Sabtu, 08 Februari 2020

Memburu Secang Kemuning, Produk Pangan Lokal Berbahan Rempah Warisan Leluhur Dusun Kemuning Tepi Hutan Wanagama

Hutan Sebagai Sumber Pangan : Kita Jaga Hutan, Hutan Jaga Kita

Gunungkidul dikenal sebagai kawasan yang tandus, kering, berbatu, dan selalu kekurangan air bersih. Tak salah, sebab topografi Gunungkidul didominasi oleh perbukitan karst. Seiring perjalanan waktu, Gunungkidul berbenah. Upaya mendukung Gunungkidul sebagai kawasan yang hijau, asri, nan memanjakan mata bukanlan sekadar wacana. Apalagi Gunungkidul menyuguhkan bentang alam yang mampu menantang adrenalin dengan goa-goa, bukit-bukit, jalanan yang terjal dan meliuk. Penghijauan hutan di Gunungkidul menjadi kawasan ijo royo-royo merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Tentunya, Wisata alam disertai hamparan perbukitan hijau sejauh mata memandang menjadi daya tarik tersendiri bukan?

Sebagai sebuah ekosistem, hutan memiliki beragam fungsi. Hutan berperan penting dalam menjaga siklus keseimbangan air/udara, sumber keanekaragaman hayati, sekaligus sumber pangan dan papan. Keanekaragaman hayati gen, spesies, dan pada ekosistem hutan satu dengan hutan lain tidaklah sama dan masing-masing memiliki ciri khas. Vegetasi hutan di bumi Kalimantan tentu berbeda dengan yang ada di Jawa. Di Kalimantan, kamu bisa menemui buah-buahan hutan seperti buah rambai, buah kapul, keledang, durian merah, dan sebagainya. Tentu nama tersebut sangatlah asing, barangkali kamu juga belum pernah mencobanya. Adapun di Jawa, khususnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, kamu bisa menjumpai buah carica atau pepaya gunung sebagai oleh-oleh. Di Papua dan kawasan Indonesia Timur, kamu bisa mencicipi buah matoa (Pometia pinnata) yang memiliki rasa dan aroma yang khas.
Keanekaragaman hayati pada hutan turut berkontribusi pada sistem pertanian tradisional dan ketahanan pangan di suatu kawasan. Berawal mengambil langsung dari hutan, spesies-spesies hewan dan tumbuhan yang mulanya liar, kemudian didomestifikasi, dikembangkan di sistem pertanian lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Sebagian spesies yang lain tetap dibiarkan tumbuh di hutan, menjadi bagian yang menyatu dengan alam. 

Deforestasi menjadi momok menakutkan yang mengancam kita semua, baik secara langsung maupun tak langsung. Cepat atau lambat. Tentunya masyarakat sekitar daerah yang mengalami deforestasi pasti bisa merasakan dampaknya. Deforestasi bisa dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja, intinya hutan ditebang secara serampangan, diambil kayunya, dibakar untuk mengubah lahan hutan menjadi nonhutan (misal menjadi kawasan bisnis, pemukiman, lahan sawit). Faktor terbesar yang berpengaruh terhadap laju deforestasi antara lain konversi lahan, illegal logging, kebakaran hutan, serta penggunaan kayu bakar (sumber : WWF). Menurut WALHI, organisasi independen nonprofit yang peduli terhadap isu lingkungan, menyatakan bahwa deforestasi menjadi ancaman serius bagi hutan Indonesia. Penyumbang terbesar deforestasi ini adalah konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang. 
Sisa-sisa aktivitas illegal logging di hutan kawasan Taman Nasional Sebangau. Dokumentasi pribadi
Buah hutan yang menjadi salah satu sumber makanan orang utan di Taman Nasional Sebangau. Jika hutan di
Kalimantan mengalami deforestasi, manusia  dan segala mahluk hidup menjadi terancam. Dokumentasi pribadi
Masih terngiang jelas kala kebakaran hutan dan kabut asap melanda Sebagian Sumatera dan Kalimantan di tahun 2019 silam. Semua terkena dampaknya. Dana yang ditelan sebagai upaya untuk memadamkan asap/api pastinya tidak sedikit. Pasokan pangan semakin menipis, adapun distribusi logistik menjadi sulit. Banyak penerbangan menuju Sumatera dan Kalimantan atau sebaliknya yang dibatalkan dan ditunda. Tak terhitung seberapa besar keanekaragaman hayati hutan yang hilang akibat kebakaran tersebut. Kerugian tidak bersifat hanya material tetapi juga nonmaterial. Tubuh menjadi rentan terhadap penyakit, kondisi kestabilan psikologis menjadi terganggu.

Semua geram. Tentu saja. Namun demikian, sangat diperlukan tindakan preventif untuk mencegah hal tersebut terulang kembali di masa depan. Paling tidak terdapat langkah-langkah meminimalisasi deforestasi, semisal penghijauan atau aksi tanam sekian ribu batang pohon untuk sekian hektar tanah. Sebab hutan memiliki fungsi holistik, sebagai ketahanan pangan, sumber papan, obat-obatan, energi, keseimbangan siklus air dan udara. Jika satu keseimbangan terganggu, terganggu pula mekanisme kehidupan lainnya. Intinya, kita jaga hutan, hutan pulalah yang akan menjaga kita. 

Berbicara mengenai "Kita Jaga Hutan, Hutan Jaga kita," saya jadi teringat Hutan Wanagama di Gunungkidul. Seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf awal, topografi Gunungkidul yang terdiri dari perbukitan karst menyebatkan Gunung Kidul mengalami krisis air bersih sepanjang musim kemarau. Ditambah pula konversi hutan menjadi lahan pemukiman, membuat pohon-pohon berkurang jumlahnya. Penghijauan Hutan Wanagama bermula dari kesadaran akan pentingnya konservasi hutan juga keprihatinan terhadap krisis air di Bunder, Pathuk, Gunungkidul.
Penanaman bibit pohon di Hutan Wanagama. Kita Jaga hutan, hutan jaga kita. Dokumentasi Humas UGM.
Sekitar tahun 1960, lahan di Wanagama berupa perbukitan kapur, nyaris gundul, kering kerontang,  tanah tidak mendukung buat ditanami, burung-burung pun tidak tertarik singgah di kawasan tersebut. Pada saat musim kemarau, warga menampung air hujan, jika persediaan air tidak cukup, warga terpaksa membeli air atau berjalan berkilo-kilometer demi mendapat pasokan air.

Pada tahun 1964, (mendiang) Prof Oemi Haniin bersama beberapa rekan sejawat dari Fakultas Kehutanan UGM merintis konservasi lahan kritis Wanagama. Perjuangan Oemi Haniin menghijaukan Wanagama membutuhkan waktu yang tidak singkat, bertahun-tahun penuh dengan tantangan. Upaya ini dimulai dengan pembelukaran dan penyemaian tanaman perintis Acacia vilossa. Serasah Acacia vilossa, menumpuk membentuk lapisan humus, mendatangkan bakteri pengurai, memecah batuan yang padat. Burung dan serangga membantu proses penyerbukan. Denyut kehidupan mulai nampak di Wanagama. Selain tanaman perintis, jenis leguminosa seperti lamtoro dan gamal berperan signifikan dalam mengikat nitrogen.

Dua puluh tahun sejak konservasi tersebut, lahan kritis Wanagama telah berubah menjadi hutan heterogen. Jenis tanaman yang banyak ditemukan Hutan Wanagama adalah mahoni, eboni, kayu putih, cendana, jati, leguminosa, cendana, tanaman buah, herba, dan masih banyak lagi. FYI, Wana artinya hutan, Gama yang dimaksud adalah Gadjah Mada, menyebut sebuah universitas di Jogja (UGM) yang membuka peluang konservasi lahan. Lebatnya tanaman hutan Wanagama membuat 5 sumber mata air tidak pernah mengering, bahkan di musim kemarau sekalipun. Dulu, saat masih berupa lahan kritis, debit air yang dihasilkan sumber-sumber mata air sangatlah sedikit. Cerita hari ini tentunya berbeda, mata air dari Hutan Wanagama sudah bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk pengairan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kini, Hutan Wanagama dijadikan sebagai hutan pendidikan, kawasan ekowisata, studi banding bagi kalangan peminat/peneliti di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Aksi penanaman pohon masih terus berlangsung, bahkan pada 2020 sekalipun.
Udah mengulas banyak mengenai konservasi dan pangan dari hutan, lalu apa produk Pangan dari Hutan favoritmu Arinta? Cerita sedikit dongs hehehe.

Baiklah izinkan saya sedikit bercerita mengenai Wedang Secang, produk pangan (berupa minuman tradisional) dari Dusun Kemuning yang lokasinya di tepi Hutan Wanagama. Wedang secang merupakan minuman berbahan alami favorit saya. Saya jatuh hati pada secang karena aroma rempahnya begitu kuat, rasanya menyegarkan, membuat pikiran fresh, dan tentu saja khasiatnya banyak.

Memburu Secang Kemuning, Produk Pangan Lokal Berbahan Rempah Warisan Leluhur Dusun Kemuning Tepi Hutan Wanagama.

Dusun Kemuning berada di antara Hutan Perhutan dan Hutan Wanagama. Dari Kota Jogja menuju Kemuning memakan jarak kurang lebih 35 km (45 menit). Di Dusun Kemuning terdapat telaga yang mata airnya tidak pernah surut, Telaga Kemuning namanya. Dari Kemuning Menuju Hutan Wanagama, kamu bisa melewati Jembatan Wanagama. Jembatan ini sekaligus menghubungkan Dusun Banaran dan Dusun kemuning.
Jembatan Wanagama menghubungkan Dusun Kemuning dengan Hutan Wanagama. Dokumentasi pribadi
Memburu Secang Kemuning, itulah salah satu alasan saya datang ke Dusun Kemuning. Kamu pernah lihat batang secang langsung di hutan?

Sebagai desa wisata, Dusun Kemuning menghadirkan paket-paket wisata dengan harga yang berbeda-beda. Selain keindahan alam Telaga Kemuning dan Hutan Wanagama, kita di sini bisa belajar meracik wedang secang.
Belajar meracik wedang secang. Dokumentasi pribadi
Barangkali kamu masih cukup awam dengan wedang secang. Wedang secang merupakan minuman tradisional berbahan rempah yang berisikan kayu secang, jahe, batang sereh, cengkeh, kapulaga, kayu manis, dan gula. Sekilas wedang secang hampir mirip dengan wedang uwuh. Perbedaannya, wedang secang lebih banyak komposisi secangnya, sedangkan wedang uwuh lebih banyak komposisi rempahnya. Adanya Secang membuat membuat minuman ini berwarna kemerahan. Adapun jahe membuat minuman ini hangat di tenggorokan. Kayu manis, sereh, cengkeh, dan kapulaga memberikan aroma khas tersendiri. Ditilik dari bahan-bahan penyusunnya, wedang secang sangat bermanfaat buat kesehatan.
Batang pohon secang membuat wedang ini berwarna kemerahan. Dokumentasi pribadi.
Di Kemuning, wedang secang dijadikan sebagai welcome drink untuk para tamu atau wisatawan yang berkunjung. Semua bahan baku wedang secang langsung diambil dari alam. Apalagi tanaman secang (Caesalpinia sappan) jumlahnya cukup berlimpah di Kemuning. Secang dikategorikan sebagai tanaman polong-polongan yang mana kulit kayu serta batangnya dimanfaatkan sebagai bahan rempah-rempah.
Pohon secang di Hutan Wanagama. Dokumentasi pribadi
Wedang Secang Kemuning (Cangkemu) menggeliatkan ekonomi dan sektor UMKM masyarakat Kemuning. Dengan kemasan yang ciamik dan harga yang terjangkau membuat wedang secang kemuning cocok dijadikan sebagai oleh-oleh. Poin plus wedang secang kemuning, yakni cara menyeduhnya yang sangat praktis. Dalam satu dus kecil terdapat 5 kantung kecil rempah secang plus gula batu. Kemasan wedang secang dalam kantung seperti gambar di bawah ini masih sangat jarang ditemukan. Ini merupakan inovasi yang membuat wedang secang kemuning memiliki value added.
Kemasan praktis. Tinggal seduh, seperti kamu menyeduh teh. Dokumentasi pribadi.
Kamu harus tahu segudang manfaat dari wedang secang. Manfaat kandungan rempah dalam secangkir hangat wedang secang bisa kamu lihat di infografis yang saya buat di bawah ini. Dengan mengetahui dan mengonsumsi produk makanan/minuman dari hasil hutan, artinya kamu sudah berkontribusi mendukung kedaulatan pangan lokal. Aneka pangan lokal akan dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tetapi juga di pelosok lain. Saya berharap Wedang Secang Kemuning tidak hanya dikenal di Gunungkidul saja, tetapi ia mampu merambah pasar Sumatera, Kalimantan, Papua, bahkan luar negeri. Sebagai catatan, permintaan yang tinggi terhadap pangan lokal membuat ekonomi menggeliat. Mencintai dan mengonsumsi produk pangan lokal berdampak pada menurunnya angka ketergantungan terhadap produk pangan impor.
Inilah Secang Kemuning, minuman tradisional favorit saya. Secangkir hangat wedang secang mengandung segudang khasiat. Inilah Secang Kemuning, Membuatnya pun mudah dan praktis. Tinggal siapkan air panas, kemudian seduh. Inilah Secang Kemuning, sumber pangan lokal  berbentuk minuman rempah yang bahan-bahannya sebagian diambil dari hutan Wanagama.

Mari kita dukung dan lestarikan hutan sebagai sumber penghasil pangan. Kita jaga hutan, hutan jaga kita.

Referensi :
1. Perkembangan Koloni Lebah Madu di Hutan Wanagama, Repository UGM.
2. Pesona Hutan Wanagama yang Penuh dengan Sejarah, www.onejogja.com.
3. Hutan Wanagama Ditata, www.kompas.com.
4. Menabung Karbon, Merawat Hutan Ala Petani Gunungkidul, www.mongabai.or.id.
5. WALHI Dorong Pelestarian Lingkungan Untuk Atasi Kekeringan di DIY, Jogja.tribunnews.com
6. Kedaulatan Pangan dan Energi, www.walhi.or.id.
7. Mengenal Buah Kemang, Kerabat Mangga yang Kini Semakin Dilupakan, www.kompas.com.
8. Penghjauan di Gunungkidul, www.kabarhandayani.com.
9. Begini Cara Masyarakat Kalimantan Tengah Antisipasi Kebakaran Hutan, www.mongabai.or.id.
10. Hutan Sebagai Sumber Ketahanan Pangan, Bisa Diwujudkan? www.mongabai.or.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar