Selasa, 30 Juli 2019

Hutan Mangrove Wana Tirta : Konservasi, Potensi Ekowisata, hingga Keanekaragaman Hayati

Mangrove atau bakau dikenal sebagai tetumbuhan yang hidup di perairan dekat pantai, rawa-rawa di air payau. habitat mangrove dipengaruhi oleh pasang surut air laut. perlu diketahui bahwasanya garis pantai indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada dengan panjang 95,181 km2. Dengan garis pantai sepanjang itu, Indonesia memiliki 23% ekosistem mangrove dunia yakni sebesar 3.489.140,68 Ha (sumber : Kementerian Lingkungan Hidup). Kondisi mangrove yang baik, menyimpan sejuta harapan serta potensi-potensi seperti sebagai ruang konservasi, ekowisata, serta sumber keanekaragaman hayati yang melimpah. Keanekaragaman hayati ini bisa dimanfaatkan secara biologis, ekologis maupun ekonomis.

Berdasarkan data yang bersumber dari Kementerian kelautan dan perikanan 2015, vegetasi mangrove mampu menyumbang USD 1,5 miliar terhadap perekonomian nasional ditinjau dari sektor perikanan. Itu artinya secara ekonomi, vegetasi mangrove mampu memberikan pendapatan kepada masyarakat di daerah itu melalui pengelolaan dan pemberdayaan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, termasuk potensi ekowisata. Berikutnya, secara biologis, mangrove menjadi tuan rumah bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang, kerang-kerangan, bahkan sampai ke mahkluk hidup tingkat paling mikroskopik sekalipun. Secara ekologis, mangrove berperan penting sebagai spektrum pencegah abrasi air laut, penghalang gelombang saat pasang naik, mitigasi bencana (setidaknya mampu menahan hempasan badai atau tsunami), adaptasi terhadap perubahan iklim, penjaga kualitas/siklus air dan masih banyak lagi manfaat lainnya. Mangrove mampu mengendapkan polutan yang melaluinya, seperti misalnya limbah tailing di Teluk Bintuni, Papua Selatan. Limbah tailing merupakan limbah murni dari hasil tambang (misal emas atau bijih besi) yang tertinggal di air.

Mengapa mangrove memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi? Sebab, mangrove memiliki perpaduan ekosistem darat dan laut yang memungkinkan berbagai makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Beberapa jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove meliputi terna, perdu, liana, nipah-nipahan, beberapa paku-pakuan, dan sebagainya. Adapun jenis satwa yang mampu beradaptasi pada daerah bakau meliputi ular, biawak, buaya air asin, bekantan, bangau, elang, kera ekor putih, dan masih banyak lagi. 

Namun sayang, meskipun mangrove memiliki peranan yang sangat signifikan dalam banyak hal, sungguh sangat ironis Indonesia juga menghadapi laju kerusakan mangrove terbesar di dunia yakni mencapai yakni 4.364 km2 atau sekitar 311 km2 per tahunnya (Sumber : Mongabay). Di kehidupan nyata, vegetasi mangrove semakin terkikis akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, permukiman, industri, dan sebagainya. Banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, LSM, CRS perusahaan, institusi pendidikan yang berperan dalam rehabilitasi hutan mangrove. Misal aksi tanam 7000 bibit bakau di Desa Bulu Cindea, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Aksi tersebut bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati, konservasi, serta memenuhi standar praktik budidaya perikanan berkelanjutan bersertifikasi ASC (Aquaculture Stewardship Council).

Tidak perlu jauh-jauh ke Sulawesi, melalui artikel ini saya ingin mengulas mengenai bagaimana aksi tanam bakau di daerah Wisata Hutan Mangrove Wana Tirta (Pasir Mendit) Kulon progo sebagai wilayah konservasi, ekowisata, hingga keanekaragaman sumber hayati (pangan).

Di Hutan Mangrove Wana Tirta ini saya bertemu dengan Mbah Warso. Beliau merupakan konservator bakau dan pernah meraih penghargaan sebagai kader konservasi terbaik dari pemerintah Daerah Istimewa yogyakarta.
Warso Suwito. Sang Konservator Bakau. Dokumentasi Pribadi.
Namanya Lengkapnya Warso Suwito. Namun, beliau kerap dipanggal Mbak Warso atau Pak Wito. Sosoknya begitu bersahaja, jauh dari publisitas. Ramah dan terbuka terhadap siapa saja yang ingin belajar. Siapa sangka bapak dua anak yang bekerja serabutan tersebut merupakan kader konservasi mangrove terbaik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  pada tahun 2014.

Mbah Warso adalah sosok yang dekat dengan semua kalangan. Mulai dari pejabat pemerintahan, Pelaku industri, LSM, aktivis lingkungan hidup, hingga mahasiswa. Hampir semua kampus yang ada di Jogja pernah menyambangi Hutan Mangrove wana Tirta, Pasir Mendit. Ya, apalagi kalau bukan untuk riset dan juga aksi tanam bakau. Pasir mendit adalah sebuah desa yang letaknya di Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo dan berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Hutan Mangrove Wana Tirta termasuk dalam kawasan konservasi bakau. 

Dapat dikatakan kawasan bakau Pasir Mendit adalah kawasan bakau terbaik dan terluas di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada bebera jenis bakau yang tumbuh di kawasan tersebut. Sebut saja Avicennia alba, Bruguiera cylindrica, Rhizophira mucronata, dan lain-lain. Selain bakau, vegetasi yang lain meliputi nipah, cemara udang, kelapa, dan masih banyak lagi. keanekaragaman hayati yang bisa dijadikan sumber pangan pun bermacam-macam, mulai dari jenis ikan, udang, dan kerang.
Perjuangan Mbah Warso tidak dibilang mudah. Mbak Warso bercerita kepada saya bahwasanya beliau merintis semua ini benar-benar dari nol. Tanpa dukungan finansial yang memadai. Segalanya dilakukan secara swadana bersama beberapa rekannya. Pada tahun 2009 Mbak warso bersama 10 orang lainnya mendirikan "Kelompok Tani Pelestari Mangrove dan Pesisir Pantai ‘Wana Tirta." Pelan tapi pasti, usaha Mbak Warso dan kelompoknya di bidang konservasi bakau tersebut mendapat perhatian dari berbagai kalangan (pemerintah daerah, sejumlah LSM, komunitas, BUMN dan instansi swasta serta sivitas akademika). Beberapa tahun kemudian, dukungan pun kian banyak mengalir.

Berdasarkan penuturan beliau, Yayasan Damar adalah salah satu LSM yang mendukung penuh upaya ini. Selain membantu menyediakan bibit dalam aksi tanam bakau, yayasan tersebut membantu dalam hal legalitas dan edukasi bakau kepada masyarakat. Beberapa perusahaan memanfaatkan dana CSR (Corporate Social Responsibilty) mereka dalam bentuk uang tunai maupun penyediaan bibit bakau untuk mendukung kegiatan di Hutan Mangrove Wana Tirta. Beberapa perusahaan tersebut di antaranya BRI, Kompas, dan Jogjatronik.
Dokumentasi herbiforus Hima biologi UNY.
Dokumentasi herbiforus Hima biologi UNY.
Kampus saya, melalui Hima Biologi UNY (Kelompok Studi Herbiforus) di awal tahun 2015 hingga 2018 pernah menjadi bagian dalam aksi tanam bakau. Saya pun pernah terlibat dalam aksi tersebut. Hutan Mangrove Wana Tirta merupakan lokasi yang cocok untuk penelitian di bidang lingkungan hidup dan konservasi. Selain UNY, Mahasiswa yang sering mengadakan penelitian di sini kebanyakan dari UGM dan juga Instiper.

Dengan mengenakan kaos biru, celana pendek, dan kaki telanjang, Mbah Warso mengajak saya berkeliling di sekitar Hutan Mangrove Wana tirta. Hutan tersebut kelak akan dijadikan wisata edukasi berbasis konservasi bakau. Para peserta yang ikut dalam tur akan diajari bagaimana pembibitan bakau, pengenalan manfaat bakau bagi kehidupan pesisir pantai, serta belajar jenis-jenis vegetasi bakau yang ada di pesisir Pantai Pasir Mendit.
Jalan setapak di Hutan Mangrove Wana Tirta. Dokumentasi Pribadi
Mbah Warso justru berharap banyak anak muda yang datang kemari. Terutama anak usia sekolah. Mbah warso ingin mengajak anak-anak tersebut agar mencintai lingkungan dan menjaga ekosistem Hutan Mangrove Wana Tirta dari kerusakan. Mbah Warso berharap edukasi sedini mungkin mengenai cinta lingkungan hidup dan alam mampu meminimalisasi kasus pengrusakan alam dan lingkungan.
Edukasi sejak dini mengenai konservasi dan cinta lingkungan. Dokumentasi Warso suwito
Sembari mendengarkan cerita Mbah Warso yang penuh semangat, Sepanjang jalan saya disuguhi hijau tetumbuhan, semilir angin, dan kicauan burung-burung. Juga kepiting-kepiting  bakau yang lari terbirit-birit dan lekas bersembunyi di balik gundukan tanah ketika mendengar derap langkah kami. Lihatlah bayi kepiting berikut yang warnanya nyaris menyerupai tanah. Cantik bukan? Perhatikan pula bagaimana tunas bakau jenis Mucronata memancang di atas tanah.
Anakan kepiting bakau. dokumentasi pribadi
Mucronata memancang di atas tanah. Dokumentasi pribadi
Rawatlah mangrove demi masa depan generasi bangsa. Dokumentasi pribadi
Ekowisata pertama kali diperkenalkan oleh the ecoutorism society (1990) yang memiliki arti sebagai bentuk perjalanan wisata ke area alami yang bertujuan untuk mengkonservasi lingkungan, melestarikan kehidupan, dan memberi kesejateraan bagi penduduk lokal. Jadi ekowisata menitikberatkan pada tiga aspek utama yakni : keberlangsungan alam atau ekologi, kebermanfaatan ekonomi, dan aspek psikososial atau penerimaan masyarakat terhadap keberadaan pariwisata berbasis pelestarian lingkungan tersebut.

Dapat saya katakan ekowisata adalah bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi. Konsep ekowisata sangat cocok dikembangkan di kawasan Hutan Mangrove Wana Tirta, mengingat wilayah ini menyediakan potensi wisata bahari, keindahan alam, serta keanekaragaman hayati yang sangat potensial. Keanekaragaman hayati baik berupa hewan maupun tumbuhan yang dibudidayakan sebagai sumber pangan (misal udang, kerang, ikan, kepiting, beberapa spesies bakau yang bisa dimanfaatkan menjadi obat atau minuman, dan sebagainya). Jenis rekreasi yang bisa dinikmati pengunjung bisa berupa kegiatan wisata edukasi sulam bakau (aksi tanam bakau), wisata kuliner, menyusuri hutan mangrove bersama seorang guide, aktivitas mengamati burung (bird watching),  memancing, dan semacamnya.

Saat saya menjejakkan kaki untuk kedua kalinya di Hutan Mangrove Wana Tirta, saya melihat banyak perubahan terjadi di sini. Hal tersebut tentunya berbeda ketika saya mengikuti aksi tanam bakau untuk pertama kalinya pada tahun 2015. Dulu, menuju lokasi penanaman bakau, tidak ada lahan parkir untuk motor. Tidak ada tempat berteduh jika kepanasan. Tidak ada pula jembatan bambu untuk penyeberangan. Jika ingin menyeberang, kami menggunakan perahu kecil yang mampu memuat 4 hingga 6 orang. Pembangunan area parkir kini sudah selesai. Pun demikian dengan jembatan penyebarangan yang terbuat dari bambu. Proyek tersebut dikerjakan secara swadana secara gotong-royong dan menghabiskan dana sekitar 20 juta rupiah. 
Aksi tanam bakau. Dokumentasi herbiforus Hima biologi UNY.
Sangat tenang. Dokumentasi pribadi
Tambak udang vaname. Dokumentasi pribadi
Potensi lain yang mampu ditonjolkan di Hutan Mangrove Wana Tirta selain ekowisata dan konservasi bakau yakni keanekaragaman hayati (pangan) di bidang perikanan, tambak udang (vaname), dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa mata pencaharian sebagian besar masyarakat kawasan Hutan Mangrove Wana Tirta yakni petani, nelayan, dan petambak udang. 

Litopenaeus vannamei (nama ilmiah udang vaname), atau dikenal sebagai udang kaki putih adalah salah satu andalan perekonomian masyarakat Pasir Mendit. Lahan seluas kurang lebih 30 hektar tersebut dibuat petak-petak tambak dan dikelola warga setempat. Sebagian ada yang dikelola perusahaan. 

Berdasarkan sumber yang saya dapat dari situs pemerintah daerah (www.kulonprogokab.go.id), secara ekonomi budidaya udang vaname cukup menjanjikan. Untuk satu kolam seluas 2500-3000 m2 diperlukan modal sekitar 35 juta rupiah. Hasil panen bisa mencapai 60 juta rupiah. Masa pemeliharaan dari benih hingga dewasa membutuh waktu sekitar 75 hari. Harga per kilo dalam kisaran Rp 40.000 hingga Rp 100.000, bahkan bisa lebih. Tergantung ukuran. Untuk size 75 di level petambak, dihargai Rp 80.000/kilogram, sedangkan size 40 dibanderol dengan harga Rp 100.000/kilogram. Tingkat produksi udang vaname untuk wilayah Kulonprogo setiap triwulan mencapai 600 hingga 750 ton pada tahun 2019. Perputaran uang mencapai 30 hingga 50 miliar per tahun. Selain dikonsumsi masyarakat lokal,  udang jenis ini sudah masuk pasar ekspor. Beberapa negara pengkonsumsi udang ini di antaranya China, Jepang, dan Korea Selatan. 

Udang vaname kaya akan kandungan asam amino dan taurin. Asam amino seperti triptofan, tirosin, dan sistin lebih tinggi daripada udang jenis lainnya.  Asam amino sendiri memiliki beragam manfaat di antaranya mencegah kerontokan, meningkatkan massa otot, memberikan kebaikan pada jantung, meningkatkan stamina, dan daya ingat. Kandungan protein pada udang vaname cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian. Adapun kandungan lemak pada udang vaname yakni lemak tak jenuh yang sangat bagus untuk kesehatan. Berikut penampakan udang vaname.
Udang vaname. Dokumentasi pribadi
sortir ukuran udang. Dokumentasi pribadi
Berikutnya, selain udang vaname yang menjadi primadona di kawasan pasir Mendit, juga ada budidaya perikanan. keanekaragaman hewani lainnya seperti kerang-kerangan, kepiting, ikan-ikanan bisa dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk dijual dalam kondisi mentah dan segar ataupun dalam bentuk olahan seafood di warung-warung. Melalui hal ini, penduduk setempat memperoleh sumber-sumber pendapatan. Pengunjung juga terpuaskan. Simbiosis mutualisme.
Keanekaragaman hayati berupa kerang. Dokumentasi pribadi
Keanekaragaman hayati berupa ikan. Dokumentasi pribadi
Mbah Warso menambahkan bahwasanya beliau ingin mengembangkan lebih lanjut potensi wisata kuliner hasil laut (seafood) dan tambak udang vaname yang ada. Sebab ada beberapa jenis bakau, yang buahnya bisa diolah menjadi sirup mangrove, tepung, hingga pewarna batik.
Manfaat Xylocarpus granatum. Dokumentasi pribadi.
Spesies Xylocarpus granatum, biji buah bisa dimanfaatkan untuk bedak, lulur, obat gatal, obat luka, dan pereda demam. Minyak dari bijinya bisa dijadikan minyak rambut.

Untuk pewarna alami batik bisa memanfaatkan buah mangrove (biasa dikenal dengan istilah propagul) dari jenis Rhizopora spp. Caranya adalah sebagai berikut, pertama siapkan propagul yang sudah busuk dan tidak bisa dibibitkan lagi. Berikutnya, jemur propagul selama kurang lebih satu minggu hingga benar-benar kering. Yang ketiga, rebus potongan propagul kering tersebut selama paling tidak 4 jam. Terakhir, siapkan alat penyaring untuk memisahkan ampas dengan cairan sari propagul yang akan digunakan sebagai bahan pewarna batik.

Saya juga baru tahu ternyata ada jenis mangrove yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung mangrove. Jenis mangrove-nya berasal dari spesies Avicennia (api-api) dan Bruguiera gymnorrhiza (lindur). Cara membuat tepung mangrove yakni harus melalui tahapan-tahapan berikut, pertama kulit buah dikupas, kemudian daging buah dipotong 4 bagian kecil-kecil. Masukkan potongan kecil daging buah mangrove tersebut kedalam air mendidih. Jikalau sudah matang segera tiriskan. Berikutnya cuci bersih potongan-potongan kecil buah mangrove yang sudah matang dan rendam selama 3 hari (air rendaman setiap pagi dan sore harus diganti). Terakhir, jemur hingga kering lalu tumbuk halus hingga menjadi tepung. Tepung siap digunakan sebagai bahan makanan aneka kue seperti wajik, kue talam, donat, bolu, krupuk, dan sebagainya. 

Saya sendiri cukup puas menghabiskan waktu hampir setengah hari berbincang dengan Mbah Warso. Saya belajar beberapa hal terkait konservasi bakau Hutan Mangrove Wana Tirta di wilayah pasir Mendit kulonprogo. Betapa kayanya keanekaragaman hayati Indonesia yang bisa diolah sebagai bahan pangan. Sebelum pulang, saya membeli 1,5 kg udang segar yang baru saja dipanen dari tambak. Ini sangat menyenangkan! Semoga di lain kesempatan bisa kembali ke Pasir Mendit dan bertemu lagi dengan Mbah Warso. 

Sebelum pamit saya ingin mengucapkan selamat "Hari Keanekaragaman Hayati 2019. Sampai berjumpa di lain kesempatan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar