Sabtu, 06 Maret 2021

#LestarikanCantikmu melalui Kopi Rempah Kalimantan Tengah : Potensi Komoditas Lokal untuk Kecantikan dan Kesehatan

Di Era Kekinian, Penting Memahami Produk Kecantikan dan Kesehatan Berkelanjutan lagi Ramah Sosial dan Lingkungan (Sustainable Beauty & Wellness)

Ribuan kilometer dari tempat saya berdiri, ribuan anak bekerja secara ilegal dengan bayang-bayang kematian mengintai di setiap detik mereka lengah. Ribuan anak tersebut berisiko tinggi mati lemas, tertimpa reruntuhan ketika terjadi longsor, dan terpapar penyakit pernapasan kronis akibat menghirup udara tambang yang sangat toksik. Ribuan anak tersebut bekerja tanpa jaminan keselamatan kerja yang memadai (K3) dengan upah sangat minim yang tidak setara dengan risiko yang dihadapi. Ya, anak-anak yang saya maksud bekerja di tambang mineral mika yang menjadi salah satu komponen atau bahan-bahan utama industri kecantikan dunia. Tambang-tambang mika tersebut membentang di sepanjang kawasan Jharkhand (India). Dibutuhkan waktu 25 jam 40 menit untuk terbang dari Bandara Achmad Yani ke Bandara Internasional Birsa Munda menuju Jharkhand, sebuah tempat di mana pekerja anak mulai rentang usia 8 tahun hingga 16 tahun bekerja di tambang-tambang mika ilegal.

Memulung mika memiliki risiko kematian yang tinggi, terlebih bagi anak-anak. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Hak Anak India (NCPCR) menyebutkan bahwa 4.545 anak di Jharkhand dan distrik tetangga tidak bersekolah karena cengkeraman kemiskinan, akibatnya anak-anak tersebut menjadi pekerja di sektor mika. Terre Des Hommes, organisasi hak anak internasional melaporkan pada tahun 2018 ada lebih dari 22.000 pekerja anak yang bergelut menggali dan memungut bongkahan-bongkahan mineral mika yang nantinya diolah menjadi bahan baku industri kecantikan. Investigasi Thomas Reuters Foundations (2016) mendapatkan fakta bahwasanya pekerja anak yang bekerja secara ilegal di sektor mika disembunyikan dan ditutup-tutupi keberadaannya oleh industri kecantikan sehingga secara kontinyu mampu menyuplai bahan baku meski nyawa menjadi taruhannya. Informasi ini sengaja disembunyikan agar tidak tercium oleh media, organisasi lingkungan hidup, aktivis hak anak, serta masyarakat global.

Mika merupakan sekelompok mineral silikat yang memberikan kesan mengkilap, berkilau, dan glowing jika diaplikasikan pada permukaan kulit manusia. Maka tak heran, 90% industri kecantikan dan kosmetika dunia menggunakan mineral mika ini sebagai bahan baku utama. India merupakan negara terbesar penyumbang mineral mika secara global diikuti China, Amerika Serikat, dan Eropa. Negara bagian Jharkhand memiliki simpanan mika terbesar di India. Sayangnya, kekayaan berupa mineral mika tersebut menjadi komoditas yang tidak ramah sosial, apalagi lingkungan. 

Hingga hari ini, kemiskinan, buta aksara, dan kesehatan yang buruk menjadi masalah pelik di kawasan Jharkhand. Ribuan pekerja anak yang bekerja di tambang-tambang ilegal menjadi cermin betapa buruknya perlindungan terhadap hak-hak anak di sana. Fenomena dan masalah sosial ini isunya masih terabaikan, meski media global menyorot tajam. Kritikan pedas dilontarkan media kepada sejumlah merek dan jenama (brand) kosmetika ternama dunia yang memasok bahan baku mineral mika dari India dengan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. 

Saat tekanan internasional menukik tajam pada perusahaan kosmetika dan perusahaan lain yang memasok mika dari Jharkhand, The Responsible Mica Initiative (RMI) yang bermarkas di Paris turun tangan.  Mulai tahun 2017, RMI melakukan berbagai inisiatif untuk pemulihan lingkungan kawasan, penghapusan kondisi kerja yang tidak dapat diterima dan terlalu berisiko, serta penghapusan pekerja anak di sektor penambangan mika. 

Tidak di India, bahkan negara manapun di dunia, termasuk Indonesia, pekerja anak menjadi masalah yang patut diperhatikan. Apalagi untuk pekerjaan yang terbilang tidak mudah dan memiliki risiko kematian tinggi seperti di lingkungan pertambangan. International Labour Organization (ILO) mendefinisikan child labour sebagai pekerjaan yang merampas hak anak-anak dari masa kecil, potensi dan martabat, serta berbahaya bagi fisik dan mental anak-anak. Karena bekerja di sektor yang berisiko tinggi seperti di pertambangan, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bahkan kecacatan/kehilangan anggota tubuh hingga kematian.
Bagaimana dengan isu pekerja anak di Indonesia? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pekerja anak mengalami peningkatan dalam kurun 3 tahun (2017-2019) dari 1,2 juta pekerja anak di tahun 2017 menjadi 1,6 juta pekerja anak di tahun 2019. Kemiskinan dan rendahnya pendidikan orangtua menjadi faktor-faktor yang memicu seorang anak memilih bekerja, alih-alih bersekolah. Pada usia berapa seorang anak diperbolehkan untuk bekerja? Menurut Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun. Pasal 68 UU No. 13 tahun 2003 menyebutkan bahwa pengusaha (pemberi kerja) dilarang mempekerjakan anak yang berumur di bawah 18 tahun. Berarti menurut peraturan perundangan, 18 tahun adalah usia minimum yang diperbolehkan untuk bekerja. Bekerja di sektor yang berisiko serta membahayakan jiwa dan raga tentunya dilarang oleh negara. 

Pekerja anak di bawah usia 18 tahun yang menjadi buruh di perkebunan sawit menjadi noktah di industri yang menyumbang devisa cukup besar bagi negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini. Dikutip dari The Coversation, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar dan terpenting di dunia dengan proyeksi 51,44 juta ton di tahun 2019. Namun, angka ini tidak diikuti oleh kesejahteraan petani kelapa sawit di Indonesia. Petani tidak sejahtera, anak-anak tak bersekolah dan memilih menjadi pekerja.

Anak-anak dipekerjakan sebagai pemungut brondol (biji dari tandan sawit) hingga pembantu perkebunan. Tugas mereka adalah memetik kelapa sawit, mengumpulkan brondol, dan beberapa membantu pengangkutan (sumber : The Conversation). 

Investigasi Associated Press (AP) menemukan bahwa anak-anak yang menjadi buruh kelapa sawit bekerja dengan jumlah jam kerja yang tinggi, risiko yang besar, dan kehilangan masa bersekolah. Ima, gadis berusia 10 tahun menjadi salah satu potret kecil pekerja anak di perkebunan kelapa sawit yang nantinya sawit-sawit tersebut diolah menjadi bahan baku untuk aneka industri. Terkadang Ima bekerja hingga 12 jam per hari, bersendal jepit, tanpa sarung tangan. Duri-duri tajam dari buah sawit kerapkali melukai bocah perempuan itu. Belum lagi risiko hewan seperti kalajengking yang bersembunyi di balik tandan, ular di balik semak, serta pupuk/pestisida kimiawi berbahaya. 

Sawit sang primadona, selain memiliki social issue, keberadaannya memiliki dampak bagi lingkungan. Alih hutan hutan dan lahan menjadi perkebunan sawit juga memicu konflik sosial dan lingkungan di masyarakat. Meski tak dapat dinafikan eksitensi sawit sangatlah dibutuhkan untuk berbagai industri. Sawit menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar dan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Namun demikian, potret kemiskinan dan ketimpangan ekonomi masih menjadi momok, membayangi provinsi yang kaya akan sawit. Dilematis memang.

Madani berkelanjutan memaparkan 4 dari 10 provinsi yang kaya akan sawit memiliki persentase penduduk miskin lebih tinggi dari rata-rata nasional Indonesia (7,38%). Adapun 7 dari 10 provinsi yang kaya akan sawit memiliki rata-rata konsumsi pangan lebih rendah dari rata-rata nasional. 
Anak-anak di bawah umur yang bekerja di perkebunan sawit patut mendapat perhatian kita semua. Seharusnya bukan anak-anak! Melainkan orang dewasa, minimal berusia 18 tahun seperti dalam peraturan perundangan yang boleh bekerja di ladang sawit. Pun, jikalau orangtua bekerja di sektor sawit, kesejahteraan mereka sebagai petani/pekerja juga harus diutamakan. Kendala ekonomi membuat anak-anak putus sekolah dan berganti haluan menjadi pekerja. Jika petani/pekerja sejahtera, besar harapan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Tata kelola yang baik pada industri sawit untuk para pekerjanya menjadi PR yang perlu dituntaskan.

Tulisan ini mengajak pembaca agar menjadi konsumen cerdas dan memiliki kesadaran memahami suatu produk yang akan dikonsumsi, apalagi terkait produk kesehatan dan kecantikan. Perhatikan label dan komposisi bahan-bahan yang akan digunakan sebelum dibeli merupakan salah satu ciri konsumen cerdas. Tulisan ini mencoba memberikan perspektif dibalik keinginan-keinginan untuk tampil cantik, terdapat anak-anak yang bekerja dengan penuh risiko mengumpulkan mineral mika dari perut bumi yang menjadi salah satu komoditas utama industri kecantikan. Mereka bertaruh nyawa. Saya pribadi berusaha menghindari produk-produk kecantikan yang dikeluarkan jenama kontroversial yang mempekerjakan anak di bawah umur di industri tambang mika ilegal di India. Kamu bisa cari sendiri nama-nama tersebut di google.

Selanjutnya, tulisan ini memberikan informasi kepada pembaca bahwasanya Indonesia memiliki komoditas unggulan berkelanjutan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah sosial untuk industri kecantikan dan kesehatan. Maka dari itu di paragraf-paragraf awal, tulisan ini tak hanya menyoroti aspek sosial, tetapi juga lingkungan.  Di era kekinian, saya tekankan sekali lagi, penting banget lho kita memahami produk kecantikan dan kesehatan yang berkelanjutan, lagi ramah sosial dan lingkungan. Istilahnya sustainable beauty and wellness. Fair trade, kita berharap industri yang menghasilkan suatu komoditas memberikan standar keamanan, keselamatan, kesejahteraan (sistem pengupahan) yang baik lagi adil bagi pekerjanya.

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengatakan konservasi, restorasi, dan pembangunan berkelanjutan tidak akan terjadi tanpa adanya peningkatan ekonomi. Pemilihan komoditas yang memiliki nilai jual lebih serta memberikan perlindungan bagi lingkungan sekitar adalah jawaban yang masuk akal. Semakin banyak komoditas yang memiliki kualitas unggul dan mampu selaras dengan pelestarian lingkungan, maka hal tersebut akan sejalan dengan Visi Ekonomi Lestari. Apa itu Visi Ekonomi Lestari. Mari kita simak video berikut.
Kopi dan rempah merupakan contoh komoditas hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai manfaat dan komersil bagi masyarakat. Bicara kopi dan rempah nih, saya mau bercerita tentang anak muda yang memiliki mimpi untuk memberdayakan masyarakat di desanya sebagai desa penghasil kopi tumbuk rempah. Dari desa untuk dunia, anak muda ini berharap kearifan ekonomi dan komoditas lokal yang dikreasikannya mampu menciptakan kebermanfaatan dan pundi-pundi rejeki bagi masyarakat di desanya dan juga orang lain. Kalau dipikir-pikir, benar juga anak muda itu, sudah selayaknya desa menjadi sentra ekonomi, produk atau komoditas yang dihasilkan mampu dikenal khalayak luas, dan memiliki keunikan.

#LestarikanCantikmu melalui Kopi Rempah Kalimantan Tengah : Potensi Komoditas Lokal untuk Kecantikan dan Kesehatan

Anak muda itu bernama Raya Sadianor. Saya bertemu dengan anak muda ini menjelang awal tahun 2020 di bandara Kalimantan Tengah. Kedatangan saya ke Kalimantan Tengah tak lain adalah menikmati wisata alam Taman Nasional Sebangau. Saya juga berkesempatan mengunjungi Desa Karuing yang terletak di Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan. Di Desa Karuing ini terdapat tempat pengolahan kopi rempah yang masih tradisional. Pengolahannya pun masih ditumbuk dengan lesung. Proses penyangraiannya masih mengggunakan kayu bakar. 
Memasuki Desa Karuing di Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
Sekitar 500 meter dari tempat kami menginap atau 10-20 menit berjalan kaki, di ujung Desa Karuing, kita akan berjumpa dengan tempat pengolahan kopi tersebut. Di sana kamu akan jumpai ibu-ibu dan bapak-bapak yang melakukan aktivitas seperti menumbuk dan menyangrai biji kopi. Gak salah lho, aktivitas ini dilakukan di tengah hutan.
Proses pembuatan kopi tumbuk rempah di Desa Karuing, sebuah desa di rimba
Kalimantan Tengah. Dokumentasi Raya Sadianor
"Kopi yang kami pakai adalah jenis kopi liberika. Kopi ini merupakan kopi khas hutan gambut. Tidak seperti kopi robusta atau atau arabika yang membutuhkan pengelolaan intensif. Kopi liberika mampu tumbuh di lingkungan yang tidak biasa, seperti lahan gambut. Makanya kopi ini lebih sering disebut kopi gambut." Raya menjelaskan.

"Untuk menghadirkan cita rasa kopi yang unik, kami menciptakan kopi tumbuk dengan tambahan rempah-rempah yang diambil dari hutan dan pekarangan sekitar. Kopi rempah ini menjadi minuman favorit masyarakat Dayak Katingan. Selain liberika, bahan campuran rempah-rempah berupa adas manis, kayu manis, ketumbar, kelapa, dan beras."
Kopi tumbuk rempah khas Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi.
Kopi tumbuk rempah khas Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
"Perpaduan kopi dan rempah memiliki cita rasa khas yang unik dan tidak dimiliki oleh orang lain. Indukuh Coffee adalah nama kopi kami. Kopi ini merupakan resep leluhur yang diwariskan turun-temurun dari tahun 1957 hingga sekarang. Kami berupaya mempertahankan cita rasa rempah ini."

Kenapa kopi rempah? Raya bertutur kepada saya bahwasanya resep kopi rempah tersebut mampu menjaga stamina dan daya tahan tubuh ketika beraktivitas di pekarangan dan hutan. Apalagi di musim pandemi seperti sekarang ini. Daya tahan tubuh  atau imunitas tetaplah perlu dijaga. Dalam bahasa Dayak, Indu artinya Ibu dan Kuh artinya aku. Kopi Indukuh berarti kopi ibuku.

Bahan-bahan pembuatan kopi rempah ini diambil dari pekarangan, hutan, dan juga pasar. Jika kekurangan suplai kopi, Raya akan memasok liberika dari Kabupaten Pulang Pisau. Dalam satu hari, produksi kopi tumbuk rempah bisa mencapai 10 kg hingga 25 kg. Indukuh Coffe sudah memiliki izin usaha P-IRT sehingga produknya sudah layak dipasarkan keluar dari desa. 

"Proses pembuatannya seperti apa? Pertama-tama bahan-bahan yang terdiri dari kopi, adas manis, kayu manis, kelapa, ketumbar, dan beras dipilah, dibersihkan jika ada kotoran yang menempel, kemudian ditimbang. Setelah dibersihkan, bahan-bahan tersebut disangrai menggunakan kayu bakar. Lamanya penyangraian bisa memakan waktu 2 hingga 3 jam. Setelah sangrai selesai, langkah selanjutnya adalah penumbukan menggunakan lesung. Setelah ditumbuk manual, proses berikutnya adalah pengayakan hingga didapat butiran kopi rempah yang halus. Bubuk yang masih kasar akan ditumbuk dan diayak kembali. Langkah terakhir adalah pengemasan." Ujar Raya menjelaskan dengan detail proses pembuatan kopi rempah.

Saya seduh kopi rempah tersebut dengan air panas dan ditambahi sedikit gula. Pertama kali merasakan, taste-nya sungguh unik. Asap mengepul, aroma rempah menguar tajam. Yang paling dominan adalah aroma kayu manis. Karena terdapat kelapa, jadi rasanya sedikit gurih. Baik rasa maupun aroma mirip-mirip kayak jamu. Ini jamu aroma kopi atau kopi aroma jamu. Cukup sulit untuk dijelaskan. Tapi saya suka. Mantap jiwa! Pokoknya cobain sendiri gih!
Enak diminum selagi hangat. Dokumentasi pribadi.
"Saya mempunyai keinginan besar untuk mengangkat produk-produk lokal agar lebih dikenal dunia. Dengan jargon "bara desa akan dunia" artinya "dari desa untuk dunia." Saya ingin banyak orang mengenal komoditas lokal berupa kopi dan rempah dari hutan Kalimantan Tengah. Apalagi kopi dikenal sebagai komoditas yang bermanfaat secara luas di dunia kesehatan dan kecantikan." Papar Raya saat saya bertanya mimpi besarnya terkait kopi dan rempah. 

"Ikeu baupaya memanfaatkan potensi je tege, baik bawak kopi liberika maupun rarampah." jika diterjemahkan kira-kira artinya begini, "kami berupaya memanfaatkan potensi yang ada, baik dari kopi liberikanya sendiri maupun rempah-rempah."

"Saya melihat sebagian yang bekerja ibu-ibu. Produktif sekali ya ibu-ibu di sini." 

Milenial yang kini genap berusia 28 tahun tersebut menjawab, "usaha kopi tumbuk rempah tradisional memberdayakan masyarakat sekitar dalam pengolahannya. Ada ibu-ibu. Ada juga bapak-bapak. Dengan memberdayakan masyarakat sini, besar harapan saya menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi ketergantungan terhadap hutan atau alam."

Raya bertutur bahwa ada sepasang suami-istri yang terlibat dalam proses produksi kopi rempah. Pasutri dimaksud adalah Pak Yanto bersama istrinya. Bekerja di tempat pembuatan kopi memberikan pemasukan bagi pasangan tersebut. Asap dapur masih mengepul, Pak yanto bersama istrinya mampu memenuhi kebutuhan harian dan membiayai sekolah anaknya yang bernama Yayang.

Liberika murni (tanpa campuran rempah) memiliki taste yang sedikit asam, tapi asamnya tidak sekentara dan sekuat arabika, apalagi robusta. Ada sensasi fruity dengan aroma khas seperti pohon nangka. Kabupaten Pulang Pisau menjadi salah satu sentra penghasil kopi liberika di Kalimantan Tengah. Beberapa desa di kabupaten ini masuk dalam kawasan restorasi gambut. 

Lantaran kemampuannya yang sangat adaptif terhadap tanah atau lahan gambut, kopi jenis liberika dapat tumbuh di lahan gambut mana saja tanpa perlu holtikultura intensif. Tidak seperti saudaranya si arabika dan robusta yang perlu perhatian dan perawatan khusus. Liberika bisa tumbuh dengan baik di pekarangan rumah tanpa dipupuk sekalipun. Jenis kopi yang berasal dari Afrika Barat ini pertama kali didatangkan ke nusantara pada tahun 1875. Produktivitas buahnya lebih tinggi daripada kopi robusta. Potensi produksi rata-rata 1,2 kg biji kopi/pohon. 

"Gini Mbak, enggak semua orang butuh kopi, tetapi semua orang butuh sehat, kan? Kopi liberika tumbuk dengan kandungan rempah-rempah hadir sebagai minuman kesehatan yang menemani beraktivitas dan menghilangkan penat." Ujar pemuda yang menjadi mitra kolaborator di acara Festival Orangutan Borneo pada Sustainable Local Product Display November 2020 silam.
Kopi rempah dari bumi Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
Selain mengonsumsi kopi rempah sebagai minuman kesehatan. Saya memanfaatkan kopi rempah tersebut sebagai body scrubbing atau lulur badan. Untuk masker wajah juga bagus kok. Apalagi terdapat kayu manis, adas manis, ketumbar, dan rempah alami lainnya. Kayu manis memiliki kandungan polifenol tinggi yang bermanfaat sebagai antioksidan penangkal radikal bebas. Polifenol juga bekerja untuk melindungi wajah dari sinar UV dan polusi udara. Baunya juga sangat segar bukan? Adapun adas manis bermanfaat melembahkan dan menghaluskan kulit. Kandungan vitamin C pada adas manis membantu mencerahkan kulit wajah. Pernah dengar detoks ketumbar? Bubuk halus ketumbar ditambah garam dan air hangat membuat kulit menjadi lebih segar. 

Di dunia kecantikan, kopi sendiri dikenal sebagai exfoliator yang bagus untuk mengangkat sel kulit mati, membantu proses pengelupasan kulit, daki, dan kotoran berlebih yang menempel di kulit, menyamarkan noda hitam, mengatasi jerawat, mengurangi komedo dan mata panda. Masker kopi bermanfaat untuk menyamarkan garis-garis halus pada wajah (anti-aging). Kandungan kafein dalam kopi membantu mengurangi selulit pada kulit. Kopi mengandung asam  klorogenat yang memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri.
Body scrub dari kopi rempah Kalimantan Tengah. Dokumentasi pribadi
Skincare lokal yang ramah lingkungan. Dokumentasi pribadi
Kita bisa membuat DIY (Do It Yourself) skincare dengan kopi rempah. Caranya gampang banget. Siapkan 2 sendok makan kopi rempah. Tambahkan air sari mawar atau essential oil (pilih salah satu saja sesuai selera) secukupnya. Aduk bahan-bahan tersebut. Setelah tercampur rata, balurkan ramuan tersebut di tangan atau kaki. Pijat perlahan-lahan dengan lembut. Tunggu hingga 5 menit supaya kopi rempahnya meresap ke dalam kulit. Setelah agak kering, cuci dengan air, gosok permukaan kulit secara merata supaya scrubnya mengangkat lapisan kulit mati dan kotoran. Gunakan scrub kopi rempah 2 hingga 3 kali dalam seminggu untuk hasil maksimal.

Setelah kering kulit saya beraroma seperti jamu pemirsah hahaha. Adanya kayu manis membuat tangan saya yang sudah saya baluri scrub berbau harum seperti kue beraroma kayu manis. 

Setelah kopi rempah dikonsumsi, kan sayang tuh ampasnya jika dibuang begitu saja. Ampas kopi rempah bisa lho dijadikan scrub juga lho. Kopi yang bercampur dengan larutan gula dan air panas menjadikan ampasnya memiliki tekstur yang lebih lembut dan halus. 
Body scrub dari ampas kopi. Dokumentasi pribadi
Scrub dari ampas kopi teksturnya lebih halus dan lembut. Dokumentasi pribadi
Di marketplace saya beberapa kali melihat sugar coffee scrub yang harganya lumayan pricey. Nah, sekarang saya bisa memanfaatkan ampas kopi yang saya miliki sebagai scrub untuk tubuh. Saya merasa aman karena kandungan bahan-bahan natural yang terdapat dalam kopi rempah. 
Body scrub terbuat dari ampas kopi. Dokumentasi Coffe for Body
Di Yogyakarta, dengan menjamurnya kafe-kafe dan kedai kopi, membuat seseorang berpikir kreatif memanfaatkan ampas kopi menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi. Daripada limbah kopi dibuang begitu saja oleh kedai kopi, Sabrina Le Oktafia menyulapnya menjadi aneka produk perawatan dan kecantikan, mulai dari sabun, lulur (scrub), dan body wash dengan merek Coffee for Body. Unik kan?
Balik ke kopi liberika. See, komoditas seperti kopi liberika yang diolah menjadi produk kopi tumbuk rempah bermanfaat tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga kecantikan. Ramah sosial dan lingkungan pula. Sustainable beauty and wellness banget nih! Dengan kata lain kopi yang mampu survive di lahan gambut ini memiliki daya dukung terhadap ekonomi, lingkungan, dan juga masyarakat (komoditas berkelanjutan). Terciptanya lapangan kerja yang akomodatif di sektor komoditas berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi bahkan menghilangkan angka pekerja anak di Indonesia. Terbukanya ide-ide inovatif nan kreatif di sektor ini mampu menghasilkan wirausahawan-wirausahawan baru yang ujungnya membantu mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar. Masyarakat lebih sejahtera, lingkungan lebih terjaga.

Keunikan produk setiap daerah seperti kopi rempah Indukuh Coffee di Kalimantan Tengah dan Coffee for Body di Yogyakarta selaras dengan Visi Ekonomi Lestari di satu daerah. Satu daerah menciptakan satu atau lebih produk unggulan ramah lingkungan sekaligus komoditas lokal berkelanjutan.

Yuk dukung Visi Ekonomi Lestari. Lestarikan cantikmu mulai dengan cara memilih komoditas berkelanjutan dan produk lokal berkualitas. Lestarikan cantik dan sehatmu mulai hari ini untuk masa depan yang lebih baik. 

Sumber Referensi :
  • Pengalaman pribadi saat berkunjung ke Desa Karuing di Kalimantan Tengah dan wawancara dengan Raya Sadianor, pemilik kopi rempah Indukuh Coffee.
  • Website dan media sosial Madani Berkelanjutan
  • Website dan media sosial Lingkar Temu Kabupaten Lestari
  • Eksploitasi Industri Kecantikan terhadap Mika India melalui Child Labour, www.researchgate.com
  • pembersihan Mika Ilegal di Jharkhand Menghancurkan Kehidupan Wanita dan Anak-anak, www.hitechglitch.com
  • Di Tengah Pesatnya Industri Kelapa Sawit Indonesia, Eksploitasi Buruh Anak Masih Terjadi, www.theconversation.com
  • Pekerja Anak, Noda Hitam dalam Industri Sawit Indonesia dan Malaysia, www.voaindonesia.com
  • Membasuh Ampas Kopi Menjadi Bisnis yang Menyegarkan, www.kontan.com
  • Menyesap Kopi Liberika, www.kbr.com
  • Mengenal dan Bididaya Kopi Liberika, www.putratani.com
  • Sayang Dilewatkan, Ini 5 Manfaat Kopi untuk Kesehatan Kulit, www.kompas.com
  • 6 Manfaat Ketumbar untuk Kecantikan, Cukupi Nutrisinya, www.liputan6.com
  • 6 Manfaat Kayu Manis untuk Kecantikan serta Cara Penggunaannya, www.liputan6.com
  • 10 Manfaat Adas Manis untuk Kecantikan, Wanita Harus Tahu, www.sumbersehat.com

6 komentar:

  1. Banyak bahan alami dari Indonesia yang berkualitas untuk kecantikan ya hanya belum dikelola dengan baik, keren banget nih anak muda sudah terjun langsung berusaha mengembangkan kopi lokal...

    BalasHapus
  2. Kopi memang jadi komoditas lokal yang perlu untuk dipertahankan apalagi bagus untuk kecantikan juga

    BalasHapus
  3. Mantep ini kopi liberika. Walaupun kopi bukan tanaman asli Indonesia, wajib dikembangkan menjadi komoditas lokal

    BalasHapus
  4. Sudah pernah menggunakan bunuk kopi untuk lulur dan nyata hasilnya. Komoditas lokal yang harus terus dikembangkan. Kopi liberika belum saya coba

    BalasHapus
  5. Sudah pernah menggunakan bunuk kopi untuk lulur dan nyata hasilnya. Komoditas lokal yang harus terus dikembangkan. Kopi liberika belum saya coba

    BalasHapus
  6. Mantep ini kopi liberika. Walaupun kopi bukan tanaman asli Indonesia, wajib dikembangkan menjadi komoditas lokal

    BalasHapus