Senin, 18 Februari 2019

Bukan Lagi Mimpi Manis Ketika Perempuan Mampu Membangun Bisnis

"Penggunaan teknologi mampu mengubah apapun, termasuk membuka peluang usaha bagi para perempuan. Para pengusaha wanita yang sebelumnya tidak punya akses terhadap pasar, menjadi sangat mudah terhubung dengan pasar melalui teknologi." (Sri Mulyani dalam diskusi panel The Role of Finance for Women's Economic Empowerment di Buenos Aires, 2018)
Saya berasal dari Kota Batik, Pekalongan. Di tempat saya, para pengrajin batik mayoritas berjenis kelamin perempuan, apalagi untuk jenis batik tulis. Pekerja laki-laki ada sih, biasanya untuk batik jenis cap/printing. Sebab membatik adalah sebuah seni yang tidak hanya membutuhkan ketelitian, tetapi juga keuletan. Dalam hal batik-membatik, para perempuanlah yang menjadi jawaranya.
Jual beli batik di Kriya Expo JEC 2019. Dokumentasi pribadi (Arinta Setia Sari).
Dulu ya, waktu saya duduk di bangku SMP, para juragan atau pengusaha batik memasarkan produknya melalui rekanan, butik atau pasar-pasar tradisional. Kini, di jaman now, pengusaha batik tersebut bisa lebih masif memperkenalkan produk batik melalui kanal-kanal digital. Ya, apalagi kalau bukan yang online-online itu (baca : marketplace). Indonesia sudah punya 4 unicorn lho ladies. Bukan hanya memasarkan via marketplace saja sih, tetapi juga melalui website dan media sosial. Malahan, beberapa wirausaha batik melakukan endorsement pada sejumlah social media influencer (misal selebgram) demi menggaet lebih banyak calon konsumen. Branding batik yang melekat pada pakaian untuk orangtua, kini banyak disukai kawula muda karena dibuat lebih modis dan kasual. Dulu, televisi masih menjadi kanal advertising terbaik, selain media cetak (koran dan majalah). Sekarang anak-anak milenial bermain di youtube dan instagram dong, bukan lagi televisi. Itu artinya terjadi shifting dan perubahan perilaku konsumen yang nantinya berdampak pada  bagaimana cara media beriklan. Dulu, berbisnis identik dengan pekerjaan yang dilakukan kaum adam. Di jaman now, perempuan sudah banyak yang menjadi pebisnis, startup founder, maupun CEO di suatu perusahaan. Di rumah, emak-emak menguasai gawai dan melakukan deal bisnis dengan rekanan di luar pulau bahkan luar negeri adalah hal yang biasa. Tuh lihat, jabatan Menteri Keuangan Indonesia aja dipegang oleh perempuan. Dunia berubah begitu cepat ya? Maka dengan ini saya ingin mengucapkan, selamat datang di era digital, di mana gaung revolusi industri 4.0 melesat begitu cepat.

Bicara mengenai perempuan wirausaha nih, berdasarkan riset Mastercard Index of Women Entrepreneurs (MIWE) 2018 menyatakan bahwa peringkat atas perempuan wirausaha secara global didominasi oleh negara maju dengan kesetaraan gender yang baik seperti New Zeland, Swedia, Kanada, dan Singapura. Adapun indikator yang digunakan dalam perhitungan indeks pengusaha perempuan tersebut mengacu pada 3 komponen yakni realisasi hasil yang dicapai oleh pengusaha perempuan, pengetahuan terhadap aset & akses finansial, serta iklim wirausaha. Dalam hal ini, Indonesia masuk ke peringkat 30. Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan India tentunya. Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan bahwa terdapat kenaikan jumlah perempuan wirausaha setiap tahunnya. Seperti misalnya pada tahun 2015 jumlah perempuan wirausaha mencapai 12,7 juta orang, tahun 2017 naik menjadi  14,3 juta orang. Terjadi kenaikan sebesar 1,63 juta jiwa. Adalah PR kita bersama untuk bersama-sama mendukung dan melejitkan potensi perempuan untuk berwirausaha.
Indikator pengukuran Mastercard Index of Women Entrepreneurs 2018
Saya mengagumi beberapa sosok wanita wirausaha atas kegigihannya dalam mengembangkan bisnis. Beberapa wanita wirausaha tersebut di antaranya yakni Nurhayati Subakat (Wardah Cosmetics), Martha Tilaar (Sariayu), Mooryati Soedibyo (Mustika Ratu), terakhir Aulia Halimatussadiah (blogger, penulis, Co-founder/CMO storial.co). Artikel ini lebih jauh akan mengupas sosok inspiratif Aulia Halimatussadiah atau biasa disapa Ollie. Mengapa? Sebab dibandingkan 3 pengusaha kosmetika Indonesia tersebut, Sosok Ollie berasa lebih dekat dengan saya yang berkecimpung di dunia tulis-menulis dan blogging. Selain blogging, Ollie ini juga seorang pebisnis keren lho. Fokusnya lebih ke bisnis yang berkaitan dengan teknologi (technopreneurship). So, bukan lagi mimpi manis ketika perempuan mampu membangun bisnis kan? Gimana ladies?

Ollie : Beyond Blogging Hingga Digitalpreneurship

Pertama kali saya bertemu Ollie saat mengikuti workshop How To Write Viral Content Bersama RockingMama.Id tahun 2016. Rockingmama merupakan portal digital berisi kumpulan tulisan lifehacks, lifegude, dan barometer lifestyle mamah muda kekinian. Saat itu, Ollie masih menjadi Chief Conten Officer (COO) sekaligus co-founder Zetta Media. Rockingmama sendiri adalah 1 dari 11 portal digital milik Zetta Media. Selain Rockingmama, portal digital lain milik Zetta Media yaitu Trivia, Rula, Moola, Kalamantara, MerryRiana, Virala, dan Bagaya. Masing-masing portal memiliki segmentasi pembacanya sendiri. Dari workshop tersebut saya mendapat secuil pengetahuan tentang bagaimana membuat konten yang menggigit, SEO Friendly, dan viralable.

Perempuan kelahiran Yogyakarta, 17 Juni 1983 ini sedari SMP menyukai komik dan manga. Menulis (cerpen dan puisi) menjadi passion yang berkembang semenjak duduk di bangku SMA. Ketika menjajaki bangku kuliah, Ollie mulai menuangkan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan di blog. Ollie aktif ngeblog terhitung semenjak tahun 2003. Wow sudah 16 tahun ya ladies! Blognya bisa kamu baca di Salsabeela.Com. Di tahun 2004, Ollie mendapapatkan beasiswa menulis dari Gagas Media. Tahun 2005 lahirlah novel pertamanya dengan judul Look! I'm On Fire. Jika dihitung sampai sekarang, ada sekitar 30 buku yang berhasil ditulis oleh Ollie. Lanjut di bidang blogging ya. Pada tahun 2011 Ollie menjadi chairwoman at ON / OFF 2011, di mana dia berhasil mengadakan gathering blogger terbesar dengan peserta mencapai 1.000 orang.

Bersama 3 teman dekatnya, Ollie mendirikan platform nulisbuku.com. Melalui nulisbuku.com, Ollie memastikan penulis muda tanah air untuk menerbitkan bukunya sendiri secara self publishing dengan mudah. Dari nulisbuku.com, lahirlah ratusan penulis muda berbakat Indonesia (emerging writer) yang mampu menuangkan dan mengolah gagasan menjadi sebuah karya tulis.

Di bidang teknologi, Ollie mengelola web StartupLocal.Org. Ollie memiliki visi yang sangat kuat untuk memberdayakan perempuan agar semakin melek digital. Tak segan, Ollie kerap berbagi mengenai ide-ide dan komitmennya ini ke komunitas-komunitas di mana perempuan menjadi audiensnya. Girls In Tech salah satunya.

Girls In Tech (GIT) menjadi bukti bahwa dunia teknologi dan digital tak melulu dikuasai kaum adam. Data statistik yang dihimpun Statista pada tahun 2017 memperlihatkan jumlah perempuan yang bekerja di perusahaan teknologi dan startup adalah tidak lebih dari 28 persen. Sedikit memang porsinya, komparasinya bahkan tidak ada 50 persen. Namun, jangan pernah mengkerdilkan impian perempuan. Perempuan bisa berkarya di ranah digital kok ladies. Itulah spirit yang menjadi bahan baku yang diracik komunitas Girls In Tech. Melalui Girls In Tech, para perempuan bisa berjejaring, mengembangkan pengetahuan seputar digital marketing, literasi digital, coding, startup, dan lain sebagainya. Program atau kegiatan yang diselenggarakan Girls In Tech bukan hanya untuk perempuan yang memiliki latar belakang TI, semua perempuan boleh kok gabung. Bebas biaya pula karena ada sponsor. Karena tujuan Girls In Tech untuk mewadahi perempuan yang memiliki antusiasme di bidang teknologi dan entrepreneurship, maka program-programnya tak jauh-jauh dari pengembangan digital life skill, boothcamp, hingga hackathon. Emak-emak gaptek malah dianjurkan gabung di komunitas semacam ini untuk mengembangkan skill dan pengetahuan. Inspiratif bukan?

Seperti dikutip fimela.com,

"Ketika bicara masa depan dan anak, biasanya anak lebih dekat di keluarga itu dengan ibu, jadi saya harap, semakin banyak perempuan yang dekat teknologi, dan ketika jadi ibu, ia bisa mengajarkan anaknya biar nggak alergi dengan teknologi dan menggunakan teknologi untuk hidup yang lebih baik," Ungkap Anantya, co-managing director Girls In Tech yang pernah mengisi digital marketing untuk kelas “Womenpreneur Digital Acceleration.”

"Kalau GIT ini technology in general, jadi teknologi digunakan untuk bisnis bisa, dan jika ingin digunakan untuk kariernya sendiri juga bisa, skill set, gitu. Kami mengajarkan coding, robotic, social media, dan digital marketing." Tandas Ollie.

Pada tahun 2017 Ollie mendapat apresiasi dari LinkedIn sebagai Power Profile 2017 di bidang marketing serta penghargaan Woman Marketeer of The Year at Asia YWN Marketing Award  dari Asia Marketing Federation pada tahun 2019. Ollie masuk dalam daftar 10 Successful Female Tech Startup Founders in Indonesia versi Tech In Asia. Mantap bukan?
Perjalanan karir dan bisnis Ollie dalam menapaki ranah digital menjadi trigger tersendiri bagi saya. Apalagi saya yang memiliki latar belakang ilmu ekonomi bukan TI ingin semakin menggeluti dunia digital terutama, blogging, vlogging, hingga digital marketing. Dalam 10 tahun ke depan saya memiliki mimpi untuk menerbitkan buku dan mendirikan bisnis (digital startup) sendiri.

Saya ingin mendalami lebih serius bagaimana membuat konten yang tidak hanya readable tetapi juga shareable. Juga konten-konten yang sifatnya long lasting alias evergreen dan SEO Friendly. Jika saya membuka bisnis, maka saya membuka jasa content writing, copywriting, dan videografi. Siapa tau kelak saya menjadi digitalpreneur yang sukses dan diundang jadi pembicara seperti Ollie, wanita inspiratif yang saya kagumi. Ollie adalah figur ShePreneur Indonesia. Perempuan mandiri yang mampu mengelola bisnis sehingga memiliki kebermanfaatan yang banyak bagi orang lain di sekitarnya.

Apa pengalaman inspiratif selama ngeblog? Salah satu artikel saya dijadikan bahan buat menyusun skripsi mahasiswi UGM, bagi saya itu adalah kebanggaan tersendiri. Saya juga kerapkali diminta mereview produk, event, bahkan mendapat job via email karena ngeblog. Ngeblog sudah memberi pundi-pundi rejeki tersendiri bagi saya. Adapun pengalaman yang paling berkesan menurut saya adalah ketika tulisan saya mendapat apresiasi dari International Committee of the Red Cross (ICRC) pada tahun 2015. Saya berkesempatan mengunjungi markas ICRC di Jakarta, berjumpa awak media, dan memberikan short speech di hadapan undangan serta tamu asing perwakilan dari ICRC. Benar-benar pengalaman tak terlupakan.
Dukungan, itu adalah kata kunci. Dukungan dari keluarga, sahabat, kerabat, hingga komunitas. Ollie mampu menjadi membangun bisnis hingga seperti sekarang pastinya dimulai karena motivasi diri yang kuat serta dukungan orang-orang sekitarnya. Jika Ollie mendapat support dari teman-teman dekat serta komunitasnya, saya pun demikian. Beruntung saya bisa bergabung di Komunitas Blogger Jogja dan Komunitas Emak Blogger. Dari komunitas saya mendapat pengetahuan bagaimana membuat konten yang asyik dibaca, SEO Friendly, dan sebagainya. Dari komunitas saya juga mempelajari skill-skill lain seperti membuat video menggunakan smartphone, fotografi, dan masih banyak lagi. Saya semakin yakin bahwa setiap perempuan bisa menjadi wonderwoman dengan caranya masing-masing. Yups, caranya adalah dengan semakin mengasah keahlian dan berjejaring sosial.

Apalagi di era keterbukaan informasi di jaman now ini, pastinya perempuan mendapat kemudahan untuk mengakses pasar, teknologi, pengetahuan, segalanya deh. Manfaatkan untuk meningkatkan kapasitas diri ya ladies.

Dari blog yang tadinya sekadar media curhat, sekarang bisa menjadi sumber mata pencaharian. Dari gawai di genggaman, emak-emak bisa memasarkan batik ke mancanegara. Dari laptop, koneksi internet, plus secangkir kopi, perempuan mampu menjadi seorang startup founder. Berawal dari youtube, vlogger perempuan bisa diundang ke istana. So ladies, di era digital, masih berpikir perempuan tidak sanggup membangun bisnis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar