Senin, 31 Desember 2018

Inilah 5 Alasan Kenapa Si Blogger Galau Merekomendasikan Flashdisk OTG

Hujan deras. Kilat menyambar-nyambar di pekat malam yang melumat senja. Seorang gadis sedang duduk sendirian di depan televisi. Cuaca di luar sedang buruk-buruknya saat itu. Memang badai tak secetar bulu mata syahrini dan gadis itu udah mulai kelaparan. Bakteri E. coli di perutnya blingsatan. Gadis itu merasa gak nyaman. Namun gadis itu memilih mager dan anteng di depan televisi, ketimbang mengambil keripik kentang dan gorengan yang jaraknya sepelemparan upil. Bosan dengan sinetron yang berabad-abad beratus episode tak kunjung usai, gadis itu akhirnya mengganti saluran ke kanal berita. 
"Seorang mahasiswa ditemukan menenggak racun di kamar kosnya. Mahasiswa tersebut sekarang dalam kondisi kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Diduga mahasiswa tersebut mengalami depresi karena skripsinya tak kunjung di-ACC dosennya."
Demikian sang reporter berita menjelaskan.

"Dih, gitu amat. Gara-gara skripsi aja mau bunuh diri. Kayak skripsi hidup matimu aja!" Cibir si gadis dengan nada sedikit tinggi satu oktaf. Agak songong dan bikin baper emang. Apalagi jika ucapan tersebut sampai terdengar di kuping para Maba, Mahasiswa Bangkotan yang tak jua lulus-lulus. Aselik pengin digampar tuh mulut.

Gadis itu masih duduk di kelas 3 SMA, belum pernah mencicipi rimba perkuliahan yang terkadang amat kejam dengan banyaknya tugas-tugas. Belum lagi jika bertemu dengan dosen killer yang suka ngasih kejutan berupa kuis dadakan. Hidup anak kampus nyaris berisi kuliah, tugas, bikin laporan, kuliah, tugas, bikin laporan, kuliah, tugas, bikin laporan, plus bonus mata merah. Gadis itu belum memahami hal tersebut, dia sangat pede dengan kemampuan akademiknya, dapat beradaptasi dengan lingkungan kampus yang terkadang kerad. Maklum dia bintang kelas, peraih nilai tertinggi di sekolahnya, dan mantan jawara olimpiade ekonomi. 

Loe mau tahu siapa gadis itu? Ya gadis itu tak lain tak bukan adalah gue! Dengerin ya, karma itu nyata, babe! Bukan sekadar dongeng! 

Gue yang dulu (pernah) songong dan belagu, kini tercatat sebagai mahasiswa abadi tua yang siap ditendang dari kampus jika tidak segera menyelesaikan skripsi. Tujuh tahun bro gue kuliah! Garis merah di SIAKAD (Sistem Informasi Akademik), sebuah peringatan bahwa batas akhir semester sudah tergenapkan dan masa kuliah gue akan segera berakhir. 

Tetiba gue dihadapkan pada berbagai masalah. Masalah yang gue ciptain sendiri tentunya. Namun, apapun itu dan entah bagaimanapun caranya gue harus nyelesain skripsi! Titik! Demikian rapal mantra yang gue lantunkan dalam senyap.

Melalui bukunya yang berjudul SKRIPSHIT, Shitlicious pernah bersabda, "bikin skripsi itu gak semudah bikin buku atau novel!" Bagi gue, bikin skripsi itu gak segampang bikin caption di IG. Cekrek...cekrek syantik sambil pose manyun, lalu tulis: "Pengen jadi bunga desa, tapi takut riba..." Beberapa saat kemudian terjadi banjir like dan komentar, diikuti luapannya yang hampir menenggelamkan Jakarta Selatan. Bunga bangke emang! Shitlicious menambahkan, "dalam menyusun skripsi kita perlu 75% teori dan 25% teori pendukung teori sebelumnya. Sedangkan dalam menulis novel, kita hanya memerlukan 75% imajinasi, 20% logika, dan 5% kopi sachetan." Bagi gue, skripsi itu berisi 30% revisi, 30% revisi, 30% masih aja revisi, dan 10% (faktor keberuntungan) semoga tidak revisi lagi. Mahasiswa berbuat yang terbaik, Tuhanlah dosenlah yang menentukan nasib. Problem dilematis mahasiswa tingkat akhir.

Lanjut ya...

Masalah gue berawal dari enggannya (baca : malasnya) gue ngerjain skripsi. Gue ogah-ogahan ngampus, gue berangkat kuliah cuma buat ngulang mata kuliah penganggaran dan perbankan saja. Oh ya, gue kuliah di jurusan akuntansi, jurusan primadona, bergengsi, dan (katanya) bersaing sengit dengan jurusan manajemen di fakultas ekonomi. Ada sebuah lelucon konyol yang mengatakan, anak akuntansi kalau meninggal masuk NERACA, sedangkan anak manajemen jadi arwah PEMASARAN. Penting banget ya dibahas?

Masalah berikutnya adalah yang paling fatal menurut gue dan itu sedikit banyak mempengaruhi hidup mood gue dalam ngerjain skripsi. Laptop dan flashdisk gue kena malware gaes! Ini gak main-main. Gak tanggung-tanggung semua data gue lenyap gak bisa dibalikin lagi. Ya, semua data baik dalam format video, dokumen (word), presentasi (powerpoint), apapun itu. Dari awal gue kuliah, gabung MLM UKM (Unit Kegiatan Mahasiwa), ngeblog, hingga bikin skripsi. Semua gak bisa diselamatkan. Data-data gue bukannya disembunyikan (hidden) oleh virus lho ya, tapi semua folder gue telah terenskripsi yang kemudian memunculkan teks gak jelas campuran angka-angka, huruf kapital, dan huruf kecil. Semua folder di laptop gue berubah nama dengan sendirinya, dengan kata lain data gue RUSAK! Flashdisk gue sama saja. Sialnya, gue gak punya data backup lagi. Semua data penting selain di laptop, ya ada di satu-satunya flashdisk milik gue.
5 menit kemudian...
Gue udah minta bantuan banyak pihak, termasuk babang service komputer dan mereka semua angkat tangan. Gue juga minta bantuan sahabat gue Rudy yang anak TI siapa tahu ada solusinya. Laptop gue nginep sehari di kosan rudy. Gue gak tau laptop gue diapakan Rudy, tapi Rudi pun akhirnya menyerah. Hari berikutnya Rudy bilang gini ke gue,

"ini laptopmu kudu diinstal ulang Arinta, maaf datamu benar-benar rusak gak bisa diselamatkan. Flashdiskmu juga kudu diformat. Data di flashdiskmu juga rusak gak bisa di-restore."

Dyar!

Malware merupakan ancaman siber yang sangat serius! Program jahat ini mampu mengenskripsi sekaligus melumpuhkan sebagian bahkan seluruh perangkat pada gadget seperti PC, laptop, dan smartphone, serta flashdiskmu! Menurut laporan Kasperski Lab, seperti yang dikutip Antara, bahwa malware, terutama malware jenis Trojan merupakan merupakan malware dideteksi paling berbahaya di sepanjang tahun 2018. Hingga pertengahan Desember terdapat serangan Trojan sebesar 50,14%, diikuti Ransomware sebesar 13,06%, dan terakhir AdWare sebesar 7,35%. Ancaman Ransomware meningkat dari 2.198.130 pada 2017 menjadi 3.133.513 kasus pada 2018. Masih ingat isu malware WannaCry yang sempat meledak tahun lalu dan menyita perhatian kita? Tak main-main! Di Indonesia malware WannaCry berhasil mengunci sistem dan menyandera data pasien RS. Dharmais dan RS. Harapan kita dengan meminta tebusan sebanyak 4 juta. Adapun di Amerika Serikat RS. Presbyterian Medical Center terpaksa merogoh kocek sebanyak 226 juta demi mendapatkan kembali data yang diserang hacker. Dalam hitungan 4 hari, WannaCry sudah melumpuhkan 200.000 komputer di 150 negara. Ini baru cerita Wannacry lho, belum malware yang lain.

Gue kudu gimana gaes? Gue kan bukan termasuk golongan Crazy Rich Indonesian yang mampu membayar berapapun jumlah uang kepada peretas asalkan data bisa kembali...

Glek! Jadi pengen nenggak baygon.

Di Laptop dan flashdisk gue selain berisi file yang ada sangkut pautnya dengan dunia kampus dan skripshit, juga ada file blogging. File blogging tersebut berupa konten review (produk dan acara) serta content placement. Konten tersebut merupakan konten berbayar untuk blog gue di arintasetia.blogspot.com. Foto-foto, video, dan dokumentasi buat bahan konten untuk posting di media sosial lenyap tak berbekas.

Gue kan jadi galau...

Rudy menasehati gue agar lebih berhati-hati ketika berselancar di dunia digital. Jangan sembarangan ketika mengklik tautan, mengunduh sesuatu, dan menginstal aplikasi, apalagi jika sumbernya gak jelas. Flashdisk gue terenskripsi malware diduga karena kecerobohan gue ketika bermain internet, bisa juga pas nyolokin ke komputer fotokopian ketika hendak ngeprint. FYI, virus/malware komputer di tukang fotokopy juga tak kalah ganas lho.

Baiklah. Laptop gue akhirnya diinstal ulang. Semua file di data D karena tidak berhasil diselamatkan, akhirnya (dengan terpaksa) dihapus permanen, daripada nantinya merusak sistem secara keseluruhan. Untuk flashdisk tentu saja diformat. Setelah diformat, flashdisk gue jadi lebih lamban ketika mentransfer data. Bikin males. Bayangin betapa lambatnya ketika gue mentransfer data berupa jurnal-jurnal penelitian pendukung teori skripsi dari laptop ke flashdisk, baik jurnal yang gue unduh di internet maupun jurnal yang gue minta dari teman di kampus. Demikian pula ketika gue meminta file presentasi/video dari narasumber di suatu event blogger, lama banget transfernya.

Drama banget kan? Gue sadar mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi mudah sekali terkena depresi, bahkan tak jarang berakhir dengan bunuh diri. Beberapa kasus seperti hilangnya laptop berisi file skripsi, laptop eror/terkena malware dan tak ada backup data, proposal skripsi selalu ditolak dosen, kendala finansial buat menyelesaikan skripsi, dan sebagainya menjadikan mahasiswa gelap mata dan memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya. Seperti terjadi di salah satu kampus negeri di Sumatera Utara pada tahun 2014 silam. Seorang mahasiswa ditemukan tewas gantung diri, diduga stres memikirkan skripsi. Menurut rekannya, laptop mahasiswa tersebut hilang, padahal dalam kurun 3 bulan dia harus menyesaikan skripsi atau dia terancam DO. Ngeri ya?

Back up Data is a must!

Mengetahui kegalauan gue, Rudy yang hobinya berburu diskonan dan flashdeal gadget di Bukalapak merekomendasikan gue untuk membeli flashdisk OTG. Apalagi Rudy tahu side job gue sebagai freelancer dan kebutuhan gue sebagai pejuang skripsi, pastinya flashdisk OTG bakalan guna banget buat gue. Akhirnya, setelah bertapa di goa hantu dan semedi di Gunung Semeru, gue mendapat pencerahan dan memutuskan membeli flashdisk baru. Flashdisk OTG tentunya.

5 alasan berikut kenapa gue merekomendasikan flashdisk OTG, terutama buat kalian mahasiswa pejuang skripshit.
By the way, Flashdisk OTG itu apa sih? Flashdisk OTG (On The Go) merupakan jenis flashdisk yang memungkinkan loe buat membaca data tanpa harus terhubung dengan perangkat PC/laptop. Cukup dengan smartphone saja, tentunya smartphone yang kompatibel dengan flashdisk jenis ini (Android/IOS). Jika smartphone kamu belum kompatibel/support untuk jenis port OTG kamu bisa melakukannya root. Dengan hadirnya flashdisk OTG tentunya memudahkan gue ketika ingin membaca dan memindahkan data pada portable gadget macam smartphone. Gue gak perlu ribet buka laptop hanya untuk membuka file video, file presentasi, file skripsi, jurnal, dan file-file yang lain. Inovasi port OTG ini memungkinkan efisiensi dalam hal pembacaan, penyimpanan maupun kecepatan transfer data. Gue gak perlu khawatir jika memori di smartphone gue penuh, sebab gue bisa langsung menghapus atau memindahkan data yang kurang penting ke flashdisk. Praktis banget gak perlu kabel data segala.

Terdapat berbagai pilihan ukuran penyimpanan untuk jenis flashdisk OTG, mulai dari 16 GB hingga 128 GB. Harga dan mereknya pun bervariasi. Mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. So, jika loe tertarik untuk membeli flashdisk ini loe harus sesuaikan dengan kebutuhan (mau spesifikasi yang 16/32/128 GB) dan juga bujet di kantong.
Di Bukalapak banyak sekali seller yang menjual jenis flashdisk OTG ini. Gue bingung mau milih yang mana. Tak lama, pilihan gue jatuh pada Sandisk Ultra Dual Drive m3.0. Sandisk Ultra Dual Drive m3.0 memiliki 2 tampilan antarmuka, satu sisi buat konektor mikro USB, sedangkan sisi yang lain buat konektor USB 3.0. Dari segi desain cukup unik.
Flashdisk OTG gue dah sampai. Makasih Bukalapak! Dokumentasi pribadi
Tertulis garansi 5 tahun di kemasan bagian belakang. Dokumentasi pribadi.
Baik kisanak, kita langsung saja cari tahu alasan gue jatuh hati pada flashdisk OTG ini.

Pertama, praktis dan efisien. Anti ribet-ribet club pokoknya flashdisk OTG. Dulu sebelum gue punya flashdisk OTG, sekali gue minta contoh jurnal atau draft skripsi ke teman, gue pasti kudu ribet buka laptop segala hanya untuk membaca jurnal atau draft tersebut. Sekarang tidak perlu lagi. Dulu, ketika ada teman mengirim tugas via email, gue perlu buka laptop untuk mengunduh tugas tersebut, simpan ke flashdisk biasa, kemudian print. Sekarang, gue tinggal check email yang masuk melalui smartphone, unduh, simpan tugas tersebut ke flashdisk OTG, terakhir tinggal print deh. Dulu ketika ada event blogger dan gue minta materi dari pembicara (dalam format pdf/powerpoint), gue musti mindahin dari flashdisk (biasa) ke laptop. Sekarang yang gue butuhkan cuma flashdisk OTG, gue bisa menyimpan dan memindahkan materi tersebut dan mengunggahnya ke google drive, cukup tap tap pada smartphone. Apalagi kalau gue lagi pengen flash blogging, mau bikin konten cepat tapi gak bawa laptop. Gue cukup buka materi atau bahan konten yang tersimpan di Drive, bikin draft dan publikasikan via smartphone. As simple as that! 

Dulu... dulu... dulu banget, gue ribet. Sekarang mah yang gue butuhkan adalah segala hal yang praktis, efisien, memudahkan hidup gue, dan tentunya saving my time, saving my live. Flashdisk OTG benar-benar membantu gue. Thanks Rudy!
Beginilah penampakan Flasdisk OTG Sandisk Dual Drive. Dokumentasi pribadi
Kedua, harganya ramah di kantong. Gue beli flashdisk OTG merek Sandisk Dual Drive m3.0 di Bukalapak dengan harga yang sangat sangat terjangkau. Untuk ukuran 16 GB, harganya Rp 76.500. Harganya bisa jauh lebih murah saat promo, diskon Harbolnas, dan sebagainya. Tapi gue check belakangan ini, harganya sudah naik pemirsah. Seandainya besok gue punya smartphone yang masuk range middle end atau flagship dan tentunya fast charging, gue akan beli flashdisk OTG yang sudah support USB Type C. Harga mahalan dikit bukan masalah bagi gue.

Untuk saat ini, gue pribadi sangat puas dengan harga, kemampuan, dan fitur yang ditawarkan flashdisk OTG merek Sandisk Dual Drive m3.0.

Ketiga, ada manajemen file. Sandisk menyediakan manajemen file bernama Sandisk Memory Zone. Gue anggap ini fitur plus yang mendukung Sandisk Dual Drive yang gak ditemukan di flashdisk OTG lainnya. Loe bisa download aplikasi ini via playstore kalau loe pengguna android. Sandisk Memory Zone memudahkan kita memfilter data dan mengelola file sehingga akan membantu kita ketika ingin memilah file mana yang akan dihapus, disimpan, atau ditransfer ke Sandisk Dual Drive. Selain itu, Sandisk Memory Zone memberikan cloud storage space sehingga memungkinkan terhubung dengan Google Drive, One Drive, Drop Box, atau Box milik kita.

Tampilannya seperti ini,
Berdasarkan gambar di atas jelas terlihat, storage gue yang udah terpakai 7,6 GB dari 11,4 GB. Gue bisa menambahkan cloud storage misal Google Drive jika memori di smartphone sudah tidak mencukupi lagi. Lumayan lho kita bisa tambahan kapasistas penyimpanan sebesar 15 GB. Jika smartphone loe sudah terhubung dengan Sandisk Dual Drive, pada menu "lokasi penyimpanan," loe bisa tap opsi "Tambahkan Penyimpanan atau Cloud." Kemudian tap "tambahkan" pada Sandisk Dual Drive. Nah dengan ini, loe sudah bisa menghapus, mencadangkan atau mentransfer file yang kamu pilih baik dari flasdisk ke smartphone maupun sebaliknya.

Pada menu "Kelola Ruang," kita akan diberikan opsi untuk Hapus File Sampah, Bersihkan Media Whatsapp, Pencadangan dan Pemulihan, dan Kelola Aplikasi. Cukup kaget karena ternyata gue banyak menimbun file sampah, nah opsi ini tentunya membantu gue menghapus sampah-sampah cache, sampah aplikasi usang, juga virus/sampah berbahaya, dan sebagainya. Jika whatsapp sudah gemuk dan mengalami obesitas karena banyaknya video maupun foto yang gak begitu berguna, kita bisa menghapus file-file tersebut pada opsi Bersihkan Media Whatsapp. Pada opsi pencadangan dan pemulihan, kita bisa memilih mau mencadangkan secara manual, otomatis, atau pencadangan via media (Facebook, Instagram, Foto Google). Misal nih kita pilih pencadangan manual, file apa yang mau dicadangkan? Foto? Musik? Video? Dokumen? Kontak? Tap salah satu file yang kita pilih misal dokumen (draf skripsi/jurnal penelitian), kemudian kita cadangkan ke cloud storage atau Sandisk Dual Drive.

Mudah bukan?
Flashdisk OTG Gue Terhubung dengan Sandisk Memory Zone. Dokumentasi Pribadi
Mengelola dan Menghapus File Sampah Via Sandisk Memory Zone. Dokumentasi Pribadi
Sandisk Memori Zone membantu gue membebaskan ruang dengan menghapus data gak guna sekaligus mencadangkan data-data yang penting buat gue. Catat ya, bagi mahasiswa pejuang skripsi, back up data is a must! 

Keempat, dari segi garansi. Di kemasan bagian belakang Sandisk Dual Drive, tertulis bahwa produk tersebut memiliki garansi distributor selama 5 tahun. Lama amat yak. Padahal smartphone gue aja masa garansinya cuma setahun. Beberapa distributor resmi Sandisk Indonesia yakni PT Datascript, PT Astrindo, dan PT Indotelekomunikasi Cemerlang. Untuk mengklaim garansi ini loe kudu menunjukkan kemasan dan stiker hologram dalam keadaan baik, demikian juga kondisi flashdisk tidak cacat, dan nota pembelian (kalau dibeli secara offline). Kalau beli secara online barangkali tinggal nunjukin bukti transaksi dengan seller di marketplace (misal Bukalapak) kali yak? Gue sendiri kurang begitu paham. Gue merasa gak perlu klaim garansi segala sebab sampai sejauh ini flashdisk gue baik-baik saja.

Terakhir, kecepatan ketika mentransfer data. Gue udah merasakan perbedaan transfer data antara flasdisk gue yang pernah terserang malware dengan flashdisk OTG Sandisk Dual Drive m3.0. Jadi kecepatan Sandisk Dual Drive adalah 2 hingga 4 kali lipat flashdisk biasa. Sandisk Dual Drive dirancang lebih cepat dari drive USB 2.0 standar, karena menggunakan port USB 3.0. Gak usah khawatir, meskipun menggunakan USB 3.0, flashdisk ini masih kompatibel apabila dicolokkan ke port USB 2.0 pada laptop atau gadget cerdas (smartphone) kok. Dengan konsekuensi kecepatannya akan berkurang. Trancend mengklaim kecepatan maksimal yang mampu dicapai flashdisk ini mencapai 150 MB/detik. Wow!
Flashdisk OTG (Sandisk Dual Drive) dengan port USB 3.0 (warna biru). Dokumentasi pribadi
Berhubung laptop gue masih menggunakan port USB 2.0, maka kecepatannya tidak segesit jika laptop gue sudah didukung USB 3.0. Mari kita uji coba membandingkan kecepatan transfer data (film No one Killed Jessica berkapasitas 403 MB), antara flashdisk biasa (punya teman gue) dengan Sandisk Dual Drive m3.0. Pokoknya gue udah gak mau pake flashdisk lemot gue.
Kelebihan dan kekurangan Flashdisk OTG (Sandisk Dual Drive m3.0)

Apa yang paling gue suka dari flashdisk Sandisk ini ya? Hmmm...kayaknya hampir semua keunggulannya udah gue ceritain deh di atas. Well, gue akui gue suka desain Sandisk Dual Drive yang sangat ergonomis dan elegan. Ukurannya mungil setara jempol tangan gue. Cantik nan menawan. Materialnya berasal dari plastik dan cukup tahan banting jika jatuh dari ketinggan 1,5 meter. Gue udah beberapa kali menguji coba daya tahannya jika jatuh dari ketinggian tersebut. Flashdisk gue baik-baik saja.  Cara menggunakannya pun cukup simple, tinggal digeser ke kanan atau ke kiri.
Kekurangan flashdisk ini? Apa ya?

Flashdisk ini gampang panas dan memakan daya baterai (smartphone) cukup signifikan jika dipakai buat mentransfer file besar atau terlalu lama digunakan. Saran gue, gunakan flashdisk ini seperlunya saja. Jangan transfer file 13 GB sekaligus, tapi transferlah data secara bertahap, dalam ukuran kecil (misal 7 MB, 50 MB atau 450 MB), dan diberi jeda/jangka waktu. Gue soalnya udah pernah nyoba transfer data sebesar 12,7 GB dari laptop ke flashdisk dan hasilnya flashdisk jadi panas banget. Saking panasnya bisa bikin mateng telor.

Hmmm apalagi ya?...karena ukurannya yang mungil dan bening transparan itu, gue jadi was-was. Pasalnya gue orangnya agak teledor dan gampang lupa ketika menaruh barang. Gue pernah kehilangan 2 flashdisk masing-masing berkapasitas 8 GB pada tahun ketiga gue kuliah. ya, karena keteledoran gue itu. Rasanya nyesek banget. Flashdisk ke tiga gue (yang terkena malware) bentuknya seukuran kartu nama, jadi gak gampang ilang. Untuk yang satu ini gue gak perlu was-was. Nah flashdisk ke empat gue ini, Si Sandisk bikin gue cemas. Maka dari itu, solusinya adalah gue perlu menyematkan tali ganci yang agak panjang plus nomor telepon gue di baliknya. Siapa tahu ada orang baik yang mau mengembalikan jika flashdisk gue hilang/terjatuh di jalan.
Penting banget flashdisk OTG gue dikasih tali ganci. Apalagi saat dibawa liputan. Dokumentasi pribadi
Tidak ada alasan lagi lho untuk males-malesan ngerjain skripsi. Mau kena DO heh?! Tidak ada alasan juga untuk tidak bikin konten di blog karena drama flashdisk kena malware. FYI, flashdisk OTG dan laptop gue udah disematkan antivirus yang siap melumat program-program ngeyel bin bandel yang mau merusak data/sistem. Gadget gue aman tentunya. Sekarang gue sudah bisa menyimpan berbagai dokumen, ratusan foto dan puluhan video via flashdisk OTG tersebut.

Bagi loe yang masih galau karena skripsi tak kunjung usai. Big hug. I feel you dude. Kita pernah berada di posisi yang sama. Pertanyaan paling esensial buat loe adalah what next? Setelah ini apa? Selanjutnya bagaimana? Dear, tentu saja baygon bukan jawabannya...
Sekarang gue justru tertantang untuk menjadi insan muda kreatif. Udah mau 2019 lho. Pasca selesai studi, para millenial kudu siap menghadapi revolusi Industri 4.0 yang ada di depan mata. So, skill dan pengetahuan macam apa yang ingin kita asah untuk menghadapi tantangan zaman? Fotografi? Bikin komik? Bikin infografis ciamik? bikin konten asik? Vlogging/bikin video? Public speaking? Kecakapan finansial? Jago jualan di Bukalapak?

Gue percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Gue percaya pada gagasan-gagasan, mimpi-mimpi dan kerja-kerja kreatif. Gue kudu semakin kreatif! Gue percaya bahwa kreativitas adalah segalanya. Kreativitas adalah harga mati! Kreativitas adalah mata uang universal. Melampaui zaman, berlaku tidak hanya hari ini, tetapi juga esok nanti!

47 komentar:

  1. Ahh...flashdisk sekarang cakep2 ya...mungil, daya simpan besar..harga terjangkau pula...

    BalasHapus
  2. Lah murah toh ternyata. Cuma 80k. Kukira mahal, hehe
    Nanti beli aaaah


    Btw, itu kalo di dalam perut ada bakteri e. Coli nya, berarti diare loooh 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih tepatnya 76.500 mbak hahaha

      Klo bakterinya banyak ya bisa bikin menceret. klo sedikit masih aman :)

      Hapus
  3. Semangat ngerjain skripsi... Emang perjuangan & butuh doa yg manjur juga sih pas skripsi itu. Biar dosennya gak kiler2 amat, sering2 doain aja. Insyaallah bikin lancar skripsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mbak. Sekarang skripsinya dah kelar kok.

      Makasih doanya :)

      Hapus
  4. Penting juga ya punya FD terbaru, biar transfer data makin cepat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih penting lagi klo FD nya dah disematkan antivirus di dalamnya.

      Udah transfer data cepat, aman dan terkendali :)

      Hapus
  5. wah ini bermanfaat bener buat aku pindahin foto jalan-jalan. beli ah..

    BalasHapus
  6. Mantap ya Bukalapak. Emang tuh marketplace terpercaya buat jual barang yang punya kualitas. Wah, ngiler banget aku ngelihat tuh flashdisk, cocok buat aku yang nyimpen banyak data bloging. Ahhhhh sukaaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukalapak gitu loch!
      :)
      Ayo kak beli aja flasdisknya di Bukalapak!

      Hapus
  7. aku jg pke yg bgni kak, 32GB mantabbb

    BalasHapus
  8. Tertarik nih mau beli flaskdis gini. Ada di Buka lapak ternyata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak mbak di Bukalapak.

      Terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  9. Wah keren, bisa langsung oprek data di smartphone. Saya sih cuma buat transfer data aja, udah kalah di mata kalo harus oprek data di smartphone hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puk puk, minta teman yang pinter ngoprek mas hehe

      Makasih sudah mampir :)

      Hapus
  10. Wah itu animasinya keren banget yah, mantap bener dah. Jadi mau mundur aja nih dari lomba hehehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya dek.

      Jangan patah semangat dek. Banyak kok tutorialnya di internet buat belajar bikin kek gini. Cari dan perdalam aja :)

      Hapus
  11. mbak kok keren blog ke onok kartun2 gitu.. please, ajari akuh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Makasih mbak. Gambar vektor itu namanya. Bukan kartun. Tutorial bikinnya banyak ada di youtube :)

      Hapus
  12. Sekarang beli apa apa mudah ya, tinggal lewat aplikasi semua yang kita inginkan pun bisa kita dapatkan dengan mudah... zaman memang dah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mas Ari, Kita udah memasuki Era digital economy dengan revolusi 4.0 nya. Kita sangat dimudahkan oleh teknologi dan adanya aplikasi :)

      Hapus
  13. Saat masih ngerjain skripsi dulu hardisk komputerku yg mati, dan itu harddisk lawas, jadi gakbisa diselamatin lagi datanya..sedih banget. apalagi ada banyak foto dr awal kuliah.

    kalau sekarang ku pake flashdisk otg buat nonton drakor ahahaha, ketularan adik aku。

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks sedih banget pastinya. Im sorry to hear that :(

      Bener banget mbak. Downloadnya lewat Hp, transfer via FD OTG, nontonnya via laptop :D

      Hapus
  14. Pencerahan banget nih. Dari kemarin pingin beli fd OTG belum kesampaian mbak. So, skrg mo beneran beli buat save data juga. Btw, ngikut mupeng dg tampilan infografisnya. Kerennnn 😎

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sangat senang jika artikel ini sangat membantu mbaknya.

      Agak ribet bikin grafisnya mbak hehe

      Makasih ya mbak :D

      Hapus
  15. Alhamdulillah semua sudah terlampaui ya mb... Sudah memasuki tahap baru sebagai seorang sarjana dengan segala liku2nya...hihi... Dan pengalamannya juga bisa jd pelajaran buat yang lainnya agar selalu update data dg FD yang oke punya. TFS mb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Sapti huhuhu. Sarjana yang penuh drama :(

      Tapi alhamdulilah dah wisudah November kemaren. Iya bener banget. Makanya kudu punya back up data

      Makasih ya mba sudah mampir :)

      Hapus
  16. Lhaa apa kabar ngerjain skripsi di jamanku yaa.. belom ada laptop, kalo ada revisi kudu ke warnet atau nunggu weekend pulang ke rumah biar bisa ngerjain pake PC, wkwkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu taon kapan kak? Jaman pake mesij ketik. Oh pasti bukan ya. Laptop masih mahal pas jaman itu. Ke warnet solusinya :)

      Hapus
  17. Andalaaann lah, terutama cara tercepat menyelamatkan file foto saat bepergian. Cukup bawa FD yg bisa nyolok ke smartphone pakai OTG udh aman kosong lagi storagenya.

    BalasHapus
  18. Boleh jg dibeli nih mbak ☺️ .. OTG

    BalasHapus
  19. Mantaap jaya kak.. Ditunggu ulasan-ulasan yang lainnya..

    BalasHapus
  20. Wah lebih Fleksibel dan Efesien ya mbak untuk penyimpanan data...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih mas. Lebih fleksibel klo pake jenis flashdisk ini :)

      Hapus
  21. Flashdisk sekarang kecil-kecil tapi isinya gede ya? Kerenlah.. Oh iya, skripsi itu emang ibarat sebuah hubungan percintaan #ciiee. Dalam proses ngerjain skripsi, perasaanmu akan diaduk-aduk layaknya drama yang menguras perasaan..So, jangan galau-galau lagi, Kak. Jalanin aja.. Hahaa.. Semoga segera kelar ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap kak. Sekarang sudah tidak menjadi blogger galau lagi hahaha

      Hapus
  22. Jadi keinget skripsiku yg ga kunjung kelar hehe.. emang backup data perlu banget mbak, aku juga pernah ilang data, cuma klo aku gara2 laptop dicuri. Semua materi dan draft ilang semua. Bodohnya aku blm begitu familiar sama back up d cloud..
    oh iya salam kneal mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya allah sedih banget ya kak data skripsi bisa ilang gitu?

      Sekarang mah ada cloud storage dan media penyimpanan lain macam flashdik jadi lebih mudah buat backup data :D

      Hapus
  23. Waa tulisan bermanfaat. Aku sekarang juga selalu backup data, bahkan di beberapa ruang penyimpanan biar aman. Kayaknya aku juga perlu flashdisk ini buat save data skripsi 😊 Thankyou Mbak Arinta

    BalasHapus