai produk yang dinyatakan halal, tidak hanya dilihat dari bahan bakunya yang halal, tetapi juga bagaimana proses produksi, dan sistem yang tersedia apakah telah menemuhi standar jaminan halal LPPOM MUI.

"Ada 11 kriteria yang harus dipenuhi untuk membentuk komponen Sistem Jaminan Halal (SJH). Sebelas kriteria tersebut berupa kebijakan halal, tim halal perusahaan, training dan sosialisasi SJH, daftar bahan-bahan/material, produk, fasilitas produksi, prosedur untuk proses kritis, penanganan produk yang tidak sesuai kriteria, ketelusuran (traceability), audit halal internal, dan rapat tinjauan manajemen."

Pak Effendie menambahkan, "Mari jadikan halal sebagai lifestyle."

Mengawasi dan memastikan bahwa suatu produk telah memiliki sertifikasi halal  merupakan tugas kita bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga  pelaku usaha maupun masyarakat pada umumnya. Pak Effendie bercerita bahwa ada pelaku usaha mihun setelah memiliki sertifikasi halal mengalami kenaikan omset sebesar 400%. Sebagai tambahan lagi, menjelang lebaran atau tahun baru, supermarket tidak menerima parsel yang memiliki produk belum bersertifikasi halal. Butuh waktu kurang lebih 2 bulan untuk memproses sertifikasi halal.

"Kami mengupayakan adanya halal gathering sebagai ajang pertemuan pelaku usaha yang sadar akan pentingnya produk bersertifikasi halal."

Pungkasan mengenai halal gathering ini mengakhiri sesi talkshow tersebut, kemudian dilanjut dengan sesi tanya jawab. Peserta yang hadir sangat antusias dan mengajukan beberapa pertanyaan berkualitas.

Boom! Hari ini saya benar-benar mereguk inspirasi halal journey melalui Jogja Halal Food Expo 2019. Ibarat menapak jejak perjalanan, khazanah pengetahuan saya bertambah!
Bakpia Juwara Satoe telah memiliki sertifikasi halal. Dokumentasi pribadi
Sertifikasi halal di pajang di bagian depan biar nampak oleh pengunjung. Dokumentasi pribadi.
Semoga tulisan ini mampu menjadi trigger pelaku usaha/industri agar peduli akan kehalalan produknya. Juga untuk pembeli, jadilah konsumen cerdas, cerdas dalam memilah produk dalam negeri berkualitas lagi halal. Saya berharap kegiatan pameran produk halal semacam ini tidak hanya berlaku di Jogja saja, tetapi juga menular ke daerah lain. Sinergi itulah kata kunci. Kalau bukan kita yang berlari menciptakan mata rantai ekosistem halal, lantas siapa lagi? Yuk mulai sekarang kita berburu makanan-makanan halal!

Senin, 18 Februari 2019

Bukan Lagi Mimpi Manis Ketika Perempuan Mampu Membangun Bisnis

"Penggunaan teknologi mampu mengubah apapun, termasuk membuka peluang usaha bagi para perempuan. Para pengusaha wanita yang sebelumnya tidak punya akses terhadap pasar, menjadi sangat mudah terhubung dengan pasar melalui teknologi." (Sri Mulyani dalam diskusi panel The Role of Finance for Women's Economic Empowerment di Buenos Aires, 2018)
Saya berasal dari Kota Batik, Pekalongan. Di tempat saya, para pengrajin batik mayoritas berjenis kelamin perempuan, apalagi untuk jenis batik tulis. Pekerja laki-laki ada sih, biasanya untuk batik jenis cap/printing. Sebab membatik adalah sebuah seni yang tidak hanya membutuhkan ketelitian, tetapi juga keuletan. Dalam hal batik-membatik, para perempuanlah yang menjadi jawaranya.
Jual beli batik di Kriya Expo JEC 2019. Dokumentasi pribadi (Arinta Setia Sari).
Dulu ya, waktu saya duduk di bangku SMP, para juragan atau pengusaha batik memasarkan produknya melalui rekanan, butik atau pasar-pasar tradisional. Kini, di jaman now, pengusaha batik tersebut bisa lebih masif memperkenalkan produk batik melalui kanal-kanal digital. Ya, apalagi kalau bukan yang online-online itu (baca : marketplace). Indonesia sudah punya 4 unicorn lho ladies. Bukan hanya memasarkan via marketplace saja sih, tetapi juga melalui website dan media sosial. Malahan, beberapa wirausaha batik melakukan endorsement pada sejumlah social media influencer (misal selebgram) demi menggaet lebih banyak calon konsumen. Branding batik yang melekat pada pakaian untuk orangtua, kini banyak disukai kawula muda karena dibuat lebih modis dan kasual. Dulu, televisi masih menjadi kanal advertising terbaik, selain media cetak (koran dan majalah). Sekarang anak-anak milenial bermain di youtube dan instagram dong, bukan lagi televisi. Itu artinya terjadi shifting dan perubahan perilaku konsumen yang nantinya berdampak pada  bagaimana cara media beriklan. Dulu, berbisnis identik dengan pekerjaan yang dilakukan kaum adam. Di jaman now, perempuan sudah banyak yang menjadi pebisnis, startup founder, maupun CEO di suatu perusahaan. Di rumah, emak-emak menguasai gawai dan melakukan deal bisnis dengan rekanan di luar pulau bahkan luar negeri adalah hal yang biasa. Tuh lihat, jabatan Menteri Keuangan Indonesia aja dipegang oleh perempuan. Dunia berubah begitu cepat ya? Maka dengan ini saya ingin mengucapkan, selamat datang di era digital, di mana gaung revolusi industri 4.0 melesat begitu cepat.

Bicara mengenai perempuan wirausaha nih, berdasarkan riset Mastercard Index of Women Entrepreneurs (MIWE) 2018 menyatakan bahwa peringkat atas perempuan wirausaha secara global didominasi oleh negara maju dengan kesetaraan gender yang baik seperti New Zeland, Swedia, Kanada, dan Singapura. Adapun indikator yang digunakan dalam perhitungan indeks pengusaha perempuan tersebut mengacu pada 3 komponen yakni realisasi hasil yang dicapai oleh pengusaha perempuan, pengetahuan terhadap aset & akses finansial, serta iklim wirausaha. Dalam hal ini, Indonesia masuk ke peringkat 30. Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan India tentunya. Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan bahwa terdapat kenaikan jumlah perempuan wirausaha setiap tahunnya. Seperti misalnya pada tahun 2015 jumlah perempuan wirausaha mencapai 12,7 juta orang, tahun 2017 naik menjadi  14,3 juta orang. Terjadi kenaikan sebesar 1,63 juta jiwa. Adalah PR kita bersama untuk bersama-sama mendukung dan melejitkan potensi perempuan untuk berwirausaha.
Indikator pengukuran Mastercard Index of Women Entrepreneurs 2018
Saya mengagumi beberapa sosok wanita wirausaha atas kegigihannya dalam mengembangkan bisnis. Beberapa wanita wirausaha tersebut di antaranya yakni Nurhayati Subakat (Wardah Cosmetics), Martha Tilaar (Sariayu), Mooryati Soedibyo (Mustika Ratu), terakhir Aulia Halimatussadiah (blogger, penulis, Co-founder/CMO storial.co). Artikel ini lebih jauh akan mengupas sosok inspiratif Aulia Halimatussadiah atau biasa disapa Ollie. Mengapa? Sebab dibandingkan 3 pengusaha kosmetika Indonesia tersebut, Sosok Ollie berasa lebih dekat dengan saya yang berkecimpung di dunia tulis-menulis dan blogging. Selain blogging, Ollie ini juga seorang pebisnis keren lho. Fokusnya lebih ke bisnis yang berkaitan dengan teknologi (technopreneurship). So, bukan lagi mimpi manis ketika perempuan mampu membangun bisnis kan? Gimana ladies?

Ollie : Beyond Blogging Hingga Digitalpreneurship

Pertama kali saya bertemu Ollie saat mengikuti workshop How To Write Viral Content Bersama RockingMama.Id tahun 2016. Rockingmama merupakan portal digital berisi kumpulan tulisan lifehacks, lifegude, dan barometer lifestyle mamah muda kekinian. Saat itu, Ollie masih menjadi Chief Conten Officer (COO) sekaligus co-founder Zetta Media. Rockingmama sendiri adalah 1 dari 11 portal digital milik Zetta Media. Selain Rockingmama, portal digital lain milik Zetta Media yaitu Trivia, Rula, Moola, Kalamantara, MerryRiana, Virala, dan Bagaya. Masing-masing portal memiliki segmentasi pembacanya sendiri. Dari workshop tersebut saya mendapat secuil pengetahuan tentang bagaimana membuat konten yang menggigit, SEO Friendly, dan viralable.

Perempuan kelahiran Yogyakarta, 17 Juni 1983 ini sedari SMP menyukai komik dan manga. Menulis (cerpen dan puisi) menjadi passion yang berkembang semenjak duduk di bangku SMA. Ketika menjajaki bangku kuliah, Ollie mulai menuangkan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan di blog. Ollie aktif ngeblog terhitung semenjak tahun 2003. Wow sudah 16 tahun ya ladies! Blognya bisa kamu baca di Salsabeela.Com. Di tahun 2004, Ollie mendapapatkan beasiswa menulis dari Gagas Media. Tahun 2005 lahirlah novel pertamanya dengan judul Look! I'm On Fire. Jika dihitung sampai sekarang, ada sekitar 30 buku yang berhasil ditulis oleh Ollie. Lanjut di bidang blogging ya. Pada tahun 2011 Ollie menjadi chairwoman at ON / OFF 2011, di mana dia berhasil mengadakan gathering blogger terbesar dengan peserta mencapai 1.000 orang.

Bersama 3 teman dekatnya, Ollie mendirikan platform nulisbuku.com. Melalui nulisbuku.com, Ollie memastikan penulis muda tanah air untuk menerbitkan bukunya sendiri secara self publishing dengan mudah. Dari nulisbuku.com, lahirlah ratusan penulis muda berbakat Indonesia (emerging writer) yang mampu menuangkan dan mengolah gagasan menjadi sebuah karya tulis.

Di bidang teknologi, Ollie mengelola web StartupLocal.Org. Ollie memiliki visi yang sangat kuat untuk memberdayakan perempuan agar semakin melek digital. Tak segan, Ollie kerap berbagi mengenai ide-ide dan komitmennya ini ke komunitas-komunitas di mana perempuan menjadi audiensnya. Girls In Tech salah satunya.

Girls In Tech (GIT) menjadi bukti bahwa dunia teknologi dan digital tak melulu dikuasai kaum adam. Data statistik yang dihimpun Statista pada tahun 2017 memperlihatkan jumlah perempuan yang bekerja di perusahaan teknologi dan startup adalah tidak lebih dari 28 persen. Sedikit memang porsinya, komparasinya bahkan tidak ada 50 persen. Namun, jangan pernah mengkerdilkan impian perempuan. Perempuan bisa berkarya di ranah digital kok ladies. Itulah spirit yang menjadi bahan baku yang diracik komunitas Girls In Tech. Melalui Girls In Tech, para perempuan bisa berjejaring, mengembangkan pengetahuan seputar digital marketing, literasi digital, coding, startup, dan lain sebagainya. Program atau kegiatan yang diselenggarakan Girls In Tech bukan hanya untuk perempuan yang memiliki latar belakang TI, semua perempuan boleh kok gabung. Bebas biaya pula karena ada sponsor. Karena tujuan Girls In Tech untuk mewadahi perempuan yang memiliki antusiasme di bidang teknologi dan entrepreneurship, maka program-programnya tak jauh-jauh dari pengembangan digital life skill, boothcamp, hingga hackathon. Emak-emak gaptek malah dianjurkan gabung di komunitas semacam ini untuk mengembangkan skill dan pengetahuan. Inspiratif bukan?

Seperti dikutip fimela.com,

"Ketika bicara masa depan dan anak, biasanya anak lebih dekat di keluarga itu dengan ibu, jadi saya harap, semakin banyak perempuan yang dekat teknologi, dan ketika jadi ibu, ia bisa mengajarkan anaknya biar nggak alergi dengan teknologi dan menggunakan teknologi untuk hidup yang lebih baik," Ungkap Anantya, co-managing director Girls In Tech yang pernah mengisi digital marketing untuk kelas “Womenpreneur Digital Acceleration.”

"Kalau GIT ini technology in general, jadi teknologi digunakan untuk bisnis bisa, dan jika ingin digunakan untuk kariernya sendiri juga bisa, skill set, gitu. Kami mengajarkan coding, robotic, social media, dan digital marketing." Tandas Ollie.

Pada tahun 2017 Ollie mendapat apresiasi dari LinkedIn sebagai Power Profile 2017 di bidang marketing serta penghargaan Woman Marketeer of The Year at Asia YWN Marketing Award  dari Asia Marketing Federation pada tahun 2019. Ollie masuk dalam daftar 10 Successful Female Tech Startup Founders in Indonesia versi Tech In Asia. Mantap bukan?
Perjalanan karir dan bisnis Ollie dalam menapaki ranah digital menjadi trigger tersendiri bagi saya. Apalagi saya yang memiliki latar belakang ilmu ekonomi bukan TI ingin semakin menggeluti dunia digital terutama, blogging, vlogging, hingga digital marketing. Dalam 10 tahun ke depan saya memiliki mimpi untuk menerbitkan buku dan mendirikan bisnis (digital startup) sendiri.

Saya ingin mendalami lebih serius bagaimana membuat konten yang tidak hanya readable tetapi juga shareable. Juga konten-konten yang sifatnya long lasting alias evergreen dan SEO Friendly. Jika saya membuka bisnis, maka saya membuka jasa content writing, copywriting, dan videografi. Siapa tau kelak saya menjadi digitalpreneur yang sukses dan diundang jadi pembicara seperti Ollie, wanita inspiratif yang saya kagumi. Ollie adalah figur ShePreneur Indonesia. Perempuan mandiri yang mampu mengelola bisnis sehingga memiliki kebermanfaatan yang banyak bagi orang lain di sekitarnya.

Apa pengalaman inspiratif selama ngeblog? Salah satu artikel saya dijadikan bahan buat menyusun skripsi mahasiswi UGM, bagi saya itu adalah kebanggaan tersendiri. Saya juga kerapkali diminta mereview produk, event, bahkan mendapat job via email karena ngeblog. Ngeblog sudah memberi pundi-pundi rejeki tersendiri bagi saya. Adapun pengalaman yang paling berkesan menurut saya adalah ketika tulisan saya mendapat apresiasi dari International Committee of the Red Cross (ICRC) pada tahun 2015. Saya berkesempatan mengunjungi markas ICRC di Jakarta, berjumpa awak media, dan memberikan short speech di hadapan undangan serta tamu asing perwakilan dari ICRC. Benar-benar pengalaman tak terlupakan.
Dukungan, itu adalah kata kunci. Dukungan dari keluarga, sahabat, kerabat, hingga komunitas. Ollie mampu menjadi membangun bisnis hingga seperti sekarang pastinya dimulai karena motivasi diri yang kuat serta dukungan orang-orang sekitarnya. Jika Ollie mendapat support dari teman-teman dekat serta komunitasnya, saya pun demikian. Beruntung saya bisa bergabung di Komunitas Blogger Jogja dan Komunitas Emak Blogger. Dari komunitas saya mendapat pengetahuan bagaimana membuat konten yang asyik dibaca, SEO Friendly, dan sebagainya. Dari komunitas saya juga mempelajari skill-skill lain seperti membuat video menggunakan smartphone, fotografi, dan masih banyak lagi. Saya semakin yakin bahwa setiap perempuan bisa menjadi wonderwoman dengan caranya masing-masing. Yups, caranya adalah dengan semakin mengasah keahlian dan berjejaring sosial.

Apalagi di era keterbukaan informasi di jaman now ini, pastinya perempuan mendapat kemudahan untuk mengakses pasar, teknologi, pengetahuan, segalanya deh. Manfaatkan untuk meningkatkan kapasitas diri ya ladies.

Dari blog yang tadinya sekadar media curhat, sekarang bisa menjadi sumber mata pencaharian. Dari gawai di genggaman, emak-emak bisa memasarkan batik ke mancanegara. Dari laptop, koneksi internet, plus secangkir kopi, perempuan mampu menjadi seorang startup founder. Berawal dari youtube, vlogger perempuan bisa diundang ke istana. So ladies, di era digital, masih berpikir perempuan tidak sanggup membangun bisnis?

Selasa, 12 Februari 2019

Menjadi Milenialpreneur di Jaman Kiwari? Percayakan pada Ralali!

Bisnis kuliner itu gurih. Renyah. Kriuk-kriuk. Sedap. Bisnis kuliner sangatlah prospektif dan potensial. Memang, bisnis kuliner kadang mengalami pasang surut, tapi ia tak pernah mati. Bisnis kuliner akan selalu tumbuh dan berkembang. Bisnis kuliner akan selalu ada di sepanjang masa. Apalagi di jaman kiwari (baca : jaman now) seperti sekarang ini. Dalam industri kreatif bisnis kuliner masih menjadi primadona.

Bak malaikat, bisnis kuliner hadir sebagai pemadam kebakaran kelaparan perut-perut keroncongan. Jangan salah, bisnis kuliner juga bisa menyaru sebagai happiness agent sebab makanan yang ia tawarkan mampu memanjakan lidah dan membahagiakan semua orang yang menikmatinya. Termasuk muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Bagaimana tidak! Bayangkan kamu diajak dinner di kafe atau resto, mencecap cita rasa kuliner yang sangat tasty bersama orang yang kamu cintai. Ditemani live music dengan lantunan Surat Cinta Untuk Starla pula! Hati siapa yang tidak meleleh? Heh, jones dilarang baper! Jones merapat saja ke ke warung remang-remang alias angkringan! Di angkringan jones boleh misuh-misuh, menikmati malam minggunya yang kelam sembari ditemani gorengan yang harganya dari awal saya masuk kuliah hingga lulus tetap saja 500 perak. So, kamu masuk tim hangout ke kafe atau dolan ke angkringan nih, gaes? 

Entah di mall, kafe, resto, pinggir jalan, dan segala pusat keramaian, lagi-lagi bisnis kuliner akan menemukan cintanya, eh maksud saya segmentasi pasarnya. Ini membuktikan bahwa industri tersebut akan selalu eksis dan bernapas di tengah masyarakat. Asal selalu kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan, maka bisnis kuliner akan terus bertahan. Lagian, tak ada manusia yang tidak makan bukan?

Prospek bisnis kuliner sangat menjanjikan. Bisa dibilang cukup cerah. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan pada triwuan II 2018, industri yang meliputi makanan, minuman, dan segala jenis olahannya ini mampu mencapai pertumbuhan sebesar 8,67%, bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang saat itu mencapai 5,27%. Sektor ini mampu memberikan kontribusi tertinggi PDB industri pengolahan nonmigas sebesar 35,87%. Gurih...gurih...gurih...
Karena gurih, banyak selebritas kawasan ibukota mendirikan bisnis kue artis di kota-kota besar di Indonesia beberapa waktu silam. Sebagian selebritas lain lebih memilih menginvestasikan dananya ke usaha resto atau rumah makan. Tak mau kalah, 2 putera orang nomor satu di negeri ini pun terjun ke bisnis kuliner dan sekarang mereka memiliki banyak outlet/cabang usaha di seantero negeri. Sebut saja Kaesang Pangarep dengan Sang Pisang dan Gibran Rakabuming dengan Markobar serta Chilli Parinya. Tentu saja dengan manajemen dan branding yang bagus bisnis kuliner akan sustainable dalam jangka panjang.
Dari sekian kuliner, ternyata ada jenis yang masuk kategori kuliner PANSOS. Ternyata bukan hanya netijen di negara berkembang saja yang doyan pansos. Pansos di sini maksudnya Panjat Sosial, merujuk pada orang-orang yang suka mencari perhatian di media sosial dengan komentar-komentarnya yang berbau nyinyir, satire, dan sarkas. Biar jadi yang teratas, terpopuler, dan banyak yang menanggapi di kolom komentar gitu. Nah kuliner Pansos ini demikian. Mudah tenar, tapi mudah juga tenggelam. Misalnya nih dulu es krim pot populer banget di kalangan milenial. Gak hanya milenial, semua orang pasti doyanlah sama es krim pot. Lucu padahal ya, ada cacing-cacingannya gitu terus es krimnya di taruh dalam mangkuk berbentuk pot. Kreatiflah pokoknya. Kini es krim tersebut telah menjadi butiran debu kenangan di memori anak milenial. 

Jenis kuliner yang mampu bertahan sepanjang masa di antaranya bakso, mie ayam, soto, rawon, pecel, rendang, dan masih banyak lagi. Jenis penganan atau jajanan yang tetap hits hingga kini ada cilok, telur gulung, donat, pukis, martabak, brownies, risoles, ada yang mau nambahin lagi? Namun ada juga jenis kuliner yang muncul musiman seperti kurma cokelat, aneka es, serta kue lebaran/natal yang hanya muncul ketika Hari Raya tiba.

Dear millenialpreneurs, melihat potensi bisnis dan keuntungan yang didapat dari wirausaha kuliner ini membuat Rika tertantang menjajal bisnis ini di tahun 2019. 

"Ini tantangan banget bagi aku buat ngembangin bisnis ini, Arinta." Ujarnya berapi-api kayak habis ikut #10YearsChallange di instagram.

Mengetahui milenial satu ini begitu bersemangat, saya jadi ketularan bersemangat. Saya 100% mendukungnya dan tidak ingin memupuskan mimpi-mimpinya. Jadi, Rika ingin menjajal peruntungan di bisnis kuliner donat karakter. Alasannya Rika ini penggila donat. Semua orang suka donat. Barangkali kamu juga kan? Nah donat yang dijual Rika nantinya dicetak dengan karakter-karakter hewan yang imut. Topingnya pun beragam. Mengikuti selera kekinian. 
Dear Millenialpreneurs, sebelum memulai bisnis Donat Karakter, ada baiknya melakukan analisis SWOT terlebih dahulu. Analisis ini membantu sebuah usaha dalam mengelola dan mengevaluasi bisnisnya nanti. Teknik analisis SWOT meliputi Strenght (kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (peluang), dan Threat (ancaman). Dibandingkan produk pesaing apa kekuatan yang diunggulkan produk ini? Hargakah? Rasakah? Kemasannya menarikkah? Atau yang lain? Kelemahan produk ini adalah mudah sekali untuk ditiru. Tetapi tidak usah kuatir, jika produk ini memiliki keunggulan, konsumen akan tetap loyal, mereka akan puas dengan produk yang ditawarkan. Segmentasi pasar dan lokasi yang strategis menciptakan peluang dalam mengembangkan bisnis ini. Siapa yang tidak suka donat? Apalagi bentuknya lucu-lucu. Semua orang pasti suka. Ancaman bisnis ini adalah kompetitor yang meniru produk kita ketika bisnis ini ternyata dilirik banyak konsumen. Solusinya adalah pemilik usaha harus semakin inovatf, kreatif, adaptif terhadap perubahan, dan mendengarkan suara konsumen. 

Yang tak kalah penting adalah mengenai strategi dan evaluasi sebelum dan sesudah bisnis berjalan. Nah sebelum bisnis mulai berjalan ada baiknya memperhatikan beberapa poin berikut :

1. Mengenai Produk yang Ditawarkan (Product)
Terdapat 3 cita rasa yang ditawarkan donat karakter ini. Cita rasa tersebut yakni asin (donat abon mozarella), manis dengan 8 varian toping (cokelat nutella, cokelat mesis, matcha, tiramisu, krim keju, kacang, strawberry, dan gula halus), terakhir pedas (sosis mozarella with hot sauce). Menu ini sewaktu-waktu bisa berubah tergantung selera pasar. Dari segi ukuran, tersedia donat dalam ukuran mini dan standar.

2. Mengenai Lokasi (Placement)
Lokasi yang dipilih yang pasti haruslah strategis. Rika dan saya memilih menjajal berjualan donat di sekitar kampus, tepatnya di Sunmor yang letaknya antara kampus UNY dan UGM. Apalagi sebentar dalam waktu dekat akan memasuki Bulan Ramadhan, tentu jualan di sore hari dekat lokasi Sunmor sangatlah menguntungkan. Banyak mahasiswa, muda-mudi, warga sekitar, dan wisatawan yang tentunya menambah semarak Sunmor di sore hari menjelang berbuka puasa. 
3. Mengenai Harga (Price)
Karena berlokasi di 2 kampus besar, maka segmentasi utama donat karakter ini adalah mahasiswa, wisatawan, dan siapapun yang berkunjung di Sunmor. Untuk harga yang ditawarkan sangatlah terjangkau pastinya. Donat ukuran mini harganya Rp 3.500 saja sedangkan ukuran standar harganya berkisar mulai dari Rp 6.500 hingga Rp. 8.500 (tergantung jenis topingnya). Setiap tambahan toping dibebankan biaya sebesar Rp 2.000 saja.
4. Mengenai Strategi Pemasaran (Promotion)
Di era industri 4.0 seperti sekarang ini mengandalkan strategi marketing tidak hanya dari mulut ke mulut saja (wordmouth), tetapi kudu gercep memanfaatkan kanal-kanal digital yang ada. Bisa melalui blog, website, youtube, instagram, whatsapp, facebook, dan lain sebagainya. Jika dikelola dengan baik, fanspage atau pun akun instagram akan bermanfaat untuk perkembangan bisnis ke depan. Contohlah Kaesang Pangarep, segala cuitannya di twitter kadang nyerempet-nyerempetin ke bisnisnya (soft selling promotion). Entah bagaimana ceritanya, cara ini sangatlah efektif. Terbukti satu cuitan bisa mendapat puluhan komentar, ratusan retweet, dan ribuan like. Kicauan "65 Cabang Pak," saat mengoreksi ucapan ayahandanya yang keliru menyebut jumlah semua outlet Sang Pisang, mendapat respon luar biasa dari netizen (lebih dari 2000 komentar, 7000 retweet, dan 13.000 like).  What a viralable tweet! Mantul ya trafik dan engagement-nya. Kalau kayak gini caranya ya bisnisnya jelas sustainable dan brandingnya tentunya semakin kuat. Millenialpreneurs, kamu kudu banyak belajar dari Kaesang nih sepertinya!

5. Mengenai Modal Usaha (Capital)
Pengin bisnis, gak punya modal Arinta. Males ah. Mending fokus kuliah dulu aja. Jadi kalau kamu punya niat memulai bisnis, pasti ada cara untuk mendapatkan modal usaha. Jangan menyerah ya milenialpreneur! Saya yakin setiap kampus pasti memfasilitasi mahasiswanya buat yang tertarik di dunia wirausaha. Kalau di kampus saya ada Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan (UKMKu). UKM ini bertujuan mewadahi mahasiswa yang ingin mengembangkan jiwa wirausaha, mencari permodalan secara mandiri, serta menjalin relasi dengan institusi pemerintah dan swasta. Kembali lagi ke topik mengenai modal wirausaha. Untuk urusan satu ini kamu bisa mengajukan proposal PKMK (Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan) Kemenristekdikti. Kalau semisal lolos kamu bakalan dapat pendanaan kisaran 5 hingga 12,5 juta. Karena ini program dana hibah, kamu gak perlu mengembalikan uangnya jika kontrak sudah berakhir. Di kampus saya ada Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) untuk mendapatkan pinjaman dana usaha lebih dari 20 juta (maksimal 40 juta). Selain itu, untuk mendapatkan modal, kamu bisa mengajukan dana ke perusahaan swasta atau mengikuti kompetisi-kompetisi wirausaha. Sekali lagi, ada banyak jalan menuju Roma!

Mantul kan?

6. Mengenai Persediaan Bahan Baku (Stock)
Nah, sekarang giliran memastikan peralatan, perlengkapan, dan stock bahan baku terjamin. Karena bisnis sifatnya dinamis, maka ketersediaan bahan baku musti diperhatikan. Jangan sampai pas lagi banyak pesanan, eh persediaan bahan baku menipis, plastik mika dan kemasan dus tinggal berapa puluh pcs. Padahal pesanan datang bejibun untuk acara ultah, wisuda, syukuran, promosi suatu event, dan lain sebagainya. 

Sobat milenialpreneur gak perlu galau menghadapi masalah tersebut. Sebab ada marketplace Ralali.com yang siap membantu dan memastikan bahan baku untuk bisnismu selalu terjamin ketersediaannya. Ya, Ralali.com merupakan platform bisnis B2B alias Business to Business. Jika suatu marketplace memiliki konsep B2C (Busines to Consumer), itu artinya si marketplace menyediakan kebutuhan dari penjual langsung ke konsumen selaku end-user. Marketplace B2C melayani pembelian produk tertentu dalam jumlah kecil. Beda dengan marketplace dengan konsep B2B. Namanya juga Business to Business, pastinya si marketplace menyediakan segala kebutuhan grosir (dalam jumlah banyak) dari penjual (entitas bisnis) ke pembeli (entitas bisnis yang lain). Keuntungan membeli kebutuhan bisnismu di marketplace B2B kayak Ralali.com ini adalah semakin besar kuantitas barang yang kamu beli, maka harganya akan jauh semakin murah. Wow banget yes?

Wah kamu pastinya semakin penasaran? Stay tune ya!
Didirikan pada tahun 2014, kini Ralali.com memiliki 12 kategori barang dan jasa, lebih dari 16.000 pemasok, 250.000 produk, 135.000 pelanggan, dan 2 juta unique visitor per bulan. Dua juta unique visitor bukanlah jumlah yang kecil. Jumlah unique visitor dapat dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan suatu website dan nantinya berpengaruh pada bagaimana peringkat website (Alexa Rank). Pastinya Ralali.com telah menjadi marketplace dengan model bisnis B2B terbesar di Indonesia. Adanya trust dari berbagai elemen menjadikan Ralali.com memiliki reputasi yang baik (credible, reliable, dan relationship). Credible di sini memiliki makna bahwa kinerja, pelayanan, dan produk barang/jasa yang dijualbelikan di ralali.com sangat memuaskan di mata pelanggan, penjual, investor, dan sebagainya. Adapun Reliable maksudnya bahwa Ralali.com melayani segala kebutuhan bisnis secara cepat, transparan, dan tentunya aman. Prinsip relationship Ralali.com bertujuan menggandeng semua pelaku usaha agar semakin bertumbuh, berkembang, dan meniti sukses bersama.
Jika kamu pengguna android, kamu bisa mengunduh aplikasi Ralali.com via Playstore, jika kamu pengguna Iphone kamu bisa mengunduhnya di Appstore.
Nah sekarang saya akan buat gambaran perbandingan harga antara Ralali dengan marketplace lain untuk membeli kebutuhan donat karakter. Setelah melihat perbandingan ini, apakah milenialpreneur tertarik untuk menjajal beli di Ralali?
Enam Keunggulan Ralali.com

Pertama, produk yang ditawarkan di Ralali.com banyak. Kita tak perlu khawatir kehabisan persediaan bahan baku karena Ralali memiliki jumlah penjual yang pastinya mampu membantu memenuhi kebutuhan setiap pelaku Usaha. 
Kedua, sistem pembayarannya begitu mudah dan aman. Untuk metode pembayarannya sendiri bisa melalui Bank (BCA, Mandiri, BII, BRI, BNI, DBS, Permata Bank), juga Visa, Kredivo, Ovo, dan Ralali.Cicilan.
Ketiga, harga yang ditawarkan secara grosir menjadikan pembeli mendapat potongan harga jika membeli dalam jumlah banyak. Ini menguntungkan bukan? 
Keempat, dengan adanya Ralali Quotation kita bisa memesan produk yang belum tersedia di website Ralali. Maka kita bisa mengisi form yang telah disediakan dan tulis jenis produk yang kita butuhkan. 
Kelima, Ralali Billing membantu memudahkan dalam pembayaran pulsa, paket data, PLN, PDAM, dan BPJS. Ini praktis banget dan antiribet, apalagi bagi pelaku usaha yang tidak ada waktu buat ke kantor PLN misalnya. Di era industri 4.0 gitu lho. Semua serba digital dong. Tinggal tap tap Ralali, transfer duit ke PLN via aplikasi, efisien dan mudah. Oh ya dalam rangka Valentine, ada cashbach hingga 10% lho bagi pengguna Ralali Biling. Ayo buruan gih manfaatkan sebelum Valentine berakhir!
Keenam, Banyak promo menarik di Ralali.com. Salah satunya adalah jika kamu member baru, maka kamu akan mendapatkan diskon hingga 20% atau voucher bebas ongkir sebesar Rp 200.000. Mau pilih yang mana nih gaes. Selain voucher, ada promo lain seperti Big Diskon dan Big Free Ongkir Spesial Valentine, beli paket data cashback hingga Rp 50.000, dan fitur menarik lainnya di Daily Deals Ralali.com.
Berikut pendapat teman-teman milenialpreneur yang sudah merasakan manfaat berbisnis bersama Ralali.com.
Dengan adanya Ralali pelaku bisnis begitu dimudahkan dalam memenuhi kebutuhan usahanya, termasuk dalam hal ini persediaan bahan baku dan peralatan. Kini Rika tak perlu kuatir kehabisan stock, karena ada Ralali yang siap melayani dengan setulus hati. Kamu apakah memiliki pengalaman menarik bersama Ralali.com? Share kisahmu di kolom komentar ya...

So, menjadi milenialpreneur di jaman kiwari? Percayakan saja pada Ralali!

Jumat, 18 Januari 2019

Liburan Asyik Bersama Zenbook S UX391UA : Menjadi Bermakna di Belantara Digital

"While learning is great, creating is even more meaningful, addictive, and joyful. Make sure to make creating a priority in 2019" (Sachin Rekhi via twitter @sachinrekhi)

"Menurutmu gimana ya Rin membuat liburan semester ini menjadi semakin asyik, bermakna, dan menyenangkan? Aku bosan gini-gini mulu?" Tanya Zoya menjelang liburan semester. Ya, UAS baru saja selesai dan Zoya si cewek Borneo ini bingung mau menghabiskan liburan ke mana. Sementara aku masih merancang to do list hal apa saja yang akan aku kerjakan selama liburan panjang ini. 

Learningful, meaningful, and joyful? Hmmm...

"Zoe, kamu kan bisa menjelajah goa, tuh pacarmu kan gabung di BSG." BSG singkatan dari Biospeleology Studien Gruppen - sebuah kelompok studi yang mengkaji goa dan hal-hal yang berkaitan dengannya. "Ajak dia gih buat ekplorasi kawasan karst di Nglanggeran, Ponjong, atau apa kek. Neliti ordo chiroptera (kelelawar) yang menggantung di langit-langit goa juga oke tuh." jawabku sekenanya.

Mata Zoe menyipit. "Dih aku gak suka kelelawar. Geli aku ngeliatnya." Bahasa tubuh Zoe mengindikasikan kejijikan. "Lha kamu sendiri ada rencana mau ke mana?" 

"Zoe, aku kayaknya gak pulang deh liburan ini. Aku dah bilang ortuku. Bentar lagi ada monitoring dan evaluasi PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Meski gak ikut PKM secara langsung, tapi  aku kan didaulat jadi mentor buat rekanku. Sisanya aku gunakan buat ngerjain skripsi"

Hening.

"Zoe, aku tertarik sama digital essay competition yang kamu kasih liat ke aku beberapa waktu lalu. Aku pengen bikin esai tentang konservasi." Beberapa waktu lalu Zoya memberikan informasi mengenai sebuah kompetisi esai bidang lingkungan hidup dan harus dipublikasikan secara digital di microsite penyelenggara. Hadiahnya lumayan cuy, juara 1 dapat laptop. Kebetulan banget aku butuh laptop baru.

"Tapi aku bingung mau bagaimana bikin kontennya. I have no idea, Zoe."

Hening lagi ...

Zoya yang aslinya petakilan kadang sedikit baperan, diam sejenak. Mikir. Tiba-tiba matanya membulat. Pupilnya berbinar. Senyumnya membuncah. Wajahnya mengekspresikan keriaan. Jemarinya yang lentik memijat-mijat ponselnya barang beberapa saat. Sepertinya dia mengontak seseorang.

"Arinta, aku jamin deh liburan kali ini bakalan tak terlupakan! Percaya deh sama aku!"

Zoya bilang demikian sampai 3 kali lho.

Liburan kali ini bakalan seperti apa Zoe?
***
Keciap burung-burung dan kokok ayam bersahutan. Sang mentari mulai mengguratkan sinarnya di bumi Yogyakarta. Sensasi segar dan panas menyeruak, membaur bersama tetesan embun. Suasana seperti ini sangat cocok buat sekadar lari pagi bukan? Tapi aku memutuskan untuk tidak lari pagi. Ada agenda penting yang harus aku kerjakan hari ini bersama anak-anak Herbiforus. Aku mau mengerjakan riset, sulam mangrove, sekaligus berlibur. Semoga liburanku  kali  ini menjadi asyik dan menyenangkan. Aku sekaligus berencana bikin konten mengenai konservasi bakau di kawasan Pantai Pasir Mendit, tepatnya di Wisata Hutan Mangrove Wana Tirta, Kulonprogo. Kamu pernah dengar atau ke sini sebelumnya?

Aku harus mempersiapkan segalanya. Kaos kaki harus bawa dua pasang. Satu buat nyebur ke rawa hutan mangrove. Satunya lagi buat dipakai di perjalanan. Demikian jilbab, celana, dan juga baju. Semua serba dobel. Tas berisikan laptop, camilan (oh ini wajib ya!), buku catatan, dompet, dan apalagi ya? Tasku udah kayak ikan kembung gitu. Laptopku udah berat, ditambah pakaian ganti pasti tasku tambah berat.
Ke mana pun bepergian. Jangan lupa bawa ASUS selalu
Kami berangkat bareng-bareng naik bis. Satu-satunya anak yang kukenal adalah Hindun Hidayatun Naimah, anak pendidikan biologi. Tapi kan Hindun jadi panitia, sedangkan aku peserta. Zoya sendiri gak bisa menemaniku karena dia pergi bersama pacarnya di Watu Tapak. Bis mulai melaju. Bis penuh dengan anak-anak biologi dan aku halo? Demi apa coba aku anak akuntansi bisa nyasar sampai ke sini? Aku berhutang budi sama Zoe nih udah kasih info mengenai kegiatan ini.

Oh ya aku belum menceritakan Herbiforus. Jika BSG adalah kelompok studi mengenai goa, Herbiforus lebih mengarah pada keilmuan dan keahlian pengelolaan tumbuhan. Kedua kelompok ini bergerak dan bernaung bersama Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. Kamu bisa check ke instagram @herbiforus. Di sana kamu bisa mendapat pengetahuan dan informasi mengenai bebungaan, umbi-umbian dan tanaman lain, mulai dari  nama ilmiahnya, persebarannya, asal daerahnya, cara  pembudidayaannya dan lain sebagainya. Empat bidang kajian Herbiforus meliputi bidang kajian tanaman obat, pangan, konservasi, dan tanaman hias.  Herbiforus juga pernah mengadakan pelatihan hidroponik dan terrarium untuk mahasiswa. Asyik kan kalau kayak gini caranya? Learning dapat. Meaningful juga iya!

Sesampainya di lokasi, kami pun bersiap. Namun sebelum terjun langsung ke hutan mangrove, kami diajak bersosialisasi mengenai sejarah kawasan ini plus disuguhi penganan lokal yang rasanya ciamik. Aku paling suka bakwan udangnya. FYI, Selain digunakan sebagai kawasan wisata konservasi, demi meningkatkan taraf perekonomian, warga sekitar membudidayakan udang vaname.

Aku meletakkan tasku yang berat itu dan mengambil 2 ikat bibit bakau. Kasihan laptopku di dalam kesenggol-sengol gitu dengan tas lain milik panitia dan peserta. Belum lagi di dalam bis yang penuh guncangan. Kebayang gak sih khawatirnya aku? Aku takut laptop Asusku kenapa-napa. Mana ini laptop baru saja diinstal ulang karena kena malwareBertahan barang sejenak ya nak, ibu mau menyusuri sepanjang payau buat tanam nih bakau.

Bersiap-siaplah terjun ke air dan basah-basahan, Arinta. Hari ini akan ada 1000 bibit bakau yang hendak ditanam. Kita perlu menyeberang dengan perahu untuk menanam bakau di daerah yang agak gundul. Sebisa mungkin pakai kaos kaki ya gaes, sebab di payau banyak cangkang kerang, sisa-sisa terumbu karang, aneka benda tajam dari biota laut lainnya. Setidaknya kaos kaki menjadi pelindung pertama kulit kita. Kalau mau pake sendal/sepatu/boot juga bisa, tapi agak berat buat berjalan dalam air nantinya.
"Jagalah Hutan Mangrove. Demi Anak Cucu Kita" Gitu Pesan Singkatnya
(Dokumentasi Sebagian Milik Herbioforus & Paling Bawah Milik Pribadi)
Selepas zuhur, kami sholat, makan, dan diperkenankan istirahat. Selesai sholat dan makan, kumanfaatkan sedikit waktu untuk berburu informasi berbincang dengan Mbah Warso Suwito, tokoh sentral di balik Ekowisata Hutan Mangrove Wana Tirta di kawasan Pasir Mendit ini. Mbah Warso pernah didaulat sebagai kader terbaik Kementerian Kehutanan pada tahun 2014. Selain itu, beliau juga terpilih sebagai juara pertama kader konservasi dari pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Mbah Warso terbuka dan ramah kepada siapa saja. Mbah warso mampu merangkul berbagai kalangan. Mulai dari pejabat, LSM, aktivis lingkungan hidup, hingga mahasiswa. Sudah banyak kampus yang menyambangi kawasan tersebut, apalagi kalau bukan untuk riset dan aksi tanam bakau.Lumayan kan informasi yang aku kulik bisa buat bahan esai digital nanti.

Kawasan hutan bakau di Pasir Mendit bisa dikatakan sebagai kawasan terluas dan terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa jenis bakau tumbuh di kawasan ini, sebut saja Bruguiera cylindrica, Rhizophira mucronata, dan Avicennia alba. Tidak hanya bakau, di kawasan ini ada juga vegetasi lain seperti cemara udang dan nipah. Aku pikir informasi ini sedikit banyak mampu kuolah menjadi bahan esai digital.

Keasyikan mengobrol, tetiba indikator baterai di laptopku menjerit-jerit. Aku butuh colokan. Colokan mana colokan? "Kak, ada colokan yang nganggur enggak? Tanyaku pada salah satu panitia.

"Wah kayaknya kepake semua dek, coba yang di sebelah sana." Semoga masih ada ya.

Ini nih alasan kenapa aku butuh laptop baru. Laptopku udah purba banget. Udah uzur lebih tepatnya, termakan waktu dan perasaan, #eh. Laptop Asus ini sudah menemani semenjak aku duduk di bangku SMA hingga menjadi mahasiswa berprestasi karatan. Laptop Asus seri K410 dengan Intel Core 2 Duo ini dibekali Nvidia Geforce 310M (512 MB). Kebayangkan kalau diisi game macam Resident Evil 4 dan Prototype, ngelagnya kayak apa. Padahal itu game lawas. Jangan tanya jika dimainkan Resident Evil 7. Mampus kali laptopnya. Aku paling susah banget kalau ngedit video, rendernya masya allah. Lama. Udah gitu kalau ngelag di tengah jalan suka bikin KZL. Untuk buat konten grafis aku gak pakai Photoshop dan CorelDRAW. Tahu dirilah kalau Photoshop dan CorelDRAW rada berat di laptopku. Aku cukup pakai Inkscape plus Photoscape saja. Laptopku ini paling jos buat ngerjain tugas kampus. Untuk aktivitas multitasking jangan ditanyakan ya. Gak kuat.

Laptopku mampu bertahan kurang dari 20 menit saja. jika tidak segera di-charge. Ya matilah. Makanya ke mana-mana aku harus bawa charger yang ukurannya segede gaban dan bisa buat lempar maling. Udah gitu, berat lagi. Beban banget bagi aku sebenarnya. Setiap ke kampus aku harus bawa beban di pundak sebesar 2 kg, belum termasuk buku-buku akuntansi lho ya. Beban di pundak semakin bertambah saja. Coba kalau ada bahu yang bisa kusandarkan. Eakkk.
Doakan ya gaes, supaya aku meraih juara 1 kompetisi esai digital. Aminnn.

Menjadi Bermakna di Belantara Digital Bersama Zenbook S UX391UA

4 minggu setelah kompetisi esai digital berakhir...

"Woy Nyet! kadal gurun! Bangun. Ini udah jam berapa? Tidur mulu. Dasar kebo!" Teriak Zoya ketika mendatangi kosku. Pintu kos sengaja tidak aku kunci karena Zoya akan datang. Tanpa tedheng aling-aling atau uluk salam dia mengagetkanku. Aku masih ngantuk dan malas-malasan buat bangun.

"Ih nih bocah pagi-pagi sudah mengabsen seisi kebun binatang aja." Bikin KZL sih Zoya kadang.

"Aku bawain bubur ayam dan camilan. Bangun gih. Cuci muka. Kita sarapan bareng"

"Kamu tengil, tapi paling pengertian Zoya. Klo kamu cowok pasti udah kujadiin pacar hehehe." Sebuah guling mendarat di mukaku. Ekspresi Zoya benar-benar meledekku seolah-olah bilang gini, Jones mulu sih kamu Arinta, makanya cari pacar!

Selesai sarapan Zoya bertanya, "Gimana kompetisinya? Udah pengumuman belum?"

Aku menghela napas.

"Aku gak menang Zoe. Aku cuma masuk daftar 100 artikel terbaik. Padahal Aku udah usaha maksimal banget. Kamu tau kan Zoe klo aku benar-benar butuh laptop baru."

"Jangan sedih gitu dong Arinta. Kudu semangat. Ingat pesertanya lebih dari seribu orang, kan? Menjadi 100 besar itu udah bagus kok." Zoya berusaha menghiburku. "Gini, kedatangan aku ke sini mau ngasih kabar gembira sih ke kamu. Ada kompetisi blog yang hadiahnya laptop keren. Mau ikutan gak?

"Aku udah males, Zoe." jawabku.

"Ih kalau kamu tahu harga dan spesifikasi laptopnya kamu bakalan ngiler deh. Nih aku kasih liat ke kamu."

Zoya menunjukkan sebuah postingan dari blog Mira Sahid. Zenbook S UX391UA? Astaga naga. harga laptopnya setara biaya hidupku 2 tahun di Yogyakarta. Sebagai pengguna ASUS, siapa yang gak tertarik coba buat memiliki si Zenbook ini. Udah gitu spesifikasinya. Alamak. Berasa jadi seorang eksekutif muda!
Zenbook S UX391UA. Laptop idaman jaman now. Dokumentasi Mira Sahid.
Zoya menambahkan,"Arinta, meskipun kamu gak menang, kamu udah menjadi bermakna di belantara digital. Di jaman seperti sekarang ini bertebaran tulisan click bait yang mengarah pada hoaks dan ujaran kebencian. Kamu udah bagus bikin konten tentang konservasi. Lebih bermanfaat. Siapa tau ada orang yang baca tulisanmu, lalu tertarik berkunjung ke Pasir Mendit. Siapa tahu ada organisasi lingkungan hidup atau pengusaha yang memiliki niat untuk berdonasi uang/bibit bakau di sana. Kunjungan wisatawan turut mendongkrak roda ekonomi warga sekitar. Secara tidak langsung, kamu berkontribusi untuk Pasir Mendit. Kamu juga dapat suasana liburan yang learningful, meaningful, dan joyful kan? Kamu gak rugi kok. Kamu bisa bikin konten positif, kamu juga dapat liburan asyik penuh makna. Double kill!"
***
Menjadi bermakna di belantara digital? Ada benarnya juga sih si Zoya. Tentu saja Zenbook S UX391UA mendukung banget gaya hidup digital nomad milenial seperti aku. Ngerjain job konten di coworking space, kadang di kampus, kadang di kafe, serba nomaden dan remote pokoknya.

Apalagi tahun ini aku ada rencana gabung di Genpi. Tahu Genpi? Genpi singkatan dari Generasi Pesona Indonesia. Genpi dapat dikatakan sebagai komunitas yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata berisi influencer yang terdiri atas blogger, vlogger, fotografer, social media enthusiast, dan kreator konten lainnya. Genpi hadir dan turut berkontribusi membangun citra positif pariwisata Indonesia. Anak Genpi sering banget bikin trending topic dan konten viral di twitter. Hestek-hestek mainan anak Genpi selalu diawali dengan kata #Pesona, #Festival, #DestinasiDigital, dan masih banyak lagi. Commercial value yang diciptakan Genpi juga gak main-main. Misal nih Destinasi digital Pasar Karetan di Kendal yang disounding anak-anak Genpi berhasil meraih income sebesar 35 juta di penghujung 2017 silam. Ini baru satu contoh. Padahal ada banyak pasar yang dijadikan destinasi digital oleh Genpi. Nancep banget deh kalimat "bermakna di belantara digital."

Selepas selesai kuliah aku ingin bekerja di ranah digital, menjadi social media influencer atau full time blogger misalnya. Laptop dengan high performance seperti Zenbook S UX391UA menjadi sangat berarti bagiku. Gimana gak mupeng kalau liat spesifikasi yang ditawarkan? Kehadiran Zenbook S UX391UA semakin mendukung kerja-kerja senyap namun bermakna di belantara digital.

Anyway, di antara dua warna pilihan Zenbook S UX391UA yakni Deep Dive Blue dan Burgundi Red, aku pilih yang Burgundi Red. Entah kenapa aku suka aja warna ini. Lebih keliatan misterius sekaligus tegas menurutku. Kalau kamu?

Berikut alasan kenapa aku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat impresi dan performa Zenbook S UX391UA. Dijamin si zenbook gak bakalan bikin kamu patah hati.
Kamu pernah enggak mengalami kejadian kayak kejadian gini, lagi ngerjain tugas, gak sengaja teman kamu nyengol laptop di atas meja. Laptop tersebut jatuh. Kemudian layarnya retak atau ada bagian tertentu yang malah jadi eror. Wah jangan sampai deh kamu mengalami kejadian kayak gini.

Untungnya Zenbook S UX391UA sudah melalui serangkaian uji yang disebut Military Grade MIL-STD 810G. Beberapa uji yang tersebut meliputi : low temperatur test, high temperature test, altitude test, humidity test, drop test, vibration test, dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukkan bahwa Zenbook S UX391UA memiliki kemampuan melindungi diri dari goncangan, benturan keras, panas ekstrim, dan sebagainya. Pokoknya anti retak-retak club deh. Jatuh dari atas meja, masih aman. Kamu duduki si Zenbook, masih aman. Kamu masukkan ke kulkas, masih aman. Kamu bakar...ya jangan! Mending si zenbook kamu kasih ke aku jika sudah merasa bosan. :p

Aku membayangkan betapa asyiknya traveling bersama zenbook. Apalagi aku ada keinginan masuk Genpi tahun ini. Apapun momennya, segalanya bisa menjadi asyik, menyenangkan, dan bermakna bukan? Menjadi bermakna di belantara digital? Ayok!

***
"Arinta, serius amat baca spesifikasi Zenbook S  UX391UA..."

Zoya menyadarkanku bahwa aku masih hidup di dunia. Aku memang lagi searching informasi mengenai si Zenbook. Kalau sudah fokus, kadang aku gak sadar diri, kalau di sebelahku ada yang nyeletuk.

"Gile bener nih laptop, Zoe. Mupeng aku dibuatnya. Masa si Zenbook memiliki sertifikasi uji Military Grade MIL-STD 810G? Alamak RAM-nya aja udah 16 GB. Bisa mendukung kinerja multitasking ya Zoe. Belum fitur unggulan lainnya"

"Jadi Arinta, kamu nanti mau ikut kompetisi blog ASUS x Mira Sahid ini Gak?" Pungkas Zoya.

Hmmm ikut enggak ya? Menurut kamu, mending aku ikut atau enggak?

TAMAT 

Catatan :

*Terima kasih saya ucapkan kepada Himabio UNY, Herbiforus dan Ketua Herbiforus periode 2018, Lexy Jalu sehingga saya bisa menyusun tulisan ini.

*Sumber referensi untuk tulisan ini diambil dari web ASUS Indonesia.