Minggu, 14 Juni 2020

Bukan Perempuan Biasa : Kisah Inspiratif Mbok Gendong Rubiah, Sang Perempuan Tangguh

Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi Pribadi
"Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan" (UUD 1945 pasal 27 ayat 2).

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, pekerja informal jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan pekerja formal. Dari 126,51 juta angkatan kerja (pekerja aktif), sebanyak 70,49 juta berasal dari sektor informal (unskilled worker), adapun sisanya sebanyak 56,02 juta jiwa merupakan pekerja formal (skilled worker). Pekerja formal mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah, memiliki seperangkat hak dan kewajiban yang diatur dalam undang-undang, serta dijamin kesejahteraannya. Pekerja formal ini meliputi dosen, guru, dokter, TNI, polisi, wirausahawan, dan sejenisnya. Pekerja formal memiliki jumlah jam kerja yang pasti (8 jam kerja/hari atau 40 jam kerja/minggu), hari libur (Sabtu-Minggu), gaji tetap, upah lembur, dan terkadang bonus kerja. Lain halnya dengan pekerja formal, pekerja sektor informal memiliki beban dan juga jam kerja yang terkadang tidak manusiawi, ketiadaan hari libur, nihilnya jaminan sosial, upah yang tidak layak, minimnya fasilitas pendukung, bahkan berbagai macam diskriminasi dan pelecehan di tempat kerja. Itu pun belum ada regulasi yang jelas berupa seperangkat undang-undang yang melindungi hak-hak dasar pekerja sektor informal.

Dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional yang jatuh pada 10 Desember 2019, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta bersama Yayasan Annisa Swasti mengajak kelompok yang tergabung dalam jaringan pekerja informal wilayah DIY untuk mengekspresikan suara hati dan kegundahan kepada pemerintah daerah, dinas tenaga kerja, serta instansi lain yang terkait. Jaringan pekerja informal yang terdiri atas paguyuban buruh gendong, perempuan pekerja rumahan, dan pekerja rumah tangga ini menuntut pemda untuk membuat kebijakan atau regulasi tertulis (semacam perda) guna memberikan jaminan dan perlindungan terhadap kaum pekerja sektor informal.

Rubiyah merupakan salah satu dari sekian perempuan yang berani menyuarakan kegundahan tersebut. Rubiyah, perempuan berusia setengah abad itu tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun, sebuah kelompok yang menaungi buruh gendong wilayah DIY di 4 pasar (Giwangan, Beringharjo, Gamping, dan Kranggan). Rubiyah adalah lokomotif. Rubiyah adalah penggerak sekaligus pemimpin Paguyuban Sayuk Rukun dimulai dari tahun 2013 hingga artikel ini ditulis. Rubiyah memiliki kisah yang inspiratif.

Sesungguhnya tidak mudah menjadi buruh gendong atau mbok gendong. Perempuan seperti Rubiyah rela melakukan kerja ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus penyokong ekonomi keluarga untuk sebuah pekerjaan yang tidak ringan. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya cocok untuk laki-laki. Sebuah pekerjaan yang serupa kuli. Sebuah pekerjaan yang beban kerja dan pengupahannya terasa kurang manusiawi.

Tapi mau bagaimana lagi? Inilah kisah Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh.

                                                                               ***
Sepagi buta, di mana orang-orang masih terlelap dengan tidurnya, para buruh gendong atau kerap dipanggil dengan sebutan mbok gendong mulai menjalankan aktivitasnya. Denyut nadi Pasar Giwangan justru berpusat di malam hari hingga menjelang subuh. Di sinilah terjadi transaksi ekonomi dalam skala besar. Truk-truk pengangkut sayur dan buah berlalu lalang mengangkut berkuintal-kuintal beban. Jasa angkut seperti mbok gendong sangatlah berperan signifikan. Terdengar hiruk-pikuk, riuh rendah obrolan sopir, kuli, tukang sortir, juragan, serta pedagang di tengah bongkar muat barang-barang. Maklum Pasar Giwangan merupakan pasar induk yang menyuplai kebutuhan partai besar dan grosir ke pasar-pasar kecil di wilayah DIY dan sebagian Jawa Tengah. Pasar Giwangan tidak hanya memasok buah dan sayur dari petani lokal, tetapi ada juga produk buah dan sayur impor. Pasar yang beroperasi 24 jam nonstop dan memiliki luas lahan 24.594 m2 tersebut memiliki omset per bulan rata-rata mencapai 51 miliar rupiah dan perputaran retribusi sebesar 122 juta rupiah (sumber : Jogjaprov.go.id)
Pasar Giwangan. Berkarung-karung jeruk telah ditimbang dan siap didistribusikan. Dokumentasi pribadi.
Pasar yang terletak di Jalan Imogiri No. 212 ini mulai beroperasi semenjak 14 Desember 2004, dulunya merupakan balai benih ikan. Terdapat 1135 pedagang yang terdiri atas 117 pedagang los, 625 pedagang kios, dan 393 pedagang lapak. Tidak hanya sayur-mayur dan bebuahan, Pasar Giwangan juga menyediakan aneka kebutuhan pokok, kudapan/jajanan, jejamuan, aneka jenis daging, bumbu-bumbu, rempah-rempah, berbagai perlengkapan rumah tangga, dan masih banyak lagi. 
Mbok Gendong Pasar Giwangan (Baju Biru)  & Aktivitas Sortir Buah Jeruk Berdasarkan Grade. Dokumentasi Pribadi.
Di Pasar Giwangan terdapat 135 mbok gendong yang juga tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun. Kebutuhan ekonomi yang menghimpit membuat para ibu rumah tangga yang seharusnya berada di sektor domestik merambah ke sektor informal yakni dengan menjadi buruh gendong atau mbok gendong. Mbok gendong merupakan istilah untuk perempuan yang menawarkan jasa mengangkut barang (bisa berupa sayur-mayur, kerupuk, atau buah-buahan) di pasar dengan cara menggendongnya menggunakan jarik (lurik). 

Beban barang sekali angkut berada kisaran 80 kg hingga 90 kg dengan upah 2.000 hingga 4.000 rupiah. Angka minimal beban angkut adalah 25 kg (meski cukup jarang) dan maksimal 120 kg. Upah yang diterima para mbok gendong per bulan berada di kisaran 800 ribu hingga 900 ribu rupiah. Angka ini bahkan sangat jauh dari UMP (Upah Minimum Propinsi) DIY per 2020 yang mencapai Rp. 1.704.608. Ironis bukan? Di tengah pandemi Covid-19 membuat banyak pedagang memilih isolasi mandiri di rumah dan tidak terlibat kontak fisik dengan pasar sehingga mengakibatkan pendapatan para mbok gendong menurun.
Pasar Induk Giwangan Lumayan Sepi Selama Masa Pandemi. Dokumentasi Pribadi.
Bayangkan perempuan-perempuan dengan fisik kurus ringkih harus mampu mengangkat beban setara 0,8 hingga 1,2 kuintal per sekali gendong. Mbok gendong, meski tubuh keliatan kurus ringkih, sejatinya mereka adalah perempuan-perempuan tangguh nan perkasa. Perempuan-perempuan tangguh nan perkasa yang bekerja di Pasar Giwangan ini berasal dari berbagai daerah seperti Solo, Sukoharjo, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Purworejo.

Penelitian yang dilakukan Budi Estri dengan judul "Peran Perempuan Buruh Gendong di Yogyakarta" menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perempuan ini bekerja di sektor informal. Faktor tersebut meliputi adanya upaya menopang dan meningkatkan kebutuhan ekonomi keluarga, tingkat pendidikan yang rendah, dan keahlian/keterampilan yang kurang memadai. Adapun faktor risiko yang ditanggung oleh mbok gendong bisa berupa kelelahan dan rasa sakit di sepanjang kaki dan punggung, terpeleset saat membawa gendongan, serta kaki kejatuhan peti gendong. Itu belum termasuk risiko pelecehan dan diskriminasi gender di tempat kerja. Juragan-juragan sewaktu-waktu bisa membentak dan berkata kasar jika mbok gendong dirasa bekerja lamban tidak sesuai ekspektasi sang juragan.

"Awal saya bekerja sebagai mbok gendong karena terdesak. Ambar, anak saya yang pertama menunggak SPP selama 4 bulan. Jumlahnya kalau tidak salah hampir seratus lima puluh ribu. Bingung. Nangislah saya. Pada waktu itu saya hanya ibu rumah tangga biasa. Bapak kerja mbecak di Pasar Beringharjo. Pulang bisa 3 atau 4 hari sekali." Cerita Rubiyah kepada saya.

Rubiyah memiliki 4 orang anak. Anak yang pertama bernama Ambarwati, waktu itu terancam drop out dari SMA-nya jika tidak mampu melunasi tunggakan. Anak kedua berjenis kelamin laki-laki merupakan anak spesial (baca : berkebutuhan khusus) yang bersekolah di salah satu SLB di Bantul. Anak ketiga berjenis kelamin laki-laki juga. Adapun si bungsu saat itu baru saja lahir (tahun 2003). 

Awal 2004, Rubiyah mulai bekerja sebagai mbok gendong di Shopping Centre, Pasar Beringharjo. Menjelang akhir tahun 2004, Pasar Induk Giwangan baru saja diresmikan dan mulai beroperasi. Pedagang-pedagang yang semula berjualan di Kranggan, Gamping, dan Beringharjo sebagian pindah lapak ke Pasar Induk Giwangan. Termasuk juga para mbok gendong dan tentunya Rubiyah. 

Pasar Induk Giwangan sangatlah luas, fasilitas pendukungnya lebih memadai, dan jauh lebih representatif jika dibandingkan pasar-pasar lainnya. Makanya pemda setempat melakukan relokasi. Sebuah spanduk besar terpampang ketika saya memasuki Pasar Induk Giwangan, pasare resik, atine becik, rejekine apik, sing tuku ora kecelik (Pasarnya bersih, penjualnya berhati baik, rejekinya bagus, yang membeli tidak kecewa).

"Saya bekerja di Shopping pertama kali mendapat upah Rp. 17.000 rasanya sweeenengnya bukan main. Upah berikutnya secara teratur Rp. 20.000/hari. Bapak mbecak yang pulangnya bisa 3 atau 4 hari sekali, cuma bisa bawa uang Rp. 6.000 atau Rp. 7.000 saja. Dari nggendong saya mampu melunasi SPP Ambar." Kenang Rubiyah.

Rubiyah melanjutkan, "Sebenarnya saya kerja di Shopping awalnya tidak diijinkan oleh suami. Soalnya banyak kejadian pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki (baca : kuli dan pekerja kasar lainnya) kepada para mbok gendong. Itu ngeri banget." Pelecehan tersebut dalam bentuk verbal berupa siulan/godaan yang tidak senonoh, ada juga yang mengarah kepada sentuhan fisik seperti colekan/rabaan.

Selain pelecehan, diskriminasi dan ketidaksetaraan gender berupa upah yang tak adil untuk beban kerja yang sama antara mbok gendong yang perempuan dan kuli laki-laki kerapkali terjadi. Semisal untuk mengangkut 90 kg kentang, mbok gendong mendapat upah Rp 1.000, adapun kuli Rp 2.000. Tak adil bukan?

"Pindahan dari Beringharjo ke Giwangan, saya mendapati perempuan muda yang menangis sehabis bekerja. Dia diperlakukan tidak senonoh oleh salah satu kuli di Giwangan. Marahlah saya. Mencak-mencaklah saya ke kuli tersebut. Namun, kuli tersebut malah melengos. Ya Allah." Ucap Rubiyah sambil menarik napas panjang, prihatin. Air mukanya nampak sedih dan terluka. Masa-masa itu menyimpan memori yang cukup kelam. 
Beban berupa satu gendongan kubis ini hampir berukuran  1 kuintal. Dokumentasi Pribadi
Mbok Gendong Rubiyah, Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi pribadi.
Sebuah LSM bernama Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) yang fokus pada pemberdayaan kaum perempuan sektor pekerja informal mulai bergerak dan memperjuangkan kaum buruh gendong. Yasanti gencar melakukan advokasi, pendampingan, sosialisasi, dan memberikan pelatihan-pelatihan untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan sosial perempuan pekerja informal. Yasanti mendorong mbok gendong agar berani bersuara terhadap kasus-kasus ketidakadilan dan ketaksetaraan gender, HAM, perlindungan hukum perempuan pekerja informal, dan masih banyak lagi. 

Pada tahun 2005 dibentuklah Paguyuban Sayuk rukun, sebuah komunitas yang mewadahi perjuangan mbok gendong area Pasar Kranggan, Gamping, dan Beringharjo. Pasar Induk Giwangan belum tergabung, karena belum memiliki paguyuban saat itu. Nah, pada tahun 2007 dibentuklah paguyuban mbok gendong Pasar Induk Giwangan. Pada akhirnya 4 pasar tersebut bersatu di bawah 1 paguyuban tunggal yakni Sayuk Rukun. Terbentuknya Sayuk Rukun tidak lepas dari peran besar Yasanti.

"Saya mendapatkan pelatihan dari Yasanti tentang kesetaraan gender, hukum, dan HAM. Wah, awalnya berat sekali rasanya memahami hal tersebut. Apalagi saya hanya tamatan SD." Ungkap Rubiyah yang pernah mengenyam pendidikan di SDN 2 Mecijah Gunungkidul. Istilah "advokasi" dulu terasa asing baginya.

Kontribusi Yasanti ibarat rintik hujan di musim kemarau, menghadirkan pencerahan. Rubiyah mulai mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Yasanti pada tahun 2008. Rubiyah terus belajar. Meski statusnya hanya lulusan sekolah dasar, tak menghalangi Rubiah untuk terus menempa diri, terus berbenah. Mengkaji hal-hal baru yang masih terbilang asing baginya saat itu seperti apa itu perlindungan hukum, HAM, advokasi, organisasi, kesetaraan gender, bagaimana melakukan audiensi dengan regulator/pemerintah, bagaimana cara berbicara di depan media dan publik, dan lain sebagainya. Maka tak heran di tahun 2013, Rubiyah didaulat sebagai ketua Paguyuban Sayuk Rukun Daerah Istimewa Yogyakarta. Jabatan itu masih terus diembannya hingga kini.

"Tahun 2015 saya dan teman-teman bergerak di depan DPRD Yogyakarta, menuntut adanya regulasi dan perlindungan hukum terhadap pekerja informal seperti kami."

Ada 4 tuntutan yang dilakukan buruh gendong. Pertama, pemerintah daerah mengakui (secara tertulis) pekerja informal buruh gendong, memberikan jaminan perlindungan kerja, serta sistem upah yang layak. Kedua, pemerintah daerah melibatkan buruh gendong dalam pengambilan keputusan terkait pelayanan publik di pasar. Ketiga, buruh gendong diberikan fasilitas pelayanan kesehatan. Terakhir, pemerintah daerah menyediakan ruang pertemuan (rapat) dan ruang istirahat bagi buruh gendong.

"Dulu sering terjadi diskriminasi dalam sistem upah di mana kami buruh gendong mendapat upah yang lebih kecil dari pekerja kasar laki-laki/kuli. Setelah melalui proses yang panjang, upah antara mbok gendong dan kuli sudah setara. Dulu, upah per gendongan dengan berat mulai dari 60 kg hingga 1 kuintal dibayar Rp 2.000 saja. Sekarang upah yang diterima mbok gendong ada yang Rp 3.000, Rp. 4.000, kalau juragannya baik bisa Rp 5.000. Dulu banyak kasus pelecehan yang menimpa mbok gendong saat bekerja, sekarang sudah tidak ada. Sudah tidak ada yang berani malah." Tegas Rubiyah.

"Terkait fasilitas kesehatan ini yang belum menyeluruh. Banyak dari kami yang berasal dari luar DIY, Jamkesmas tidak menanggung biaya kesehatan buruh gendong yang dudu wong asli Jogja. Kalau terjadi kecelakaan kerja yang menimpa buruh gendong yang bukan warga sini, ya paling diobati dengan cara dipijat atau dikasih balsam."

"Kami butuh semacam ruang istirahat dan ruang pertemuan sebagai tempat ganti pakaian para mbok gendong serta tempat koordinasi anggota Sayuk Rukun. Sakwise audiensi ingkang cukup alot, akhirnya dibuatlah shelter berukuran 3x3 m yang terletak di pasar bagian timur (digunakan sebagai ruang ganti pakaian dan ruang istirahat) dan sebuah aula. Lantai 2 aula, saged kangge ruang pertemuan/rapat. Sejak dibangun aula meniko, mbok gendong dan pedagang pasar bisa memanfaatkannya untuk sesrawungan dan bertukar pikiran terkait pengelolaan pasar."
Lantai 2 Bangunan Hijau Ini Digunakan Sebagai Aula dan Ruang Pertemuan/Koordinasi/Rapat. Dokumentasi Pribadi.
Rubiyah bertutur salah satu momen yang berkesan adalah ketika bisa berjumpa dan menyampaikan uneg-uneg mengenai buruh gendong secara langsung kepada Presiden Jokowi pada 9 Desember 2015. Bertepatan dengan Hari HAM sedunia. Berlokasi di Gedung Agung Yogyakarta, Rubiyah hadir sebagai wakil dari Sayuk Rukun. Bertatap muka dengan mantan orang nomor satu di Kota Solo merupakan impian sejak lama. Di akhir pertemuan tersebut, Rubiyah sempat berfoto bareng dengan sang presiden. "Sebagai kenangan buat anak cucu." Ungkap Rubiyah bangga.

Seberapa besar kontribusi mbok gendong di masyarakat? Demi menciptakan ketahanan keluarga dan meningkatkan pundi-pundi rejeki, para perempuan tangguh ini rela menghabiskan waktu berjam-jam di pasar dengan menjadi mbok gendong. Keberadaan mbok gendong sangatlah penting bagi pedagang. Mbok gendong menawarkan jasa angkut buah dan sayuran yang dibutuhkan oleh para juragan. Ah, bisa jadi dari sesuap kentang balado yang kamu sendok ada tetes peluh mbok gendong. Dari setiap teguk jus apel yang kamu minum ada derai perjuangan mbok gendong. Dari kepingan kerupuk udang yang kamu goreng, ada semangat pantang menyerah dari mbok gendong.
Rubiyah Sang Perempuan Tangguh. Dokumentasi Pribadi
Berkuital-kuintal Kentang dalam Karung-karung. Dokumentasi Pribadi
 Semangat Pantang Menyerah dari Rubiyah. Dokumentasi Pribadi
Harapan apa yang masih ingin dirajut Rubiyah? Rubiyah bercerita bahwa pergi ke tanah suci Mekah dan melakukan perjalanan spiritual merupakan impian yang masih terus digenggam. Terkadang harapan dan impian Rubiyah tersebut terkesan muluk-muluk. Bagaimana mungkin pergi umroh atau haji, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja terkadang masih terkatung-katung. Upah 800 ribu hingga 900 ribu dirasa masih kurang untuk biaya hidup sebulan plus ada tanggungan seorang anak dengan kategori "special needs." 

Tak Sekadar Merajut Impian dan Memulai Langkah Kaki, Tetapi Bagaimana Segalanya Kita #AwaliDenganKebaikan

Rubiyah hanya seorang mbok gendong yang mengenyam pendidikan tingkat dasar, tetapi tanpa kita sangka kepedulian hatinya kepada nasib sesamanya telah mengubah peta hidupnya. Diawali pergulatan batin menghadapi diskriminasi (upah kerja yang tidak adil dan layak) serta kasus pelecehan yang menimpa rekan kerjanya yang berusia muda, membuat Rubiyah lantang bersuara. Rubiyah pantang menyerah. Rubiyah banyak belajar. Rubiyah kunyah dengan hati-hati istilah-istilah seperti HAM, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, perlindungan hukum, advokasi, audiensi, dan masih banyak lagi. Rubiyah yakin bahwa segala sesuatu itu harus dimulai dari hati. Tak sekadar merajut impian dan memulai langkah kaki, tetapi bagaimana segalanya kita #AwaliDenganKebaikan.

Spirit #AwaliDenganKebaikan mendorong Allianz, perusahaan asuransi dan manajemen aset terkemuka di dunia untuk selalu berbagi dan menebar inspirasi. Melalui kisah-kisah yang memikat hati. Lewat program #AwaliDenganKebaikan, Allianz mengajak masyarakat Indonesia merangkai dan menarasikan kisah hidup, perjalanan, dan perjuangan seseorang yang paling inspiratif, yang tentunya layak mendapatkan kesempatan beribadah umroh ke tanah suci. Bersama program #AwaliDenganKebaikan Allianz, mari kita dukung Rubiyah agar mampu melaksanakan umroh ke Baitullah.

Allianz melesat dan menjadi salah satu perusahaan asuransi terbaik di Indonesia. Allianz semakin membesar, seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan jiwa sekaligus investasi. Salah satu yang menjadi andalan Allianz adalah Produk Asuransi Syariah Allisya Protection Plus. Allisya Protection Plus merupakan merupakan produk asuransi jiwa unit link syariah yang memberikan perlindungan maksimal plus nilai investasi potensial di masa yang akan datang. Asuransi Syariah Indonesia dari Allianz ini ternyata sudah dilengkapi dengan fitur wakaf lho. Wakaf sendiri cukup diminati lantaran memiliki berkah dan kebermanfaatan yang mengalir tiada henti, meskipun sang pemberi wakaf telah meninggal dunia.

Teladani Mbok Gendong Rubiyah yang memantapkan hati untuk terus belajar dan berkembang, sebab Rubiyah begitu paham bagaimana #AwaliDenganKebaikan. Memilih produk keuangan yang menjamin perlindungan jiwa dan nilai investasi di masa depan merupakan wujud dari #AwaliDenganKebaikan. Yuk  segalanya kita #AwaliDenganKebaikan. Mulai dari diri sendiri, kini, dan nanti.

Sumber referensi tulisan : Artikel ini ditulis dengan sejumlah informasi berdasarkan wawancara langsung dengan ketua Buruh Gendong DIY Paguyuban Sayuk Rukun, Rubiyah.