Minggu, 01 September 2019

Dari Panggung Krapyak Hingga Tugu Pal Putih, Serunya Menyusuri Sumbu Filosofi Jogja dengan 2 Aplikasi Ini!

Indonesia memiliki ragam warisan budaya lokal yang sangat artistik nan estetik terhitung dari Sabang sampai Merauke. Ini membuktikan betapa luar biasanya kecedasan leluhur bangsa kita. Warisan budaya tersebut tersebut bisa berupa berupa benda (situs peninggalan bersejarah seperti candi) dan nonbenda (musik, adat-istiadat, tradisi lisan, seni arsitektur, tatanan nilai). Di balik peninggalan-peninggalan budaya lokal tersebut, terdapat filosofi hebat yang mendasarinya. 

Di era digital seperti sekarang ini, memanfaatkan teknologi informasi untuk memperkuat akar budaya lokal adalah suatu keniscayaan. Terlebih lagi buat kamu milenial, yang sangat lekat dan dekat dengan teknologi. Yuk kita gali kearifan lokal dan budaya agar menjadi identitas bersama. Menguat sekaligus mengakar!
Apakah budaya lokal mampu bersanding dengan teknologi? Ya tentu saja, apalagi ketika memasuki era industri 4.0 dewasa ini. Seiring berkembangnya waktu digitalisasi dan kemelekatan budaya dengan teknologi menjadi bagian yang tak terelakkan, saling berkelindan. Kita ambil contoh digitalisasi manuskrip seperti serat, babad, tembang-tembangan, dan aneka rupa kidung-kidungan . Manuskrip atau naskah kuno jika tidak segera digitalisasi, secara fisik ia akan rusak termakan usia atau digerigiti hewan seperti rayap. Padahal manuskrip tersebut merupakan warisan budaya leluhur yang tak ternilai harganya. Seandainya lenyap, generasi selanjutnya akan kehilangan akar budayanya. 

Bicara manuskrip, saya jadi teringat peristiwa Geger Sepehi pada tahun 1812 di mana Inggris menjarah ratusan naskah kuno dari Keraton Yogyakarta dan menyisakan 3 serat saja. Arjuna Wiwaha merupakan satu dari tiga serat yang tertinggal. Ribuan purnama berlalu. Kini, naskah kuno yang dijarah itu tersimpan dengan rapi di British Museum, British Libary, ada juga di Raffles Foundation, dan berbagai tempat lain yang sulit dilacak keberadaannya. Lantas jikalau ilmuwan budaya atau mahasiswa Indonesia ingin mengadakan riset mengenai naskah kuno tersebut harus ke Inggris begitu? Tenang dulu. Perlahan-lahan, naskah tersebut kembali ke Yogyakarta dalam bentuk digital. Berterima kasihlah kepada Javanese Manuscripts from Yogyakarta Digitisation Project, sebuah proyek yang dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono X guna mengembalikan dan mendigitalisasi naskah-naskah kuno Jawa itu. Dikutip dari Liputan6.com, dari ratusan naskah yang hilang, 75 kembali dalam bentuk digital. Naskah-naskah yang telah kembali dalam bentuk digital tersebut berupa naskah sejarah, sastra, etika Jawa, tata cara hidup, hukum/moral, cerita pewayangan, naskah-naskah islam, dan masih banyak lagi.

Situs bersejarah seperti candi tergolong sebagai warisan budaya benda (tangible cultural heritage) karena ada bentuk fisiknya Manuskrip atau naskah kuno termasuk bagian dari warisan budaya tak benda (intangibe cultural heritage), sebab meskipun memiliki bentuk fisik, di dalam sebuah naskah mengandung teks-teks bermakna (hasil dari pemikiran seseorang) dan persepsi budaya masyarakat pada masa tertentu. Makna dan persepsi budaya sifatnya abstrak, tidak memiliki wujud fisik. Itulah alasan mengapa naskah kuno masuk ke dalam kategori intangibe cultural heritage. Selain naskah, produk budaya seperti tata cara, pranata sosial, filosofi menjadi bagian dari warisan budaya tak benda. 

Kembali pada topik utama, apakah teknologi mampu memperkuat akar budaya lokal? seharusnya demikian. Selain mempermudah kehidupan, kehadiran teknologi sejatinya juga mampu menjaga kearifan budaya dan nilai-nilai lokal. Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas 2 aplikasi yang secara tidak langsung berkontribusi memperkokoh akar budaya lokal. Kedua aplikasi tersebut yakni Jogja Istimewa dan JogjaBike. Aplikasi Jogja Istimewa hadir sebagai produk teknologi informasi yang merangkum hampir 97% Jogja. Jika kamu ulik Aplikasi Jogja Istimewa, di dalamnya berisi menu/ikon Jogja Budaya, Jogja Wisata, Jogja Layanan Publik, Jogja Belajar, Jogja Kuliner, Jogja Info, Jogja Transportasi, Jogja Event, Jogja Galeri, Jogja 360, Jogja Doeloe AR, dan Jogja Streaming. Adapun aplikasi JogjaBike membantu kamu menjelajah kawasan sejarah seperti Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Jogja (Sumbu Filosofi Jogja) melalui sewa sepeda daring.
Lanjut ya...

Selain manuskrip/naskah kuno, budaya lokal Yogyakarta yang masuk kategori intagible cultural heritage yakni Sumbu Filosofi Jogja. Tahun 2017, Sumbu Filosofi Jogja terdaftar dalam World Historical Tentatif List UNESCO lho.

Bagi kamu yang belum tahu mengenai Sumbu Filosofi Jogja, Infografis berikut setidaknya memberikan secuil pengetahuan tentang hal itu.
Untuk mengulik lebih jauh mengenai Sumbu Filosofi Jogja, saya menantang diri saya sendiri untuk menjelajah garis imajiner tersebut menggunakan sepeda berbasis daring buatan developer lokal, JogjaBike. Bagi pengguna Android, kamu bisa mengunduh Jogjabike by Inabike via Google Play. Untuk pengguna iOS, kamu bisa mendonlotnya melalui App Store. lokasi persewaan sepeda Jogjabike bisa kamu temui di sepanjang kawasan Malioboro. Jadi, lokasi persewaan sepeda sangatlah strategis dan menjangkau Sumbu Filosofi jogja. Oh ya, biaya sewa per jam hanya Rp 5.000. Murah kan? Bagi kamu para turis dan traveler, puas-puasin deh menjelajah Sumbu Filosofi Jogja. 
Langkah-langkah menggunakan sepeda JogjaBike. Dokumentasi pribadi.
Jenis sepeda yang disewakan JogjaBike. Dokumentasi Pribadi.
Klik menu GO, maka lokasi sepedamu akan terlacak di map dan durasi waktu akan terus berputar. Dokumentasi pribadi
Untuk top up bisa langsung ke petugas yang berada di lokasi persewaan ya gaes. Karena saya hendak menjelajah Sumbu Filosofi yang mungkin memakan waktu cukup lama (2 hingga 4 jam), maka saya isi saldo aplikasi sebesar Rp 20.000.

Gaskeun! Saatnya menyusuri Sumbu Filosofi!
Saatnya menjelajah Sumbu Filosofi Jogja. Dokumentasi pribadi

Panggung Krapyak, tempat berburu Raja-raja Mataram. Dokumentasi pribadi
1. Panggung Krapyak (Kandang Menjangan)

Sangkan Paraning Dumadi bermula dari Panggung Krapyak. Filosofi Sangkane Dumadi (Awalnya ada). Berakhir pada Paraning Dumadi yang memanjang dari Keraton Yogyakarta menuju Tugu Golog Gilig. Panggung Krapyak mengilustrasikan posisi janin ketika berada dalam kandungan.

Bangunan menyerupai kubus ini dulunya digunakan sebagai tempat berburu para pewaris trah Kerajaan Mataram. Selain berburu, tempat ini digunakan sebagai lokasi latihan beladiri. Adapun binatang yang menjadi bahan buruan adalah jenis rusa atau menjangan. Tak heran Panggung Krapyak juga dikenal pula sebagai Kandang Menjangan. Sebagai tempat perburuan, Panggung Krapyak juga dilengkapi pesanggarahan sebagai tempat beristirahat dan taman air.

Jarak Panggung Krapyak dari Alun-alun Selatan sekitar 1 km, sedangkan dari Keraton Yogyakarta kurang lebih 3 km. 
2. Alun-alun Selatan
Plengkung Gading, gerbang masuk Alun-alun Selatan. Dokumentasi pribadi
Sebelum memasuki Alun-alun Selatan, saya akan melewati Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya. Plengkung Gading merupakan gerbang masuk menuju Alun-alun Selatan dan Keraton Yogyakarta. Di sekeliling plengkung terdapat tembok kokoh (Benteng Baluwerti) dan bastion (semacam tempat mengintai musuh). Sepedaan di kawasan seperti ini seru gaes. Saya bisa menikmati semilir angin yang menyegarkan sekaligus wisata budaya dan sejarah!
Sasono Hinggil Dwi Abad dengan 2 beringin kembarnya. Dokumentasi pribadi.
Arsitektur khas yang ada di Alun-alun Selatan yakni Sasono Hinggil Dwi Abad yang merupakan bangunan yang sengaja ditinggikan. Sasono Hinggil Dwi Abad memiliki luas atau ukuran sekitar 500 meter persegi dan ditinggikan 150 meter persegi dari permukaan tanah di sekitarnya. Di pelataran bangunan tersebut terdapat 2 beringin tegak yang jika ditarik garis lurus akan sejajar dengan 2 pohon beringin di Alun-alun utara, memanjang lurus ke utara menuju Tugu Pal Putih hingga Gunung Merapi (Sumbu Filosofi Jogja) .

3. Keraton Yogyakarta
Akhirnya sampai di depan Keraton Yogyakarta. Dokumentasi pribadi.
Ada yang tahu kisah berdirinya Keraton Yogyakarta?

Baiklah, saya akan bercerita sedikit. Keraton Yogyakarta didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Perlu kita tahu bahwasanya Nagari Ngayogyakarta memiliki hari proklamasinya yang disebut Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat yaitu tanggal 13 Maret 1755. Sang Sultan memulai membangun Keraton Yogyakarta pada tanggal 9 Oktober 1755. Pembangunan keraton memakan waktu kira-kira setahun. Pada tanggal 7 Oktober 1756, Sultan Hamengku Buwono I, keluarga, beserta pengikut setianya pertama kali memasuki keraton yang baru saja selesai dibangun. Peristiwa besar ini ditandai dengan munculnya Candra Sengkala : Dwi Naga Rasa Tunggal. Candra Sengkala sendiri merupakan perhitungan angka tahun dalam budaya Jawa. Dwi Naga Rasa Tunggal artinya tahun 1682 (penanggalan Jawa) atau setara dengan tahun 1756 dalam kalender masehi.

 4. Alun-alun Utara
Kiai Janadaru (kiri) dan Kiai Dewadaru (kanan), dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara. Dokumentasi pribadi
Berdasarkan kratonjogja.id, Alun-alun Utara membentang seluas 300 x 300 meter persegi. Di tengah alun-alun tersebut terdapat dua pohon beringin berkurung. Usut punya usut, kedua beringin tersebut memiliki nama lho gaes. Mereka berdua adalah Kiai Dewandaru dan Kiai Janadaru. Saya bahkan baru tahu nama dua beringin ini ketika mengikuti Jogja Cross Culture, Agustus silam. 

Mari kita dedah satu per satu. Kiai Dewadaru memiliki makna filosofis dan simbolis sebagai hubungan spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta. Dewa berartu Tuhan, Daru berarti Wahyu. Posisi Kiai Dewadaru berada di sebelah barat sumbu filosofi, segaris lurus dengan Masjid Gedhe. Mengilustrasikan pula kedudukan hamba beriman dengan Gusti Ingkang Agung. Konsep habluminallah dalam sumbu filosofi telah dipikirkan semenjak awal oleh Sultan Hamengku Buwono I. Luar biasa bukan pemikiran beliau?

Sedangkan Kyai Janadaru yang bermakna harafiah pohon manusia, melambangkan hubungan yang baik antarsesama manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, hablumminannas. Posisi Kiai Janadaru berada di sisi timur Sumbu Filosofi, searah dengan Pasar Beringharjo. Secara tersirat, makna alun-alun dengan 2 pohon beringin di tengah menggambarkan konsep manunggaling kawula gusti, bersatunya rakyat dan raja, selaras dengan Sang Pencipta. 

Puas menjelajah Alun-alun Utara, yuk kita bersiap menuju Tugu Pal Putih!

5. Tugu Pal Putih (Tugu Golong Gilig)
Tugu Pal Putih (Tugu Golong Gilig). Dokumentasi pribadi.
Semula, Tugu Pal Putih bentuknya tidak lancip di ujung, tetapi bulat (gilig) dan tubuhnya berbentuk silinder (golong). Maka jangan heran tugu ini disebut pula sebagai Tugu Golong Gilig. Kala itu, orang Belanda kerap memanggil Tugu Golong Gilig dengan istilah white paal (tiang putih), seiring berjalannnya waktu masyarakat menyebutnya dengan Tugu Pal Putih. Tugu ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756. Tinggi tugu ini mencapai 25 meter.

Gempa tektonik skala besar menghantam Jogja pada tahun 1867. Banyak bangunan yang rusak, Tugu Golong Gilig ini satu di antaranya. Pilar tugu rusak sepertiga bagian. Tugu tersebut dipugar kembali oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Bentuk dan ketinggian tugu pun mengalami perubahan dari semula tinggi 25 meter menjadi 15 meter. Dari berbentuk Golong Gilig menjadi lancip pada bagian ujung. 

Dalam Sumbu Filosofi, perjalanan dari Panggung Krapyak hingga Keraton Yogyakarta memiliki makna simbolis sebagai awal mula penciptaan/kelahiran hingga proses kedewasaan (Sangkan Dumadi) Adapun Tugu Pal Putih atau Golong Gilig ini melambangkan perjalanan manusia menghadap Sang Maha Pencipta (Paraning Dumadi).
Diorama Sumbu Filosofi Jogja dan replika awal Tugu Golong Gilig sebelum terkena gempa. Dokumentasi pribadi
Tak terasa perjalanan saya dari Panggung Krapyak menempuh waktu lebih dari 3 jam. Saya harus segera mengembalikan sepeda ke shelter yang berada di dekat kantor DPRD DIY. Saldo di aplikasi JogjaBike kian menipis. Meski lelah, saya sangat puas. Saya mendapati banyak pelajaran berharga sepanjang penjelajahan Sumbu Filosofi.
Selain JogjaBike, Aplikasi Jogja Istimewa membantu saya menjelajah Sumbu Filosofi Jogja. Dokumentasi pribadi
Dari penjelajahan ini, saya bisa membuktikan bahwa teknologi informasi baik secara langsung maupun tidak langsung mampu memperkuat akar budaya lokal. Melalui aplikasi JogjaBike, saya mencoba memahami secara langsung seperti apa garis imajiner yang membentang mulai dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Pal Putih yang dulu dikenal sebagai Tugu Golong Gilig. Belajar budaya dan sejarah model seperti ini sangatlah berkesan. Melalui aplikasi Jogja Istimewa, saya mendapat berbagai informasi mengenai cagar-cagar budaya apa saja yang dilestarikan pemerintah daerah.Tak cuma itu! Berbagai event budaya setiap bulan ditampilkan dalam menu Jogja Event. Saya cek di Jogja Event, tanggal 17 dan 18 September besok ada acara Siraman Pusaka I dan II, tanggal 28 terdapat Sendratari Sekar Pembayun. Wah! 

Pekan depan saya mau menjelajah kembali sumbu filosofi via JogjaBike, ada yang mau gabung?

                                                                               ***

"Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019."