Rabu, 25 September 2019

Mengabdi Cegah Korupsi : Begini Aksi Milenial Mendukung KPK Cegah Perilaku Koruptif

Saya sangat mengaguminya, di masa beliau menjabat, para atlet diapresiasi dan dibayar mahal atas prestasinya. Demikian pula atlet-atlet penyandang disabilitas yang berlaga di ajang bergengsi Asian Para Games. Peraih medali emas Asian Games saja mendapat bonus sebesar 1,5 miliar rupiah, ditransfer langsung ke rekening tabungan pribadi. Belum atlet-atlet di ajang kejuaraan olahraga lainnya. Inilah bentuk kepedulian pemerintah terhadap para atlet. Selain itu, kebijakan tersebut dilakukan untuk menghindari pungutan liar sejumlah oknum yang kerapkali "memeras" para atlet yang telah berjuang keras. Dalihnya, potongan uang pembinaan atlet. Praktik pemotongan insentif yang diberikan kepada atlet berprestasi bukanlah hal yang baru. Praktik ini sudah sekian lama terjadi di dunia olahraga kita. 

Saya salut. Bagaimana mungkin saya tidak mengaguminya?

Tetiba, kabar itu datang begitu cepat. Saya dibuat kaget. Linimasa media sosial mencuitkan orang yang saya kagumi di lembaga yang membidangi pemuda dan olahraga tersebut tertangkap KPK terkait dugaan suap proposal dana hibah KONI bernilai miliaran rupiah. Sejumlah staf pun terlibat di dalamnya. Saya patah hati. Saya masih tak percaya dengan apa yang saya baca, apa yang saya dengar. Ini pasti hoaks! Meski bagaimanapun juga, semesta tak tidur. Themis telah mengayunkan pedangnya. Kali ini, mata pedang Sang Dewi Keadilan mengarah kepada para mafia anggaran.

Korupsi adalah penyakit. Korupsi merupakan benalu yang menggerogoti kehidupan moral sosial masyarakat. Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme juga mampu menghancurkan sendi perekonomian suatu negara. Sebab secara material, uang yang dikeruk para koruptor bisa mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Bayangkan uang sebesar itu bisa digunakan untuk membangun infrastruktur di daerah tertinggal, daerah terkena dampak bencana, pemberian beasiswa prestasi, dan masih banyak lagi. Namun uang tersebut lenyap di tangan para mafia anggaran dan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. 

Seperti halnya terorisme dan penyalahgunaan narkotika, korupsi masuk ke dalam ranah extraordinary crime, tindak kejahatan luar biasa. Sebab dampaknya yang sangat luas dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Menurut Komisi pemberantasan Korupsi (KPK), sejumlah besar kasus korupsi di Indonesia berbentuk praktik suap, sisanya berupa jual beli jabatan, gratifikasi, penyalahgunaan wewenang, dan lain sebagainya. Tak sedikit pula pelaku tindak pidana ini melakukan praktik cuci uang dengan membawa lari uang negara ke luar negeri.

Sekali lagi kudu di-bold, Kasus korupsi diidentifikasikan sebagai kasus kejahatan luar biasa. Perlu penanganan yang tepat untuk menghajarnya, bahkan sampai ke akar-akarnya. Ini adalah perang. Perang kita bersama. Diperlukan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menangani kasus-kasus korupsi. Secara garis besar ada 3 upaya untuk memberantas korupsi. Pertama, penindakan. Kedua, pengawasan. Ketiga, pencegahan. Penindakan sudah dilakukan tegas oleh KPK, aparat hukum, dan pihak-pihak yang terkait. Adapun pengawasan dan pemantauan kerap dilakukan oleh awak media atau jurnalis yang secara khusus membuat ulasan indepth/investigation reporting atas kasus korupsi (misal Tirto dan Tempo), yang kemudian disebarkan ke khalayak luas. Selain media, peran LSM/NGO seperti ICW (Indonesian Corruption Watch) juga berperan signifikan. Sebab semenjak berdiri, ICW memiliki komitmen untuk  menjadi garda depan pendukung peraturan perundangan pemberantasan korupsi (misal UU Tindak Pidana Pencucian Uang) serta mengawal dan mengungkap kasus-kasus korupsi yang dilakukan pejabat publik.

Upaya terakhir yakni aksi pencegahan/preventif. Langkah pencegahan dapat dilakukan oleh masyarakat, akademisi, dan tokoh-tokoh lain yang dianggap sebagai role model dalam aksi pemberantasan korupsi (misal tokoh agama). Keluarga sebagai kelompok sosial kecil dalam masyarakat memiliki peranan dalam menanamkan  keteladanan, pendidikan karakter,  serta nilai-nilai antikorupsi seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, berani, mandiri, sederhana, adil, patuh, semangat bekerja keras terhadap anak-anak. Sebagai akademisi, pewaris peradaban, sekaligus agent of change, mahasiswa bisa berperan aktif dan terlibat dalam membangun budaya antikorupsi di tengah masyarakat. Ah bagaimana mungkin? Kok bisa? Nggak percaya? Lima Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang digawangi oleh Afrianti Dwi Yunitasari, Achmad Sidiq Assad, Elly Nur Rahmawati, Muhammad Abdul Azis, dan Azwan berhasil membuktikannya. Mereka berlima menciptakan Antikorupsi Pop Up Book (AKSI POB), yakni media pembelajaran antikorupsi berbasis kearifan lokal dengan konten visual yang memikat hati anak-anak. Wah!

Siapa yang bakal memimpin Indonesia 20, 30, atau 50 tahun mendatang? Ya anak-anak itu kelak! Program pengabdian ini merupakan langkah kecil untuk menyelamatkan masa depan 'calon pemimpin' Indonesia dari budaya dan perilaku koruptif.
Afrianti Dwi Yunitasari bersama anak-anak Prenggan. Dokumentasi AKSIPOB
Gadis itu masih belia. Tawanya renyah. Pembawaannya santai, sesekali serius. Suka berceloteh, terkadang sesekali terdiam memilah kata. Definisi cerdas sekaligus rendah hati. Prestasi? Jangan ditanya. Tahun 2018 silam dia berhasil meraih juara 1 Kompetisi Peneliti Muda (YORECO) yang diadakan oleh PPIPM Fair Universitas Negeri Padang. Tak hanya itu, di tahun yang sama dia menggondol juara 1 kompetisi esai yang diadakan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Milenial kelahiran Ngawi  22 tahun silam ini aktif di organisasi kampus berbasis riset dan penalaran, UKM Penelitian UNY. Dialah Afrianti Dwi Yunitasari, kita panggil saja tokoh utama ini Afri.

Tri Dharma Perguruan Tinggi bertitik tumpu pada 3 pilar yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Afri sudah mengamalkan ketiga-tiganya. Apalagi poin terakhir, pengabdian. Lulusan ilmu sejarah ini pernah berkontribusi di bidang pengabdian masyarakat dalam penguatan branding lokal dengan mengusung program Rumah Setapak (Sejarah Tentara Pelajar Yogyakarta) di Desa Wisata Kampoeng Sedjarah, Kelor, Yogyakarta. Program pengabdian Afri yang lain yakni Mengabdi Cegah Korupsi, bersama Antikorupsi Pop Up Book (AKSI POB) di Desa Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Dikonsep di tahun 2017, dieksekusi mulai tahun 2018, dan mendapatkan dukungan pendanaan dari Ristekdikti di tahun 2019 untuk melakukan program pengabdian selama kurang lebih 4 bulan di Prenggan, Yogyakarta.

Mengabdi, cegah korupsi. Saat Afri dan rekannya melakukan observasi (riset) terhadap beberapa anak usia SD di Prenggan untuk pertama kalinya, mereka mendapati bahwa anak-anak tersebut tidak memahami apa itu korupsi.

"Korupsi itu yang mabuk-mabukan itu ya Kak, yang pakai obat-obatan?"

"Korupsi itu jomblo. Masnya jomblo ya?" Demikian jawaban ngasal anak-anak yang tentunya mengundang ledekan sekaligus ledakan tawa.

Anak-anak rata-rata belum memiliki definisi yang tepat mengenai apa itu korupsi dan bagaimana bahaya korupsi bagi negara. Beberapa dari anak-anak tersebut mendefinisikan korupsi serupa dengan narkoba. Demikian Afri mengenang masa-masa itu.

Saat saya tanya siapa yang menginisiasi program mengabdi cegah korupsi ini, Afri menjawab bahwa sebenarnya ini gagasannya yang kemudian dikembangkan lebih matang setelah berdiskusi dengan 4 rekannya yang lain. Adapun Assad pada saat itu ditunjuk sebagai ketua pelaksana.

Kenapa memilih Prenggan bukan yang lain?

Perlu diketahui permirsa, Prenggan merupakan daerah pertama di Indonesia sekaligus pilot project (proyek percontohan) KPK dalam melaksanakan program Pembangunan Budaya Antikorupsi Berbasis keluarga (PBAK) pada tahun 2014. Komunitas yang diberdayakan pada saat itu bernama KIRAB, Komunitas Relawan Bahagia dengan ibu-ibu rumah tangga sebagai motot penggeraknya. Program ini berjalan dengan baik, tapi belum sepenuhnya optimal. Setelah ditelusuri dengan serangkai observasi dan wawacara ditemukan kendala-kendala yang dihadapi oleh KIRAB seperti kesulitan menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada anak (metode ceramah sangat tidak cocok untuk anak-anak). Kedua, rendahnya partisipasi pemuda dalam mendukung program KIRAB antikorupsi. Ketiga, diperlukan media edukasi yang menyenangkan (fun), memiliki konten visual yang menarik yang mampu membangkitka imaji positif anak mengenai sikap atau nilai-nilai antikorupsi. Demikianlah ide Aksipob bermula. 
Ini bukan posko KKN. Apalagi KKN di Desa Penari. Ini Posko Antikorupsi AKSIPOB X KIRAB. Dokumentasi AKSIPOB
Desain Jaket Lapangan Mengabdi Cegah Korupsi, AKSIPOB 2019.
Tidak salah KPK memilih Prenggan sebagai proyek percontohan. Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masih dijunjung kuat di sini. Masyarakat Prenggan masih memegang teguh falsafah Jawa Mo Limo, Moh Madon (tidak bermain perempuan), Moh Madat (tidak memakai obat-obatan terlarang), Moh Mabuk (tidak boleh mabuk-mabukan), Moh Main (tidak berjudi), dan Moh Maling (tidak mengambil yang bukan haknya. Prinsip Moh Maling sangat lekat dengan salah satu sikap antikorupsi yakni nilai kejujuran. Selain masyarakatnya sangat religius, falsafah hidup lain yang masih dipegang yakni Nerimo Ing Pandhum (sederhana dan menerima apapun dengan penuh rasa syukur). Lagi-lagi, sikap hidup sederhana merupakan satu dari 9 sikap utama antikorupsi.

Bagi kamu yang masih penasaran seperti apa konten visual yang ditampilkan dalam pop up book tersebut, lihat foto-foto berikut.

1. Tampilan Visual Ciamik Antikorupsi Pop Up Book, AKSIPOB.
Cover depan Pop Up Book Antikorupsi. Dokumentasi pribadi
Ketika halaman pertama dibuka, muncul gambar Sultan Hamengku Buwono IX dan gedung KPK. Dokumentasi pribadi
Indonesia adalah negara kaya, korupsi membuat Indonesia menjadi miskin dan ber-SDM rendah. Dokumentasi pribadi
Diagram yang menunjukkan bahwa jumlah kasus korupsi meningkat setiap tahun. Dokumentasi pribadi
Kearifan lokal yang mampu memuat sikap dan nilai-nilai antikorupsi. Dokumentasi pribadi
Contoh perilaku antikorupsi ketika karawitan atau memainkan gamelan. Dokumentasi pribadi
Inspirasi drama Tahta Untuk Rakyat bersumber dari Sultan Hamengku Buwono IX. Dokumentasi pribadi
Sultan Hamengku Buwono IX dipilih sebagai role model dalam buku AKSIPOB dan Drama Tahta Untuk Rakyat bukan tanpa sebab. Sikap yang bisa diteladani dari beliau adalah kepribadiannya yang bersahaja dan dekat dengan rakyat. Pernah suatu ketika beliau memberikan tumpangan mobil kepada Mbok pedagang di Pasar Kranggan, Si Mbok tidak tahu kalau yang memberikan tumpangan adalah penguasa Yogyakarta pada saat itu. Egaliter dan ora mingkuh (tidak mengharap balas budi), adalah karakter yang beliau pegang teguh. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Angkara, sebuah petuah Sang Sultan yang memiliki makna memberikan keselamatan dan kesejahteraan serta membebaskan diri dari angkara murka dan keserakahan. 

Dulu, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan diri bersumpah setia kepada pemerintah Republik Indonesia. Selain mendukung perjuangan bersenjata, sultan juga mendukung dengan memberikan support finansial kepada para pejuang kemerdekaan. Saking geramnya, Belanda pernah menawarkan kepada sultan tanah yang luas (meliputi kawasan Yogyakarta, Surakarta, Kedu, Madiun, Banyumas) serta iming-iming sejumlah besar saham di perusahaan kereta api dan pelayaran agar sultan membelot. Tapi sultan tetap bergeming. Teguh pada pendiriannya. Sultan tidak mau berkhianat dan menerima suap dari Belanda. 
Sengguh dan Greged. Nilai-nilai antikorupsi dalam tari Jawa klasik. Dokumentasi pribadi
Nilai-nilai antikorupsi yang terdapat dalam Tari Jawa Klasik gaya Yogyakarta yakni Sawiji, Greged, Sengguh, dan Ora Mingkuh.  

Sawiji merupakan ekspresi bentuk kehati-hatian dan konsentrasi. Relevansinya dengan nilai antikorupsi yaitu penjiwaan total dan integritas. Orang yang nyawiji cenderung hati-hati, tidak gegabah dan terlena jika ditawari harta atau kekuasaan dengan cara yang tidak patut.

Greged adalah bentuk ekspresi semangat, kerja keras, dan pantang menyerah. Jika sudah greged bekerja, maka orang tak akan terlena dengan rasa malas yang lekat dengan hal-hal serba instans. Orang yang malas bekerja tapi ingin kaya dadakan mudah untuk disuap dan melakukan hal-hal yang negatif bukan?

Sengguh bisa dikatakan sebagai bentuk ekspresi rasa percaya diri. Percaya dan yakin seseorang bisa berhasil mendapatkan apa yang diinginkan tanpa melekat dengan hal-hal yang sifatnya koruptif. 

Ora mingkuh maksudnya bertanggung jawab, mandiri, dan tidak pamrih seperti karakter Sultan Hamengku Buwono IX yang sudah saya jelaskan di atas. Seseorang yang memiliki jiwa ora mingkuh akan menolak tegas tawaran-tawaran yang sekiranya memberikan dampak negatif di kemudian hari.
Yuk evaluasi, mulai dari diri kita sendiri. Dokumentasi pribadi
Berani jujur Hebat! Cover belakang Pop Up Book Antikorupsi. Dokumentasi pribadi

2. Edukasi dan Literasi Antikorupsi Melalui BACA , MIBASO, BESANTI, dan BESMANIKO

Untuk mengedukasi dan mengenalkan literasi antikorupsi kepada anak-anak dibentuklah beberapa program kerja/kegiatan selama 16 minggu mulai Bulan April hingga Juli 2019. Prosesnya melalui diskusi dan permainan edukatif

BACA, Be Anti Corruption Agent. Kegiatan pertama ini berbentuk life motivation yakni memberikan semangat menjaga kearifan lokal, serta sosialisasi hidup bersih tanpa korupsi. Di Prenggan banyak sekali falsafah hidup yang sejalan dengan nilai-nilai antikorupsi, anak-anak pun diajak berdiskusi mengenai hal ini. 
Be Anti Corruption Agent. Dokumentasi AKSIPOB
MIBASO, Minggu Bahagia bersama AKSIPOB. Pada pertemuan ini anak-anak Prenggan diajak untuk mengeksplorasi dan memahami media Pop Up Book AKSIPOB. melalui mini outbound. Dalam nini outbond tersebut dibentuk pos-pos khusus, seperti misalnya  pos pendidikan antikorupsi. Target kualitatif yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah mereka mengerti bagaimana sikap yang mencerminkan antikorupsi untuk menunjang hidup bersih tanpa korupsi.
Belajar mengenai pendidikan dan literasi antikorupsi bersama AKSIPOB. Dokumentasi AKSIPOB
BESANTI, Belajar Seni Tari Antikorupsi. Besanti memfokuskan pada kegiatan tari Nawung Sekar dan kuda-kuda yang sudah disisipkan dengan nilai-nilai atau penanaman hidup bersih tanpa korupsi. Tim solid Aksipob turut membentuk Sanggar Tari Mini guna memudahkan anak-anak praktik menari. Setelah beberapa kali latihan, anak-anak Prenggan mulai hafal gerakan-gerakannya. Azwan, salah satu tim AKSIPOB sesekali melempar pertanyaan terkait mana gerakan tari yang mengandung nilai-nilai antikorupsi pada Tari Nawung Sekar. Anak-anak terlihat antusias dan menjawab dengan lantang. Meski tak semua jawaban-jawaban itu benar, kadang masih saja salah. Namun itu tak menjadi soal, sebab mereka sudah mampu membedakan mana baik, mana buruk. Mana benar, mana salah. Ini adalah kemajuan!
Para penari cilik Prenggan. Dokumentasi AKSIPOB
BESMANIKO, Belajar Seni Drama Antikorupsi. Di sini drama yang dimaksud adalah Tahta untuk Rakyat. Pada sesi ini, anak-anak diajari drama tari serta bagaimana mengolah vokal dan bahasa tubuh oleh tim AKSIPOB. Sesi ini juga dipersiapkan menjelang Festival Kebudayaan Aksi Antikorupsi dan pemilihan Duta Cilik Antikorupsi 2019.

3. Festival Kebudayaan Aksi Antikorupsi dan Pemilihan Duta Antikorupsi 2019
Wawancara dengan Mata Media. Dokumentasi AKSIPOB
Festival Budaya Aksi Antikorupsi merupakan kegiatan puncak yang diselenggarakan oleh tim AKSIPOB UNY. Pada acara puncak ini, anak-anak yang menjadi yang telah digembleng selama 4 bulan berani unjuk kemampuan di hadapan audiens. Anak-anak kini sudah hafal ritme dan gerakan Tari Nawung Sekar. Gerakannya lebih halus dan ritmis. Festival ini tak sekadar menampilkan kreativitas anak-anak, tetapi juga berbagai performa lain yang tak kalah asyik. 

Festival ini diawali dengan Senam Si Kumbi di pagi hari. Kemudian menjelang siang acara dilanjut dengan sambutan hangat dari ketua tim AKSIPOB, Achmad Sidiq Asad dan ketua KIRAB, Ari Sutrantiyati.

"Dengan adanya Program AKSIPOB Mengabdi Cegah Korupsi ini saya mengucapkan terima kasih karena telah memecahkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh komunitas kami. Kami menjadi memiliki bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi melalui AKSIPOB. Selain itu komunitas kami juga menjadi aktif kembali dengan adanya kegiatan-kegiatan baru dan antusias anak-anak dalam mengikuti semua kegiatan serta dukungan para wali." Ujar Ari Sutranti menanggapi dan memberikan pernyataan terkait kegiatan yang dilakukan tim AKSIPOB.

Sesi berikutnya yakni pembacaan puisi antikorupsi, suguhan Tari Nawung Sekar dan Tari Kreasi AKSIPOB, penganugerahan Duta Cilik Antikorupsi 2019, painting hand, sekaligus pembacaan deklarasi antikorupsi
Tari Nawung Sekar di Festival Aksi Antikorupsi 2019. Dokumentasi AKSIPOB
Tari kreasi baru AKSIPOB. Dokumentasi AKSIPOB
Tim AKSIPOB lengkap hadir saat Festival Aksi Antikorupsi. Dokumentasi AKSIPOB.
Hand painting satukan tekad dalam deklarasi antikorupsi. Dokumentai AKSIPOB.
Tsabita Olivia Putri mendapat peringkat teratas alias menempati urutan pertama Duta Cilik Antikorupsi 2019. Posisi runner up diraih oleh Runa'a Qiyyara Pienasti. Duta cilik Antikorupsi terbaik ketiga diraih oleh Farah Frida Lathifa. Adapun juara favorit dirauh oleh Athna Shafina Zafirah. Para orangtua yang menemani puteri mereka berlaga di ajang Duta Cilik Antikorupsi 2019 tentunya patut berbangga. Duta-duta cilik ini dianggap mumpuni dan menjadi role model untuk tutor sebaya.

"Adanya kegiatan AKSIPOB ini dapat membantu anak-anak dalam belajar mengenai sikap-sikap antikorupsi. Setelah mengikuti kegiatan ini, anak saya menjadi berani tampil di depan umum. Saya juga mengetahui tentang sikap-sikap antikorupsi yang mungkin selama belum anak saya ketahui. Terima kasih AKSIPOB semoga kegiatan ini dapat terus berjalan." Tutur Ibunda Tsabita Olivia Putri.
Para bunda dan Duta Cilik Antikorupsi 2019. Dokumentasi AKSIPOB
Selama mengikuti kegiatan yang diselenggarakan AKSIPOB, anak-anak menunjukkan tingkat kepemahaman yang lebih baik mengenai apa itu korupsi, bahayanya, serta nilai-nilai apa yang sangat relevan dengan sikap antikorupsi. Internalisasi nilai dan sikap ini yang penting (mereka hafal 9 sikap antikorupsi). Rata-rata anak-anak sudah mampu menjelaskan apa itu suap dan mencuri uang negara. Ketika ditanya kearifan lokal seperti apa yang berkaitan dengan sikap antikorupsi, anak-anak menjawab : sawiji, greged, sengguh, ora mingkuh. Bahkan ada perubahan sikap signifikan dari peserta, misal anak yang tadinya selalu diantar orangtua ketika berangkat ke AKSIPOB, kini berani berangkat sendiri. Anak lain menjadi disiplin dan tidak terlambat ke sekolah. Mencontek saat ujian merupakan tindakan yang tidak patut dan lekat dengan sikap korupsi. Dan masih banyak lagi perubahan yang di alami anak-anak AKSIPOB yang tidak bisa tulis satu per satu. 

Semoga AKSIPOB menjadi role model kegiatan asyik menanamkan nilai dan sikap-sikap antikorupsi tidak hanya di Jogja, tetapi di berbagai daerah di Indonesia. 

Mengabdi cegah korupsi, inilah aksi milenial mendukung KPK cegah perilaku koruptif sejak dini melalui literasi dan edukasi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Afrianti dan milenial AKSIPOB yang telah menuturkan pengabdian luar biasa selama 4 bulan di Prenggan ini. Sampai berjumpa di lain kesempatan ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar