Selasa, 02 Juli 2019

Mari Hidup Sehat dengan GERMAS, Cegah Penyakit Tidak Menular (PTM)

Kamu suka mengonsumsi minuman kemasan atau minuman murah yang sering dijajakan di sekitar sekolah? Kamu sering membeli minuman bersoda sebagai solusi pelepas dahaga? Kamu suka beli es teh di pinggir jalan? Terlalu sering ngemil gorengan, bahkan hampir setiap hari? Makan mie instan mulu? Doyan banget dan acapkali kulineran jeroan, daging, lemak, dan produk olahannya? Setelah membaca tulisan ini, saya berharap kamu mampu menghentikan kebiasan tersebut. Dua kisah berikut (based on true story) setidaknya membuat kamu menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan tubuh supaya terhindar dari Penyakit Tidak Menular (PTM)

Mari kita simak kisah mereka...

Seharusnya bocah itu bisa dengan leluasa bermain bersama kawan-kawannya. Ikut belajar di kelas dan sekadar mengerjakan PR biar tidak menumpuk. Seharusnya bocah itu bisa tertawa lepas, berkejar-kejaran menangkap layangan atau berburu belut di sawah. Seharusnya... tapi nyatanya tidak. Di usianya yang begitu belia, bocah itu divonis oleh dokter menderita obesitas ekstrem (severe obesity). Kasus yang jarang terjadi di Indonesia. Saat umur 10 tahun, berat badan bocah itu mencapai 192 kg (tahun 2016). Umur 10 tahun lho dengan berat 192 kg, kalau kata Syahrini, "sesuatu sekali." Sesuatu dalam artian ekstrim, sangat tidak normal. 

Ada yang tahu nama bocah itu? Yups, dia adalah Arya Permana, bocah kelahiran Karawang, 15 Februari 2006. Arya terpaksa berhenti (sementara) dari sekolah saat kelas 3 SD semester pertama. Padahal Arya tergolong siswa pintar, sebab Arya selalu menjadi juara kelas dari kelas 1 hingga kelas 2. Kegemukan ekstrim benar-benar sangat mengganggu aktivitas harian Arya. Arya bahkan tidak mampu berjalan ke sekolahnya yang jaraknya hanya 50 meter. Lima puluh meter pemirsa. Bayangin sedekat itu jaraknya. Arya hanya bisa terbaring di ranjang, tidak berbaju hanya berselimut sarung.

Ayah Ibu Arya berat badannya normal. Tidak ada tanda-tanda obesitas ekstrim yang diturunkan dari kedua orangtunya. Menurut penuturan sang ayah yang saya kutip dari Kompas, Arya pada awalnya normal seperti anak-anak yang lain. Namun,menjelang usia 5 tahun Arya gemar mengonsumsi minuman kemasan. Saya kutip dari Kompas TV, ilustrasinya begini, satu gelas minuman kemasan yang dikonsumsi Arya mengandung 70 kalori dan juga lebih dari 17 gram karbohidrat. Dalam sehari Arya bisa menghabiskan 20 gelas minuman kemasan. Itu kira-kira setara dengan 11 piring nasi. Selain konsumsi minuman kemasan, Arya juga doyan mengonsumsi mie instan. Satu kemasan mie instan mengandung 54 gram karbohidrat. Dalam sehari Arya mampu mengonsumsi 12 bungkus mie instan. Itu kira-kira setara dengan 21 piring nasi. Tidak hanya itu, Arya pun doyan ngemil jajanan. Menurut penelitian tim dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, konsumsi rata-rata Arya mencapai 6000 kalori atau setara dengan 24 piring nasi. Hmmm...

Kasus kedua masih berhubungan dengan obesitas. Adalah Yudi Hermanto, penderita kegemukan ekstrim yang lain. Seperti halnya Arya, Yudi pun berasal dari Karawang. Pria berusia 33 tahun tersebut memiliki bobot ekstrim hingga 310 kg. Pada tahun 2016, berat badannya mencapai 110 kg. Namun tahun 2017, berat badan Yudi meningkat secara ekstrim yakni mencapai 310 kg. Artinya dalam setahun bobotnya bertambah sekitar 2 kali lipat (lebih dari 200 kg). wow!

Yudi bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan katering yang cukup terkenal di daerah Karawang. Yudi bekerja di shift malam. Setiap malam Yudi mendapat sisa makanan (pesanan katering) dari sopir katering. Makanan tersebut kaya akan lemak, karbo, dan daging-dagingan (ikan, sapi, ayam). Seperti itu setiap harinya. Hal ini membuat timbunan lemak dalam tubuh bertambah yang mengakibatkan pada kenaikan berat badan. Tak terkendali. 

Pada tahun 2017, Rudi dirawat secara intensif di RSUD Karawang. Yudi mengeluh sering sesak dan ngilu di daerah dada. Setelah mandi Yudi mengalami kejang-kejang, penyakit jantungnya kambuh. Namun sayang, saat tim medis datang ke ruangan, nyawa Yudi tidak sempat terselamatkan. Yudi menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 10 Desember 2017.

Berbeda dengan Yudi, bagaimana dengan kondisi Arya kini? Arya dapat dikatakan sebagai pasien severe obesity yang berhasil menurunkan berat badannya karena latihan yang intensif, pengendalian pola makan (diet super ketat), serta operasi bariatrik (penyempitan lambung). Dari semula 192 kg menjadi 83 kg. Mengutip Detik Health, operasi bariatrik berperan signifikan dalam upaya menurunkan berat badan Arya. Prosedurnya adalah dengan memotong atau mengurangi kapasitas lambung pada penderita obesitas ekstrim. Hal ini nantinya berpengaruh pada turunnya nafsu makan berlebih alias apa-apa dimakan (overeating) dan juga eating behaviour (yang tadinya makan 6 kali sehari berubah menjadi 2-3 kali sehari). Arya mendapat binaan langsung dari binaragawan Ade Rai plus fasilitas olahraga di gym untuk menurunkan berat badan. Arya sering melakukan angkat barbel Banyak gerak. Banyak melakukan aktivitas fisik. Tahun 2019 ini Arya sudah duduk di bangku SMP.

Kalau sudah berada di level ekstrim seperti ini pasti biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Baik Arya maupun Yudi sama-sama berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Yudi apalagi, meskipun menderita obesitas ekstrim, Yudi enggan memeriksakan kondisi tubuhnya. Sebab Yudi tak sanggup membayar tagihan dokter dan biaya rumah sakit. Untungnya dinas kesehatan Karawang mau membantu meringankan beban biaya yang ditanggung Yudi. Adapun Arya, operasi bariatriknya saja menelan biaya yang jelas tidak sedikit. BPJS menanggung biaya rumah sakit selama perawatan sebulan. Biaya lain-lain seperti uji laboratorium ditanggung oleh Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Karawang (sumber : Liputan6.com).

Dulu, orangtua saya pernah bilang ke saya bahwasanya Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke, obesitas (ekstrim), dan hipertensi merupakan penyakit "orang-orang kaya." Namun ternyata, seiring berjalannya waktu, saya justru mendapati bahwa orang-orang dari keluarga miskin juga mampu menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) ini. Lho kok bisa? Justru keluarga berpendapatan menengah ke bawah membelanjakan uangnya untuk membeli makanan murah lagi tidak sehat. Gorengan per biji lima ratusan dengan minyak goreng sisa kemarin misalnya. 

Orang berpendapatan menengah ke atas kini mulai sadar akan gaya hidup sehat (healthy lifestyle). Bisa dilihat dari munculnya makanan vegan, penganan rendah lemak dan kalori (misal salad buah), tren infused water, dan sebagainya. Namun, tak memungkiri golongan ini juga rentan terkena terkena Penyakit Tidak Menular (PTM). Jadi dapat disimpulkan bahwa siapa pun dan dari golongan pendapatan manapun bisa menderita penyakit yang saya sebutkan di atas. Dari kuli bangunan, pejabat, hingga selebritas.

Menurut European Heart Journal, obesitas bisa memicu penyakit lain seperti hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung. Saya bold ya nama-nama penyakitnya. Sebuah studi dari jurnal Lancet menyebutkan bahwa kegemukan menjadi faktor penyebab kematian dini. Adapun hipertensi diam-diam menjadi si pembunuh dalam senyap (silent killer), tanpa gejala tetiba menyebabkan kematian, baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2014,  stroke menyebabkan kematian sebesar 21,1%. Seperti halnya obesitas dan hipertensi, stroke disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Meskipun tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM), keberadaan penyakit-penyakit tersebut perlu diwaspadai. Sebab mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

Perlu pendekatan preventif untuk menanggulangi meningkatnya Penyakit Tidak Menular tersebut. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan prevalensi PTM pada tahun 2018 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2013. 

Kementerian Kesehatan tidak tinggal diam Sebab Penyakit Tidak Menular (PTM) jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya preventif maupun kuratif tentunya akan semakin melonjak dan menyedot anggaran kesehatan yang jumlahnya tidak sedikit. Serius! Sakit itu enggak enak gengs, mahal pula biaya untuk berobat. 
Upaya Promotif dalam mengkampanyekan GERMAS di Yogyakarta. Dokumentasi Pribadi
Salah satu bentuk upaya preventif dalam hal menurunkan angka prevalensi akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah melalui GERMAS. GERMAS? Wah apalagi itu?

GERMAS singkatan dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Melalui Germas, Kementerian Kesehatan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gaya hidup sehat dengan fokus pada 3 kegiatan utama yaitu melakukan aktivitas fisik kurang lebih 30 menit, mengonsumsi buah dan sayur, terakhir memeriksakan kesehatan secara berkala. Ini merupakan 3 kegiatan utama, selebihnya bisa ditambah dengan tidak mengonsumsi alkohol maupun rokok. Tiga kegiatan tersebut, murah dan mudah dilaksanakan ya gengs. Bisa dilakukan mulai dari diri sendiri. Apakah kamu sudah mencobanya gengs?
Mencoba eksis bersama GERMAS. Dokumentasi Pribadi
Sosialisasi GERMAS dengan Cara Asyik. Dokumentasi Pribadi
Kamu bisa melakukan 3 kegiatan GERMAS dimulai dari langkah berikut  :

1. Aktivitas Fisik Minimal 30 Menit 

Tulisan ini ingin mengajak pembaca, terutama dari kalangan milenial agar mampu mengadopsi prinsip kegiatan Germas dalam kehidupan sehari-hari. Yuk bersama-sama melakukan pengendalian penyakit via Germas. Yuk mulai langkah pertama yakni dari aktivitas fisik. Aktivitas fisik apapun itu yang intinya menggerakkan tubuh agar tubuh sehat dan bugar. Jenis-jenis aktivitas fisik sederhana yang bisa milenial lakukan yakni berjalan kaki (misal dari rumah ke sekolah atau kampus), berkebun, mencuci mobil, naik turun tangga, menyapu lantai dan menenteng belanjaan. Untuk aktivitas fisik olahraga bisa berupa yoga, renang, senam, joging, bermain bola, futsal, dan masih banyak lagi. Kalau kamu anak pecinta alam, anak pramuka, olahragawan pasti aktivitas dan latihan fisik kamu lebih banyak dibandingkan dengan orang lain.

Selain melakukan aktivitas fisik yang ringan-ringan, saya terkadang juga berolahraga, sekadar lari-lari kecil mengelilingi kompleks. Salah satu aktivitas fisik yang cukup menguras keringat bagi saya adalah saat aksi tanam bakau di kawasan konservasi mangrove. Ini benar-benar menguras energi karena saya berjalan di atas air, menanam satu demi satu bibit mangrove ke dalam tanah berlumpur. Meskipun lelah, fisik saya tetaplah prima. 
Tanam Bakau : Aktivitas fisik Seharian yang Menguras Energi. Dokumentasi Pribadi
Dengan melakukan aktivitas fisik apapun itu minimal 30 menit atau bahkan lebih, mampu menyehatkan kinerja jantung, paru, aliran darah, dan lain sebagainya. Apalagi jika hal itu rutin dilakukan setiap hari.

2. Periksa Kesehatan Secara Berkala

Saya tinggal di Sleman, kebetulan saat itu Dinas Kesehatan Sleman memberikan layanan kesehatan serta sosialisasi Germas. Dinas Kesehatan Sleman saat ini masih berproses dalam hal mengadopsi teknologi SMART HEALTH menuju SMART REGENCY. Patut diacungi jempol.

Germas mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Gunanya apa? Untuk deteksi dini apakah ada risiko Penyakit Tidak Menular (PTM), melakukan pengendalian penyakit, serta treatment yang tepat untuk menghindari hal tersebut. Melalui Dinas Kesehatan Sleman, saya mencoba mengecek Indeks Massa Tubuh (IMT) dan tekanan darah saya. Saya mengantri karena ada perempuan yang juga sedang berkonsultasi dengan petugas kesehatan di sana.
Seorang Ibu Berbaju Merah sedang Berkonsultasi dengan Petugas Kesehatan. Dokumentasi Pribadi.
Nah sekarang giliran saya konsultasi plus cek kesehatan.

Ada yang belum tahu Indeks Massa Tubuh (IMT)? Sini saya bisikin. Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI) merupakan cara mengetahui rentang berat badan ideal untuk memprediksi sejauhmana gangguan kesehatan yang kita alami. Cara menghitung IMT sangatlah gampang yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) dalam kuadrat. Ternyata setelah dicek, berat badan saya 68,1 dengan tinggi 155 cm atau 1,55 m. Setelah dihitung dengan rumus IMT ketemulah hasilnya. Petugas kesehatan memasukkan data melalui komputer. Komputer mengolah data, menentukan hasil, bahkan memberikan masukan-masukan yang berarti bagi saya. 
Timbang Dulu Gaes. Dokumentasi Pribadi
Berikut hasil perhitungan IMT via smart health Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.
Input Data Indeks Massa Tubuh (IMT). Dokumentasi Pribadi
Hasil Hitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Dokumentasi Pribadi
Dari hasil perhitungan IMT, saya mendapatkan masukan untuk mengurangi jumlah kalori dalam makanan sebesar 300-500 kkal/hari. Dengan melakukan hal tersebut saya mampu menurunkan berat badan 0,5 hingga 1 kg per minggu. Di layar tertulis, semisal dahulu kebutuhan kalori harian saya sebesar 2100 kkal, maka saat ini saya harus mengonsumsi makanan tidak lebih dari 1600 kkal (angka ini diperoleh 2100 kkal - 500 kkal). Ini contoh saja ya. Bisa disesuaikan kok jumlah kalori harian yang ingin dikurangi.

Saya harus menurunkan asupan kalori per hari hingga mencapai berat badan ideal. Saya termasuk kategori obesitas tingkat 1 dengan risiko penyakit sedang karena nilai IMT saya (sebesar 28,3) berada di kisaran 25,0 hingga 29,9. Untuk berat badan normal nilai IMT berada di kisaran 18,5 hingga 22,9. Saya masih cukup jauh dari itu, maka harus lebih banyak lagi melakukan aktivitas fisik. Tadinya saya pede. Dengan segudang aktivitas yang saya miliki, pasti nilai IMT saya ideal. Ternyata saya salah. Ini peringatan! Saya perlu waspada. Deteksi dini semacam ini membantu saya lebih aware dalam rangka menjaga kesehatan sekaligus meminimalisasi risiko Penyakit Tidak Menular (PTM). Dalam hal ini obesitas. Berkaca dari kasus Arya dan Yudi, kita harus hati-hati terhadap obesitas, apalagi obesitas ekstrim.

Tak lupa saya mengecek tekanan darah saya. Dari hasil pemeriksaan, saya dapati input tensi sebesar 113/90 mmHg. Tekanan sistolik sebesar 113 mmHg, tekanan diastolik sebesar 90 mmHg. Kemudian petugas kesehatan memasukan data tersebut ke komputer. Berikut hasil akhirnya.
Bukan 115/90 mmHg. Foto ini saya ambil saat tekanan sistolik menunjukkkan angka 115 mmHg.
Hasil akhir input tensi saya sebesar 113/90 mmHg. Dokumentasi pribadi.
Tekanan Darah Saya Normal. Dokumentasi Pribadi.
Duh senangnya... ternyata tekanan darah saya normal pemirsa. Dengan tekanan darah yang normal tersebut saya harus menjaga pola makan, olahraga minimal 30 menit per hari, istirahat cukup, kurangi stres, terakhir jauhi rokok dan alkohol.

Berikut informasi mengenai tekanan darah biar kamu paham (sumber data : GERMAS Dinas Kabupaten Sleman).
  1. Tekanan darah normal terjadi apabila input tensi berada di angka kurang dari 120/80 mmHg (sistolik/diastolik). Karena saya tergolong normal maka saya harus menjaga pola makan dan aktivitas fisik yang seimbang.
  2. Prahipertensi terjadi apabila input tensi berkisar antara 120-139 mmHg (sistolik) dan 80-90 mmHg (diastolik). Jika tidak dicek secara berkala/dideteksi sedini mungkin, maka kamu bakal berisiko menderita hipertensi.
  3. Hipertensi derajat 1 terjadi apabila input tensi berkisar antara 140-150 mmHg (sistolik) dan 90-99 mmHg (diastolik). Di level ini kamu perlu konsultasi ke dokter.
  4. Hipertensi derajat 2 terjadi apabila input tensi berada di angka lebih dari 160/100 mmHg (sistolik/diastolik). Di level ini benar-benar perlu diwaspadai karena mulai muncul tanda-tanda sesak napas, tersengal-sengal, serta nyeri di bagian dada. Segera berobat ke dokter untuk mendapatkan resep menurunkan hipertensi. Informasi mengenai apa itu tekanan sistolik dan diastolik, bisa kunjungi link berikut.

Upaya Promotif Dinas Kesehatan DIY dan Kabupaten Sleman Mensosialisasikan Germas di Yogyakarta. Dokumentasi Pribadi
Tabel IMT dan Risiko Penyakit serta Frekuensi dan Jangka Waktu Pemantauan Faktor Risiko PTM. Dokumentasi Pribadi.
3. Mengonsumsi Buah dan Sayur

Mengonsumsi buah dan sayur merupakan fokus ketiga gerakan utama Germas. Ada yang tidak suka buah dan sayur? Berarti sama kayak adik saya. Adik saya yang paling kecil tidak suka makan buah dan sayur, tapi produk olahan buah dan sayur sangat suka.

Kenapa buah sayur? Jadi, ada beberapa nutrisi dan zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat diproduksi di dalam tubuh. Nah, nutrisi atau zat gizi tersebut harus "diimpor" dengan cara dikonsumsi/dimakan. Misalnya vitamin dan mineral. Angka kecukupan gizi harus diperhatikan sebagai upaya preventif terutama dalam hal menanggulangi Penyakit Tidak Menular (PTM). Kita ambil contoh, ternyata ternyata kandungan kalium dalam pisang mampu menurunkan kadar tekanan darah. Sayur dan buah berwarna merah mengandung likopen, senyawa yang diperlukan guna melawan kanker dan mencegah penyakit jantung. Sayur dan buah yang kaya akan kandungan flavonoid sangat baik untuk penderita obesitas serta sebagai antioksidan (sumber : kompas lifestyle). 

Milenial harus sering mengonsumsi sayur dan buah ya. Sayur dan buah kan harganya sangat terjangkau. Hidup sehat mulai mengonsumsi buah dan sayur. Hidup sehat mulai dari langkah-langkah Germas yang sederhana. Hidup sehat kini dan nanti!

Saya sudah mengaplikasikan Germas melalui konsumsi sayur dan buah. Kamu?
Yuk Konsumsi Sayur dan Buah Biar Sehat dan mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM). Dokumentasi Pribadi
Implementasi hidup sehat ala Germas bisa dimulai dari diri sendiri. Namun demikian, sinergi dan kolaborasi berbagai eleman membuat Germas semakin dekat dengan masyarakat. Semakin aplikatif nantinya. Elemen-elemen yang saya maksud berupa keluarga, institusi pendidikan, pemerintah melalui kementerian dan dinas kesehatan, serta media

Saya mulai dari keluarga. Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Jika orangtua mengaplikasikan gaya hidup sehat dalam kehidupan keluarga, niscaya anak-anak akan melakukan aktivitas yang sama dalam keseharian. Ayah Ibu merupakan garda pertama yang menentukan apakah nantinya anak akan berkembang sehat atau justru malah berpenyakitan. Kita ambil contoh kasus yang saya bahas di awal. Obesitas Arya. Perhatikan pemirsa, Arya sedari kecil, umur 5 tahun sudah mengonsumsi minuman kemasan sedemikian banyaknya. Orangtua yang peduli kesehatan anaknya pasti akan "TEGAS" melarang anak mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak baik bagi kesehatan tubuh. Meskipun sang anak bakal ngamuk, tantrum, atau nangis-nangis jika keinginannya tidak dituruti. Namun sangat disayangkan, pada kasus Arya, orangtuanya justru membiarkan Arya memiliki pola hidup tidak sehat sedari umur 5 tahun. Pola ini terbawa hingga Arya berusia 10 tahun dengan bobot luar biasa ekstrim dibandingkan anak lain seusianya. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama bagi yang sudah berkeluarga dan (calon) orangtua dari generasi milenial. 
Sosialisasi GERMAS di Poltekkes Kemenkes Palangkaraya. Dokumentasi Poltekkes Kemenkes Palangkaraya
Berikutnya, institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus bisa menjadi medium yang sangat baik dalam rangka mengimplementasikan Germas. Apalagi di lingkungan pendidikan tinggi, mahasiswa lebih dikenal sebagai agent of change yang menjadi harapan bangsa dan masyarakat untuk melakukan perubahan. Di Universitas Indonesia, kampanye Germas dilakukan dengan pemberdayaan mahasiswa untuk mencegah sindrom metabolik. Di Poltekkes Kemenkes Palangkarya, sosialisasi Germas dilakukan melalui seminar dengan tema "Hidup Sehat dengan Germas." Adapun mahasiswa jurusan Kesehatan Masyakat (Kesmas) kampus Esa Unggul menyelenggarakan seminar “Peran SDM Kesehatan Dalam pencapaian Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).” Sudah cukup banyak kampus yang mulai mengimplementasikan Germas. Semoga kegiatan seperti ini menular di institusi pendidikan yang lain.

Elemen ketiga yakni pemerintah melalui kementerian dan dinas kesehatan setempat. Germas pertama kali disosalisaikan pada tahun 2016 oleh Kementerian Kesehatan dengan didukung Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Di Bantul DIY, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian PUPR membuat program infrastruktur berbasis masyarakat kota tanpa kumuh tepatnya di Kelurahan Karangwaru.

Di tingkat daerah, dinas kesehatan pun melakukan hal yang sama. Dalam hal ini, saya mengulas Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Dari hasil cek kesehatan yang saya lakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, saya mendapati tekanan darah normal dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkategori obesitas. Saya perlu mewaspadai ini. Untung saya deteksi lebih dini sehingga saya bisa melakukan tindakan preventif terkait obesitas. Melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, saya berkonsultasi dengan petugas kesehatan bernama Kak Atri mengenai kendala yang saya alami serta upaya-upaya solutif yang harus saya ambil untuk menurunkan asupan kalori berlebih. Saya juga mendapat selebaran-selebaran mengenai Germas yang isinya sangat lengkap dan informatif.
Menu Sehat untuk Penderita Diabetes Melitus Ala GERMAS dari Dinas Kesehatan Sleman. Dokumentasi Pribadi.
Elemen yang terakhir yakni media. Jika kita bicara media, kita mengenal media digital, televisi, dan cetak dengan kerja-kerja jurnalistiknya. Media-media tersebut sudah cukup banyak memberikan informasi mengenai Germas. Kamu klik kata Germas di mesin pencari makan akan muncul ribuan tautan baik dalam bentuk berita maupun video dari media-media seperti TribunNews.Com, Detik.Com, Liputan6.Com, KompasTV dan sebagainya.

Sebagai bagian dari media digital, peranan blogger dalam menulis opini dan pengalaman mengenai Germas tidak dapat dikesampingkan. Kita para pekerja digital memiliki kontribusi cukup signifikan dalam hal mensosialisasikan sekaligus mengimplementasikan Germas dalam bentuk konten daring. Apalagi di era industri 4.0 seperti sekarang ini, netizen banyak menghabiskan waktu  membaca berita via internet bukan? Inilah kesempatan blogger dan pekerja digital lainnya untuk mengedukasi masyarakat mengenai Germas.

Sinergi berbagai elemen dalam rangka mengimplementasikan GERMAS, perlukah? Sangat perlu! Mari bersama kita berkolaborasi menyukseskan GERMAS! Hidup sehat tanpa Penyakit Tidak Menular? Yuk!
Saya dan GERMAS 2019. Dokumentasi Pribadi.

Sumber Pendukung :
  1. Website Kemenkes Indonesia
  2. sehatnegeriku.kemkes.go.id
  3. Hasil Riskesdas 2013 dan 2018
  4. P2PTM Kemenkes
  5. Suara.com dengan judul artikel : Hasil Riskesdas 2018, Penyakit Tidak Menular Semakin Meningkat
  6. Liputan6.com dengan judul artikel : Diet Ketat Ala Arya Si Bocah Obesitas, Pangkas Berat Badan Hingga 112 kg.
  7. Hipwee dengan judul artikel : Yudi Penderita Obesitas Meninggal Dunia, Sudah Saatnya Menjadikan Hal Ini Sebagai Masalah Bersama
  8. Republika dengan judul artikel : Pemerintah Luncurkan Gerakan Hidup Sehat di Bantul
  9. Hallosehat.com dengan judul artikel : Manfaat Flavonoid Antioksidan Penangkal Penyakit Kronis
  10. Doktersehat.com dengan judul artikel : Ini Buah dan Sayuran yang Dapat Mencegah Obesitas.
  11. Kompas LifeStyle dengan judul artikel : Cegah Kenaikan Berat Badan dengan Makanan Kaya Flavonoid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar